EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Pembentukan Citra Diri Remaja Kristen Melalui Pendidikan Kristiani
The adolescent period is a critical phase in an individual's self-image development, signifying not only a transition from childhood to adolescence. Self-image encompasses one's self-perception and evaluation, wielding influence over various facets of life, including behavior, emotional well-being, and social interactions. Factors like parental upbringing, peer relationships, and educational guidance contribute significantly to the formation of adolescent self-image. This research investigates the impact of Christian religious education on the shaping of self-image in Christian adolescents, utilizing a qualitative descriptive approach. The results highlight the pivotal role of Christian religious education, emphasizing instructional materials focused on Christology, Christian anthropology, and soteriology in molding adolescent self-image. The implications of these findings provide valuable guidance and recommendations for Christian educators, churches, and communities to develop more effective and comprehensive religious education programs. These programs will assist Christian adolescents in cultivating a robust and positive self-image firmly rooted in their faith
Spiritualitas Inkarnatif Gereja Berbasiskan Semangat Multikulturalisme: Sebuah Kajian Femenologis dari Sudut Pandang Antropologis-Teologis
Artikel ini berfokus pada kajian tentang pembentukan Gereja Indonesia yang semakin inkarnatif berbasiskan semangat multikuturalisme. Model kajiannya dikerjakan dengan menggunakan metode fenomenologis dari sudut pandang antropologis-teologis. Dari kajian ini, saya menemukan bahwa inkarnasi Kristus sebagai manusia sebenarnya memiliki pengaruh budaya, di mana ia dibentuk dan turut serta membentuk serta mentransformasikan budaya lewat nilai-nilai keselamatan yang dibawanya kepada masyarakat di mana ia hidup dalam sejarah. Pembentukan Gereja inkarnatif di Indonesia terinspirasi dari peristiwa Inkarnasi Kristus Sendiri, di mana Gereja sebagai anggota Kristus sekaligus tetap memposisikan kehadiran dirinya sebagai anggota dari suatu budaya dan ia mewartakan Kristus itu pula lewat bahasa budaya yang berbeda beda dari anggota-anggotanya. Model kehadiran Gereja semacam tadi akan memberikan dampak moral, spiritual, dan politik, di mana nilai-nilai kultural dari berbagai kelompok di negara Indonesia akan diakui secara setara. pengakuan akan kesetaraan ini bertujuan untuk mengurangi tindakan radikal dan diskrimatif, yang kerap terjadi di Indonesia terhadap subkultural-subkultural minoritas. Tindakan diskrimatif yang berujung pada kekerasan telah menghancurkan martabat mereka sebagai manusia dan sebagai anak-anak Allah. Dengan menawarkan semangat humanisasi dan divinisasi yang dibawa oleh Kristus dalam inkarnasi, diharapakan dapat pula meningkatkan nilai harkat dan martabat manusia Indonesia di masa kini dan di masa yang akan datang.Â
Peluang Perkawinan Transpuan Protestan melalui Inklusivitas Pemaknaan Hukum Kasih
Kasih adalah ajaran utama dalam Kekristenan. Namun, ketika ajaran utama Kekristenan tersebut diperhadapkan pada hak-hak kelompok minoritas seksual, khususnya transpuan, beragam permasalahan mulai timbul. Akibat perbedaan interpretasi, kasih tak lagi bersifat inklusif kepada “sesamamu manusiaâ€. Agama justru menjadi hambatan terbesar terhadap penerimaan pada ketubuhan dan seksualitas kelompok transpuan. Tafsir atas teks-teks Alkitab menghakimi keberadaan tubuh, seksualitas, dan ekspresi mereka yang cair. Kerasnya permintaan pada pengakuan dan persamaan hak --termasuk legalisasi perkawinan, dituding sebagai tindakan yang “sesat†dan penyebab terjadinya bencana sebagaimana negeri Sodom yang dilenyapkan Allah. Melalui studi literatur, penelitian ini hendak melihat bagaimana Gereja selama ini memaknai Kasih untuk melihat tubuh dan seksualitas transpuan. Lalu, melalui pemaknaan yang inklusi terhadap Kasih, apakah ada jalan bagi para transpuan untuk memenuhi kebutuhan kemitraan mereka hingga pada jenjang perkawinan? Dengan metode fenomenologi yang berperspektif feminis penelitian ini menemukan empat hal. Pertama, sejumlah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang tak memiliki perspektif gender adalah penelitian yang bias dan diskriminatif terhadap kelompok minoritas seksual, khususnya transpuan. Kedua, penelitian yang tidak sensitif gender tersebut cenderung menggolongkan perkawinan transpuan sebagai perkawinan sesama jenis (same-sex marriage). Ketiga, Gereja dan pendeta jamak memakai tafsir heteronormatif yang menekankan bahwa perkawinan hanya diperkenankan Allah terjadi di antara laki-laki dan perempuan cis-gender. Dan keempat, pesan “kasihilah sesamamu manusia†yang selama ini dipakai Gereja dan adalah “kasihilah sesamamu manusia†yang mengecualikan kelompok minoritas, khususnya kelompok transpuan
Kekhawatiran dalam Perspektif Teologis, Psikologis, dan Pendidikan Kristiani: Sebuah Tafsir Matius 6:25-34 Interdisipliner
Worry is a common feeling that nearly every individual has faced throughout human history. Psychological research has generally shown that worry has a negative impact on both the mental and physical well-being of individuals. There is an implicit call in the belief that humans should not excessively worry about their lives, as found in the text of Matthew 6:25-34. This research seeks to reexamine worry through an interdisciplinary approach, involving its psychological aspects. The Gospel of Matthew is approached through hermeneutic analysis while simultaneously considering its psychological facets, which is referred to as 'interdisciplinary interpretation.' The culmination of this interdisciplinary meeting results in the thesis statement that the text of Matthew 6:25-34, when interpreted through an interdisciplinary lens, teaches that worry, though common to human experience, can be managed and overcome. This interpretive finding subsequently provides a proposal for the development of a Christian pastoral counseling approach to assist individuals in managing their worries.Â
Pengalaman Kepenuhan Roh Kudus dalam Perspektif Epistemologi Pentakostalisme
The experience of the fullness of the Holy Spirit by speaking in tongues and its implementation in spiritual life activities is a matter of debate to this day. The pneumatological epistemology of Pentecostalism would be able to answer the need for dogmatic understanding in building a theological epistemology that changes every person in their life activities. The purpose of this paper is a biblical study of the fullness of the Holy Spirit explicitly speaking in tongues which will provide a philosophical and theological foundation in the Pentecostal epistemology perspective. The research method used was descriptive qualitative. The research results show that the experience of the fullness of the Holy Spirit in the Pentecostal tradition is considered a real manifestation of the divine presence. Participants in this study reported transformative experiences that included spiritual ecstasy, increased spiritual awareness, and receipt of spiritual gifts. Additionally, these experiences also influence their understanding of religious truth and lead to a deeper commitment to active religious practice. The epistemological perspective of Pentecostalism recognizes that religious knowledge is not only cognitive but also comes from deep spiritual experience. The experience of the fullness of the Holy Spirit is considered a valid source of knowledge and has the same authority as academic theology. Therefore, spiritual experience is the main basis for forming the beliefs and worldview of Pentecostal believers
Model Rekonsiliasi Kultural dan Teologis Ritus “Pihe Ihi†Kabupaten Sabu Raijua
Tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah: 1). Untuk mengetahlui bagaimana proses ritus“pihi ihi“ sebagai model rekonsiliasi kultural dan teologis dalam kaitan dengan pelecehan seksual dan kekerasan fisik di Desa Ballu Kecamatan Raijua Kabupaten Sabu Raijua Propinsi Nusa Tenggara Timur; 2). Untuk mengetahui makna yang tekandung dalam Ritual “Pihi ihi†bagi orang Sabu. 3). Untuk mengetahui pandangan teologis Kristen terhadap model rekonsiliasi budaya “pihe ihi†bagi Orang Sabu. Penulisan ini menggunakan Metode Penelitian deskriptif Kualitatif dengan jumlah informan sebanyak 5 orang untuk mewakili reprentasi dari masyarakat Desa Ballu Kecamatan Raijua.Hasil Penelitian bahwa ritus rekonsiliasi Kultural (ritus pihe ihi  )dan rekonsiliasi Teologis sama-sama ada korban dalam mencapai sebuah perdamaian namun dengan korban yang berbeda. Dalam rekonsiliasi kultural yang menjadi korban adalah hewan sedangkan dalam rekonsiliasi teologis yang menjadi korban adalah Yesus Kristus sendiri sebagai korban perdamaian tersebut. Sehingga model rekonsiliasi budaya dapat dipakai sebagai kontekstualisasi dari rekonsliliasi teologis. Sehingga bukan hanya dalam teologi yang memiliki rekonsiliasi tetapi budaya juga memiliki model rekonsiliasinya sendiri. Kedua rekonsiliasi di aatasl juga sama-sama memiliki tujuan yang sama yaitu akhir damai dari sebuah konfli
Memandang Wajah Orang Lain: Memahami Etika Paulus dalam Roma 12:9-21 Melalui Filsafat Tanggung Jawab Levinas
Konflik atau perselisihan dalam kehidupan manusia adalah hal yang tidak dapat terhindarkan, seringkali dalam perjumpaan dengan yang lain menjadi sebuah ancaman. Relasi antara manusia harus di rawat, khususnya dalam konteks Kekristenan, relasi itu dapat dinampakkan dalam sebuah sikap, atau etika untuk saling mengasihi dengan yang lain. Namun seringkali manusia hanya ingin mengasihi dengan maksud dan tujuan lainnya dalam arti kasih yang tidak tulus. Kasih merupakan sebuah hal yang harus di pahami serta direfleksikan dengan benar sebagai sebuah identitas orang yang percaya kepada Kristus. Artikel ini bertujuan untuk membaca etika yang dimaksudkan Paulus dalam Rom. 12:9-21 melalui etika tanggung jawab Emmanuel Levinas, karena kasih dan tanggung jawaba terhadap yang lain adalah sebuah hal yang penting untuk menjaga relasi yang baik dengan yang lain
Yohanes Pembaptis dan Fenomena Post-Truth di Era Digital: Sebuah Kajian Lukas 3:19-20
Pembacaan Lukas 3:19-20 tidak banyak menjadi perhatian karena terhenti pada pemahaman sebagai pemisah antara pelayanan Yohanes Pembaptis dan misi Yesus. Artikel ini berisi kajian kritik teks dan sosio-historis yang berupaya memunculkan sisi yang terpinggirkan ketika membaca Lukas 3:19-20, yaitu Lukas yang mengungkapkan pertarungan jatidiri antara Herodes dan Yohanes Pembaptis sebagai landasan penting dalam kehidupan beriman komunitas Lukas. Melalui kajian ini akan didapatkan pemahaman bahwa Lukas 3:19-20 adalah sebuah penegasan jatidiri bagi komunitas Lukas mengenai perilaku kehidupan yang harus dipelihara dalam kehidupan beriman maupun bermasyarakat yaitu menampilkan jati diri yang berintegritas, berhati Nurani dan konsisten, dalam praktiknya menolak bungkam terhadap praktik kejahatan
Memaksimalkan Peran Gereja Menghadapi Masalah Etis dan Ketidakadilan dalam Bisnis
Business people have faced problems since decades ago, and even today, it is an injustice. Business people also face a corrupt bureaucracy that will lead to ethical problems that lead to compromise rather than negotiation. This article finds that the ethical problems faced by business people in the GKI congregation in R city are issues of injustice and dishonesty related to tax issues. Business people get solutions and sources of referrals from outside the church, namely from conscience, association with business partners, and the teachings of the golden rule, which cannot be said to be the absolute property of Christianity because these teachings are also found in the Confucian religion. Only the concept of “the fear of the LORD†was a participant's only reference. The GKI Church, especially the GKI in R city, needs to maximize its role in order to be able to equip the businessmen of its church members to run their businesses properly and responsibly.AbstrakMasalah yang dihadapi oleh pebisnis sejak puluhan tahun lalu, bahkan juga masih dirasakan saat ini adalah ketidakadilan. Pebisnis juga menghadapi birokrasi yang koruptif yang akan memunculkan masalah etis yang berujung pada sikap kompromi daripada negosiasi. Artikel ini menemukan bahwa persoalan etis yang dihadapi pebisnis di jemaat GKI di kota R, adalah persoalan ketidakadilan dan ketidakjujuran berkaitan dengan masalah pajak. Para pebisnis mendapat solusi dan sumber rujukan dari luar gereja, yakni dari hati nurani, pergaulan dengan rekan bisnis, dan ajaran kaidah emas yang tidak bisa dikatakan milik mutlak Kekristenan, karena ajaran ini juga terdapat dalam agama Kong Hu Cu. Hanya konsep â€takut akan Tuhan†yang menjadi satu-satunya rujukan yang dimiliki oleh seorang partisipan. Gereja GKI, khususnya GKI di kota R perlu memaksimalkan perannya supaya mampu membekali pebisnis anggota gerejanya untuk menjalankan bisnisnya dengan baik dan bertanggung-jawab
Menuju Teologi Sungai: Kajian Ekoteologi terhadap Pencemaran Sungai Sa’dan di Toraja
Humans and all creatures need rivers as a source of life and prosperity. However, many rivers have been polluted, such as the Sa'dan river. This paper aims to rediscover Christians' vocation in viewing and preserving rivers that focus on God. By using the theory of Theocentrism and To Sangserekan mythology in treating the river as a sangserekan that needs to be guarded and maintained. The author uses a descriptive qualitative method to achieve this goal with the help of field studies and literature. Field studies through open interviews with respondents have been determined according to the needs of the instrument and literature study using the perspective of Theocentrism and To Sangserekan mythology which emphasizes that humans and rivers are both created. The results of the study said that the causes of the pollution of the Sa'dan river were: (1) there was a mistake in understanding the river, which had no connection with the issue of Christian faith; (2) an environmentally unfriendly lifestyle has become a habit that continues to be forced; (3) the lack of sermons on environmental issues, especially rivers. For this reason, a theological response is needed to answer the problem of pollution of the Sa'dan river, namely towards river theology.AbstrakManusia dan seluruh mahluk memerlukan sungai sebagai sumber kehidupan dan kesejahteraan. Namun banyak sungai yang sudah tercemar, seperti sungai Sa’dan. Tujuan tulisan ini adalah menemukan kembali panggilan umat Kristen dalam memandang dan melestarikan sungai yang berfokus kepada Allah. Dengan menggunakan teori Teosentrisme dan mitologi To Sangserekan dalam memperlakukan sungai sebagai sangserekan yang perlu dijaga dan dipelihara. Metode yang penulis gunakan untuk mencapai tujuan tersebut ialah metode kualitatif deskriptif dengan bantuan studi lapangan dan kepustakaan. Studi lapangan dilaksanakan melalui wawancara terbuka kepada responden yang telah ditentukan sesuai kebutuhan instrument dan studi kepustakaan berfokus kepada prinsip-prinsip dalam ekoteologi yang terkait dengan pelestarian sungai. Hasil penelitian mengatakan bahwa penyebab pencemaran sungai Sa’dan, ialah: (1) adanya kekeliruan dalam memahami sungai yang tidak memiliki kaitan dengan persoalan iman kristen; (2) gaya hidup tidak ramah lingkungan sudah menjadi kebiasaan yang terus dipaksakan; (3) minimnya khotbah-khotbah mengenai isu lingkungan khususnya sungai. Untuk itu, perlu sebuah respons teologis untuk menjawab masalah pencemaran sungai Sa’dan yaitu menuju teologi sungai