1,720,963 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Tinjauan hukum Islam terhadap aplikasi reksadana Exchange Traded Fund (ETF) di Bursa Efek Indonesia
Skripsi dengan judul Tinjauan Hukum Islam terhadap Aplikasi Reksadana Exchange Traded Fund (ETF) di Bursa Efek Indonesia ini adalah hasil penelitian lapangan yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana mekanisme perdagangan ETF (exchange traded fund) dan bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap aplikasi ETF di Bursa Efek Indonesia? Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ETF (exchange traded fund) adalah reksadana yang unit penyertaannya atau sahamnyan diperjual belikan di Bursa Efek Indonesia. Adapun mekanisme penerbitan ETF di BEI diawali dengan penerbitan ETF. Unit Penyertaan atau saham ETF diterbitkan melalui proses yang disebut Creaton Unit, proses tersebut dilakukan pada saat investor kelembagaan (institutional investor) dalam hal ini bertindak sebagai sponsor, mendeposit sekumpulan efek (basket of securities) ke dalam reksadana dan sebagai gantinya investor tersebut akan menerima Unit Penyertaan atau saham ETF. Selanjutnya perdagangan ETF, investor ETF tidak dapat melakukan jual-beli lewat manajer invetasi tetapi melalui bursa efek yaitu diawali dengan pemodal menghubungi perusahaan efek dimana ia terdaftar sebagai nasabah, kemudian menyampaikan instruksi kepada broker. Instruksi tersebut kemudian disampaikan kepada pialang di lantai bursa untuk dilaksanakan hingga transaksi terjadi matched dalam artian pesanan jual atau beli telah bertemu dengan harga yang cocok, selanjutnya proses penyelesaian transaksi. Menurut hemat penulis transaksi saham ETF sama halnya dengan melakukan transaksi order pesana barang yang telah ditentukan oleh kedua belah pihak dengan waktu dan syarat yang telah disepakati bersama. Dalam al-Qur’an dan Hadits memang tidak ditemukan ayat-ayat yang menjelaskan tentang bursa efek dan saham ETF, tetapi hal ini diperbolehkan karena telah memenuhi syarat dan rukun dalam jual beli dan tentunya tidak bertentangan dengan syariat Islam
Pengembangan modul fisika materi listrik statis, listrik dinamis, dan kemagnetan kelas IX SMP/MTS berbasis integrasi sains dan Islam
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul fisika pada materi listrik statis, listrik dinamis, dan kemagnetan untuk siswa kelas IX SMP/MTs berbasis integrasi sains dan Islam, serta untuk mengetahui kualitas modul fisika tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan Research & Development (R&D) dengan prosedur penelitian pengembangan menurut Borg dan Gall yang batasi sampai dengan tahap validasi ahli. Instrumen yang digunakan berupa skala penilaian untuk mengetahui kualitas bahan ajar fisika yaitu menggunakan skala Likert dengan 5 kategori yang disusun dalam bentuk checklist. Analisis data yang dihasilkan berupa data kualitatif dan data kuantitatif dari ahli materi, ahli media, serta ahli integrasi sains dan Islam. Data kualitatif merupakan data berupa kritik dan saran dari tim ahli, sedangkan data kuantitatif merupakan data berupa skor (persentase). Hasil penilaian menunjukkan bahwa modul fisika ini layak digunakan dengan kategori sangat baik (SB). Hal ini didasarkan pada jumlah rata-rata skor dan persentase kelayakan modul oleh ahli materi dengan skor 4,4 dan persentase kelayakan 89%, penilaian oleh ahli media dengan skor 4,4 dan persentase kelayakan 89%, dan penilaian oleh ahli integrasi sains dan Islam dengan skor 4,3 dan persentase kelayakan 85%
Larangan tato dalam perspektif Hadis Nabi SAW
Kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa kebijakan dan rahmat bagi umat manusia dalam segala waktu dan tempat. Nabi Muhammad SAW adalah penjelas bagi al-Qur’an dan penjelas bagi Islam, baik dari perkataan , perbuatan dan semua sisi sirahnya. Dalam memahami hadis-hadis Nabi dengan langkah ma’anil hadis merupakan langkah awal dalam menyikapi wacana-wacana Islam yang merujuk kepada hadits hadits nabi yang tersebar diberbagai literatur Islam yang selalu dikutip tanpa mempertimbangkan makna yang terkandung dibalik makna matan hadits.Dan juga disebabkan tato-tato itu berupa gambar yang mengandung unsur menyekutukan Allah.Seperti yang dilakukan oleh orang orang nasrani yang menggambar salib ditangan atau anggota tubuh lainnya.namun bukan berarti tato yang tidak mengandung unsur menyekutukan Allah bisa ditoleransi. Disisi lain perlu dicatat bahwa tato yang menghalangi tersentuhnya air wudhu atau air mandi junub. Tato telah dikenal sejak zaman Rasulullah.Banyak sekali hadits yang melarang hal tersebut, bahkan larangannya sangat keras, sampai-sampai mengutuk pelakunya.Ancaman tersebut menjadi bahan diskusi bagi para ulama’. Menyangkut kutukan dan larangan mengubah ciptaan Allah seperti memakai tato ini, merupakan larangan yang keras.
Adapun pembahasan yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah Tato dalam perspektif hadis Nabi SAW. Dalam redaksi pelarangan terhadap tato ada tiga bentuk pelarangan yaitu menggunakan term la’na, term naha, term la yang terdapat pada kutub al-sittah. Kemudian mentahrij salah satu hadis tersebut untuk mengetahui kualitas hadis yang diteliti. Dan redaksi hadis-hadis yang lainnya sebagai penguat dari redaksi hadis yang diteliti.
Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan. Sedangkan dalam pengolahan data, metode yang digunakan penulis adalah pendekatan tematik atau maudu’i. adapun hadis hadis tersebut didapatkan melalui CD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif al-Kutub al-Tis’ah kemudian penulis cocokkan dengan kitab aslinya untuk keakuratan data. Setelah hadis-hadis terkumpul kemudian penulis analisis dengan pendekatan analisis sanad dan analisis matan.
Dari penelitian yangdilakukan penulis, maka ditemukan beberapa kesimpulan, yaitu berdasrkan hadis-hadis tentang tato dalam perspektif hadis Nabi SAW bahwa hadis yang penulis teliti merupakan hadis sahih jika dilihat dari hasil analisis sanad yang menunjukkan syarat hadis sahih. Tato itu dilarang bahkan Allah melaknat pengguna dan orang yang mentato. Karena itu merupakan merubah ciptaan Allah, selain itu, tato juga dapat menghalangi air wudhu. Tato yang dimaksud dalam hadis nabi tersebut adalah tato yang bersifat permanen
Pandangan Hakim terhadap Korelasi antara Dispensasi perkawinan dengan perceraian: Studi kasus di Pengadilan Agama Kabupaten Malang
ABSTRAK
Pengadilan Agama Kabupaten Malang menangani perkara permohonan dispensasi perkawinan karena belum mencapai batas minimal usia perkawinan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Pasal 7 ayat (1). Dari beberapa permohonan dispensasi perkawinan tersebut ternyata banyak yang kembali ke Pengadilan Agama Kabupaten Malang untuk mengajukan perceraian. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor yang melatar belakangi terjadinya perceraian pada pasangan dispensasi perkawinan di Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan korelasi antara dispensasi perkawinan dengan perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Malang.
Penelitian ini tergolong penelitian lapangan (Field Research) dan jenis penelitiannya yuridis empiris dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif-kualitatif. Sumber data utama yang digunakan melalui wawancara kepada tiga Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan satu para pihak yang bercerai dari pasangan dispensasi kawin. Selanjutnya dengan dokumen penetapan dispensasi perkawin dan putusan perceraian.
Hasil penelitian yang dilakukan di Pengadilan Agama Kabupaten Malang ialah faktor yang melatarbelakangi terjadinya perceraian dari pasangan dispensasi perkawinan yaitu kurang layaknya nafkah dan terjadinya pertengkaran dan perselisihan secara terus menerus. Sedangkan korelasi antara dispensasi perkawinan dengan perceraian yakni terjadinya pernikahan dari pasangan dispensasi perkawinan karena keterpaksaan menyebabkan tidak adanya kesiapan mental dan finansial yang tidak mencukupi sehingga menimbulkan pertengkaran serta perselisihan, dan pada akhirnya mengajukan perceraian. Jumlah orang yang mengajukan perkara dispensasi perkawinan pertahunnya lebih dari 300, sedangkan yang kembali lagi ke Pengadilan Agama untuk mengajukan perceraian berjumlah sekitar 30 perkara. Dari jumlah tersebut sudah terlihat adanya mudhorot dari akibat pernikahan dini. Pernikahan dini ditinjau dari fiqh dianggap sah karena batasan umur menikah dalam fiqh yakni sudah baligh, sedangkan ditinjau dari Undang-Undang Perkawinan pernikahan dini dianggap menimbulkan banyak mudhorot. Jika ditinjau dari kesehatan biologis pernikahan dini dianggap belum mencapai umur ideal yakni 20-25 tahun, sedangkan ditinjau dari psikologis pernikahan dianggap baik dan positif apabila pernikahannya dilakukan karena sudah siap mental.
ABSTRACT
The Religious Court of Malang Regency handles matters of marriage dispensation because they have not reached the minimum age of marriage as regulated in Law Number 1 of 1974 Article 7 paragraph (1). From several applications of marriage dispensation it turns out that many returned to the Religious Court of Malang Regency to propose divorce. The subject matter in this research is the factor of the background of divorce on the couple of marriage dispensation in Religious Court of Malang Regency and correlation between marriage dispensation with high number of divorce in Religious Court of Malang Regency.
This research using field research (Field Research) and the type of research empirical juridical by using descriptive-qualitative research approach. The main data source used through interviews to three Religious Court Judges of Malang Regency and one divorced party from the married dispensation pair. Furthermore, with the documents of the provision of marriage dispensation and divorce decisions.
The results of research conducted in the Religious Court of Malang Regency is the factors behind the divorce from the couple of marriage dispensation, namely the lack of proper living and the occurrence of disputes and disputes continuously. Whereas the correlation between marital dispensation and divorce, namely the occurrence of marriage from a couple of marital dispensation due to compulsion led to the absence of insufficient mental and financial readiness that caused disputes and disputes, and eventually filed for divorce. The number of people who filed cases of annual marriage dispensation was more than 300, while those who returned to the Religious Courts to file divorce were about 30 cases. Of this amount, it has been seen that there is a harms from the effects of early marriage. Early marriage in terms of fiqh is considered legitimate because the age limit is married in fiqh that is adult, whereas in terms of the Marriage Law early marriage is considered to cause many harms. If viewed from the biological health of early marriage is considered not yet reached the ideal age of 20-25 years, whereas in terms of psychological marriage is considered good and positive if the marriage is done because it is mentally ready.
مستخلص البحث
عالجت المحكمة الدينية مالانج مطلبة رخصة الزواج النقصان عمر العروسين كما رتبها الدستور رقم الأول سنة ١٩٧٤ أية (١). ومن مطالب رخصة الزواج، كثير من المستدعيين الذين يعودون إلى المحكمة لتقديم الطلاق. المشكلة الأساسية في هذا البحث هي العوامل الدافعة لوقوع الطلاق في البعل من رخصة الزواج في المحكمة الدينية مالانج والعلاقة بين رخصة الزواج مع ارتفاع قضية الطلاق في المحكمة الدينية مالانج.
يشمل هذا البحث على البحث الحقلي ونوعه هو البحث الحقوقي الواقعي بالمدخل الوصفي والكيفي. مصادر البيانات الرئيسية هي المقابلة مع ثلاثة قضاة في المحكمة الدينية مالانج، وفرد من مطلقة في رخصة الزواج. وبالتالي، مع البيانات عن تقرير رخصة الزواج وحكم الطلاق.
أما نتائج البحث هي أن العوامل الدافعة لوقوع الطلاق هي عدم لياقة النفقة وكثرة النزاعات المستمرة. أما العلاقة بين رخصة الزواج مع الطلاق هي فيوجد أن وقوع الطلاق من الفاعل بالزواج المبكر بسبب الإجبار الذي يؤدي إلى عدم الاستعداد من ناحية الروحية ونقصان النفقة يؤدي إلى النزاعات والصراعات. عدد المستدعيين لقضية رخصة الزواج لكل سنة يجاوز عن ٣٠٠ شخصا، وهم يعودون إلى المحكمة ليقدمون مطلبة الطلاق قدر ٣٠ قضية. فمن هذا العدد، يعرف بأن هناك أثار سلبية من الزواج المبكر. أما الزواج المبكر إذ كشف من خلال الفقه جائز لأن حد العمر للزواج هو البلوغ، أما في الدستور يعتبر أن الزواج المبكر يسبب إلى آثار سلبية. ومن ناحية الصحية، الزواج المبكر لم يبلغ حد العمر اللائق وهو ٢٠-٢٥ عاما. أما من ناحية السيكولوجية يعتبر أن الزواج صالح وإيجابي إن كان العروسان مستعدين
PENGARUH LIKUIDITAS, LEVERAGE KEUANGAN, UKURAN PERUSAHAAN DAN PERTUMBUHAN PENJUALAN TERHADAP PROFITABILITAS PADA PERUSAHAAN SUB SEKTOR OTOMOTIF DAN KOMPONENNYA YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2017-2021
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh CR,QR,DAR,DER, ukuran perusahaan
dan pertumbuhan penjualan dengan profitabilitas (ROA) perusahaaan sub sektor otomotif dan
komponennya periode 2017-2021. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh
dari Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2017-2021. Sampel dalam penelitian ini adalah
12 perusahaan sub sektor otomotif. Penelitian ini mengguankan metode sampel jenuh dan
metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah STATA 14. Hasil analisis menunjukan
bahwa CR,QR,DAR,DER secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (ROA),
sedangkan ukuran perusahaan dan pertumbuhan penjualan berpengaruh tidak signifikan
terhadap profitabilitas (ROA)
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
