1,721,097 research outputs found
Bias Item Tes Keterampilan Proses Sains Pola Divergen dan Modifikasinya sebagai Tes Kreativitas
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengetahui bias item tes keterampilan proses sains pola divergen dan modifikasinya sebagai tes kreativitas biologi SMA untuk assessment for learning. Penelitian menggunakan intrumen keterampilan proses sains pola divergen untuk biologi SMA (Bambang Subali, 2009). Dua dari enam instrumen pengukur keterampilan proses sains tersebut dimodifikasi menjadi instrumen pengukur kreativitas keterampilan proses sains dan diujikan pada 1095 peserta didik. Penskoran dalam skala politomus dan dianalisis menurut Partial Credit Model 1-PL dengan program QUEST. Analisis bias didasarkan faktor gender, lokasi, dan jenjang kelas. Hasil pengukuran menunjukkan, dengan kriteria mean INFIT MNSQ 1,0 ± 0,0 tes fit dengan model. Berdasarkan kriteria batas INFIT MNSQ 0,77 - 1,30 seluruh item fit dengan model. Hasil penyelidikan bias ternyata sebagian item bias, baik dari segi gender, lokasi, atau jenjang kelas.
Kata kunci: alat ukur keterampilan proses sains pola divergen, alat ukur kreativitas keterampilan proses sains, bias item, PCM-1P
Penilaian pencapaian hasil belajar biologi: individual textbook (edisi Revisi)/ Bambang Subali (dan Paidi)
iii, 96 hal.: ill.; tab.: 27 cm
PENGUKURAN KREATIVITAS KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM KONTEKS ASSESSMENT FOR LEARNING
Abstract: Measuring the Science Process Skill Creativity in the Context of Assessment for Learning. This study aims to measure the science process skill creativity in Biology in Senior High Schools (SHSs), in terms of the basic skills, process skills, and investigative skills and use them in the context of assessment for learning. The study used the learning continuum as the abstract continuum and the instruments of the divergent process science skills in Biology in SHSs developed by Bambang Subali in 2009. Two of the six instrument sets were modified and administered to 1095 students. The results show that in the process science skill creativity, the skill in data measurement is the most difficult skill among the basic skills while the observation skill is the easiest. The skill in making inferences is the most difficult skill among the process skills while the skill in making predictions is the easiest. The most difficult skill in the investigative skills is the skill in planning investigation, followed by those in reporting an investigation and making an investigation. Keywords: measurement instrument of creativity, process science skill, polytomus scale, PCM-1PL</jats:p
Analysis of differentiated learning implementation in elementary schools during the 2020-2024 period
Differentiated learning is a learning strategy that emphasizes the importance of the process of adjusting learning strategies that can meet the needs of each student with various ability backgrounds, especially in Elementary Schools. Differentiated learning recognizes that each student has a different learning style, learning speed, and interests. At the elementary school level, where students are actively developing their various abilities and potentials, this approach is very important to implement so that it can ensure that each student can learn optimally and achieve their best potential. This study aims to review various existing literature on the effect of implementing differentiated learning in elementary schools for the 2020-2024 period by analyzing 10 articles that have been published in relevant journals using Harzing's Publish or Perish and Google Scholar applications. Each article was analyzed and the results of the analysis were arranged in a table that included the title, author's name, year of publication, and research findings. The results of the analysis showed that differentiated learning was able to increase participation motivation and student learning outcomes with quite significant results compared to learning with conventional methods. This can be seen from several studies that show an increase in cognitive abilities and student learning outcomes. This study recommends ongoing training for teachers related to the implementation of differentiated learning with effective and efficient time management, as well as collaboration between all parties such as parents and learning communities, as well as the use of technology as an integral part of efforts to create a more inclusive and student-centered learning environment, especially in elementary schools
ANALISIS KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA MATERI BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS 5 SDN 2 TEGALREJO
ABSTRAK
ADI NUGROHO, NIM 2499010096. Analisis Kesulitan Belajar Matematika Materi Bangun Ruang pada Siswa Kelas 5 SDN 2 Tegalrejo. Jurnal. Pembimbing 1: Prof. Dr. Woro Sumarni, M.Si. dan Pembimbing 2: Dr. Bambang Subali, M.Pd. Semarang: Program Studi Pendidikan Dasar S2, Fakultas Sekolah Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan belajar matematika materi bangun ruang pada siswa kelas 5 di SDN 2 Tegalrejo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Teknik Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada materi bangun ruang pada siswa kelas 5, siswa belum memiliki pengalaman yang konkret dalam memvisualisasikan bentuk-bentuk bangun ruang. Kesulitan ini diperparah dengan metode pembelajaran yang kurang tepat seperti menggunakan ceramah dan buku LKS. Kesalahan ini sering terjadi karena siswa tidak memahami rumus yang digunakan dan kurang teliti dalam melakukan perhitungan. Kurangnya latihan soal dan pemahaman konsep dasar matematika juga menjadi faktor penyebab kesulitan ini. Hal ini menyebabkan siswa tidak memahami manfaat mempelajari materi bangun ruang. Faktor internal yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dalam materi bangun ruang karena kurangnya minat dan motivasi belajar siswa. Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi kesulitan belajar siswa antara lain metode pembelajaran yang kurang tepat, kurangnya alat peraga dan media pembelajaran, serta peran orang tua yang kurang maksimal.
Kata Kunci : Kesulitan Belajar, Matematika, Bangun Ruan
Teacher’s opinion about learning continuum of genetics based on student’s level of competence
PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN AFEKTIF
PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN AFEKTIF
PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN AFEKTIF
Retno Puspitorini, A.K Prodjosantoso, Bambang Subali, Jumadi
Universitas Negeri Yogyakarta
[email protected], [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi peningkatan: (1). motivasi, (2). hasil belajar kognitif, dan (3). hasil belajar afektif peserta didik dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan media komik. Penelitian ini tergolong dalam quasi experiment dengan menggunakan desain one group pretest-posttest. Besarnya peningkatan motivasi, hasil belajar kognitif dan afektif dianalisis dengan menggunakan nilai Gain. Subjek penelitian yaitu 57 peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Banjarnegara. Media komik digunakan dalam pembelajaran IPA selama 6 kali tatap muka. Data motivasi dan hasil belajar afektif diperoleh dari angket (penilaian diri) dan observasi, sedangkan hasil belajar kognitif diperoleh dari pretest dan postes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media komik di dalam pembelajaran IPA mampu meningkatkan: (1). motivasi belajar peserta didik dengan nilai gain skor sebesar 0,55 (sedang). (2). hasil belajar peserta didik ranah kognitif (pengetahuan) dengan gain skor sebesar 0,42 (sedang), dan (3). Meningkatkan hasil belajar peserta didik ranah afektif (sikap) dengan gain skor sebesar 0,34 (sedang). Hasil uji beda terhadap motivasi peserta didik, hasil belajar peserta didik ranah kognitif, dan hasil belajar peserta didik ranah afektif antara sebelum dan setelah menggunakan media komik sains menunjukkan bahwa terdapat perbedaan: (1). motivasi belajar peserta didik yang signifikan antara sebelum dan setelah menggunakan komik dengan nilai sig 0.000; (2) hasil belajar peserta didik ranah kognitif yang signifikan antara sebelum (pretes) dan setelah (postes) menggunakan komik dengan nilai sig 0,000; dan (3) hasil belajar peserta didik ranah afektif yang signifikan antara sebelum dan setelah menggunakan komik dengan nilai sig 0,000.
Kata kunci: media komik, pembelajaran IPA, motivasi, hasil belajar kognititf, hasil belajar afekti
Teacher’s opinions about learning continuum based on the student’s level of competence and specific pedagogical materials on anatomical aspects
The learning continuum of ecology based on teachers’ opinion about student’s level of competence and specific pedagogical learning material
Teachers’ opinion about learning continuum based on student’s level of competence and specific pedagogical material in classification topics
- …
