477,919 research outputs found
Peluang Perakitan dan Pengembangan Kedelai Toleran Genangan
Sekitar 60% produksi kedelai nasional dihasilkan dari lahan sawah. Namun, budi daya kedelai di lahan sawah menghadapi berbagai masalah, antara lain cekaman genangan. Genangan menyebabkan penuaan dini sehingga daun klorosis, nekrosis, dan gugur serta pertumbuhan tanaman terhambat, yang pada akhirnya menurunkan hasil. Umumnya kehilangan hasil pada fase vegetatif lebih kecil dibandingkan pada fase reproduktif, yaitu 1743% pada fase vegetatif dan 5056% pada fase reproduktif. Besarnya penurunan hasil bergantung pada varietas kedelai yang ditanam, fase pertumbuhan tanaman, lamanya tergenang, tekstur tanah, dan kehadiran penyakit. Tersedianya varietas kedelai toleran genangan akan memberikan arti penting bagi upaya mempercepat peningkatan produksikedelai dalam negeri. Pengembangan kedelai toleran genangan tidak hanya bermanfaat dalam pengembangan kedelai di lahan sawah, tetapi juga wilayah yang sering mengalami cekaman genangan seperti lahan pasang surut. Luas lahan pasang surut di Indonesia mencapai 20,10 juta ha, sekitar 2030% di antaranya berpotensi sebagai lahan pertanian. Program perakitan varietas kedelai toleran genangan berpeluang dilakukan jika tersedia sumber gen dan metode skrining yang sederhana, mudah, dan cepat. Karakter morfologi dan fisiologi yang dapat secara cepat mendeteksi indikator toleransi kedelai terhadap genangan adalah perkecambahan, tinggi tanaman, perubahan warna daun menjadi kuning, kehadiran akar adventif, bobot kering akar, penutupan stomata, dan kadar N total. Kerja sama dengan lembaga internasional terutama dalam pertukaran sumber gen akan mempercepat program pemuliaan kedelai toleran genangan
Pemodelan Tsunami di Sekitar Laut Banda dan Implikasi Inundasi di Daerah Terdampak
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 67% tsunami terjadi di Indonesia timur, salah satunya di sekitar laut Banda. Penelitian terbaru membuktikan adanya palung terdalam Indonesia di Laut Banda, yang pernah memicu tsunami besar pada tahun 1674. Oleh karena itu, pemodelan tsunami di wilayah tersebut penting dilakukan sebagai upaya mitigasi tsunami di masa datang. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan sumber, penjalaran dan run-up tsunami di sekitar Laut Banda serta menganalisis inundasi di area terdampak menggunakan software L2008. Pemodelan tsunami dilakukan menggunakan skenario gempabumi 26 Desember 2009 dengan memodifikasi kekuatan menjadi Mw=8.3, kedalaman 33 km dan mekanisme sumber gempabumi ditentukan dengan software ISOLA. Dimensi patahan dan slip diperkirakan menggunakan persamaan empiris dari Papzachos (2004), Hanks and Kanamori (1979) dan Wells & Coppersmith (1984). Analisis inundasi mengacu pada persamaan Hills, J. G. & Mader, C. L., 1997. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan nilai vertical displacement maksimal sekitar 7,7 m, penjalaran tsunami ke segala arah dan pertama kali memasuki daerah Seram bagian timur pada menit ke 05.40. Run up tertinggi dijumpai di Tual sekitar 7,71 m dan inundasi tsunami berkisar antara 64,18 m di Kepulauan Aru hingga 1.009,49 m di Kota Tual
PENGARUH PEMUPUKAN N DAN P TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN KADAR PIPERIN TANAMAN KAMANDRAH
Kamandrah (Croton tiglium) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida, terutama bijinya. Untuk mendapatkan dosis pupuk N dan P optimal pada tanaman kamandrah, telah dilakukan penelitian sejak April 2008 sampai April 2009 di Tamianglayang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Bahan yang digunakan adalah benih kamandrah yang ditanam dengan jarak 3 m x 3 m. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang sapi (satu kilogram pohon-1 untuk seluruh perlakuan), N (Urea), P (SP-36), dan K (KCl). Dosis K adalah 25 kg KCl ha-1 untuk seluruh perlakuan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok sembilan perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari (a) 50 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (b) 75 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (c) 100 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (d) 75 kg Urea + 125 kg SP-36 ha-1; (e) 75 kg Urea + 100 kg SP-36 ha-1; (f) 75 kg Urea + 75 kg SP-36 ha-1; (g) 125 kg SP-36 ha-1; (h) 75 kg Urea ha-1; dan (i) kontrol. Parameter yang diamati, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, jumlah tandan bunga, hasil buah pohon-1, kadar minyak, dan kadar bahan aktif (piperine). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 75 kg Urea + 125 kg SP-36 adalah yang terbaik, didapatkan produksi berat basah pada tahun pertama sebesar 1.133,33 g enam tanaman-1 atau 188,88 g tanaman-1. Rendemen tertinggi dihasilkan pada perlakuan 75 kg Urea + 100 kg SP-36 yaitu 13,10%, sedangkan kadar piperin tertinggi pada perlakuan 75 kg Urea yaitu 0,0693%
KARAKTERISASI EMPAT POPULASI IKAN GURAMI (Osphronemus goramy Lac.) DAN PERSILANGANNYA BERDASARKAN METODE TRUSS MORFOMETRIKS
Tahap awal yang dilakukan dalam rangka pembentukan populasi ikan gurami cepat tumbuh adalah koleksi dan karakterisasi populasi-populasi ikan gurami yang akan digunakan sebagai sumber genetik pembentukan varietas tersebut. Kegiatan ini dilakukan untuk mengevaluasi keragaman morfologi dan hubungan kekerabatan empat populasi ikan gurami, yaitu Jambi (J), Kalimantan Selatan (K), Majalengka (M), dan Tasikmalaya (T). Metode truss morfometrik digunakan untuk karakterisasi morfologi dilanjutkan dengan analisis komponen utama (principal component analysis) dan analisis pengelompokan (cluster analysis). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa diagram pencar populasi ikan gurami tanpa melihat jenis kelamin menunjukkan adanya pengelompokan populasi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pertama adalah persilangan JxM dan MxK, sedangkan kelompok kedua terdiri atas persilangan JxK, KxJ, TxJ, KxM, MxJ, KxT, galur murni KxK, JxJ, MxM, dan TxT. Hal tersebut terjadi pula pada populasi jantan. Populasi betina menunjukkan JxK dan MxK terpisah berdasarkan karakter A2 (dahi-pangkal sirip punggung) dan A3 (pangkal sirip punggung-pangkal sirip perut). Indeks kesamaan tertinggi dalam 12 populasi diperoleh pada populasi Jambi dan Majalengka berturut-turut sebesar 94,00% dan 92,00%; sedangkan indeks kesamaan terendah diperoleh pada populasi TJ sebesar 72,00%. Ikan gurami ukuran konsumsi terdapat empat kelompok besar berdasarkan bentuk badannya. Dua kelompok pada galur murni menunjukkan populasi galur murni Kalimantan, Majalengka, dan Tasikmalaya kekerabatannya dekat, akan tetapi dengan Jambi memiliki kekerabatan yang jauh. Dua kelompok lainnya pada populasi persilangan, yaitu: persilangan JxM dan MxK dan kelompok lainnya adalah persilangan KxJ, KxM, JxK, TxJ, MxJ, dan KxT. Populasi galur murni dan persilangan memiliki jarak genetik yang jauh, sehingga populasi galur murni dan persilangan itu berbeda.The first step in breeding program towards generating fast-growing strain of giant gourami is the collection and characterization of giant gourami populations have been used as a genetic source. Giant gourami had been collected from South Kalimantan, Jambi, Majalengka, and Tasikmalaya. The aim of this experiment was to determine the morphological diversity among these collected populations using truss morphometric method. Principal component analysis followed by cluster analysis were used to identify the pattern of morphological variability among populations and varieties. The results showed that dendrogram populations of giant gourami regardless of gender showed a grouping of some of the population into two groups: the first group was J×M and M×K crosses, while the second population consisted of: Jambi Kalimantan (J×K), Kalimantan Jambi (K×J), Tasikmalaya Jambi (T×J), Kalimantan Majalengka (K×M), Majalengka Jambi (M×J), Kalimantan Tasikmalaya (K×T), purebred Kalimantan (K×K), Jambi (J×J), Majalengka (M×M), and Tasikmalaya (T×T). This was true for the male population. Female population showed J×K and M×K apart, the difference lies in the character of the forehead-base of the dorsal fin (A2) and the base of the dorsal fin-fin base stomach (A3). The highest similarity index was found Jambi (94.00%) Majalengka (92.00%) populations, while the lowest similarity index was T×J (72.00%). At market size of the consumption of giant gourami there are four major groups, based on the shape of the body. Two groups on pure strains showed a population of pure lines Kalimantan, Majalengka, and Tasikmalaya close kinship, but Jambi had a distant kinship. Two other groups in the population crosses, namely: cross J×M and M×K and the other group was a cross K×J, M×K, J×K, T×J, M×J, and K×T. The population of pure lines and crosses had a genetic distance away, so that the population of pure lines and crosses were different
PENGARUH JENIS PUPUK DASAR DAN SUSULAN TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU TEMBAKAU CERUTU BESUKI
Penelitian pemupukan tembakau cerutu besuki telah dilakukan di Desa Mangaran, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember (30 m dpi) untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk dasar dan pupuk susulan terhadap produksi dan mutu. Tembakau ditanam pada awal musim kemarau (disebut besnota), yaitu minggu ke 1 bulan Juli 2000. Lahan percobaan berjcnis tanah Aluvial dengan tekstur liat berkadar 44% liat, 20% debu, dan 46% pasir, 0.67% C-organik, 0.14% N total, 10.64 cmol/kg P tersedia, 0.45 cmol/kg K, 7.30 cmol/kg Ca, dan pH 6.62. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial, dengan 3 ulangan Faktor petama adalah perlakuan pupuk dasar (jenis pupuk NPK dan SP36 + urea), sedangkan faktor kedua adalah perlakuan jenis pupuk susulan (urea, CN, CN+CPN, CN+PN, dan CSN). Ukuran petak percobaan 10 m x 7 m , jarak tanam (110 cm i 90 cm) x 35 cm, dengan populasi 200 tanaman per petak dan varietas 11382 Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk dasar NPK tidak berbeda pengaruhnya dibanding dengan pupuk SP36+ urea terhadap hasil, ukuran, ketcbalan daun posisi KAK dan TNG, persentase daun pembalut-pembungkus dan kadar unsur hara daun. Namun perlakuan pupuk NPK menghasilkan daun KOS 3 lebih tipis, daya bakar daun KOS 1 dan KAK 3 yang lebih lama, nisbah K20/CaO yang lebih tinggi. Pupuk susulan CN i CPN dan CN + PN memberikan hasil dan kadar N daun yang lebih tinggi daripada perlakuan yang lain. Pupuk susulan tidak berpengaruh terhadap ukuran daun, ketebalan daun, daya bakar, persentase daun pembalul-pembungkus, kadar P2Oj. K20, dan CaO daun. Berdasarkan analisis kualitas semua pupuk altematif yang dicoba- kan, baik sebagai pupuk dasar maupun pupuk susulan, pupuk-pupuk tersebut dapat digunakan pada tembakau cerutu besuki. Selanjutnya, perlu dilakukan sosialisasi penggunaan pupuk altematif tersebut kepada petani.Kata kunci: pupuk, produksi, mutu, Nicotiana tabacum, tembakau cerutuABSTRACTEffect ofbasalfetilizers and side dressingfetilizer on the production and quality of besuki cigar tobaccoThe expeiment was conducted in Mangaran, Jenggawah Distict, Jember (at the altitude of 30 m). The objective was to study the effect of basal fetilizers and side dressing fetilizer on the production and quality of besuki cigar tobacco. Tobacco was planted in early dry season, in irst week of July 2000 (named as besnota tobacco). The soil was alluvial with clay texture (44% clay, 20% silt, and 46% sand). Other characteristics of the soil was 0.67% C-organic, 0.14% total-N, 10.64 cmol/kg available P, 0.45 cmol/kg available K, 7.30 cmol/kg Ca, and pH 6.62. The treatment consisted of two factors, i.e. basal dressing (NPK compound fetilizer and SP36 + urea) and side dressing (urea, CN, CN + CPN, CN + PN, and CSN). The treatments were arranged in a factoially randomized block design with 3 replications. Planting space was double row (110 cm + 90cm) x 35 cm, 200 plants per plot. Tobacco vaiety was H382. The results of the experiment showed that the effect of NPK fetilizer was not significantly different from SP36 + urea, on the yield, leaf size, thickness of KAK and TNG leaf positions, wrapper + binder precentagc and chemical content of the leaves. However, the tobacco crop received NPK fetilizer had positive characteistics, i.e. thinner leaves (KOS 3), longer buning duration (KOS 1 and KAK 3), higher K20/CaO ratio than SP36 + urea (reatment. CN + CPN and CN + PN as side dressing treatments gave yield and N content higher than other treatments. Side dressing treatments did not affect the leaf size, thickness, buning duration, wrappcr+binder percentage. P2Oj. KjO, and CaO, content of the leaves. However, based on the quality analysis the fertilizers tested either as basal dressing or as side dressing can be used as an altenative for besuki cigar tobacco fetilization. Futhermore, the use of these altenative fetilizers need to be socialized to the tobacco farmers.Keywords: Cigar tobacco, fetilizer, production, quality, Nicotiana tabacu
Pemikiran biografi dan kesejarahan: suatu kumpulan prasaran pada berbagai lokakarya jilid III
Buku ini merupakan suatu kumpulan dari berbagai pemikiran tentang biografi dan kesejarahan. Pemikiran-pemikiran tersebut merupakan masalah dan gagasan dari berbagai ahli sejarah dan ahli-ahli lainnya dalam rangka pembinaan penulisan biografi dan kesejarahan yang disampaikan pada berbagai lokakarya dan rapat kerja Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (IDSN). Direktorat Sejarah dan nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kcbudayaan, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan selama tahun kerja 1983/ 1984
PENGARUH ROTASI KENAF TERHADAP PRODUKSI PADI DAN JAGUNG
Tingkat kesuburan tanah dapat diperbaiki melalui pemberian bahan organik, hijauan tanaman ke dalam tanah atau diadakan rotasi tanaman. Kenaf merupakan tanaman semusim berumur 120 hari yang sesuai dirolasi dengan padi dan jagung. Penelitian rotasi kenaf dengan padi dan jagung dilaksanakan di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri pada musim tanam 1992/1993 sampai dengan 1994/1995 pada tanah regosol cokelat keabuan Tinggi tempat 70 meter di atas permukaan air laut dengan tipe iklim C3 menurut sistem klasiikasi Oldeman Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh rotasi tanaman kenaf dengan tanaman padi dan jagung terhadap peningkatan hasil padi dan jagung setelah lanaman kenaf seta perubahan ciri-ciri tanah tetentu sepeti kandungan C, N dan KTK di lahan irigasi Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak tiga kali. Seluruh perlakuan ada 12 macam rotasi. Ukuran petak 14 m x 10 m. Padi yang ditanam varietas IR-64, jagung varietas CPI dan kenaf He. G4. Jarak tanam padi, jagung dan kenaf beturut-turut 20 cm x 20 cm; 75 cm x 30 cm dan 20 cm x 15 cm Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penanaman kenaf dapat meningkatkan kesuburan tanah yang meliputi C-organik. N-total dan KTK tanah, baik pada tahun petama maupun pada tahun petama dan kedua. Hasil padi pada tahun petama tanpa kenaf, satu dan dua kali tanam kenaf sebelum padi masing-masing sebesar 5.19, 5.25, dan 6.24 ton/ha. Pada tahun petama dan kedua tanpa tanam kenaf dua dan liga kali tanam kenaf sebelum padi, masing-masing sebesar 4 68, 4.98, dan 5.23 ton/ha. Hasil jagung pada tahun petama tanpa kenaf dan satu kali tanam kenaf sebelum jagung, masing-masing sebesar 3.70 dan 4 47 ton/ha.Kata kunci: Kenaf, rotasi tanaman, padi, jagung, irigasi, kesuburan tanah ABSTRACTEffect of kenaf rotation on paddy and corn yieldThe fetility status of soil could be improved through the application of organic matter, fresh green plant or crop rotation practices. An experiment on kenaf-paddy-com rotalion was conducted ai Canggu Village, Pare Sub District, Kediri District from 1992/1993 to 1994/1995 on grey brown regosol. The altitude was 70 m above sea level, and the climate type was C3 according to Oldeman classiication. The purpose of the study was to know the effect of kenaf rotation on paddy and com yields and some soil characteristic change ater kenaf planting in irrigalcd land. The cxperimenl was arranged in a randomized block design with three replications. All treatments consisted of 12 kinds of rotations. Plot size was 14 m x 10 m. The variety of paddy, com, and kenaf used in this experiment were IR-64, CPI and He G4 respectively. The plant spacing were 20 cm x 20 cm; 75 cm x 30 cm and 20 cm x 15 cm respectively. The result indicated that the frequency of growing kenaf enhanced C- organic, Total-N and CEC status. Paddy yield in the irst year of growing none, once and two times of kenaf before paddy obtained 5.19; 5.25 and 6.24 ton/ha respectively. Paddy yield in the irst and second year of growing none, two and three times of kenaf before paddy obtained 4.68; 4.98 and 5.23 ton/ha respectively. Corn yield in the irst year of none and once of kenaf before com obtained 3.70 and 4.47 ton/ha respectively.Key words : Kenaf, plant rotation, paddy, com, irrigation, soil fetilit
EFEKTIVITAS TEKNIK KONSERVASI LAHAN DALAM MENEKAN EROSI DAN PENYAKIT LINCAT
Penelitian dilaksanakan di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada bulan Maret sampai Desember tahun 2001 untuk mcngcvaluasi pengaruh penerapan teknik konservasi lahan dalam pengendalian erosi dan penyakit lincat terhadap erosi, sifat fisik tanah, populasi patogen, kematian tanaman, serta hasil tembakau. Perlakuan yang diuji adalah teknik pengendalian erosi yang meliputi penanaman rumput Setaria pada bibir teras dan tanaman Elemingia congesta pada bidang tampingan, seta pembuatan rorak di dasar saluran teras dan pengolahan tanah minimum. Perlakuan tersebut dikombinasikan dengan teknologi pengendalian penyakit lincat, yaitu penanaman galur tembakau tahan (BC3-C51) dan pembcian/penyemprotan mikrobia antagonis Aspergillus fumigatus dan Bacillus cereus. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan dua perlakuan (konservasi dan kontrol) dan enam ulangan. Setiap satuan percobaan tersusun atas petak berukuran 22 m x 4 m dan masing-masing dipasang satu unit bak penampung erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik konservasi dapat menekan besanya erosi dari 30.2 ton/ha menjadi 16.7 ton/ha atau turun 44.8 %. Kombinasi teknik pengendalian penyakit lincat dapat menekan perkembangan patogen lincat dan mengurangi kematian tanaman tembakau sebesar 53.6%. Hasil daun tembakau basah dan rajangan kering pada perlakuan konservasi masing-masing 41.7% dan 42.1% dibanding kontrol.Kata kunci: Tembakau, Nicotiana tabacum, tembakau temanggung. konservasi tanah, erosi, patogen tanah ABSTRACTEffectiveness of land conservation technique in reducing soil erosion and lincat plant diseasesField trial was conducted in Glapansari Village, Parakan, Temang¬ gung District from March to December 2001 to evaluate the effect of land conservation by controlling soil erosion and plant disease on soil erosion, soil physical characteristics, soil pathogens population, dead tobacco plant, and tobacco yield. The treatments were soil conservation technique by planting of Setaria grass on Ihe terrace edge and planting Elemingia congesta on the riser, and digging of sediment trap on the base of terrace ditch. The treatments were planting tobacco line (BC3-C51) tolerant to lincat disease combined with the application of antagonistic microbes (Aspergillus fumigatus and Bacillus cereus). The research used complete randomized block design with two treatments and six replications. Each expeimental units composed of plot sized 22 m x 4 m and soil erosion collector. Results showed that the land conservation technique reduced soil erosion rom 30.2 to 16.7 tones/ha or 44.8%. This technique reduced soil pathogen population and dead tobacco plant 53.6%. The land conservation technique increased signiicantly tobacco fresh leaves yield 41.7% and dried sliced tobacco yield 42.1 % compared to that of control.Key words: Tobacco, Nicotiana tabacum, temanggung tobacco, soil conservation, erosion, soil pathoge
PENGARUH PUPUK N DAN POPULASI TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAHE PADA LINGKUNGAN TUMBUH YANG BERBEDA
Kondisi lingkungan tumbuh, baik iklim maupun kesuburan lahan, serta teknik budidaya sangat berpengaruh terhadap pertum-buhan dan produktivitas tanaman jahe. Tujuan penelitian untuk mempelajari respon jahe putih besar (Zingiber officinale Rosc.) terhadap pemupukan N dan populasi tanaman pada lingkungan tumbuh yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di dusun Cipanas, dengan ke-tinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl) dan di dusun Cipicung (800 m dpl) Desa Werasari, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Penelitian dimulai Agustus 2004 sampai dengan Juli 2005, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari enam kombinasi taraf pemupukan N dan populasi tanaman masing masing N1P1 (400 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), N1P2 (400 kg Urea/ha - 55.556 tanaman/ha), N2P1 (500 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), N2P2 (500 kg Urea/ha-55.556 tanaman/ha), N3P1 (600 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), dan N3P2 (600 kg Urea/ha - 55.556 tanaman/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan agroklimat dan kesuburan menghasilkan bobot segar, jumlah anakan dan tinggi tanaman berbeda. Tinggi tanaman, jumlah anakan dan bobot segar di Cipanas adalah 74,69 cm, 16,48 anakan dan 55,89 t/ha, sedangkan di Cipicung masing-masing 42,26 cm, 5,31 anakan dan 7,69 t/ha. Kecukupan hara N pada lahan percobaan khususnya di Cipanas menyebabkan respon tanaman jahe terhadap pemupukan N yang diberikan tidak nyata. Perlakuan populasi yang lebih tinggi sampai 55,556 tanaman/ha mampu meningkatkan produksi jahe sekitar 35 (dari 47,79 t/ha menjadi 64,83 t/ha).
EFIKASI Bacillus thuringiensis H-14 ISOLAT SALATIGA SEDIAAN BUBUK DAN CAIR TERHADAP JENTIK Culex quinquefasciatus
AbstrakFilariasis merupakan salah satu penyakit tular vektor yang masih menjadi masalah di Indonesia dengan prevalensi19%padatahun2009.SalahsatunyamukyangmenjadivektorfilariasisadalahCulexquinquefasciatus.Pengendalian nyamuk vektor dengan Bacillus thuringiensis H14 (Bt H14) isolat Salatiga sediaan cair dan bubukmerupakansalahsatucaramengendalikanfilariasissecarahayati.PenelitianinibertujuanuntukmenentukanefikasiBtH-14isolatSalatigasediaancairdanbubukterhadapCxquinquefasciatus.Penelitiandilakukan dengan membuat Bt H14 isolat Salatiga sediaan cair dan bubuk, menghitung jumlah sel dan spora pada masingmasing sediaan serta mengujikan pada jentik Cx. quinquefasciatus hasil pemeliharaan insektarium B2P2VRP Salatiga. Nilai kematian kemudian dianalisis menggunakan analisis Probit Hasil penelitian menunjukkan sediaan cair memiliki jumlah sel 1,55x108 sel/ml sedangkan sediaan bubuk 1,72x106 sel/g. Nilai LC90 Bt H14 sediaan cair dan bubuk terhadap Cx. quinquefasciatus berturutturut 0,056 ppm dan 10,94 ppm. Hal ini menunjukkan potensi keduanya dalam membunuh jentik Cx. quinquefasciatus sebagai vektorfilariasis.Kata kunci:Bacillusthuringiensis,cair,bubuk,efikasi,Culexquinquefasciatus,AbstractFilariasis as a vectorborne disease become a problem in Indonesia with prevalence of 19% in 2009. Culex quinquefasciatus is one of its vectors. Larvae control using Salatiga isolate of Bacillus thuringiensis H14 liquid andpowderpreparationsarefilariasismosquitocontrolmethod.Thisstudyaimedtodeterminetheefficacyof Bt H14 isolates Salatiga liquid and powder preparations against Cx. quinquefasciatus. The study was conducted by formulating Salatiga isolate Bt H14 liquid and powder preparation, cells and spores counting of Bt H14 in each preparation, and conducting the toxicity assay on Cx. quinquefasciatus larvae. The mortality was analyzed using Probit analysis. The results showed that liquid preparations had 1,55x108 cells/ml while the powder preparation had 1,72x106 cells/g. LC90 value of Bt H14 liquid and powder preparations against Cx. quinquefasciatus were respectively 0.056 ppm and 10.94 ppm. This shows the potential of both preparations in killing Cx. quinquefasciatuslarvaeasvectorsoffilariasis.Keywords: Bacillus thuringiensis,liquid,powder,efficacy,Culex quinquefasciatu
- …
