335,946 research outputs found

    PENGARUH PEMUPUKAN N DAN P TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN KADAR PIPERIN TANAMAN KAMANDRAH

    Get PDF
    Kamandrah (Croton tiglium) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida, terutama bijinya. Untuk mendapatkan dosis pupuk N dan P optimal pada tanaman kamandrah, telah dilakukan penelitian sejak April 2008 sampai April 2009 di Tamianglayang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Bahan yang digunakan adalah benih kamandrah yang ditanam dengan jarak 3 m x 3 m. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang sapi (satu kilogram pohon-1 untuk seluruh perlakuan), N (Urea), P (SP-36), dan K (KCl). Dosis K adalah 25 kg KCl ha-1 untuk seluruh perlakuan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok sembilan perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari (a) 50 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (b) 75 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (c) 100 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (d) 75 kg Urea + 125 kg SP-36 ha-1; (e) 75 kg Urea + 100 kg SP-36 ha-1; (f) 75 kg Urea + 75 kg SP-36 ha-1; (g) 125 kg SP-36 ha-1; (h) 75 kg Urea ha-1; dan (i) kontrol. Parameter yang diamati, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, jumlah tandan bunga, hasil buah pohon-1, kadar minyak, dan kadar bahan aktif (piperine). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 75 kg Urea + 125 kg SP-36 adalah yang terbaik, didapatkan produksi berat basah pada tahun pertama sebesar 1.133,33 g enam tanaman-1 atau 188,88 g tanaman-1. Rendemen tertinggi dihasilkan pada perlakuan 75 kg Urea + 100 kg SP-36 yaitu 13,10%, sedangkan kadar piperin tertinggi pada perlakuan 75 kg Urea yaitu 0,0693%

    Dan D. Rogers Hall

    No full text
    M E Sadler inspecting the exterior Dan D. Rogers Hall as it is nearly completed365px x 451p

    ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AAPTAMINOID DARI Aaptos aaptos DAN POTENSI PEMANFAATANNYA UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Vibrio harveyi

    Get PDF
    Sponge Aaptos aaptos diketahui mengandung senyawa turunan aaptaminoid yang dapat digunakan sebagai sumber antibakterial alami tanpa efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa bioaktif dari ekstrak butanol Aaptos aaptos yang efektif menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi dan mengevaluasi kemampuan senyawa bioaktif dalam pencegahan infeksi V. harveyi. Ekstraksi metabolit sekunder menggunakan metode maserasi, sementara isolasi dan identifikasi senyawa aaptaminoid dengan metode kolom kromatografi dan spektroskopi. Uji aktivitas antibakterial menggunakan metode difusi agar dengan paper disc. Evaluasi kemampuan senyawa aktif dalam pencegahan vibriosis menggunakan metode eksperimental dengan empat perlakuan dengan masing-masing perlakuan menggunakan hewan uji Litopenaeus vannamei sebanyak 10 ekor/akuarium. Dosis senyawa aktif yang digunakan yaitu; A) 0 µg/g berat badan (bb); B) 0,67 µg/g bb; C) 25 µg/g bb; dan D) 50 µg/g bb. Penyuntikan 100 µL senyawa aktif pada masing-masing dosis tersebut dilakukan pada awal penelitian dan setelah 14 hari pemeliharaan, udang diuji tantang dengan V. harveyi pada kepadatan 107 CFU/mL Pemeliharaan udang dilanjutkan selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan morfologi udang berupa telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda memerah sebagai tanda-tanda udang terinfeksi mulai diamati pada 23 jam pasca penginfeksian. Udang pada perlakuan C dan D mulai pulih dari infeksi pada hari keempat yang ditandai oleh telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda yang normal. Selain itu, perlakuan D juga menunjukkan nilai sintasan udang tertinggi (50%), sementara perlakuan C memberikan sintasan sebesar 25%. Sebaliknya pada perlakuan B dan A (kontrol) udang sudah mengalami kematian 100% sebelum 24 jam pasca penginfeksian. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa senyawa aaptaminoid pada dosis e” 25 µg/g bb dapat dikembangkan sebagai sumber alternatif untuk pencegahan vibriosis.Aaptos aaptos contains aaptaminoid widely known as a natural antibacterial without any side effect. This recent research aimed to extract bioactive compounds from butanol extract of Aaptos aaptos and determined its efficacy to inhibit the growth and prevent the infection of Vibrio harveyi. The extraction of secondary metabolites used maceration method, while isolation and identification of aaptaminoid used column chromatography and spectroscopy methods. The antibacterial test against V. harveyi used agar diffusion method using paper disc. The evaluation of the active compound during the vibrio challenge test used an experimental method with four treatments. Each treatment used whiteleg shrimp, Litopenaeus vannamei of 10 ind./aquarium. Dosages of the active compound used were A) 0 µg/g bb, B) 0.67 µg/g bb, C) 25 µg/g bb, and D) 50 µg/g bb. The injection of 100 µL of each bioactive compound was carried out at the initial experiment and on day 14 after challenged with V. harveyi at the density of 107 CFU/mL. The shrimps was reared for an additional seven days. The findings showed that the infection on shrimps started on 23 hours post-injection of V. harveyi indicated by the reddish color of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The shrimps in treatment C and D were able to recover from the infection started on the day-4 post-infection exhibited by the back to the normal condition of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The highest survival rate post-infection was obtained by shrimp in treatment D (50%) followed by treatment C (25 %). In turn, shrimps on treatment A and B had 100% mortality within 24 hours post-infection. This research concludes that aaptaminoid can be developed as an antibacterial agent for vibriosis prevention with an optimal dosage of e” 25 µg/g bb

    RESPON RAMI TERHADAP DOSIS DAN APLIKASI PUPUK MIKRO DAN DOLOMIT DI LAHAN GAMBUT KALIMANTAN TENGAH

    No full text
    Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Instalasi Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Karangploso, Malang pada bulan September 1998 sampai dengan Agustus 1999. Tujuan dai penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk dai unsur hara mikro, dolomit dan waktu pembeian terhadap petumbuhan dan hasil serat rami pada tanah gambut Berengbengkel Kalimantan Tengah. Perlakuan disusun secara faklorial dalam ancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Faktor I berupa paket dosis pupuk yang terdii atas lima dosis yaitu d,. 30 g dolomit per pot ; d2. 50 mg CuSO, ♦ 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 + 30 g dolomit per pot ; dj. : 100 mg CuS04 + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnS04 + 30 g dolomit per pot ; <U 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 + 15 g dolomit per pot; dan d, TOO mg CuS04 + 100 mg ZnSO, + 100 mg MnS04 + 15 g dolomit per pot. Faktor II berupa tiga waktu pemberian pupuk mikro yang terdii atas tiga taraf yaitu w, : dibeikan setiap habis di panen (setiap umur 60 hari sekali tanaman rami dipanen , dipotong pada pangkal batang); w2: dibeikan setiap dua kali dipanen ; dan wj: dibeikan setiap tiga kali dipanen. Klon rami yang ditanam adalah Pujon 10. Panjang stek rhizome yang ditanam 8 cm. Tanah gambut, dolomit dan pupuk kandang dicampur secara merata. Pot-pot plastik wana hitam diisi campuran media tersebut dengan takaran sebanyak 20 kg/pot. Pot-pot ini merupkan unit percobaan. Pot-pot diletakan dengan jarak 75 cm x.40 cm. Pupuk dasar (1.5 g urea + 1.0 g ZA + 1.0 g SP-36 + 1.0 g KCI)/pot/panen + 100 g pupuk kandang (kotoran kambingj'pot'tahun Pupuk kandang dan dolomit diberikan hanya sekali saja pada permulaan tanam Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil serat kasar (china-grass) tertinggi diperoleh dari total panenan II, III dan IV sebesar 8.62 g/pot yang dihasilkan dai perlakuan 100 mg CuS04 + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnS04 /pot dan 30 g dolomit dengan pembeian pupuk setiap kali dipanen.Kata kunci: Lahan gambut, dolomit, rami (Boehmeria nivea) ABSTRACT Response of ramie to the dose and application of micro element and dolomite in peat soil Central KalimantanThe experiment was conducted at the glass house of Ihe Research Institute For Tobacco and Fiber Crops, Karangploso, Malang from September 1998 to August 1999. The purpose of this expeiment was to ind out the dose of micro element, dolomite and time of application of fertilizer on the growth and iber yield of ramie in peat soil of Berengbengkel, Central Kalimantan Province. The treatment was arranged factoially in a completely randomized design with three replications. The irst factor was ive kind of fetilizers d|. : 30 g dolomite per pot ; di. 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 * 30 g dolomite per pot; dj. : 100 mg CuSO< + 100 mg ZnSO. * 100 mg MnS04 * 30 g dolomite per pot ; <U 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS041 50 mg MnS04 + 15 g dolomite per pot; and d5 MOO mg CuS04 ♦ 100 mg ZnS04 * 100 mg MnS04 + 1J g dolomite per pot. The second factor was time of fetilizer application Wj : every harvesting ; w2 : every two times of harvesting , and wj : every three times of harvesting. The rhizome of ramie wilh 8 cm length size was used in this experiment. Black plastic pots were illed with 20 kg peat soil. These pots were the experiment unil. The peat soil, dolomite and farm manure were mixed evenly. The pots were arranged in a space 75 cm x 40 cm Basic fetilizer was 1.5 g urea * 1.0 g ZA + 1.0 g SP-36 • 1.0 g KCI) potliarvcsling ♦ 100 g farm manure pot/year. Dolomite and farm manure were applied at earl) planting. The result showed that the highest tolal fiber yield of harvest II, III and IV 8 62 g/pot was achieved by applying 100 mg CuSO< + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnSO*/ pot/harvesting and 30 g dolomite/pot/year.Key words : Ramie, Boehmeria nivea, peat soil, dolomit

    INDUKSI KALUS DAN REGENERASI DUA VARIETAS TEBU (Saccharum officinarum L.) SECARA IN VITRO

    No full text
    ABSTRAKPerbanyakan tebu umumnya dilakukan secara vegetatif mengguna- kan setek. Teknik ini mempunyai keterbatasan memproduksi jumlah bibit dalam skala besar. Dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas, maka perlu pemenuhan bibit tebu dalam skala besar. Kultur jaringan merupakan   teknologi   alternatif   yang   dapat   dikembangkan   untuk pemenuhan bibit dalam jumlah yang banyak. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formulasi media terbaik untuk induksi kalus dan regenerasi tebu varietas Kidang Kencana dan PSJT 941. Penelitian dilakukan di Laboratorium Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian, Pusat Penelitian dan  Pengembangan  Perkebunan,  Bogor  dari  bulan  Februari  sampai September 2012. Penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu induksi kalus, regenerasi tunas dan perakaran, serta aklimatisasi. Bahan tanaman tebu yang digunakan adalah daun muda varietas Kidang Kencana dan PSJT 941 yang masih menggulung. Empat formulasi media digunakan pada tahap induksi kalus. Sementara itu, pada tahap regenerasi tunas dan perakaran menggunakan tujuh formulasi media. Aklimatisasi menggunakan media tanah steril dan kompos (2:1). Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial, terdiri atas dua faktor dan diulang sepuluh kali. Faktor pertama adalah varietas dan kedua adalah formulasi media. Hasil penelitian menunjukkan media induksi kalus terbaik untuk varietas  Kidang  Kencana  adalah 2,4-D 9 µM  +  Picloram  4,5  µM, sedangkan PSJT 941 adalah 2,4-D 13,5 µM. Media regenerasi dapat digunakan untuk menginduksi tunas sekaligus perakaran. Media regenerasi terbaik varietas Kidang Kencana dan PSJT 941 adalah IBA 2,46 µM + BAP 1,33 µM. Kedua varietas dapat diaklimatisasi di rumah kaca dengan tingkat keberhasilan tinggi (80-100%).Kata kunci: Saccharum officinarum, tebu, kultur jaringan, organogenesis,                 perbanyakan Callus Induction and Plant Regeneration of Two Sugarcane Varieties (Saccharum officinarum L.) through In VitroABSTRACTGenerally, sugarcane propagation was done by vegetative cuttings. The technique had limitation of producing seeds in a large scale. In order to increase productivity of sugarcane, it is required to provide sugarcane seeds in large scale. Tissue culture is an alternative technique that can be developed to provide the seeds. The objective of this research was toobtain the best formulations for callus induction and regeneration of Kidang Kencana and PSJT 941 varieties. The study was conducted in the Laboratory of Superior Farm Seeds Management Unit, Indonesian Agency for Agricultural Research and Development, Bogor from February until September 2012. The researches were carried out in three steps, name lycallus induction, regeneration of shoots and roots, and acclimatization. Explant  material  used  was  young  rolled  leaves  collected  from  two sugarcane  varieties (Kidang  Kencana  and  PSJT 941).  Four  media formulations used for callus induction, while seven media formulations used for shoots and roots regeneration. Acclimatization used sterile soil and compost (2:1). The experiment arranged in Factorial Completely Randomized Design with two factors and ten replications. The first factor was varieties and second factor was media formulations. The results showed that the best callus induction media for Kidang Kencana was 2.4- D 9 µM + Picloram 4.5 µM, while for PSJT 941 was 2.4-D 13.5 µM. Regeneration  media  could  induce both  shoots  and  roots.  The  best regeneration media for Kidang Kencana and PSJT 941 were IBA 2.46 µM + BAP 1.33 µM. They could be acclimatized successfully in green house with highly percentage (80-100%).Key words:  Saccharum officinarum,  sugarcane, tissue culture, organo- genesis, multiplicatio

    PEMBELAJARAN DWIBAHASA DI SEKOLAH DASAR: PELAKSANAAN, KENDALA, DAN HARAPAN

    Get PDF
    Sekolah dasar (SD) di Indonesia, khususnya di Bogor, Jawa Barat, diberikan mata pelajaran pendidikan dua bahasa: Indonesia dan bahasa ibu atau daerah (bahasa Sunda). Akan tetapi, dari pengamatan sementara pengajaran dwibahasa menimbulkan berbagai kendala. Sehubungan dengan hal itu, tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan proses pembelajaran dwibahasa tersebut di sekolah dasar, 2) mendeskripsikan kendala yang dialami guru dalam proses pembelajaran, dan 3) mendeskripsikan harapan para guru mengenai kegiatan pembelajaran dwibahasa tersebut. Populasi penelitian ini adalah guru SD di Bogor. Sampel penelitian 47 guru kelas di enam SD di Bogor. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian adalah 1) untuk proses pengajaran: a) bahasa Indonesia dan bahasa Sunda di SD diajarkan oleh guru kelas, b) bahasa pengantar dalam pembelajaran bahasa Sunda tidak menggunakan bahasa tersebut, tetapi menggunakan bahasa Indonesia, c) sarana pembelajaran bahasa di SD kurang memadai dan hanya memiliki buku panduan, dan d) siswa lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran kedua bahasa itu; 2) kendala yang dihadapi guru adalah a) mereka tidak mendapatkan perhatian yang serius dari sekolah dan pemerintah, dalam upaya peningkatan kemampuan, b) guru yang mengajarkan bahasa Sunda masih kurang keterampilan berbahasa Sunda, dan c) keterampilan berbahasa Sunda guru yang mengajarkan bahasa Sunda masih kurang, khususnya guru yang tidak berbahasa ibu bahasa Sunda, 3) harapan mereka adanya perhatian serius dari pemerintah terhadap pembelajaran bahasa Sunda dan mata pelajaran ini tidak dihapus

    KOMPATD3ILITAS KOMBINASI //aNPV DAN SBM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP MORTALITAS DAN AKTIVITAS BIOLOGI PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera HUBNER

    No full text
    Banyak cara dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas HaNPV terhadap serangga hama sasaran. Efektivitas //aNPV terutama daya bunuhnya, dapat ditingkatkan dengan cara mengkombinasikan HaNPV dengan metode pengendalian hama lain yang pengaruhnya dapat menurunkan kckebalan tubuh serangga, misalnya insektisida nabati scrbuk biji mimba (SBM). Disamping untuk meningkatkan efektivitas, kombinasi yang sinergis antara HaNPV dan SBM juga bcrmanfaat untuk substitusi //aNPV yang produk komcrsialnya masih terbatas. Penelitian kompa- tibilitas kombinasi //aNPV dan SBM seta pengaruhnya terhadap mortalitas dan aktivitas biologi larva penggerek buah kapas H. armigera dilaksanakan di laboratoium Hama Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Malang, mulai Maret hingga Juli 2002. Tujuannya adalah untuk mengetahui kompatibilitas dan kemanjuran kombinasi //aNPV dan SBM, seta mengetahui dampak interaksinya terhadap aktivitas biologi penggerek buah kapas //. armigera. Perlakuan yang digunakan adalah kombinasi //aNPV dan SBM berdasarkan konsentrasi subletal dan letal, yaitu: (I) Kontrol (tanpa perlakuan), (2) SBM(LC25), (3) SBM(LC,0), (4) //aNPV(LC25), (5) //aNPV(LC50), (6) /YaNPV(LC25) + SBM(LC2S), (7) /YaNPV(LC25) + SBM(LC50), (8) //aNPV(LC30) + SBM(LC2S), (9) //aNPV(LCjo) + SBM(LCjo). Setiap perlakuan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dengan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis intcraksi antara //aNPV dan SBM pada berbagai kombinasi konsentrasi umumnya menunjukkan sifat aditif dan sinergis. Kombinasi konsentrasi yang berinteraksi sinergis adalah //aNPV(LCso) t-SBM(LCso) yang menyebabkan mortalitas larva H. armigera ± 80%. Penurunan bobot larva maupun perpanjangan umur stadia larva tcinfeksi secara cfektif dipengaruhi oleh semua perlakuan //aNPV dan SBM, baik individu maupun kombinasi.Kata kunci: Aditif, //aNPV, H. armigera, kompatibilitas, mortalitas, serbuk biji mimba, SBM, sinergisABSTRACTCompatibility of HaNPV and SBM combinations and its effects on the mortality and biological activities of cotton bollworm Helicoverpa armigera HubnerMany ways to increase the effectiveness of //aNPV against insect pests. Combination of //aNPV and other control method, namely using neem seed powder (SBM) which reduced the insect immunity system, was one way to increase the effectiveness of//aNPV. Synergistic combination of SBM to //aNPV not only increased the effectiveness of insect control but SBM itself could also substitute //aNPV which was unavailable commercially. The study was caried out in the Entomology Laboratory of Indonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute (ITOFCRI) in Malang rom March to July 2002. The objective was to ind out the compatibility and efficacy of //aNPV+SBM combination against cotton bollworm and its impacts to larval motality and biological activities. The treatment tested were combinations of //aNPV+SBM based on both sublethal (LCjj) and lethal (LC50) concentrations, viz. (1) Control (untreated), (2) SBM(LC2!), (3) SBM(LCjo), (4) //aNPV(LC23), (5) //aNPV(LC50), (6) //aNPV(LC25) 4 SBM(LC25), (7) //aNPV(LC2J) + SBM(LCso),(8) //aNPV(LC3o) + SBM(LC2S), (9) //aNPV(LCj0) + SBM(LCjo). Each treatment was arranged in a randomized block design (RBD) with four replications Results showed that the combinations of HaNPV and SBM at different concentrations proved to be additive and synergistic interaction. The synergistic interaction was signiicant when //aNPV(LC,o) was combined with + SBM(LC50) with caused ± 80% of larval motality. Reducing in larval weight and prolong the larval age were effectively influenced by HaNPV and SBM either alone or combination.Key words: Additive, compatibility, HaNPV, //. armigera, motality neem seed powder, SBM, synergistic interactio

    MODEL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (R&D) LIMA TAHAP (MANTAP)

    Get PDF
    Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh setiap insan pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah penelitian, khususnya penilitian pendidikan. Melalui penelitian, masalah-masalah dalam pendidikan dapat teridentifikasi kemudian ditemukan solusinya. Hal-hal baru yang lebih inovatif dalam pendidikan dapat pula dikembangkan dan diaplikasikan dari sebuah penelitian. Ada beberapa jenis penelitian yang dapat dilakukan, salah satunya adalah penelitian yang bergenre penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D)

    PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN AROMATIK SEBAGAI MULSA DAN DAYA REPELENSINYA TERHADAP Doleschallia polibete

    Get PDF
    Penelitian dilakukan sejak April sampai Juli 2010. Observasi dilakukan di beberapa lokasi penyulingan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Uji repelensi limbah terhadap Doleschallia polibete dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Uji repelensi limbah terhadap larva dilakukan di laboratorium dengan memasukkan larva D. polibete instar tiga ke dalam pipa yang menghubungkan antara tanaman yang diberi dan yang tidak diberi mulsa. Larva diamati keberadaannya pada satu dan 24 jam setelah perlakuan. Pengujian diulang 10 kali dan setiap ulangan menggunakan satu ekor larva. Uji repelensi limbah terhadap serangga dewasa dilakukan di rumah kasa dengan melepas 20 pasang kupu-kupu ke dalam kurungan kasa berukuran 2 x 2 x 4 m3 yang di dalamnya telah diletakkan enam kelompok tanaman handeuleum yang telah diberi mulsa 50 g per tanaman. BioHassay menunjukkan limbah tanaman aromatik mampu menekan peletakkan telur serangga dewasa. Jumlah terendah ter-dapat pada perlakuan limbah serai dapur diikuti akar wangi, serai wangi, cengkeh, nilam dan kontrol dengan rata-rata jumlah kelompok telur berturut-turut 0,3, 1,2, 1,4, 1,8, 3,4, dan 5,3 kelompok. Sebaliknya limbah yang diuji ternyata bersifat menarik larva D. polibete dengan nilai indeks repelen (IR) terendah pada perlakuan limbah serai dapur diikuti serai wangi, cengkeh, akar wangi, dan nilam dengan IR berturut-turut -68,1, -61,6,    -58,9, -53,6, dan -42,9. Nilai C/N rasio terendah terdapat pada perlakuan akar wangi, diikuti nilam, serai dapur, serai wangi, cengkeh, dan kontrol dengan nilai ratio berturut-turut 10,5, 11,3, 12,8, 12,8, 13,79, dan 13,7. Dari lima limbah yang diuji, limbah nilam, serai dapur, serai wangi, dan cengkeh menghasilkan pertumbuhan tanaman lebih baik dari perlakuan kontrol

    RETENSI DAN INOVASI FONOLOGIS PROTOBAHASA MELAYIK PADA BAHASA MELAYU TAMIANG

    Get PDF
    This research was conducted diachronically. The object of this research is the PM phonemes which experienced retention and innovation in Melayu Tamiang language which observed the diachronic perspective. The data used in this research are 400 vocabularies. It was collected in Durian Village, Rantau District; Rantau Bintang Village, Bandar Pusaka District; Sekerak Kanan Village, Sekerak District and Bandar Khalifah Village, Tamiang Hulu District. The data was collected using listening and speaking method along with registering and recording techniques. The data were analysed using qualitative method. Diachronically, the result of the research showed that PM vowels, such as /*a/, /*ə/, /*i/ and /*u/ are still passed down by BMT until now. However, there are innovation occurred to *u < /U/ and *a < /ɔ/ vowels. Similarly, some PM consonants such as /*b/, /*d/,  /*g/, /*h/, /*j/, /*k/, /*l/, /*m/, /*n/, /*p/, /* r/, /*s/, /*t/, /*w/, /*y/, /*ñ/, /*ŋ/ and /*ˀ/ are still maintained by BMT, while the consonant phonemes which experienced innovation are *h < Ø/ , *k <  /ˀ/, *l < /ˀ/, *r < /R/ , *s < /h/ and *t < /ˀ/.  ABSTRAKAbstrakPenelitian Protobahasa Melayik ini dilakukan secara diakronis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fonem protobahasa Melayik (PM) yang mengalami retensi dan inovasi pada bahasa Melayu Tamiang (BMT) ditinjau dari persepektif diakronis. Data yang digunakan sebanyak 400 kosakata. Pengumpulan data dilakukan di Kampung Durian, Kec. Rantau, Desa Rantau Bintang, Kec. Bandar Pusaka, Desa Sekerak Kanan, Kec. Sekerak, dan Desa Bandar Khalifah, Kec. Tamiang Hulu. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan cakap dengan teknik catat dan rekam. Data dianalisis dengan menerapkan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fonem vokal PM seperti /*a/, /*ə/, /*i/, dan /*u/ masih diwariskan oleh BMT hingga kini. Namun inovasi terjadi pada vokal *u < /U/ dan *a < /ɔ/. Inovasi terjadi dengan sejumlah fonem konsonan PM, seperti /*b/, /*d/, /*g/, /*h/, /*j/, /*k/, /*l/, /*m/, /*n/, /*p/, /* r/, /*s/, /*t/, /*w/, /*y/, /*ñ/, /*ŋ/, dan /*ˀ/ masih dipertahankan oleh BMT sampai saat ini. Fonem konsonan yang mengalami inovasi adalah * h < Ø/ , *k < /ˀ/, *l < /ˀ/, *r < /R/ , *s < /h/ dan *t < /ˀ/
    corecore