1,721,013 research outputs found

    Regional Document on Gender Integration in the Fisheries Workplace

    Get PDF
    This regional document includes a compilation of gender-related policies and legal frameworks across ASEAN member countries, and reflects the experiences and lessons of contributors in fisheries workplaces operating across Southeast Asia and the Coral Triangle region. Between 2017 and 2020, this regional technical guidance document on the integration of gender within fisheries workplaces within fishery supply chains was collaboratively developed between USAID Oceans, the Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC), Coral Triangle Initiative for Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) Women Leaders’ Forum (WLF), and SEAFDEC/CTI-CFF member country representatives from the USAID Oceans Human Welfare and Gender Equality (HWGE) Technical Working Group. This document is available for the use of SEAFDEC and CTI-CFF member countries, including governmental and non-governmental staff and technical personnel as a reference to ensure that gender aspects are appropriately integrated into fisheries and coastal resource management

    Implementasi Blue Economy di Indonesia Melalui Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, And Food Security (Cti - Cff)

    Get PDF
    Indonesia sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia dengan kurang lebih 17.000 pulau, memiliki jutaan terumbu karang, ikan, dan biota laut lainnya. Dengan keanekaragaman lautnya, Indonesia mampu memanfaatkan alamnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Sayangnya, pemanfaatan sumber daya laut kerap kali dilakukan dengan tidak memperhatikan kelestarian keragaman hayati. Sehingga, hal tersebut dapat ditangani melalui Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI - CFF) yang merupakan inisiatif multilateral dari Indonesia pada tahun 2006. Oleh karena itu tulisan ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana Indonesia mengimplementasikan Blue Economy dengan memanfaatkan sumber daya terbarukan biota laut melalui CTI-CFF. Hal tersebut berkaitan dengan pendekatan konsep Blue Economy yang diperkuat dengan model ekonomi berkelanjutan dengan energi terbarukan, ecotourism, dan sustainable fisheries. Metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif digunakan pada tulisan ini. Dengan demikian, CTI - CFF menjadi strategi bagi Indonesia untuk melaksanakan Blue Economy yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya alam kelautan tanpa menyampingkan kelestarian alam. Sesuai dengan komitmen CTI - CFF pada Blue Economy dan pembangunan berkelanjutan yang dimulai pada tahun 2012 di sela Konferensi PBB dalam agenda pembangunan berkelanjutan (Rio+20), serta CTI - CFF pun mampu menjadi sarana yang mengimplementasikan Blue Economy di bidang ekonomi dan lingkungan.Kata Kunci: CTI-CFF, Blue Economy, Model Ekonomi Berkelanjutan-Energi Terbarukan, Ecotourism, Sustainable Fisherie

    UPAYA INDONESIA DALAM MELINDUNGI SPESIES TERANCAM MELALUI KERJA SAMA CORAL TRIANGLE INITIATIVE ON CORAL REEFS, FISHERIES, AND FOOD SECURITY (CTI-CFF)

    No full text
    The formation of the CTI-CFF cooperation is driven by the awareness that the coral triangle region is the center of the world's marine biodiversity and must be preserved through collective efforts. This initiative involves six countries: Indonesia, Timor Leste, Papua New Guinea, Solomon Islands, the Philippines, and Malaysia, collectively known as the Coral Triangle 6 (CT6). All National Plans of Action (NPoA) from CT6 countries refer to the agreed-upon Regional Plan of Action (RPoA) of the CTI-CFF to achieve common goals, one of which includes the protection of threatened species. This represents a collaborative approach by the CTI-CFF where common goals are achieved through different national actions tailored to the priorities and resources of each CT6 country. This study aims to explore the efforts made by Indonesia in protecting threatened species, specifically sharks and rays, through the CTI-CFF cooperation. The research employs a qualitative descriptive method, supported by various references through literature review. The crisis conditions of sharks and rays, both globally and nationally, make these species a priority for protection in Indonesia. This study shows that Indonesia's efforts to protect threatened species (sharks and rays) include strengthening data collection and information, establishing regulations, conservation efforts, and collaboration

    Kepentingan Indonesia Dalam Kerjasama Multilateral Coral Triangle Initiative On Coral Reefs, Fisheries And Food Security (Cti-Cff) Di Kawasan Segitiga Karang Tahun 2009

    Get PDF
    Indonesia sebagai negara kepulauan dan negara maritim dengan 17.504 pulau dengan terumbu karang nya yang mencapai 10% dari terumbu karang dunia menjadikan ekosistem terumbu karang Indonesia sebagai salah satu ekosistem terkaya dalam keanekaragaman hayati di dunia. Terumbu karang tersebut memiliki kontribusi yang dominan terhadap Indonesia. Pada tahun 2006, Presiden SBY menginisiasikan CTI dan mengajak negara-negara di kawasan Coral Triangle yaitu Filipina, Malaysia, Kepulauan Solomon, Timor Leste dan Papua Nugini untuk bekerjasama dalam kerangka CTI-CFF yang merupakan salah satu cara untuk mengatasi ancaman yang meningkat terhadap terumbu karang, perikanan, bakau, spesies terancam, dan sumber daya laut lainnya, serta ketahanan pangan masyarakat pesisir. Tentu dalam membentuk kerjasama CTI-CFF Indonesia tidak terlepas dari kepentingan nasionalnya. Sehingga fokus dari penelitian ini adalah melihat kepentngan Indonesia dalam kerjasama CTICFF menggunakan kerangka teori kepentingan nasional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan studi pustaka. Dari hasil penelitian, penulis telah merumuskan bahwa kepentingan Indonesia dalam CTI-CFF mencakup kepentingan keamanan, kepentingan ekonomi, kepentingan politik serta kepentingan buday

    KEPENTINGAN INDONESIA DALAM KERJASAMA REGIONAL PADA PROGRAM CORAL TRIANGLE INITIATIVE ON CORAL REEFS, FISHERIES AND FOOD SECURITY (CTI-CFF)

    Get PDF
    Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), merupakan kemitraan pemerintah yang didedikasikan untuk mempromosikan laut sehat, kepada kelompok atau kesebuah lembaga pemerintah negara dalam melakukan pengelolahan sumber daya laut. Berawal dari menurunnya kondisi laut Indonesia yang berdampak kepada spesies-spesies ikan, dan terumbu karang yang setiap tahunnya mengalami kematian dan kerusakan, terutama di wilayah Terumbu Karang (CT). Oleh karena itu, pada tahun 2006 pemerintah Indonesia melakukan promosi ke seluruh dunia bahwa pentingnya menjaga dan peduli pada lingkungan hidup terutama pada Isu laut. Walaupun hanya mencakup hampir dari 2% tapi kawasan ini merupakan kekayaan terbesar terumbu karang dan spesiess hidup. Kawasan konservasi, terumbu karang yang terancam di Coral triangle, menemukan bahwa Indonesia memiliki persentase tertinggi di dalam kawasan konservasi diantara negara di dalam kawasan Coral Triangle yaitu sebanyak 29%; namun hanya 3 dari 175 kawasan konservasi yang dipetakan dinilai telah sepenuhnya efektif dalam menangani tekanan penangkapan

    KERJASAMA MULTILATERAL INDONESIA MELALUI CORAL TRIANGLE INITIATIVE (CTI) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS AKUAKULTUR NASIONAL

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk memahami alasan Indonesia dalam upaya meningkatkan produktivitas akuakulturnya melalui pembentukan kerjasama CTI-CFF dengan lima negara anggota lain di kawasan segitiga koral. Penelitian dimulai dengan menguraikan peran Indonesia dalam CTI-CFF dan orientasinya terhadap sektor akuakultur. Setelah itu, penelitian ini beranjak dengan memaparkan secara lengkap dan mendetail mengenai kepentingan akuakultur yang dijalankan Indonesia dalam kerangka kerjasama CTI-CFF yang mana terdiri dari kepentingan untuk memperluas pasar produk akuakultur Indonesia dan juga membangun industri akuakultur bersama melalui mekanisme Regional Business Forum dalam CTI-CFF. Selain itu, penelitian ini juga menelusuri kepentingan lain Indonesia dalam kerjasama CTI-CFF yakni berupa upaya peningkatan ketahanan pangan dalam negeri dengan memaksimalkan potensi sumber daya pangan dari produk akuakultur Indonesia. Hingga pada akhirnya, penelitian ini kemudian berkesimpulan bahwa kepentingan Indonesia pada dasarnya adalah untuk mewujudkan penerapan Blue Economy yang menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan kelesatrian lingkunga

    Sulu-Sulawesi Seascape Regional Convergence Meeting:Towards Establishing Transboundary Coordination Mechanisms for the Sulu-Sulawesi Seascape and the Review of the Sulu-Sulawesi Seas EAFM Plan.

    Get PDF
    On July 5-6, 2018, a two-day workshop to finalize the draft Sub-Regional Plan was held in Mandaue City, Philippines, co-organized by USAID Oceans, GIZ, and CTI-CFF, and delegates of the three countries that share the Sulu-Sulawesi Seascape (Indonesia, Malaysia and the Philippines). The workshop followed the CTI-CFF Sulu-Sulawesi Seascape Convergence Meeting, where Sulu-Sulawesi Seascape member countries discussed regional concerns and reviewed the draft plan. Full proceedings from the Convergence Workshop can be referenced here

    Motif Bantuan Luar Negeri Australia kepada Timor-Leste melalui Kerjasama Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) Tahun 2012-2016

    Get PDF
    Sebagai salah satu isu keamanan non tradisional, isu lingkungan saat ini telah menjadi isu area politik utama setelah isu keamanan internasional dan politik global. Bagi beberapa kalangan negara isu lingkungan telah digunakan sebagai sebuah intrumen untuk merefleksikan sebagian kecil dari kepentingan yang dimilikinya dan tidak hanya melulu terbatas pada isu untuk melindungi lingkungan saja. Tetapi juga telah merambah pada kepentingan diluar isu lingkungan. Dalam penelitian ini, akan dijabarkan bagaimana kemudian isu lingkungan digunakan sebagai sebuah instrumen oleh negara dalam mencapai kepentingannya melalui praktek pemberian bantuan luar negeri. Kasus yang digunakan oleh penulis, yakni bantuan luar negeri yang diberikan oleh Australia kepada Timor-Leste melalui kerjasama CTI-CFF pada tahun 2012 hingga 2016. Selama ini Australia memang telah tercatat sebagai sebuah mitra pembangunan terbesar bagi Timor-Leste. Namun begitu, perhatian Australia yang diberikan kepada Timor-Leste terkait isu perlindungan lingkungan, khususnya sektor kelautan hampir tidak terjamah. Selama ini, bantuan yang diberikan difokuskan pada empat area isu yakni pendidikan, kesehatan, pertumbuhan ekonomi dan pemerintahan. Latar belakang tersebut yang kemudian mendorong penulis untuk melakukan penelitian terkait praktek bantuan yang diberikan Australia kepadaTimor-Leste. Konsep yang digunakan untuk menjabarkan kasus ini yakni konsep motif dan kepentingan negara donor milik John Degnbol Martinussen dan Poul Enberg Pederssen. Menurut mereka dalam memberikan bantuan luar negeri negara donor memiliki empat motif yang kemudian menjadi latar belakang yakni motif politik, ekonomi, lingkungan, dan moral kemanusiaan

    USAID Oceans Workshop Report on the Implementation of an EAFM Plan for the Sulu-Sulawesi Seascape

    No full text
    The Regional Plan of Action of the Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) sets forth five long-term goals for regional action taken by the six Coral Triangle Initiative (CTI) Member Countries. One of these goals is the application of ecosystem approach to fisheries management (EAFM). This goal is supported by priority regional actions identified and coordinated by the CTI-CFF EAFM Technical Working Group (TWG). One of these priority regional actions is “Improve enforcement of IUU fishing through greater collaboration.” USAID Oceans and Conservation International Philippines formalized a partnership in 2019 to facilitate the implementation of a sub-regional EAFM plan for the Sulu-Sulawesi Seascape, inclusive of priority actions are to combat IUU fishing, promote sustainable fisheries, and conserve marine biodiversity. In coordination with the CTI-CFF Regional Secretariat and participation from CTI member country representatives from both the EAFM and Seascapes TWGs, during March 2020 Conservation International led a workshop to formally initiate the implementation of the Sulu-Sulawesi Seascape Sub-Regional EAFM Plan, and establish a sub-regional governance mechanism between relevant government agencies of Indonesia, Malaysia, and the Philippines to oversee direct the sub-regional plan’s implementation. The 2-day workshop was attended by 31 participants, 11 of which joined remotely (online). This report presents a summary of the workshop’s agenda, sessions, outputs, and presentations from the event, and serves as documentation of the sub-regional EAFM plan’s implementation as endorsed and supported by the CTI-CFF Member Countries, Regional Secretariat, and implementing partners

    In vivo deuterium labelling in mice supports a dynamic model for memory T-cell maintenance in the bone marrow

    No full text
    The maintenance and dynamics of memory T-cells in the bone marrow are a matter of ongoing debate. It has been suggested that memory T-cells in the bone marrow are maintained as long-lived, quiescent cells. We have recently shown that memory T-cells isolated from goat bone marrow undergo self-renewal and recirculate via the blood and lymph. Using the well-established memory T-cell markers CD44 and CD62L we here show very similar results in mice. This provides further support for the concept that memory T-cells are continuously self-renewing and recirculating between blood, bone marrow, spleen and lymph nodes
    corecore