EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Khotbah Ekspositori sebagai Jembatan antara Teks Suci dengan Konteks Kehidupan: Sebuah Studi pada Gereja Pantekosta Tabernakel Surabaya
Understanding the teachings of the Bible is a need of the congregation throughout the history of the church. In particular, today's congregation in the midst of the development of the digital world, is required to understand its faith correctly and relevant to the times. The Bible is the highest authority in the teaching and practical life of the congregation, especially in the Tabernacle Pentecostal Church - Christ the Helper. However, for the congregation of the Tabernacle Pentecostal Church - Christ the Helper, understanding the Bible is not easy, because there is a gap between the text of the Bible and the context of this congregation living in the present. There are differences in language, socio-cultural, political and religious that are very contrasting between the context of the Bible and the present. Expository preaching plays an important role as a bridge between the text of the Bible and the congregation. Through a descriptive qualitative method, the research was conducted by collecting and analyzing library data and then comparing it with the factual situation in the field. In addition, observations were made of sermon archives at the Tabernacle Pentecostal Church - Christ the Helper in the last four years, as well as short interviews related to the development of the topics discussed with several congregations. From the research, it was found that expository preaching is able to bridge the Bible text with today's congregation, specifically in the Tabernacle Pentecostal Church - Christ the Helper. First, expository preaching rephrases the Bible's teachings into today's language; second, expository preaching structures the sermon in a systematic way that is easy for the congregation to understand; third, it helps the congregation participate in Bible teaching; and fourth, it increases the congregation's interest in Biblical teaching.
Abstrak
Memahami pengajaran Alkitab adalah kebutuhan jemaat sepanjang sejarah gereja. Secara khusus jemaat masa kini ditengah-tengah perkembangan dunia digital, diharuskan untuk mengerti imannya secara benar dan relevan dengan zaman. Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam pengajaran maupun kehidupan praktis jemaat, khususnya di Gereja Pantekosta Tabernakel - Kristus Penolong. Namun bagi jemaat Gereja Pantekosta Tabernakel - Kristus Penolong, memahami Alkitab bukanlah hal yang mudah, karena adanya kesenjangan antara teks Alkitab dengan konteks jemaat ini yang hidup di masa kini. Ada perbedaan bahasa, sosial budaya, politik serta keagamaan yang sangat kontras antara konteks Alkitab dan masa kini. Khotbah ekspositori menjadi penting peranannya sebagai jembatan antara teks Alkitab dan jemaat. Melalui metode kualitatif deskriptif, penelitian dilakukan dengan pengumpulan dan analisa data-data kepustakaan kemudian dikomparasi dengan situasi faktual di lapangan. Selain itu dilakukan pengamatan terhadap arsip-arsip khotbah di Gereja Pantekosta Tabernakel - Kristus Penolong empat tahun belakangan ini, juga wawancara singkat terkait perkembangan topik yang dibahas dengan beberapa jemaat. Dari penelitian diperoleh fakta bahwa khotbah ekspositori mampu menjembatani antara teks Alkitab dengan jemaat masa kini, secara khusus di Gereja Pantekosta Tabernakel - Kristus Penolong. Pertama, khotbah ekspositori membahasakan ulang pengajaran Alkitab kepada bahasa masa kini; kedua, khotbah ekspositori menyusun khotbah dalam sistematika yang mudah untuk dipahami jemaat; ketiga, membantu partisipasi jemaat terhadap pengajaran Alkitab; dan keempat, meningkatkan minat jemaat terhadap pengajaran yang Biblikal.
Pemberitaan Injil dengan Demonstrasi dan Kuasa Roh Kudus: Eksegesis 1 Korintus 2:4-7 dalam Perspektif Pentakostal
This article presents an in-depth analysis of the passage of 1 Corinthians 2:4-7 from a Pentecostal perspective to examine the essential role of the demonstration and power of the Holy Spirit in the preaching of the gospel. Through qualitative textual exegesis, it is found that the preaching of the Gospel is not an action centered on man but on God. The conclusion of the study shows that the preaching of the gospel by demonstration and the power of the Holy Spirit based on 1 Corinthians 2:4-7 from a Pentecostal perspective is: the preaching of the gospel by the wisdom of God not the wisdom of man, by the belief in the power of the Holy Spirit, who gives courage in the proclamation of the Gospel, and performs miracu-lous signs. The foundation of true faith must be laid in the real power of God, manifested through the work of the Holy Spirit, a principle that remains crucial to the mission of the Pentecostal.
Abstrak
Artikel ini menyajikan analisis mendalam terhadap perikop 1 Korintus 2:4-7 dari perspektif Pentakostal untuk mengkaji peran esensial demonstrasi dan kuasa Roh Kudus dalam pemberitaan Injil. Dengan metode kualitatif melalui eksegesis teks, ditemukan bahwa pemberitaan Injil bukanlah sebuah tindakan yang berpusat pada manusia, melainkan pada Allah. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan Injil dengan demonstrasi dan kuasa Roh Kudus berdasarkan 1 Korintus 2:4-7 dari perspektif Pentakostal adalah: pemberitaan Injil oleh hikmat Allah bukan hikmat manusia, oleh keyakinan akan kuasa Roh kudus, yang memberikan keberanian dalam proklamasi Injil, dan mengadakan tanda-tanda ajaib. Fondasi iman yang sejati harus diletakkan pada kuasa Allah yang nyata, yang dimanifestasikan melalui pekerjaan Roh Kudus, sebuah prinsip yang tetap krusial bagi misi kaum Pentakostal.
Etika Siber dan Formasi Iman di Ruang Digital: Integrasi Pemikiran Charles Ess dalam Pendidikan Agama Kristen Berbasis Daring
This study aims to explore Charles Ess’s theoretical framework regarding how discourse shapes ethics in the digital sphere. The acceleration of digitalization has altered human attitudes and behaviors, producing a modern identity that transcends conventional boundaries within the Internet of Things. The increasing detachment of these behavioral shifts from moral and ethical foundations calls for meaningful dialogue in Christian religious education. The core argument of this research is that Ess’s concepts offer a valuable ethical and spiritual discourse for guiding behavior in digital contexts. By employing a literature-based method as a secondary data source, this study constructs a logical framework to support its claims. The findings suggest a dialogical encounter between Charles Ess’s ideas and Christian spiritual values within religious education, which contributes to the construction of an ethical approach to digitalization. In conclusion, this dialogical space enables Christian values to catalyze the emergence of ethical norms within the educational framework.
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini yaitu menjelaskan konsep pemikiran Charles Ess sebagai diskursus pembangunan etika di ruang digital. Perkembangan dan pertumbuhan digitalisasi mengubah sikap dan perilaku manusia menuju manusia modern tanpa memiliki batas di ruang internet of things. Pergeseran perilaku manusia tidak memiliki batas dan nilai, sehingga mengundang pendidikan agama Kristen untuk berdialog. Argumentasi studi ini yaitu konsep Charles Ess memberikan discourse etika dan nilai spiritual dalam membentuk sikap dan perilaku pengguna Internet of Things. Untuk menjawab dan mendukung argumentasi tersebut, maka penelitian ini menggunakan metode kepustakaan sebagai sumber sekunder dalam membangun logika berpikir. Hasil dari studi ini menunjukkan adanya hubungan antara pemikiran Charles Ess dan nilai spiritual Kristiani dalam pendidikan agama Kristen untuk menciptakan etika dalam dunia digital. Kesimpulannya, ruang dialog memberikan tempat bagi nilai Kristiani untuk menjadi pemicu terciptanya etika dalam bingkai pendidikan.
Penanaman Gereja di tengah Krisis Toleransi Beragama di Era Digital
The crisis of religious tolerance in Indonesia, as well as the challenges of the digital era, are significant obstacles to the implementation of planting or pioneering the church. This research employs a qualitative method with a literature study approach, utilizing the Bible as the primary source, and is supported by various books and articles relevant to the research topic. The results show that church planting is a critical and urgent call to restore the authentic and appropriate meaning of the Gospel in the context of the crisis of religious tolerance and the dynamics of the digital era. The church can no longer fulfill its duties using conventional methods and rigid rules. Therefore, the Church needs to be adaptive and relevant to the times, without neglecting its theological foundations and mission vocation. With this approach, church planting can be an effective strategy in facing these challenges.
Abstrak
Krisis toleransi beragama yang terjadi di Indonesia serta tantangan di era digital merupakan hambatan signifikan dalam pelaksanaan penanaman atau perintisan gereja. Penelitian ini mengguna-kan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yang menjadikan Alkitab sebagai sumber utama, serta didukung oleh berbagai buku dan artikel yang relevan dengan topik penelitian. Sehingga diperoleh hasil bahwa perintisan atau penanaman gereja merupakan panggilan yang sangat penting dan mendesak untuk mengembalikan makna Injil yang autentik dan relevan dalam konteks krisis toleransi beragama dan dinamika era digital. Gereja tidak dapat lagi melaksanakan tugasnya dengan metode konvensional dan aturan yang kaku. Oleh karena itu, gereja perlu bersikap adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman, tanpa mengabaikan fondasi teologis maupun panggilan misinya. Dengan pendekatan ini, perintisan jemaat dapat menjadi strategi efektif dalam menghadapi tantangan tersebut.
Media Pembelajaran Visual Interaktif Berbasis Aplikasi Desain Digital untuk Sekolah Minggu GPM
The development of digital technology has opened new opportunities for learning media at various levels of education, including Church Formal Education (PFG). This study aims to explore the opportunities and challenges of utilizing interactive visual learning media based on digital design applications in the context of the Maluku Protestant Church (GPM) Sunday School. Using a descriptive qualitative approach through participatory observation, interviews, and literature study, this research found that digital design applications offer ease of access, flexibility in content creation, and visual appeal that can improve learning effectiveness. However, challenges such as limited technological infrastructure, accessibility gaps, and low digital skills among caregivers remain significant obstacles. This study recommends collaborative strategies among curriculum development teams, mentors, and caregivers, as well as the use of offline features to overcome limitations in internet access. The implications of this study are expected to enrich learning methods and strengthen the GPM PFG curriculum in responding to the challenges of the digital era.
Abstrak
Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang baru dalam pengembangan media pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan, termasuk Pendidikan Formal Gereja (PFG). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peluang dan tantangan pemanfaatan media pembelajaran visual interaktif berbasis aplikasi desain digital dalam konteks Sekolah Minggu Gereja Protestan Maluku (GPM). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teknik observasi partisipatif, wawancara, dan studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa aplikasi desain digital menawarkan kemudahan akses, fleksibilitas dalam pembuatan konten, serta daya tarik visual yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, kesenjangan aksesibilitas, dan rendahnya keterampilan digital pengasuh masih menjadi hambatan signifikan. Penelitian ini merekomendasikan strategi kolaboratif antara tim pengembang kurikulum, pembimbing, dan pengasuh, serta pemanfaatan fitur offline untuk mengatasi keterbatasan akses internet. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat memperkaya metode pembelajaran dan memperkuat kurikulum PFG GPM dalam menjawab tantangan era digital.
Iman yang Mendialogkan Firman dalam Ruang Perjumpaan Multidimensional di Sekolah
This study examines the dynamic relationship between faith and scriptural dialogue within the multidimensional encounter spaces of educational institutions. The research explores how faith communities navigate the complexities of engaging with sacred texts while fostering meaningful dialogue across diverse theological, cultural, and pedagogical perspectives. Through qualitative analysis of educational practices, this study examines the methodological approaches used in creating inclusive spaces where the Word addresses contemporary educational challenges. The research reveals that effective faith-based dialogue requires sophisticated hermeneutical frameworks that honor both textual integrity and contextual relevance. Schools emerge as critical venues where traditional religious discourse meets modern educational paradigms, creating opportunities for transformative encounters. The findings demonstrate that the successful implementation of faith dialogue depends on establishing authentic relationships, maintaining theological depth while ensuring accessibility, and developing pedagogical strategies that respect diversity. This study contributes to understanding how educational institutions can serve as bridges between sacred traditions and contemporary learning environments, offering practical insights for educators seeking to integrate faith perspectives within pluralistic academic settings.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji hubungan dinamis antara iman dan dialog Firman dalam ruang perjumpaan multidimensional di institusi pendidikan. Studi ini mengeksplorasi bagaimana komunitas beriman menavigasi kompleksitas keterlibatan dengan teks suci sambil memupuk dialog bermakna lintas perspektif teologis, budaya, dan pedagogis yang beragam. Melalui analisis kualitatif praktik pendidikan, penelitian ini menyelidiki pendekatan metodologis yang digunakan dalam menciptakan ruang inklusif di mana Firman berjumpa dengan tantangan pendidikan kontemporer. Penelitian mengungkapkan bahwa dialog berbasis iman yang efektif memerlukan kerangka hermeneutis yang menghormati integritas tekstual dan relevansi kontekstual. Sekolah muncul sebagai tempat kritis di mana wacana religius tradisional bertemu paradigma pendidikan modern, menciptakan peluang perjumpaan transformatif. Temuan menunjukkan bahwa implementasi dialog iman yang berhasil bergantung pada pembentukan hubungan autentik, mempertahankan kedalaman teologis sambil memastikan aksesibilitas, dan mengembangkan strategi pedagogis yang menghormati keberagaman. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana institusi pendidikan dapat berfungsi sebagai jembatan antara tradisi sakral dan lingkungan pembelajaran kontemporer.
Konstruksi Nilai-Nilai Teologi Universal Berdasarkan Keluaran 20:1-17
The relationship between Israel and its exclusivism among nations invites new understanding with archaeological discoveries about the history of the nation's plurality. The meaning of the discovery of the history of pluralism is understood as the early history of the nation of Israel. There is also an understanding that the influence of the context of Israelite life (religious, social, economic, political and legal) occurred in the midst of pluralism. Similarly, based on the context of Israel's life recorded in Exodus 20:1-17, it is understood to have been formed by the process of assimilation and adaptation of various elements of Canaanite culture and religion around it. The purpose of writing this article is to discover the universal theological values of Exodus 20:1-17. The method used is the redaction analysis of social history. The result of this article's research is that the universal theological values of Exodus 20:1-17are: The ideology of living together in the midst of plurality, the legal foundation that became the regulation for Israel to establish relations with God and others and live in harmony with plurality,
Abstrak
Hubungan antara Israel dengan eksklusivismenya di antara bangsa-bangsa mengundang pemahaman baru dengan adanya penemuan arkeologi tentang sejarah kemajemukan bangsa tersebut. Pemaknaan dari penemuan sejarah kemajemukan itu dipahami sebagai sejarah awal bangsa Israel. Ada juga pemahaman bahwa pengaruh konteks hidup bangsa Israel (keagamaan, sosial, ekonomi, politik dan hukum) terjadi di tengah kemajemukan. Demikian pula berdasarkan Konteks hidup Israel yang tercatat dalam Kel.20:1-17 dipahami terbentuk atas proses asimilasi dan adaptasi dari berbagai unsur budaya dan agama Kanaan di sekitarnya. Tujuan dari penulisan artikel ini ialah untuk menemukan nilai-nilai teologis universal dari Kel.20:1-17. Metode yang digunakan adalah analisis redaksi sejarah sosial. Hasil dari penelitian artikel ini bahwa nilai-nilai teologis universal dari Kel.20:1-17 adalah: Ideologi kehidupan bersama di tengah kemajemukan, fondasi hukum yang menjadi regulasi bagi Israel untuk menjalin relasi dengan Allah dan sesama dan hidup rukun di tengah pluralitas,
 
Fondasi Ilahi untuk Keluarga Kontemporer: Hermeneutika Mazmur 127 dalam Dialog dengan Tantangan Modernitas
Contemporary families face multidimensional crises due to modernity's pressures such as individualism, materialism, and relational disintegration that threaten Christian family foundations. This research aims to explore the relevance of Psalm 127 as a theological foundation for family formation capable of responding to modern challenges. Contextual hermeneutical method is employed to analyze Psalm 127 and dialogue it with contemporary family realities through historical-critical exegesis and theological-practical interpretation. The findings reveal that Psalm 127 offers three fundamental principles: (1) acknowledgment of God's sovereignty as a foundation that liberates from existential anxiety; (2) balance between human effort and divine grace; (3) value reorientation from productivity toward holistic shalom. In conclusion, Psalm 127 provides counter-cultural wisdom relevant for building Christian family resilience, offering alternatives to modern secular values through spirituality that integrates faith and daily life.
Abstrak
Keluarga kontemporer menghadapi krisis multidimensional akibat tekanan modernitas seperti individualisme, materialisme, dan disintegrasi relasional yang mengancam fondasi keluarga Kristen. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi relevansi Mazmur 127 sebagai dasar teologis pembentukan keluarga yang mampu merespons tantangan modern. Metode hermeneutika kontekstual digunakan untuk menganalisis teks Mazmur 127 dan mendialogkannya dengan realitas keluarga kontemporer melalui pendekatan eksegesis historis-kritis dan interpretasi teologis-praktis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazmur 127 menawarkan tiga prinsip fundamental: (1) pengakuan kedaulatan Allah sebagai fondasi yang membebaskan dari kecemasan eksistensial; (2) keseimbangan antara usaha manusia dan anugerah ilahi; (3) reorientasi nilai dari produktivitas menuju shalom holistik. Simpulannya, Mazmur 127 menyediakan hikmat counter-cultural yang relevan untuk membangun resiliensi keluarga Kristen, menawarkan alternatif terhadap nilai-nilai sekuler modern melalui spiritualitas yang mengintegrasikan iman dan kehidupan sehari-hari.
Pemberitaan Injil dengan Tanda-tanda Heran: Eksegesis Markus 16:15-18 dalam Perspektif Pentakostal
The purpose of this study is to provide an in-depth analysis of the preaching of the Gospel with signs of astonishment based on the exegesis of Mark 16:15-18 from a Pentecostal perspective. This verse has greatly influenced the theology and practice of the church, particularly among Pentecostal churches. By the bibliological descriptive method, through scriptural exegesis, it is found that Mark 16:15-18 records spiritual signs: exorcism, the gift of tongues, divine protection, and healing, which are manifestations of the power of Christ through believers in the context of preaching the Gospel. From a Pentecostal perspective, this verse emphasizes that signs of wonder follow the preaching of the gospel, that certain people received the gift of performing miraculous signs, that signs of wonder continue to this day, and that Christians must be on guard against false signs of wonder.
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan analisis mendalam tentang pemberitaan Injil dengan tanda-tanda heran berdasarkan eksegesis Markus 16:15-18 dalam perspektif Pentakostal. Ayat ini sangat memengaruhi teologi dan praktik gereja terutama Gereja-gereja Pentakostal. Dengan metode deskriptif bibliologis, melalui eksegesis nas ditemukan bahwa Markus 16:15-18 mencatat tanda-tanda rohani: pengusiran setan, karunia bahasa roh, perlindungan Ilahi, dan penyembuhan, merupakan manifestasi kuasa Kristus melalui orang percaya dalam rangka pemberitaan Injil. Dari perspektif Pentakostal ayat ini menekankan bahwa: tanda-tanda heran mengikuti pemberitaan Injil, orang-orang tertentu menerima karunia untuk mengadakan tanda-tanda ajaib, tanda-tanda heran masih berlanjut hingga masa kini, dan orang Kristen harus waspada terhadap tanda-tanda heran yang palsu
Amanat Agung dalam Bayang-bayang Disinformasi: Strategi Gereja Menghadirkan Kebenaran Injil di Era Post-Truth
In the post-truth era, the abundance of conflicting news and hoaxes often overshadows objective truth, as personal opinions and subjective values predominate. Even relativity determines truth, leading to widespread disinformation in digital and social spaces. The Church, as the recipient of the Great Commission, currently faces challenges in communicating the Gospel in its pure form. This challenge is due to the presence of biased and manipulative information that distorts the truth. The inability of some Christians to distinguish between theological truth and false narratives has weakened the Church's witness. The purpose of this study is to formulate theological and practical strategies for the Church in communicating the Great Commission authentically amid the truth crisis. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that an understanding of the essence of the Great Commission in theology, as well as knowledge of the post-truth crisis and the church's challenges in proclaiming the truth, are crucial. It is hoped that the results will not hinder the actualization of the Great Commission as a mandate to proclaim truth amid the post-truth crisis and that the church will develop strategies to address disinformation in its mission to proclaim truth in a world darkened by disinformation.
Abstrak
Banyaknya berita simpang siur dan hoak di era post-truth, kebenaran objektif sering kali tersingkir oleh opini dan nilai subjektif pribadi manusia. Bahkan adanya relativitas juga menentukan kebenaran sehingga menimbulkan disinformasi yang meluas dalam ruang digital dan sosial. Gereja sebagai penerima mandat dari Amanat Agung dewasa ini menghadapi problem dalam menyampaikan Injil secara murni. Sebab adanya informasi yang bias dan manipulatif terkait kebenaran yang dinarasikan. Ketidakmampuan sebagian umat Kristen dalam membedakan antara kebenaran teologis dan narasi palsu telah melemahkan daya kesaksian gereja. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan strategi teologis dan praktis bagi gereja dalam mengkomunikasikan Amanat Agung secara otentik di tengah krisis kebenaran. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa peran pemahaman akan hakikat Amanat Agung dalam teologis dan juga pengetahuan akan Krisis di era post-truth dan tantangan gereja dalam mewartakan kebenaran. Diharapkan tidak menghalangi untuk mengaktualisasikan mandat Amanat Agung sebagai mandat pewartaan kebenaran di tengah krisis post-truth dan juga adanya strategi gereja menghadapi disinformasi dalam misi pewartaan dalam dunia yang gelap oleh disinformasi.