334 research outputs found

    Paradigma Pendidikan Seni

    No full text
    Saat ini muncul berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan baik dalam lingkup keluarga hingga dalam lapisan masyarakat. Berbagai hal yang muncul diduga karena kurang berperannya pendidikan dalam membentuk kepribadian masyarakatnya. Seni yang dijadikan sebagai media ungkap dan ekspresi diri, bahkan hanya dilirik sebelah mata oleh beberapa kalangan, namun di sisi lain dipandang oleh kawan-kawan mahasiswa pascasarjana sebagai sumber yang dapat dijadikan dasar pendidikan. Seni seharusnya tidak hanya dipandang sebagai hiburan atau ungkapan ekspresi seseorang saja, namun juga sebagai sarana atau media dalam pendidikan, karena seni dan seperangkat aktivitas di dalamnya bersentuhan langsung dengan rata. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang mencoba menguak sisi seni dalam konteks pendidikan. Tulisan Suherman memandang pendidikan seni sebagai bentuk penyadaran. Tulisan Deddy Irawan mengungkap bahwa pendidikan seni menawarkan sistem pembelajaran yang menyeluruh, terkait dengan pikiran, tubuh dan jiwa yang dipadukan menjadi satu. Tulisan Rachmat memandang pendidikan sebagai daya dan upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti demi memajukan kesempurnaan hidup dari masyarakat. Bachtiar Arbi mengemukakan terdapat ketimpangan kecerdasan otak kiri (pengetahuan) dan otak kanan (ketrampilan) dalam penerapan pendidikan di Indonesia saat ini. Tulisan Alfathul Mukarram mencetuskan adanya pendidikan multikultural dalam pendidikan seni. Iwan Pranoto melihat pada kemajuan teknologi dan komunikasi yang telah merubah gaya hidup manusia baik dalam bekerja, bersosialisasi, bermain maupun dunia pendidikan khususnya pendidikan sen, dll

    Perancangan Animasi Motion Graphic Tentang Gaya Berpakaian Pribumi di Yogyakarta (1900 – 1942)

    No full text
    ABSTRACT Irawan, Deddy, 2016. Perancangan Animasi Motion Graphic Tentang GayaBerpakaian Pribumi di Yogyakarta (1900 – 1942), Tugas Akhir, Jurusan Senidan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Andi Pramono, S.Kom, M.T, (II) Mitra Istiar Wardhana, S.Kom, M.T.Kata Kunci: Perancangan, Motion Graphic, Pakaian, Yogyakarta, Yogyakarta 1900Indonesia memiliki letak yang sangat strategis dan tanah yang suburdengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Pengalaman masa lampau menempatkanIndonesia sebagai wilayah yang sibuk dan menjadikannya salah satu urat nadiperekonomian yang ada di Asia Tenggara dan dunia. Hal ini menyebabkan banyakpenduduk dari Negara lain datang ke Indonessia, khususnya Eropa. Kemudiandilanjutkan dengan pesatnya perkembangan modernisasi yang dapat dilihat dari,munculnya berbagai macam sekolah Belanda, industri-industri modern, dan alatkomunikasi yang semakin modern.Perancangan ini menghasilkan sebuah animasi motion graphic yangbertujuan untuk mengedukasi kepada masyarakat khusunya generasi muda. Padadasarnya pakaian bermuatan nilai etika dan estetika yang kita kenakan saat ini bukansepenuhnya milik bangsa sendiri.Pada intinya segala arus budaya yang masuk ke negara kita tidaksepenuhnya harus ditampik dengan tanpa alasan. Harus pintar tentang bagaimanamenyaring mana yang baik dan buruk. Penulis berharap agar perancangan inibermanfaat, baik bagi mindset setiap individu maupun sebagai referensi sejarah, dan desain animasi itu sendiri

    ebook - Hidrogeologi Pertanian

    No full text
    ebook - Hidrogeologi Pertanian. Author: Aris Rinaldi. Editor: Dasapta Erwin Irawan. Published as OA book by ITB Press.s

    OPTIMASI KONSENTRASI ETIL SELULOSA DAN LAMA PENGADUKAN DALAM PREPARASI MICROSPHERES METFORMIN HIDROKLORIDA

    No full text
    Metformin hidroklorida adalah obat yang direkomendasikan American Diabetic Association dan European Association for the Study of Diabetes sebagai first line dalam terapi pasien dengan diagnosa diabetes mellitus tipe 2. Umumnya dosis metformin hidroklorida pada sediaan konvensional yang digunakan yaitu sebesar 500 mg untuk pemakaian 2-3 kali sehari dengan bioavailabilitas sebesar 50%-60% dan waktu paruh yang pendek yaitu 1,5-4,5 jam. Penggunaan metformin hidroklorida dengan dosis yang besar dan secara berulang memungkinkan terjadinya gangguan pada gastrointestinal dan toksisitas sebanyak 30%. Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, maka dikembangkan sistem pelepasan obat terkendali yang dapat melepaskan obat secara perlahan pada saluran gastrointestinal (GIT) dan mempertahankan konsentrasi obat di sirkulasi sistemik dalam waktu yang lama. Microspheres merupakan salah satu teknologi farmasi dalam sistem penghantaran obat terkendali yang menggunakan bahan polimer sebagai pembawa. Microspheres adalah partikel solid yang memiliki rentang ukuran 1-1000 mikrometer. Permukaan partikel microspheres yang memiliki pori-pori mampu melepaskan bahan aktif secara perlahan dan menghasilkan partikel dalam ukuran mikron. Preparasi microspheres dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode non-aqueous solvent evaporation menggunakan metformin hidroklorida sebagai bahan aktif dan etil selulosa sebagai polimer. Tujuan penelitian ini adalah mencapai komposisi terbaik jumlah etil selulosa, lama pengadukan dan interaksi keduanya serta untuk mengetahui banyaknya obat yang terjerap dengan metode desain faktorial. Respon dari metode adalah entrapment efficiency. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental laboratorik dilakukan dengan menggunakan four blades propeller kecepatan 400 rpm dan menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk melakukan pengukuran entrapment efficiency. Entrapment efficiency yang diperoleh kemudian diolah menggunakan software design expert 10.0.0.3 versi trial untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap respon sehingga akan didapatkan satu formula optimum. Pengaruh konsentrasi etil selulosa dan lama pengadukan serta interaksi keduanya terhadap respon entrapment efficiency dapat diketahui berdasarkan nilai efek faktor. Lama pengadukan memberikan efek negatif pada respon yang artinya semakin lama pengadukan yang dilakukan dapat menurunkan nilai entrapment efficiency. Sedangkan konsentrasi etil selulosa dan interaksi keduanya memberikan efek positif terhadap respon, sehingga semakin tinggi konsentrasi etil selulosa yang digunakan akan meningkatkan entrapment efficiency. Satu formula optimum terpilih pada konsentrasi etil selulosa sebanyak 4500 mg dan lama pengadukan 2 jam memberikan entrapment efficiency prediksi sebesar 82,967%. Formula optimum terpilih kemudian dibuat, dilakukan uji entrapment efficiency, verifikasi dan karakterisasi. Hasil uji entrapment efficiency microspheres metformin hidroklorida pada formula optimum yaitu sebesar 84,6 ± 0,557% sehingga diketahui hasil verifikasi memberikan kemiripan sebesar 98,1%. Hasil karakterisasi meliputi drug loading dan yield didapatkan masing-masing nilai sebesar 12,7 ± 0,173% dan 95,1 ± 0,612%. Hasil analisis FT-IR menunjukkan tidak adanya interaksi yang terjadi antara etil selulosa dan metformin hidroklorida dalam microspheres. Hasil analisis SEM didapatkan ukuran partikel microspheres sebesar 173,8 ± 4,41 μm dengan bentuk sferis, permukaan halus dan berwarna cerah

    Sistem Kokristalisasi Biner Atorvastatin Kalsium-Asam Dipikolinat Dengan Metode Penguapan Pelarut

    Full text link
    Atorvastatin kalsium merupakan obat golongan statin yang dapat menurunkan kolesterol di dalam darah sehingga dapat mencegah penyakit kardiovaskular (Kadu dkk., 2011). Atorvastatin kalsium memiliki 9 gugus donor ikatan hidrogen dan 15 gugus akseptor ikatan hidrogen. Atorvastatin kalsium sangat larut dalam metanol dan sedikit larut dalam air, dan dapar fosfat pH 7,4. Atorvastatin kalsium termasuk obat BCS kelas II yaitu obat yang memiliki permeabilitas yang baik tetapi kelarutannya rendah. Obat yang memiliki kelarutan yang rendah dapat mengakibatkan laju disolusi yang rendah pula, sehingga memiliki bioavailabilitas yang rendah dan absorpsinya kurang sempurna, oleh karena itu dibutuhkan peningkatan kelarutan dari atorvastatin kalsium sehingga bioavailabilitasnya dapat meningkat. Pembentukan kokristal merupakan salah satu meode yang dapat meningkatkan kelarutan suatu Bahan Akif Obat. Kokristal memiliki keuntungan dalam memperbaiki beberapa profil yang dimiliki oleh suatu obat seperti kelarutan, bioavailabilitas, dan kestabilan fisik. Kokristal dalam bentuk padatan kristal dapat memberi perubahan fisik dari Active Pharmaceutical Ingredients (API) tanpa mengubah aktivitas biologis dan identitas kimianya. Dalam penelitian ini dibuat kokristal atorvastatin kalsium dengan menggunakan koformer asam dipikolinat. Bentuk anionik dari asam dipikolinat merupakan bentuk yang efektif untuk membentuk ikatan hidrogen. Pada penelitian ini preparasi kokristal atorvastatin kalsium-asam dipikolinat dilakukan dengan metode penguapan pelarut menggunakan pelarut metanol. Metode ini dipilih karena mudah dan secara termodinamika lebih disukai. Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah metanol, karena atorvastatin kalsium mudah larut dalam metanol dibandingkan dengan pelarut organik lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kelarutan dan disolusi atorvasatin kalsium melalui pembentukan kokrisal dengan metode penguapan pelarut yang dapat dibuktikan dengan karakterisasi fase padat atorvastatin kalsium-asam dipikolinat. Dalam penelitian ini juga ditujukan untuk menentukan susunan synthon supramolekuler pada kokristal atorvastatin kalsium-asam dipikolinat. Preparasi penelitian ini dilakukan menggunakan bahan akif atorvasatin kalsium dengan koformer asam dipikolinat menggunakan metode penguapan pelarut dengan pelarut metanol yang selanjutnya untuk membuktikan terbentuknya kokristal dilakukan karakterisasi dan pengujian. Karakterisasi yang dilakukan berupa PXRD, DSC, FTIR , dan SEM. Kemudian dilakukan pengujian peningkatan kelarutan dan disolusi dari sampel kokristal dibandingkan dengan bahan awal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa atorvastatin kalsium dengan asam dipikolinat dapat membentuk kokristal dibuktikan dengan hasil PXRD dari kokristal menujukkan puncak baru pada posisi 2θ pada 13,22; 17,87; 18,67; 23,49; dan 26,28˚. Hasil FTIR menunjukkan bahwa kokristal atorvastatin kalsium-asam dipikolinat mengalami interaksi intermolekuler dengan adanya ikatan hidrogen pada gugus donor proton N-H atorvastatin kalsium berikatan dengan gugus akseptor proton C=O asam dipikolinat dan gugus akseptor proton C=O atorvastatin kalsium berikatan dengan gugus donor proton O-H asam dipikolinat. Hasil SEM menunjukkan bahwa kokristal atorvastatin kalsium-asam dipikolinat berbentuk tidak beraturan dengan permukaan kasar. Hasil DSC menunjukkan titik peleburan kokristal atorvastatin kalsium-asam dipikolinat berada diantara titik peleburan bahan awal yaitu menjadi 98,9, sedangkan entalpi peleburan kokristal atorvastatin kalsium-asam dipikolinat mengalami penurunan dari bahan awal yaitu 192,9˚C. Hasil pengujian kelarutan dan disolusi dari kokristal atorvastatin kalsium-asam dipikolinat menunjukkan adanya peningkatan kelarutan dan disolusi dari bahan awal. Hasil analisis statistik menunjukkan pada penelitian uji kelarutan, nilai AUC, dan nilai Efisiensi Disolusi memiliki perbedaan dianggap bermakna (p 0,05)

    OPTIMASI HYDROXYPROPYL METHYLCELLULOSE DAN CHITOSAN PADA TABLET FLOATING-MUCOADHESIVE GLICLAZIDE METODE DESAIN FAKTORIAL

    Full text link
    Gliclazide merupakan salah satu obat antidiabetik oral yang memiliki perbedaan dosis antara dosis konvensional dan dosis sustained release. Dosis konvensional gliclazide yaitu 80-320 mg/hari sedangkan dosis sustained releasenya yaitu 30-120 mg/hari (APA, 2009) sehingga pembuatan sediaan sustained release dari gliclazide akan menguntungkan pasien baik dari segi biaya maupun dari segi keamanan. Salah satu pendekatan untuk membuat sediaan sustained release yaitu gastroretentive drug delivery system (GRDDS) karena bahan aktif mudah diabsorbsi pada saluran pencernaan. GRDDS dapat dilakukan dengan berbagai macam pendekatan seperti densitas atau ukuran yang pada dasarnya masih memiliki kekurangan, oleh karena itu diperlukan kombinasi sistem (Floating-Mucoadhesive) untuk menutupi kekurangan tersebut agar diperoleh absorbsi obat yang maksimal. Floating atau sistem densitas rendah memanfaatkan isi cairan lambung untuk mengapung sedangkan mucoadhesive memanfaatkan mukosa epitel lambung untuk melekat dengan tujuan retensi di lambung. HPMC K4M dipilih sebagai polimer floating karena mampu membantu mengapungkan partikel obat dan juga dapat membuat densitas tablet menjadi lebih rendah daripada cairan lambung sehingga tablet dapat mengapung dan melepaskan obat secara terkontrol. Chitosan dipilih sebagai polimer mucoadhesive karena chitosan merupakan polimer hidrofilik kationik yang memiliki sifat mucoadhesive baik yang tidak beracun, biokompatibel, dan biodegradabel Sistem floating yang digunakan yaitu effervescent system. Rincian hasil uji floating lag time yaitu F4> F2> F3 >F1 dengan nilai F1 tercepat dan nilai F4 terbesar (paling lambat). Nilai respon dari efek faktor polimer HPMC K4M sebagai polimer tunggal (+77, 25 ) > chitosan (+68,25) > interaksi (+34,75). Nilai positif mengindikasikan terjadinya proses floating lag time melambat. Semakin besar nilai positifnya maka proses floating lag time semakin lama. Nilai respon dari efek faktor menunjukkan interaksi polimer antara HPMC dan chitosan lebih dominan dalam mempercepat floating lag time karena nilai respon floating lag time paling kecil jika dibandingkan efek faktor tunggal HPMC dan chitosan. Sementara untuk hasil uji floating duration time tidak terdapat perbedaan respon signifikan yaitu semua formula memenuhi kriteria selama 12 jam. Pada pengujian mucoadhesive diperoleh rincian hasil uji yaitu F3>F4>F1>F2 dengan nilai F3 terbesar. Peningkatan konsentrasi chitosan menghasilkan peningkatan kekuatan mucoadhesive dengan efek terbesar ditunjukkan chitosan (+44,135) > interaksinya (-16,795) > HPMC K4M (- 27,335). Hal ini terjadi karena chitosan merupakan polimer kationik yang memiliki kekuatan mucoadhesive lebih baik dibandingkan golongan non ionic (contohnya HPMC). Analisis respon optimum menunjukkan F1 dan F2 tidak memenuhi rentang 50 gram – 100 gram. Profil pelepasan obat DE720 memberikan hasil dengan rincian F3>F1>F4>F2. Peningkatan konsentrasi polimer baik HPMC K4M memberikan pelepasan obat yang minimum dengan efek faktor chitosan (+12,636) > interaksi (+3,744) > HPMC K4M (-38,673). Nilai negatif yang semakin besar menunjukkan semakin sulitnya obat untuk dilepaskan. Pelepasan obat dari sistem HPMC K4M menjadi lebih lambat karena adanya kandungan viskositas HPMC K4M yang tinggi sehingga dapat mempengaruhi pelepasan obat menjadi lebih lambat. Analisis respon optimum menunjukkan hanya F4 yang memenuhi rentang 49,72%-60,42%. Penentuan daerah optimum dilakukan dengan menggabungkan overlay plot dari ketiga respon (overlay plot super-imposed). Hasil yang diperoleh yaitu jumlah HPMC K4M 120,944 -144,751 mg sedangkan jumlah chitosan 55,095 – 74,142 mg.. Dari analisis software diperoleh 99 macam komposisi HPMC K4M dan chitosan yang dapat memberikan respon optimum

    Optimasi Konsentrasi Etil Selulosa dan Lama Pengadukan dalam Preparasi Hollow Microspheres Ketoprofen

    No full text
    Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degeneratif yang menyerang pada bagian sendi dapat menyebabkan kerusakan kartilago sendi. Bagian organ tubuh yang sering terkena seperti panggul, lutut, dan pergelangan kaki. Salah satu obat yang dapat digunakan untuk terapi steoatritis adalah ketoprofen. Ketoprofen merupakan golongan obat Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS) yang termasuk kelompok asam organik yang memiliki efek terapi analgesik, anti-inflamasi dan antipiretik yang bekerja dengan menghambat kedua enzim siklooksigenase COX 1 dan COX 2 secara non selektif yang dihasilkan dalam inhibisi sintesis prostaglandin. Ketoprofen termasuk dalam BCS kelas II, yaitu bahan obat memiliki permeabilitas baik dengan kelarutan yang rendah. Kelarutan yang rendah dapat membuat nilai disolusi yang buruk dan bioavailabilitas yang tidak dapat diprediksi. Ketoprofen memiliki waktu paruh eliminasi yang pendek 1- 3 jam menyebabkan obat lebih cepat dieliminasi dari sirkulasi sistemik dan mengakibatkan pemberian obat secara berulang untuk mempertahankan konsetrasi obat yang efektif dalam sirkulasi sistemik sehingga hal tersebut membuat kepatuhan berkurang, selain itu pemberian dosis yang berulang dapat menimbulkan fluktuasi konsentrasi plasma dalam obat yang dapat menimbulkan efek samping pada gastrointestinal selama terapi dilakukan. Upaya untuk memperpanjang waktu paruh obat dan mengurangi efek samping yang kurang baik utamanya di gastrointestinal dapat ditangani dengan pengembangan sistem pelepasan obat terkontrol, salah satunya hollow microspheres. Sistem pelepasan obat terkendali ini dibuat untuk obat dengan waktu paruh pendek, mengurangi fluktuasi pemberian obat dan mengurangi efek samping pada gastrointestinal. Hollow microspheres merupakan sistem penghantaran obat terkendali berbentuk mikropartikel bola kosong tanpa inti dengan ukuran ideal kurang dari 200 μm. Hollow microspheres memiliki berat jenis lebih rendah dari pada cairan lambung sehingga dapat mengapung di lambung dengan waktu yang lama, tanpa mempengaruhi tingkat pengosongan lambung. Metode yang digunakan untuk preparasi hollow microspheres adalah metode emulsion solvent evaporation karena ukuran partikel lebih mudah dikontrol, namun dalam penggunaan metode ini beberapa variabel harus diperhatikan seperti jenis pelarut, volume pelarut dan laju pelepasan obat dari microspheres. Pada preparasi hollow microspheres ini menggunakan dua polier yaitu etil selulosa (EC) dan hidoksipropil metiselulosa (HPMC), pemilihan kedua polimer tersebut bertujuan agar pelepasan obat terjadi secara perlahan dan dapat bertahan di dalam lambung pada waktu yang lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formula optimum dari konsentrasi etil selulosa dan lama pengadukan serta interasinya menggunakan metode design faktorial. Respon dari metode ini adalah nilai entrapment efficiency dan buoyancy, setelah diketahui farmulasi optimum kemudian dilakukan karakteristik hollow microspheres meliputi nilai yield, analisis SEM, dan analisis FT-IR. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi etil selulosa sebesar 600 mg dengan lama pengadukan 45 menit memberikan hasil yang optimum dengan nilai entrapment efficiency sebesar 94,373 ±1,292 dan nilai buoyancy sebesar 81,37 ±0,0118. Nilai yield yang diperoleh 71,003% ±0,265 dan ukuran partikel sebesar 144,5 µm ± 5,594. Hasil analisis FT-IR yang diperoleh menggambarkan bahwa tidak terjadi interaksi antara bahan obat dengan polimer

    Pengembangan Eksipien Co-Process Pati Talas (Colocasia Esculenta) Pregelatinasi Dan Avicel Sebagai Bahan Pengisi Tablet Kempa Langsung

    No full text
    Tablet merupakan sediaan berbentuk solid yang dalam proses pembuatannya ditambahkan ekspien tertentu yang sesuai seperti bahan pengisi, pengikat, penghancur, pewarna dan penyalut (Allen et al., 2011). Tablet dapat dibuat dengan metode kempa langsung, karena prosesnya yang mudah, cepat dan murah (Widodo dan Hassan, 2015). Pembuatan tablet dengan metode kempa langsung memberikan peranan yang penting dalam pembuatan tablet, terutama dalam menekan biaya produksi dan mempersingkat waktu produksi dibandingkan menggunakan metode granulasi basah. Metode kempa langsung adalah metode yang sesuai untuk bahan obat yang rusak akibat pemanasan dan kelembapan saat proses granulasi (Jivraj et al., 2000). Talas (Colocasia esculenta) terdapat dalam jumlah yang besar di Indonesia. Pati talas dapat digunakan sebagai bahan pengikat dan penghancur pada sediaan tablet (Kusuma et al.,2015). Pati dalam bentuk native starch memiliki kompresibilitas yang kurang baik bila digunakan dalam pembuatan tablet dengan metode kempa langsung (Widodo dan Hassan, 2015). Kompresibilitas dari pati dapat diperbaiki menggunakan metode pregelatinasi yang merupakan salah satu metode modifikasi fisik pada pati (Teguh dan Hassan, 2015). Co-process merupakan proses untuk memperoleh eksipien baru dengan cara menggabungkan dua atau lebih jenis eksipien yang sudah ada. Co-process dengan metode fisika, mengkombinasikan dua atau lebih eksipien dengan tujuan untuk memodifikasi sifat fisik tertentu seperti sifat alir dan kompresibilitas (Desai et al., 2012). Proses pencampuran eksipien bertujuan untuk memperoleh eksipien baru dengan sifat campuran yang dapat saling menutupi kekurangan masing-masing bahan. Pada pembuatan eksipien co-process, pati talas pregelatinasi dikombinasikan dengan avicel supaya dapat menghasilkan sifat alir dari eksipien co-process yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat eksipien co-process dari pati talas pregelatinasi dan avicel yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi pada tablet kempa langsung. Dibuat tiga formula eksipien co-process dengan perbandingan pati talas pregelatinasi dan avicel yang berbeda. Ketiga formula eksipien co-process selanjutnya dievaluasi sifat alirnya yang meliputi sudut diam, kecepatan alir, indeks kompresibilitas (Carr Index) dan ukuran partikel. Eksipien co-process dari masing-masing formula selanjutnya diformulasikan menjadi tablet dengan bahan aktif vitamin C. Tablet yang dihasilkan selanjutnya dievaluasi sifat fisiknya yang meliputi kekerasan, kerapuhan, keseragaman sediaan, disintegrasi dan disolusi. Ketiga formula eksipien co-process memiliki sifat alir yang baik. Sifat alir yang baik dapat dilihat dari nilai sudut diam, kecepatan alir dan indeks kompresibilitas (Carr Index). Nilai sudut diam, kecepatan alir ketiga formula eksipien co-process termasuk dalam kategori sifat alir yang baik. Indeks kompresibilitas (Carr Index) dari masing-masing formula eksipien co-process termasuk dalam kategori sifat alir yang cukup baik. F3 memiliki sifat alir yang paling baik dari F1 dan F2, karena mengandung jumlah avicel yang lebih tinggi. F2 memiliki kecepatan alir yang paling rendah karena kadar lembapnya lebih tinggi dari F2 dan F3. Tablet yang dihasilkan dari ketiga formula memenuhi persyaratan kekerasan, kerapuhan, keseragaman sediaan, disintegrasi dan disolusi. Kekerasan tablet F2 paling kecil diantara F1 dan F3. Keseragaman sediaan semua formula telah terpenuhi dengan nilai penerimaan kurang dari 15% dan simpangan baku kurang dari 25%. Waktu disintegrasi dari F2 lebih cepat dari F1 dan F3 karena kekerasan tablet F2 lebih kecil dari F1 dan F3. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa vitamin C sebagai bahan aktif dari semua formula tablet terlarut lebih 75% dalam waktu 45 menit. Eksipien co-process yang digunakan sebagai bahan pengisi dalam formulasi tablet vitamin C tidak menghambat pelepasan dari bahan aktif obat ke dalam media disolusi

    OPTIMASI KECEPATAN DAN LAMA PENGADUKAN DALAM PREPARASI HOLLOW MICROSPHERES NATRIUM DIKLOFENAK

    No full text
    Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang paling sering ditemukan pada sendi lutut dan pasien OA biasanya mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas. Natrium diklofenak merupakan obat golongan nonsteroid anti-inflammatory (AINS) yang paling banyak digunakan untuk pengobatan nyeri. Natrium diklofenak diklasifikasikan ke dalam BCS kelas II merupakan kategori bahan aktif yang memiliki kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi. Natrium diklofenak memiliki efek sebagai analgesik yang digunakan jangka panjang dalam pengobatan OA. Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan natrium diklofenak pada gastrointestinal track (GIT) diantaranya adalah nyeri epigastrium, mual, muntah, diare, perdarahan dan ulserasi atau perforasi dinding intestinal. Obat ini juga memiliki waktu paruh yang pendek yaitu 1-2 jam, menyebabkan obat harus diberikan secara berulang. Dosis harian yang dianjurkan adalah 75-150 mg diberikan 3 sampai 4 kali dalam dosis terbagi. Kekurangan tersebut dapat diatasi dengan mengembangkan bentuk sediaan sustained release seperti hollow microspheres. Bentuk sediaan sustained release dapat digunakan untuk mereduksi frekuensi dosis dan efek samping pada penggunaan terapi jangka panjang natrium diklofenak. Pelepasan obat secara perlahan dapat mengurangi interval pemberian dosis obat dan meningkatkan kepatuhan pasien. Resiko iritasi pada GIT juga dapat diatasi karena pelepasan obat dalam jumlah yang kecil dengan waktu yang lebih panjang. Hollow microspheres merupakan partikel berbentuk bola kosong tanpa inti yang memiliki densitas lebih rendah dari cairan lambung. Bentuk sediaan multiple unit hollow microspheres memiliki potensi untuk pelepasan obat terkontrol. Sistem penghantaran multiple-unit seperti hollow microspheres dengan ukuran partikel yang kecil dapat tersebar lebih merata di saluran pencernaan. Hal ini akan meningkatkan penyerapan obat. Preparasi hollow microspheres dalam penelitian ini menggunakan metode emulsion solvent evaporation. Metode ini memiliki teknik yang mudah karena hanya membutuhkan alat-alat skala laboratorium dengan prinsip emulsifikasi menggunakan pelarut organik mengandung bahan polimer dan bahan aktif yang terdispersi pada fase eksternal menggunakan bantuan pengaduk. Polimer yang digunakan yaitu hidroksipropil metilselulosa (HPMC) dan etil selulosa (EC). Pemilihan kedua polimer ini bertujuan agar pelepasan obat terjadi secara perlahan. Beberapa variabel pada proses preparasi seperti kecepatan dan lama pengadukan memiliki pengaruh terhadap beberapa aspek seperti nilai entrapment efficiency yang dihasilkan, ukuran partikel serta buoyancy. Desain faktorial merupakan metode optimasi yang digunakan dalam penelitian untuk mengetahui komposisi kecepatan dan lama pengadukan serta interaksi keduanya yang dapat memberikan nilai entrapment efficiency optimum. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecepatan pengadukan sebesar 500 rpm selama 60 menit memberikan nilai persen entrapment efficiency tertinggi yaitu 81,090% ± 0,475. Formula optimum terpilih kemudian dilakukan karakterisasi yaitu uji buoyancy dan uji yield dengan masing-masing nilai yang diperoleh sebesar 85,092% ±1,564 dan 83,082 ± 1,462. Partikel hollow microspheres natrium diklofenak memiliki morfologi permukaan yang tidak rata serta bentuknya telah mendekati bentuk sferis (bulat) dengan rongga didalamnya. Ukuran partikel hollow microspheres natrium diklofenak didapatkan nilai sebesar 108,667μm ± 2,532. Hasil analisis FT-IR menunjukkan tidak adanya interaksi yang mengakibatkan perubahan gugus fungsi pada natrium diklofenak sebagai bahan akti

    Pengaruh Konsentrasi Carbopol Dalam Preparasi Mucoadhesive Microspheres Amoksisilin Trihidrat.

    No full text
    Amoksisilin trihidrat merupakan obat antibiotik golongan penisilin. Amoksisilin dipilih karena penyerapannya lebih baik bila diberikan secara oral dibandingkan antibiotik β-laktam lainnya. Salah satu kegunaan antibiotik ini adalah untuk pengobatan first-line infeksi lambung yang disebabkan oleh bakteri H. pylori. Amoksisilin terbukti efektif dalam mengobati infeksi lambung yang disebabkan oleh H. pylori. Namun, amoksisilin tidak dapat membasmi H. pylori secara sempurna. Hal ini disebabkan karena antibiotik memiliki waktu tinggal yang singkat di lambung sehingga konsentrasi efektif antibiotik tidak dapat dicapai pada lapisan atau permukaan sel epitel lambung dimana terdapat H. pylori. Pengobatan menggunakan amoksisilin dapat pula menyebabkan resistensi terhadap antibiotik sehingga perlu dikembangkan strategi agar amoksisilin bertahan lama di lambung dengan penghantaran obat yang sesuai
    corecore