EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Keberlanjutan Misiologi di Era Digital: Strategi Menjangkau Generasi Z di tengah Gelombang Revolusi Teknologi
Keberadaan teknologi digital yang semakin maju, massif dan terus berkembang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam hal sosial, budaya, dan spiritual, terutama di kalangan generasi Z. Gelombang digital ini sangat riskan bagi generasi Z terbawa arus negatif konten dari era informasi globalisasi. Apalagi kebutuhan dan karakteristik generasi Z yang sangat terhubung dengan teknologi digital, yang sulit dilepaskan dan cenderung memiliki pola pikir dan preferensi yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi misiologi yang efektif dalam menjangkau dan melibatkan generasi Z di tengah gelombang teknologi. Metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature dipilih dalam penelitian ini untuk membangun keberlanjutan misiologi di era digital memerlukan strategi inovatif untuk menjangkau generasi Z, dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk menyampaikan pesan iman yang relevan dan efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kekristenan harus memahami hakikat misiologi dalam peran Amanat Agung, sehingga adanya transformasi misiologi dalam konteks digital yang sesuai dengan karakteristik generasi Z dan dampaknya terhadap strategi misiologi, sehingga dapat diaktualisasi kekristenan dalam strategi komunikasi digital untuk meningkatkan dampak misiologi. Hal ini suatu keberlanjutan misiologi di era digital memerlukan inovasi dalam strategi komunikasi, serta pemahaman yang mendalam terhadap dinamika teknologi dan perubahan sosial yang terjadi pada generasi Z
Revitalisasi Nilai Pendidikan Kristiani dalam Membentuk Karakter Bangsa di Era Postmodern
Pendidikan Kristen memiliki potensi besar dalam membentuk karakter bangsa, terutama di era postmodern yang ditandai dengan perubahan budaya gtermasuk dalam sosial, dan nilai-nilai kehidupan yang cepat berkembang. Di tengah tantangan zaman yang penuh dengan relativisme dan sekularisme, maupun era individualisme pendidikan Kristen menawarkan landasan moral dan etika yang kokoh untuk membangun pribadi yang berbudi pekerti luhur. Melalui ajaran alkitabiah. Penelitian kualitatif menjadi metode dalam artikel ini yang mengedepankan pendidikan Kristen mengajarkan nilai-nilai universal yang tidak hanya relevan dengan kehidupan spiritual, tetapi juga praktis dalam konteks sosial dan kehidupan sehari-hari. Adapun kesimpulan yang dinyatakan dalam penelitian ini menekankan bahwa pendidikan Kristen juga menghadapi sejumlah tantangan pengaruh budaya global yang cenderung mereduksi nilai-nilai moral dan norma agama. Meskipun demikian, dengan memanfaatkan peran perkembangan teknologi dan paltform media sosial, dalam pendidikan Kristen dapat lebih efektif menjangkau generasi muda dan memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pembentukan karakter bangsa. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan Kristen untuk terus mengadaptasi diri dengan dinamika zaman, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai inti yang mendasari ajaran Kristus dalam membentuk masyarakat yang lebih bermoral dan beradab
Kepemimpinan Kristen dan Tantangan Hedonisme: Membimbing Jemaat Menghindari Perangkap Pinjaman Online
The influence of hedonism and the rise of online loans (pinjol) in this country hurt financial life. Hedonistic attitudes and unhealthy debt habits often encourage individuals to ignore the values of healthy financial management. Although offering easy access, online loans favored by the public usually lead to mounting debt problems. Therefore, Christian leadership, namely pastors and clergy, guides the congregation to avoid this trap and return to sound financial principles to overcome the impact of hedonism and loan sharks on everyday life. Using a descriptive qualitative method, it is concluded that there is an influence of hedonism in the context of modern society, so it is hoped that the role of Christian leadership in guiding congregations to face the temptation of online loans is by applying biblical principles in financial management and solutions to overcome the traps of hedonism and online loans.
Abstrak
Pengaruh hedonisme dan maraknya pinjaman online (pinjol) di negara ini dan tentunya berdampak negatif terhadap kehidupan finansial. Sikap hedon dan kebiasaan utang yang tidak sehat seringkali mendorong individu untuk mengabaikan nilai-nilai pengelolaan keuangan yang sehat. Pinjaman online yang diminati oleh masyarakat, meskipun menawarkan kemudahan akses, seringkali berujung pada masalah utang yang semakin menumpuk. Maka itu dalam kepemimpinan Kristen yaitu gembala dan para rohaniawan sejatinya memiliki peran dalam membimbing jemaat untuk menghindari perangkap ini dan kembali pada prinsip-prinsip keuangan yang sehat. Sehingga dapat mengatasi dampak hedonisme dan pinjol dalam kehidupan sehari-hari. Menggunkan metode kualitatif deskritif maka disimpulkan bahwa adanya pengaruh sikap hedonisme dalam konteks masyarakat modern, maka diharaapkan adanya peran kepemimpinan Kristen dalam membimbing jemaat menghadapi godaan pinjaman online yaitu dengan menerapkan prinsip alkitabiah dalam pengelolaan keuangan dan solusi untuk mengatasi perangkap hedonisme dan pinjaman online
Theopreneurical Leadership: Konstruksi Model Pelayanan Pendeta-Pengusaha Berbasis Pendekatan Teologi Paulus
The problem of pastors who also work as entrepreneurs is a complex issue involving religious, social, and economic aspects. To overcome this problem, a comprehensive approach involving various related parties is needed and supported by clear regulations and strict law enforcement. Theological Entrepreneurship introduces the view that ministers of God can also be entrepreneurs, pursuing activities that involve business strategies to achieve more incredible spiritual and social outcomes. This provides a new perspective on the understanding of God's servants as agents of change who are competitive and able to adapt to the dynamics of modern society. The outline of this study is based on literature sources using the literature study method. Paul's influence in the church's history is evident in his travels and letters, which reflect a spirit of spiritual entrepreneurship. Through his work as a tentmaker or entrepreneur, Paul had more freedom to preach the gospel to the Jewish people. This shows how vital the "bridge of evangelism" is for a gospel preacher. Thus, the link between entrepreneurship and church ministry goes beyond just the concept of Christian ministry; it also includes various other aspects relevant to the church's purpose and vocation.
Dialog dengan yang tak Terlihat: Menguak Pesan Penglihatan Elifas dalam Ayub 4:12-17
This study examines Eliphaz's vision in Job 4:12-17, which has given rise to various interpretations regarding the identity of the spirit that appears. Through textual analysis, it is found that Eliphaz’s message, accusing Job of sin and doubting his righteousness before God, contradicts the depiction of Job as a righteous man in the book’s prologue. Although initial attempts to shake Job’s faith through physical and emotional suffering prove ineffective, Satan’s message of unbelief reappears through the vision Eliphaz recounts, indicating a thematic continuation of skepticism surrounding the authenticity of human righteousness and devotion to God. The study also explores the complexities of the language and theological context surrounding the vision and the implications of the influence of an evil spirit that may have played a role in conveying this misleading message.
Abstrak
Penelitian ini membahas visi Elifas dalam Kitab Ayub 4:12-17, yang menimbulkan berbagai interpretasi mengenai identitas roh yang muncul. Melalui analisis teks, ditemukan bahwa pesan Elifas, yang menuduh Ayub berdosa dan meragukan kebenarannya di hadapan Tuhan, bertentangan dengan penggambaran Ayub sebagai orang benar dalam prolog kitab. Meskipun upaya awal untuk menggoyahkan iman Ayub melalui penderitaan fisik dan emosional terbukti tidak berhasil, pesan ketidakpercayaan Setan muncul kembali melalui penglihatan yang diceritakan Elifas, yang menunjukkan kelanjutan tematik dari skeptisisme seputar keaslian kebenaran manusia dan pengabdian kepada Tuhan. Penelitian ini juga mengeksplorasi kompleksitas bahasa dan konteks teologis yang mengelilingi visi tersebut, serta implikasi dari pengaruh roh jahat yang mungkin berperan dalam penyampaian pesan yang menyesatkan ini.
Memanusiakan Manusia: Konseling Pendidikan Kristiani dalam Mengatasi Sikap Apatis Remaja
The rapid development of technology has become a means for human needs to carry out various activities, and it has even become a place to make money. The use of gadgets, a technology that is so sophisticated and almost owned by every group, makes humans dependent on gadgets. This paper studies how the use of gadgets causes the loss of social interest in adolescents and how its influence causes apathy in adolescents. This research focuses on the use of gadgets by adolescents and their influence on the attitudes and behavior of adolescents in their environment. The aim is to look at the development of adolescents through the progress of today's times and how to react to it so that they remain on the right track and do not deviate from the teachings of the Word of God. The author uses a qualitative method with a literature study approach to review and analyze topics from various sources, such as journals, books, and the Internet, that are relevant to the discussion of writing. The influence of gawais erodes the attitude of respect, and respect affects social interest and becomes apathetic, so a good mentor who can monitor teenagers' activities and self-control from the teenagers themselves so that the wrong dependence on the use of gawais does not carry them away.
Abstrak
Perkembangan teknologi yang begitu pesat menjadi sarana kebutuhan manusia untuk melakukan berbagai aktifitas, bahkan telah menjadi wadah untuk mencari uang. Penggunaan gawai yang adalah bentuk teknologi canggih yang hampir dimiliki setiap kalangan, membuat manusia bergantung pada gawai. Dalam penulisan ini mengkaji bagaimana penggunaan gawai mempengaruhi peranan remaja sebagai manusia yang adalah makhluk sosial, terhadap lingkungan sekitarnya. Penelitian ini berfokus pada penggunaan gawai oleh remaja upaya mengatasi sikap apatis. Tujuannya untuk melihat perkembangan remaja melalui kemajuan zaman saat ini dan bagaimana cara menyikapinya supaya tetap dijalur yang baik dan benar, yang tidak menyimpang dari ajaran Firman Tuhan. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan literatur untuk mengkaji dan menganalisis topik dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, internet yang relevan dengan pembahasan penulisan. Pengaruh gawai mengikis sikap hormat dan respek yang memengaruhi minat sosial dan menjadi apatis, sehingga dibutuhkan mentor yang baik yang dapat memantau aktivitas remaja serta pengendalian diri dari remaja itu sendiri supaya tidak terhanyut pada ketergantungan yang salah pada penggunaan gawai.
Inovasi Pendidikan Kristiani dalam Peran Gereja untuk Meningkatkan Spiritualitas Anak Marginal di Era Kontemporer
There are challenges faced by marginalized children in society, especially in obtaining an education that is not only academic but also leads to the development of spiritual welfare and practical building. As a spiritual institution, the church has a significant role and potential to create Christian education innovations relevant to marginalized children, considering that they are by the teachings of faith that can shape character and strengthen their faith and spirituality. This study aims to provide an understanding and strategy of how the church's role in Christian education innovation can contribute to the spiritual well-being of marginalized children. Using descriptive qualitative methods and a literature study approach, it was found that Christian education is precious for marginalized children. Hence, the church plays a vital role in developing and teaching Christian values ??to them.
Abstrak
Adanya tantangan yang dihadapi oleh anak-anak marginal dalam masyarakat, khususnya dalam memperoleh pendidikan yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga mengarah pada per-kembangan kesejahteraan rohani dan membangun afektif. Gereja sebagai lembaga kerohanian memiliki peran dan potensi besar untuk menciptakan inovasi pendidikan kristiani yang relevan bagi anak-anak marginal, mengingat sesuai dengan ajaran iman yang dapat membentuk karakter dan memperkuat iman dan keroahnian mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman dan strategi bagaimana peran gereja dalam inovasi pendidikan kristiani dapat memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan rohani anak marginal. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan studi pustaka, didapatkan bahwa pendidikan kristiani sangat berharga bagi anak marginal, sehingga gereja berperan penting dalam mengembangkan dan mengajarkan nilai-nilai kristiani bagi mereka
Cinta yang Menebus: Studi Teologis Kitab Hosea sebagai Paradigma Relasi Allah yang Penuh Kasih dan Pemulihan bagi Umat-Nya
The Book of Hosea portrays God's unconditional love amid Israel's unfaithfulness through the metaphor of Hosea's marriage to Gomer. This prophetic message illustrates God's transformative steadfast love (hesed), bringing His people spiritual, moral, and social restoration. In the socio-political context of 8th-century BCE Israel, idolatry, social injustice, and reliance on political alliances reflected severe spiritual decline. However, as revealed in Hosea's eschatological dimensions, God remained committed to restoring the covenant relationship through active and inclusive love. This love surpasses mere forgiveness, offering profound renewal. Hosea's message is highly relevant for today's church as a paradigm for restorative ministry amid modern challenges such as spiritual alienation and community disintegration. Through hesed, the church is called to become an agent of healing for social and spiritual wounds, offering hope and restoration. By adopting the model of God's love in Hosea, the church can reflect God's character in social services, spiritual care, and global mission, responding to the needs of a broken and sinful world
Iman Kristen dalam Membentuk Etika Konsumerisme: Refleksi Teologis terhadap Tanggung Jawab Sosial dan Ekonomi di Era disruptif
Excessive and unwise consumer ethics, which are not based on needs but placing and hedonistic lifestyles, have become rampant and increasingly dominate social and economic life in the modern era. This behavior has created inequality and injustice and ignored spiritual values ??in human life. Consumerism, which focuses on purchasing goods and consumption as an indicator of happiness and prestige more than self-esteem, has had a negative impact that is very different and contradicts the teachings in the Bible about simplicity. This study explores the relevance of Christian teachings in forming more sustainable and responsible consumer ethics. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it was found that the Christian faith is an ethical construction with social and economic responsibility in dealing with consumer behavior.
Abstrak
Etika konsumerisme yang berlebihan dan tidak bijak yang mana disdasari bukan kebutuhan namun plexing dan gaya hidup hedon telah menjadi-jadi dan semakin mendominasi kehidupan sosial dan ekonomi di era modern. Perilaku ini telah menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan, serta mengabaikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan manusia. Konsumerisme yang berfokus pada pembelian barang dan konsumsi sebagai indikator kebahagiaan dan prestise lebih dari harga diri telah membawa dampak negative yang mana hal ini sangat berbeda dan bertentangan dengan ajaran-ajaran dalam Alkitab tentang kesederhanaan. Penelitian ini bertujuan untuk membuka pemahama terkait relevansi ajaran Kristen dalam membentuk Etika Konsumerisme yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka didapatkan bahwa iman Kristen menjadi konstruksi etika yang memiliki tanggung jawab sosial dan ekonomi dalam menghadapi perilaku konsumtif.
 
Eksodus sebagai Paradigma Kebebasan Spiritual: Analisis Kritis Teologi Pembebasan dalam Perjanjian Lama
The transition from Mount Sinai to Mount Zion in biblical tradition highlights the progressive nature of God's plan of salvation, combining justice and grace. Mount Sinai represents establishing a covenantal community by giving the law, while Mount Zion portrays the eschatological reality of peaceful fellowship with God through divine grace. This journey teaches that true freedom involves adherence to justice and moral responsibility values, culminating in divine grace. This transition is relevant as a paradigm for building inclusive, just, and harmonious communities in the modern context. The church is called to integrate the principles of Sinai's justice and Zion's grace in its ministry, creating spaces for inter-community dialogue and promoting social justice. By merging the aspects of law and grace, the church can become an agent of social transformation, reflecting God's character in a world rife with injustice