4 research outputs found

    Proses Coaching Terhadap Perawat untuk Meningkatkan Motivasi Kerja dan Kinerja Perawat pada Rumah Sakit XYZ Kabupaten Manggarai, NTT

    No full text
    ABSTRAK Rumah   sakit   sebagai   tempat   pelayanan   kesehatan,   sudah seharusnya mempunyai kualitas pelayanan kesehatan yang baik dan bermutu. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan tersebut, perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan kepada para perawat yang bekerja di lingkungan rumah sakit. Pemberdayaan staf,  dapat  dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, yaitu metode pelatihan, mentoring, counselling atau Coaching. Coaching merupakan salah satu cara atau kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerja. Inti dari coaching adalah memberdayakan orang dengan memfasilitasi pembelajaran   diri,   pertumbuhan   pribadi,   dan perbaikan   kinerja. Coaching menekankan pada aspek hubungan interpersonal yang mensyaratkan adanya hubungan saling percaya, saling menghormati, dan saling bebas mengungkapkan pikiran dan isi  hatinya  masing- masing. Permasalahan  yang  terdapat  di  Rumah  Sakit  XYZ adalah belum pernal dilakukan Coaching pada perawat, walaupun metode pendidikan dan pelatihan lainnya sudah pernah dilakukan. Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan selama 5 bulan, dengan melibatkan 30 perawat yang bekerja di Rumah Sakit XYZ. Metode pendekatan/ solusi yang ditawarkan dalam pengabdian masyarakat ini adalah pelaksanaan sesi coaching grup, dalam satu grup sesi coaching terdiri dari 5 orang perawat. Hasil pengabdian ini, sebelum dilakukan sesi coaching di ukur motivasi dan kinerja perawat dengan hasil mean 1,68 dan SD 0,48 dan setelah dilakukan proses coaching dikur lagi motivasi dan kinerja perawat meningkat dengan mean 2,94 dan SD 0,71 dengan p-value 0,005. Dengan melihat nilai pengukuran diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan motivasi dan kinerja perawat setelah dilakukan proses sesi coaching. Kata Kunci: Coaching, Motivasi Kerja dan Kinerja Perawat  ABSTRACT Hospitals as places of health services, should have good and high quality health services. To improve the quality of these services, it is necessary to provide education and training to nurses who work in the hospital environment. Staff empowerment can be done using various methods, namely training, mentoring, counseling or coaching methods. Coaching is one way or key to unlock a person's potential to maximize performance. The essence of coaching is to empower people by facilitating self-learning, personal growth, and performance improvement. Coaching emphasizes aspects of interpersonal relationships which require a relationship of mutual trust, mutual respect, and mutual freedom to express one's thoughts and feelings. The problem at XYZ Hospital is that coaching has never been carried out for nurses, even though other education and training methods have been carried out. This community service was carried out for 5 months, involving 30 nurses who worked at XYZ Hospital. The approach/solution method offered in this community service is the implementation of group coaching sessions, in one coaching session group consisting of  5 nurses. The results of this service, before the coaching session was carried out, nurses' motivation and performance were measured with a mean of 1.68 and SD 0.48 and after the coaching process was carried out, nurses' motivation and performance were measured again with a mean of 2.94 and SD 0.71 with p- value 0.005. By looking at the measurement values above, it can be concluded that there is an increase in nurses' motivation and performance after the coaching session. Keywords: Coaching, Work Motivation and Nurse Performanc

    Studi fenomenologi pengalaman psikologis ibu hamil selama masa pandemi covid-19 di Manggarai NTT

    No full text
    Meningkatnya penyebaran Virus Corona (Covid-19) sejak Tahun 2019 telah menjadi salah satu masalah kesehatan global yang paling signifikan. Ibu Hamil termasuk dalam kelompok rentan dengan resiko sedang terhadap Covid-19. Efek yang ditimbulkan oleh virus corona pada ibu hamil tidak hanya pada kondisi kesehatan fisik ibu hamil, tetapi juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis ibu selama masa kehamilan sehingga ibu hamil memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami kecemasan, stres, dan depresi selama masa pandemi Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah menggali makna pengalaman psikologis ibu hamil selama masa pandemi Covid-19. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan interpretatif fenomenologi. Pengumpulan Data dilakukan melalui proses wawancara mendalam secara daring dengan video conference (zoom meeting dan video call whatsapp). Peneliti melakukan wawancara pada 10 partisipan yang didapat dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Data hasil wawancara selanjutnya dianalisa dengan menggunakan Interpretative Phenomenologi Analysis (IPA). Hasil penelitian didapatkan 10 tema, yaitu: (1) menganggap Covid-19 sebagai hal yang menakutkan, (2) ketakutan menggunakan layanan kesehatan, (3) merasa layanan primer lebih aman daripada Rumah Sakit, (4) cemas karena lebih beresiko tertular saat hamil, (5) stres meningkat selama hamil, (6) Dukungan orang sekitar menciptakan perasaan positif pada ibu hamil, (7) menjadi lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan sebagai upaya mengatasi kekhawatiran terpapar virus Covid-19, (8) menjadi lebih sering menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain, (9) berusaha bangkit melihat peluang untuk mengatasi permasalahan ekonomi saat masa pandemi Covid-19, dan (10) membiasakan diri dengan situasi pandemi Covid-19. Sepuluh tema besar ini tersusun atas beberapa subtema dan beberapa kategori. Partisipan ingin menggambarkan bahwa partisipan sudah pada tahap mencoba menerima kondisi pandemi walau partisipan masih memiliki perasaan takut, cemas, dan stres. Ibu hamil melakukan beberapa mekanisme koping sebagai upaya dari ibu hamilviii agar dapat membiasakan diri dengan perubahan yang terjadi selama pandemi pada ibu hamil. Ketika ibu hamil merasa takut menggunakan layanan kesehatan, cara yang dilakukan untuk mengurangi rasa takut adalah disiplin menerapkan protokol kesehatan. Selain itu saat ibu hamil merasa stres dengan pola interaksi sosial yang berubah, ibu hamil mulai lebih sering menggunakan media sosial untuk tetap terhubung dengan orang – orang terdekat ibu hamil. Keterbatasan penelitian ini ada pada proses pengumpulan data dimana peneliti menggunakan video conference seperti Zoom dan WhatsApp sebagai media komunikasi sehingga komunikasi terapeutik secara nonverbal dalam menggali informasi berhubungan dengan pengalaman psikologis partisipan tidak berjalan dengan optimal. Penerapan Kesehatan Jiwa Masyarakat pada kelompok ibu hamil untuk mengidentifikasi faktor resiko selama pandemi beserta faktor protektif dan faktor resiliansi bagi ibu hamil untuk menghadapi kondisi pandemi. Terapi kelompok terapeutik pada Ibu hamil dengan memanfaatkan media sosial dapat dilakukan pada kelompok ibu hamil untuk mengurangi permasalahan psikologis pada ibu hamil selama masa pandemi. Peneliti menyimpulkan tema utama yang didapatkan dari hasil penelitian ini adalah membiasakan diri dengan situasi pandemi Covid-19. Ibu hamil telah menggambarkan koping yang dilakukan untuk menghadapi stres, kecemasan, dan ketakutan selama masa pandemi Covid-19 dengan menaati protokol kesehatan, merubah kebiasaan dalam berinteraksi, dan mencoba bangkit dari keterpurukan selama pandemi Covid-19

    ANALISIS PERBEDAAN PERSEPSI PASIEN HIPERTENSI TENTANG PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA LANSIA

    No full text
    Hipertensi masih menjadi tantangan besar permasalahan kesehatan di Indonesia, di mana penyakit ini masih sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. . Saat ini penggunaan obat antihipertensi sebagai terapi pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi  belum terlaksana secara optimal. Pada kenyataannya, obat antihipertensi belum digunakan oleh semua pasien penderita hipertensi. Menurut data Riskesdas (2018), di provinsi NTT terdapat beberapa alasan pasien tidak menggunakan obat antihipertensi adalah ketidakterjangkauan pasien terhadap akses mendapatkan obat dan pasien lebih memilih untuk menggunakan obat tradisional (terapi komplementer). Tujuan penelitian ini adalah menganalisa perbedaan persepsi penggunaan antihipertensi berdasarkan kelompok umur lansia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan. Metode penelitan yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan pendekatan uji komparatif menggunakan analisa statistik sign test . Sampel dalam penelitian sejumlah 50 orang lansia denga teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini terdapat perbedaan signifikan antara persepsi penggunaan antihipertensi berdasarkan karakteristik variabel kelompok umur 0.000 (Ï<0.05), jenis kelamin 0.011 (Ï<0.05), tingkat pendidikan 0.000 (Ï<0.05), tingkat pendidikan (Ï<0.05) dan tingkat pengetahuan 0.000 (Ï<0.05)

    Association between convalescent plasma and the risk of mortality among patients with COVID-19: a meta-analysis [version 3; peer review: 2 approved]

    No full text
    Background: Convalescent plasma (CCP) has been used for treating some infectious diseases; however, the efficacy of CCP in coronavirus disease 2019 (COVID-19) remains controversial. The aim of this research was to assess the efficacy of CCP as an adjunctive treatment in COVID-19 patients. Methods: Embase, PubMed, Web of Science, Cochrane and MedRix were searched for potentially relevant articles. All included papers were assessed for the quality using modified Jadad scale and Newcastle-Ottawa scale for randomized controlled trial (RCT) and non – RCT, respectively. We used a Q test and Egger test to assess the heterogeneity and publication bias among studies, respectively. Mortality rates between patients treated with standard treatment and standard treatment with CCP were compared using a Z test. Results: A total of 12 papers consisting of three cross-sectional studies, one prospective study, five retrospective studies, and three RCT studies were included in our analysis. Of them, a total of 1,937 patients treated with CCP and 3,405 patients without CCP were included. The risk of mortality was 1.92-fold higher in patients without CCP compared to patients treated with CCP (OR: 1.92; 95%CI: 1.33, 2.77; p=0.0005). In severe COVID-19 sub-group analysis, we found that patients without CCP had a 1.32 times higher risk of mortality than those treated with CCP (OR: 1.32; 95%CI: 1.09, 1.60; p=0.0040). Conclusions: CCP, as adjunctive therapy, could reduce the mortality rate among COVID-19 patients
    corecore