1,766,260 research outputs found
Memorandum akhir masa jabatan direktur jenderal kebudayan prof dr ida bagus mantra 1968-1978
Buku ini berisi Memorandum akhir masa jabatan direktur jenderal kebudayan prof dr ida bagus mantra periode tahun 1968-1978
Ida bagus ngurah Hasil karya dan pengabdiannya
Buku ini terbagi menjadi beberapa bab. Bab 1 berisi pendahuluan, Bab 2 mengenai kehidupan Ida Bagus Ngurah di dalam masyrakat, Bab 3 mengenai pengabdian dan perjuangan, bab 4 mengenai menghayati seni budaya Bali, bab 5 mengenai profesi Ida Bagus Ngurah di dalam pedalangan, Bab 6 akhir hayat dan Bab 7 penutup
Ida bagus gelgel hasil karya dan pengabdiannya
Buku ini berisi tentang Ida bagus gelgel hasil karya dan pengabdiannya yang meliputi gaya lukisannya dan seni juga pariwisata di Bali. Dengan membaca biografi Ida Bagus Gelgel akan dapat diketahui kehidupan dan perkembangan seni lukis di Bali serta kehidupan para senimannya dalam usaha mengembangkan dan memupuk seni budaya Bali khususnya. Pertumbuhan dan kehi-dupan seni budaya Bali tidak terlepas dari tata kehidupan masya-rakat Bali dengan adat-istiadat serta agama Hindu Bali yang merupakan sumber ilham bagi para seniman Bali
SEKAR JAGAT BALI JILID II IDA BAGUS JELANTIK PURWA Pencetus Lukisan Prasi di Sidemen Karangasem IDA BAGUS MADE TOGOG Tokoh Pelukis Gaya Batuan IDA BAGUS MADE WIDJA Melukis Presiden di Tengah Gaya Batuan
IDA BAGUS JELANTIK PURWA
Pencetus Lukisan Prasi di Sidemen Karangasem
Oleh I Gede Mugi Raharja
Abstrak
I.B. Jelantik Purwa kelahiran 1952, merupakan tokoh seniman yang menjadi pencetus lukisan prasi. Seni lukis prasi adalah karya lukisan yang dibuat di atas lembaran-lebaran daun lontar, kemudian disusun menjadi satu kesatuan layaknya selembar kain kanvas. Jelantik Purwa tinggal di Geria Ulah, Banjar Abian Kangin Sukaton, desa Sidemen Kabupaten Karangasem, sebuah desa yang berada di kawasan pegunungan. Desa ini lebih mudah dicari dari desa Satria dan Paksebali, yang ada di timur Sungai Unda, Klungkung. Leluhur Jelantik Purwa, berasal dari desa Kamasan, yang sudah terkenal sebagai desa seniman pada masa Kerajaan Gelgel. Jelantik Purwa mengembangkan seni lukis prasi bersama saudara-saudaranya, kemudian memasarkannya ke luar desa Sidemen, sehingga seni lukis prasi kemudian dikenal di seluruh Bali. Tak ada yang mengajarinya melukis prasi. Bakat menoreh daun lontar dengan pisau khusus, pengrupak, sudah diwarisi dari ayahnya, Ida Bagus Made Oka, yang terampil menulis di atas daun lontar. Kisah-kisah tentang tokoh-tokoh pewayangan yang sering diceriterakan oleh ayahnya, kemudian divisualkan dalam bentuk goresan di atas tanah atau gambar pada selembar kertas. Pada usia 12 tahun, Jelantik Purwa mulai serius mencoba melukis di atas daun lontar bersama saudaranya, yang kemudian disebut sebagai seni lukis prasi. Pada dekade 1960-an telah berhasil membuat karya lukisan prasi. Upaya memasarkan hasil karya pun mulai dilakukan, di wilayah desanya sendiri dan juga mencoba memasarkan ke toko seni (artshop) di Klungkung. Selanjutnya, pada 1968 mulai dilakukan pemasaran ke desa Tenganan (Karangasem). Pemasaran ke desa wisata Ubud, juga pernah dilakukan pada 1975. Pasang surut pemasaran karya seni lukis pun sering dihadapi. Setelah dilakukan pembinaan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar, didukung instansi terkait, kini telah dibentuk kelompok pekerja seni prasi, Asta Karya.
Kata Kunci: Pencetus, Lontar, Kamasan, Pasang-surut, Asta Karya.
IDA BAGUS MADE TOGOG
Tokoh Pelukis Gaya Batuan
Oleh I Gede Mugi Raharja
Abstrak
Ida Bagus Made Togog adalah tokoh seniman lukis dari desa Batuan, yang muncul pada 1930-an, tetapi belajar melukis sendiri. Togog punya andil dalam pengembangan gaya lukisan khas desa Batuan. Kekhasan seni lukis gaya Batuan terletak pada ciri perspektif yang sederhana. Objek yang dekat dengan mata divisualisasikan pada bagian bawah bidang lukis, kemudian objek yang makin jauh dari mata divisualisasikan bersusun ke atas bidang lukis, sehingga perspektifnya kelihatan tersusun dari bawah ke atas. Warna-warna yang digunakan tidak menyolok, kebanyakan hitam dan putih. Garis-garis pada lukisan terlihat jelas dan mendetail. Rudolf Bonnet pernah menyarankan kepadanya agar membuat ilustrasi yang bersumber dari buku-buku lontar, kemudian melukisnya pada lembaran kertas yang besar. Berkat saran dari Bonnet dan Walter Spies, Togog kemudian menemukan jati diri, dan mampu mengembangkan lukisan dengan gaya khas, hasil inetpretasi dari teks pada lontar yang bersumber dari ceritera Mahabharata. Kekhasan lukisan Togog kini dilanjutkan oleh putra ke-4, Ida Bagus Ketut Panda. Akan tetapi, gayanya sedikit berbeda dengan cara mewarna sang ayah. Menurut Panda, kalau ayahnya mewarnai lukisan sampai empat lapis dan sangat detail, tetapi Panda mengembangkan gaya sang ayah sesuai dengan kemampuannya.
Kata Kunci: Perspektif, Hitam-putih, Garis jelas, Lontar, Mahabharata.
IDA BAGUS MADE WIDJA
Melukis Presiden di Tengah Gaya Batuan
Oleh I Gede Mugi Raharja
Abstrak
Pelukis Ida Bagus Made Widja pada mulanya tidak dikenal sebagai pelukis. Pria kelahiran 1922 dari desa Batuan ini, awalnya bertani dan kadang-kadang sebagai tukang bangunan. Dia juga sering berjualan daun sirih untuk upacara, berjualan cabai ke pasar Badung di Denpasar, dan berjualan kayu bakar ke desa Ketewel, Sukawati. Sarana transportasiya adalah cikar, kereta yang ditarik kuda. Akibat kurang istirahat setelah berjualan, akhirnya Widja jatuh sakit dan tidak ingin berjualan lagi. Widja akhirya tertarik untuk mengikuti jejak pelukis I B. M. Togog untuk melukis dan mulai melukis pada 1933. Saat melukis, sering dibatu I Nyoman Patera, yang sekaligus membantu pendanaan dan membantu menjualkan lukisannya. Bakat melukis Widja rupaya menurun dari kakeknya, Ida Bagus Kompyang Sana. Widja kemudian juga menjadi ahli dalam hal menatah wayang kulit dan wariga, pengetahuan tradisional untuk menentukan baik-buruknya hari untuk melakukan kegiatan berdasarkan astronomi. Menurut beberapa pengamat seni, saat melukis Widja dinilai sangat teliti dan rapi, serta tidak pernah tergesa-gesa. Garis kontur karyanya lembut, penuh keyakinan dan sangat tajam. Baginya, lukisan adalah kehidupannya yang sangat pribadi. Setelah bergaul dengan R. Bonnet dan W. Spies,Widja yang semula membuat lukisan dengan bayangan hitam berlapis, kemudian mulai mengikuti tren melukis dengan warna. Untuk meredam kekesalan Presiden Sukarno yang tertarik dengan lukisannya yang dibeli oleh Spies, maka Widja kemudian membuat lukisan khusus untuk Prsiden Sukarno. Ia diminta melukiskan suasana penyambutan rakyat Bali terhadap kunjungan Presiden Sukarno ke Bali, dengan gaya lukis khas dari desa Batuan.
Kata Kunci: Bertani, Sakit, Melukis, Kakek, Presiden
PERANCANGAN E-COMMERCE SEBAGAI MEDIA PEMASARAN ALAT OLAH RAGA PADA TOKO "BAGUS ABADI" BERBASIS WEB
Bagus Abadi merupakan salah satu toko yang menjual alat-alat olahraga dengan harga bersaing. Akan tetapi letak toko Bagus Abadi tergolong jauh dari pusat kota kabupaten Ponorogo sehingga jaringan konsumennya sangatlah kurang. Toko yang beralamat Desa Ngrogung Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo menyediakan alat-alat olahraga yang lengkap dan selalu up to date dengan misi menjaring semua pelanggan yang ada di Indonesia, manajemen toko Bagus Abadi berencana untuk memanfaat teknologi informasi sebagai media promosi serta pemasaran yaitu dengan electronic commerce (E-Commerce). Pengertian e-commerce yang dimaksud adalah pembelian dan penjualan barang dan jasa dengan menggunakan jasa komputer online di internet (Barakatullah dkk, 2005). Dari perspektif proses bisnis, e-commerce adalah aplikasi dari teknologi yang menuju otomatisasi dari transaksi bisnis dan aliran kerja.Riset global dari Bloomberg menyatakan, pada 2020 lebih dari separuh penduduk Indonesia akan terlibat di aktivitas e-Commerce.McKinsey dalam laporan bertajuk Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity juga menyebutkan, peralihan ke ranah digital akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga US$ 150 miliar dolar pada 2025. (http://www.solopos.com). Dengan pertumbuhan minat masyarakat Indonesia terhadap e-commerce yang terus meningkat, rencana pembuatan e-commerce pada toko Bagus Abadi merupakan jalan terbaik untuk mengatasi jauhnya jangkauan konsumen karena letak toko Bagus Abadi jauh dari pusat kota.
Kata kunci: E-Commerce, Bagus Abadi, Media Pemasaran, We
Kepengarangan Ida Bagus Putu Bek dan hasil karya serta konsep-konsep sentralnnya
Buku ini mengkaji seorang pujangga sastra lama yang berasal dari daerah Bali yang berjudul Kepengarangan Ida Bagus Putu Bek dan Hasil Karya serta Konsep-konsep sentralnya. Isinya tentang Riwayat Hidup, Riwayat Kepengarangan dan gambaran sosial-budaya yang dialami pada saat mengarang. Nilai-nilai yang terkandung diantara hasil karyanya adalah nilai Pendidikan Etika, dan Nilai Religius. Pada hakikatnya nilai-nilai tersebut sangat diperlukan dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya
FORM OF MODERN MASK CREATED BY IDA BAGUS ANOM
Mask is an artificial face made of a thin material or a material which is made thin in such a way that it is feasible to be worn on the human face. It is worn to make the face partly or entirely covered. It is a man’s cultural product which has been in existence since a long a time ago. It is historically recorded that it has been in existence since the pre-history era, exactly since what is termed as perundagiaan era (± 600-800 AD). The modern mask art currently developing is derived from the traditional one, functions for aesthetic purposes only and is related to what is needed by tourism. The process during which the modern mask art has been created is basically inspired by the traditional mask art. In addition, in the creation process, an artist always tries to acquire his personal identity. Ida Bagus Anom, as a mask artist, in creating mask art with special characteristics, is considered to be able to combine traditional values with modern elements. He still adopts the Balinese cultural values as the identity of the masks he has created. Apart from that, he has also adopted creatively foreign cultural values in his works. Through his modern masks, what he has contributed to arts still refers to the principle of Balinization. What is meant is that he has adopted the foreign cultural values to enrich the modern Balinese masks he has created. His creative, productive, and innovative works have aesthetical and ethic values as the soul. In other words, he has given priority to change or comodification as a basis for interacting symbols. The change taking place in the modern mask art created by Anom is not a product but a process of creativity based on Tri Semaya teaching which includes Atita, Wartamana and Negata (the past time, the present time and the future time). What is meant is that what is being done should refer to the past values, atita, and what is expected in the future, nagata. It is the past values and what is expected in the future which are combined in such a way that a basis for what is currently done (wartamana) can be created. What is currently done by Anom does not neglect the past cultural roots and will be regarded as being creative in the future. As far as the modern works created by Anom are concerned, the supra-empirical aspects of arts based on aesthetical values make them regarded as creative works, and empirically, they are highly realistic
Geguritan Bagus Diarsa
Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu
pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya.
Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra
daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya
Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa
Abstract
Penelitian ini adalah sebuah pengkajian seni pertunjukan, yang mengangkat Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang, sebagai salah satu seni pertunjukan pakeliran yang menyajikan cerita Calonarang. Fokus penelitian ini adalah analisis tentang, Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa di Pemuwunan Setra Pura Dalem Desa Kerobokan Badung.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu menganalisa permasalahan yang diajukan memakai teori strukturalisme, teori estetika, dan teori semiotik. Teori strukturalime sebagai pisau bedah untuk membahas struktur pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung. Teori estetika sebagai pisau bedah untuk membahas unsur-unsur keindahan Pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung. Teori semiotik sebagai pisau bedah untuk mengungkapkan simbol-simbol yang ditampilkan pada Pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung yang disajikan oleh dalang Ida Bagus Sudiksa di Pemuwunan Setra Pura Dalem Desa Kerobokan Badung. Data yang disajikan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, interview atau wawancara, studi kepustakaan dan studi dokumentasi.
Simbolisme adalah simbol-simbol yang digunakan pada pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa di Pemuwunan Setra Pura Dalem Desa Kerobokan. Simbol-simbol tersebut dapat dilihat pada setting panggung yang dihiasi dengan gedang renteng (pohon pepaya buahnya kecil-kecil dengan banyak); simbol-simbol dari tokoh wayang seperti pamurtian sisya (ngelekas), Barong, Rangda dan Rarung. Sedangkan Mistikisme adalah kandungan mistik atau keangkeran yang dimunculkan dari simbol-simbol pada pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung, kandungan mistik tersebut dapat dilihat pada tabuh gamelan yang mengindikasikan keangkeran atau kesakralan yakni pada tabuh gegilak
Barong, tabuh tunjang, dan tabuh ngelinting; pada pencahayaan seperti ngelinting dengan menutup rapat cahaya lampu (blencong) diganti dengan nyala dua buah linting ditarikan, yang menyebabkan kekompakan wayang menari disaat melakukan ritual ngereh; monolog yang diwakilkan oleh tokoh Twalen disaat ngundang-ngundang diselingi dengan Pupuh Ginada Basur.
Wayang Calonarang adalah pertunjukan wayang kulit dengan menggunakan cerita Calonarang yang disajikan oleh dalang Ida Bagus Sudiksa melalui pakeliran, yang menggungkapkan Rwa-Bhineda (dua yang berbeda) yaitu Pengiwa dan Panengen, diaplikasikan ke dalam tokoh Barong dan Rangdayang dikeramatkan (disakralkan), dipuja (disungsung) oleh umat Hindu di Bali untuk menetralisir keadaan (aura magis) demi kesejahtraan umat di Jagat Raya ini
- …
