1,029 research outputs found
Author Correction: New perspectives on Neanderthal dispersal and turnover from Stajnia Cave (Poland)
The Author contributions section now reads:“W.N., A.N. and S.T. designed research; A.P., M.H., W.N., S.B., M.U., A.M., H.F., M.D.B., P.S., K.S., M.Ż., A.W., A.N. and S.T. performed research; A.P., M.H., W.N., S.B., M.U., A.M., H.F., M.D.B., P.S., K.S., M.Ż., A.W., A.N. and S.T. analysed data; A.P., M.H., S.T., W.N. and S.B. wrote the paper with the collaboration of all the co-authors.
Perencanaan Rekayasa Lalu Lintas Pembangunan Asrama Haji Kabupaten Jember
Kementerian Agama Kabupaten Jember mencatat jumlah Jamaah haji
Kabupaten jember pada tahun 2019 mencapai 1977 orang. Oleh karena itu, pada
tahun 2019 Pemerintah Kabupaten Jember merencanakan pembangunan Asrama
Haji. Asrama Haji tersebut akan berfungsi sebagai hotel sub embarkasi haji
dengan kapasitas 440 orang. Pembangunan Asrama Haji diperkirakan akan
mengakibatkan bangkitan dan tarikan yang nantinya akan membebani simpang
dan ruas jalan di sekitarnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah
bangkitan dan tarikan serta kinerja jaringan jalan akibat pembangunan Asrama
Haji Kabupaten Jember.
Penelitian ini menggunakan metode observasi dan analisis. Metode
observasi dilakukan untuk mendapatkan data bangkitan dan tarikan, volume lalu
lintas, dan inventarisasi jaringan jalan. Metode analisis digunakan untuk
mengetahui kinerja simpang dan ruas jalan yang berada di sekitar Asrama Haji.
Analisis kinerja simpang dan ruas jalan dilakukan ketika ada beban dan tanpa
beban Asrama Haji. Analisis kinerja jaringan jalan menggunakan MKJI 1997.
Analisis dilakukan pada saat kondisi eksisting di tahun 2019, saat Asrama Haji
diperkirakan mulai beroperasi di tahun 2021, dan saat 5 tahun setelah beroperasi
pada tahun 2026.
Hasil survei menunjukkan bahwa Asrama Haji Kabupaten Jember menarik
perjalanan sebesar 662 smp dan diprediksi membangkitkan perjalanan sebesar 662
smp. Dari hasil analisis didapatkan kinerja simpang paling buruk terjadi pada
Simpang Pakem. Nilai tundaan Simpang Pakem sebesar 1617,64 det/smp pada
tahun 2021 dan 1809,14 det/smp pada tahun 2026. Kinerja ruas jalan paling buruk
terjadi pada ruas Jalan M.H. Thamrin. Nilai derajat kejenuhan ruas Jalan M.H.
Thamrin pada tahun 2021 adalah 1,44. Nilai derajat kejenuhan ruas Jalan M.H.
Thamrin pada tahun 2026 adalah 1,53. Berdasarkan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa Simpang Pakem dan ruas Jalan M.H. Thamrin perlu adanya
penanganan.
Penanganan yang dilakukan untuk mengatasi dampak pembangunan Asrama
Haji terhadap simpang adalah dengan optimasi fase. Optimasi fase dilakukan pada
simpang pakem. Hasil optimasi pada tahun 2021 menghasilkan waktu hijau untuk
lengan Jalan Basuki Rahmat Sabtuan adalah 32 detik, lengan Jalan Basuki Rahmat
Bandara adalah 20 detik, dan lengan Jalan Wolter Monginsidi adalah 34 detik.
Optimasi fase tersebut mampu menurunkan tundaan sebesar 66% dan derajat
kejenuhan sebesar 30%. Hasil optimasi pada tahun 2026 menghasilkan waktu
hijau untuk lengan Jalan Basuki Rahmat Sabtuan adalah 32 detik, lengan Jalan
Basuki Rahmat Bandara adalah 21 detik, dan lengan Jalan Wolter Monginsidi adalah 32 detik. Optimasi fase tersebut mampu menurunkan tundaan sebesar 55%
dan derajat kejenuhan sebesar 25%. Penanganan yang dilakukan untuk mengatasi
dampak pembangunan Asrama Haji terhadap ruas jalan adalah dengan rekayasa
lalu lintas berupa pengalihan arus atau penutupan ruas jalan
Author Correction:A 41,500 year-old decorated ivory pendant from Stajnia Cave (Poland)
Correction to: Scientific Reports https://doi.org/10.1038/s41598-021-01221-6, published online 25 November 2021The original version of this Article contained errors in the author list where Marjolein D. Bosch was omitted from the author list, and Mikołaj Urbanowski was incorrectly listed as an author of the original Article, and has subsequently been removed.The Author contributions section now reads:“S.T. W.N. and A.N. conceived the project; S.T., W.N., A.P., M.B., S.C., M.D., H.F., A.M., M.D. B., D.P., M.P.R., C.M.R., V.S-M., G.M.S., P.S., M.S., K.S., A.V., F.W., H.W., A.W., M.Z., S.B., A.N., J-J. H., performed research; S.T., A.P., W.N., M.B., M.D.B., S.C., M.D., H.F., A.M., D.P., M.P.R., C.M.R., V.S-M., G.M.S., P.S., M.S., K.S., A.V., F.W., H.W., A.W., M.Z., S.B., A.N., J-J. H. analysed all archaeological data; S.T. and A.P. wrote the paper with the collaboration of all the co-authors.”The original Article and its accompanying Supplementary Information file have been corrected
Lovecraft and Religion
The article was originally published as a chapter in S.T. Joshi’s book Lovecraft and a World in Transition: Collected Essays on H. P. Lovecraft (New York: Hippocampus Press 2014, pp. 187-195). The presented version was kindly provided to „Creatio Fantastica” by the Author without any copyright fee and translated into Polish by Magdalena Wąsowicz
PENGARUH VARIASI ARUS LISTRIK PADA LAS SMAW SAMBUNGAN V SUDUT 60O DENGAN ELEKTRODA STAINLESS STEEL E308 TERHADAP KEKUATAN TARIK, KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO
ABSTRACT Basuki, Moh. Astono. 2016. Pengaruh Variasi Arus Listrik pada Las SMAW Sambungan V Sudut 60o dengan Elektroda Stainless Steel E308 Terhadap Kekuatan Tarik, Kekerasan dan Struktur Mikro. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sukarni, S.T., M.T, (II) Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd.Kata Kunci: SMAW, kekuatan tarik, kekerasan, variasi arus listrik, austenitic stainless steel 304.Shielded Metal Arc Welding (SMAW) atau las busur nyala listrik adalah proses pengelasan dengan busur nyala listrik dimana panas diperoleh dari busur nyala yang memancar antara elektroda (dengan selubung flux) dan benda kerja. SMAW merupakan las yang banyak digunakan industri, di bengkel-bengkel besar maupun kecil. Selain digunakan untuk pengelasan logam besi baja, las SMAW juga dapat digunakan untuk pengelasan baja tahan karat atau stainless steel. Dari beberapa jenis stainless steel, austenitic stainless steel merupakan jenis yang mempunyai sifat mampu las lebih baik dibanding dengan jenis yang lainnya. Dalam pengelasan SMAW terdapat parameter diantaranya arus listrik pengelasan yang dapat mempengaruhi sifat mekanik dari hasil lasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan tarik dan kekerasan sambungan las stainless steel pengelasan SMAW dengan variasi arus listrik pengelasan 60, 80, dan 100 Ampere.Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental. Sedangkan desain penelitiannya adalah penelitian eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis one way annova. Objek penelitian ini adalah austenitic stainless stell 304 yang diberikan perlakuan yakni pengelasan SMAW dengan variasi arus listrik pengelasan 60, 80, dan 100 Ampere kemudian di uji kekuatan tarik dan uji kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan rerata kekuatan tarik sambungan las dengan arus listrik 60 Ampere adalah 59,578 kg/mm2, dengan arus listrik 80 Ampere adalah 61,849 kg/mm2, dan dengan arus listrik 100 Ampere adalah 63,031 kg/mm2. Rerata kekerasan sambungan las dengan arus listrik 60 Ampere pada daerah parent metal 90,83 HRB, HAZ 91,5 HRB, weld metal 91,83 HRB, dengan arus listrik 80 Ampere pada daerah parent metal 90,16 HRB, HAZ 90,83 HRB, weld metal 92 HRB, dan dengan arus listrik 100 Ampere pada daerah parent metal 90,33 HRB, HAZ 86,83 HRB, weld metal 89,23 HRB. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kekuatan tarik dan kekerasan sambungan las dari proses pengelasan SMAW akibat variasi arus listrik pengelasan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dari variasi arus listrik pengelasan pada proses pengelasan SMAW terhadap nilai kekuatan tarik dan kekerasan pada austenitic stainless steel 304
Pengembangan Modul Ajar Rancang Bangun Jaringan Pada Kelas XII TKJ
ABSTRAK Basuki, Fentaria Hari. 2013. Pengembangan Modul Ajar Rancang Bangun Jaringan Pada Kelas XII TKJ. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muladi, S.T., M.T., (II) M. Zainal Arifin, S.Si., M.Kom. Kata kunci : modul ajar, rancang bangun jaringan, TKJ, kurikulum 2013 Bahan ajar memegang peran penting dalam proses pembelajaran. Tanpa bahan ajar yang memadai, keefektifan proses pembelajaran akan terhambat. Maka, kebutuhan terhadap bahan ajar sangatlah tinggi. Salah satu bahan ajar yang unggul untuk digunakan dalam proses pembelajaran adalah modul. Keunggulan modul adalah bentuknya yang ringkas dan mudah dipelajari. Dari hasil observasi, didapati bahwa di lapangan, ketersediaan modul yang mumpuni masih terbatas, terutama modul yang disediakan untuk menunjang kurikulum 2013. Dalam penelitian ini, dikembangkan modul untuk mata pelajaran produktif TKJ kelas XII, yaitu untuk mata pelajaran ‘rancang bangun jaringan'. Model pengembangan yang digunakan dalam proses pengembangan modul ini adalah model pengembangan Sugiyono dengan langkah-langkah pengembangan sebagai berikut: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, (7) revisi produk, (8) ujicoba pemakaian, (9) revisi produk, (10) produksi masal. Jenis data yang diperoleh dari validasi dan uji coba produk berupa data kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan pada hasil validasi dan uji coba, diperoleh persentase dari setiap subyek sebagai berikut: (1) validasi ahli media, diperoleh persentase sebesar 91,6 %, (2) validasi ahli materi, diperoleh persentase sebesar 91,18 %, (3) uji coba pada kelompok kecil diperoleh persentase sebesar 84,17 % dan (4) uji coba lapangan diperoleh persentase sebesar 84,6 %. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba tersebut, dapat disimpulkan bahwa produk sudah layak dan dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Akan tetapi, perlu diingat bahwa modul yang dikembangkan masih sebatas diuji cobakan dan belum diterapkan pada pembelajaran. Untuk mengetahui efektivitas produk secara nyata, perlu dilakukan penerapan pada pembelajaran di kelas
Experimental research on the effects of surface screens on a mobile bed
In 2000 the Dutch government chose a new point of view for the Dutch rivers: “Room for the River”. This viewpoint is the basis for a new approach of high water protection in the Netherlands. Instead of strengthening and raising the dikes, solutions must be based on space and spatial quality. One of the suggested measures is the addition of secondary channels. The purpose of these channels is enlarging the conveyance area and the ecological role of the river. Maintaining the profile of these channels involves substantial financial consequences. Finding a sustainable solution for undesired erosion or sedimentation is the main focus of this study. The research question is stated as follows: “How can the undesired erosion or sedimentation in secondary channels be corrected with a temporary but sustainable solution in the form of surface screens?”. The main part of this study is an experimental study on the effects of surface screens on a mobile bed. The design of the physical experiments requires choices about the geometry of the flume. The experiments were carried out with a straight flume and with a dividing wall. Preparing the experiments requires information about the flume facility. The experiments have been carried out in the Environmental Fluid Mechanics Laboratory of DUT. The upstream boundary conditions are discharge and velocity distribution. The downstream boundary condition consisted of a fixed water level. The water level was kept constant along the natural slope of the surface. The experiments consist of taking velocity and bed level. The angle of attack and the penetration depth were chosen to be variable. The angle of attack was varied between 15 and 25 degrees. With these relatively small angles the screen acts as guidance for the flow, instead of an obstruction. The penetration depth was varied between 20% and 60% of the water column. The initial test run determined the optimal measurement duration and the initial equilibrium. Four representative cases have been described in detail, giving support to the general conclusions. The flow pattern changes under influence of the surface screen. The main flow direction is guided by the screen, introducing a transverse velocity at the surface. As flow continuity in the flume has to be maintained, the water near the bottom is forced to have a transverse velocity in opposite direction. Redistribution of the suspended transport and the bottom transport was induced. This generated locations were the actual transport did not meet the transport capacity, which gives rise to morphological changes. Next to the spiral motion the screen had an effect on the longitudinal flow velocities. The attacked side of the flume experiences a higher velocity, thereby having a higher transport capacity. This higher capacity gives rise to local erosion of the bed. At the unattacked side, sedimentation occurs, thereby rising the bed level. In the B-series of the experiment a dividing wall was added. The screen in front of the bifurcation gave rise to the same two processes, but the wall introduced an extra effect. The screen influenced the bifurcation relationship. The bed level adapted to the new conditions. The upstream effect of the bifurcation is explained by changes in water level topography, thereby influencing the backwater curve. In general the wall amplified the morphological development of the bed. Finally some suggestions have been made for the practical application of surface screens. In general the screens can be applied in a (secondary) channel or in front of a bifurcation. The use of a screen inside a channel has an advantage not to interfere with the navigation channel. The advantage of a screen in front of a bifurcation is influencing two channels simultaneously. One of the main disadvantages of the latter is the possibility of disturbing the delicate bifurcation relationship. When carefully implemented this effect can simultaneously be the main advantage of this screen layout, as the morphological response increases.Hydraulic EngineeringCivil Engineering and Geoscience
Pedagogical ideas of S.T. Shatsky
U radu se prate osnovne pedagoške ideje poznatog ruskog i sovjetskog društvenog radnika i pedagoga S. T. Šackog. Članak polazi od osnovnih informacija njegove biografije, neprekidno povezane sa radom u prosveti i razmišljanjima o vaspitanju, prikazujući ih kao podlogu razvoja njegovih pedagoških ideja. Dalji tekst kratko iznosi njegove osnovne ideje u tematskim celinama o kritici škole, cilju vaspitanja, škole budućnosti, predškolskom i vanškolskom vaspitanju, didaktičkim shvatanjima, položaju deteta u vaspitnom procesu, radu učitelja i mestu škole u društvenoj sredini. Rad pokušava da dovede u vezu shvatanja Šackog sa savremenim pogledima na iste probleme. U tekstu se, takođe, može uočiti nekoliko tema za razmišljanje koje su naročito izdvojene u zaključnom delu članka: trajnost pitanja o vaspitanju, odnosno pedagoških problema, mogućnosti ostvarivanja ideja o promeni škole kao institucije vaspitnog sistema, odnos rada u prosveti i društvenog angažovanja.The author discusses the pedagogical ides of a well known Russian and Soviet social worker and pedagogue S.T. Shatsky. The report starts with the basic information from his biography, always in connection with his work in education and his contemplation on education, showing them as a background for the development of his pedagogical ideas. It proceeds by' an account on hid ideas in themes on criticism of school, the objective of education of the school of future, pre school and out of school education, didactic ideas, the position of child in the process of education, the work of the teacher and the place of school in the social milieu. The author attempts to bring together Shatsky's ideas and the modern attitudes to the same problems. The text also offers a number of topics for discussion, especially dealt with in the closing part: the duration of the issue of education, i.e. pedagogical problems, the possibility' of realization of the ideas on the change of school as a institution of education system, the relation of work in education and social engagement
ANALISIS TERJADINYA DETONASI DALAM RUANG BAKAR PADA MESIN INDUK DI MV. SINAR SOLO DENGAN METODE FISHBONE ANALYSIS
Ragil Basuki, 49124582.T, 2017, “Analisa terjadinya detonasi dalam ruang bakar pada Mesin Induk di MV. Sinar Solo dengan metode Fishbone Analysis”, Program Diploma IV, Teknika, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Drs. Darjono, M.Mar.E dan Pembimbing II: Adi Oktavianto, S.T., M.M.
Perkembangan mesin diesel khususnya mesin 2 tak (langkah) sejak lama telah mengalami banyak proses modifikasi, baik dari segi desain konstruksi maupun dari segi kapasitas daya yang dibangkitkan. Karakteristik utama dari mesin diesel yang membedakan dari motor bakar yang lainnya adalah metode penyalaan bahan bakar. Dalam mesin diesel bahan bakar diinjeksikan ke dalam silinder, yang berisi udara bertekanan tinggi. Selama kompresi, udara dalam silinder mesin maka suhu udara meningkat, sehingga ketika bahan bakar dalam bentuk kabut halus, bersinggungan dengan udara panas ini, akan menyala. Berdasarkan fakta yang dialami penulis pada Mesin Induk di MV Sinar Solo, hampir dalam tiap dua kali voyage terjadi detonasi pada mesin. Parameter dari detonasi adalah kondisi pada mesin induk yang ditandai dengan kenaikan suhu gas buang yang tinggi pada salah satu silinder, disertai dengan dentuman yang keras dan getaran yang cukup kencang pada Mesin Induk serta kepulan asap pada cerobong yang sangat hitam karena disebabkan oleh pembakaran yang tidak sempurna pada salah satu silinder.
Metode yang digunakan ialah Fishbone Analysis/Diagram, diagram tulang ikan atau diagram fishbone adalah salah satu metode di dalam meningkatkan kualitas. Sering juga diagram ini disebut dengan diagram sebab-akibat atau cause effect, diagram yang menggunakan data verbal (non-numerical) atau data kualitatif.. Sedangkan tulang ikan diisi oleh sebab-sebab sesuai dengan pendekatan permasalahannya. Dikatakan diagram Cause and Effect (Sebab dan Akibat) karena diagram tersebut menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat. Berkaitan dengan pengendalian proses statistikal, diagram sebab-akibat dipergunakan untuk menunjukkan faktor-faktor penyebab (sebab) dan karakteristik kualitas (akibat) yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab itu.
Dari uraian yang telah dikemukakan pada bab pembahasan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Faktor penyebab terjadinya detonasi adalah injector yang tidak bekerja secara normal, tekanan injector yang terlalu rendah, dan kualitas bahan bakar yang tidak baik. Dampak yang terjadi bila terjadi detonasi pada Mesin Induk adalah keretakan pada torak dan batang torak, dan menimbulkan getaran yang besar pada motor. Upaya mencegah terjadinya detonasi adalah dengan cara dilakukannya perawatan, perbaikan dan dilakukan pengecekan pada kualitas bahan bakar, dan dilakukan pengecekan serta pengukuran terhadap komponen Mesin Induk yang perlu diadakan pengukuran secara rutin.
Kata kunci : Mesin diesel, Detonasi, FishBone Analysis
Stabilizing Control System of a Platform of a Buoy for Offshore Wind Assessment
The purpose of this project is to design a control system to stabilize a platform on a buoy. Stabilization of the platform on the buoy is needed for reliable measurements of wind speed and wind direction on sea using LiDAR (Light Detection And Ranging) modules. These modules use the reflection of particles in the air to measure the wind speed and wind direction. This report is a description of the design of a prototype for a buoy with a stabilized platform. The research contains a study on the behavior of a buoy on waves, a description of the choices made for the design, a description of the used test methods, the test results and some recommendations for improvements on the design, based on the test results. The platform is controlled by three linear actuators of adjustable length. The angle of tilt of the platformis measured with a gyroscope and is used for controlling the linear actuators. The platform is able to compensate an angle of tilt that is smaller than 38° . The reaction time on deviations that are smaller than 10° is less than 1.2 seconds. The reliability on the long term must be improved, through implementation of some recommendations. One of these recommendations is the use of a Kalman filter to prevent long term drift of sensor output by combining different kinds of sensors.Electrical EngineeringElectrical Engineering, Mathematics and Computer Scienc
- …
