EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Cinta yang Berkulitas sebagai Dasar Pernikahan Kristiani yang Harmonis: Sebuah Refleksi Biblikal
This article serves as a practical and innovative guide for Christian couples seeking a harmonious marriage. It does so by implementing four key pillars: Agape love, respect, spiritual and biological intimacy, and open communication, with a particular emphasis on the spiritual foundation compared to other aspects of love. A descriptive qualitative approach is employed through a literature review of the Bible, religious books, and scholarly journals. The author reveals the need for the importance of lifelong commitment and genuine sacrifice to achieve this type of successful marriage.
Abstrak
Artikel sebagai panduan praktis dan inovatif bagi pasangan suami istri Kristen yang ingin memiliki pernikahan harmonis. Hal ini dilakukan dengan menerapkan empat pilar utama kasih Agape, penghormatan, keintiman spiritual dan biologi, dan komunikasi terbuka dengan penekanan khusus pada landasan spiritual dibandingkan dengan aspek lain dari cinta. Pendekatan kualitatif deskriptif dilaksankan melalui studi literatur dalam Alkitab, buku agama, dan jurnal ilmiah. Penulis mengungkap kebutuhan akan pentingnya komitmen seumur hidup dan pengorbanan yang tulus untuk mencapai jenis pernikahan yang berhasil.
Integritas dan Moralitas dalam Kepemimpinan Kristen: Upaya Gereja Membangun Spiritualitas Kepemimpinan Kristen
Christian leadership is faced with serious challenges in the form of a crisis of integrity and moral degradation that is increasingly undermining the spiritual leaders of the church. This phenomenon not only reflects the spiritual disorientation of church leaders but also threatens the church's testimony and transformation in society, hindering its role as a light. This study aims to examine theologically how the church can build a spirituality of Christian leadership rooted in integrity and morality. By employing a descriptive qualitative method in a literature study approach, this article demonstrates that Christian leadership must understand its nature, enabling it to identify and respond to the crisis of integrity in modern Christian leadership. Thus, a foundational theological building is needed regarding the morality and integrity of Christian leaders.
Abstrak
Kepemimpinan Kristen diperhadapkan pada tantangan serius berupa krisis integritas dan degradasi moral yang kian merongrong pemimpin rohani gereja. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan disorientasi spiritual para pemimpin gereja, tetapi juga mengancam kesaksian dan transformasi gerejawi dalam masyarakat untuk menjadi terang. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara teologis bagaimana gereja dapat membangun spiritualitas kepemimpinan Kristen yang berakar pada integritas dan moralitas. Dengan menggunkan metode kualitatif deskriptif dalam pendekatan studi pustaka, artikel ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kristen perlu memahami hakikat kepemimpinan Kristen, sehingga dapat mengidentifikasi sekaligus merespons krisis integritas dalam kepemimpinan Kristen modern. Dengan demikian, diperlukan sebuah bangunan teologis yang fondasional terkait moralitas dan integritas pemimpin Kristen.
Konstruksi Teologis tentang Tanggung Jawab Ekologis dalam Pembacaan Kejadian 1:26–28
This research examines the theological construction of human role and responsibility in creation care based on an in-depth analysis of Genesis 1:26-28. The contemporary ecological crisis reveals a fundamental gap between the divine mandate given to humanity as stewards of creation and the reality of exploitative practices that damage the environment. Through a qualitative-descriptive approach that employs biblical exegesis, this study examines the theological significance of the human role as imago Dei within the context of creation. Textual analysis demonstrates that humanity is called not as absolute rulers, but as God's representatives (vice-regents) responsible for maintaining and preserving the integrity of creation. The theological-practical implications of this research include: the need for reformulating Christian environmental ethics that integrates ecological spirituality with concrete conservation actions, developing an ecological praxis that views environmental concern as an expression of love for God and neighbor, and forming faith communities committed to environmental justice for the well-being of all creation. This research contributes to the development of contextual eco-theology that bridges biblical insights with the challenges of the global ecological crisis.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji konstruksi teologis tentang peran dan tanggung jawab manusia dalam pemeliharaan ciptaan berdasarkan analisis mendalam terhadap Kejadian 1:26–28. Krisis ekologis kontemporer menunjukkan adanya kesenjangan fundamental antara mandat ilahi yang diberikan kepada manusia sebagai penatalayan ciptaan dengan realitas praktik eksploitatif yang merusak lingkungan. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode eksegesis biblika, penelitian ini menelusuri makna teologis dari peran manusia sebagai imago Dei dalam konteks penciptaan. Analisis tekstual menunjukkan bahwa manusia dipanggil bukan sebagai penguasa absolut, melainkan sebagai representasi Allah (vice-regent) yang bertanggung jawab memelihara dan menjaga integritas ciptaan. Implikasi teologis-praktis dari penelitian ini mencakup: perlunya reformulasi etika lingkungan Kristen yang mengintegrasikan spiritualitas ekologis dengan tindakan konkret pelestarian alam, pengembangan praksis ekologis yang memandang kepedulian lingkungan sebagai wujud kasih kepada Allah dan sesama, dan pembentukan komunitas iman yang berkomitmen pada keadilan ekologis untuk kesejahteraan seluruh ciptaan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan eko-teologi kontekstual yang menjembatani wawasan biblika dengan tantangan krisis lingkungan global
Optimalisasi Pengelolaan Pelayanan dan Pemberdayaan Ekonomi dalam Konteks Gereja: Menuju Kesejahteraan Jemaat
Congregational welfare represents a crucial indicator of successful, holistic church ministry. However, numerous churches remain primarily focused on spiritual service without adequate attention to the economic empowerment of their congregants. This article analyzes how ministry management and economic empowerment can be optimized within the local church context to achieve comprehensive welfare. Employing a qualitative-descriptive approach and literature review, this article highlights the importance of empowering leadership, contextual ministry strategies, and the church's role in developing community-based economic ecosystems. The findings demonstrate that churches integrating spiritual and socio-economic aspects of ministry in a balanced manner demonstrate greater capacity to foster congregational transformation and enhance collective welfare.
Abstrak
Kesejahteraan jemaat merupakan salah satu indikator penting keberhasilan pelayanan gerejawi yang holistik. Namun, banyak gereja masih terfokus pada pelayanan spiritual semata tanpa memperhatikan aspek pemberdayaan ekonomi jemaat. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengelolaan pelayanan dan pemberdayaan ekonomi dapat dioptimalkan dalam konteks gereja lokal guna mewujudkan kesejahteraan yang menyeluruh. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan kajian literatur, artikel ini menyoroti pentingnya kepemimpinan yang memberdayakan, strategi pelayanan yang kontekstual, serta peran gereja dalam membangun ekosistem ekonomi berbasis komunitas. Temuan menunjukkan bahwa gereja yang mengintegrasikan aspek pelayanan rohani dan sosial-ekonomi secara seimbang lebih mampu mendorong transformasi jemaat dan meningkatkan kesejahteraan kolektif
Logos sebagai Titik Temu Teologi dan Filsafat: Kajian Eksegesis Biblikal atas Yohanes 1:1 dalam Dialog dengan Filsafat Stoa
This paper aims to find theological and philosophical common ground regarding Logos through a biblical exegesis of John 1:1 in dialogue with Stoic philosophy. Logos is a theological concept in the Gospel of John. Logos in the Christian faith highlights the existence of Jesus Christ before creation and the ontological connection of Jesus Christ as God. In addition, Logos in the Christian faith affirms a divine entity that actively shapes the universe. At the same time, Logos is a crucial Stoic term that affirms a rational principle of the cosmos. Logos in Stoic philosophy is regarded as an active force that guides the universe. Logos is also a manifestation of orderly energy that impacts existence. Through a descriptive qualitative approach, it was found that there is a theological and philosophical meeting point regarding the term Logos. This meeting point opens up a space for deep dialogue between the Christian faith and Stoic philosophy. This convergence does not obscure the uniqueness of the Christian faith. Rather, it converges on Jesus Christ as the fulfillment of divine revelation. This paper offers a dialogical approach to the relationship between biblical exegesis and Stoic philosophy.
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk mencari titik temu teologis dan filosofis mengenai Logos melalui kajian eksegesis biblikal atas Yohanes 1:1 dalam dialog dengan Filsafat Stoa. Logos adalah konsep teologis dalam Injil Yohanes. Logos dalam iman Kristen menyoroti keberadaan Yesus Kristus sebelum penciptaan dan keterkaitan ontologis Yesus Kristus sebagai Tuhan. Selian itu, Logos dalam iman Kristen menegaskan sebuah entitas ilahi yang berperan aktif dalam membentuk alam semesta. Di saat yang sama, "logos" juga merupakan terminologi krusial dalam filsafat stoa yang menegaskan sebuah prinsip rasional kosmos. Logos dalam filsafat stoa diyakini sebagai sebuah kekuatan aktif yang membimbing alam semesta. Logos juga merupakan manifestasi energi yang teratur dan berdampak pada keberadaan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, ditemukan bahwa ada titik temu teologis dan filosofis mengenai istilah Logos. Titik temu tersebut membuka sebuah ruang dialogis yang mendalam antara iman Kristen dengan filsafat stoa. Titik temu tersebut tidak mengaburkan keunikan iman Kristen. Melainkan titik temu tersebut mengerucut kepada Yesus Kristus sebagai pemenuhan wahyu ilahi. Tulisan ini menawarkan pendekatan dialogis antara eksegesis biblika dan filsafat Stoa.
Kehadiran Mendahului Aktivitas: Tafsir Integratif Lukas 10:38-42 sebagai Respons terhadap Burnout dalam Pelayanan Pastoral Kontemporer
The phenomenon of burnout in pastoral ministry has become a serious concern, characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and reduced achievement. Research shows that a ministry without a strong foundation of faith increases the risk of burnout that disrupts overall ministry effectiveness. The narrative of Mary and Martha in Luke 10:38-42 provides a relevant reflection on the tension between ministry busyness and the longing to remain close to God. This study employs a qualitative-exegetical method combining narrative exposition and pastoral theological reflection to reinterpret the faith styles of Mary and Martha as sources of reflection in modern ministry practice. Unlike previous studies that portray Mary and Martha as opposing poles, this research presents an integrative approach demons-trating how both faith styles complement each other and need to be balanced. The main contribution lies in concrete implications for addressing pastoral burnout and forming wise spiritual ministry patterns, affirming that spiritual presence must precede ministry activity so that every action arises from intimate fellowship with Christ.
Abstrak
Fenomena burnout dalam pelayanan pastoral semakin menjadi perhatian serius, ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian. Penelitian menunjukkan bahwa pelayanan tanpa landasan iman yang kuat meningkatkan risiko burnout yang mengganggu efektivitas pelayanan secara menyeluruh. Narasi Maria dan Marta dalam Lukas 10:38-42 menjadi cerminan relevan terhadap ketegangan antara kesibukan pelayanan dan kerinduan tinggal dekat dengan Tuhan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-eksegetis yang memadukan eksposisi naratif dan refleksi teologis pastoral untuk menginterpretasikan ulang gaya iman Maria dan Marta sebagai sumber refleksi dalam praktik pelayanan modern. Berbeda dari kajian sebelumnya yang menggambarkan Maria dan Marta sebagai kutub bertentangan, penelitian ini menghadirkan pendekatan integratif yang menunjukkan bagai-mana kedua gaya iman tersebut saling melengkapi dan perlu diseimbangkan. Kontribusi utama terletak pada implikasi konkret dalam mengatasi burnout pastoral dan membentuk pola pelayanan rohani yang bijak, menegaskan bahwa kehadiran rohani harus mendahului aktivitas pelayanan agar setiap tindakan lahir dari persekutuan intim dengan Kristus
Dari Laut ke Salib: Narasi Kehidupan Iman Orang Bajau Laut Kristen di Sabah Malaysia dalam Perspektif Misiologi Pastoral
This article examines the faith life of the Christian Bajau Laut community in Sabah through a descriptive, narrative, qualitative approach to understand religious, social, and pastoral dynamics within the context of marginalization and statelessness. The purpose of this study is to interpret the community's experiences theologically and pastorally and to identify challenges and opportunities for the development of relevant and contextual pastoral missiology. The research methodology involved field observations in the context of ministry and a targeted literature review of academic sources. The results indicate that the Bajau Laut's faith life is shaped by fragile socio-economic conditions, maritime mobility, limited access to education and health care, and a legacy of local beliefs that influence daily religious practices. Field observations reveal tensions between cultural identity and Christian identity, particularly in situations of eviction, administrative discrimination, and minimal church support. This emphasizes the importance of an incarnational, dialogical, and advocacy-based model of pastoral care that not only focuses on spiritual nurturing but also seeks access to education, health, and social protection.
Abstrak
Artikel ini mengkaji kehidupan iman komunitas Bajau Laut Kristen di Sabah melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan naratif untuk memahami dinamika religius, sosial, dan pastoral dalam konteks kemarginalan dan ketidakberkewarganegaraan. Tujuan penelitian ini adalah menafsirkan pengalaman komunitas secara teologis-pastoral serta mengidentifikasi tantangan dan peluang bagi pengembangan misiologi pastoral yang relevan dan kontekstual. Metodologi penelitian melibatkan observasi lapangan dalam konteks pelayanan dan kajian pustaka terarah atas literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan iman Bajau Laut dibentuk oleh kondisi sosial-ekonomi yang rapuh, mobilitas maritim, keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan, serta warisan kepercayaan lokal yang berdampak pada praktik religius sehari-hari. Observasi lapangan mengungkap ketegangan antara identitas budaya dan identitas kristiani, khususnya dalam situasi penggusuran, diskriminasi administratif, dan minimnya pendampingan gereja. sehingga hal ini dapat menegaskan pentingnya model penggembalaan yang inkarnasional, dialogis, dan advokatif, yang tidak hanya berfokus pada pembinaan rohani tetapi juga mengupayakan akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial
Analisis Semantik kata "koimomenon" dalam 1 Tesalonika 4:13 dan Kontribusinya terhadap Pengharapan Eskatologis
Eschatological hope is an important foundation of the Christian faith, but in practice it is often distorted when congregations are confronted with the reality of death. Greco-Roman religious and philosophical views also influenced the Thessalonian congregation, causing them to experience excessive grief. This article analyzes the term "koimomenon" in 1 Thessalonians 4:13 and its contribution to the formation of believers' eschatological hope. This study employs a qualitative literature review method with an exegetical-semantic approach, including lexical, grammatical, historical, and theological analyses of the Greek text of the New Testament (NA27). The results indicate that Paul uses the term "koimomenon" as a theological metaphor to emphasize the transience of believers' deaths and the continuity of their relationship with Christ.
Abstrak
Pengharapan eskatologis merupakan fondasi penting iman Kristen, namun dalam praktiknya sering mengalami distorsi ketika jemaat berhadapan dengan realitas kematian. Kondisi ini juga dialami jemaat Tesalonika yang menunjukkan dukacita berlebihan akibat pengaruh pandangan religius dan filosofis Greko-Roma. Artikel ini bertujuan menganalisis secara semantik kata "koimomenon" dalam 1 Tesalonika 4:13 serta kontribusinya terhadap pembentukan pengharapan eskatologis orang percaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi pustaka dengan pendekatan eksegetis-semantik, meliputi analisis leksikal, gramatikal, historikal, dan teologis terhadap teks Yunani Perjanjian Baru NA27. Hasil kajian menunjukkan bahwa istilah "koimomenon" digunakan Paulus sebagai metafora teologis untuk menegaskan sifat sementara kematian orang percaya dan kesinambungan relasi mereka dengan Kristus
Resistensi Urang Banten terhadap Agama Kristen: Sebuah Kajian Teologi Kontekstual
The Urang Banten, a Sundanese ethnic group residing in Banten Province, demonstrate significantly greater resistance to Christianity than Sundanese communities in other provinces. This is evidenced by the considerable difficulties in obtaining permits for church construction in Banten Province. This study aims to identify the factors contributing to the Urang Banten's resistance to Christianity. The research employs a literature review methodology examining the history, beliefs, culture, and characteristics of the Urang Banten. Through the research findings, the author postulates that the factors causing Urang Banten's resistance to Christianity are: (1) ancestral cultural and belief systems intertwined with Islamic religious practices that strictly implement sharia law; and (2) the issue of "historical wounds" deeply embedded in Bantenese society regarding Christianity, which bears the stigma of being the colonizers' religion. It is hoped that through this understanding, a contextual theology specific to the Urang Banten can be developed, enabling the Gospel to be received in the Banten region.
Abstrak
Urang Banten, yaitu Suku Sunda yang berdomisili di Provinsi Banten, jauh lebih resisten terhadap agama Kristen dibandingkan Suku Sunda di provinsi lainnya. Hal ini terbukti dari sulitnya mendapat izin pembangunan gereja di Provinsi Banten. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan hal-hal apa yang menyebabkan adanya resistensi Urang Banten terhadap agama Kristen. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur terhadap sejarah, kepercayaan, budaya dan karakter Urang Banten. Melalui hasil penelitian, penulis memperkirakan bahwa hal-hal yang menyebabkan resistensi Urang Banten terhadap agama Kristen adalah: (1) masalah budaya/ kepercayaan nenek moyang yang dibungkus dengan agama Islam yang menerapkan hukum syariah secara ketat; dan (2) masalah “luka sejarah” yang membekas dalam masyarakat Banten perihal agama Kristen yang mendapat stigma sebagai agama kaum penjajah. Diharapkan, melalui pengetahuan tersebut dapat dibangun sebuah Teologi Kontekstual khusus Urang Banten sehingga Injil dapat diterima di Tanah Banten.
Integrasi Kepemimpinan Soekarno dan Musa sebagai Warisan Kepemimpinan Kontekstual di Indonesia
Abstract: This research aims to explore the leadership legacies of Soekarno as the leader of Indonesia and Moses as the leader of Israel in the Bible in order to formulate a leadership model that fits the Indonesian context. State leaders play an important role in making decisions that impact people's lives, but the selection of leaders often triggers conflicts that can disrupt social stability and unity. As a Christian Indonesian citizen, there is an opportunity to combine national and spiritual leadership values that are often seen as conflicting. This research applies a literature study by analyzing information from relevant journals, books, and other sources on the two main variables, namely the leadership of Soekarno and Moses. Using the comparative method, the research found similarities, differences, and potential combinations of the two leadership models. The analysis shows that both Soekarno and Musa had a clear vision, the ability to mobilize the masses, and the courage to face big challenges. The interaction between the two resulted in a leadership model that brings together the values of spirituality and nationalism, which is very relevant for the diverse and religious context of Indonesia. This research concludes that the merging of Soekarno and Musa's leadership values can enrich thinking about contextual leadership that emphasizes justice, democracy, and a balance between spiritual and national aspects. This model is expected to be a relevant legacy for creating strong and inclusive leadership in Indonesia.
Keywords: Leadership Legacy; Contextual Leadership; Soekarno and Moses; Comparative Studies; Indonesia
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi warisan kepemimpinan Soekarno sebagai pemimpin Indonesia dan Musa sebagai pemimpin Israel dalam Alkitab, guna merumuskan model kepemimpinan yang sesuai dengan konteks Indonesia. Pemimpin negara memiliki peran penting dalam membuat keputusan yang berdampak pada kehidupan masyarakat, tetapi pemilihan pemimpin seringkali memicu konflik yang dapat mengganggu stabilitas sosial dan persatuan. Sebagai warga negara Indonesia yang beragama Kristen, terdapat kesempatan untuk menggabungkan nilai-nilai kepemimpinan nasional dan spiritual yang seringkali dianggap saling bertentangan. Penelitian ini menerapkan studi literatur dengan menganalisis informasi dari jurnal, buku, dan sumber lain yang relevan mengenai dua variabel utama, yaitu kepemimpinan Soekarno dan Musa. Dengan menggunakan metode komparatif, penelitian ini menemukan kesamaan, perbedaan, serta potensi penggabungan dari kedua model kepemimpinan tersebut. Analisis menunjukkan bahwa baik Soekarno maupun Musa mempunyai visi yang jelas, kemampuan untuk menggerakkan massa, dan keberanian dalam menghadapi tantangan besar. Interaksi di antara keduanya menghasilkan model kepemimpinan yang mempertemukan nilai-nilai spiritualitas dan nasionalisme, yang sangat relevan untuk konteks Indonesia yang beragam dan religius. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggabungan nilai-nilai kepemimpinan Soekarno dan Musa dapat memperkaya pemikiran tentang kepemimpinan kontekstual yang menekankan pada keadilan, demokrasi, dan keseimbangan antara aspek spiritual dan kebangsaan. Model ini diharapkan menjadi warisan yang relevan untuk menciptakan kepemimpinan yang kuat dan inklusif di Indonesia.
Kata Kunci: Warisan Kepemimpinan; Kepemimpinan Kontekstual; Soekarno dan Musa; Studi Komparatif; Indonesi