EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Peran Gereja dalam Meluruskan Pemahaman Tradisi Bedekeh pada Masyarakat Suku Akit di Pulau Rupat
Dalam Alkitab, tercatat ada orang-orang yang sakit akibat roh jahat (Iblis) dan Tuhan Yesus mampu untuk menyembuhkan mereka. Tetapi ditemui pada orang Kristen suku Akit yang masih mempercayai tradisi Bedekeh untuk mengobati penyakit yang dipercaya bersumber dari kekuatan supranatural. Melalui studi literatur dan wawancara, penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor penyebab mereka mempercayai tradisi ini dan menemukan peran dari gereja untuk meluruskan pandangan mereka yang tidak sesuai dengan Alkitab. Didapatkan bahwa orang suku Akit mempercayai tradisi ini karena mitos yang berkembang secara turun temurun, efek samping yang minim dan biaya yang murah; pemahaman jemaat suku Akit terhadap kebenaran Injil pun masih kurang. Gereja harus berperan dalam memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani, yaitu metode kombinasi antara penginjilan melalui kunjungan pribadi lepas pribadi dan permuridan secara formal dan membantu/ mengusahakan jemaat untuk terdaftar pada fasilitas kesehatan dari pemerintah. Dengan pemahaman Injil yang lebih mendalam, iman jemaat suku Akit dapat terus bertumbuh dan meninggalkan budaya lam
Etika Kristen dalam Platform Digital: Upaya Meningkatkan Moralitas dan Karakter Kristiani
In the era of increasingly sophisticated social media and increasingly dominating everyday life, new challenges have emerged in implementing Christian ethics and maintaining morality and character in cyberspace. The background of this study focuses on the negative impacts of social media, such as the spread of hoaxes, hate speech, and cyberbullying, which can erode moral values ??in society. And give rise to flawed characters in the development of Christianity. The research method used is a descriptive qualitative method with a literature study approach, so it can be concluded that Christianity needs to be aware of the influence of social media on Christian values and the existence of Christian ethical principles in interacting on social media. This is due to the challenges and moral dilemmas in cyberspace. Therefore, the role of the church and Christianity is to initiate a movement in the role of the church to improve morality on social media. This contributes to enhancing morality and creating more constructive interactions in cyberspace.
Abstrak
Di era media sosial yang semakin canggih dan semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, muncul tantangan baru dalam menerapkan etika Kristen serta menjaga moralitas dan karakter di dunia maya. Latar belakang penelitian ini berfokus pada dampak negatif dari media sosial, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan cyberbullying, yang dapat mengikis nilai-nilai moral dalam masyarakat. Dan menimbulkan karakter yang tidak baik dalam perkembangan agama Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, sehingga dapat disimpulkan bahwa kekristenan perlu mewaspadai pengaruh media sosial terhadap nilai-nilai kekristenan, dan juga adanya prinsip-prinsip etika kekristenan dalam berinteraksi di media sosial. Hal ini dikarenakan adanya isu tantangan dan dilema moral di dunia maya. Oleh karena itu, peran gereja dan kekristenan adalah menginisiasi sebuah gerakan dalam peran gereja untuk meningkatkan moralitas di media sosial. Hal ini berkontribusi pada peningkatan moralitas dan menciptakan interaksi yang lebih konstruktif di dunia maya.
Feminisme Kristen bagi Komunitas Perempuan Inklusif: Sebuah Kontribusi Elizabeth Schüssler Fiorenza terhadap Etika Solidaritas
Elizabeth Schüssler Fiorenza offers a new paradigm in feminist theology through the concepts of kyriarchy and ekkl?sia of wo/men, which serve as critiques of patriarchal domination within the church and society. This study addresses the relevance of Fiorenza's thoughts in deconstructing the patriarchal structures embedded in Indonesian churches, which often perpetuate gender-based discrimination and hinder women's full participation in religious and social life. This research employs a qualitative approach with a literature review method to analyze Fiorenza's works and their relevance within Indonesia's social, cultural, and religious contexts. The findings reveal that Fiorenza's feminist hermeneutics can serve as a tool for ecclesiastical transformation by reinterpreting biblical texts in a more inclusive and relevant manner. The concept of ekkl?sia of wo/men provides a model for an egalitarian faith community, enabling churches to create inclusive spaces for women. Inclusive solidarity ethics offers concrete steps for Indonesian churches to act as agents of social change, responding to the challenges of gender injustice. This study underscores the importance of church reform rooted in the principles of justice and inclusion
Menyemai Harmoni dalam Perbedaan: Spiritualitas Pentakostal sebagai Solusi Atas Polarisasi
Religious polarization in Indonesia presents a significant challenge in maintaining social harmony amidst cultural and religious diversity. This polarization is often triggered by doctrinal exclusivism, the politicization of religion, and the lack of interfaith dialogue. This study explores the contribution of Pentecostal spirituality, particularly through the concept of hospitality, as a solution to mitigate polarization. Using a qualitative descriptive approach, the research analyzes literature on the theology of religions, Pentecostal spirituality, and social dynamics related to religious conflicts. The analysis reveals that Pentecostal spirituality, centered on the role of the Holy Spirit as the source of love and acceptance, offers an inclusive approach that fosters equitable interfaith dialogue. The proposed theological model based on Pentecostal hospitality includes interfaith education, community strengthening through acts of love, inclusive doctrinal reinterpretation, and the creation of safe spaces for dialogue. This model is not only theoretically relevant but also practically applicable in pluralistic Indonesian society. With proper implementation, it has the potential to enhance social cohesion and provide a strategic solution for fostering sustainable interfaith harmony
Penggembalaan Efektif Digital Natives dalam Transformasi Budaya Teknologi Society 5.0
Budaya teknologi di era Society 5.0 menimbulkan efek negatif bagi anggota Tubuh Kristus, khususnya Digital Natives. Jika hal ini dibiarkan, maka Gereja akan kehilangan jiwa-jiwa yang berpotensi. Penelitian ini ditujukan supaya para gembala dapat menggembalakan dengan lebih relevan dan menjadikan mereka agen perubahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menyelidiki karakteristik dan fenomena sosial. Data dikumpulkan melalui tinjauan pustaka untuk memberikan landasan teori dalam memecahkan masalah penggembalaan terhadap Digital natives di era Society 5.0. Hasil penelitian ini menghasilkan beberapa strategi efektif dalam membimbing generasi digital. Penelitian ini mengeksplorasi strategi penggembalaan yang relevan serta mendorong partisipasi aktif Digital natives dalam transformasi budaya teknologi. Implementasi nilai-nilai kebenaran Kristen dalam konten dan penggunaan berbagai platform digital seperti media sosial, blog, dan podcast menjadi kunci untuk menjaga relevansi gereja. Dengan demikian, gereja dapat memberikan dukungan dan pemulihan melalui ruang digital, menciptakan generasi terang di tengah dunia modern
Konsep Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dan Implementasinya bagi Pendidikan Kristiani
The educational trilogy of Ki Hajar Dewantara has made a significant contribution to the development of education in Indonesia. The purpose of this study is to identify how the concept of Ki Hajar Dewantara's leadership trilogy is implemented in the context of Christian education. In facing the changing times in the current era of globalization, it is important for educators to re-understand the concept of education in the educational trilogy. This trilogy consists of three things, namely: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. By applying qualitative descriptive methods and literature approaches, it can be concluded that the application of the concept of the educational trilogy in Christian education will support teachers in playing their roles well, both as good examples, facilitators, and motivators for students.
Abstrak
Trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara telah memberikan sumbangan besar bagi pendidikan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat konsep trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara diimplementasikan dalam konteks pendidikan Kristen. Dalam menghadapi perubahan zaman di era globalisasi saat ini, penting bagi pendidik untuk kembali memahami konsep pendidikan dalam Trilogi pendidikan. Trilogi ini terdiri dari tiga hal, yaitu: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Dengan menerapkan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan literatur, dapat disimpulkan bahwa penerapan konsep trilogi pendidikan pada pendidikan Kristen akan mendukung guru dalam memainkan peran mereka dengan baik, baik sebagai contoh yang baik, fasilitator, maupun motivator bagi siswa.
Menghadapi Ajaran Sesat di Era Digital: Perspektif Teologi Kristen dan Strategi Pendidikan Iman untuk Menghadapi Konsekuensi Digitalisasi
The rapid development of the world of digital technology within the scope of the internet and the industrial era 4.0 in recent decades has had a significant impact on the spiritual life of Christianity. One of the most striking impacts is the spread of heresies through digital platforms that are increasingly widespread and easily accessible. However, some teachings differ from Christian teachings, often spread through social media and quickly reach a universal audience. This situation poses a significant challenge for churches and Christians in maintaining the truth of doctrine and faith. This study aims to analyze the phenomenon of the spread of heresies in the digital era and examine the perspective of Christian theology on how to overcome this. And also the role of the church and Christianity in formulating effective faith education strategies in facing the challenges of digitalization. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the phenomenon of the spread of heretical teachings in the digital era needs to be anticipated by understanding the perspective of Christian theology on heretical teachings and digital misdirection. So, Christianity raises the importance of Faith Education Strategies in Facing the Challenges of Digitalisation. This is so that Christianity can assist people to be more critical of the teachings circulating in cyberspace.
Abstrak
Perkembangan pesat dunia teknologi digital dalam lingkup internet dan era industri 4.0 dalam beberapa dekade terakhir telah membawa dampak signifikan terhadap kehidupan spiritualitas kekristenan. Salah satu dampak yang paling mencolok adalah penyebaran ajaran sesat melalui platform digital yang semakin luas dan mudah diakses. Namuna ada ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Kristen yang seringkali tersebar melalui media sosial yang menjangkau audiens secara universal dalam waktu singkat. Keadaan ini menimbulkan tantangan besar bagi gereja dan umat Kristen dalam menjaga kebenaran doktrin ajaran dan iman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena penyebaran ajaran sesat di era digital dan mengkaji perspektif teologi Kristen mengenai cara menanggulangi hal tersebut. Dan juga peran gereja dan kekristenan dalam merumuskan strategi pendidikan iman yang efektif dalam menghadapi tantangan digitalisasi. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa adanya fenomena Penyebaran Ajaran Sesat di Era Digital perlu diwaspadahi dengan memberikan pemahaman terkait perspektif Teologi Kristen terhadap Ajaran Sesat dan Penyesatan Digital. Sehingga kekristenan memunculkan pentingnya Strategi Pendidikan Iman dalam Menghadapi Tantangan Digitalisasi. Ini dimaksud supaya kekristenan dapat mendampingi umat agar lebih kritis terhadap ajaran yang beredar di dunia maya.
Sikap Karyawan BUMN Kristen terhadap Pekerja Rumah Tangga: Sebuah Refleksi Imamat 19:13
Pekerja Rumah Tangga (PRT) adalah salah satu pekerjaan yang jasanya sangat diperlukan oleh masyarakat, termasuk karyawan Kristen. Meningkatnya kesejahteraan dan tingginya mobilitas masyarakat membuat PRT sangat dibutuhkan. PRT meskipun sangat dibutuhkan jasanya namun belum memiliki perlindungan hukum yang cukup sehingga sering menjadi korban dan dirugikan oleh pengguna jasanya. Sekalipun belum ada perlindungan hukum, seharusnya Karyawan Kristen menerapkan tuntunan Firman Tuhan, terutama Imamat 19:13 dalam memperlakukan PRT.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap karyawan Kristen terhadap PRT sesuai Imamat 19:13.  Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif berbentuk survey dan studi literatur. Subjek penelitian ini adalah karyawan dalam sebuah BUMN yang berjumlah 24 orang. Hasil penelitian yang didapat sebagai berikut: (1) Karyawan Kristen selaku pengguna PRT belum memiliki perjanjian kerja tertulis dengan PRT. (2) Karyawan Kristen belum memberikan upah yang layak  (3) Karyawan Kristen memperhatikan kesejahteraan keluarga PRT (4) Karyawan Kristen belum memberikan fasilitas Kesehatan PRT. (5) Karyawan Kristen memiliki sikap yang ramah terhadap PRT (6) Sebagian Karyawan Kristen sudah mau berbagi injil dengan PRT Â
Spiritualitas Postmodern yang Diversitas: Sebuah Pembacaan City of God Karya Agustinus
Human life throughout history has never been devoid of spiritual struggles, even in the current postmodern era. The postmodern era is characterized by its recognition of diverse perspectives. The very nature of this diversity makes the postmodern era inherently relative and subjective. Consequently, the postmodern era is seen as a challenge to Christianity, which emphasizes final and absolute truth. This article aims to bridge the gap between postmodernism with its diversity and Christianity with its Christian spirituality that respects various sacred authorities. The experiences of Augustine, who, on one hand, affirmed various beliefs of his time while remaining rooted in the foundational teachings of early Christianity, serve as a significant spiritual model in the postmodern era. Specifically, Augustine's work, "City of God," is employed. Using hermeneutical methods, the researcher reexamines Augustine's spirituality and attempts to implement it as a model of postmodern spirituality. The ultimate thesis of this research is that "City of God" generates a dual spirituality, one that embraces diversity while also remaining firmly rooted in its faith tradition
Ketika Mendidik Anak dengan Kekerasan Tak Lagi Efektif: Meninjau Kembali Teks-teks Corporal Punishment pada Anak dalam Kitab Amsal Menggunakan Lensa Psikologis dalam Konseling Pastoral
Children are in the most vulnerable position to experience injustice, neglect, suffering, and violence. Corporal punishment is a form of physical discipline, such as whipping or hitting, considered acceptable as a punishment for transgressions. Many religious figures, parents, and teachers justify this form of discipline, viewing it as a right of authority, sanctioned by the Book of Proverbs. Certain verses in the Book of Proverbs (e.g., Prov. 10:13; 13:24; 14:3; 23:13-14; 26:3) appear to legitimize education through violence on children. This stance appears to contradict research findings over the decades, stating that physical punishment yields more harm than good. This article attempts to revisit the verses on child violence in the Book of Proverbs using a psychological lens in pastoral counseling studies. Employing inductive reasoning and hermeneutics, it will be shown that corporal punishment verses in the Book of Proverbs fundamentally have a cultural context of their time and should be approached with caution in contemporary application. This is also due to psychological studies indicating that violence towards children, possibly intended as a form of education, leads to negative effects on their psychological development. Thus, the research thesis statement is that texts on child violence in the Book of Proverbs, when viewed through a psychological lens in pastoral counseling, necessitate a reevaluation of how parents educate children without violence.Â