6,156,913 research outputs found
Kontaminasi Mikotoksin pada Buah Segar dan Produk Olahannya serta Penanggulangannya
Indonesia merupakan negara tropis yang memungkinkan aneka tanaman buah tumbuh dan berproduksi. Penerapan teknologi produksi dan penanganan pascapanen yang kurang memadai akan mengakibatkan inkonsistensi mutu buah yang dihasilkan. Kontaminasi mikotoksin merupakan salah satu masalah pascapanen produk pertanian di Indonesia. Penelitian mengenai kontaminasi mikotoksin pada komoditas buah di Indonesia belum banyak diungkapkan, namun penelitian sejenis sudah banyak dipublikasikan di luar negeri, terutama kontaminasi mikotoksin pada aneka buah subtropis. Beberapa jenis mikotoksin yang umumnya mencemari aneka buah subtropis dan produk olahannya adalah patulin, aflatoksin, okratoksin, dan alternariol. Genus kapang yang teridentifikasi pada buah dan berpotensi menghasilkan mikotoksin antara lain adalah Fusarium sp., Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Alternaria sp. Penanganan pascapanen buah merupakan salah satu titik kritis terjadinya infeksi kapang penghasil mikotoksin. Penanganan buah seperti pemanenan yang tepat, penanganan pascapanen yang baik, pembuangan kotoran, dan pencucian dapat menurunkan tingkat kontaminan pada buah segar. Pada buah olahan seperti sari buah, untuk menurunkan kontaminan dapat dilakukan dengan penghilangan bagian buah yang berkapang, perlakuan enzim, dan penjernihan
Peluang Perakitan dan Pengembangan Kedelai Toleran Genangan
Sekitar 60% produksi kedelai nasional dihasilkan dari lahan sawah. Namun, budi daya kedelai di lahan sawah menghadapi berbagai masalah, antara lain cekaman genangan. Genangan menyebabkan penuaan dini sehingga daun klorosis, nekrosis, dan gugur serta pertumbuhan tanaman terhambat, yang pada akhirnya menurunkan hasil. Umumnya kehilangan hasil pada fase vegetatif lebih kecil dibandingkan pada fase reproduktif, yaitu 1743% pada fase vegetatif dan 5056% pada fase reproduktif. Besarnya penurunan hasil bergantung pada varietas kedelai yang ditanam, fase pertumbuhan tanaman, lamanya tergenang, tekstur tanah, dan kehadiran penyakit. Tersedianya varietas kedelai toleran genangan akan memberikan arti penting bagi upaya mempercepat peningkatan produksikedelai dalam negeri. Pengembangan kedelai toleran genangan tidak hanya bermanfaat dalam pengembangan kedelai di lahan sawah, tetapi juga wilayah yang sering mengalami cekaman genangan seperti lahan pasang surut. Luas lahan pasang surut di Indonesia mencapai 20,10 juta ha, sekitar 2030% di antaranya berpotensi sebagai lahan pertanian. Program perakitan varietas kedelai toleran genangan berpeluang dilakukan jika tersedia sumber gen dan metode skrining yang sederhana, mudah, dan cepat. Karakter morfologi dan fisiologi yang dapat secara cepat mendeteksi indikator toleransi kedelai terhadap genangan adalah perkecambahan, tinggi tanaman, perubahan warna daun menjadi kuning, kehadiran akar adventif, bobot kering akar, penutupan stomata, dan kadar N total. Kerja sama dengan lembaga internasional terutama dalam pertukaran sumber gen akan mempercepat program pemuliaan kedelai toleran genangan
Aplikasi Teknologi Dna Untuk Akselerasi Program Pemuliaan Ketahanan Tanaman Kakao Terhadap Hama Dan Penyakit Utama
ABSTRACTOne of the main constraints on cacao cultivation is disease and insect pest attacks causing significant yield loss. The main insect pests and diseases on cacao plantation are cacao pod borer, cacaofruit rot, vascular streak dieback and cacao mirids (Helopeltis spp.). Conventional breeding method to obtain new cacao clones resistant to insect pests and diseases is a slow process. It may take 15-20 years to obtain a new superior clone. Applying DNA technology should expedite cacao breeding program. The article described the application of DNA technology currently available to expedite cacao breeding program for disease and insect resistance. Many genes and quantitative trait loci (QTLs) of important traits have been discovered related to cacao plant productivity and yield quality, disease and insect pest resistance traits. Modern genomic technologies as well as DNA marker have also been applied in cacao breeding program. Genetic transformation technology has been explored its application for cacao improvement. With the development of modern genomic technology, important gene/QTL discoveries would be faster to accelerate insect pest and disease resistant cultivar development. All these new DNA technologies have been assessed their potential applications for coping important pest and disease and for yield improvement. DNA technologies, mainly MAS and genomic-data based breeding technologies are ready to be applied to support breeding programs for main pest and disease resistance to enhance Indonesian cacao productivity and quality.Keywords: Cacao, disease and insect resistance, genomics, DNA markers, genetic transformation, marker-assisted breedingAbstrakSalah satu kendala utama dalam budi daya kakao ialah serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit utama kakao adalah penggerek buah kakao (PBK), busuk buah kakao (BBK), vascular streak dieback (VSD), dan cacao mirids (Helopeltis spp.). Kegiatan pemuliaan tanaman kakao secara konvensional berjalan lambat dan perlu waktu panjang. Untuk menghasilkan satu varietas unggul diperlukan waktu 15-20 tahun. Aplikasi teknologi DNA (genomika melalui pemuliaan berbantuan marka dan rekayasa genetik) dapat mempercepat program pemuliaan tanaman kakao. Tulisan ini mengulas teknologi DNA yang tersedia saat ini dan potensi aplikasinya untuk mempercepat pemuliaan kakao tahan hama dan penyakit. Penemuan marka DNA dan gen/quantitative trait loci (QTL) kakao berkembang cukup pesat. Banyak gen dan QTL karakter penting telah diidentifikasi yang terkait ketahanan hama dan penyakit serta produktivitas tanaman. Teknologi genomika dan pemanfaatan teknik marker-assisted selection (MAS) juga telah diaplikasikan untuk pemuliaan kakao termasuk untuk karakter ketahanan terhadap hama dan penyakit. Teknologi rekayasa genetik telah diteliti untuk menganalisis potensi pemanfaatannya dalam perbaikan bahan tanam kakao. Dengan berkembangnya teknologi genomika modern, penemuan gen/QTL unggul dapat dipercepat, lebih efisien dan komprehensif untuk mempercepat perakitan varietas unggul kakao tahan hama dan penyakit. Teknologi DNA khususnya MAS dan pemuliaan berbasis data genom siap diaplikasikan untuk mendukung program perbaikan ketahanan tanaman kakao terhadap hama dan penyakit utama dalam rangka peningkatan produktivitas dan mutu kakao nasional
Potensi dan Ketersediaan Sumberdaya Lahan untuk Mendukung Ketahanan Pangan
Laju pertumbuhan penduduk tidak seimbang dengan laju pertambahan lahan pertanian. Akibatnya, jumlah petanigurem dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,50 ha bertambah dari 10,80 juta rumah tangga petani (RTP) padatahun 1993 menjadi lebih dari 15 juta RTP pada 2010. Selain itu, konversi lahan, degradasi lahan dan air, perubahaniklim, dan kerusakan lingkungan menjadi kendala utama dalam pembangunan pertanian di masa yang akan datang.Apabila konversi lahan dapat ditekan 60.000 ha/tahun dan sawah baru bertambah 67.700 ha/tahun maka luas lahanyang dibutuhkan untuk mempertahankan swasembada beras dan pangan lainnya sampai tahun 2020 secara kumulatifmencapai 1,61 juta ha atau 6,08 juta ha hingga tahun 2050. Untuk lahan kering diperlukan perluasan sekitar 11,75juta ha menjelang tahun 2050. Apabila kebutuhan energi juga akan dipasok dari bahan baku pangan (jagung, kedelai,ubi kayu, tebu, kelapa, kelapa sawit) maka lahan yang dibutuhkan makin luas. Berdasarkan sifat biofisik, lahan yangsesuai untuk pertanian dan saat ini belum dimanfaatkan mencapai 30,67 juta ha dan 8,28 juta ha di antaranya sesuaiuntuk sawah. Lahan tersebut belum diketahui status kepemilikannya, tetapi sebagian besar (20,40 juta ha) beradadi kawasan hutan (hutan produksi, hutan konversi, HPH) dan 10,30 juta ha berada di kawasan budi daya pertanian.Selain dengan perluasan, pemanfaatan lahan perlu dioptimalkan melalui intensifikasi, peningkatan intensitastanam (IP200, IP300, IP400), pengembangan inovasi teknologi, perbaikan pengelolaan DAS, konservasi tanah danair, serta perlindungan lahan terhadap konversi, penelantaran, dan degradasi
Piranti Bahasa dan Mistisime Jawa dalam Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono
Kajian ini adalah ihtiar menganalisis bahasa sekaligus menafsirkan dan menjelajahi konteks sosial budaya puisi-puisi Sapardi Djoko Damono (SDD) yang terhimpun dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni, diterbitkan Gramedia Pustaka Juni 2013. Pijakan awal kajian ini adalah stilistika dengan fokus menggali aspek-aspek kebahasaan seperti ragam bunyi, kata, simbol, imaji dan majas. Dalam kajian ini nampak pusi-puisi SDD didominasi suasana ketertekanan, keheningan, dan kefanaan dengan bersandar pada kekuatan cacphony, gaya paradaksol dengan mempertentangkan kata yang mempunyai dua sifat berbeda, menghadirkan pada diri pembacanya imaji yang membangun ruang-ruang misteri. Pemilihan kata dengan cermat dipilih dengan menggunakan natural symbol dan privat symbol, Puisi-puisi SDD mayoritas menggambarkan dunia misteri kesunyian yang dihadirkan sebagai sesuatu yang tidak ada( flow chart) yang ada hanya degup, suara, warna, dan ide hadir seperti sebuah bayang putih yang membaur dan terasa jauh. Dalam bingkai bahasa itu, di dalam puisi-puis SDD dapat dilacak jejak mistisime Jawa yang mempersoalkan renungan awal akhir (sangkan-paran), kefanaan, kematian dan keheningan khas Jawa (sonya ruri)
Penanganan Pascapanen Untuk Peningkatan Mutu Dan Daya Saing Komoditas Kakao
ABSTRACTDetermination of cocoa production growth rate of 3.9% per year must be complemented by increasing competitiveness of cocoa in order to assure that cocoa production could provide added value and prosperity for farmers. The weakness of Indonesian cocoa in market competition mainly occurs due to the low quality of cocoa beans, caused by high levels of nonfermented beans (>3%) and impurity content (>2%). Meanwhile, the market also implemented food safety requirements as well as taste preferences that need to be anticipated by implementing fermentation process. Technology for fermentation of cocoa beans has already been available, but innovation on policy still seems to need improvement. Fermentation institution needs to be built, including through revitalization of processing unit by making it as business entities, which are well managed to obtain economical, social and environmental benefit optimally. Farmers and traders also need to implement good agricultural and good handling practices. Therefore, guidance of implementation and intensive assistanceneed to be prepared. Consequently, agricultural activities are needed to be revitalized.Keywords: Cocoa, postharvest handling, quality, competitivenessabstrakPenetapan laju pertumbuhan produksi kakao sebesar 3,9% per tahun harus diimbangi dengan peningkatan daya saing agar produksi kakao mampu memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi petani. Kelemahan kakao Indonesia dalam persaingan di pasar global terutama adalah mutu biji rendah karena tingginya kadar biji tidak difermentasi (> 3%) serta kadar kotoran (> 2%). Selain itu, pasar juga menerapkan persyaratan keamanan pangan yang ketat dan preferensi cita rasa konsumen yang perlu diantisipasi antara lain dengan menerapkan proses fermentasi. Inovasi teknologi fermentasi biji kakao telah tersedia, namun inovasi kebijakan masih perlu penyempurnaan. Kelembagaan fermentasi perlu dibangun, di antaranya melalui revitalisasi unit pengolahan hasil (UPH) dengan menjadikan UPH sebagai unit bisnis yang dikelola secara terorganisir untuk mendapat manfaat ekonomis, sosial, dan lingkungan secara optimal. Penerapan kaidah praktik pertanian dan penanganan yang baik juga perlu dilakukan oleh petani maupun pedagang pengumpul. Untuk itu panduan pelaksanaan dan pendampingan secara intensif perlu disiapkan. Penerapan praktik pertanian dan pengolahan yang baik perlu didukung dengan revitalisasi penyuluhan
Spesies Padi Liar (Oryzaspp.) Sebagai Sumber Gen Ketahanan Cekaman Abiotik Dan Biotik Pada Padi Budi Daya
ABSTRACTWild rice species could be used for improvement of rice varieties because they have a good character for resistance to biotic and abiotic stresses. Some of Indonesian wild rice species are Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon and O. schlechteri. IRRI has a collection of 2,500 accesions of wild rice and 18 species were collected in ICABIOGRAD, Bogor. Some species of wild rice are known to have resistance genes to biotic and abiotic stresses. A number ofaccessions of O. officinalis contained resistance gene to brown planthopper, blast disease, bacterial leaf blight (BLB) and sheath rot. One of the species that has resistance to pests and diseases is O. minuta. The resistance to tungro virus occurs in O. punctata. Tolerance to drought, Al and Fe toxicities occurs in wild rice species of O. sativa genome AA group. Resistance genes from wild rice species can be inserted into cultivated rice through conventional techniques in combination with biotechnology, while gene transfer and gene detection from wild rice to cultivated rice can be done through cross breeding, molecular markers, backcrossing and embryo rescue. The success of introgression of resistance genes from wild rice species to cultivated rice will increase genetic diversity of rice. As an example O. minuta has been implemented in introgression of BLB resistance gene on IR64. Introgression of O. nivara gene in IRRI had improved some superior rice varieties in Indonesia, namely IR30, IR32, IR34, IR36 and IR38, which were tolerant to brown planthopper, dwarf virus and bacterial leaf blight. Oryza rufipogon wich has BLB and blast resistance gene has been used for improvement of new varieties Inpari Blas and Inpari HDB which were released in 2013.Keywords: Oryza spp., varietal improvement, resistance genes, biotic stresses, abiotic stressesAbstrakSpesies padi liar dapat dimanfaatkan dalam perakitan varietas unggul karena memiliki gen ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Spesies padi liar yang ada di Indonesia adalah Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon, dan O. schlechteri. IRRI memiliki koleksi 2.500 aksesi padi liar dan 18 spesies dikoleksi di BB Biogen. Sejumlah aksesi O. officinalis memiliki gen ketahanan terhadap wereng coklat, penyakit blas, hawar daun bakteri (HDB), dan busuk pelepah. Salah satu spesies yang memiliki ketahanan terhadap hama-penyakit tersebut adalah O. minuta. Ketahanan terhadap virus tungro terdapat pada O. punctata. Toleransi terhadap kekeringan, keracunan Al, dan Fe terdapat pada spesies padi liar kelompok O. sativa genom AA. Gen ketahanan dari spesies padi liar dapat dimasukkan (introgresi) ke dalam padi budi daya melalui teknik konvensional yang dikombinasikan dengan bioteknologi, sementara transfer gen dapat melalui persilangan, marka molekuler, silang balik, dan penyelamatan embrio. Keberhasilan introgresi gen ketahanan dari spesies padi liar ke padi budi daya akan meningkatkan keragaman genetik tanaman. Spesies padi liar O. minuta telah dimanfaatkan dalam introgresi gen ketahanan HDB pada varietas IR64. Introgresi gen asal O. nivara di IRRI menambah varietas unggul di Indonesia, yaitu IR30, IR32, IR34, IR36, dan IR38, yang toleran terhadap wereng coklat, virus kerdil rumput, dan HDB. Spesies padi liar O. rufipogon yang memiliki gen ketahanan HDB dan blas telah digunakan dalam pembentukan varietas unggul baru Inpari HDB dan Inpari Blas yang dilepas pada 2013
Pedoman pemberian penghargaan guru dan kepala sekolah dedikatif, inovatif, dan inspiratif tahun 2020
Pemberian Penghargaan kepada Guru dan Kepala Sekolah yang dedikatif, inovatif, dan inspiratif di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan salah satu bentuk penghargaan dari pemerintah atas prestasi, kinerja yang dihasilkan. Penghargaan ini diharapkan dapat lebih memotivasi dan meningkatkan profesionalisme guru dan kepala sekolah yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Tema kegiatan pemberian penghargaan bagi Guru dan Kepala Sekolah Tahun 2020 adalah “Dengan Semangat Kegotongroyongan dalam Pendidikan, Pandemi Covid-19 Bukan Penghalang Indonesia Maju”. Ruang lingkup kegiatan ini meliputi tugas dan fungsi guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan budaya literasi di satuan pendidikan, meningkatkan kepemimpinan pembelajaran abad ke-21, dan mengoptimalkan peran tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat) dalam penguatan pendidikan karakter, inovasi dan integritas tata kelola di satuan pendidikan.
Pedoman ini diterbitkan untuk menjadi acuan bagi penyelenggara Pemberian Penghargaan kepada Guru dan Kepala Sekolah yang dedikatif, inovatif, dan inspiratif. Kami mengharapkan kerjasama dari semua pihak terkait agar pelaksanaan kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik
Teknologi Pembibitan Duku dan Prospek Pengembangannya
Kendala utama dalam pengembangan agribisnis duku yaitu belum tersedia dan digunakannya benih bermutu. Tanaman duku umumnya berasal dari benih asalan. Perbanyakan dengan biji, di satu sisi, memberikan tingkat keberhasilan tinggi. Namun, tanaman memerlukan waktu lama untuk berbuah serta tidak selalu sama dengan induknya. Untuk itu, perlu teknik pembibitan yang lebih baik melalui sambung pucuk. Tulisan ini merupakan tinjauan terhadap pembibitan sambung pucuk pada duku dan prospek pengembangannya, meliputi penyemaian biji untuk batang bawah, pemupukan, persiapan batang atas (entres), cara penyambungan, dan kelayakan usaha pembibitan sambung pucuk. Batang bawah dianjurkan menggunakan jenis lokal karena perakarannya kuat dan daya adaptasinya tinggi terhadap lingkungan. Pupuk NPK diberikan dengan takaran 3 g/tanaman atau menggunakan pupuk daun plant catalyst dengan takaran 2 g/tanaman. Entres diambil dari pohon induk sehat dan telah berbuah minimal 3-4 kali, produktivitas tinggi, dari ujung cabang yang kulitnya hijau muda dengan posisi tumbuh lurus ke atas. Teknik penyambungannya adalah batang bawah dipotong pada bagian kulit yang masih hijau setinggi 2025 cm lalu dibelah membujur sepanjang 22,50 cm (huruf V). Entres disayat bagian pangkalnya pada kedua sisi sepanjang 22,50 cm (huruf V) lalu disisipkan ke dalam belahan batang bawah dan diikat tali plastik. Usaha pembibitan duku (skala 5.000 bibit) memberikan pendapatan bersih Rp6.618.560 dengan nilai R/C 2,20. Dengan demikian, teknik sambung pucuk mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan.
PENGARUH PEMUPUKAN N DAN P TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN KADAR PIPERIN TANAMAN KAMANDRAH
Kamandrah (Croton tiglium) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida, terutama bijinya. Untuk mendapatkan dosis pupuk N dan P optimal pada tanaman kamandrah, telah dilakukan penelitian sejak April 2008 sampai April 2009 di Tamianglayang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Bahan yang digunakan adalah benih kamandrah yang ditanam dengan jarak 3 m x 3 m. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang sapi (satu kilogram pohon-1 untuk seluruh perlakuan), N (Urea), P (SP-36), dan K (KCl). Dosis K adalah 25 kg KCl ha-1 untuk seluruh perlakuan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok sembilan perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari (a) 50 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (b) 75 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (c) 100 kg Urea + 150 kg SP-36 ha-1; (d) 75 kg Urea + 125 kg SP-36 ha-1; (e) 75 kg Urea + 100 kg SP-36 ha-1; (f) 75 kg Urea + 75 kg SP-36 ha-1; (g) 125 kg SP-36 ha-1; (h) 75 kg Urea ha-1; dan (i) kontrol. Parameter yang diamati, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, jumlah tandan bunga, hasil buah pohon-1, kadar minyak, dan kadar bahan aktif (piperine). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 75 kg Urea + 125 kg SP-36 adalah yang terbaik, didapatkan produksi berat basah pada tahun pertama sebesar 1.133,33 g enam tanaman-1 atau 188,88 g tanaman-1. Rendemen tertinggi dihasilkan pada perlakuan 75 kg Urea + 100 kg SP-36 yaitu 13,10%, sedangkan kadar piperin tertinggi pada perlakuan 75 kg Urea yaitu 0,0693%
- …
