120 research outputs found

    CITRA DAN SELERA PADA GAYA BERBUSANA DARSO

    No full text
    Darso, seorang artis calung dan pop Sunda di Jawabarat, ia menjadiikon artis Sunda yang cukup terkenal. Dengan gaya berbusana, cara berbicara, serta bagaimana ia menampilkan dirinya, ia mampu menciptakan sebuah identitas yang cukup menarik untuk diteliti. Keberadaannya yang fenomenal, menciptakan sebuah daya tarik tersendiri bagi dirinya untuk disukai maupun dibenci oleh masyarakat disekelilingnya. Tulisan ini akan memaparkan tentang citra serta selera seorang pribadi Darso dalam cara berbusana, bertujuan untuk memahami konsep serta latar belakang dibalik pemilihan gaya berbusana tersebut dengan menggunakan pendekatan analisa interpertatif, yang didukungoleh data-data dan hasil wawancara yang pernah dilakukan oleh penulis.Untuk mengetahui tentang citra serta selera seorang pribadi Darso makadiuraikan tentang cara berbusana, konsep yang dimunculkan serta karakter lain yang mendukung perwujudan identitas dalam masalah selera dan apa saja halhal yang terkait. Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa identitas Darso diwujudkan bukan hanya dalam berbusana saja, ia muncul dalam ungkapan lain seperti karakter, sifat, dan pandangan terhadap modal. Bagi segelintir orang modal utama bukan hanya dalam bentuk status ekonomi (economic capital), social capital, atau cultural capital saja namun symbolic capital bisa menjadi yang utama dalam beberapa kasus. Darso dengan gaya busana dan karakternya adalah gambaran identitas diri, yang dengannya khalayak dapat mengenali image/citra yang dibangun.Kata kunci: artis, image, fashion, selera/taste, identita

    Perancangan Media Informasi Buku Tentang Kas Darso Rajanya Pop Sunda Dalam Berkesenian

    No full text
    Kang Darso merupakan salah satu seniman pop Sunda yang sering dijuluki sebagai rajanya pop Sunda yang dimiliki Jawa Barat. Ia sangat berperan terhadap musik pop Sunda yang turut membantu melestarikan kesenian tradisional Sunda. Didalam berkesenian kang Darso memiliki ciri khas dari segi instrumen music serta gaya penampilan yang sangat eksentrik. Dengan cirri khas yang dimiliki kang Darso tersebut, bias memberikan inspirasi bagi seniman yang lainnya.Untuk mensosialisasikan hal tersebut diperlukannya media informasi untuk menambah wawasan memahami serta mengetahui bahwa kang Darso memiliki cirri khas dalam berkesenian melalui hasil karya-karyanya

    Book review: 'Artful creation: learning-tales of arts-in-business', by Lotte Darso

    No full text
    Review of the book 'Artful creation: learning-tales of arts-in-business', by Lotte Darso, published by Samfundslitteratur, 2004

    Wayang Kulit Gagrag Cirebon: Kajian Sejarah Dan Peran Ki Darso Tahun 1995

    No full text
    Skripsi ini menjelaskan tentang wayang kulit gagrag Cirebon menurut Ki Darso, dimaksudkan untuk membahas suatu perkembangan wayang kulit yang dijadikan sebagai media dakwah Islam pada masa Sunan Kalijaga. Kemudian, dalam perkembangannya ternyata wayang kulit telah berkembang pesat di seluruh Indonesia. Di setiap wiayah Indonesia telah memiliki ciri khusus yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat tersebut, cici ini dalam dunia pewayangan tersebut sebagai gagrag. Gagrag ini meliputi : pekeliaran, bentuk wayang, pekem yang berlaku bagi dalang. Peneliti ini memfocuskan kepada gagrag Cirebon. Studi ini penting dibahas sebagai upaya pelestarian wayang kulit. Penelitian ini bersifat deskriptif kaulitatif, dengan mewancarai dalang dari Kabupaten Cirebon yaitu Ki Darso yang masih melestarikan pertunjukan wayang kulit, penelitian ini juga dibantu dengan studi Literatur buku. Penelitian ini menggunakan teori akulturasi dan pendeketan Antropologi Budaya. Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya perbedaan antara pertunjukan wayang kulit gagrag lainya. Perbedaan tersebut terletak pada dalang yang melakukan kreativitasnya terhadap dunia pewayangan agar dapat menyesuaikan perkembangan zaman

    Identity On Dulang Kuring 2 Music Video By Sundanese Pop Singger Darso: Proceeding The 3rd Bandung Creative Movement (BCM) 2016

    No full text
    The aim of this research is to explore the identity aspect in the Darso’s Dulang 2 music video. Qualitative Interpretative method is used to find the identity in the music video and analyzed using Homi K. Bhabha’s post-colonialism theory (mimicry, hybridity, and the third space). The research focusing on Place (landscape), Property Setup, and the singer himself on the music video. According to the research, the identity on the music video is ambivalence, every aspect on the music video are supporting that Darso have done mimicry and hybridity and then it created the third space. In the third space, the ambivalent identities were created. This can be seeing as defensive method to the Western cultural domination strategy. Keywords: Identity, Postcolonialism, Darso

    Ratoon performance of sorghum variety darso at different nitrogen fertilization, row spacings and plant population densities.

    No full text
    The effect of row spacing, nitrogen rate and population density of the grain yield, head number and days to half-bloom of ratoon crop of sorghum (Darso variety) from a wet season seed crop was observed. Higher nitrogen rates (100- and 150-kilograms per hectare) hastened days to half-bloom, increased head number and grain yield as compared to the lower rate (50 kilograms). Population density did not significantly affect blooming but tended to increase head number and grain yield with increasing density. Closer row spacing (30-centimeter) increased yield by 44% to 49% more than the wider row spacings (50 and 75-centimeter)

    Ratoon performance of sorghum variety darso at different nitrogen fertilization, row spacings and plant population densities.

    No full text
    The effect of row spacing, nitrogen rate and population density on the grain yield, head number and days to half-bloom of ratoon crop of sorghum (Darso variety) from a wet season seed crop was observed. Higher bitrogen rates (100- and 150-kilograms per hectare) hastened days to half-bloom, increased head number and grain yield as compared to the lower rate (50 kilograms). Population density did not significantly affect blooming but tended to increase head number and grain yield with increasing density. Closer row spacing (30-centimeter) increased yield by 44% to 49% more than the wider row spacings (50 and 75-centimeter)

    Wayang Kulit Gagrag Cirebon:Kajian Sejarah Dan Peran Ki Darso Tahun 1995

    No full text
    vi, 85 hlm,; ilus,; 25 cm

    Introduction and Epilogue to Special Issue: Re-conceiving the artful in management development and education

    No full text
    The editorial focus of this issue is on artful, aesthetic and artistic endeavours in management. Being artful is not about arts-based quick fixes. In the context of this Special Issue, to be artful is to transform self through profound learning experiences that expand human consciousness, often facilitated by artistic processes. In management education and development this suggests a shift from instrumental management towards a paradigm of artful creation. Why the arts and artfulness? And why now? In what ways can the arts inform, inspire and leverage management development and education
    corecore