119,168 research outputs found
PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR PADI SAWAH (Oryza sativa L) PADA TIGA JUMLAH BARIS CARA TANAM LEGOWO
Penelitian ini ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah baris pada cara tanam legowo terhadap pertumbuhan dan hasil empat kultivar padi sawah, serta untuk mengetahui jumlah baris dan kultivar padi sawah yang paling baik pada cara tanam legowo.Percobaan dilaksanakan di Desa Ciwaru, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten. Pengujian dilaksankan mulai bulan Februari 2002 sampai dengan bulan Juni 2002.Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 kombinasi perlakuan jumlah baris dan kultivar, terdiri dari A (2 baris legowo, kultivar IR-64), B (2 baris legowo, kultivar Maros), C (2 baris legowo, kultivar Membramo), D(2 baris legowo, kultivar Way seputih), E (4 baris legowo, kultivar IR-64), F (4 baris legowo, kultivar Maros), G (4 baris legowo, kultivar Membramo), H (4 baris legowo, kultivar Way Seputih), I (6 baris legowo, kultivar IR-64), J (6 baris legowo, kultivar Maros), K (6 baris legowo, kultivar Membramo), dan L (6 baris legowo, kultivar Way seputih). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga seluruhnya terdapat 36 satuan pengujian.Hasil penelitian menunjukkan (1) Kombinasi perlakuan jumlah baris dan kultivar berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif per rumpun, jumlah gabah total dan gabah isi per malai, hasil gabah kering panen dan gabah kering giling per petak, (2) Gabah kering panen dan kering giling per petak tertinggi terdapat pada kultivar Way Seputih dengan jumlah baris 4 dan 6., dan (3) untuk kultivar IR-64 hasil tertinggi pada perlakuan 6 baris legowo, kultivar Membramo pada 4 baris serta kultivar Maros dengan 2, 4 dan 6 baris legowo
Pertumbuhan Pakcoy di Lahan Kering melalui Optimalisasi Media dan Baris Tanam dalam Vertikultur Fertigasi
Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) didominasi lahan kering namun terbatas untuk pertanian, sehingga diperlukan penerapan vertikultur sistem fertigasi untuk mengatasi masalah di lahan kering dengan mengkaji formulasi media tanam dan kosentrasi pupuk serta pengaturan interval baris tanam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pupuk N dengan media dan baris tanam yang optimal terhadap pertumbuhan tanaman pakcoy dalam budidaya vertikultur sistem fertigasi di lahan kering. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Petak Terbagi dua faktor, yaitu pupuk dengan media dan baris tanam. Pupuk dengan media terbagi atas: kombinasi tanah 50% : biochar + kompos 50% dengan urea 0,75 g/L + POC 30 mL/L + BPN 7,5 mL/L; kombinasi tanah 50% : biochar + kompos 50% dengan urea 0,5 g/L + POC 20 mL/L + BPN 5 mL/L; kombinasi tanah 25% : biochar + kompos 75% dengan urea 0,75 g/L + POC 30 mL/L + BPN 7,5 mL/L; dan kombinasi tanah 25% : biochar + kompos 75% dengan urea 0,5 g/L + POC 20 mL/L + BPN 5 mL/L, Baris tanam terbagi atas: baris tanam pertama, kedua, dan ketiga, Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi media tanam tanah 25% : biochar+kompos 75% dengan pupuk urea 0,75 g/L + POC 30 mL/L + BPN 7,5 mL/L dan baris tanam kedua mampu merupakan perlakuan yang optimal dalam meningkatkan pertumbuhan pakcoy di lahan kering melalui budidaya vertikultur dengan sistem fertigasi. Penelitian ini menjadi informasi penting untuk pertanian dalam pengetahuan memilih konsentrasi pupuk dengan komposisi media dan penempatan baris tanam pada budidaya tanaman pakcoy sistem vertikultur di lahan kering
PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR PADI SAWAH (Oryza sativa L) PADA TIGA JUMLAH BARIS CARA TANAM LEGOWO
Penelitian ini ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah baris pada cara tanam legowo terhadap pertumbuhan dan hasil empat kultivar padi sawah, serta untuk mengetahui jumlah baris dan kultivar padi sawah yang paling baik pada cara tanam legowo.Percobaan dilaksanakan di Desa Ciwaru, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten. Pengujian dilaksankan mulai bulan Februari 2002 sampai dengan bulan Juni 2002.Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 kombinasi perlakuan jumlah baris dan kultivar, terdiri dari A (2 baris legowo, kultivar IR-64), B (2 baris legowo, kultivar Maros), C (2 baris legowo, kultivar Membramo), D(2 baris legowo, kultivar Way seputih),   E  (4 baris legowo, kultivar IR-64), F (4 baris legowo, kultivar Maros), G (4 baris legowo, kultivar Membramo), H (4 baris legowo, kultivar Way Seputih), I (6 baris legowo, kultivar IR-64), J (6 baris legowo, kultivar Maros), K (6 baris legowo, kultivar Membramo), dan L (6 baris legowo, kultivar Way seputih). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga seluruhnya terdapat 36 satuan pengujian.Hasil penelitian menunjukkan (1) Kombinasi perlakuan jumlah baris dan kultivar berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif per rumpun, jumlah gabah total dan gabah isi per malai, hasil gabah kering panen dan gabah kering giling per petak, (2) Gabah kering panen dan kering giling per petak tertinggi terdapat pada kultivar Way Seputih dengan jumlah baris 4 dan 6., dan (3) untuk kultivar IR-64 hasil tertinggi pada perlakuan  6 baris legowo, kultivar Membramo pada 4 baris serta kultivar Maros dengan 2, 4 dan 6 baris legowo
Pengaturan Jarak Tanam Pada Tanaman Pola Baris Tunggal Dan Baris Ganda Terhadap Produksi Jagung Hibrida (Zea Mays L.) P35
Di Indonesia,jagung termasuk bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak ayam. Produktivitas sumber daya lahan di Indonesia memang perlu di tingkatkan lagi. Upaya peningkatan produktivitas lahan dapat dilakukan melalui pengaturan tata letak tanam dan jarak tanam yang tepat. Pengaturan tata letak dan jarak tanam ini berguna untuk memberikan hasil tanam yang optimal dengan memanfaatkan luas lahan yang terbatas. Terdapat dua tata letak tanaman yang sudah dikenal masyarakat yaitu tata letak satu baris (single row) dan dua baris (double row). Pengaturan jarak tanam yang sempit dengan harapan populasi yang banyak dapat memberikan hasil panen yang besar, namun pada kenyataannya bahwa populasi yang terlalu banyak pada satu lahan akan memberikan hasil panen yang sedikit. Maka terjadi penurunan produksi biji yang disebabkan persaingan unsur hara karena jarak tanam yang digunakan terlalu sempit. Begitu juga dengan penggunaan jarak tanam yang terlalu lebar. Penggunaan jarak tanam yang terlalu lebar dapat mengurangi jumlah populasi. Kurangnya jumlah populasi dalam suatu lahan dapat mengurangi hasil produksi karena kurangnya tanaman yang menghasilkan tongkol. Seperti yang dikatakan oleh Karimuna (2009), Pengaturan jarak tanam akan berpengaruh pada tingkat produksi biji per hektar, dengan bertambahnya jumlah tanaman sampai saat tertentu dimana sejumlah tanaman akan mengurangi jumlah biji per tanaman.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2015 sampai dengan Februari tahun 2016 di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Alat yang digunakan dalam penelitian ini: cangkul, tali raffia, ember, tugal, luxmeter, penggaris, bolpoint, buku tulis, plastik, LAM (Leaf Area Meter), timbangan analitik, oven, kamera digital Samsung, rol meter, amplop, dan plakat. Bahan yang digunakan berupa benih jagung varietas baru dari Pioneer yaitu P35, pupuk Urea 300 kg/ha, pupuk SP36 200 kg/ha, pupuk KCL 75 kg/ha. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama menggunakan tata letak R1 = Satu baris danR2 = Dua baris, factor kedua menggunakan jarak tanam J1 = Jarak 70 x 15 cm, J2 = Jarak 70 x 20 cm, J3 = Jarak 70 x 25 cm, J4 = Jarak 70 x 30 cm, J5 = Jarak 70 x 35 cm, dengan jarak antar tanaman 80 cm, sehingga didapatkan 10 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali yaitu U1R1J1, U1R1J2, U1R1J3, U1R1J4, U1R1J5, U1R2J1, U1R2J2, U1R2J3, U1R2J4, U1R2J5, U2R1J1, U2R1J2, U2R1J3, U2R1J4, U2R1J5, U2R2J1, U2R2J2, U2R2J3, U2R2J4, U2R2J5,U3R1J1, U3R1J2, U3R1J3, U3R1J4, U3R1J5, U3R2J1, U3R2J2, U3R2J3, U3R2J4, U3R2J5. Pengamatan dilakukan secara destruktif dengan mengambil 2 tanaman contoh untuk setiap kombinasi perlakuan. Pengamatan pertumbuhan hingga panen dilakukan setiap 2 minggu sekali pada 14 HST, 28 HST, 42 HST, 56 HST, 70 HST dan 84 HST meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar daun, bobot segar batang, bobot segar akar, bobot segar tongkol, bobot kering daun, bobot kering batang, bobot kering akar, bobot kering tongkol dan intensitas cahaya matahari. Sedangkan parameter hasil
atau panen mengambil 4-8 tanaman contoh dan dilakukan pada 98 HST meliputi berat tongkol jagung tanpak lobot, berat biji pipilan, bobot 100 biji. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan kemudian di analisis menggunakan ANOVA pada taraf 5%. Apabila dari hasil pengamatan terdapat pengaruh nyata maka akan di uji lanjut menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antar perlakuan tata letak tanam dengan jarak tanam terhadap parameter pertumbuhan dan hasil. Penggunaan tata letak tanam perlakuan satu baris maupun dua baris pada komponen pertumbuhan yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar daun, bobot segar batang, bobot segar akar, bobot kering daun, bobot kering batang, dan bobot kering akar menunjukkan bahwa tanaman jagung tumbuh dengan baik pada perlakuan jarak tanam 70 x 35 cm pada penggunaan tata letak tanam satu baris dan dua baris. Kemudian pada penggunaan tata letak tanam perlakuan satu baris maupun dua baris pada komponen hasil memberikan hasil tertinggi sebesar 6.95 ton/ha-1. Hasil produksi tanaman jagung yang ditanam pada perlakuan satu baris menunjukkan bahwa hasil optimal diperoleh pada jarak 70 x 30 cm, namun hasil produksi tanaman jagung yang ditanam pada perlakuan dua baris menunjukkan bahwa hasil yang optimal diperoleh pada jarak 70 x 15 cm
PERKUATAN LERENG PASIR DENGAN RC 88% MENGGUNAKAN DUA BARIS PILE DENGAN VARIASI POSISI
Indonesia memiliki kontur yang beragam dari dataran rendah, perbukitan hingga lereng.Permasalahan yang sering muncul berupa longsor pada pemukiman atau bangunan yangdidirikan pada daerah perbukitan dan lereng. Pilar digunakan sebagai struktur penahan padalereng untuk perkuatan tanah.Metode penelitian yang dilakukan adalah denganmemasukkan tanah berjenis pasir dengan kondisi kering permukaan ke dalam box, setelahmodelling box sudah dipadatkan setebal 70 cm lalu tancapkan pilar sebagai perkuatan hinggakedalaman 5 cm dari dasar box permodelan dan jarak antar pilar setiap 10 cm, kemudiandilakukan pemotongan lereng dengan sudut kemiringan lereng 50o. Pada lereng dengan 2baris pilar perkuatan dengan D2/D1 = 0,80 beban runtuh maksimum sebesar 0,649 kg/cm2.Untuk posisi pilar yang optimal berada pada posisi tengah atas. Pada variasi posisi pilarlokasi pilar optimal baris kedua pada Lx/L = 0,6. Dengan analisis menggunakan FEM, angkakeamanan pada lereng tanpa perkuatan diperoleh sebesar 1,065 pada aplikasi FEM. Untuklereng dengan perkuatan satu baris pilar pada Lx/L = 0,9 dan D2/D1 = 0,68 diperoleh angkakeamanan sebesar 1,393 pada aplikasi FEM. Untuk lereng dengan perkuatan dua baris pilardiperoleh angka keamanan sebesar 0,9545 pada aplikasi FEM 2D dan 1,458 pada aplikasiFEM 3D. Angka keamanan terbesar diperoleh pada pilar baris kedua pada variasi posisidengan Lx/L = 0,6 dan pada variasi diameter dengan D2/D1 = 0,80.Kata Kunci: Angka keamanan, Perkuatan, Lereng, Pilar, Longsor
PENGARUH PERKUATAN DOUBLE ROW PILES PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR DR 88% DENGAN VARIASI DIAMETER PADA BARIS KEDUA PILE (LX BARIS 2 = 0,6)
Indonesia memiliki kontur yang beragam dari dataran rendah, perbukitan hingga lereng. Pada saat musim hujanberlangssung daerah perbukitan hingga lereng sering mengalami longsor yang menyebabkan korban jiwa yang cukupbanyak.Pile digunakan pada modeling lereng sebagai struktur penahan saat lereng diberikan beban. Untuk persiapanpemodelan dilakukan dengan memasukan tanah dengan jenis pasir pada box modeling. Ukuran box modeling yangdigunakan adalah 1 m x 1m x 1,5m. Pasir dimasukan setiap 10 cm dan dilakukan pemadatan menggunakan silinderbeton dengan 15 gilasan. Pasir dimasukan dan dipadatkan hingga ketinggian mencapai 70 cm setelah itu tancapkanpile sesuai dengan variasi diameter yang akan diamati. Setelah pile tertancap lereng pasir dikikis dengan kemiringan50o. Pembebanan pada lereng dilakukan dengan menggunakan pondasi menerus selebar 13 cm dengan jarak pondasipada tepi lereng sebesar 5cm. Pembacaan beban telah mencapai longsor pada saat pembacaan telah diulang 3x namunbeban yang diberikan tidak mengalami peningkatan.Dengan dilakukanya penelitian ini akan mengetahui jeniskelongsoran yang terjadi pada model lereng sesuai dengan variabel yang diteliti. Mengetahui variasi diameteroptimum pile sebagai penahan lereng. Serta mengetahui peningkatan angka keamanan untuk setiap variabel yangditeliti.Untuk lereng tanpa perkuatan didapatkan tegangan tanah sebesar 0,301 kg/cm2. Untuk lereng denganperkuatan satu baris pile (Lx/L 0,9 dan D2/D1 = 0,68) didapatkan peningkatan daya dukung tanah sebesar 73.75%.Untuk lereng dengan perkuatan 2 baris pile didapatkan peningkatan daya dukung 62,72% dari perkuatan 1 baris pile.Pada pelaksanaan percobaan di laboratorium diperoleh jenis keruntuhan untuk lereng tanpa perkuatan merupakankeruntuhan pada kaki lereng dan keruntuhan untuk lereng menggunakan perkuatan adalah keruntuhan pada lereng.Angka keamanan pada lereng tanpa perkuatan sebesar 1.065. Untuk lereng dengan perkuatan satu baris pile (Lx/L 0,9dan D2/D1 = 0,68) terjadi peningkatan angka keamanan 30,8%. Pada perkuatan lereng dengan dua baris pile terjadipeningkatan 40,09% dari lereng tanpa perkuatan.Kata kunci : Perkuatan lereng, pasir, alumunium, longsor, angka keamanan, jenis longso
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Pengaruh Perkuatan Double Row Pile Variasi Diameter pada Posisi Baris Kedua (Lx2/L = 0,6) terhadap Daya Dukung Tanah pada Lereng Pasir Dr 88%
Struktur pondasi merupakan bagian penting dalam suatu konstruksi. Struktur pondasi yang dibangun dekat dengan puncak lereng akan menghasilkan daya dukung relatif lebih kecil dan stabilitas lereng yang rendah. Salah satu metode yang dapat digunakan sebagai struktur perkuatan lereng yaitu perkuatan tiang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perkuatan dua baris tiang variasi diameter pada baris kedua (Lx2/L = 0,6) terhadap peningkatan daya dukung tanah pada lereng pasir. Pendekatan analisis menggunakan pendekatan numerik berupa metode elemen hingga (MEH).
Data pada penelitian ini berupa data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya. Analisis MEH menggunakan perangkat lunak PLAXIS 2D, PLAXIS 3D, dan ABAQUS 3D. Hasil dari analisis MEH yaitu nilai tegangan dan penurunan tanah. Data tersebut kemudian diolah untuk memperoleh nilai daya dukung ultimit dengan metode 0,1B. Metode 0,1B merupakan metode dalam menentukan nilai daya dukung ultimit dengan membatasi penurunan pondasi sebesar 10% dari lebar pondasi (B). Daya dukung ultimit dianalisis kembali untuk memperoleh nilai bearing capacity improvement (BCI).
Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan daya dukung ultimit dengan menggunakan perkuatan dua baris tiang variasi diameter pada baris kedua (Lx2/L = 0,6). Peningkatan berbanding lurus dengan ukuran diameter tiang yang digunakan. Daya dukung optimum diperoleh dengan kondisi rasio D2/D1 = 0,68 (Dpile = 3,2 cm). Nilai bearing capacity improvement yang diperoleh pada masing-masing perangkat lunak yaitu PLAXIS 2D sebesar 28,42%, PLAXIS 3D sebesar 53,3%, dan ABAQUS sebesar 27,9%
Square Dancing with the Stars to Enhance Dynamic Hirschman Linkages?
In this Presidential Address, the author takes the reader on a reconnaissance of his life and time as a regional scientist. He points out scenery he found scintillating along the way, hoping that some may pick up the banner and chew on a few of the ideas for a while. He suggests a revisit to Albert O. Hirschman’s notion of key sectors and more empirical analysis related to Marcus Berliant’s and Masahisa Fujita’s notion of knowledge creation and transfer.Presidential Address, San Antonio, Texas, March 29, 2014 (53rd Meetings of the Southern Regional Science Association
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
