46 research outputs found
Spiritualitas Daniel dan Implikasinya Bagi Pelayanan Hamba Tuhan Masa Kini
Hamba Tuhan merupakan seorang pemimpin rohani bagi jemaat dan ia juga sebagai pemimpin agama di mata masyarakat. Peranan seorang hamba Tuhan sangat penting, baik di gereja maupun di lingkungan sekelilingnya karena ia mengemban tugas mulia dari Tuhan untuk memberitakan injil keselamatan Kristus pada dunia ini. la hams dapat menjadi garam dan terang dunia. Peranan ini membuat ia hams dapat menjadi teladan bagi semua orang, baik di dalam perbuatan, tutur kata, sikap, pikiran, maupun dalam kehidupan spiritualitasnya. Tak dapat dipungkiri bahwa apa yang dipancarkan dalam kehidupan seseorang itu berasal dari apa yang terdapat di dalam dirinya. Kesaksian hidup yang baik hanya dapat dipancarkan dari kehidupan spiritualitas yang baik dan benar. Dengan demikian, seorang hamba Tuhan hams memiliki kehidupan spiritualitas yang sesuai dengan kebenaran Tuhan supaya ia dapat memberikan teladan bagi jemaat dalam menjadi terang dan garam dunia. Kehidupan spiritualitas yang baik, benar dan kokoh ini tentu tidak dapat diperoleh begitu saja, perlu ada disiplin rohani yang baik dan tentunya perlu terns dijaga dan dievaluasi untuk terns bertumbuh kokoh dalam Tuhan.
Hamba Tuhan masa kini hidup di tengah zaman yang menawarkan berbagai paradigma yang tidak sesuai dengan konsep kebenaran firman Tuhan. Ada banyak godaan, tantangan, dan masalah yang dapat menggerogoti kehidupan spiritualitasnya sehingga ia bisa terjatuh dalam disintegritas dan gagal menjalankan tugas panggilannya. Hal ini hams diperhatikan dengan baik karena perlu diakui, sebagai manusia yang lemah dan terbatas, ia juga sangat rentan terhadap setiap godaan dan tantangan. Sebagai seorang pemimpin rohani, ketika ia gagal mempertahankan integritasnya di hadapan Tuhan, maka ia dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain dan dapat menyeret banyak orang untuk turut serta dalam kejatuhannya. Oleh karena itu, ia perlu belajar dari firman Tuhan bagaimana memiliki kehidupan spiritualitas yang baik dan dapat tetap berintegritas di tengah segala tantangan dan masalah. Alkitab telah memberikan contoh seorang yang memiliki kehidupan spiritual yang baik, ia adalah Daniel. Kondisi yang tidak ideal dan kondusif tidak menjadi alasan baginya untuk tidak lagi hidup berintegritas di hadapan Tuhan. Kunci spiritualitas Daniel adalah relasinya yang intim dengan Allah. Keintiman inilah yang mendasari selumh manifestasi spiritualitasnya, seperti doa, puasa, kecintaan pada firman, iman, integritas, kesaksian hidup, dan lainnya. Hal ini patut diteladani oleh setiap hamba Tuhan masa kini yang juga mengalami berbagai tantangan dan godaan. Dari penelitian ini, maka setiap hamba Tuhan juga hams memiliki relasi yang intim dengan Allah sebagai dasar dari spiritualitasnya. Dengan demikian, ia dapat terns mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup dan pelayanannya, sehingga ia dapat berintegritas dan senantiasa memuliakan Tuhan
Prinsip Penggembalaan Menurut 1 Timotius 4:1-16: Kajian Reflektif untuk Penerapan di GPdI Wilayah Waropen Barat, Papua
The principle of shepherding means a fundamental statement that can be considered as a general truth that is used by both pastors and groups in pastors in working to achieve their goals. In this connection, it is important to study the principles of shepherding according to 1 Timothy 4: 1-16. The purpose of this study is to describe, analyze, and implement the principles of shepherding according to 1 Timothy 4: 1-16 in the pastoral environment of the GPdI session in the West Waropen Region, Papua. This study uses qualitative research with a descriptive analysis method with a hermeneutical approach to the text of 1 Timothy 4: 1-16. In conclusion, some principles in shepherding based on 1 Timothy 4: 1-16 are: knowing the purpose of shepherding, being called to serve, preparing for service, entering service, and serving as God's Servant. AbstrakPrinsip penggembalaan artinya pernyataan fundamental yang dapat di-anggap sebagai kebenaran umum yang digunakan oleh gembala sidang baik perorangan maupun kelompok dalam bekerja untuk mencapai tujuannya. Berkaitan dengan hal itu penting untuk mempelajari prinsip-prinsip penggembalaan menurut 1 Timotius 4:1-16. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis dan mengimplementasikan prinsip-prinsip penggembalaan menurut 1 Timotius 4:1-16 dalam ling-kungan gembala sidang GPdI di Wilayah Waropen Barat, Papua. Peneli-tian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif dengan pendekatan hermeneutis pada teks 1 Timotius 4:1-16. Kesim-pulannya, ada beberapa prinsip dalam penggembalaan berdasarkan 1 Timotius 4:1-16 yang dapat diterapkan, yakni: mengetahui tujuan peng-gembalaan, terpanggil melayani, persiapan pelayanan, memasuki pelaya-nan dan melayani sebagai Hamba Tuhan
Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16
Talizaro Tafonao, Christian Teacher Personality in Perspective of 1 Timothy 4: 11-16. One important indicator that must be known by Christian teachers is to have a good personality. Trough this research, author describes the Christian Teacher Personality in Perspective of 1 Timothy 4: 11-16. Authors used qualitative research methods in doing study of the text 1 Timothy 4: 11-16 to analyze the Bible\u27s point of view of the personality of Christian teachers. The results of these research analysis are: First, Being in words. Based on this text , Timothy was instructed to be an ensamples in words, both of personal conversations with several people and those delivered in public. Second, ensamples in Love. This love refers to love between humans and between human and God. God desired all human to love one another, with agape love, because the other third love, named storge, philo and eros will properly function if it is based on agape love. Third, ensamples in holiness. Holy and pure life needs to be developed and struggled for because God has delivered and saved. Holiness means clean, free from sin, sacred etc Thus, the successful of a Christian Religion teacher is having a personality with Bible truth as guidance. Talizaro Tafonao, Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16. Salah satu indikator penting yang harus diketahui oleh guru Kristen adalah memiliki kepribadian yang baik. Dari karya tulis ini, penulis mendreskripsikan Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16. Dalam menemukan jawaban penelitian ini maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan kajian terhadap teks 1 Timotius 4:11-16 untuk menganalisis pandangan Alkitab tentang kepribadian guru Kristen. Setelah penulis melakukan kajian terhadap teks tersebut di atas, maka adapun hasil analisisnya adalah: Pertama, Keteladanan dalam perkataan. Dalam hubungannya dengan konteks ini, Timotius diperintahkan untuk menjadi teladan dalam perkataan, baik yang ia sampaikan secara pribadi kepada beberapa orang maupun yang disampaikan di depan umum. Kedua, Keteladan Dalam Kasih. Kasih ini dinyatakan pada sesama manusia dan kepada Tuhan. Allah menghendaki agar manusia saling mengasihi satu dengan yang lain, dengan kasih agape, sebab ketiga kasih, yakni storge, philo dan eros hanya dapat berfungsi dan terjalin dengan baik sebagaimana mestinya jika didasari oleh kasih agape. Ketiga, Teladan Dalam Kesucian. Hidup suci dan murni perlu dikembangkan dan diperjuangkan karena Tuhan yang telah membebaskan dan menyelamatkan. Jadi kesucian adalah bersih, bebas dari dosa, keramat dan lain-lain. Dengan demikian, keberhasilan seorang guru Agama Kristen harus memiliki kepribadian sesuai dengan kebenaran Alkitab
Menilik Korelasi Wujud Sisi Gelap Pemimpin terhadap Manajemen Konflik di antara Pemimpin Gereja Kristus Yesus Jemaat Mangga Besar
Menghadapi pergumulan dan tantangan abad 21 pemimpin gereja dituntut untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai pemimpin, yaitu memberi pengaruh kepada perubahan perilaku orang lain secara langsung maupun tidak. Pemimpin juga dituntut mengenal dan mengatasi sisi gelap kepribadian yang membentuk dirinya menjadi pemimpin dengan kecenderungan tertentu. Demikian pula saat menghadapi konflik dalam kepemimpinannya, pemimpin juga dituntut untuk dapat menangani konfliknya dengan baik dan bertanggung jawab. Sisi gelap seorang adalah desakan batin, tekanan, dan disfungsi personalitas seseorang yang sering kali tercetus tanpa pertimbangan atau tetap tidak disadari sampai ia mengalami tekanan emosi. Karena ini merupakan bagian dari diri yang mengintai di bawah bayang-bayang kepribadian seseorang maka disebut sebagai sisi gelap kepribadian seseorang. Sisi gelap walaupun kedengaran cukup menyeramkan, sebenarnya merupakan konsekuensi alami dari perkembangan manusia. Setiap pemimpin yang sudah menyadari dan sedapat mungkin mengatasi sisi gelapnya juga dituntut untuk dapat mengatasi konflik yang terjadi dalam kepemimpinannya dengan memakai gaya manajemen konflik tertentu. Pemimpin harus memahami, menyadari, dan mengatasi sisi gelap kepribadiannya. Setelah ia sanggup mengatasi sisi gelapnya, maka ia akan lebih mampu mengatasi konflik yang terjadi dalam hidup dan kepemimpinannya. Permasalahan yang ada adalah mengingat sisi gelap kepribadian seseorang membentuk wujud kepemimpinan dengan kecenderungan tertentu dan wujud kepemimpinan itu sendiri akan mengambil gaya manajemen konflik tertentu pula, maka penulis merasa perlu menilik dan menganalisis apakah terdapat korelasi antara wujud sisi gelap pemimpin terhadap gaya manajemen konflik dalam kepemimpinannya. Dari hasil penelitian ini ditemukan memang terdapat korelasi antara wujud sisi gelap yang membentuk pemimpin dengan kecenderungan kompulsif di kemajelisan GKYjMB dengan gaya manajemen konflik yang diambilnya, yakni kolaborasi dan kompromi. Namun demikian, ditemukan adanya ketidaksesuaian antara hasil penelitian dengan pembahasan dari landasan teori yang menyatakan pemimpin dengan kecenderungan kompulsif, akan mengambil gaya manajemen konflik mendominasi bukan kolaborasi atau kompromi
DIALOG KREATIF JATI DIRI BUDAYA DENGAN JATI DIRI KRISTIANI DALAM PERSPEKTIF MGR. WILHELMUS VAN BEKKUM
The author of this article sees that the basic orientation of pastoral work of Mgr. van
Bekkum in the Catholic Church of Manggarai is dialogue between cultural identity and
Christian identity. For Mgr. van Bekkum important attitudes in dialogue are openness
and appreciation. Furthermore, genuine dialogue must be directed to the humanization
of culture and renewal of the Christian identity. An important form of dialogue between
cultural identity and Christian faith is the integration of culture into the Christian liturgy. </p
Analisis Pengaruh Aktivitas Promosi Perusahaan, Manajemen Antrean dan Penyempurnaan Suasana Menunggu pada Persepsi Pelanggan terhadap Waktu Tunggu di HM Indonesia
Antrean merupakan fenomena yang lazim terjadi dan ditemukan di kehidupan sehari-hari. Sejak dahulu antrean seringkali timbul karena keterbatasan jumlah fasilitas layanan ataupun kebutuhan akan layanan yang melebihi batas. Sejak dahulu terdapat fenomena yang cukup unik, meskipun antrean memanjang dan waktu tunggu yang dilalui cukup lama, namun pelanggan tetap mau untuk mengantre dan menunggu layanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa aktivitas promosi perusahaan, manajemen antrean, dan penyempurnaan suasana menunggu pada persepsi pelanggan terhadap waktu tunggu selama mengantre di salah satu perusahaan ternama dunia yang terdapat juga di Indonesia, bergerak dalam industri retail fashion yaitu HM Indonesia. Penelitian ini pun menguji pengaruh aktivitas promosi perusahaan dan manajemen antrean pada penyempurnaan suasana selama menunggu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa aktivitas promosi perusahaan berpengaruh secara signifikan negatif pada persepsi pelanggan terhadap waktu tunggu. Manajemen antrean oleh perusahaan berpengaruh signifikan positif pada persepsi pelanggan terhadap waktu tunggu. Penyempurnaan suasana menunggu berpengaruh signifikan positif pada persepsi pelanggan terhadap waktu tunggu. Adanya pengaruh secara positif namun tidak signifikan dari aktivitas promosi perusahaan pada persepsi pelanggan terhadap waktu tunggu. Manajemen antrean berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap penyempurnaan suasana menunggu
Kompetensi Diaken berdasarkan 1 Timotius 3:8-13
The competence of a deacon in 1 Timothy 3: 8-13 are the requirements that should get the attention of the church. In this article, the author describes the duties and responsibilities of a deacon. The purpose of this study is that the deacons will understand their duties and responsibilities. The author intends to reposition deacons who serve the marginalized. The research method used is hermeneutic. There are four results in this study. First is being able to resist temptation. Second is flawless. Third is trustworthiness. Fourth is being role models for family member
Pemimpin Yang Memiliki Integritas Menurut 2 Timotius Pasal 2
Penulisan ini bertujuan untuk merumuskan suatu konsep mengenai pemimpin yangmemiliki integritas yang diperlukan pada masa kini. Dalam penulisan penulisan inisebagai suatu karya ilmiah dibutuhkan suatu metode penelitian yang tepat gunamendapatkan data yang konkret.Kaitannya dengan itulah maka di sini penulis akan menguraikan sumber data danteknik pengumpulan data yang dipakai dalam penyusunan penulisan ini sebagai berikut:Pertama, yaitu pengambilan data melalui eksposisi Alkitab yang dijabarkan secaradeskriptif. Kedua, yaitu pengambilan data melalui buku-buku perpustakaan yang adakaitannya dengan pokok penulisan ini sebagai penunjang eksposisi Alkitab. Alkitabmenjadi sumber utama dalam penulisan penulisan ini. Ketiga, yaitu pengambilan datamelalui penelitian lapangan yaitu melalui wawancara dengan tujuan menunjang eksposisiAlkitab.Setelah pembahasan yang relatif panjang tentang pemimpin yang memilikiintegritas, maka dapat disimpulkan bahwa integritas sungguh sangat penting bagiseorang pemimpin. Integritas perlu bagi para pemimpin supaya pilar-pilarnya menjadisuperstruktur. Integritas adalah kekuatan konstruksi kepemimpinan.Bahwa dalam kehidupan seorang pemimpin tidak hanya harus memiliki suatukehidupan kerohanian yang tinggi tetapi juga harus ditunjang oleh integritas diri dalamkepemimpinannya. Bobot kepemimpinan tidak ditentukan oleh tingginya pendidikansemata atau banyaknya jam terbang dalam pelayanan, melainkan oleh integritas diri.Pecahnya Kerajaan Israel, hancurnya Kerajaan Yehuda adalah karena rapuhnyaintegritas para pemimpinnya. Keruntuhan masyarakat juga diawali dengan pemimpinyang kehilangan integritasnya, yang berakibat runtuhnya sendi-sendi normamasyarakat, seperti ayah tidak menjadi teladan, anak-anak mencari figur dari film,televisi dan media lainnya.Bahwa pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang selalu mematutkanhidupnya dengan Firman Tuhan, bergantung penuh pada pimpinan Roh Kudus,mengusahakan karakter yang baik, dan selalu menunjukkan sikap kerendahan hati
