Agroteknika (E-Journal)
Not a member yet
195 research outputs found
Sort by
Rancang Bangun Mesin Pengupas Tempurung Kelapa
Kelapa banyak dibudidayakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan dan buah kelapa merupakan bagian yang paling sering dimanfaatkan. Buah kelapa diolah menjadi berbagai jenis makanan, minuman, masakan dan bahan baku pembuatan minyak (kopra). Untuk menghasilkan kopra dan santan, buah kelapa dipisah terlebih dahulu antara daging buah dan tempurung. Untuk produksi santan, pengupasan tempurung ini berguna untuk menjaga kemurnian santan. Pemarutan daging kelapa beserta tempurung secara manual atau mekanik dinilai kurang efektif karena cara pemarutan ini membuat tempurung juga ikut terparut sehingga hal ini mempengaruhi kualitas santan. Pengupasan tempurung kelapa dengan menggunakan mesin pengupas membutuhkan waktu rata–rata 205 detik per kelapa. Sedangkan pengupasan satu buah secara manual menghabiskan waktu sekitar 528 detik. Kapasitas pengupasan kelapa melalui penggunaan mesin dan manual adalah 17 buah kelapa/jam dan 8 buah/ jam. Hal ini membuktikan bahwa kinerja mesin 2 kali lebih cepat daripada kinerja pengupasan secara manual. Hasil analisa ekonomi mesin pengupas tempurung kelapa diperoleh biaya tetap sebesar Rp 748.696 /tahun, biaya tidak tetap sebesar Rp 11.147,87 /jam, biaya pokok untuk pengupasan satu buah kelapa adalah Rp 674 dan Break Event Point adalah 5.190 buah per tahun
Modifikasi Garu Pegas dan Bajak Piring Menjadi Alat Pembumbun dan Pembuat Bedengan
Pembumbunan dan pembuatan bedengan merupakan kegiatan pengolahan tanah yang dilakukan setelah dan sebelum penanaman. Pembumbunan dan pembuatan bedengan masih dilakukan secara manual dengan menggunakan koret dan cangkul. Pembumbunan dan pembuatan bedengan secara manual memerlukan lebih banyak waktu, tenaga dan biaya. Alat pembumbn dan pembuat bedengan terdiri dari garu pegas dan bajak piring yang jarang digunakan karena kurang efektif saat penggunaan di lahan. Alat pembumbun dapat digunakan pada berbagai jarak tanam dengan menyesuaikan letak piringan dan rear wheel traktor terhadap barisan tanaman. Alat pembuatan bedengan akan membentuk bedengan dengan lebar bedengan atas 55 cm, lebar bedengan bawah 1 m, tinggi bedengan 25 cm dan jarak antar bedengan atau alur adalah 30 cm. Dalam 1 kali lintasan alat pembuat bedengan dapat membuat 1 bedengan dengan dengan 1 alur sedangkan alat pembumbun akan membumbun 2 baris tanaman. Dari uji kinerja alat, didapat kapasitas kerja alat pembuat bedengan adalah 0.2767 ha/jam dan kapasitas alat pembumbun 0.371 ha/jam. Untuk pembumbunan dan pembuatan bedengan, biaya pokok dan BEP berturut-turut adalah Rp. 199.533 /ha dan 19,21 ha/tahun dan Rp. 271.517/ha dan 20,90 ha/tahun
Rancang Bangun Alat Pengering Tipe Tray Dryer
Kabupaten Limapuluh Kota merupakan salah satu daerah penghasil pinang di Sumatera Barat. Salah satu penanganan pasca panen terhadap buah pinang adalah pengeringan. Tahap pengeringan pinang oleh petani dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari. Pengeringan dengan cara ini sangat bergantung dengan keadaan cuaca sehingga tahap pengeringan tidak berjalan dengan baik. Untuk mengatasi permasalahan pengeringan buah pinang diatas, maka dibuat alat pengering sederhana yang mudah, efisien dan efektif jika di bandingkan dengan pengeringan secara manual. Alat pengering pinang ini memiliki sumber panas dari pembakaran serbuk gergaji. Berdasarkan pengujian kinerja, alat pengering pinang mampu mengeringkan 10 kg menjadi 1 kg dengan waktu pengeringan selama 10 jam, kadar air 10,1%. Analisa ekonomi teknik pada alat pengering pinang tipe tray drayer didapat biaya pokok Rp. 18. 795,51812/jam, BEP (Break Event Point) Rp. 34. 0361 Kg/tahun dengan harga jual alat Rp. 4.214.600,-
Rancang Bangun Pendeteksi Curah Hujan Menggunakan Tipping Bucket Rain Sensor dan Arduino Uno
Curah hujan merupakan salah satu parameter hujan yang dapat diukur. Dimana curah hujan menyatakan seberapa besar tinggi air yang ditimbulkan oleh hujan di suatu daerah. Alat untuk megukur jumlah curah hujan yang turun kepermukaan tanah per satuan luas, disebut Penakar Curah Hujan. Curah hujan 1 (satu) milimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi 1 (satu) milimeter atau tertampung air sebanyak 1 (satu) liter atau 1000 ml. Penakar hujan Tipping Bucket, nilai curah hujannya tiap bucket berjungkit tidak sama, serta luas permukaan corongnya beragam, misalnya ada yang 0.1 mm, 0.2 mm, 0.5 mm dan lain-lain. Dalam perancangan alat ini resolusi Tipping Bucket yang digunakan ialah 0.2 mm, dan juga memakai Modul Sensor Reed Switch. Reed Switch akan bekerja ketika magnet yang di tempel pada bagian tengah Tipping Bucket mendekati sensor Reed Switch, yang dimana Tipping Bucket akan bergerak disaat curah hujan masuk ke dalam corong dan akan ditampung pada Tipping Bucket yang membuat Tipping Bucket akan berjungkit. Kemudian Reed Switch akan mendeteksi magnet yang ada pada Tipping Bucket. Mikrokontroler berfungsi untuk membaca data dari Modul Sensor Reed Switch yang tiap kali ada sentuhan dari magnet
Analisis Pengaruh Pelapisan Benih dengan Bahan Desikan dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Benih Kakao (Theobroma Cacao L.) di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember
Peran benih dari perbanyakan generatif sangat besar. Benih berkualitas biasanya disediakan oleh perkebunan besar yang jauh dari perkebunan petani kecil sehingga pengiriman benih membutuhkan waktu lama. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas biji kakao. upaya untuk menjaga kualitas benih dengan perlakuan pektin desiccant dan Polyethylene glycol 6000. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian bahan pengering, lama penyimpanan, dan interaksi keduanya dalam menjaga kualitas biji kakao. Penelitian ini dilakukan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember. Penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang diulang dua kali. Faktor pertama adalah desikan dan faktor kedua adalah lama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan pengeringan memiliki pengaruh yang signifikan pada galat 1% terhadap kadar air, tingkat perkecambahan, dan indeks vigor biji kakao, dan pada tingkat 5% terhadap benih berjamur selama penyimpanan, tidak signifikan dalam Berat biji setelah disimpan. Lama penyimpanan secara signifikan pada galat 1% mempengaruhi kadar air, tingkat perkecambahan biji, dan terbukti dalam perdagangan 5% dari indeks vigor benih kakao, tidak signifikan dalam berat benih setelah simpan, dan benih berkecambah selama penyimpanan. Pengaruh kedua faktor memiliki pengaruh yang signifikan pada galat 1% terhadap kadar air, benih berjamur selama penyimpanan, perkecambahan, dan indeks vigor benih, dan tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap berat benih setelah penyimpanan dan benih berkecambah dalam penyimpanan