13 research outputs found

    TRAUMATIC PATIENT MANAGEMENT IN COVID PANDEMIC

    No full text
    Pada masa pandemik COVID-19 pelaksanaan operasi pasien dengan trauma dilakukan dengan tujuan mencegah penularan COVID-19 terhadap tenaga kesehatan, pasien lain dan pengunjung. Pelaksanaan pencegahan dilakukan mulai dari persiapan operasi, selama pelaksanaan operasi dan perawatan pasca operasi. Pencegahan dilakukan dengan cara mendeteksi secara dini kemungkinan adanya COVID-19 melalui serangkaian pemeriksaan klinis, lab darah lengkap, foto thorak, computerized tomography (CT) scan thorak, rapid test, tes polymerase chain reaction (PCR) dan ruang perawatan khusus COVID serta serangkaian standar operasional prosedur (SOP) dalam pencegahan transmisi intern rumah sakit. Pada penderita COVID yang perlu tindakan operasi darurat akan dilakukan pada kamar operasi khusus COVID dan memakai baju hazmat level 3 danperawatan dilakukan pada ruang isolasi. Pelaksanaan operasi dan perawatan dilakukan  oleh tim yang terdiri dari ahli bedah/orthopaedics, ahli paru, anestesi, penyakit dalam, ahli jantung, ahli patologi klinik, ahli radiologi dan perawat/bidan. Pengalaman kami selama pandemi, penerapan SOP yang ketat dan terkontrol akan menjadi kunci keberhasilan penanganan kasus trauma yang memerlukan tindakan operasi. Kenyataannya di lapangan ada keterbatasan tenaga kesehatan, fasilitas, dan peralatan yang akan menjadi tantangan tersendiri yang perlu kita bahas. Akhir-akhir ini, banyak terjadi penularan COVID terhadap tenaga kesehatan baik dokter ataupun perawat/bidan bahkan menimbulkan kematian sehingga terjadi polemik yang berkepanjangan di antara tenaga kesehatan, manajemen rumah sakit, stake holder dan pemerintah. Semoga seminar ini memberikan sumbangan pemikiran bagi penanganan trauma pada masa pandemi ini

    Batas keabsahan penyadapan terhadap pelaku tindak pidana terorisme dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM)

    No full text
    Perlindungan tersangka tindak pidana terorisme belum memiliki aturan yang mengikat terkait batasan penyadapan, sehingga hal tersebut dapat disalahgunakan penyidik yang berwenang. karena itu perlu adanya peraturan untuk membatasi penyadapan agar para tersangka terorisme bisa mendapatkan hak sebagai tersangka dan menjunjung nilai yang terkandung dalam HAM. Rumusan masalah yang diangkat adalah bagaimana penentuan batas keabsahan penyadapan terhadap tersangka tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh penyidik ditinjau dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang dan bagaimana batas keabsahan penyadapan yang dilakukan oleh penyidik terhadap pelaku tindak pidana terorisme dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) ?. Jenis penelitian yang dipakai ialah yuridis normatif/doktrinal. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach). Penelitian bersumber pada studi kepustakaan sehingga jenis data yang akan dikaji adalah data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan/dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif sehingga hasil penelitian disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hasil penelitian ini memberikan 2 kesimpulan. Pertama, batas keabsahan penyadapan harus mempunyai batas yang diatur dalam undang-undang secara jelas dan tegas substansi dan prosedurnya. Aturan substansi dan prosedural tersebut dapat dijadikan acuan dalam menentukan batas keabsahan penyadapan. Kedua, Hukum pidana memberikan kewenangan penyelidik dan penyidik untuk melakukan penyadapan, yaitu kewenangan penyadapan untuk kepentingan penegakan hukum serta kewenangan penyadapan untuk intelijen, pembatasan terhadap hak atas privasi tidak dilakukan secara semena-mena dan dilakukan demi kepentingan pengungkapan kasus sehingga penyadapan tersebut tidak melanggar HAM

    The Risk Factors of Patients with Cruris Fracture Nonunion in Dr. Mohamad Soewandhie Hospital in 2021-2022: A Case-Control Study

    No full text
    Background: The crural region is highly susceptible to injury in Indonesia, with fractures being a common occurrence. If not properly treated, these fractures can lead to complications such as nonunion. To investigate the risk factors for nonunion cruris fractures, this study was conducted at Dr. Mohamad Soewandhie Hospital, examining age, gender, working status, education, trauma mechanism, and previous treatment history. Methods: This case-control study analyzed patient records from 2021 - 2022 at Dr. Mohamad Soewandhie Hospital, comparing 12 nonunion and 24 union cruris fracture cases. Data on age, gender, work, education, trauma, and treatment history was collected between August and October 2023. Statistical analysis was performed using the Mcnemar and Wilcoxon tests, with a significance level of p < 0.05. Results: A study of 149 cruris fractures found 12 nonunions, primarily affecting males aged 26-45 or 46-65. Notably, the highest nonunion rate (41.7%) was in the 12-25 age group (p = 0.027). Males were more affected, with 7 nonunion cases (58.3%) (p = 0.041). Working class patients had the highest fracture and nonunion rates (83.3%) (p < 0.001). High school education was most common among nonunion cases (75%) (p = 0.374). High-energy trauma was reported in almost all nonunion cases (91.7%) (p < 0.001). All nonunion patients had a history of ORIF (p = 0.102). Conclusions: The study revealed that age, gender, work status, and trauma mechanism significantly influenced nonunion cruris fractures at Dr. Mohamad Soewandhie Hospital in 2021-2022. Patient education and past treatment history had no significant impact

    Characteristics of Nonunion Fractures in Patients with Antebrachial Fractures at dr. Mohamad Soewandhie General Hospital Surabaya 2021-2022: A Retrospective Study

    No full text
    Background: Nonunion, a complication of fracture healing, can lead to patient morbidity. Contributing factors include age, gender, fracture type, multiple fractures, infection, prolonged nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID) use, smoking, nutritional status, and history of chronic disease. This study aims to determine the prevalence and characteristics of nonunion antebrachial fractures at dr. Mohamad Soewandhie General Hospital Surabaya. Methods: This retrospective descriptive study involved 111 patients. Data was gathered from medical records treated at dr. Mohamad Soewandhie General Hospital Surabaya for antebrachial fracture during 2021-2022. The study protocol obtained approvals from two local ethical committees. Data included demographics, fracture characteristics, fracture type, multiple fractures, infection, NSAID use, hypertension and diabetes history, smoking habits, and nutritional status by BMI calculation. Results: This study found a 24.3% prevalence of antebrachial nonunion fractures at dr. Mohamad Soewandhie General Hospital Surabaya in 2021-2022, mostly in males (66.7%) aged 17-25 years (22.2%). Nonunion in antebrachial fractures is marked by high rates in closed (92.6%) and single fractures (92.6%). Notably, infections (22.2%), smoking (7.4%), and hypertension history (7.4%) are common contributors. Despite ideal BMI in many cases (44.4%), nonunion still occurred. Conclusions: The study conducted at Dr. Mohamad Soewandhie General Hospital in Surabaya revealed a high prevalence of antebrachial nonunion fractures at 24.3%, particularly among young males. It was found that closed, single fractures were the most common type, with infections, smoking, and a history of hypertension being significant contributing factors. Interestingly, even individuals with an ideal BMI were still at risk for nonunion

    PERBANDINGAN HASIL TERAPI OPERATIF DAN NON-OPERATIF PADA FRAKTUR KLAVIKULA : ANALISIS UNION RATE, COMPLICATION RATE, FUNCTIONAL OUTCOME

    No full text
    Fraktur klavikula merupakan salah satu jenis patah tulang yang paling sering dijumpai dalam praktik klinis dan dapat ditangani melalui pendekatan operatif maupun non-operatif, tergantung tingkat keparahan cedera dan kondisi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan union rate, complication rate, serta functional outcome pada pasien fraktur klavikula yang mendapatkan terapi operatif dan non-operatif di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie Surabaya. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang dan melibatkan 50 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Proses analisis data dilakukan dengan uji Chi Square untuk menilai perbedaan union rate, Fisher’s Exact Test untuk complication rate, dan uji Mann-Whitney U untuk functional outcome. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada union rate antara kedua kelompok terapi (p = 0,004), di mana penyatuan tulang sempurna lebih sering ditemukan pada pasien yang menjalani tindakan operatif dibandingkan mereka yang menerima terapi non-operatif. Meskipun demikian, tidak terdapat perbedaan bermakna pada complication rate (p = 0,239), yang mengindikasikan bahwa kedua metode terapi memiliki tingkat keamanan yang relatif setara. Selain itu, functional outcome juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p = 0,965), sehingga kedua jenis penatalaksanaan dinilai memberikan hasil fungsi yang hampir sama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terapi operatif memberikan keunggulan dalam mencapai penyatuan tulang optimal, namun tidak menunjukkan kelebihan signifikan dalam hal komplikasi maupun hasil fungsi jika dibandingkan dengan terapi non-operatif

    EVALUASI HASIL HARRIS HIP SCORE BERDASARKAN USIA DAN MEKANISME TRAUMA PADA OPERASI PARTIAL HIP REPLACEMENT PENDERITA FRAKTUR COLLUM FEMUR DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2

    No full text
    Fraktur collum femur merupakan salah satu masalah ortopedi yang paling sering terjadi pada populasi usia lanjut, terutama pada pasien dengan komorbid diabetes melitus tipe 2 yang diketahui dapat menghambat proses penyembuhan tulang dan memengaruhi pemulihan fungsi setelah tindakan operatif. Partial Hip Replacement (PHR) menjadi prosedur bedah yang banyak digunakan untuk menangani kondisi ini, dan keberhasilan fungsionalnya umumnya dievaluasi menggunakan Harris Hip Score (HHS). Penelitian ini bertujuan menilai hasil Harris Hip Score berdasarkan usia dan mekanisme trauma pada pasien fraktur collum femur dengan diabetes melitus tipe 2 pasca operasi PHR. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif cross-sectional terhadap 33 pasien yang menjalani perawatan di RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya pada periode 2020–2024. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara menggunakan instrumen HHS, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melihat gambaran hasil fungsional panggul. Mayoritas responden berusia ≥60 tahun (84,8%) dengan mekanisme trauma low energy (78,8%), mencerminkan karakteristik fraktur akibat kerapuhan tulang pada usia lanjut. Nilai HHS menunjukkan variasi hasil, yaitu baik (42,4%), sangat baik (24,2%), cukup (24,2%), dan buruk (9,1%), dengan skor terbaik ditemukan pada kelompok usia &lt;60 tahun serta pasien dengan mekanisme trauma high energy. Temuan ini menunjukkan bahwa pasien fraktur collum femur dengan diabetes melitus tipe 2 pasca PHR secara umum masih dapat mencapai fungsi panggul yang baik, meskipun faktor usia dan mekanisme trauma turut memberikan kontribusi terhadap perbedaan skor fungsional yang diperoleh

    PERENCANAAN STRATEGI BISNIS DI INDUSTRI DIGITAL CREATIVE MENGGUNAKAN IFE, EFE, SWOT, DAN QSPM (STUDI KASUS PT SEKREATIV INSPIRASI INDONESIA)

    No full text
    Jika membutunkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui e-mail [email protected] atau [email protected] Dipublikasikan tanggal: 14 Juli 202

    Implementasi algoritma a* (a star) pada Game Virtual Reality pengenalan tanaman di Kebun Raya Purwodadi

    No full text
    مستخلص البحث النباتات هي واحدة من الكائنات الحية الموجودة على الأرض ، وإندونيسيا بلد غني بتنوع النباتات. تستخدم العديد من الأماكن لإجراء البحوث على النباتات ، واحدة منها في حديقة Purwodadi النباتية في باسوروان ريجنسي. هناك العديد من النباتات التي لديها لعبة افتراضية لإضافة المعلومات من خلال وسائل الترفيه. لهذا السبب ، تم نقل المؤلف لجعل لعبة مع موضوع أول شخص مطلق النار لإدخال النباتات في الحدائق النباتية Purwodadi . في هذه اللعبة سيكون هناك NPCs في شكل NPCs من شأنها أن تضر وتدمر النباتات . للوصول إلى النباتات ، يحتاج NPC إلى تطبيقه على الذكاء. يستخدم المؤلف خوارزمية A * ليتم تطبيقها كمعلومات استخباراتية للمجلس الوطني لنواب الشعب لإيجاد الطريق الأقصر إلى المصنع . كما تطبق هذه اللعبة تكنولوجيا الواقع الافتراضي كوسط تفاعلي ومفيد لإدخال النباتات. ABSTRACT Plants are one of the living things that exist on earth, Indonesia is a country rich in flora diversity. Many places are used to conduct research on plants, one of which is at the Purwodadi Botanical Garden in Pasuruan Regency. There are so many plants that grow there, to get to know more about these plants, it needs to be made a virtual game to add information through entertainment. For this reason, the author was moved to make a game with the theme First Person Shooter to introduce plants in the Purwodadi Botanical Gardens. In this game there will be NPCs in the form of NPCs that will damage and destroy the plants. To get to plants, NPC needs to be applied to intelligence. The author uses the A * algorithm to be applied as intelligence to the NPC to find the shortest path to the plant. This game also applies virtual reality technology as an interactive and interesting medium for introducing plants. ABSTRAK Tanaman merupakan salah satu makhluk hidup yang ada di bumi, Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan keanekaragaman flora. Banyak tempat digunakan untuk melakukan penelitian tentang tanaman salah satunya adalah di Kebun Raya Purwodadi di Kabupaten Pasuruan. Banyak sekali tanaman yang tumbuh disana, untuk mengenal lebih dekat tentang tanaman tersebut, perlu dibuat sebuah game virtual untuk menambah informasi melalui hiburan. Untuk itu penulis tergerak untuk membuat sebuah game bertema First Person Shooter untuk mengenalkan tanaman yang ada di Kebun Raya Purwodadi. Pada game ini akan ada NPC berwujud NPC yang akan merusak dan menghancurkan tanaman tersebut. Untuk menuju tanaman, NPC perlu diterapkan kecerdasan. Penulis menggunakan algoritma A* untuk diterapkan sebagai kecerdasan pada NPC untuk menemukan jalur terpendek menuju tanaman. Game ini juga menerapkan teknologi virtual reality sebagai media pengenalan tanaman yang interaktif dan menarik

    RUNX2 and SOX9 Expression on Chondrocyte Hypertrophy Formation in Post-Menopausal Osteoarthritis Mechanism (An Experimentation on Rat Model)

    No full text
    In osteoarthritis post-menopause, decreasing estrogen in uenced formation of chondrocyte hypertrophy. This study would explain role of RUNX2 and SOX9 to chondrocyte hypertrophy formation in decreasing estrogen condition. Fifty four rats were divided into six groups. Level of 17 β estradiol and TGF-β were examined by ELISA. SOX9 and RUNX2 used immunohistochemistry. Histopathology for chondrocyte hypertrophy. Level of 17 β estradiol and SOX9 on treatment group decreased signi cantly, TGF-β and RUNX2 increased signi cantly. Chondrocyte hypertrophy increased significantly in treatment group. The decreasing of 17β estradiol level caused increasing hypertrophy Chondrocyte through increasing level of TGF-β and RUNX2

    HUBUNGAN LAMA MENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN DERAJAT KEPARAHAN OSTEOARTHRITIS LUTUT PADA WANITA MENOPAUSE DI RSUD DR. MOHAMAD SOEWANDHIE

    No full text
    Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang tidak hanya menimbulkan komplikasi vaskular, tetapi juga berkontribusi terhadap gangguan muskuloskeletal, termasuk osteoarthritis (OA) lutut. Kondisi hiperglikemia kronis dapat mempercepat proses degeneratif sendi melalui pembentukkan advanced glycation end products (AGEs) dan reactive oxygen species (ROS). Perubahan biologis ini berpotensi memperberat OA lutut, khsusunya pada wanita menopause yang mengalami penurunan kadar hormon estrogen sehingga memicu peningkatan proses inflamasi serta  penurunan elastisitas jaringan sendi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama menderita DMT2 dengan derajat keparahan OA lutut pada wanita menopause di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie Surabaya. Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional analytic dengan teknik purposive sampling. Sampel terdiri dari 78 wanita menopause dengan DMT2 yang disertai OA lutut, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan.  Data diperoleh dari rekam medis dan wawancara langsung, meliputi lama menderita DMT2 serta hasil radiografi polos lutut untuk menentukan derajat keparahan OA berdasarkan klasifikasi Kellgren and Lawrence. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p &lt; 0,05. Mayoritas responden berusia ≥ 60 tahun (66,7%) dan telah menderita DMT2 selama ≥ 5 tahun (55,1%). Sebagian besar pasien mengalami OA lutut derajat 3 (50,0%) dan derajat 4 (35,0%). Hasil analisis Chi-Square memperlihatkan nilai p-value sebesar 0,450 (p &gt; 0,05). Tidak terdapat hubungan signifikan antara lama menderita DMT2 dan derajat keparahan OA lutut pada wanita menopause
    corecore