EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
    171 research outputs found

    Inses Digital dan Budaya Narsistik: Krisis Teologi Tubuh dalam Gereja Kontemporer

    Full text link
    This study examines the crisis of body theology in the contemporary church resulting from digital incest phenomena and narcissistic digital culture through an interdisciplinary approach. By integrating exegetical analysis of Leviticus 18 and 1 Corinthians 6:18-20, Jean M. Twenge's cultural psychology perspective, and empirical data from KPAI (2025) and Barna Group (2024), this research reveals threats to bodily sanctity extending beyond the physical realm. Empirical findings demonstrate significant involvement in online incest content consumption and a strong correlation between social media usage and body image obsession that objectifies the body as a virtual commodity. Exegetical analysis affirms incest prohibition as a covenantal community identity marker, while the body is understood as the temple of the Holy Spirit that must not be commodified. Holistic pastoral interventions are effective in increasing youth participation and reducing the risk of deviance. Research implications demand integrated reform: liturgy affirming bodily sanctity, an empirically grounded body-theology curriculum, and empathetic, adaptive church leadership. The church must respond to digital dynamics through robust exegesis, empirical monitoring, and contextual pastoral intervention to restore the integrity of body theology as the foundation of Christian identity.   Abstrak Penelitian ini mengkaji krisis teologi tubuh dalam gereja kontemporer akibat fenomena digital incest dan budaya narsistik digital melalui pendekatan interdisipliner. Dengan mengintegrasikan analisis eksegetis Imamat 18 dan 1 Korintus 6:18–20, perspektif psikologi budaya Jean M. Twenge, serta data empiris KPAI (2025) dan Barna Group (2024), penelitian ini mengungkap ancaman terhadap kekudusan tubuh yang melampaui ranah fisik. Temuan empiris menunjukkan keterlibatan signifikan dalam konsumsi konten inses daring serta korelasi kuat antara penggunaan media sosial dan obsesi body image yang mengobjektifikasi tubuh sebagai komoditas virtual. Analisis eksegetis menegaskan larangan inses sebagai penanda identitas komunitas perjanjian, sementara tubuh dipahami sebagai bait Roh Kudus yang tak boleh dikomodifikasi. Intervensi pastoral holistik terbukti efektif meningkatkan partisipasi pemuda dan mengurangi risiko penyimpangan. Implikasi penelitian menuntut reformasi terintegrasi: liturgi yang menegaskan kekudusan tubuh, kurikulum pendidikan teologi tubuh berbasis data empiris, dan kepemimpinan gereja yang empatik-adaptif. Gereja perlu merespons dinamika digital melalui eksegesis kokoh, pemantauan empiris, dan intervensi pastoral kontekstual untuk memulihkan integritas teologi tubuh sebagai fondasi identitas kristiani

    Revitalisasi Pastoral Gerejawi dan Krisis Etika: Studi tentang Kepemimpinan Gerejawi di tengah Fenomena Komersialisasi Pelayanan

    Full text link
    Commercialization in contemporary church life has generated an ethical crisis that threatens the integrity of pastoral ministry. The paradigm of ministry, which originally focused on spiritual devotion, has now shifted toward a business-oriented management approach. This shift creates a dilemma for church leadership between faithfulness to pastoral calling and economic demands, reflected in paid ministry practices, spiritual marketing, and hedonistic lifestyles that contradict the principles of simplicity exemplified by Jesus Christ. This study aims to examine the ethical crisis in church leadership amid the widespread commercialization of ministry through a qualitative method. The findings reveal that the essence of church leadership lies in the calling to shepherd the congregation according to biblical values. However, in adapting to contemporary demands, churches often become entangled in commercialization. Amid increasingly complex economic pressures, theological spirituality becomes essential as a critique of commercialization theology that disregards the sacredness of ecclesiastical calling. Therefore, the church needs to return to a pure spirituality grounded in the theology of the cross as the foundation for restoring the integrity of pastoral ministry.   Abstrak Komersialisasi dalam kehidupan gereja masa kini telah memunculkan krisis etika yang mengancam integritas pelayanan pastoral. Paradigma pelayanan yang semula berfokus pada pengabdian spiritual kini bergeser ke arah pengelolaan bercorak bisnis. Pergeseran ini menimbulkan dilema bagi kepemimpinan gereja antara kesetiaan pada panggilan pastoral dan tuntutan ekonomi, yang tercermin dalam praktik pelayanan berbayar, pemasaran spiritual, hingga gaya hidup hedonisme yang bertentangan dengan prinsip kesederhanaan Yesus Kristus. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara teologis krisis etika kepemimpinan gereja di tengah maraknya komersialisasi pelayanan dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat pemimpin gereja terletak pada panggilan menggembalakan umat berdasarkan nilai-nilai alkitabiah. Namun, dalam adaptasi kontekstual terhadap tuntutan zaman, gereja kerap terjebak dalam arus komersialisasi. Di tengah tekanan ekonomi yang kompleks, spiritualitas teologis menjadi penting sebagai kritik terhadap teologi komersialisasi yang mengabaikan kesakralan panggilan gerejawi. Oleh karena itu, gereja perlu kembali pada spiritualitas murni berbasis teologi salib sebagai dasar pemulihan integritas pelayanan pastoral.  

    Pedagogi Kasih dan Pembentukan Karakter: Studi Kasus Integrasi Dimensi Edukatif-Spiritual dalam Pembinaan Anak di Panti Asuhan Amuri

    Full text link
    Outside influences that tend to be negative today have become a concern for Amuri orphanage coaches from an early age, during the child’s mental growth and development. This research examines the educative and spiritual role of coaches in shaping Christ’s character, describing the concrete steps employed in this process. The research was conducted using a qualitative method, involving written interviews with Amuri orphanage coaches through a desk-based approach. The research findings indicate that the development of the character of Christ in the children of Amuri orphanage is a result of the educative and spiritual role of the coaches, which is achieved through life examples, loving parenting, discipline, and open and constructive communication. These steps transform the children’s character, positively impacting their academic performance, spiritual maturity, and the quality of their social relationships.   Abstrak Pengaruh luar yang cenderung negatif saat ini telah menjadi perhatian oleh pembina panti asuhan Amuri sejak dini, yakni di masa pertumbuhan dan perkembangan mental anak. Penelitian ini menganalisis peran edukatif-spiritual pembina dalam membentuk karakter Kristus serta menggambarkan langkah-langkah konkret yang digunakan dalam proses tersebut. Penelitian ini disusun melalui metode kualitatif melalui pelaksanaan wawancara tertulis dengan pembina panti asuhan Amuri dan juga dengan pendekatan studi kepustakaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter Kristus pada anak-anak panti asuhan Amuri merupakan hasil dari peran edukatif dan spiritual para pembina yang diwujudkan melalui keteladanan hidup, pola asuh kasih, disiplin, serta komunikasi yang terbuka dan membangun. Langkah-langkah ini secara nyata menciptakan transformasi karakter anak-anak, yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik, kedewasaan rohani, dan kualitas hubungan sosial anak.  

    Fungsi Budaya dalam Mengoptimalkan Dialog dan Misi Kristiani

    Full text link
    This study analyzes the function of culture in optimizing dialogue and Christian mission through an integrative approach that combines missiological anthropology, practical theology, and intercultural communication studies perspectives. The research identifies gaps in existing literature that tend to separate contextualization studies from intercultural dialogue mechanism analysis in mission contexts. Through a comprehensive analysis of cultural elements functioning as cross-cultural communication bridges, this study develops a theoretical framework for understanding how local cultural particularities can be utilized as media for conveying universal Gospel truths without compromising theological integrity. Findings indicate that cultural optimization in mission dialogue requires a deep understanding of target communities' worldviews, value systems, and social structures. This research formulates practical principles for implementing culturally informed approaches in contemporary Christian mission, contributing to developing more effective and contextually appropriate mission strategies in the globalization era characterized by increasing cultural complexity and religious pluralism.   Abstrak Penelitian ini menganalisis fungsi budaya dalam mengoptimalkan dialog dan misi Kristiani melalui pendekatan integratif yang menggabungkan perspektif antropologi misiologi, teologi praktis, dan studi komunikasi antarbudaya. Studi ini mengidentifikasi kesenjangan dalam literatur eksisting yang cenderung memisahkan kajian kontekstualisasi dari analisis mekanisme dialog antarbudaya dalam konteks misi. Melalui analisis komprehensif terhadap elemen-elemen budaya yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi lintas budaya, penelitian ini mengembangkan kerangka teoretis untuk memahami bagaimana particularitas budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai medium penyampaian kebenaran universal Injil tanpa mengorbankan integritas teologisnya. Temuan menunjukkan bahwa optimalisasi budaya dalam dialog misi memerlukan pemahaman mendalam tentang worldview, sistem nilai, dan struktur sosial masyarakat sasaran. Penelitian ini merumuskan prinsip-prinsip praktis untuk implementasi pendekatan yang culturally informed dalam misi Kristiani kontemporer, berkontribusi pada pengembangan strategi misi yang lebih efektif dan contextually appropriate dalam era globalisasi yang ditandai oleh increasing cultural complexity dan religious pluralism

    Perempuan Sebagai Pembaru: Telaah Teologis-Naratif Kisah Anak-Anak Zelafehad

    Full text link
    The story of Zelophehad's daughters in Numbers 27:1-11 represents a pivotal moment in the biblical narrative where women's voices drive change in the patriarchal legal system of ancient Israel. In a cultural context where inheritance rights were reserved only for men, the courage of these five women to make demands to Moses and God became a significant form of social and spiritual protest. This study aims to examine the narrative narratively and theologically, and assess its implications for understanding justice and women's participation in the context of faith. The method used is a narrative criticism and contextual theology approach, which enables analysis of the story structure, character roles, and relational dynamics between the transformational law and its theological impact. The results show that the actions of the sons of Zelophehad not only succeeded in changing the law of inheritance but also demonstrated that divine law is open to ethical correction from the marginalized. The conclusion of this study confirms that women, through courage and faith, play an essential role as reformers in the History of God's people.   Abstrak Kisah anak-anak perempuan Zelafehad dalam Bilangan 27:1-11 menampilkan momen penting dalam narasi Alkitab di mana suara perempuan mendorong perubahan dalam sistem, hukum patriarki Israel kuno. Dalam konteks budaya di mana hak waris hanya diperuntukkan bagi laki-laki, keberanian lima perempuan ini untuk mengajukan tuntutan kepada Musa dan Tuhan menjadi bentuk protes sosial dan spiritual yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah narasi tersebut secara naratif dan teologis, serta menilai implikasinya bagi pemahaman keadilan dan partisipasi perempuan dalam konteks iman. Metode yang digunakan adalah pendekatan tafsir naratif (narrative criticism) dan teologi kontekstual, yang memungkinkan analisis terhadap struktur cerita, peran karakter, serta dinamika relasional antara transformasional hukum, dan dampak teologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan anak-anak Zelafehad tidak hanya berhasil mengubah hukum waris, tetapi juga memperlihatkan bahwa hukum Ilahi bersifat terbuka terhadap koreksi etis dari mereka yang terpinggirkan. Kesimpulan dari studi ini menegaskan bahwa perempuan, melalui keberanian dan iman, berperan penting sebagai pembaru dalam Sejarah umat Allah

    Kasih yang Tidak Menyimpan Kesalahan: Implikasi Teologis terhadap Rekonsiliasi Gereja di Era Masa Kini

    Full text link
    Love is the core of Christian theology, serving not only as a Christian teaching but also as the ethical and practical foundation of church life. However, in today's church, the concept of love often loses meaning, especially when the church faces internal conflicts. The tension between the teaching of love that does not hold grudges and church practices that tend to perpetuate conflict reveals theological issues that have not been adequately addressed. The phenomenon of church divisions and conflicts exacerbated by digital culture shows that churches often find it difficult to live out reconciliation rooted in Christian love. This study aims to analyze the theological implications of the concept of love that does not hold grudges for the practice of church reconciliation in today's context. The research method is a qualitative literature review, which concludes that God's love that does not hold grudges is the theological foundation for relational and transformative Christian reconciliation. Reconciliation is understood as a continuous theological process that transcends pragmatic conflict resolution. The implications of liberating love demand a renewal of church practices oriented toward the restoration of relationships.   Abstrak Kasih merupakan inti teologi Kristen yang tidak hanya berfungsi sebagai ajaran kekristenan, tetapi juga sebagai dasar etis dan praksis kehidupan gereja. Namun, dalam realitas gereja masa kini, konsep kasih sering kali mengalami reduksi makna, terutama ketika gereja berhadapan dengan konflik internal. Ketegangan antara ajaran kasih yang tidak menyimpan kesalahan dan praktik bergereja yang cenderung memelihara konflik menunjukkan adanya persoalan teologis yang belum terjawab secara memadai. Fenomena perpecahan gereja dan konflik yang diperkuat oleh budaya digital memperlihatkan bahwa gereja kerap kesulitan menghidupi rekonsiliasi yang berakar pada kasih Kristiani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi teologis dari konsep kasih yang tidak menyimpan kesalahan terhadap praksis rekonsiliasi gereja di era masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka. Disimpulkan bahwa kasih Allah yang tidak menyimpan kesalahan merupakan fondasi teologis bagi rekonsiliasi Kristen yang bersifat relasional dan transformatif. Rekonsiliasi dipahami sebagai proses teologis berkelanjutan yang melampaui resolusi konflik pragmatis. Implikasi kasih yang membebaskan menuntut pembaruan praksis gerejawi yang berorientasi pada pemulihan relasi.  

    Resiliensi Iman dalam Pembacaan Teologis Mazmur 46

    Full text link
    Crisis is an inevitable part of modern life. In the current context—marked by a global pandemic, geopolitical conflicts, natural disasters, and increasing mental stress—Christian faith is often subjected to tremendous shocks. Psalm 46 offers a profound and contextual perspective on how God's people can remain steadfast in their faith when the world seems shaken from various sides. This study aims to explore the theological meaning of Psalm 46 through biblical exegesis, contextual hermeneutics, and pastoral reflection. The results of this study indicate that this Psalm is not only a beautiful poem of comfort but also a solid and hopeful statement of faith. God is portrayed as a protector, a present ruler, and a source of calm amid chaos. These findings emphasize the importance of a deep and resilient Christian spirituality, especially in times of global challenges and uncertainty. This study also highlights the church's role as a community that fosters the serenity of faith and spiritual solidarity. It offers a profound reflection on the faith responses of Christians today. By employing a theological interpretation that draws on linguistics, literature, systematic theology, and pastoral studies, this article demonstrates that Psalm 46 is not only spiritually relevant but also socially and pastorally relevant.     Abstrak Krisis merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan manusia modern. Dalam konteks kekinian—yang ditandai oleh pandemi global, konflik geopolitik, bencana alam, dan meningkatnya tekanan mental—iman umat Kristen sering kali mengalami guncangan yang luar biasa. Mazmur 46 menawarkan perspektif yang mendalam dan kontekstual tentang bagaimana umat Tuhan dapat tetap teguh dalam iman ketika dunia tampak terguncang dari berbagai sisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna teologis Mazmur 46 melalui pendekatan eksegesis biblika, hermeneutika kontekstual, dan refleksi pastoral. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa Mazmur ini tidak hanya merupakan puisi penghiburan yang indah, melainkan juga pernyataan iman yang kokoh dan penuh pengharapan. Allah digambarkan sebagai pelindung, penguasa yang hadir, dan sumber ketenangan dalam kekacauan. Temuan ini menegaskan bahwa spiritualitas Kristen yang mendalam dan tangguh sangat diperlukan, khususnya dalam menghadapi zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian global. Studi ini juga menyoroti peran gereja sebagai komunitas yang memfasilitasi ketenangan iman dan solidaritas spiritual, serta refleksi mendalam terhadap respons iman umat Kristen masa kini. Dengan menggunakan pendekatan multidisipliner yang melibatkan aspek linguistik, sastra, teologi sistematika, dan studi pastoral, artikel ini membuktikan bahwa Mazmur 46 tidak hanya relevan secara spiritual, tetapi juga sosial dan pastoral.  

    Kepemimpinan Kristen sebagai Katalisator dalam Pendidikan Inklusif: Implementasi Teologis Kepemimpinan Gerejawi dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

    No full text
    Inclusive education, which aims to provide equal opportunities for all children, including children with special needs, requires support from various parties, one of which is through Christian leadership based on biblical values. However, research linking Christian leadership with inclusive education, especially for children with disabilities, is limited. This research aims to actualise how inclusive principles in the church context can be applied to create a supportive and welcoming educational environment for children with disabilities. In this research, a literature study approach using a descriptive qualitative method is used.  It can be concluded that inclusive theology in church leadership encourages concrete actions to build a welcoming community for all, regardless of physical or social differences, and to fight stigma against people with disabilities. The church, with a commitment to serve with love, creates a space where every individual is valued, according to the teachings of Christ who involves and respects and values the marginalized, namely children with special needs.   Abstrak Pendidikan inklusif, yang bertujuan memberikan kesempatan yang setara bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), memerlukan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya melalui kepemimpinan Kristen yang berlandaskan nilai-nilai alkitabiah. Namun, penelitian yang menghubungkan kepemimpinan Kristen dengan pendidikan inklusif, khususnya untuk ABK, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengaktualisasi bagaimana prinsip inklusif dalam konteks gereja dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung dan ramah bagi ABK. Dalam penelitian ini, pendekatan studi pustaka dalam metode kualitatif deskritif  menjadi metode penulisan.  Dapat disimpulkan bahwa  Teologi inklusif dalam kepemimpinan gereja mendorong tindakan nyata untuk membangun komunitas yang ramah bagi semua, tanpa memandang perbedaan fisik atau sosial, serta melawan stigma terhadap penyandang disabilitas. Gereja, dengan komitmen untuk melayani dengan kasih, menciptakan ruang di mana setiap individu dihargai, sesuai ajaran Kristus yang melibatkan dan menghormati dan menghargai yang termarginalkan yaitu anak berkebutuhan khusus

    Teologi Salib dan Total Depravity: Membangun Kerangka Etika Kristen yang Berpusat pada Penebusan

    No full text
    Tulisan ini dirangkai dalam rangka membangun kerangka etika Kristen yang berpusat pada penebusan melalui kombinasi teologi salib dan doktrin total depravity. Teologi salib menggarisbawahi kuasa Allah untuk keselamatan melalui salib Kristus. Total depravity menegaskan tentang kebobrokan manusia karena dosa yang diwarisi oleh Adam dan Hawa. Kerangka etika Kristen yang dibangun atas dasar kombinasi teologi salib dan total depravity akan membawa setiap orang Kristen berpusat pada penebusan untuk membangun kehidupan etisnya. Dengan demikian, setiap orang Kristen akan mengalami kuasa transformatif yang akan membawa setiap orang Kristen dapat menunjukkan kehidupan etis serta moral dengan kuasa ilahi. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis mencoba menelusuri keterkaitan antara teologi salib dan total depravity untuk membangun kerangka etika Kristen yang berpusat pada penebusan. Penulis menegaskan bahwa teologi salib dan total depravity dapat membawa setiap orang Kristen membangun kerangka etika yang berpusat pada penebusan karena disanalah ada kuasa transformatif yang dapat mengubah dan membangun kehidupan etis setiap orang percaya

    Membaca 2 Tawarikh 7:14 dalam Konteks Kebangunan Rohani di Kabupaten Supiori, Papua

    No full text
    This study investigates the potential of intercessory prayer, as outlined in 2 Chronicles 7:14, as a transformative strategy for advancing Supiori Regency, recognized as the "Island of the Gospel." Intercessory prayer, which emphasizes humility, seeking God, and collective repentance, is pivotal in addressing the region's social, economic, and spiritual challenges. With a poverty rate nearing 40%, the integration of spiritual transformation through intercessory prayer with local cultural values—such as respect, unity, and mutual cooperation—serves as a foundation for fostering social harmony and community well-being. Employing a descriptive qualitative approach, this study utilizes theological hermeneutic analysis to assess the implementation of Gospel principles in societal governance and administration. The findings reveal that intercessory prayer functions as a catalyst for restoring spiritual connections with God while simultaneously strengthening social solidarity. Moreover, intercessory prayer provides a framework for local leaders to develop policies grounded in justice and communal welfare. The integration of prayer practices with cultural values presents a model for spiritual and social transformation applicable to other regions, aligning with Supiori's vision of becoming a harmonious, inclusive, and empowered society

    132

    full texts

    171

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇