46 research outputs found
Designing Visual Identity Brand Montera Coffee
Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar
[email protected]
Dian Cahyadi
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar
[email protected]
Sukarman B
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar
[email protected]
ABSTRAK
Montera Coffee adalah perusahaan dengan bisnis waralaba coffee shop yang sedang dalam
tahap persiapan untuk dapat hadir mengikuti persaingan di tengah kompetisi pasar industri
coffee shop dengan kompetitornya yang telah hadir lebih dulu dan telah mengembangkan
brand sebagai daya saing potensial dalam persaingan pasar yang kompetitif. Untuk itu,
kemudian perancangan visual identity brand Montera Coffee merupakan langkah awal dalam
upaya membangun visual identity yang mampu menyampaikan nilai perusahaan dan menjadi
pembeda antara Montera Coffee dengan para kompetitornya. Melalui proses perancangan
visual identity yang memenuhi kaidah-kaidah dalam membangun brand identity akan
memudahkan konsumen dari Montera Coffee dalam mengidentifikasi produk perusahaan.
Kata Kunci : Persaingan pasar, brand, brand identity, visual identit
Kajian desain kecapi Sulawesi Selatan dan kaitannya dengan budaya maritim masyarakatnya.
Penelitian ini dilatarbelakangi pemikiran bahwa kecapi Sulawesi Selatan sebagai salah satu karya budaya bangsa yang eksistensinya cenderung makin tergeser oleh desakan arus budaya luar akibat perkembangan zaman perlu direvitalisasi lewat pelbagai kegiatan, antara lain dengan melakukan kajian terhadap karya budaya tersebut. Mengkaji kecapi Sulawesi Selatan merupakan salah satu bentuk studi budaya yang selain bermakna menggali nilai-nilai budaya untuk menunjukkan identitas budaya bangsa sendiri, juga memberikan kontribusi yang lebih jauh berupa pemahaman kembali nilai-nilai budaya bangsa sendiri yang berguna sebagai bahan studi untuk menata masa depan bangsa. Demikianlah sekilas pemikiran yang menjadi landasan perlunya penelitian ini dilakukan. Permasalahan penelitian yang dikemukakan kemudian berawal dari adanya perhatian penulis pada bentuk kecapi Sulawesi Selatan yang sangat menyerupai perahu (pinisi). Dalam perhatian itu, penulis teringat pada ungkapan "masyarakat Sulawesi Selatan adalah masyarakat pelaut" yang sering didengung-dengungkan, sehingga rupa perahu yang tampak pada kecapi Sulawesi Selatan diduga merupakan indikasi perahu sebagai acuan visual dalam penciptaannya. Demikian, kemudian diduga desain kecapi tersebut punya kaitan dengan budaya maritim masyarakatnya. Selanjutnya, kecapi yang bentuknya menyerupai perahu itu terdapat di tiap etnik di Sulawesi Selatan, terutama Bugis, Makassar, Mandar, dan diberikan nama sesuai dengan nama etnik tersebut, yakni kecapi Bugis, kecapi Makassar, dan kecapi Mandar. Penamaan yang berbeda itu menjadi indikasi adanya perbedaan antara kecapi di etnik yang satu dengan kecapi di etnik yang lainnya. Demikianlah, sehingga desain kecapi Sulawesi Selatan dianggap perlu dikaji, baik dalam kaitannya dengan budaya maritim masyarakatnya maupun perbedaan di samping persamaannya di masing-masing etnik. Adapun permasalahan yang diteliti berkenaan dengan pemikiran di atas, yakni: (1) Apakah penciptaan desain kecapi di Sulawesi Selatan mempunyai kaitan dengan budaya maritim masyarakatnya; (2) Apakah bentuk kecapi Sulawesi Selatan mendapat inspirasi dari bentuk perahu; (3) Bila perahu sebagai acuan visual kecapi Sulawesi Selatan, unsur-unsur manakah yang merupakan transformasi dari bentuk perahu; (4) Apakah terdapat perbedaan aspek desain pada kecapi setiapetnik di Sulawesi Selatan; (5) Bila terdapat perbedaan, bagaimanakah spesifikasi desain kecapi masing-masing etnik, dan faktor-faktor apakah yang menyebabkan perbedaan tersebut. Tujuan umum dilakukannya penelitian ini adalah untuk memahami konsep desain kecapi di Sulawesi Selatan serta unsur-unsur yang mempengaruhinya. Tujuan khususnya adalah untuk mengkaji keterkaitan desain kecapi Sulawesi Selatan dengan budaya maritim masyarakatnya. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu informasi aktual yang menggambarkan paradigma desain masa lampau dalam wacana kebudayaan Sulawesi Selatan, khususnya yang ditunjukkan pada desain kecapinya, yang pada gilirannya dapat pula dijadikan referensi untuk mengkaji lebih lanjut perubahan-perubahan mendasar penciptaan artifak (desain) di Sulawesi Selatan. Dalam meneliti masalah di atas digunakan metode korelasi dan komparsi dengan pendekatan antropologis. Kedua metode dgn pendekatan itu secara interaktif digunakan dalam menganalisis data yang di dalam penelitian ini sifatnya kualitatif. Proses analisismencakup tiga alur kegiatan sbg suatu sistem, yakni: reduksi data, sajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan. Aktivitas ketiga komponen analisis tsb dilakukan dlm bentuk interaktif pula dgn proses pengumpulan data sbg suatu proses siklus. Selama proses penelitian berlangsung diperoleh data berupa data verbal dan data visual. Data verbal meliputi informasi mengenai penggunaan kecapi, informasi mengenai pelayaran orang-orang Sulawesi Selatan, dan informasi mengenai aktivitas kesenian masyarakat maritim, termasuk di saat berlayar. Data visual meliputi dokumentasi foto produk kecapi dan pelbagai jenis perahu Sulawesi Selatan. Dari data verbal dicari kaitan penciptaan dan penggunaan kecapi dgn budaya maritim masyarakatnya. Dari data visual dilakukan perbandingan bentuk dan struktur kecapi dgn bentuk dan struktur perahu (pinisi). Hasil analisis data menunjukkan bahwa penciptaan kecapi di Sulawesi Selatan diawali oleh masyarakat pantai yg umum dikenal sbg masyarakat pelaut. Penciptaan kecapi oleh masyarakat pelaut dimotivasi oleh kebutuhan akan alat musik petik sederhana yg ada di daerah tsb, yg berlangsung sbg dorongan alami dlm rangka usaha mencari pemecahan-pemecahan yg lebih baik. Dalam proses itu, karakteristik masyarakat pelaut yg identik dgn kehidupan perahu menjadi spirit yg teradaptasi dgn norma-norma yg berlaku membentuk suatu konsep yg melatari perwujudan ..
REAKTUALISASI KONSEP TRI PUSAT PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM BAGI GENERASI MILENIAL
AbstractThis paper is a study of thought that tried to re-actualize an educational concept of one of Indonesia's national education maestro, Ki Hajar Dewantara namely the concept of three education center. The author seeks the intersection between the concept of three education center with the concept of Islamic education. The hope is to find the relevance of the concept of three educational center with the concept of Islamic education will be a solution for the achievement of educational goals for millennial generation in the era of globalization with all its complexity. The author wants to re-awaken the awareness of the role of education from the perspective of the concept of three education center and islamic education.Keywords: re-actualization, education center, millennial generation AbstrakTulisan ini merupakan sebuah kajian pemikiran yang berusaha mengaktualisasikan kembali sebuah konsep pendidikan dari salah seorang maestro pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara yakni konsep tri pusat pendidikan. Penulis mencari titik temu anatara konsep tri pusat pendidikan dengan konsep pendidikan Islam. Harapannya adalah dengan menemukan relevansi dari konsep tri pusat pendidikan dengan konsep pendidikan Islam akan dapat menjadi solusi bagi tercapainya tujuan pendidikan bagi generasi milenial di era globalisasi dengan segala kompleksitasnya. Penulis ingin menggugah kembali kesadaran tentang peran pendidikan dari perspektif konsep tri pusat pendidikan dan pendidikan Islam.Kata-kata kunci : reaktualisasi, pusat pendidikan, generasi milenia
Relevansi Tradisi Buwuh dengan Pelestarian Nilai-Nilai Pendidikan Insani (Studi Kasus di Desa Bantrung Kecamatan Batealit Kabupaten)
This research aims to examine the relevance of the buwuh tradition in Bantrung Village, Batealit District, Jepara Regency with the values of human education. This research is a type of qualitative field research with a case study approach. Data collection techniques in this research are observation, interviews and documentation. Data analysis is carried out by grouping, coding, reducing and presenting data in the form of descriptive analysis. The results of the research show that the buwuh tradition in Bantrung Village, Batealit District, Jepara Regency is a form of preserving culture and traditions that have been carried out from generation to generation. Meanwhile, the relevance of the buwuh tradition in Bantrung Village, Batealit District, Jepara Regency with the values of human education, includes: the values of tawazun (balance), justice, trustworthiness, honesty, ta'awun (mutual assistance), ukhuwah (brotherhood), and tasamuh (tolerance). The positive and negative impacts of the buwuh tradition in Bantrung Village, Batealit District, Jepara Regency with the values of human education, include: a) remembering God's blessings, b) helping each other by giving alms, emphasizing brotherly relationships, creating an attitude of helping each other, establishing harmonious relations between communities. Meanwhile, the negative impacts of the buwuh tradition include; burdening someone, being burdened with debt, returning buwuhan, problems in the economy
Prinsip Governance dalam Pengelolaan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Desa Banglas Barat Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2014-2016
This research is motivated target PAMSIMAS village election in the village of Banglas Barat years 2014-2016 in accordance with the decree of the minister of public works decree No. 79 / Kpts / DC / 2013 on stipulation district / city target PAMSIMAS. Implementers program PAMSIMAS at the district level conducted by the planning office and the department of public health office of human settlements POKJA AMPL is incorporated in regency Kepulauan Meranti, while implementers at the village level is done by the village government, KKM, SATLAK, BPSPAMS and community facilitator team. The study aims to determine the principles of governance in the management of Banglas Barat PAMSIMAS in the village and the factors that affect the management of PAMSIMAS program. The type used in this research is descriptive research with qualitative research approach. Type of research data is primary data and secondary data. Data collection techniques in this study is documentation and interviews. Technical analysis of the data used is descriptive qualitative data analysis.The results showed that the principle governance in the management program in the village PAMSIMAS Banglas Barat has not run optimally. It is seen from some of the principles governance of accountability and the rule of law can not be applied by managers BPSPAMS PAMSIMAS particularly in operational and maintenance phase PAMSIMAS assets. inhibiting factor which is greater in terms of both internal and external. The right solution to overcome the problems in the management of PAMSIMAS Village Banglas Barat is particularly BPSPAMS PAMSIMAS manager must be optimized in applying the principles of governance in coordination with all parties involved in the program PAMSIMAS and supported by the budget of the village government and local government
CERAPAN MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR TERHADAP SENSASI RUANG PADA KARYA SENI LUKIS MODERN NONREPRESENTATIF
Penelitian ini berjudul ” Cerapan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar terhadap Sensasi Ruang pada Karya Seni Lukis Modern Nonrepresentatif”. Penelitian ini Pemikiran dilatarbelakangi berkembangnya karya seni lukis modern nonrepresentatif yang jauh dari representasi keadaan alam, yang sering membuat publik kesulitan untuk menikmatinya, terutama oleh publik awam, meskipun karya-karya tersebut tergolong karya seni bermutu. Fenomena ini juga terjadi di kalangan mahasiswa meskipun mereka telah dibekali banyak pengetahuan tentang seni lukis modern serta banyak melakukan aktivitas seni. Seni lukis modern nonrepresentatif dalam perkembangannya banyak menunjukkan pertimbangan ruang yang matang bersama unsur-unsur visual lainnya dalam mengeksplor kesan-kesan artistik. Masalah penelitian adalah “Bagaimanakah daya cerap mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar terhadap sensasi ruang pada karya seni lukis modern”. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui dan menggambarkan kondisi riil daya cerap mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar terhadap sensasi ruang pada karya seni, dan secara khusus terhadap karya seni lukis modern nonrepresentatif. Manfaat penelitian ini adalah (1) diperoleh informasi yang akurat mengenai kondisi nyata daya cerap mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar terhadap sensasi ruang pada karya seni lukis modern nonrepresentatif, yang sekaligus menggambarkan daya cerap terhadap sensasi ruang pada karya seni secara umum; (2) memberikan gambaran keberhasilan pembelajaran yang dilakukan selama ini terhadap mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar, terutama pembelajaran yang terkait, yang dapat dijadikan masukan untuk pengembangan sistem pembelajaran. Data dikumpulkan melalui tes apresiasi. kemudian diolah dan dianalisis dengan teknik persentase kemudian diinterpretasi secara kualitatif
Tin mining process and its effects on soils in Bangka Belitung Islands Province, Indonesia
Tin mining in the Bangka Belitung Islands Province is conducted with an open-pit mining system. This paper discusses the process of tin mining and its effects on soil properties in this region. Tin mining led to the formation of accumulations in the form of (1) mixed soils from horizons A, B, and C, (2) excavated materials from the deeper levels of the pit, (3) coarse-grained tailings with quartz as a primary element, (4) tailings mixed with excavated soils, and (5) voids filled with water. After tin mining ended, the area was left with waste excavated materials, stockpiles of excavated materials or tailings, and voids, spread over an area of 124,838 ha. Overall, mining has led to significant and alarming damages to the biophysical aspects of land resources and the environment. This damage includes the deterioration of soil structure, changes in soil texture, loss of soil organic matter, and loss of soil fertility. The mining activities also caused the loss of a number of types of biota that are important to provide environmental services such as the provision of forest products, soil stability, maintaining the hydrological cycle, and carbon sequestration
PERANCANGAN GAMBAR ILUSTRASI DONGENG NENEK PAKANDE DENGAN TEKNIK PAPER CUT
Alkisah di suatu daerah di Soppeng (sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan), terdapatsuatu desa dengan rakyatnya sangat bersahabat, senantiasa hidup tentram, damai, dan sejahtera. Hampir atau bahkan seluruh masyarakat yang tinggal di daerah itu bermata pencaharian sebagai seorang petani. Setiap hari mereka berbondong-bondong ke sawah untuk bertani di lahan mereka masing-masing. Pada suatu ketika, desa yang terkenal tentram tersebut terusik oleh seorang nenek tua yang rambutnya berwarna putih memakai konde di kepalanya, wajah yang keriput, dengan badan yang setengah membungkuk, lalu memakai sarung batik dan kemeja. Sekilas terlihat nenek itu hanyalah seorang nenek tua yang biasa-biasa saja yang sedang mencari tempat tinggal.Tapi siapa yang menyangka bahwa nenek tua itu adalah seorang siluman yang suka memangsa daging manusia terlebihnya daging anak-anak. Dengan karakternya yang dikenal seperti itu, maka warga setempat pun menamai nenek itu dengan sebutan Nenek Pakande (diambil dari bahasa Bugis yaitu kata manre yang berarti makan). Biasanya Nenek Pakande itu berkeliaran keliling kampung untuk mencari mangsa pada hari ketika sang fajar sudah mulai tenggelam
EVALUASI KUALITAS WARNA IKAN KLOWN Amphiprion percula Lacepède 1802 TANGKAPAN ALAM DAN HASIL BUDIDAYA
Kualitas warna ikan klown hasil budidaya lebih rendah dibandingkan tangkapan alam, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, namun belum ada data ilmiah sebagai dasar untuk melakukan perbaikan. Tujuan penelitian adalah menganalisis dan mengevaluasi kualitas warna ikan klown (Amphiprion percula) hasil tangkapan alam dibandingkan dengan hasil budidaya. Kualitas warna diukur pada dua zona: zona-I kulit berwarna oranye antara insang dengan band warna putih pada tengah badan dan zona-II adalah bagian kulit warna oranye antara band putih tengah badan dengan band warna putih pada pangkal ekor, dengan parameter nilai L* (lightness), a* (redness), b* (yellowness), C (chroma), H (Hue). Analisis total karotenoid (TC) dilakukan pada kulit kedua zona, sirip pektoral, sirip dorsal, sirip kaudal, dan serum darah. Analisis kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan pada kulit dan sirip untuk mengonfirmasi jenis karotenoid dalam kulit dan sirip. Data kualitas warna dianalisis menggunakan t-test, hubungan kualitas warna dengan TC dianalisis dengan regresi sederhana, dan analisis deskriptif untuk hasil KLT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas warna ikan klown tangkapan alam lebih baik dibanding budidaya, didukung oleh tingginya total karotenoid pada kulit zona-I, kulit zona-II, sirip pektoral, sirip dorsal, sirip kaudal, dan serum darah berturut-turut 51,64; 51,24; 136,40; 124,37; 194,18 mg/kg; dan 2,2 mg/mL; pada ikan hasil budidaya berurut-turut 2,5; 3,5; 8,45; 10,01; 23,43 mg/kg; dan 0,8 mg/mL. Hasil KLT menunjukkan bahwa jenis karotenoid pada kulit dan sirip ikan klown adalah astaxanthin, serta satu jenis karotenoid diduga zeaxanthin. Berdasarkan hasil penelitian, maka perlu ditambahkan pigmen karotenoid, dan prekursor pigmen lainnya melalui pakan untuk ikan klown budidaya.The color quality of cultured clownfish is not as good as the wild one. However, it’s influenced by several factors. However, but there is not enough scientific data to be used as the basis for improvement. The purpose of this study was to analyze and evaluate the color quality difference between cultured and wild clown fish Amphiprion percula. Color qualities were measured in two zones: an orange-colored at zone-I was measured between gills and white band at the center of the body and an orange-colored at zone-II was measured between the center of white band and white band near the caudal peduncle. Parameters analyzed were L* (lightness), a* (redness), b* (yellowness), C (Chroma), H (Hue). Total carotenoid (TC) was analyzed on both zones-I and II, pectoral-fins, dorsal-fin, caudal-fin, and blood serum. Thin layer chromatography (TLC) was used to analyze the type of carotenoids in the skin and fin tissues. Color quality data was analyzed by T-test. Simple linier regression and descriptive analyses were used to analyzed the other parameters. The results showed that the color quality of wild clown fish was better than that of the cultured clown fish, indicated by high TC content in skin of zone-I, skin of zone-II, pectoral-fin, dorsal-fin, caudal-fin, and blood serum (51.64, 51.24, 136.40, 124.37, 194.18 mg/kg, and 2.2 mg/mL, respectively); and in cultured fish 2.5, 3.5, 8.45, 10.01, 23.43 mg/kg, and 0.8 mg/mL, respectively. TLC test results showed that carotenoid type in skin and fin of clownfish were astaxanthin, and one type of carotenoid was suspected as zeaxanthin. Based on the results of the study, it is necessary to add carotenoid pigments, especially astaxanthin or other precursor the feed to improve the color quality of cultured clown fish.</jats:p
Perancangan Buku Bergambar Cerita Rakyat Karampuang
ABSTRAK
Sri Wulandari. 1386142007. Perancangan Buku Bergambar Cerita Rakyat Karampuang. Tugas Akhir. Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas
Seni dan Desain. Universitas Negeri Makassar. 2017. Pembimbing: (I) Dr.
Sukarman B. M.Sn (II) Irfan, S.Pd , M.Ds.
Perancangan ini bertujuan untuk membuat buku bergambar cerita rakyat
Karampuang yang komunikatif dan tepat sasaran sehingga dapat disenangi oleh
anak-anak, selain itu agar cerita rakyat daerah dapat di lestarikan dengan hadirnya
buku cerita yang dapat di bacakan kepada anak. Konsep perancangan dalam
merancang buku ini di mulai dari menentukan konsep desain, menulis sinopsis,
membuat story line, membuat desain karakter, pembuatan sketsa, lineart,
digitalisasi dan pewarnaan, menentukan layout, proses cetak dan jilid, serta
finishing. Hasil dari perancangan ini berupa buku bergambar dengan ukuran 20 x
20 cm. Diharapankan dalam perancangan ini agar anak-anak gemar membaca buku
cerita rakyat daerah dan tetap melestarikannya,
Kata kunci: Buku bergambar, ilustrasi, cerita rakyat
