1,721,020 research outputs found
WANDA DASAMUKA DALAM LAKON SINTA BOYONG SAJIAN BAMBANG SUWARNO
Skripsi berjudul “Wanda Dasamuka Dalam Lakon Sinta Boyong Sajian
Bambang Suwarno” adalah penelitian yang fokus pada pendalaman
makna untuk melihat kegunaan serta peran boneka wayang Dasamuka
dalam pertunjukan yang bertempat di dukuh Sawahan, desa Kudu,
kecamatan Baki, kabupaten Sukoharjo tanggal 28 Desember 2017. Wanda
Dasamuka dijadikan objek penelitian karena kurangnya kajian pada wanda
Dasamuka, padahal wayang Dasamuka sendiri secara konvensi memiliki
banyak wanda. Lakon Sinta Boyong sajian Bambang Suwarno dipilih karena
pada pertunjukan tersebut menampilkan tiga wanda Dasamuka dan
pertimbangan kredibilitas Bambang Suwarno juga sebagai empu boneka
wayang kulit. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana
gambaran umum tentang wanda wayang kulit gaya Surakarta, (2)
bagaimana struktur lakon Sinta Boyong sajian Bambang Suwarno, (3)
bagaimana makna wanda Dasamuka pada lakon Sinta Boyong sajian
Bambang Suwarno dalam perspektif ikonografi.
Penelitian ini menggunakan landasan konseptual dari struktur
dramatik Soediro Satoto dan teori ikonografi oleh Panofsky yang telah
diaplikasikan Ahmad Bahrudin pada pengkajian Ornamen Minangkabau.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif
interpretatif, sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan metode
studi pustaka, wawancara, dan observasi.
Capaian dari hasil penelitian ini adalah adanya kesesuaian pemilihan
wanda Dasamuka pada masing-masing suasana adegan pertunjukan
wayang lakon Sinta Boyong sajian Bambang Suwarno menunjukan
komunikasi atau kaitan erat antara konsep wanda dan pakeliran yang
saling menunjang untuk memperkuat rasa hayatan dalam pakeliran.
Keharmonisan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara tiap-tiap wanda Dasamuka dengan suasana adegan pada pertunjukan wayang lakon Sinta Boyong sajian Bambang Suwarno menjadi pengaruh besar dari kehadiran wanda Dasamuka. Merujuk dari hal itu, wanda Dasamuka dalam lakon Sinta Boyong sajian Bambang Suwarno berfungsi sebagai pendukung dan penguat hayatan pada drama pertunjukan.
Kata kunci : wanda Dasamuka, ikonografi, Sinta Boyong, Bambang Suwarno
The Visualization of Wayang Kulit Purwa by Bambang Suwarno
Visualisasi Wayang Kulit Purwa Karya Bambang Suwarno. Artikel ini membahas tentang visualisasi wayang kulit purwa karya Bambang Suwarno, seorang dalang, guru dalang, dan pengembang pakeliran padat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui visualisasi wayang kulit karya Bambang Suwarno. Metode yang digunakan adalah bentuk deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil kreativitas berkarya ditunjukkan dalam berbagai karya wayang dari kondisi yang ambang, ricuh, dan mencoba sesuatu yang belum ada dari berbagai jenis tokoh wayang. Pengakuan berbagai tanggapan dalang tentang karya kreasi ini menunjukkan kreativitas berkarya yang memiliki konsep, dan mendukung pentas pakeliran. Selain itu, diharapkan wayang semakin indah dilihat, menjadi penghubung antar tokoh dalam lakon, memenuhi sanggit pakeliran, menambah perbendaharaan tokoh wayang, dan memperkuat pengakuan wayang di mata dunia. This article discusses the visualization of wayang kulit purwa by Bambang Suwarno, a puppet master (dalang), a puppet master’s teacher, and a developer of a short shadow puppet performance. The objective of the research is to find out the visualization of wayang kulit by Bambang Suwarno. The method employed was descriptive qualitative one. Techniques of data collection were observation, interview, and documentation. The result of working creativity could be seen in many wayang works from the threshold, chaotic condition to trying something new that has never existed yet in a variety of wayang characters. Recognition of various mastermind’s responses to the work of Bambang Suwarno indicted the creativity of work that has a concept, and supports the performance stage. In addition, it is hoped that wayang will be more attractive to watch, become a liaison between characters in the play, fulfill the sanggit pakeliran, increase the treasury of puppet characters, and strengthen the puppet recognition in the world.
KAJIAN DRAMATIK DAN ESTETIK PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT LAKON SRIKANDHI MEGURU MANAH SAJIAN BAMBANG SUWARNO
Skripsi dengan judul Kajian Dramatik dan Estetik Pada Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Srikandhi Meguru Manah Sajian Bambang Suwarno merupakan penelitian yang berfokus pada kajian struktur, tekstur dramatik dan estetika pedalangan pada lakon Srikandhi Meguru Manah sajian Bambang Suwarno yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah, di Kota Surakarta. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana Gambaran Lakon Srikandhi Meguru Manah, (2) Bagaimana Struktur dan tekstur Dramatik Srikandhi Meguru Manah Sajian Bambang Suwarno, (3) Bagaimana Estetika Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Srikandhi Meguru Manah. Alasan penulis mengambil lakon Srikandhi Meguru Manah sebagai objek material karena lakon ini merupakan salah satu lakon raben atau alap-alapan yang terdapat banyak nilai-nilai yang masih relevan dalam kehidupan orang jawa. Landasan teori yang digunakan penelitian ini adalah struktur dan tekstur dramatik dari George R. Kernodle, struktur dramatik Soediro Satoto, dan Konsep Estetika Pedalangan penulis Sunardi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif interpretatif. Sedangkan untuk keabsahan data, penulis juga menggunakan trianggulasi data, yakni pencarian data menggunakan tiga metode sekaligus. Tiga metode tersebut adalah studi pustaka, wawancara, dan observasi, serta untuk mendapatkan keakuratan data yang lebih, penulis juga melakukan metode tambahan yaitu transkripsi melalui rekaman audio-visual.
Hasil dari penelitian ini adalah struktur, tekstur dramatik dan estetika sajian Bambang Suwarno berbeda dengan yang lain. Selain itu, Bambang Suwarno masih memperhatikan nilai-nilai estetik berdasarkan konsep estetika pedalangan menurut Sunardi, dan nilai-nilai dalam lakon Srikandhi Meguru Manah sajian Bambang Suwarno masih dihayati oleh masyarakat Jawa hingga sekarang
ESTETIKA SABET DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT LAKON BIMA BUNGKUS SAJIAN BAMBANG SUWARNO
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul Estetika Sabet Dalam Pertunjukan Wayang
Kulit Lakon Bima Bungkus Sajian Bambang Suwarno. Merupakan sebuah
penelitian yang bertujuan untuk menjawab permasalahan tentang (a) Alur
dramatik pertunjukan wayang kulit purwa lakon Bima Bungkus, (b) konsep
dasar estetika sabet dalam pertunjukan wayang, (c) Estetika sabet dalam
pertunjukan wayang lakon Bima Bungkus sajian Bambang Suwarno?
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif interpretatif, dengan
langkah-langkah pengumpulan data yang didapat melalui studi pustaka,
wawancara, serta transkripsi yang sebelumnya telah dilakukan perekaman
terhadap obyek terlebih dahulu.
Hasil dari penelitian ini dapat diketahui mengenai alur dramatik lakon
Bima Bungkus sajian Bambang Suwarno, konsep-konsep estetika sabet
wayang, serta analisis estetik pentas Bambang Suwarno yang meliputi wijang,
trampil, nuksma, mungguh.
Kata Kunci : Estetika, Bima Bungkus, Sabet, wijang, trampil, nuksma, munggu
TRANSFORMASI SERAT PANJI ANGRENI DALAM PERTUNJUKAN WAYANG GEDOG LAKON PANJI ANGRENI SAJIAN BAMBANG SUWARNO
Penelitian berjudul “Transformasi Serat Panji Angreni dalam Pertunjukan Wayang Gedog Lakon Panji Angreni sajian Bambang Suwarno” bertujuan menjawab permasalahan tentang: (1) Bagaimana Struktur dramatik pertunjukan Wayang Gedog lakon Panji Angreni sajian Bambang Suwarno (2) Bagaimana bentuk transformasi Serat Panji Angreni dalam Pertunjukan Wayang Gedog Lakon Panji Angreni sajian Bambang Suwarno. Pendekatan yang digunakan, yaitu struktur dramatik pertunjukan wayang yang telah dikemukakan oleh Soediro Satoto dan Sumanto. Analisis bentuk transformasi dalam penelitian ini menggunakan teori resepsi dan intertekstual.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi terhadap data audio visual. Transkripsi terhadap data audio visual, dilakukan untuk mempermudah analisis struktur dramatik pertunjukan Wayang Gedog lakon Panji Angreni. Data observasi juga didukung dengan langkah studi pustaka dan wawancara.
Hasil penelitian Transformasi Pertunjukan Wayang Gedog lakon Panji Angreni sajian Bambang Suwarno dari Serat Panji Angreni adalah (1) Deskripsian Serat Panji Angreni yang tertuang dalam pupuh-pupuh tembang macapat dan Panji Angreni dari berbagai sumber. Dalam penelitian ini disebutkan beberapa sumber-sumber yang mengulas Panji Angreni, antara lain: buku, sumber wawancara, sanggit cerita drama tradisional, dan tembang palaran. (2) Analisis struktur naratif Serat Panji Angreni dan pertunjukan Wayang Gedog lakon Panji Angreni sajian Bambang Suwarno. Struktur naratif Serat Panji Angreni meliputi, alur (situation, generating circumsiance, rising action, climax, dan denovement), penokohan, setting (setting ruang, waktu, dan suasana), tema, dan amanat. Struktur dramatik pertunjukan Wayang Gedog lakon Panji Angreni meliputi, alur (eksposisi, konflik, komplikasi, krisis, resolusi, dan keputusan), penokohan, setting (setting ruang, waktu, dan suasana), tema, dan amanat. Selanjutnya adalah persamaan dan perbedaan serat dan pertunjukan Wayang Gedog. (3) Bentuk transformasi pertunjukan Wayang Gedog lakon Panji Angreni sajian Bambang Suwarno dari Serat Panji Angreni yang meliputi benntuk transformasi alur, penokohan, setting, tema, dan amanat. Faktor-faktor yang mempengaruhi transformasi berupa faktor internal (kreatifitas dalang) dan faktor eksternal berupa motivasi Sukardi (alm) kepada Bambang Suwarno dan permintaan perjamuan kepada rombongan tamu dari Jepang.
Kata kunci: Transformasi, Wayang Gedog, serat
RUPA TOPENG KLATEN KOLEKSI BAMBANG SUWARNO
Artikel ini hasil dari penelitian yang memfokuskan pada pokok permasalahan bagaimana latar belakang
keberadaan topeng Klaten. Bagaimana makna simbolis yang terkandung di dalam topeng Klaten. Bagaimana
rupa topeng Klaten koleksi Bambang Suwarno. Tujuan penelitian untuk memahami dan menjelaskan latar
belakang keberadaan topeng Klaten, memahami dan menjelaskan makna simbolis yang terkandung di
dalam topeng Klaten, memahami dan menjelaskan rupa topeng Klaten koleksi Bambang Suwarno. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan interaksi analisis.
Secara struktur meliputi tahap kajian historis, makna simbolis, analisis rupa topeng Klaten koleksi Bambang Suwarno (Panji, Candrakirana, Klana, Penthul, Tembem), dan dilanjutkan dengan tahap simpulan. Hasil penelitian yaitu memaparkan hasil kajian berupa rincian-rincian bagian topeng seperti bentuk mata, alis,hidung, mulut, bentuk hiasan dan lain-lain. Makna simbolis rupa topeng Klaten, menggambarkan hubungan mikrokosmos dan makrokosmos yang diwujudkan pada karakter tokoh dan warna.
Kata kunci: Rupa topeng Klaten, makna simbolis, karakter
This article results from research that focuses on study how the Klaten masks. How the symbolic meanings of the Klatenmaska. How the appearce of the Klaten masks Bambang Suwarno’s collection. The aim of the research was to discover andexplain the existence of the Klaten masks, symbolic meanings, and appearce of the Klaten masks Bambang Suwarno’scollection. The method used for the study was a qualitative research method, the interaction analysis approach which wasstructured to cover a historical study, symbolic meanings, and analysis Klaten masks Bambang Suwarno’s collection (Panji,Candrakirana, Klana, Penthul, Tembem), and conclusion. The results was studied of the details as part of the masks likes eyeshape, eyebrows, nose, mouth, ornaments and other. The symbolic meanings of the Klaten masks is the connection betweenthe microcosm and macrocosm embodied in the characters and colors.
Keywords: Klaten mask, symbolic meaning, characters
FUNGSI SUNGGINGAN TOKOH ARJUNA DALAM LAKON PARTA KRAMA DAN CIPTANING SAJIAN BAMBANG SUWARNO
ABSTRAK
Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab dua rumusan masalah:
(1) bagaimana sunggingan figur-figur tokoh Arjuna karya Bambang
Suwarno; dan (2) bagaimana fungsi sunggingan tokoh Arjuna dalam lakon
Parta Krama dan Ciptaning Sajian Bambang Suwarno? Dua permasalahan
ini dikaji berdasarkan teori ikonitas R.L. Mellema (1954), bahwa
sunggingan sebagai salah satu perabot warna dalam boneka wayang
dimungkinkan memiliki hubungan secara ikonik maupun simbolik
dengan peran masing-masing tokoh wayang. Penelitian ini bersifat
kualitatif, dengan pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi,
dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sunggingan wayang kulit
purwa gaya Surakarta dibedakan menjadi dua ragam gaya: karaton atau
lebet bètèng dan luar karaton atau njawi bètèng. Sunggingan ragam gaya
karaton meliputi sunggingan wayang kyai dan wayang para, sedangkan
sunggingan ragam gaya luar karaton meliputi sunggingan corak
pedalangan, corak pengembangan dan pembaruan, dan corak kreasi baru.
Sunggingan figur-figur tokoh Arjuna karya Bambang Suwarno dibedakan
menjadi empat wanda, meliputi: (1) Permadi wanda Pacèl dengan muka
berwarna kuning emas atau gemblèng, (2) Permadi wanda Pangantèn
dengan muka berwarna putih, (3) Arjuna wanda Muntab dengan muka
berwarna hitam, dan (4) Begawan Ciptaning dengan muka berwarna
hitam. Bambang Suwarno di dalam menyajikan lakon Parta Krama
menggunakan dua figur Arjuna muda: (1) Permadi wanda Pacèl untuk
menggambarkan tokoh Arjuna sebelum menjadi pengantin, dan (2)
Permadi wanda Pangantèn untuk menggambarkan tokoh Arjuna menjadi
pengantin. Di dalam lakon Ciptaning digunakan tiga figur Arjuna: (1)
Arjuna wanda Muntab untuk menggambarkan tokoh Arjuna sebagai
kesatria, (2) Permadi wanda Pangantèn untuk menggambarkan roh Arjuna
yang meninggalkan raganya, dan (3) Ciptaning untuk menggambarkan
Arjuna sebagai pertapa.
Kata kunci: sunggingan Arjuna, Bambang Suwarno, Parta Krama dan Ciptaning
PERTUNJUKAN WAYANG GEDOG LAKON JAKA BLUWO SAJIAN BAMBANG SUWARNO DALAM PERSPEKTIF ESTETIKA PEDALANGAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan latar belakang
kehidupan wayang gedog di Surakarta, mendeskripsikan pertunjukan
wayang gedog lakon Jaka Bluwo, mengungkap estetika pertunjukan wayang
gedog lakon Jaka Bluwo yang disusun dan disajikan oleh Bambang Suwarno.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data
melalui pengamatan baik dari rekaman maupun pengamatan pertunjukan
wayang gedog secara langsung dengan lakon lain. Data observasi didukung
dengan langkah studi pustaka dan wawancara secara mendalam. Transkripsi
pertunjukan dilakukan untuk mempermudah pemahaman unsur naratif
pembentuk penceritaan secara berulang. Perspektif analisis dalam penelitian
ini menggunakan konsep nuksma dan mungguh sebagai orientasi estetik
pertunjukan wayang kulit. Konsep nuksma dan mungguh merupakan inti sari
dari berbagai acuan konsep estetika pedalangan.
Hasil penelitian ini adalah; (1) bahwa wayang gedog mengalami masa
kejayaan pada era pemerintahan Paku Buwana (PB) X. Pasca PB X eksistensi
wayang gedog mengalami kemunduran. Penggalian kembali wayang gedog
dilakukan oleh Soemardi Madyapradangga. Pelestarian wayang gedog
dilanjutkan oleh Bambang Suwarno dengan membuat boneka wayang gedog
dan menyusun beberapa lakon wayang gedog diantaranya lakon Jaka Bluwo,
(2) unsur-unsur estetik wayang gedog diperlihatkan melalui keunikan pada;
bentuk boneka wayang, garap sabet, catur, dan karawitan pakelirannya. (3)
pertunjukan wayang gedog lakon Jaka Bluwo tersusun atas beberapa adegan
sebagai berikut; Jejer Sepisan (pertama), Ing Magelaran (Paseban Jaba), Madeg
Dhusun Dhadhapan, Madeg Praja Bantarangin, Budhalan Prajurit Bantarangin,
Candhakan (diperjalanan), Madeg Praja Kediri, Adegan Perang Brubuh, Adegan
Pamungkas. (4) berdasarkan analisis, pencapaian nuksma tampak pada
pengaturan tempo, tekanan, dan ekspresi dalam antawecana catur tokoh.
Nuksma pada sabet ditunjukkan dengan gerak-gerak tokoh wayang yang
sesuai dengan karakter tokoh. Adapun pencapaian mungguh ditunjukkan
dari ketepatan penggunaan gending dalam mempertebal kesan suasana
adegan, karakter tokoh, dan membingkai gerak-gerak tokoh. Nilai budaya
Jawa yang tersurat dalam lakon Jaka Bluwo diantaranya; (1) petuah untuk
menempuh bahtera rumah tangga dengan dibarengi kesiapan intelektual,
status dalam masyarakat, dan kemampuan dalam memperoleh penghasilan,
(2) peribahasa “janma tan kena kinira” (jangan memandang kemampuan orang
hanya dari penampilannya)
Roland Barthes' Semiotic Approach to the Visual of Srikandi Wayang Purwa Gaya Surakarta by Ki Bambang Suwarno
This study aims to examine the visual significance of the character of Srikandi wayang purwa Surakarta style by Ki Bambang Suwarno using Roland Barthes' semiotic approach. This approach explores the denotative, connotative, and mythical meanings contained in Srikandi's visual as a symbol of women educators. Through the analysis of signs, the researcher described how visual elements such as facial gestures, head, body, and foot attributes in Srikandi's character not only represent the character of puppetry, but also build Srikandi's image as an independent and creative educator. The results of the study show that Srikandi's visualization reflects an educational narrative of heroism, with the myth of courage and wisdom that can be used as a model for women's representation in the world of education.. This representation also challenges the traditional gender construction in Javanese culture by presenting female figures who are active and inspirational in the learning process. These findings show that visual puppetry is not only a cultural heritage, but also a reflective medium in constructing educational values and gender roles today. Keywords: Semiotics, Roland Barthes, Srikandi, Wayang Purwa, Visual Representation DOI: 10.7176/ADS/115-05 Publication date: October 30th 202
Pakeliran wayang Sandosa"Alap-Alap Sukeksi"
Pakeliran wayang Sandosa"Alap-Alap Sukeksi"
Penyaji :Bambang Suwarno, dalam rangka malam kesenian Dies Natalis STSI Surakarta, Pendopo ISI Surakart
- …
