63 research outputs found

    STUDI POLA PERTUMBUHAN DAN SERAPAN HARA NPK TEMU IRENG (CURCUMA AERUGINOSA ROXB.)

    No full text
    Telah dilakukan Kajian nutri-fisiologi terhadap TEMU IRENG (CURCUMA AERUGINOSA ROXB.) untuk mempelajari karakter komponen pertumbuhan dan hasil, status dan serapan hara N, P, dan K serta akumulasi bahan kering tanaman selama pertumbuhan. Pengamatan dilakukan pada 8 tingkatan umur tanaman dengan interval satu bulan. Setiap contoh tingkatan umur diulang tiga kali dan setiap ulangan terdiri dari 4 tanaman. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa kandungan hara N, P dan K mengalami penurunan sejalan dengan umur tanaman. kadar N tertinggi dijumpai pada jaringan daun, sedangkan kadar P dan K di bagian batang. Berdasarkan analisis total serapan hara, terlihat bahwa temu ireng banyak menyerap hara N dan K dari tanah sehingga perlu pemupukan yang memadai. Akumulasi bahan kering total didominasi oleh rimpang, pada umur 6 dan 8 BST bobot rimpang mencapai 54 dan 85% dari total bahan kering

    STATUS LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) DAN HASIL RIMPANG TEMU IRENG (CURCUMA AERUGINOSA ROXB.) PADA PEMUPUKAN FOSFAT

    No full text
    Telah dilakukan penelitian status kadmium pada rimpang temu ireng yang dipupuk NPK, dan 8 perlakuan pupuk TSP. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 ulangan, tanaman dipanen umur 8,5 bulan setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 2,5 g sampai dengan 20 g TSP per pot nyata meningkatkan simplisia kering, tetapi pemupukan TSP 5 g sampai dengan 20 g tidak nyata meningkatkan hasil rimpang. kandungan Cd rimpang dengan pemupukan 5 g sampai dengan 20 g TSP, telah mencapai nilai di atas ambang batas yang ditentukan oleh Jepang dan WHO, sedangkan perlakuan 0,0 dan 2,5 g TSP kandungan Cd, di bawah ambang batas Jepang akan tetapi di atas ambang batas WHO

    Studi Anatomi Daun, Analisis Struktur Sekretori Dan Histokimia Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb.).

    No full text
    Temulawak (Curcuma xanthorrhizaRoxb.) banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan, minuman, dan obat di Indonesia. Varietas Cursina 1, Cursina 2, dan Cursina 3 merupakan tiga varietas unggul temulawak yang baru dilepas oleh Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur anatomi daunsebagai pendukung identifikasi tiga varietas Cursina, mengidentifikasi struktur sekretori yang terdapat pada rimpang temulawak dan menguji kandungan senyawa pada struktur sekretori tersebut.Varietas Cursina dapat dibedakan dari struktur anatomi daunnya berdasarkan jumlah lapisan jaringan palisade dan tebal lapisan kutikula pada epidermis bawah. Varietas Cursina 1 memiliki dua lapis jaringan palisade dengan lapisan kutikula yang tebal pada epidermis bawah. Varietas Cursina 2 dan Cursina 3 memiliki satu lapis jaringan palisade dengan lapisan kutikula yang tipis pada epidermis bawah. Varietas Cursina 2 dan Cursina 3 dapat dibedakan berdasarkan ketebalan daun, yaitu pada Cursina 2 memiliki ketebalan daun yang lebih besar dibandingkan Cursina 3. Struktur sekretori yang dijumpai pada rimpang temulawak hanya sel idioblas. Empat tipe sel idioblas diamati berdasarkan bentuknya. Analisis histokimia menunjukkan bahwa sel idioblas tipe 1 dan tipe 2 mengakumulasi terpenoid, alkaloid, kurkumin, dan senyawa lipofilik dan sel idioblas tipe 3 dan 4 mengandung terpenoid yang dijumpai pada semua varietas Cursina

    PENGARUH PUPUK KANDANG DAN KASTING TERHADAP PRODUKSI TEMU IRENG (CURCUMA AERUGINOSA ROXB.)

    No full text
    Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui jenis bahan organik (pupuk kandang dan kasting) dengan dosis yang tepat untuk meningkatkan produksi temu ireng. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sebelas perlakuan, empat ulangan. Perlakuan terdiri dari: kontrol (tanpa pupuk kandang dan kasting) serta perlakuan pupuk kandang dan kasting. Setiap perlakuan diberi pupuk Urea, TSP dan KCI. Pupuk TSP, KCI dan sepertiga dosis Urea diberikan pada saat tanam, sedangkan duapertiga dosis Urea diberikan pada umur 8,5 bulan setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 1,5 kg/tanam Pupuk kandang dan 0,75 kg kasting/tanaman dapat meningkatkan bobot segar rimpang secara nyata dibandingkan dengan kontrol. Pemberan dosisi pupuk kandang atau kasting yang lebih besar tidak menunjukkan pengaruh nyata dibanding dengan pemberian pupuk kandang 1,5 kg/tanaman atau kasting 0,75 kg/tanaman

    Phenological Study and Determination of Physiological Maturity of Purwoceng Seeds

    Get PDF
    The experiment was conducted at Gunung Putri Experimental Station and PlantPhysiology Laboratory of Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute(IMACRI), from November 2008 to July 2009. The aim of the experiment was to determinephysiological maturity of Pimpinella pruatjan seed and to study its morphological structures.Observation and sampling using one hundred plants with four replications. Results of theexperiment showed that the physiological seed maturity on the first and third umbell of P.Pruatjan was achieved at 7 weeks after anthesis, and physiological seed maturity on thesecond umbell was achieved at 8 weeks after anthesis. Seed dry weight on the physiologicalseed maturity on first, second and third umbells were 166,87; 158,20, and 141,35 mg/100pericarp, respectively. Germination percentage and germination speed on the first, secondand third umbells were 5,75 % and 0,22 %/etmal; 22,75 % and 0,94 %/etmal; 10,50 % and0,38 %/etmal, respectively.Keywords: flowering, pruatjan, seed quality, morpholog

    PERTUMBUHAN AKAR RAMBUT PURWOCENG PADA BEBERAPA KOMPOSISI MEDIA DAN SUMBER KARBON

    Get PDF
    Purwoceng (Pimpinella pruatjan) merupa-kan tanaman asli Indonesia dan digunakan untuk afrodisiak, karena mengandung me-tabolit sekunder sitosterol, stigmasterol, bergapten dan saponin. Salah satu usaha untuk memproduksi metabolit sekunder purwoceng adalah dengan kultur akar rambut in vitro. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi media dan sumber karbon terbaik terhadap pertumbuhan akar rambut purwoceng. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor, dengan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu 7 macam komposisi media (B5/Gamborg, DKW/Driver Kuniyaki Walnut, MS/Murashige Skoog, ½ B5, ½ DKW, ½ MS, dan MS Vit DKW). Faktor ke-dua yaitu 2 sumber karbon (sukrosa dan glukosa). Akar rambut dipanen pada bulan ketiga. Parameter yang diamati meliputi bobot basah dan kering akar rambut serta kandungan metabolit sekunder. Pertum-buhan akar rambut purwoceng terbaik di-peroleh pada komposisi media ½ MS dengan sumber karbon sukrosa, ditunjuk-kan dengan penambahan bobot kering ter-tinggi pada bulan ketiga (0,126 g). Suk-rosa adalah sumber karbon terbaik untuk pertumbuhan akar rambut purwoceng, di-tunjukkan dengan penambahan bobot ba-sah bulan kedua (0,441 g) dan ketiga (0,834 g) lebih tinggi daripada sumber kar-bon glukosa. Kandungan sitosterol terting-gi (0,3809%) diperoleh pada perlakuan komposisi media ½ DKW dengan penam-bahan sukrosa. Kandungan stigmasterol dan saponin tertinggi (8,2255 dan 4,3715 %) diperoleh pada perlakuan komposisi media ½ MS dengan penambahan suk-rosa. Kandungan sitosterol, stigmasterol, dan saponin pada akar rambut purwo-ceng umur 3 bulan tersebut lebih tinggi 2,22, 17,03, dan 39,35 kali dibanding akar tanaman purwoceng di lapang umur 9 bulan (sitosterol 0,1558%, stigmasterol 0,4830% dan saponin 0,1111 %)

    Status Penelitian Purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) di Indonesia

    No full text
    &lt;p&gt;Purwoceng was a commercial medicinal plant that could be used as aphrodisiac, diuretic, and body fit enhancer. The plant was indigenous of Indonesia that grew endemically at Dieng Plateau in Central Java, Pangrango Mountain in West Java, and mountaineos area in East Java. Recently the population was getting rare because of high genetic erosion. Based on the erosion level, the purwoceng was categorized as endangered species. In order to prevent from extinction, the conservation has to be done. The efforts of conservation could be conducted together with the efforts of its utilization optimally and sustainably. So far there were not many researches on purwoceng. Several aspects that had been reported were on agronomy, in vitro culture, phytochemistry, and pharmacology. However, the results of those researches had not been optimal and satisfying. Breeding research had not even been reported. This condition opened large opportunities for researchers to develop the researches that had been conducted to obtain the new technology. The supported technologies and the completed information would enhance the development of this commodity especially at industrial scale.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Abstrak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;digunakan sebagai afrodisiak, diuretic, dan tonik. Tanaman tersebut adalah tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh secara endemik di dataran tinggi Dieng Jawa Tengah, Gunung Pangrango Jawa Barat, dan area pegunungan di Jawa Timur. Dewasa ini, populasinya sangat jarang yang disebabkan oleh erosi genetik secara besar-besaran. Berdasarkan tingkat erosinya, purwoceng dikategorikan sebagai spesies yang hampir punah. Untuk menghindari kepunahan, tindakan konservasi harus dikelola dengan baik. Upaya pelestarian sebaiknya dilakukan secara bersama dengan upaya pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan. Hingga saat ini tidak banyak laporan penelitian tentang purwoceng. Beberapa aspek yang sudah dilaporkan adalah aspek agronomi, kultur in vitro, fitokimia, dan farmakologi. Namun demikian, hasil penelitian tersebut belum memuaskan. Penelitian pemuliaan bahkan belum pernah dilaporkan. Kondisi demikian membuka peluang bagi pengembangan penelitian yang sudah pernah dilakukan hingga diperoleh teknologi yang mantap. Teknologi yang mendukung dan informasi yang lengkap diharapkan akan meningkatkan pengembangan komoditas tersebut, terutama dalam skala industri.&lt;/p&gt;</jats:p

    Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh IAA dan IBA Pada Pembibitan Kapulaga Sabrang

    No full text
    Application of IAA and IBA as a plant growth regulator in the seed bed of cardamomThe research was intended to find out the effect of IAA and IBA (indole acetic acid and indole butyric acid) plant growth regulators in the seed bed of cardamom. It was implemented in the research Institute of Spices and Medicinal Crops, Bogor, in January up to April 1986. A randomized block design was applied with seven treatment i.e. control, IAA plat growth regulator with the concentration of 25, 50, 100 ppm, and IBA plant growth regulator with the concentration of 50, 100, and 150 ppm with three replications. The order kost Research result revealed that applying both plant growth regulators with those concentrations did not stimulate the growth of cardamom in the seed bed. It tended, however, to heighten the seedings, the amount of leaves and the weight of roots. Higher concentration of those plant growth regulators tended to retard the seed growth

    PENGARUH BOBOT BENIH DAN PUPUK KANDANG TERHADAP HASIL DAN MUTU RIMPANG TEMU IRENG (CURCUMA AERUGINOSA ROXB.)

    No full text
    Telah dilakukan penelitian penggunaan berbagai bobot benih dan pupuk kandang untuk meningkatkan hasil dan mutu rimpang temu ireng. Rancangan Acak kelompok yang disusun secara faktorial dengan 4 ulangan, dan 4 tanaman/perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa penggunaan bobot benih yang semakin tinggi yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk kandang, semakin tinggi juga hasil rimpang segar dan kering. Penggunaannya benih dapat meningkatkan hasil rimpang apabila diikuti dengan pupuk kandang

    Pengaruh Bahan Setek dan Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Nilam

    No full text
    Influence of cutting material and loliage fertilizer on the growth and yield of patchouli.A study was carried out at the green house of Research Institute for Spice and Medicinal Crops Bogor in 1987, to evaluate the effect of cutting material and foliage fertilizer on the growth and yield of patchouli. This experiment was designed in a completely randomized block design arranged factorially with 3 replication. The factors were cutting material (basal, middle and top) and foliage fertilizer (control, Gandasil D, and Floran). The result showed that all observed variable were not significant affected by cutting material. Using foliage fertilizer were significantly affected on the number of leaves and dry weight of plant compared with control. However, no significant different between Gandasl D and Floran. Further study should be conducted in field condition
    corecore