113 research outputs found
Peningkatan Kemampuan Mikrob Pelarut Fosfat dan Kalium Melalui Mutasi Radiasi Sinar Gamma Co-60.
Fosfat merupakan unsur hara esensial yang berperan penting dalam
fotosintesis dan perkembangan akar. Fosfat tidak dapat dimanfaatkan secara
maksimal oleh tanaman karena berada dalam bentuk fosfat terikat di dalam tanah.
Selain fosfat kalium juga memegang peranan penting bagi tanaman. Kalium (K)
merupakan makronutrien utama ketiga untuk pertumbuhan tanaman. Penelitian
yang telah banyak dilakukan lebih fokus terhadap isolasi serta pengujian
kemampuan mikrob pelarut fosfat dan kalium, namun penelitian terkait usaha
meningkatkan kemampuan mikrob pelarut fosfat dan kalium tersebut jarang
dilakukan. Radiasi sinar gamma Co-60 merupakan salah satu alternatif untuk
memicu mutasi yang dapat menginduksi peningkatan kemampuan mikrob pelarut
fosfat dan kalium. Penelitian ini terdiri atas dua tujuan. Tujuan pertama adalah
mempelajari pengaruh radiasi sinar gamma Co-60 terhadap mikrob pelarut fosfat
dan kalium. Tujuan kedua adalah mempelajari perubahan kemampuan mutan
mikrob dalam melarutkan fosfat dan kalium serta perubahan pada tingkat
molekuler yang terjadi akibat mutasi radiasi sinar gamma Co-60.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanah, Fakultas
Pertanian IPB; IPB Culture Collection, Fakultas MIPA IPB; Pusat Aplikasi dan
Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional
(PAIR BATAN). Penelitian dilaksanakan dari bulan September 2016 sampai
dengan Mei 2017. Penelitian terdiri dari beberapa tahap yaitu, radiasi mikrob
menggunakan sinar gamma Co-60 dengan dosis 0 kGy; 1 kGy; 2,5 kGy; 5 kGy;
7,5 kGy; 10 kGy; 15 kGy, uji kemampuan mikrob pelarut fosfat dan kalium
setelah radiasi serta uji pada tingkat molekuler untuk melihat perubahan yang
terjadi akibat mutasi radiasi sinar gamma cobalt 60.
Radiasi sinar gamma Co-60 dengan dosis 1; 2,5; 5; 7,5; 10; 15 kGy
memberikan pengaruh terhadap populasi dan morfologi mikrob pelarut fosfat dan
kalium. Berdasarkan hasil isolasi isolat BPK 5 dan FPF 4 setelah radiasi,
diperoleh hasil populasi tertinggi pada kontrol, sedangkan populasi terendah pada
dosis 15 kGy. Berdasarkan morfologi beberapa isolat juga menunjukan perubahan
dari ukuran, bentuk dan warna. Kemampuan tertinggi isolat BPK 5 dalam
melarutkan fosfat dan kalium didapatkan pada pada dosis 7,5 kGy. Pada
pengukuran P terlarut dosis 1; 2,5; 5; 10; 15 kGy menyebabkan penurunan P
tersedia, sedangkan pada hasil pengukuran kalium terlarut semua dosis, kisaran 1
kGy - 15 kGy meningkatkan jumlah kalium tersedia. Kemampauan tertinggi isolat
FPF 4 dalam melarutkan fosfat didapatkan pada dosis 2,5 kGy. Pada pengukuran
P terlarut kisaran dosis 1 - 2,5 kGy mampu meningkat jumlah P tersedia,
sedangkan dosis 5; 7,5; 10; 15 kGy menurukan jumlah P tersedia. Pada
pengukuran kalium terlarut, hasil tertinggi didapatkan pada dosis 15 kGy,
sedangkan pada kisaran dosis 0-10 kGy, terjadi penurunan jumlah kalium tersedia.
Pada uji tingkat molekuler terjadi perubahan pada sekuen mutan bakteri dan fungi
yang diindikasikan dengan terjadinya substitusi basa, delesi dan insersi.
Persentase mutasi tertinggi pada mutan bakteri (isolat 1 dosis 7,5 kGy) terjadi
pada substistusi basa yaitu transisi adenin menjadi guanin dengan persentase
9,92 % Pada mutan fungi (isolat 1 dosis 2,5 kGy) mutasi tertinggi terjadi pada
substitusi basa, yaitu transisi timin menjadi sitosin sebesar 11,72 %
Penggunaan sterilisasi iradiasi Sinar Gamma Co-60 dan Mesin Berkas Elektron pada viabilitas inokulan dalam bahan pembawa (kompos dan gambut)
Carrier material is very important role to decide the quality of biological fertilizer. The carrier consist of high amount of indigenous microbes about 106 cell/gram carrier even more. Therefore, sterilization of carrier material either for kill or reduce the amount of indigenous microbe is the absolutely thing to do. There are several factors in carrier sterilization, such as sterilization activity, sterilization cost, and sterilization process effect of carrier type. This research used some of sterilization methods, there were Gamma Ray Irradiation C0-60 method and Electron Beam Machine (EBM) method at 50 kGy. Both of them are compared with autoclave method which is conventional method at temperate 121oC for one hour on two days in a row. The carriers that used in this research were compost product of BATAN and peat from South Kalimantan. in testing the ability of inoculants survival (Azotobacter, Azospirillum, Phosphate Solublizing Fungi), they are added in the sterilized carriers and they are saved at 20oC. and then we do counting the inoculants population periodicly until ten weeks. Gamma Ray Irradiation Co-60, Electron Beam Machine, and autoclave the same method to kill indigenous microbes. Whereas from inoculant viability tests, The Effect of Gamma Ray Irradiation Co-60 and Electron Beam Machine to carriers is better than autoclave because this method only give good effect to carrier (peat) less than six weeks, where contaminant will not found visually. On the other hand the Gamma Ray Irradiation Co-60 and Electron Beam Machine carriers still have good condition until ten weeks
Monarch Diet Flight Data
Data to accompany Larval diet impacts flight performance in monarch butterflies from two populations by
(Article DOI: 10.1111/een.13255)
by
Ali Ebada1, Jacobus C. de Roode1, Ania A. Majewska2
Institutional affiliations:
1 Department of Biology, Emory University, Atlanta, GA 30322, USA
2 Department of Physiology and Pharmacology, College of Veterinary Medicine, University of Georgia, Athens, GA 30602, USA
Corresponding author: Ania A. Majewska ([email protected]).
Each row represents an individual monarch. Flight metrics are aggregate values for a successful flight. </p
Perbaikan Kemampuan Mikrob Multifungsi Pelarut Fosfor dan Kalium (Aspergillus costaricaensis dan Staphylococcus pasteuri) menggunakan Iradiasi Gamma
Pupuk hayati merupakan salah satu faktor penting dalam perbaikan kualitas tanah. Pupuk hayati dapat meningkatkan ketersediaan hara tanaman seperti nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Iradiasi gamma merupakan salah satu alternatif untuk menginduksi perbaikan kemampuan mikrob. Mutu pupuk hayati ditentukan oleh beberapa faktor, pertama adalah keefektifan mikrob yang digunakan dalam meningkatkan ketersediaan hara seperti hara P dan K. Kedua, bahan pembawa yang mampu menjaga populasi mikrob selama penyimpanan, sebelum inokulan tersebut digunakan. Ketiga, keefektifan mikrob yang digunakan saat pengujian di rumah kaca. Keempat, keefektifan mikrob yang digunakan saat pengujian di lapang. Pada penelitian ini digunakan mikrob yang memiliki kemampuan melarutkan P dan K yaitu Aspergillus costaricaensis (A. costaricaensis) dan Staphylococcus pasteuri (S. pasteuri)
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengkaji kemampuan mikrob multifungsi pelarut P dan K (A. costaricaensis dan S. pasteuri) yang telah diiradiasi gamma, (2) mengkaji viabilitas A. costaricaensis dan S. pasteuri pada bahan pembawa gambut dan arang sekam, (3) mengkaji efektivitas A. costaricaensis dan S. pasteuri terhadap pertumbuhan jagung di rumah kaca, (4) mengkaji efektivitas mutan A. costaricaensis dan S. pasteuri terhadap pertumbuhan jagung di lapang.
Mikrob yang digunakan pada penelitian ini merupakan koleksi mikrob tanah pelarut P dan K Laboratorium Bioteknologi Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University. Mikrob tersebut adalah induk dan mutan bakteri S. pasteuri serta induk dan mutan fungi A. costaricaensis. Percobaan pertama, yaitu pengujian kemampuan mikrob multifungi pelarut P dan K (A. costaricaensis dan S. pasteuri) sebelum dan sesudah penyimpanan. Pada percobaan pertama ini juga dilakukan analisis asam organik yang dihasilkan oleh mikrob tersebut dalam melarutkan P dan K. Percobaan tahap kedua, yaitu pengujian viabilitas A. costaricaensis dan S. pasteuri pada bahan pembawa gambut (gambut dari Rawa Pening) dan arang sekam. Penghitungan total populasi mikrob dilakukan dengan metode Total Plate Count (TPC) pada media spesifik Pikovskaya dan Alexandrov. Percobaan ketiga, yaitu pengujian efektivitas A. costaricaensis dan S. pasteuri pada pertumbuhan jagung di rumah kaca. Adapun parameter yang diukur yaitu tinggi, berat kering akar dan tajuk, P tersedia tanah, K-dd tanah, kadar hara P dan K, serta populasi mikrob di rizosfer jagung. Percobaan keempat yaitu pengujian efektivitas mutan A. costaricaensis dan S. pasteuri terhadap pertumbuhan jagung di lapang. Adapun parameter yang diukur yaitu tinggi, berat kering akar, berat kering tajuk, P tersedia tanah dan K-dd tanah. Percobaan pertama menunjukkan perbaikan kemampuan A. costaricaensis yang telah diiradiasi gamma dalam melarutkan P dan perbaikan kemampuan S.
pasteuri yang telah diiradiasi gamma dalam melarutkan P dan K. Mutan A. costaricaensis 2,5 (dosis iradiasi 2,5 kGy) mampu meningkatkan kelarutan P (Ca3(PO4)2) tertinggi mencapai 202,2 ppm P pada pengujian setelah penyimpanan. Mutan S. pasteuri 2,5 (dosis iradiasi 2,5 kGy) mampu meningkatkan kelarutan P (Ca3(PO4)2) sebesar 2,2 ppm P pada pengujian setelah penyimpanan. Mutan S. pasteuri 2,5 juga menunjukkan peningkatan kelarutan K (feldspar) tertinggi sebesar 5 ppm pada pengujian sebelum penyimpanan. Perbaikan kemampuan mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri ini didukung oleh kemampuan mikrob tersebut dalam menghasilkan asam organik. Mutan A. costaricaensis 2,5 menghasilkan asam asetat, laktat, sitrat, malat dan oksalat dengan jumlah total asam organik yang dihasilkan sebesar 3,79 ppm. Mutan S. pasteuri menghasilkan asam asetat, laktat, sitrat dan oksalat dengan jumlah total asam organik yang dhasilkan sebesar 4,3 ppm. Iradiasi gamma memicu mutasi yang dapat menyebabkan terjadinya variasi genetik. Variasi genetik berperan penting dalam proses adaptasi. Dalam hal ini mutasi akan mempengaruhi kemampuan adaptasi mikrob mutan dalam melarutkan P dan K yang sukar larut.
Hasil percobaan kedua menunjukkan bahan pembawa gambut mampu mempertahankan populasi mikrob induk dan mutan (A. costaricaensis dan S. pasteuri) lebih stabil dibandingkan dengan bahan pembawa arang sekam selama enam minggu penyimpanan. Hasil penghitungan populasi fungi A. costaricaensis menunjukkan bahwa bahan pembawa gambut mampu mempertahankan viabilitas fungi sampai dengan log 6,78 (6,15 x 106 CFU/g). Populasi bakteri S. pasteuri pada bahan pembawa gambut mampu dipertahankan sampai dengan log 8,17 (1,48 x 108 CFU/g). Hasil percobaan ketiga menunjukkan inokulasi S. pasteuri dan A. costaricaensis (induk dan mutan) menunjukkan efek yang positif terhadap pertumbuhan jagung. Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pengukuran parameter tinggi (152,4 cm), berat kering tajuk (78 g), K tanaman (1,33%) serta populasi mikrob tanah pada medium Pikovskaya (6,69 x 106 CFU/g) menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan dengan inokulasi mutan A. costaricaensis 2,5. Pengukuran pada parameter K-dd tanah (53,90 ppm), kadar P tanaman (0,50%) dan populasi mikrob tanah pada medium Alexandrov (6,03 x 106 CFU/g) menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan dengan inokulasi mutan S. pasteuri 2,5. Aplikasi isolat mutan mampu melarutkan P dan K di tanah, sehingga meningkatkan ketersediaan hara P dan K serta kadar hara P dan K yang berkaitan dengan peningkatan berat kering akar dan tajuk. Hasil percobaan keempat menunjukkan inokulasi mutan mikrob mampu mereduksi penggunaan pupuk P dan K sampai dengan 50%. Hasil ini ditunjukkan pada perlakuan P10 (kombinasi batuan P dan KCl (dosis 50%) dengan mutan A. costaricaensis 2,5) dan perlakuan P6 (kombinasi batuan P dan feldspar (dosis 50%) dengan mutan A. costaricaensis 2,5). Perlakuan P10 dan P6 menghasilkan berat kering tajuk secara berurutan sebesar 38,10 g dan 34,77 g. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan berat kering tajuk pada kontrol. Berat kering tajuk yang dihasilkan oleh kontrol P3 ( kombinasi batuan P dan KCl (dosis 100%) dan P1 (kombinasi batuan P dan feldspar (dosis 100%)) secara berurutan yaitu 29,19 g dan 15,63 g. Perlakuan P10 dan P6 juga menunjukkan berat kering tajuk yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan P4 (31,21 g) yang menggunakan sumber pupuk P dan K mudah larut (kombinasi pupuk SP36 dan KCl dosis 100%).
Kesimpulan umum yang dihasilkan dalam serangkaian percobaan ini adalah fungi (A. costaricaensis) yang telah diiradiasi gamma dengan dosis 2,5 kGy mengalami perbaikan kemampuan dalam melarutkan P. Bakteri (S. pasteuri) yang telah diiradiasi gamma dengan dosis 2,5 kGy mengalami perbaikan kemampuan dalam melarutkan P dan K. Perbaikan kemampuan mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri 2,5 ini didukung oleh kemampuan mikrob tersebut dalam menghasilkan asam asetat yang lebih tinggi dibandingkan dengan isolat induk. Bahan pembawa gambut Rawa Pening mampu mempertahankan populasi A. costaricaensis dan S. pasteuri lebih stabil dibandingkan arang sekam. Mikrob multifungsi P dan K (A. costaricaensis dan S. pasteuri) menunjukkan efek positif terhadap pertumbuhan jagung di rumah kaca. Kadar K tanaman, tinggi tanaman, berat kering tajuk serta populasi mikrob pada medium Pikovskaya menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan dengan inokulasi mutan A. costaricaensis 2,5. P tanaman, K-dd tanah serta populasi mikrob pada medium Alexandrov menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan dengan inokulasi mutan S. pasteuri. Inokulasi mutan A. costaricaensis 2,5 dan S. pasteuri 2,5 pada percobaan lapang mereduksi penggunaan pupuk P dan K sampai dengan 50% pada perlakuan kombinasi antara sumber P atau K mudah larut dengan sumber P atau K sukar larut, maupun kombinasi perlakuan sumber P dan K sukar larut (dosis 50%). Berat kering tajuk, tinggi tanaman serta P tersedia tanah menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan inokulasi mutan A. costaricaensis 2,5. Berdasarkan hasil yang didapatkan pada penelitian ini ada beberapa hal yang dapat direkomendasikan, pertama, yaitu metode peningkatan kemampuan mikrob multifungsi pelarut P dan K (A. costaricaensis dan S. pasteuri) dengan iradiasi gamma dosis 2,5 kGy. Kedua, yaitu penggunaan bahan pembawa gambut Rawa Pening untuk menjaga kestabilan populasi A. costaricaensis dan S. pasteuri. Ketiga yaitu, aplikasi mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri 2,5 dikombinasikan dengan sumber P dan K sukar larut seperti batuan P maupun batuan K untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Keempat yaitu, aplikasi mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri 2,5 dengan kombinasi antara pupuk anorganik yang mudah larut dengan pupuk P atau K organik yang sukar larut. Kelima yaitu, aplikasi mutan A. costaricaensis 2,5 dan mutan S. pasteuri 2,5 untuk melarutkan P dan K pada tanah yang mengandung sumber P dan K yang tinggi, namun dalam kondisi tidak tersedia
Perunutan Serapan Fosfor (P) Tanaman Sorgum Berasal dari 2 Jenis Pupuk yang Berbeda Menggunakan Teknik Isotop (32P)
Seberapa besar tanaman menyerap hara fosfor (P) yang berasal dari pupuk dapat diketahui dengan teknik perunutan menggunakan isotop 32P. Informasi ini memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai mekanisme penyerapan P oleh tanaman, sehingga dapat bermanfaat untuk menentukan pengelolaan pemupukan yang tepat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya serapan P tanaman sorgum berasal dari dua jenis pupuk P yang berbeda. Serapan P dirunut menggunakan isotop 32P metode tidak langsung. Pupuk P yang diuji pada penelitian ini yaitu pupuk P kimia sintetis (SP-36) dan pupuk P alami berasal dari fosfat alam yang ditingkatkan kelarutannya menggunakan pendekatan biologis (Eco-Fos). Percobaan pot dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah pemupukan SP-36 dengan dosis 20 ppm P (P 25%), 40 ppm P (P 50%), 60 ppm P (P 75%) dan 80 ppm P (P 100%) serta pemupukan Eco-Fos dengan dosis 80 ppm P. Perlakuan tanpa pemupukan P dijadikan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar P yang diserap tanaman sorgum umur 46 hari setelah tanam (HST) berasal dari tanah. Pada perlakuan SP-36, sebanyak 5.7%-45.7% serapan P berasal dari pupuk dan 54.3%-94.3% lainnya berasal dari tanah. Serapan P dari perlakuan pupuk Eco-Fos adalah 24.7% dan 75.3% lainnya berasal dari tanah. Perlakuan SP-36 dosis tertinggi (80 ppm P) menyumbang P terbesar bagi tanaman, secara statistik berbeda nyata dengan perlakuan lainnya kecuali perlakuan SP-36 dosis 60 ppm P. Sumbangan P dari SP-36 dan Eco-Fos tersebut secara statistik tidak mampu meningkatkan berat kering tanaman sorgum
The lived experience of recovery: The role of health work in addressing the social determinants of mental health
Recovery is a policy framework for mental health in Canada. Key challenges to the integration of recovery include a gap in knowledge about the work that people do to promote their health and well-being in the context of living with mental ill health. This study used Photovoice to explore the lived realities of people living with mental ill health and the impact of the social determinants on their recovery process. Findings from this study inform policy and practice on promoting health work as an important dimension of recovery and community inclusion. [ABSTRACT FROM AUTHOR]Peer reviewedFinal article publishedPhotovoicecommunity inclusionMental Healthsocial determinants of healthrecoveryhealth wor
Dinamika Fosfat Pada Aplikasi Kompos Jerami-Biochar dan Pemupukan Fosfat Pada Tanah Sawah
Produktivitas tanah ditentukan oleh karakteristik tanah, yang terdiri dari sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Keterkaitan di antara ketiga sifat tersebut dapat diwakili oleh satu indikator yaitu kandungan karbon dalam tanah.Salah satu dampak dari pemenuhan kebutuhan bahan organik tanah adalah terpenuhinya kebutuhan unsur hara, terutama hara utama yang menjadi pembatas pada pertanaman padi sawah. Dalam hal ini unsur hara P menjadi faktor pembatas, karena seringkali berada dalam jumlah berlimpah namun dalam bentuk yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Percobaan dilakukan dengan tujuan mempelajari dampak aplikasi bahan organik kompos jerami yang diintegrasikan dengan Biochar, terhadap ketersediaan hara P pada tanah sawah. Interaksi kompos jerami+Biochar dengan inokulan BPF dan sumber-sumber P menjadi rancangan perlakuan yang diujikan dalam percobaan. Disain percobaan menerapkan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial, menetapkan dosis aplikasi kompos jerami+Biochar sebagai taraf pertama yang terdiri dari 5 taraf level : 0; 1; 2; 3; 4 t ha-1. Faktor kedua adalah sumber P, yang terdiri dari 5 taraf level : tanpa fosfat (p0); 100 kg ha-1 pupuk SP-36 (p1); fosfat alam pada dosis 163 kg ha-1 (p2); inokulan BPF pada dosis 2 kg ha-1 (p3); dan fosfat alam berinokulan BPF (p4). Percobaan dilaksanakan di rumah kaca kebun percobaan PAIR – BATAN, Jakarta, pada bulan Maret 2014. Dinamika P akibat perlakuan yang diujikan, digambarkan dari hasil penelusuran menggunakan radioisotop 32P aktivitas 30 mCi melalui serapan P pada tanaman padi varietas Sidenuk. Hasil percobaan menunjukkan perlakuan yang diberikan menyebabkan perbedaan signifikan pada respons kandungan C-organik tanah, jumlah populasi BPF, cacahan 32P tanaman dan serapan P dari berbagai sumber di dalam tanaman padi
Teknik Nuklir untuk Penelitian Hubungan Tanah Tanaman : Perhitungan dan Interpretasi Data
iii.130 hal.;21 c
Perunutan Serapan Fosfor (P) Tanaman Sorgum Berasal dari 2 Jenis Pupuk yang Berbeda Menggunakan Teknik Isotop (32P)
Seberapa besar tanaman menyerap hara fosfor (P) yang berasal dari pupuk dapat diketahui dengan teknik perunutan menggunakan isotop 32P. Informasi ini memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai mekanisme penyerapan P oleh tanaman, sehingga dapat bermanfaat untuk menentukan pengelolaan pemupukan yang tepat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya serapan P tanaman sorgum berasal dari dua jenis pupuk P yang berbeda. Serapan P dirunut menggunakan isotop 32P metode tidak langsung. Pupuk P yang diuji pada penelitian ini yaitu pupuk P kimia sintetis (SP-36) dan pupuk P alami berasal dari fosfat alam yang ditingkatkan kelarutannya menggunakan pendekatan biologis (Eco-Fos). Percobaan pot dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah pemupukan SP-36 dengan dosis 20 ppm P (P 25%), 40 ppm P (P 50%), 60 ppm P (P 75%) dan 80 ppm P (P 100%) serta pemupukan Eco-Fos dengan dosis 80 ppm P. Perlakuan tanpa pemupukan P dijadikan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar P yang diserap tanaman sorgum umur 46 hari setelah tanam (HST) berasal dari tanah. Pada perlakuan SP-36, sebanyak 5.7%-45.7% serapan P berasal dari pupuk dan 54.3%-94.3% lainnya berasal dari tanah. Serapan P dari perlakuan pupuk Eco-Fos adalah 24.7% dan 75.3% lainnya berasal dari tanah. Perlakuan SP-36 dosis tertinggi (80 ppm P) menyumbang P terbesar bagi tanaman, secara statistik berbeda nyata dengan perlakuan lainnya kecuali perlakuan SP-36 dosis 60 ppm P. Sumbangan P dari SP-36 dan Eco-Fos tersebut secara statistik tidak mampu meningkatkan berat kering tanaman sorgum
USING THE N-15 METHOD TO DETERMINE N-SOIL, N-GREEN MANURE, AND N-UREA AVAILABILITY AFTER SIX SEASONS IN AN ALLEY CROPPING SYSTEM
Nitrogen (N) is the most important nutrient for crop growth and production. This study was conducted to determine whether in each of six seasons and after these seasons the N-soil, N-green manure, N-green manure + urea, and N-urea is still available for crops. Upland rice and corn were planted successively for six seasons. In each season upland rice and corn were planted andapplied with N-fertilizers at rate of: control (0N), N1 (100% green manure), N2 (50% green manure + 50% urea), N3 (100% urea). N-15 labelled urea was added at each season to determine the A-value of the crops. In each seasons it was shown that crops used N-soil as well as N-fertilizer. With the increase of the availability of N-fertilizers the use of N-soil decrease and so couldpreserve N-soil. With preservation of N-soil it could be assumed that soil quality has increased. The N-15 method could be used to determine the availability at each fertilizer rate’s in each season and at the end of the sixth season
- …
