Agroteknika (E-Journal)
Not a member yet
195 research outputs found
Sort by
Integration of Biochar-Banana Stem Compost: An Agronomic-Economic Evaluation for Brazilian Spinach Cultivation on Peat Soil
In addition to food crops, peatland also has potential for vegetable farming, such as Brazilian spinach. The aim of this study is to determine the most effective combination of banana stem biochar and banana stem compost doses for the growth and production of Brazilian spinach, as well as to analyze the feasibility of farming on peat soil. The research was conducted from October 2024 to March 2025 on land owned by farmers in Banyu Urip Village, Tanjung Lago District, Banyuasin Regency, South Sumatra. The Complete Randomized Factorial Design (CRFD) method was used in the study and consisted of two factors. The first factor was the dose of banana stem biochar: 5, 10, 15 tons/ha. The second factor was the dose of banana stem compost: 10, 20, 30, 40 tons/ha. Based on the results, the application of a combination of biochar and banana stem compost interacted significantly in increasing plant height (cm) and number of leaves (pieces) at 3 WAP and 4 WAP, as well as the fresh weight of Brazilian spinach plants at harvest. The length and fresh weight of Brazilian spinach roots at harvest were influenced by the main factors of banana stem biochar and banana stem compost. The combination of banana stem biochar and compost did not significantly increase the pH of peat soil. Based on the farming analysis, Brazilian spinach is viable to cultivate and provides the highest profit by applying 15 tons ha⁻¹ of banana stem biochar combined with 30 tons ha⁻¹ of banana stem compost
Respon Pertumbuhan Dua Varietas Benih True Shallot Seeds Bawang Merah Terhadap Perendaman Air Hangat
Kebutuhan bawang merah di Indonesia terus mengalami peningkatan. Produksi nasional belum mampu memenuhi permintaan akibat keterbatasan lahan, ketergantungan iklim, dan teknik budidaya yang belum optimal. Inovasi penggunaan True Shallot Seed (TSS) menjadi alternatif sumber benih dengan keunggulan pertumbuhan seragam, serta pengurangan ketergantungan pada umbi. Tahap awal penggunaan TSS masih menghadapi kendala pada proses perkecambahan sehingga perlu dikaji pengaruh lama perendaman air hangat dan varietas terhadap pertumbuhan benih TSS bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman air hangat terhadap pertumbuhan dua varietas benih True Shallot Seeds (TSS) bawang merah, serta menentukan kombinasi perlakuan yang optimal. Rancangan acak lengkap faktorial digunakan dengan dua faktor, yaitu lama perendaman (60, 120, dan 180 menit) dan varietas (Lokananta dan Merdeka). Hasil menunjukkan bahwa lama perendaman berpengaruh nyata terhadap kadar air, keserempakan tumbuh, panjang radikula, panjang plumula, dan tinggi bibit. Varietas Merdeka memperlihatkan viabilitas dan keserempakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan Lokananta. Kombinasi perlakuan terbaik diperoleh pada perendaman 120 menit dengan varietas Merdeka, yang menghasilkan daya tumbuh 95,56% dan keserempakan tumbuh 85,56%. Lama perendaman air hangat berpengaruh terhadap kadar air, keserempakan tumbuh, panjang radikula, dan tinggi bibit benih TSS bawang merah, dengan durasi 60–120 menit menunjukkan kondisi yang lebih sesuai dibandingkan perendaman lebih lama. Varietas berpengaruh terhadap persentase daya tumbuh benih, kadar air, keserempakan tumbuh, potensi tumbuh maksimum, panjang radikula, dan tinggi bibit benih TSS bawang merah. Varietas Lokananta berpengaruh nyata pada vigor awal, sedangkan Merdeka berpengaruh nyata pada keserempakan tumbuh dan potensi tumbuh. Interaksi antara kombinasi lama perendaman dan varietas berpengaruh terhadap persentase daya tumbuh, kadar air, potensi tumbuh maksimum, indeks vigor, laju pertumbuhan, kecepatan tumbuh, dan panjang radikula. Kombinasi perendaman 120 menit dengan varietas Merdeka memberikan respon yang paling seimbang
Respons Pupuk Hayati Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Panjang Polong Ungu (Vigna unguiculata (L.) Walp)
Tanaman kacang panjang polong ungu memerlukan ketersediaan hara serta kondisi lingkungan yang mendukung agar mampu mencapai pertumbuhan dan hasil optimum. Salah satu pendekatan pemupukan yang lebih ramah lingkungan adalah penggunaan pupuk hayati, seperti pupuk hayati yang digunakan pada penelitian ini mengandung mikroorganisme Pantoea dispersa, Azospirillum sp., Aspergillus niger, Streptomyces sp., dan Penicillium oxalicum, yang berperan dalam penambatan nitrogen, pelrutan fosfat, serta dekomposisi bahan organik. Mikroba tersebut berfungsi memperbaiki struktur tanah, meningkatkan ketersediaan nutrisi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi respons pertumbuhan dan produktivitas kacang panjang polong ungu terhadap pemberian pupuk hayati. Kegiatan penelitian berlangsung pada Maret hingga Juni 2025 di Kebun Percobaan Kampus F7 Universitas Gunadarma, Jakarta Timur. Rancangan percobaan yang diterapkan ialah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) nonfaktorial dengan lima taraf dosis pupuk hayati, yaitu 0, 5, 6,5, 8, 9,5 g/polybag. Dalam penelitian ini digunakan 8 ulangan. Setiap perlakuan terdiri atas 2 sampel pada setiap ulangan, sehingga diperoleh 40 satuan percobaan dengan total 80 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap jumlah polong, bobot 100 biji, dan bobot polong kering. Perlakuan 9,5 g/polybag menghasilkan yang terbaik, sehingga menghasilkan nilai tertinggi pada ketiga parameter tersebut sehingga dapat dianggap sebagai dosis paling efektif dalam meningkatkan hasil kacang panjang polong ungu
Keragaan Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Tajuk Hasil Induksi Poliploid dengan Kolkisin
Bawang merah (Allium ascalonicum L). banyak dibutuhkan untuk penyedap masakan. Teknik mutasi menggunakan kolkisin untuk menginduksi poliploidisasi dan menimbulkan perubahan fenotipe tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi kadar kolkisin dan durasi perendaman terhadap keragaan tanaman bawang merah Varietas Tajuk. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Juli 2025 di Laboratorium Biometrika dan Pemuliaan Tanaman. Pelaksanaan penanaman dilakukan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Jember. Variabel pengamatan yang digunakan terdiri dari daya berkecambah benih, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah siung bawang merah, berat basah tanaman, dan diameter umbi. Perlakuan kombinasi kadar kolkisin dan durasi perendaman terdiri atas perlakuan Kontrol (K0), 200 ppm + 5 jam (K1), 200ppm + 10 jam (K2), 300 ppm + 5 jam (K3), 300ppm + 10 jam (K4). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel berat basah tanaman, serta diameter umbi terbesar dihasilkan pada penggunaan kadar kolkisin 200 ppm serta durasi perendaman 10 jam (K2), sedangkan tinggi tanaman dan jumlah umbi bawang merah tertinggi dihasilkan dari penggunaan kadar kolkisin 200 ppm serta durasi perendaman 5 jam (K1). Kadar 200 ppm dengan durasi perendaman 5 jam dan 10 jam menunjukkan kombinasi perlakuan optimum yang dapat berpengaruh pada keragaan tanaman bawang merah di setiap variabel pengamatan
Pengaruh Pupuk Silika Terhadap Jumlah Populasi dan Keanekaragaman Hama dan Musuh Alami Pada Kedelai
Salah satu tanaman pangan utama di Indonesia adalah kedelai. Kebutuhan akan kedelai terus meningkat seiring dengan permintaan dari konsumen. Hama merupakan organisme penggangu tanaman yang keberadaannya dapat menjadi hambatan dalam budidaya kedelai. Oleh karena itu, perlu adanya sistem pemeliharaan yang tepat terhadap tanaman budidaya. Salah satu tahap dalam pemeliharaan yaitu pemberian unsur hara dan pengendalian hama, pupuk silika memiliki dua manfaat selain sebagai unsur hara juga berguna dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan waktu dan konsentrasi pupuk silika yang tepat untuk meningkatkan ketahanan kedelai terhadap serangan hama. Penelitian dilakukan di Cawas, Klaten, Jawa Tengah dari Juli hingga Oktober 2020. Menggunakan rancangan penelitian petak terbagi (split plot). Konsentrasi pupuk silika sebagai anak petak adalah P1= 2 ml/L, P2= 4 ml/L, dan P3 = 6 ml/L dan waktu aplikasi sebagai petak utama adalah T1= pemupukan seminggu sekali dan T2= pemupukan dua minggu sekali. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Aphids glycine adalah hama dengan populasi tertinggi, sedangkan Coccinela transversalis adalah musuh alami hama. Nilai indeks keanekaragaman (H`) sedang pada hama, sedangkan untuk musuh alami rendah. Intensitas kerusakan daun dan polong kedelai tidak berbahaya karena tingkat keparahannya rendah
Karakteristik Fisik, Mekanik, dan Sensoris Bioplastik Pati Aren dengan Sodium Tripolifosfat
Penggunaan plastik sebagai bahan kemasan pangan terus meningkat secara global yang dapat menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengembangkan biopolimer ramah lingkungan dari sumber terbarukan seperti tumbuhan, hewan, alga dan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi Pati Aren Terfosforilasi (PAT) yang menghasilkan bioplastik terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 11 taraf perlakuan konsentrasi PAT (b/v) dan tiga ulangan, sehingga diperoleh 33 unit percobaan. Data dianalisis dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PAT sebesar 8% memberikan karakteristik terbaik. Ketebalan bioplastik meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi PAT. Daya serap air dan minyak, laju transmisi uap air, modulus Young, dan kekuatan tarik menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi PAT. Nilai biodegradasi dan perpanjangan bioplastik cenderung stabil dengan meningkatnya konsentrasi pati aren terfosforilasi. Tingkat kesukaan sensoris terhadap warna dan tekstur edible film cenderung meningkat seiring peningkatan konsentrasi PAT
Status Kerusakan Tanah pada Berbagai Penggunaan Lahan di Wilayah Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang
Kajian status kerusakan tanah untuk produksi biomassa penting dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan dan faktor pembatas pada lahan dengan dinamika penggunaan yang tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, yang mengalami banyak perubahan penggunaan lahan sehingga berpotensi menurunkan kualitas tanah. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-eksploratif melalui survei lapangan dan analisis laboratorium. Sampel tanah diambil dari lima jenis penggunaan lahan, yaitu sawah, tegalan, kebun, semak belukar, dan hutan. Parameter yang diamati meliputi ketebalan solum, batuan permukaan, fraksi pasir, berat isi, porositas, permeabilitas, pH, EC, redoks, dan jumlah mikroba tanah sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 07 Tahun 2006. Status kerusakan tanah ditentukan menggunakan metode matching terhadap ambang batas kritis serta perhitungan skor frekuensi relatif. Hasil penelitian menunjukkan seluruh jenis penggunaan lahan di Kecamatan Ngantang tergolong mengalami kerusakan ringan, dengan redoks sebagai faktor pembatas utama, diikuti berat isi dan porositas pada beberapa titik. Temuan ini menegaskan bahwa kerusakan tanah di wilayah tersebut masih dapat diperbaiki dan menjadi dasar bagi upaya konservasi tanah serta perbaikan lahan untuk menjaga keberlanjutan produktivitas dan fungsi ekologis
Utilisasi dan Efisiensi Truk Angkut Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit: Dalam Pengelolaan Perusahaan Swasta dan Pengelolaan Kontraktor Angkutan Masyarakat
Transportasi Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit merupakan faktor penting dalam dalam menjaga kuantitas dan mutu TBS sebagai bahan Crude Palm Oil (CPO). Pengelolaan sistem transportasi yang baik diperlukan untuk meminimalkan waktu, dan menekan biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi operasional truk angkut TBS, baik yang dikelola oleh perusahaan kelapa sawit swasta maupun oleh kontraktor angkutan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analisis kuantitatif komparatif untuk mengetahui perbedaan parameter kinerja dan efisiensi antara dua kelompok data, dengan analisis statistik Uji-T. Hasil penelitian memperlihatkan siklus pengangkutan yang dikelola perusahaan swasta lebih pendek dibandingkan yang dikelola kontraktor masyarakat (1,3 jam dibanding 3,2 jam), atau utilisasi truk lebih rendah. Sedangkan produktivitas dump truk angkutan perusahaan swasta 19.641,05 ton/haridibandingkan yang dikelola kontraktor sebesar 7.061,25 ton/hari. Dari biaya angkut TBS/kg, sistem angkut TBS di perusahaan lebih efisien dibandingkan dengan di kebun masyarakat, yakni Rp 15,8/kg dibandingkan dengan Rp 53,4/kg
Pengaruh Metode Ekstraksi dan Pengeringan Terhadap Viabilitas Benih Mentimun (Cucumis sativus L.)
Biji mentimun (Cucumis sativus L.) memiliki lendir (pulp) yang mengandung zat penghambat pertumbuhan benih mentimun. Lendir yang menempel pada benih tersebut dapat menghambat proses perkecambahan. Kondisi tersebut menimbulkan hambatan dalam proses produksi benih. Oleh sebab itu, untuk memisahkan pulp dari biji dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti ekstraksi menggunakan bahan kimia atau teknik pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji respons perkecambahan benih mentimun terhadap berbagai metode ekstraksi dan teknik pengeringan yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan desain Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari dua faktor, dan diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah teknik ekstraksi. Faktor kedua ialah perlakuan pengeringan. Tahapan penelitian meliputi persiapan benih, pemberian perlakuan, penyemaian benih, serta pengamatan hasil. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian Institut Pertanian (Intan) Yogyakarta, pada bulan Desember 2024 hingga Februari 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, interaksi teknik ekstraksi dan metode pengeringan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada potensi tumbuh maksimum, dan indeks vigor. Teknik ekstraksi fermentasi air (perendaman) dengan metode pengeringan menggunakan oven dapat menghasilkan kadar air benih terendah (8,89%), potensi tumbuh maksimum tertinggi (98,67%), dan indeks vigor tertinggi (96,67). Kombinasi perlakuan ini direkomendasikan sebagai metode pengolahan benih yang efektif untuk meningkatkan kualitas fisiologis benih mentimun
Pengaruh Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) dan Serai (Cymbopogon citratus) terhadap Mortalitas dan Efektifitas Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci) sebagai Biopestisida Tanaman Tomat (Solanum lycopersicium)
Penggunaan pestisida sintetis secara luas berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, termasuk resistensi hama dan pencemaran ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat mortalitas dan efektivitas insektisida dari ekstrak daun pepaya (Carica papaya) dan serai (Cymbopogon citratus), serta kombinasinya sebagai biopestisida alami dalam pengendalian kutu kebul (Bemisia tabaci) pada tanaman tomat (Solanum lycopersicum). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Duncan untuk menentukan perbedaan signifikan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya memiliki tingkat mortalitas tertinggi (95%), diikuti oleh kombinasi ekstrak (63%) dan ekstrak serai (58%), dengan nilai signifikansi uji ANOVA (P = 0,000 < 0,05). Dari segi efektivitas insektisida, ekstrak daun pepaya mencapai 97%, sedangkan kombinasi ekstrak dan ekstrak serai masing-masing mencapai 77% dan 74%, dengan hasil uji non-parametrik menunjukkan nilai signifikansi (P = 0,001 < 0,05). Berdasarkan kriteria efektivitas insektisida (≥50% dikategorikan efektif), hasil ini mengindikasikan bahwa ekstrak daun pepaya dan serai berpotensi sebagai alternatif insektisida alami yang ramah lingkungan, menggantikan pestisida sintetis yang berisiko bagi ekosistem dan kesehatan manusia