1,720,968 research outputs found
PERTUMBUHAN DOMBA LOKAL JANTAN YANG DIBERI PAKAN KONSENTRAT DAN JERAMI PADI YANG DIPERAM DENGAN URIN ATAU UREA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhaan domba lokal jantan
diberi pakan jerami padi, yang tidak diperam dan diperam dengan urin atau urea.
Penelitian dilaksanakan di Kandang Domba/Kambing, Jurusan Peternakan,
Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro dari tanggal 1 Juni –
21 Desember 2014.
Materi yang digunakan adalah 12 ekor domba lokal jantan dengan umur
kurang lebih sekitar 1,5 - 2 tahun dan bobot badan rata-rata 25,44 ± 1,60 kg (CV =
6,12%). Pakan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pakan konsentrat
(dedak padi 31,7%, bungkil kedelai 10,0%, dedak gandum 43,3%, gaplek 15,0%
dan mineral 1%) dan jerami padi. Rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3
perlakuan dan 4 ulangan digunakan dalam penelitian ini. Perlakuan tersebut
adalah T0 (jerami padi tanpa diperam), T1 (jerami padi yang diperam dengan
urea) dan T2 jerami padi yang diperam dengan urin). Konsentrat diberikan 2,3%
dari bobot badan dan jerami padi ad libitum. Konsentrat diberikan 2 kali sehari
pada pukul 06.00 dan 15.00, jerami padi diberikan 2 jam setelah konsentrat.
Parameter yang diamati adalah pertambahan bobot badan harian (PBBH),
konsumsi bahan kering (BK), pertambahan panjang badan harian (PPBH),
pertambahan tinggi pundak harian (PTPH), pertambahan lingkar dada harian
(PLDH), pertambahan dalam dada harian (PDDH) dan pertambahan lebar dada
harian (PLbDH). Data selanjutnya diolah dan dianalisis dengan analisis sidik
ragam (ANOVA) pada taraf signifikansi 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter yang diamati tidak
berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan. Rata-rata PBBH adalah 38,20 g,
konsumsi BK adalah 895,86g/hari, PPBH adalah 0,06 cm, PTPH adalah 0,05 cm,
PLDH adalah 0,05 cm, PDDH adalah 0,04 cm , dan PLbDH adalah 0,04 cm.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jerami padi yang diperam
dengan urea atau urin tidak mempengaruhi pertumbuhan.han
Eating behavior of Ongole crossbred and Limousin crossbred steers fed fermented rice straw and concentrate
A study on eating behavior of Ongole Crossbred (OC) and Limousin Crossbred (LC) steers (aged 9 months) fed fermented rice straw and concentrate has been carried out. Rice straw and concentrate were given in 60:40 ratio. Rice straw was fermented by commercial starter (BioP 2000 Z), while concentrate was composed of commercial concentrate and soybean pulp (by-product of soy-sauce industry). The diet was set to meet the dry matter (DM) requirement at 3.0% of liveweight. Eating behaviour was measured from 3 days continuously observation. Chewing number was accounted by halter equipped with tape-switch in jaw side and was recorded every 1/10 second in connected PC. The results showed that DMI of both OC (3.21 kg) and LC (4.18 kg) was similar, being 2.8% LW. However, chewing number of OC (133808 chews/d) was higher than that of LC (106353 chews/d). Chewing for eating and for rumination in OC (86995 and 46813 chews) was higher than of LC (67628 and 38725 chews). Chewing efficiency for eating in OC (0.041 g DMI/chew) was lower than that of LC (0.066 g DMI/chew). Similar tendency was observed in chewing efficiency for rumination that OC (0.080 g DMI/chew) was lower than that of LC (0.109 g DMI/chew). The conclusion is LC has a better chewing efficiency than of OC and it was pointed to different jaw size between OC and LC. Key words: Chewing, Ongole, Limousi
Tingkah Laku Makan Sapi Madura Jantan yang Diberi Pakan dengan Level Berbeda (Eating Behaviour of Madura Catlle with Different Feeding Level).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan sapi Madura jantan yang diberi pakan dengan level (kuantitas) yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2013 di kandang Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
Materi yang digunakan adalah 12 ekor sapi madura jantan umur 1,5-2 tahun dan bobot awal 128-165 kg, dengan rata-rata 143,41 kg ± 10,21 kg (CV=7,11%). Pakan yang diberikan rumput gajah sebanyak 30% dan konsentrat 70% yang terdiri dari bekatul, Wheat pollard gandum, bungkil kedelai dan gaplek dengan kandungan PK 13% dan TDN 58,86%. Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Dengan perlakuan (T1 level 1,8% BK; T2 level 2,7% BK; T3 level 3,6% BK) dari bobot badan. Parameter yang diamati yaitu waktu makan, ruminasi, berdiri, berbaring dan jumlah kunyah. Parameter pendukung yang lain yaitu konsumsi BK pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), frekuensi minum, urinasi, defekasi dan bobot feses. Data hasil penelitian diolah dengan uji F. Jika terdapat perbedaan yang signifikan, dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test.
Hasil penelitian menunjukkan konsumsi BK total berbeda sangat nyata (P0,05). Kesimpulan dari penelitian ini dapat diketahui adanya perbedaan nyata pada tingkah laku makan sapi Madura jantan yang diberi pakan dengan level berbeda. Perlakuan T2 menunujukkan hasil yang paling baik.
vi
KATA PENGANTAR
Sapi Madura merupakan plasma nutfah lokal Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan. Produktivitas ternak dipengaruhi oleh pakan. Pemberian pakan dapat diberikan dengan level yang berbeda tergantung kebutuhan dan fase pertumbuhan ternak. Jumlah pakan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi tingkah laku makan sapi.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayat-Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini ditulis sebagai syarat untuk kelulusan pada Program Studi S1 Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Skripsi ini ditulis berdasarkan serangkaian kegiatan penelitian yang dilaksanakan di Kandang dan Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang pada bulan Juli-Oktober 2013.
Serangkaian kegiatan mulai dari penelitian sampai pada tahap penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik karena adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada Prof. Ir. Agung Purnomoadi, M.Sc., Ph.D. dan Ir. Sularno Dartosukarno sebagai dosen pembimbing yang telah memberika bimbingan, arahan, nasehat, dorongan semangat dan waktunya kepada penulis selama penelitian berlangsung dan sampai peyusunan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Sri Mulyani S.Pt., M.P. dan Agung Subrata S.Pt., M.P. selaku dosen wali yang telah memberikan nasihatnya dan bimbingan akademik selama ini. Penulis mengucapkan terimakasi
Pola Pertumbuhan dan Hubungan antara Ukuran-ukuran Tubuh dengan Bobot Badan Kambing Kacang Betina di Kabupaten Wonogiri
aaaaaaSuatu penelitian telah dilakukan pada bulan September 2013 - Januari 2014, berlokasi di 4 Kecamatan di Kabupaten Wonogiri, yaitu Kecamatan Giriwoyo, Batuwarno, Nguntoronadi dan Tirtomoyo. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pola pertumbuhan dan hubungan antara ukuran-ukuran tubuh dengan bobot badan serta memperoleh rumus penduga bobot badan kambing Kacang betina di Kabupaten Wonogiri.
aaaaaaMateri yang digunakan dalam penelitian ini adalah 150 ekor Kambing Kacang betina dalam kondisi tidak sedang bunting mulai umur 2 hari sampai Poel 4. Peralatan yang digunakan adalah tongkat ukur, mistar, pita ukur, karung, tali dan timbangan. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey, meliputi pengamatan lapangan dan wawancara dengan responden. Variabel yang diamati adalah ukuran-ukuran tubuh ternak meliputi tinggi pundak, tinggi pinggul, panjang badan, lebar dada, lebar pinggul, dalam dada dan lingkar dada, serta bobot badan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17 untuk menentukan koefisien korelasi (r), koefisien determinasi (R2) dan menentukan persamaan regresi sederhana sebagai persamaan penduga.
aaaaaaHasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ukuran-ukuran tubuh dan bobot badan kambing Kacang betina mengalami pertumbuhan maksimal antara umur 26-29,9 bulan, setelah itu pertumbuhan menjadi konstan. Terdapat hubungan yang erat antara ukuran-ukuran tubuh dengan bobot badan dengan tingkat keeratan yang sangat beragam. Nilai r hubungan antara lingkar dada, panjang badan, tinggi pundak, tinggi pinggul, dalam dada, lebar dada, dan lebar pinggul terhadap bobot badan berturut-turut adalah0,9607; 0,9159; 0,8966; 0,8955%; 0,8648; 0,8111; dan 0,8037. Rumus Arjodarmoko dapat diaplikasikan untuk menduga bobot badan kambing Kacang betina, sedangkan Rumus Schoorl dan Denmark kurang tepat untuk diaplikasikan. Rumus baru yang didapatkan mempunyai selisih rata-rata perhitungan terkecil antara bobot badan dugaan dengan bobot badan sebenarnya. Rumus baru penduga bobot badan kambing Kacang betina yang diusulkan adalah BB (kg) = [LD (cm) – 16]2 : 100.
aaaaaaSimpulan dari penelitian ini adalah ukuran tubuh dan bobot badan kambing Kacang betina mengalami pertumbuhan maksimal antara umur 26-29,9 bulan, namun pertambahan bobot badan lebih menyesuaikan dengan keadaan tubuh ternak. Lingkar dada mempunyai hubungan yang paling erat dengan bobot badan sehingga dapat digunakan untuk menduga bobot badan
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN B KOMPLEK TERHADAP PEMULIHAN FISIOLOGI, KONSUMSI PAKAN, DAN BOBOT BADAN KAMBING KACANG MUDA DAN DEWASA PASCA TRANSPORTASI
The research aimed to assess the effect of vitamin B complex to the physiological, feed intake, and body weight recovery in Kacang goat after being transported. The materials used were 16 male Kacang goats which were divided into two age groups namely young and mature. The experimental design used in this research was a nested design two phases with two age groups, and Vitamin B complex nested at each age group which was given the feed without (T0) and with vitamin B complex (T1). Parameters observed were physiologic (heart rate, frequency of breathing and body temperature), feed intake and body weight gain. The results during transportation showed that the heart rate of T0 sheep was higher than of T1 (109 vs 96.5 beat/min; P<0.05), but the frequency of breathing and body temperature was not different (P>0.05) as well as physiologically between young and adult goats (P<0.05). The day required for recovery of heart rate, frequency of breathing, body temperature and feed consumption between the treatments were not different (P>0.05) as well as at between young and adult goats (P>0.05). Similar results were found in the day required for recovery of body weight in the T0 and T1, as well as in young and adult goats (P>0.05). The conclusion could be drawn from this study were vitamin B complex could reduce stress levels, but did not affect the day required for physiological recovery, feed intake and body weight in Kacang goats after 7 hours transportation. Keywords: Transportation, stress, Kacang goat, age, vitamin B Complex, recovery
PENAMPILAN PRODUKSI SAPI PERANAKAN ONGOLE DAN SAPI PERANAKAN ONGOLE x LIMOUSIN YANG MENDAPAT PAKAN RUMPUT RAJA DAN AMPAS BIR (The Performances of Grade Ongole and Grade Ongole x Limousin Bulls Fed King Grass and Brewery By-product)
Suatu penelitian telah dilakukan untuk membandingkan penampilan produksi sapi Peranakan Ongole (PO) dan sapi hasil persilangan antara PO dengan Limousin (POL) jantan yang diberi pakan rumput Raja dan ampas bir. Sebanyak 4 ekor sapi PO (bobot I98,5±38,04 kg) dan 4 ekor sapi POL (bobot 248,8 ± 36,39 kg) diberi pakan rumput raja dan ampas bir dengan perbandingan 50:50. Jumlab bahan kering pakan yang diberikan adalah 3% dari bobot badan. Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, kecemaan pakan, pertambahan bobot badan (PBBH) dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bangsa sapi tersebut tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05) dalam parameter yang diamaati. Konsumsi BK pada sapi PO dan sapiPOL masing masing adalah yaitu 2,59 % dan 2,52 % dari bobot badan. Kecemaan pakan pada pada sapi PO dan sapi POL masing-masing adalah 50,98 dan 45,75 %. Sapi PO dan sapi POL masing masing mempunyai PBBH sebesar 0,74 dan 0,88 kg. Konversi pakan pada sapi PO dan sapi POL masing-masing adalah 8,49 dan 8,59. Simpulan yang diperoleh adalah bahwa sapi PO dan sapi POL jantan mempunyai kemampuan produksi yang hampir sama.
Kata kunci: Sapi Peranakan Ongole, Sapi Persilangan Peranakan Ongole x Limousin, rumput raja, ampas bir, penampilan produksi
ABSTRACT
An experiment was carried out to compare the performance of Grade Ongole (GO) and its crossing with Limousin (GL) bulls fed King grass and brewery by-product. Four GO (weighed: 198.50 ± 38.04 kg ) and four GL bulls (weighed: 248,84 ± 36,39 kg) were fed king grass and brewery by-product with ratio of 50:50. The amount of dry matter given was 3% of live weight. The parameters measured were feed intake, feed digestibility, liveweight gain (LWG) and feed conversion ratio (FCR). The results the two breed were not significantly different (P>0.05)in parameters measured. Dry matter intakes of GO dan GL were 2.59 and 2.52% of body weight, respectively. The dry matter digestibilities were 50.98 in GO and 45.75 in GL. Liveweight gains of-GO and GL were 0.74 and 0.88 kg/day, respectively. Feed conversion ratios in GO and GL were 8.49 and 8.59, respectively. It was concluded that GO and GL bulls had similar production performance
TINGKAH LAKU MAKAN DAN RUMINASI KAMBING KACANG YANG DIBERI PAKAN DENGAN SUMBER PROTEIN YANG BERBEDA
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni – Agustus 2015 di Kandang
Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan
Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. Penelitian dilakukan dengan tujuan
mengetahui tingkah laku makan dan ruminasi kambing Kacang yang diberi pakan
dengan sumber protein berbeda.
Materi penelitian yang digunakan adalah 12 ekor kambing Kacang jantan
berumur 1-1,5 tahun (poel 1) dengan bobot badan rata–rata 17,31 ± 1,55 kg (CV
= 8,98 %). Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap
(RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan T0 : rumput gajah dan
gliricidae, T1 : rumput gajah, gliricidae + konsentrat yang tersusun oleh wheat
bran, onggok dan tepung ikan dan T2 : rumput gajah, gliricidae + konsentrat yang
tersusun oleh wheat bran, onggok dan bungkil kedelai. Semua kambing perlakuan
diberi pakan ad libitum. Parameter yang diamati adalah konsumsi bahan kering
(BK), lama waktu makan, ruminasi, berdiri, berbaring, jumlah kunyah makan dan
ruminasi, frekuensi minum, urinasi dan defekasi serta bobot feses. Pengambilan
data tingkah laku makan dilakukan pada minggu ke-10 selama 2 x 24 jam. Data
makan dan ruminasi diambil dengan 2 cara yaitu manual dengan mengisi form
dan menggunakan Chewing Recorder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sumber protein yang
berbeda menyebabkan konsumsi bahan kering (BK) berbeda nyata (P<0,05) yaitu
344,99; 671,38; 739,13 g/hari. Waktu makan berbeda nyata (P<0,05) yaitu
270,63; 423,13; 380,63 menit/hari. Waktu ruminasi tidak berbeda nyata dengan
rata-rata 613,96 menit/hari. Kecepatan makan tidak tidak berbeda nyata dengan
rata-rata 1,6 g/menit. Kecepatan ruminasi berbeda nyata (P<0,05) yaitu 0,50; 1,19;
1,25 g/menit. Jumlah kunyah makan dan ruminasi tidak berbeda nyata dengan
rata-rata 10.599 dan 23.767 kunyah/hari. Kecepatan kunyah makan dan ruminasi
tidak berbeda nyata dengan rata-rata yaitu 28,96 dan 37,89 kali/menit. Efisiensi
kunyah makan tidak tidak berbeda nyata dengan rata-rata 0,06 g/kunyah. Efisiensi
kunyah ruminasi berbeda nyata (P<0,05) yaitu 0,01; 0,03; 0,03 g/kunyah. Waktu
berdiri berbeda nyata (P<0,05) yaitu 473,75; 735,63; 575,63 menit/hari. Waktu
berbaring berbeda nyata (P<0,05) yaitu 966,25; 704,37; 864,73 menit/hari.
Simpulan yang diperoleh adalah pemberian pakan dengan sumber protein yang
berbeda mempengaruhi konsumsi bahan kering (BK), waktu makan, kecepatan
dan efisiensi ruminasi serta aktivitas berdiri dan berbaring total. Pemberian pakan
sumber protein hewani maupun nabati menunjukkan hasil yang sama dilihat dari
tingkah laku makan dan ruminasinya
TINGKAH LAKU MENYUSU CEMPE UMUR KURANG DARI 3 BULAN DI KABUPATEN WONOSOBO
Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkah laku menyusu dan makan
cempe pada umur, jenis kelamin dan tipe kelahiran yang berbeda untuk
meningkatkan produktivitasnya. Penelitian dilaksanakan di KTT Rimba Berkarya,
Desa Suren Gede, Kabupaten Wonosobo pada bulan Desember 2014 – Agustus
2015.
Materi yang digunakan adalah 33 ekor cempe Dombos jenis kelamin
jantan dan betina yang berumur kurang dari 3 bulan (tipe kelahiran tunggal,
kembar dua dan tiga). Data yang diperoleh digunakan untuk mencari hubungan
keeratan antara umur dengan tingkah laku menyusu, makan dan PBB, jenis
kelamin dengan tingkah laku menyusu, makan dan PBB dan tipe kelahiran dengan
tingkah laku menyusu, makan dan PBB menggunakan analisis korelasi kuadratik
dan linier sederhana. Parameter yang diamatin meliputi tingkah laku menyusu,
lama makan dan produktivitas cempe.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas menyusu semakin menurun
seiring bertambahnya umur, kecuali pada aktivitas berlutut dan mencari puting
meningkat. Secara keseluruhan tingkah laku menyusu pada jenis kelamin jantan
memiliki frekuensi dan lama lebih tinggi dibandingkan dengan betina. Frekuensi
dan lama menyusu cempe pada kelahiran kembar tiga memiliki aktivitas dan lama
yang lebih tinggi daripada cempe dengan kelahiran tunggal maupun kembar dua,
tetapi aktivitas mencari puting, menyundul ambing dan berlutut cempe kelahiran
kembar tiga memiliki frekuensi paling rendah. Menurunnya aktivitas menyusu
cempe seiring bertambahnya umur dikarenakan cempe sudah mengkonsumsi
pakan. Hasil korelasi antara umur dengan lama makan memiliki korelasi positif
dengan keeratan yang kuat, dimana seiring bertambahnya umur maka lama makan
meningkat. Cempe akan mengkonsumsi pakan hijauan atau konsentrat lebih dini
apabila nutrisi dari air susu induk tidak memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini
dibuktikan pada lama makan pada jantan lebih tinggi dari betina dan kembar tiga
lebih tinggi dibandingkan tunggal atau kembar dua. Pertambahan bobot badan
menunjukkan produktivitas ternak. Minggu awal bobot badan akan meningkat dan
akan mengalami penurunan mulai minggu ke-6 dan seterusnya, jantan memiliki
PBB lebih tinggi dibanding betina dan tipe kelahiran tunggal memiliki PBB
tertinggi daripada kembar dua atau tiga.
Simpulan dari penelitian ini adalah aktivitas menyusu diawali naluri
belajar menyusu. Semakin bertambahnya umur cempe maka aktivitas menyusu
menurun, sebaliknya aktivitas makan meningkat. Jenis kelamin jantan secara
keseluruhan memiliki aktivitas menyusu, makan dan PBB lebih tinggi
dibandingkan dengan betina dan tipe kelahiran mempengaruhi frekuensi dan lama
menyusu
Pengaruh Pemuasaan Sebelum Transportasi terhadap Penyusutan Bobot Hidup dan Lama Pemulihan Pakan pada Sapi Madura
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Juli sampai 28 Juli 2013 di dua tempat, Pamekasan Madura dan Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Semarang. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi dampak dari pemuasaan pada penyusutan bobot hidup sapi Madura, serta lama pemulihan konsumsi akibat transportasi.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12 ekor sapi Madura jantan berumur dua tahun dengan berat badan rata-rata dari 142,6 kg ± 10,42 kg (CV=7,31%) ditransportasi selama 17-jam dari Pamekasan, Madura ke Semarang, (Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro), Jawa Tengah. Ternak dibagi menjadi dua kelompok perlakuan (masing-masing 6 ekor) mengikuti desain eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pertama, ternak tidak dipuasakan (T0), sedangkan pada perlakuan kedua, sapi dipuasakan 24 jam sebelum transportasi (T1).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa susut bobot badan pada sapi yang tidak dipuasakan (T0 = 3,68%) lebih tinggi (P > 0,05) dibandingkan sapi yang dipuasakan (T1 = 1,44%). Namun, pemulihan konsumsi pakan pada sapi yang tidak dipuasakan (T0 = 4 hari) lebih panjang daripada sapi yang dipuasakan (T1 = 3 hari). Detak jantung dan frekuensi nafas sapi Madura sebelum dan saat transportasi berbeda sangat nyata (p0,05). Konsumsi pakan T0 dan T1 saat pemulihan tidak berbeda nyata (p<0,05). Lama pemulihan berdasarkan kemampuan PBBH tidak berbeda nyata (P<0,05)
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa susut bobot hidup, sapi Madura dengan perlakuan pemuasaan 24 jam sebelum transportasi lebih kecil dibandingkan sapi yang tidak dipuasakan. Lama pemulihan sapi dengan perlakuan pemuasaan lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak dipuasakan.
Kata Kunci: Sapi Madura, Pemuasaan, Transportasi, Penyusutan bobot badan, Fisiologi
- …
