228 research outputs found

    Mukadimah: Seminar Perkongsian Profesional Guru-guru Arif Budiman [Preface: Arif Budiman Teachers' Professional Sharing Seminar]

    No full text
    Speech delivered at the Seminar Perkongsian Profesional Guru-guru Arif Budiman, 17 September 2011, National Institute of Education, Nanyang Technological University, SingaporeUcapan ini disampaikan di seminar perkongsian professional guru-guru Arif Budiman di NIE. Penyampai memulakan mukadimahnya dengan membincangkan kekata gosip, bual, pidato dan bicara; yang dianggapkan sebagai sekelompok kata sinonim yang tidak atepat. Penyampai seterusnya membincangkan perihal arif budiman. Ungkapan arif budiman yang dibicarakan sekarang merupakan misi terkini pendidikan Melayu untuk melengkapkan manusia Melayu generasi mendatang menjadi manusia yang sempurna sebagai manusia yang arif (berilmu) lagi budiman. Di sini beliau mengongsikan pengalaman beliau menjadi guru pelatih di mana pensyarah yang mengajar asas pendidikan dan kaedah mengajar telah bertanya tentang tujuan mengajar murid-murid. Pensyarahnya melanjutkan ujarannya bahawa tujuan mengajar anak-anak murid adalah untuk menjadikan mereka rakyat yang baik, taat setia kepada kerajaan, tidak menderhaka dan sebagainya. Taat setia kepada kerajaan dan tidak menderhaka itu tentunya membawa juga pengajaran supaya mentaati dan berbakti kepada ayah bonda juga. Dan berbakti itu membawa juga maksud berbudi. Mereka yang berbudi itulah yang disebut budiman. Guru-guru yang teriktiraf sebagai arif budiman telah berusaha semampu mungkin, dengan pelbagai kaedah yang disesuaikan mereka untuk membimbing murid-muridnya ke arah menjadi manusia arif budiman. The speech was presented at the professional sharing at NIE for teachers. The speaker began his address by discussing the words; gossip, talk, speech and talk; while regarded as a group of synonyms, yet each is exactly not the same. Discussion went on about the term 'Arif Budiman'. The expression, 'Arif Budiman', is the latest mission in Malay education. It is to complement the new generation of Malay individuals to become complete human beings as humans who are knowledgeable (arif) and have the values of 'budiman'. The speaker shares his experience as a trainee teacher when his lecturer asked trainee teachers the purpose of teaching their students. The lecturer went on further to explain that the purpose of teaching students is to make them good citizens, be loyal to the government, not to be disobedient and so forth. Being loyal to the government and not being disobedient also means obeying parents, having filial piety and a good sense of moral values. Teachers who are recognised as Arif Budiman, try their very best possible, with the teaching methods that they see fit, to guide their students towards being humans who are arif budiman

    Aktivitas Dakwah Ustadz Mochammad Arif Budiman di Masjid Muhammadiyah Al-Muhajirin Banjarmasin

    Get PDF
    Dakwah adalah sebuah kerja nyata seorang muslim yang diatur dalam sebuah sistem keislaman. Dakwah sendiri bertujuan melahirkan kepribadian yang siap ditata dan diatur berdasarkan kehendak-Nya (Rabbiyun). Puncaknya, dakwah merupakan proses pengajakan manusia untuk meninggalkan sistem kejahiliyahan menuju sistem yang di ridhai Allah swt. Dan dakwah adalah berbicara tentang komunikasi, karena komunikasi merupakan kegiatan yang informatif, yakni agar orang lain dapat mengerti serta memahami kegiatan persuasif. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui metode dakwah yang digunakan oleh Ustadz Mochammad arif budiman Di Masjid Muhammadiyah Al-Muhajirin Banjarmasin dan Untuk mengetahui pandangan Jamaah Di Masjid Muhammadiyah AL�Muhajirin Banjarmasin terhadap penyampaian dakwah Ustadz Mochammad arif budiman. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dari penelitian ini adalah Ustadz Mochammad arif budiman dan Jamaah yang ada di Masjid Muhammadiyah Al-Muhajirin. Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil hasil penelitian diperoleh hasil yaitu Ustadz Mochammad arif budiman dalam berdakwah menggunakan cara bil lisan dan bil al hal dimana dalam berdakwah selain beliau sampaikan dengan lisan, beliau juga berdakwah dilakukan dengan cara perbuatan langsung agar menjadi contoh bagi para jamaahnya. Dari pandangan para jamaahnya Ustadz Mochammad arif budiman dalam ceramahnya adalah disampaikan dengan cara yang santai serta bahasa yang mudah untuk dipahami jamaah, selain itu juga penyampaian ceramah beliau disampaikan dengan cara yang membuat para pendengarnya tidak mengantuk dan mau mendengarkan ceramah belia

    PERJUANGAN HAJI MUHAMMAD ARIF PADA REVOLUSI NASIONAL INDONESIA (1945-1949) DI JAKARTA TIMUR

    Get PDF
    Frizki Satria Hadapi, Perjuangan Haji Muhammad Arif Pada Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949) di Jakarta Timur. Skripsi, Jakarta: Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2023. Penelitian ini membahas tentang perjuangan Haji Muhammad Arif pada Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949) di Jakarta Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali lebih dalam sosok dan peranan Haji Muhammad Arif dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, mengingat sedikitnya tulisan atau penelitian yang mengabadikan tentang perjuangan Haji Muhammad Arif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penulisan sejarah atau historis dengan model penulisan naratif-deskriptif yang terdiri dari empat langkah yaitu (1) Pengumpulan data baik sumber primer maupun sekunder yang berkaitan dengan rumusan masalah yang sudah dipaparkan oleh peneliti. (2) Pada tahapan kedua dilakukan dua tahap yaitu kritik interndan kritik ekstern guna menguji kredibilitas sumber-sumber yang telah didapatkan untuk penelitian. (3) Penulis melakukan interpretasi terhadap fakta historis yang didapat dari sumber-sumber yang sudah diverifikasi pada tahap kedua. (4) Historiografi atau penulisan sejarah. Model penulisan yang akan dipakai penulis adalah deskriptif-naratif dimana penulis memaparkan hasil penelitian secara lengkap dan sistematis. Hasil penelitian ini menunjukan keterlibatan Haji Muhammad Arif pada peristiwa Revolusi Nasional Indonesia sebagai tokoh penting yang memimpin perjuangan di Jakarta Timur. Pengaruh yang dimilikinya berhasil menggerakan masyarakat sebagai bukti adanya dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia, Haji Muhammad Arif berhasil menggerakan massa untuk datang ke lapangan Ikada, rapat besar Klender untuk persiapan pelrawanan dan penyerangan penjara Cipinang. Akibatnya pengaruh itu menjadi ancaman bagi Hindia Belanda dan berakhir pada penangkapan Haji Muhammad Arif di Karawang pada tahun 1947 dan di penjarakan di penjara Glodok selama dua tahun, setelah terbebas pada tahun 1949 Haji Muhammad Arif kembali pada kehidupan sehari-harinya sebagai pedagang, guru mengaji dan guru silat. Kata Kunci: Haji Muhammad Arif, Revolusi Nasional Indonesia, Klender, Pahlawan. This study discusses the struggle of Hajj Muhammad Arif in the Indonesian National Revolution (1945-1949) in East Jakarta. The aim of this study is to dig deeper into the figure and role of Haji Muhammad Arif in the war of defence of Indonesian independence, bearing in mind the slightest writing or research that encompasses the struggle of Hajj Mohammed Arif. The research method used in this study is the method of historical or historical writing with a model of narrativedescriptive writing consisting of four steps, namely (1) collection of data from both primary and secondary sources relating to the formula of the problem already presented by the researcher. (2) In the second phase, two phases are carried out: internal criticism and external criticism to test the credibility of the sources obtained for research. (3) The author interprets the historical facts obtained from sources that have been verified in the second phase. (4) Historiography or historical writing. The writing model that the author will use is descriptive-narrative in which the author presents the results of the research in a complete and systematic manner. The results of this research show the involvement of Hajj Muhammad Arif in the events of the Indonesian National Revolution as an important figure who led the struggle in East Jakarta. His influence succeeded in moving the people as proof of support for Indonesian independence, Hajj Muhammad Arid spoke to the masses to come to the Ikada field, Klender's general meeting for the preparation of the captivity and the assault on the Cipinang prison. As a result, the influence became a threat to Dutch Indians and ended with the arrest of Hajj Muhammad Arif in Karawang in 1947 and imprisonment in Glodok prison for two years, after being released in 1949 Haji Mohammed Arif returned to his everyday life as a merchant, teaching teacher and silat teacher. Keywords: Haji Muhammad Arif, Indonesian National Revolution, Klender, Hero

    PELATIHAN TEKNIK CHINESE METICULOUS PAINTING DALAM UPAYA PENINGKATAN DIFERENSIASI PRODUK DI BUDIMAN ART GALLERY

    Get PDF
    Sentra Lukis Jelekong telah dikenal sebagai salah satu pusat produksi seni lukis di Jawa Barat dantelah menjadi ikon Jelekong yang tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga menjadisumber penghidupan bagi banyak pelukis disana. Seiring dengan perkembangan zaman dandinamika pasar seni di Indonesia, sentra lukis Jelekong khususnya yang dirasakan oleh paraseniman di Budiman Art Gallery menghadapi tantangan dalam mempertahankan daya saingnya danmenuntut para pelukis untuk terus berinovasi dan menciptakan produk lukisan yang memiliki nilaitambah tanpa menghilangkan keunikan gaya lukis Jelekong itu sendiri. Pelatihan ChineseMeticulous Painting secara intensif menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan inovasi dandiferensiasi produk di Budiman Art Gallery. Melalui pelatihan ini, para perajin di Budiman Art Galleryakan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan baru terkait Chinese painting yang dapatdiaplikasikan dalam proses produksi. Kegiatan pelatihan dilakukan melalui beberapa tahap yaitu: 1)sosialisasi kepada pelukis, 2) pelatihan teknik Chinese Meticulous Painting, 2) penerapan teknologidigital untuk sketsa, serta 4) pendampingan dan evaluasi karya secara berkelanjutan. Melaluipelatihan ini, diharapkan dapat membuka wawasan para perajin untuk pengembangan diferensiasiproduk serta dapat membuka peluang pasar yang lebih luas, khususnya pasar Tionghoa yang adadi Indonesia. Dengan demikian, kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya bertujuan untukmeningkatkan kualitas produk, tetapi juga untuk memperkuat daya saing ekonomi para perajin diSentra Lukis Jelekong, khususnya bagi komunitas Budiman Art Gallery.Kata Kunci: Chinese Meticulous Painting, Sentra Lukis, Jelekong

    Modern Arabic literary biography : a study of character portrayal in the works of Egyptian biographers of the first half of the twentieth century, with special reference to literary biography

    Get PDF
    In Chapter one, I presented a comparative definition of the meaning of Sirah (PI.Siyar), Tarjamah (Pl. Tarajim), Manaqib, Tabaqat and Maghazi as they were understood in antiquity. I also showed how the meaning of Sirah in modern times has only narrowly developed. Although the method of biographical writing continuously developed in Europe, it hardly progressed in Modem Arabic Literature. The only exception was seen in the writings by the pioneers of enlightenment in Egypt at the beginning of the twentieth century. This change of direction relied on borrowing European methodology in biographical writing. In chapter two, I reviewed the early attempts at writing biographies in the nineteenth century by Abd al Rahman al- Jabarti and Ali Mubarak. Although both were the first pioneers in this respect, yet they followed the footpath of classical approach above all that of al-Maqarizi from whom -Ali Mubarak derived inspiration in his book Al-Khitat al-Tawfiqiyyah. In chapter three, I studied the twentieth century, starting with traditional biography writers who could not employ European methodologies and whose writings oscillated between biographical notes and biographical sketches; or whose texts were more of a literary study than a biography proper. In chapters four to nine, I selected the most renowned, productive writers who best represented methodologies of biography writing. Perhaps certain writers have not been mentioned in this period of study. This is not out of negligence but simply because their texts were totally out of reach, or their writings did not exhibit the required literary criteria. All methodologies representing the theory of biography writing in Egypt have been analysed in these chapters. All, in fact, form a digestion or assimilation of French,English and German schools. In Egypt, Taha Husayn is considered the chairman of the French school, al-Mazini and al-Aqqad of the English/German schools, al-Nuwaihi of the psychoanalytical/anatomical school and Sidqi who employed both. By contrast, al Iryan was the trailblazer of the distinguished biographical novel. In these chapters, I tried to lay out the general outlines these writers have produced in the production of biographical texts, and how these attempts were a successful step on the road of presenting literary biographies characterized by high world standards. Chapter ten may well seem traditional, but it is important to give a comparative outlook on the views of biography writers themselves when they study and analyse the same character. Among the characters studied ,I selected Bashsliar, Abu Nuwas, Ibn al-Run-i, al-Mutanabbi and al-Maarri. These are outstanding landmarks in the history of Arab verse and the subject of a multitude of studies as well. Modern biographers took these figures as a test field for the deployment and employment of biographical methodologies. I selected these examples to provide comparisons and explain how far these biographies were successful in producing a biography or a profile of those classical poets. The conclusion and the bibliographical list arrived at the end of research. I wish, however, to clarify one important point here. It seems that I could not fix the year 1950 as the temporal parameter of my research but took some textswhich were published shortly beyond that point. The reason for this obvious extension was either to give additional useful details or simply because chapters of such texts had already been published prior to that year and were known to the readership. At times I would satisfy myself with analysing the part rather than the whole. This again was meant to eschew repetition or was due to the fact that the book in question was not available

    Beberapa Isu Haraki di dalam Karya-karya Hadis Sayyid Muhammad Nuh

    Get PDF
    Sayyid Muhammad Nuh is a prominent ‘haraki’ figure and has produced a number of works in the field of hadith studies. He has been involved in the dakwa movement of the Muslim Brotherhood which influenced his approach in the production of his works, in terms of the ‘haraki manhaj’ and methods. Almost all the works of Sayyid Muhammad Nuh emphasized issues of dakwa and tarbiyah, whether in the field of tafsir, hadith, history and issues of the Muslims’ society. Moreover, the issues that he highlighted were practical and the application of ‘haraki’ approach in production of writings brought about significant lesson to the dakwa movement, including the ones in the field of hadith. The author presents three of his works in the field of hadith which have been among the most referred and widely read in the dakwa circle, including the dakwa movement in Malaysia. His selected works in the field of hadith are ‘Tawjihat of the Prophet `ala al-Tariq’ (Hadiths of Guidance on the Dakwa Path), ‘Manhaj al -Rasul fi Ghars Ruh al-Jihad fi Nufus Ashabih’ (The Messenger’s Approach in Inspiring Spirit of al-Jihad in the Companions), and ‘Min Akhlaq al-Nasr fi Jiyl al-Sahabah’ (Winning Attitudes in the Generation of the Companions). Through this article, the authors highlights a number of ‘haraki’ issues based on the works of Sayyid Muhammad Nuh and the important lessons that he has highlighted for the people of dakwa in facing the dakwa path, based on the hadith of the Messenger

    Interaksi Sosial Nabi Muhammad Saw dan Komunitas Yahudi: Telaah Hadis dalam Perspektif Historis-Psikologis

    Get PDF
    This article aims to examine the relationship between the Prophet Muhammad and the Jewish community in Medina based on traditions, primarily from the book of Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. The research focuses on the social interactions, both positive and negative, as well as the political, social and religious factors that influenced this relationship. Using a qualitative research design through analysis of hadith texts and Islamic historical literature, historical and psychological approaches were taken to analyze these interactions. This research resulted in the following findings: First, in general, it is found that there is a historical fact that there is a form of cooperation and respect between the Prophet and the Jews in two crucial cases, namely satire literature and the case of killing a Jewish person so that there is tension. Second, from the psychological context, the factor that causes conflict and confrontation is the factor of cultural inheritance (transferred culture) is a significant factor in influencing the Prophet's relationship with the Jewish community. The negative disposition that has been rooted is proven to erupt various acts of treason in various forms.Artikel ini bertujuan untuk menelaah hubungan antara Nabi Muhammad dan komunitas Yahudi di Madinah berdasarkan hadis-hadis, terutama dari kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Penelitian ini berfokus pada interaksi sosial, baik yang bersifat positif maupun negatif, serta faktor-faktor politik, sosial, dan agama yang memengaruhi hubungan ini. Dengan desain penelitian kualitiatif melalui analisis teks hadis dan literatur sejarah Islam, dilakukan pendekatan historis dan psikologis untuk menganalisis interaksi tersebut. Hasil riset ini menghasilkan temuan yaitu: Pertama, secara general ditemukan fakta historis bahwa terdapat bentuk kerja sama dan penghormatan antara Nabi dan Yahudi dalam dua kasus krusial, yaitu sastra bernada satire dan kasus pembunuhan oknum Yahudi sehingga terjadi berujung ketegangan. Kedua, dari konteks psikologis faktor yang menyebabkan konflik dan konfrontasi  adalah adanya faktor pewarisan budaya (transferred culture) merupakan faktor yang cukup signifikan dalam mempengaruhi relasi Nabi SAW dengan komunitas Yahudi. Watak negatif yang sudah mengakar tersebu

    PENGARUH KOMPENSASI FINANSIAL DAN LINGKUNGAN KERJA NON FISIK TERHADAP KINERJA PEGAWAI HONORER PADA DINAS KEPEMUDAAN, OLAHRAGA DAN PARIWISATA KOTA DUMAI

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan pada dinas kepemudaan, olahraga dan pariwisata kota dumai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompensasi finansial dan lingkungan kerja non fisik terhadap kinerja, baik secara parsial maupun secara simultan. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah pegawai honorer pada dinas kepemudaan, olahraga dan pariwisata kota dumai sebanyak 54 orang pegawai honorer. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan non probanility sampling yaitu dengan teknik sampel jenuh. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode analisis data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial kompensasi finansial berpengaruh terhadap kinerja pegawai honorer, begitu juga dengan lingkungan kerja non fisik berpengaruh terhadap kinerja pegawai honorer, secara simultan kepuasan kerja dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh terhadap kinerja pegawai honorer pada dinas kepemudaan, olahraga dan pariwisata kota dumai. Adapun besaran pengaruh sebesar 88.5% sedangkan sisanya11,5% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak di teliti di dalam penelitian ini

    Fenomena Phubbing pada Pengunjung Upnormal di Kota Makassar

    Get PDF
    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Fenomena phubbing pada pengunjung Upnormal terjadi karena informan kurang tertarik dengan mitra komunikasinya, malas untuk berkomunikasi, mengerjakan tugas, memprioritaskan pekerjaan, sudah tidak tertarik atau merasa bosan dengan topik pembahasan, bermain game pada saat diajak berkomunikasi, dan informan harus merespon informasi baru yang masuk pada smartphone miliknya, serta informan cenderung kepada keinginan untuk mendapatkan kenyaman atau hiburan tersendiri, dan (2) Interaksi yang terjadi pada pengunjung Upnormal yang melakukan phubbing saat berinteraksi dengan anggota kelompok yang melakukan aktivitas phubbing dan salah satu anggota akan menegur individu yang melakukan perilaku tersebut secara langsung untuk fokus kembali dan berinteraksi, phubbing menghambat proses interaksi karena perhatian yang lebih tertuju kepada smartphone. Pengaruhnya pada proses interaksi karena menghambat proses komunikasi, akan tetapi tidak berpengaruh terhadap hubungan pertemanan. Informan tidak terlalu merasakan dampak dari adanya aktivitas phubbing dalam satu kelompok adalah phubber, sedangkan yang merasakan adanya dampak yang ditimbulkan dari perilaku phubbing ialah korban dari pelaku phubber
    corecore