7 research outputs found

    Hubungan Peer Attachment dengan Regulasi Emosi pada Remaja Panti Asuhan

    No full text
    This research aims to examine the relationship between peer attachment and emotional regulation in orphanage adolescents. Peer attachment is defined as adolescents' attachment to peers, and emotional regulation is an individual's ability to realize, understand emotions, and be able to find strategies to control emotional responses or impulsive behavior. The research method used is a quantitative method with correlation analysis Rank Spearman. The subjects of this study were 397 foster adolescents from 12 orphanages in Padang City who met certain criteria using cluster sampling technique. Data collection uses the adoption of measuring instruments Inventory Parents and Peer Attachment (IPPA) on peer attachment scale and adaptation of measuring instruments Difficulties Emotion Regulation Scale (DERS) on the emotion regulation scale. The results of this study indicate that there is a significant relationship between peer attachment and emotion regulation in adolescents in orphanages. These findings indicate that the peer attachment of adolescents who are in orphanages has a relationship with their emotion regulation abilities

    Upaya Niniak Mamak Dalam Membina Akhlak Kemenakan Di Masa Pandemi Covid-19 Kelurahan Koto Panjang Dalam Kecamatan Lamposi Tigo Nagari Kota Payakumbuh

    No full text
    This research is motivated by the existence of the Niniak Mamak phenomenon that has not maximally carried out its duties or the lack of firmness of regulations given to nephews. Or Niniak Mamak thinks that moral inculcation is only a concept that must be understood at school and given by subject teachers at school. Niniak Mamak\u27s efforts in fostering nephew\u27s morals are not given much attention. Their knowledge of morals is lacking, and their nieces and nephews act according to their heart\u27s will, for example, when the Maghrib call to prayer rings, boys sing in the shop who should go to pray Maghrib, nephews gather with the opposite sex until late at night, some nephews also say- dirty words between each other, and also nephews lack respect for older people. To discuss the research results, this research method is used which is field research, (Field research) with a qualitative descriptive approach, in this study the author describes the problems in the field according to the facts that the authors find in the field. In this study, the author describes the work of Niniak Mamak in fostering the morals of his nephew, Koto Panjang Village Dalam, Lamposi Tigo Nagari District, Jota Payakumbih. In collecting data, the writer uses observation and interview techniques with informants related to Niniak Mamak\u27s efforts in fostering the character of his nephew using the Snowball Sampling technique. Techniques of analysis using techniques.  From the results of the research that has been done, it can be concluded that Niniak Mamak\u27s efforts in fostering the morals of the nephews of Koto Panjang Village in Lamposi Tigo Nagari District, Payakumbuh City are the efforts of Niniak Mamak in fostering the morals of the nephews, namely Wilayat, Hikayat, Advice, Approaching nephews with reason, giving limit to nephew. And Niniak Mamak\u27s obstacles in fostering niece\u27s morals are time and limited knowledg

    Implementasi pendekatan saintifik pada pembelajaran Kurikulum 2013 Tema 7 Subtema 5 kelas 1 di SDN Mergosono 03 Kecamatan Kedungkandang Malang

    No full text
    INDONESIA: Kesuksesan pelaksanaan kurikulum 2013 yang sebagian besar terletak pada kinerja guru sebagai salah satu pelaksana utama dikelas. Sehingga kesiapan guru dalam melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kurikulum 2013 perlu dipersiapkan dengan matang. Tak terkecuali dengan kesiapan guru dalam implementasi pendekatan saintifik dimana pendektan tersebutlah yang dijadikan pendektan dalam pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013. Sedangkan pada kenyataannya tidak semua guru paham betul dengan pendekatan saintifik. Berdasarkan pada latar belakang diatas maka permasalahan yang timbul adalah: Bagaimanakah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendekatan saintifik pada pembelajaran kurikulum 2013 tema 7 subtema 5 di kelas 1 SDN Mergono 3 Kecamatan Kedungkandang Malang ? Penelitian yang penulis lakukan ini termasuk kedalam penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan study kasus. Dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisisnya, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif Hasil dari penelitian ini dapat disampaikan disini, bahwasannya (1) Dalam merencanakan pembelajaran baik secara keseluruhan ataupun perencanaan untuk langkah-langkah pendekatan saintifik guru belum melaksanakannya (2) Pelaksanaan pendekatan saintifik sudah sesuia dengan apa yang diharapkan. (3) Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui hasil dari pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik juga sudah sepenuhnya dilakukan. Sehubungan dengan evaluasi terhadap masing-masing langkah-langkah pendekatan saintifik pada pelaksanaan pembelajaran guru masih belum secara spesifik menilai setiap langkah. Akan tetapi guru hanya secara umum mengambil penilaian terhadap hasil belajar siswa tersebut. INGGRIS: The success of the implementation of the curriculum in 2013 which largely lies in the performance of teachers as one of the main executors class. So the teacher's readiness to implement everything that is related to the curriculum in 2013 needs to be prepared carefully. No exception to the readiness of teachers in the implementation of the scientific approach which is exactly the approach that made learning approaches in the implementation of the curriculum of 2013. While in reality, not all teachers understand well the scientific approach. Based on the above background, the problems that arise are: How is the planning, implementation, and evaluation of the scientific approach to learning curriculum 2013 theme 7 subtema 5 in grade 1 SDN Mergono 3 Kedungkandang Malang? Research by the author is included into the qualitative descriptive study using a case study approach. By using the method of observation, interviews, and documentation. As for the analysis, the authors used a qualitative descriptive analysis technique Results from this study can be addressed here, bahwasannya (1) In the learning plan in whole or in planning for the steps the teacher has not done the scientific approach (2) The scientific approach is already in conformity with what was expected. (3) The evaluation is conducted to determine the outcomes of learning by applying the scientific approach has also been fully carried out. In connection with the evaluation of the individual steps in the implementation of the scientific approach to teacher learning is still not specifically assess every step. But the teacher just generally take an assessment of the student learning outcomes

    Pelatihan Konselor Sebaya untuk Meningkatkan Pengetahuan Mengenai Keterampilan Dasar Konseling Agen Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi

    No full text
    College students often encounter a range of emotional and academic challenges that can adversely affect their mental health. Peer counseling offers a promising approach to help students manage these difficulties and enhance their mental well-being. To maximize the effectiveness of peer counseling, it is crucial to develop and refine counseling microskill through targeted training. This study investigates the impact of peer counseling training on counseling the microskill of university students. Utilizing a quasi-experimental pretest-posttest design, the research involved 29 university students. Data were collected through both objective and subjective measures. Objective measures included cognitive test scores on counseling material, while subjective measures assessed participants' self-perceptions of their microskill. Results indicated a significant improvement in counseling microskill post-training, with objective and subjective measurements showing increased scores. The subjective analysis yielded a significance value of .000 (p<0.05) with a negative t-value of -12.345, while the objective analysis also showed significance at .000 (p<0.05) with a negative t-value of -10.822. These findings suggest that peer counseling training effectively enhances counseling microskill among university students.Mahasiswa sering menghadapi berbagai masalah emosional dan akademik yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Konseling sebaya menawarkan pendekatan yang menjanjikan untuk membantu mahasiswa mengatasi tantangan ini dan meningkatkan kesejahteraan mental mereka. Untuk memaksimalkan efektivitas konseling sebaya, penting untuk mengembangkan dan memperbaiki keterampilan konseling melalui pelatihan yang terfokus. Penelitian ini melihat pengaruh pelatihan konseling sebaya terhadap pengetahuan mengenai keterampilan konseling mahasiswa universitas. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain eksperimen: quasi-eksperimental pretest- posttest satu kelompok. Penelitian ini melibatkan 29 mahasiswa universitas di kota Padang, Sumatera Barat. Data dikumpulkan melalui kaidah eksperimen, dengan menggunakan dua jenis pengukuran, yaitu pengukuran objektif dan subjektif, yang saling melengkapi dalam menilai hasil pelatihan. Pengukuran objektif meliputi skor tes prestasi belajar tentang materi konseling, sedangkan pengukuran subjektif menilai persepsi peserta tentang keterampilan mereka. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam meningkatkan pengetahuan mengenai keterampilan konseling setelah pelatihan, dengan ukuran objektif dan subjektif menunjukkan skor yang meningkat. Analisis subjektif menghasilkan nilai signifikansi .000 (p<0,05) dengan nilai t negatif -12,345, sementara analisis objektif juga menunjukkan signifikansi pada .000 (p<0,05) dengan nilai t negatif - 10,822. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan konseling sebaya secara efektif meningkatkan pengetahuan mengenai keterampilan konseling di kalangan mahasiswa

    Konduktivitas Listrik Poly(Lactic Acid) dengan Variasi Bahan Isian Karbon: Review

    No full text
    Abstrak. Conductive Polymer Nanocomposites (CPC) merupakan material yang banyak digunakan sebagai sensor, sel fotovoltaik, kapasitor, dioda, dan perangkat energi yang sangat mudah meregang. CPC memiliki beberapa sifat unggul, diantaranya konduktivitas elektrik yang tinggi, ringan, tahan korosi, dan memiliki karakteristik mekanis yang bagus. Konduktivitas elektrik pada polimer diperoleh dan diatur dengan menambahkan bahan isian berbasis karbon seperti: Carbon Black (CB), Carbon Nano Tube (CNT), Graphite maupun Graphene. Metode panambahan bahan isian dapat dilakukan dengan Melt blending dan Solvent blending. Metode melt blending memiliki beberapa keunggulan, diantaranya mudah, praktis, murah, serta dapat diaplikasikan pada berbagai bahan. Selain itu, metode melt blending termasuk  ramah lingkungan karena tidak ada pelarut organik. Sedangkan kelebihan metode Solvent Blending adalah campuran yang lebih kuat dikarenakan disperse yang terjadi merata dan lebih baik. Pada review, penulis mengulas tentang sifat elektrik dari CPC berbasis poli asam laktat dan berbagai bahan isian  karbon, yaitu CNT, graphene, dan CB. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa konduktivitas elektrik CPC meningkat seiring bertambahnya komposisi bahan isian. Pada metode solvent blending faktor yang berpengaruh adalah komposisi PLA dan filler, suhu operasi, kecepatan pengadukan, waktu pengadukan, dan solvent yang digunakan. Sedangkan metode melt blending faktor yang berpengaruh adalah komposisi PLA dan filler, suhu operasi, kecepatan, dan waktu.Kata kunci: Poli Asam Laktat, CNT, CB, Graphene, CPC Abstract. Conductive Polymer Nanocomposites (CPC) are materials that are widely used as sensors, photovoltaic cells, capacitors, diodes, and highly flexible energy devices. CPC has several superior properties, including high electrical conductivity, lightweight, corrosion resistance, and good mechanical characteristics. The electrical conductivity of the polymer is obtained and adjusted by adding carbon-based fillers such as: Carbon Black (CB), Carbon Nano Tube (CNT), Graphite, and Graphene. The method of adding fillers can be conducted by Melt blending and Solvent blending. The melt blending method has several advantages, including being easy, practical, inexpensive, and can be applied to various materials. In addition, the melt blending method is environmentally friendly because there is no organic solvent used. Meanwhile, the advantage of the Solvent Blending method is more homogeneous dispersion. In the review, the author reviews the electrical properties of CPC based on poly(lactic acid) and various carbon filling materials, namely CNT, graphene, and CB. The literature study shows that the electrical conductivity of CPC increases as the increase of fillers composition. In the solvent blending method, the main influencing factors are the composition of PLA and filler, operating temperature, stirring speed, stirring time, and solvent used. While the melt blending method, the influencing factors are the composition of PLA and filler, operating temperature, speed, and blending time. Keywords: Poli(lactic acid), CNT, CB, Graphene, CPC

    Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Seng Oksida menggunakan Ekstrak Kulit Pisang Raja, Pisang Candi, dan Pisang Hijau, serta Aplikasinya sebagai Antibakteri

    No full text
    Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Seng Oksida  Menggunakan  Ekstrak Kulit  Pisang Raja, Pisang Candi, dan Pisang Hijau serta Aplikasinya sebagai Antibakteri Tasha Febriya Putri1, Fauziatul Fajaroh1,*, Siti Marfu’ah1 1Jurusan Kimia, Universitas Negeri Malang, email: [email protected] *E-mail corresponding author: [email protected]   Abstrak Nanopartikel dengan berbagai macam bentuk telah diaplikasikan pada bidang kesehatan, pangan, dan teknologi karena kemudahannya berinteraksi dengan zat lain. Salah satu jenis nanopartikel  yang diminati peneliti ialah nanopartikel oksida logam. Nanopartikel oksida logam banyak digunakan karena daya tahan tinggi, stabilitas dan selektivitas tinggi, serta penggunaannya yang efektif. Hal ini menyebabkan berkembangnya metode – metode sintesis nanopartikel yang memiliki karakteristik diharapkan, seperti ukuran, bentuk, morfologi, dan cacat pada struktur kristal. Karakterisasi tersebut memengaruhi efek antibakteri. Salah satu fungsi dari nanopartikel seng oksida ialah sebagai antibakteri karena dapat menyebabkan kerusakan dinding sel, bahkan kematian sel bakteri. Pada awal tahun 1900, ekstrak tumbuhan dan jaringan tumbuhan mulai  digunakan dalam pengembangan nanopartikel. Salah satu jenis tanaman yang ekstraknya dapat dimanfaatkan dalam proses biosintesis nanopartikel adalah pisang. Kulit pisang (Musa sapientum) merupakan salah satu limbah yang mengandung senyawa fitokimia melimpah di alam. Kulit pisang mengandung senyawa fenolik dengan kadar tinggi yang dapat bertindak sebagai reducing agent dan capping agent. Capping agent  berfungsi untuk mencegah bertambahnya ukuran nanopartikel karena kemampuannya yang dapat mengikat nanopartikel, sehingga aglomerasi nanopartikel tidak terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan yaitu (1) Mengetahui kandungan senyawa yang terdapat dalam kulit pisang raja, pisang candi, dan pisang hijau (2) Mensintesis nanopartikel seng oksida menggunakan ekstrak kulit pisang raja, pisang candi, dan pisang hijau, (3) Mengetahui karakteristik nanopartikel seng oksida hasil sintesis menggunakan kulit pisang raja, pisang candi, dan pisang hijau, (4) Mengetahui efektivitas nanopartikel seng oksida sebagai antibakteri. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut: (1) ekstraksi kulit pisang, (2) uji fitokimia pada ekstrak kulit pisang, (3) sintesis nanopartikel seng oksida menggunakan ekstrak kulit pisang, (4) karakterisasi nanopartikel ZnO menggunakan XRD, (5) uji antibakteri. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat kesamaan difraktogram XRD dengan difraktogram standar JCPDS nanopartikel ZnO menggunakan ekstrak kulit pisang raja, pisang candi dan pisang hijau , ukuran kristal ZnO menggunakan ekstrak kulit pisang raja sebesar 33,2425 nm, dan ukuran nanopartikel ZnO menggunakan ekstrak kulit pisang candi adalah 23,5627 nm dan pisang hijau ialah 30,6059 nm, kulit pisang raja mengandung senyawa alkaloid, saponin, sedangkan kulit pisang candi mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan polifenol, kulit pisang hijau mengandung senyawa alkaloid, saponin, dan polifenol, dan adanya zona bening dengan diameter nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang raja ialah 2,3256 cm, dengan kulit pisang candi adalah 1,495 cm dan kulit pisang hijau adalah 1,8589 cm. Kata kunci: nanopartikel seng oksida, kulit pisang raja, kulit pisang candi, kulit pisang hijau, antibakteri.   1. Pengantar Nanoteknologi merupakan suatu bidang yang sedang berkembang. Material yang terkait dengan nanoteknologi antar lain adalah nanopartikel. Nanopartikel merupakan partikel berukuran 1 – 100 nm yang memiliki sifat unik seperti luas permukaan besar. Sifat unik nanopartikel ini menjadi daya tarik para peneliti. Nanopartikel dengan berbagai macam bentuk antara lain telah diaplikasikan pada bidang kesehatan, pangan, dan teknologi karena kemudahannya berinteraksi dengan zat lain (Kumar, 2018). Nanopartikel  yang diminati peneliti ialah nanopartikel oksida logam, salah satunya yaitu nanopartikel seng oksida. Nanopartikel seng oksida merupakan nanopartikel yang digunakan dalam bidang kosmetik, cat, obat, sebagai agen antibakteri dan katalis. Seng oksida (ZnO) ialah senyawa anorganik dengan energi celah pita yang akan meningkat jika ukuran seng oksida dalam skala nano. Energi celah pita yang meningkat menyebabkan nanopartikel seng oksida dapat diaplikasikan untuk optik dan elektronik (Mirzaei et al., 2017). Seng oksida (ZnO) ditemukan di kerak bumi dalam bentuk campuran yaitu mineral zincite. Sintesis ZnO yang dilakukan untuk mendapatkan seng oksida murni dapat diproduksi dalam skala besar menggunakan metode kimia (Mirzaei et al., 2017). Pisang adalah tanaman dari keluarga Musaceae yang banyak ditemukan di daerah tropis di Asia Selatan.  Pisang merupakan tanaman yang dapat menghasilkan zat antioksidan untuk melindungi diri dari tekanan oksidatif oleh sinar matahari. Pisang memiliki berbagai bagian tanaman seperti bunga, batang, akar dan daun yang dapat diaplikasikan pada berbagai bidang.  Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2017), pada tahun 2017 provinsi jawa timur merupakan provinsi penghasil pisang terbesar sejumlah 7.162.685 ton. Pada tahun 2017, pisang juga marupakan buah yang diekspor terbesar di Indonesia sejumlah 14.521.530 ton . Limbah kulit pisang memiliki jumlah sama dengan jumlah pisang yang diproduksi dan diekspor yang menyebabkan pemanfaaatan kulit pisang penting untuk dilakukan.   Kulit pisang mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid, tanin, phlobatannins, alkaloid.  Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan, antidiabetik, anti inflamasi, dan antibiotik.  Senyawa fitokimia, seperti flavonoid dapat bertindak sebagai Capping agent . Capping agent  adalah spesies ionik atau molekul yang mengikat nanopartikel. Capping agent  berfungsi untuk membantu menghambat perkembangan ukuran nanopartikel serta dapat mencegah terjadinya aglomerasi. Capping agent dapat mengikat nanopartikel karena adanya pembentukan ikatan kovalen yang kuat antara rantai polimer dan permukaan nanopartikel (Inthekhab et al., 2016). X – Ray Diffraction (XRD) merupakan suatu instrumen yang berfungsi untuk mengidentifikasi keberadaan suatu senyawa melalui pembiasan berkas cahaya yang memiliki susunan atom pada kisi kristalnya karena setiap senyawa memiliki kekhasan pola difraksi. Kekhasan pola difraksi ini merupakan dampak dari pola pembiasan berkas cahaya yang berbeda – beda. Setiap senyawa terdiri dari susunan atom - atom yang membentuk  bidang tertentu, sehingga menyebabkan  partikel cahaya atau foton datang dengan sudut tertentu menghasilkan pola pantulan maupun pembiasan yang khas. Proses difraksi dapat dihitung melalui hukum Bragg sebagai hasil interaksi antara sinar X yang dipantulkan oleh suatu senyawa. Pantulan tersebut terjadi tanpa terjadinya kehilangan energi sehingga dihasilkan pantulan elastis atau elastic scattering. Bragg menunjukan bahwa bidang yang berisi atom-atom dalam kristal akan memantulkan radiasi dengan alur sama dengan peristiwa pemantulan cahaya di bidang cermin Bakteri merupakan suatu mikroorganisme bersel tunggal yang memiliki ukuran dan bentuk berbeda. Berdasarkan bentuknya, bakteri memiliki beberapa macam yaitu bakteri berbentuk bulat, batang, spiral, dan lain – lain. Bakteri berkembang biak melalui pembelahan biner. Pembelahan biner  ini terjadi dengan tahap yaitu pembentukan, penggabungan sel anak bakteri dengan dinding melintang pusat, dan selanjutnya pemisahan sel anak dengan dinding melintang pusat. Jika sel anak tidak terpisah, maka filamen – filamen dapat terbentuk. Bakteri memiliki dua jenis yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif merupakan suatu bakteri yang memberikan hasil positif berwarna violet pada uji gram. Kedua bakteri gram tersebut memiliki beberapa perbedaan yaitu bakteri gram positif memiliki lapisan peptidoglikan lebih tebal daripada bakteri gram negatif. Bakteri gram negatif memiliki membran luar, sedangkan bakteri gram positif tidak memiliki membran luar, dan lain – lain. Salah satu agen antimikroba ialah nanopartikel logam. Nanopartikel logam bermuatan positif memiliki dampak besar pada bakteri karena muatan positif dari nanopartikel logam menarik muatan negatif dinding sel bakteri yang menyebabkan dinding sel bakteri menjadi rusak dan dapat mengubah fungsi rantai transpor elektron bakteri. Hal ini menyebabkan muatan nanopartikel merupakan faktor utama dalam mekanisme antibakteri. Nanopartikel logam dapat bertindak sebagai agen antibakteri karena nanopartikel logam dapat menghasilkan ROS (Reactive Oxygen Speciess) yang dapat merusak dinding sel dan membunuh sel bakteri. Kelebihan elektron pada molekul oksigen menghasilkan anion radikal superoksida. Anion radikal superoksida akan bereaksi dengan 2H+ menghasilkan H2O2 . Hidrogen peroksida akan merusak dinding sel bakteri, namun hidrogen peroksida tidak dapat masuk ke dalam sel bakteri karena muatan negatif pada dinding sel bakteri menolak H2O2 . Nanopartikel logam akan masuk ke dalam antibakteri dan menghambat metabolisme sel bakteri.   2. Metode 2.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian Organik Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut: (1) ekstraksi kulit pisang, (2) uji fitokimia pada ekstrak kulit pisang, (3) sintesis nanopartikel seng oksida menggunakan ekstrak kulit pisang, (4) karakterisasi nanopartikel ZnO menggunakan XRD, (5) uji antibakteri.   2.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Malang pada bulan Juni 2018 hingga Juni 2019. Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) untuk nanopartikel seng oksida dilakukan di Laboratorium Mineral dan Material Maju FMIPA Universitas Negeri Malang.   2.3 Alat dan Bahan 2.3.1 Alat Alat – alat yang digunakan yaitu gelas kimia 250 mL, gelas kimia 100 mL, tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur 100 mL, erlenmeyer 250 mL, pipet volume, mortar dan pestle, corong Buchner, kertas saring (Whatman – 42 ), bola hisap, sentrifugasi, vortex mixer, XRD (Panayitical Xpert Pro), timbangan analitik (SHIMADZU) dengan ketelitian 0,0001 gr.   2.3.2 Bahan Penelitian ini menggunakan bahan -  bahan yaitu kulit pisang raja, kulit pisang candi, kulit pisang hijau, ZnSO4.7H2O p.a merck, NaOH p.a merck, etanol p.a merck, kertas pH universal, pita Mg, HgCl2, air demineralisasi, bakteri E.coli, dan bakteri S.aureus.   2.4 Prosedur Kerja 2.4.1 Ekstraksi Kulit Pisang Kulit pisang (Musa paradisiaca) dengan massa 150,0000 g dicuci dan direbus dalam 150 mL aquademineralisasi selama 10 menit pada 80°C. Kulit pisang ditumbuk dengan air rebusan sampai halus. Kulit pisang yang telah  dihaluskan  disaring  menggunakan kain. Filtrat yang dihasilkan digunakan untuk penelitian ini.   2.4.2 Uji Fitokimia Uji fitokimia terhadap ekstrak yang dilakukan yaitu 1.) Uji flavonoid, 2.) Uji alkaloid, 3.) Uji saponin, 4.) Uji polifenol.   2.4.2.1 Uji Flavonoid Ekstrak kulit pisang ditambah HCl pekat tetes demi tetes. Warna merah yang terbentuk menandakan adanya flavonoid.   2.4.2.2 Uji Alkaloid Ekstrak kulit pisang ditambah 0,2 mL HCl dan 1 mL reagen Mayer. Reaksi positif ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi kuning.   2.4.2.3 Uji saponin Ekstrak kulit pisang sebanyak 1 mL ditambah 20 mL air panas dan dikocok kuat. Uji positif ditandai dengan adanya busa yang stabil selama 15 menit.   2.4.2.4 Uji Polifenol Ekstrak kulit pisang ditambah FeCl3 1% tetes demi tetes. Uji positif ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi hijau, merah, ungu, biru, atau hitam.   2.4.3 Sintesis Nanopartikel ZnO Menggunakan Ekstrak Kulit Pisang Ekstrak kulit pisang dengan volume 129,47 mL ditambah 500 mL ZnSO4 0,0783 M. Campuran tersebut distirrer selama 10 menit dan ditambahkan NaOH 2 M hinggga pH larutan mencapai 12. Campuran  tersebut  disaring menggunakan corong buchner dan dicuci hingga pH air cucian netral. Residu yang dihasilkan di keringkan dalam oven dengan suhu 60°C hingga berat konstan.   2.4.4 Karakterisasi Nanopartikel ZnO menggunakan XRD Sampel dengan volume 2 µL dimasukkan ke dalam sample holder, lalu  di tekan tombol ‘measure’. Setelah proses selesai, data sampel berupa difraktogram disimpan.   2.4.5 Uji Antibakteri Uji antibakteri terdiri dari  2 tahap yaitu pembuatan medium agar dan  uji  aktivitas antibakteri. Bakteri yang digunakan ialah bakteri S. aureus dan bakteri E. coli.   2.4.5.1 Pembuatan Medium Agar Langkah pertama yang dilakukan ialah membuat 18 medium lempeng dari serbuk nutrien agar instan pada cawan petri. Langkah ke dua ialah cawan petri yang berisi nutrien agar dibungkus dengan kertas sampul dan diikat dengan benang kasur. Langkah ke tiga ialah cawan tersebut disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit dan didinginkan di dalam almari es.   2.4.5.2 Pengujian Aktivitas Antibakteri Langkah pertama yaitu serbuk nanopartikel ZnO didispersi dalam DMSO dan divorteks hingga tercampur sempurna. Langkah ke dua yaitu bakteri disapukan merata pada cawan berisi nutrien agar. Langkah ke tiga ialah sumuran dibuat dengan diameter 6 mm, lalu dimasukkan nanopartikel ZnO hingga sumuran penuh. Langkah terakhir yaitu cawan ditutup dan didiamkan dalam inkubator pada suhu 37°C selama 24 jam.   2.5 Teknik Analisis Data Analisis data menggunakan XRD dilakukan dengan membandingkan difraktogram nanopartikel ZnO dengan difraktogram nanopartikel ZnO standar pada database JCPDS 36-1415. Selanjutnya ukuran nanopartikel ZnO diketahui dengan menggunakan perangkat lunak OriginPro dengan persamaan Scherrer. Analisis data pada uji antibakteri dilakukan dengan mengetahui diameter zona bening disekitar sumuran pada media agar. Diameter zona bening yang terbentuk diukur dengan menggunakan jangka sorong yang dilanjutkan dengan menghitungnya melalui persamaan, yaitu diameter zona bening - diameter sumuran   3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Ekstraksi Kulit Pisang Ekstraksi kulit pisang terdiri dari beberapa langkah yaitu pertama kulit pisang (Musa paradisiaca) dengan massa 150,0000 g dicuci dan direbus dalam 150 mL aquademineralisasi selama 10 menit pada 80°C.  Perebusan kulit pisang  berfungsi untuk memecah dinding sel tanaman akibat dari perbedaan tekanan, sehingga senyawa fitokimia dapat larut. Selanjutnya kulit pisang ditumbuk dengan air rebusan yang berfungsi untuk membantu pemecahan dinding sel tanaman. Kulit pisang yang telah  dihaluskan  disaring dengan menggunakan kain yang berfungsi untuk menghasilkan filtrat yang digunakan pada penelitian sebagai ekstrak kulit pisang.   3.2 Uji Fitokimia Hasil beberapa uji fitokimia dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1 Kandungan Senyawa Fitokimia (Published)   3.2.1 Uji Flavonoid Uji flavonoid menggunakan ekstrak kulit pisang  memberikan  hasil positif yang ditandai dengan  adanya perubahan warna dari warna ekstrak kulit pisang  menjadi merah. Warna merah menandakan adanya senyawa flavonoid. Hasil uji positif flavonoid ialah ekstrak kulit pisang candi. Hal ini menandakan bahwa kandungan flavonoid tinggi terdapat pada ekstrak kulit pisang candi   3.2.2 Uji Alkaloid Uji alkaloid memberikan hasil positif yang ditunjukkan adanya perubahan warna menjadi kuning (Rao et al., 2016). Intensitas warna uji positif alkaloid menunjukkan kandungan senyawa alkaloid dalam kulit pisang, sehingga kadar senyawa alkaloid dari tinggi ke rendah berurutan ialah ekstrak kulit pisang raja, kulit pisang candi, dan kulit pisang hijau   3.2.3 Uji Saponin Uji saponin memberikan reaksi positif yang ditandai dengan terbentuknya busa. Busa yang terbentuk pada ekstrak kulit pisang raja lebih banyak daripada ekstrak kulit pisang lainnya . Hal ini menandakan jumlah senyawa saponin pada kulit pisang raja paling besar. Jumlah senyawa saponin tinggi ke dua ialah ekstrak kulit pisang candi dan yang terakhir ialah ekstrak pisang hijau.   3.2.4 Uji Polifenol Uji polifenol memberikan reaksi positif dengan adanya perubahan warna. Hasil negatif uji polifenol ialah menggunakan ekstrak kulit pisang raja dan candi, sedangkan  reaksi positif uji polifenol dengan ekstrak kulit pisang candi dan kulit pisang hijau ialah berwarna ungu.   3.3 Sintesis Nanopartikel ZnO Menggunakan Ekstrak Kulit Pisang Sintesis nanopartikel ZnO dilakukan dalam beberapa langkah, yaitu pertama penambahan 500 mL ZnSO4 0,0783 M sebagai prekursor Zn2+ pada 129,47 mL ekstrak kulit pisang. Pada langkah campuran ditambahkan NaOH 2M hingga pH 12 akan terjadi reaksi antara Zn2+ dengan NaOH membentuk Zn(OH)2 . Kemudian residu yang dihasilkan dicuci hingga pH air cucian netral akan terjadi pembentukan ZnO karena adanya pelepasan H+. Ekstrak kulit pisang mengandung senyawa fitokimia yang bertindak sebagai capping agent yang dapat memperkecil ukuran ZnO karena fungsinya yaitu mencegah aglomerasi ZnO dengan pengikatan kovalen. mekanisme capping agent dengan ZnSO4  adalah ZnSO4 akan terhidrolisis menjadi Zn2+ dan SO42-. Ion Zn2+ berikatan dengan senyawa fitokimia membentuk senyawa komplek.  Senyawa tersebut akan tereduksi menjadi ZnO.   3.3.1 Karakterisasi Nanopartikel ZnO menggunakan XRD Untuk memastikan sampel merupakan nanopartikel ZnO dilakukan analisis instrumen XRD (X-Ray Diffraction) dengan cara membandingkan difraktogram nanopartikel ZnO standar pada database JCPDS 36-1451(Gambar 1) dan difraktogram sampel (Gambar 2). Berdasarkan perbandingan tersebut, terdapat kesesuaian difraktogram yang menunjukkan bahwa sampel merupakan nanopartikel ZnO.   Gambar 1 Difraktogram nanoparticle ZnO Standar JCPDS 36-1451 (Published) Gambar 2  Difraktogram nanopartikel ZnO dengan Kulit Pisang (a) Candi, (b) Hijau, (c) Raja (Published) Untuk memastikan sampel merupakan nanopartikel ZnO dapat dilihat melalui nilai 2Ө antar difraktogramnya (Tabel 2) Puncak dan nilai 2Ө ke tiga difraktogram sampel dengan difraktogram nanopartikel ZnO standar tidak memiliki perbedaan jauh, sehingga dapat dikatakan bahwa sampel merupakan nanopartikel ZnO. Tabel 2 Nilai 2Ө Difraktogram Sampel dan Nanopartikel ZnO Standar (Published) Untuk mengetahui persentase nanopartikel ZnO dapat digunakan program Match yang menghasilkan persentase nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang raja sebesar 23,9 %, untuk nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang candi ialah 20,7 %, dan nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang hijau adalah 31,9 %. Hal ini menandakan bahwa nanopartikel ZnO yang didapatkan tidak murni karena memiliki kemungkinan besar mengandung Zn(OH)2 atau senyawa-senyawa lainnya yang tidak diharapkan. Ukuran nanopartikel dihitung menggunakan persamaan Scherrer melalui perangkat lunak OriginPro yang dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan tabel tersebut, nanopartikel ZnO dengan ukuran terbesar ialah dari ekstrak kulit pisang raja. Tabel 3 Ukuran Nanopartikel ZnO (Published) Ukuran nanopartikel dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah senyawa fitokimia. Senyawa fitokimia yang bertindak sebagai capping agent dapat memperkecil ukuran nanopartikel. Sehingga semakin banyak senyawa fitokimia yang mengikat, maka semakin tinggi kandungan senyawa tersebut berperan pada nanopartikel. Hal ini menyebabkan semakin kecil ukuran nanopartikel. Kulit pisang candi yang mengandung senyawa flavonoid  memiliki ukuran nanopartikel lebih kecil daripada ekstrak kulit pisang raja dan hijau.   3.3.2 Aktifitas antibakteri Aktifitas antibakteri dapat diketahui melalui zona bening di sekitar sumuran yang diukur dengan jangka sorong, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Diameter Zona Bening (Published) Berdasarkan Tabel 4, diameter bening E.coli pada ekstrak kulit pisang candi, kulit pisang raja maupun kulit pisang hijau lebih tinggi daripada bakteri S.aureus. Hal ini dikarenakan bakteri E.coli memiliki lapisan peptidoglikan lebih tipis daripada bakteri S.aureus, sehingga menyebabkan dinding sel bakteri E.coli mudah rusak yang mengakibatkan kematian sel bakteri. Diameter zona bening bakteri E.coli maupun S.aureus dari tinggi ke rendah berurutan ialah zona bening oleh nanopartikel ZnO menggunakan kulit pisang raja, kulit pisang hijau, kulit pisang candi. Uji aktifitas antibakteri denan pelarut DMSO dilakukan karena pelarut tersebut berperan sebagai standar antibakteri. Diameter zona bening bakteri E.coli dengan pelarut DMSO sebesar 1,54 mm, sedangkan diameter zona bening bakteri S.aureus dengan pelarut DMSO ialah 0,25 mm. Hal ini menandakan bahwa pelarut DMSO tidak mempengaruhi hasil uji aktivitas antibakteri nanopartikel seng oksida. Ukuran kristal memengaruhi aktifitas antibakteri karena ukuran kristal yang kecil dapat meningkatkan aktifitas antibakteri menyebabkan diameter zona beningnya besar. Namun kristal dengan ukuran besar dapat memiliki aktifitas antibakteri tinggi karena kristal tersebut memiliki kemungkinan tidak mengalami aglomerasi yang menghambat aktifitas antibakteri. Sedangkan ukuran kristal kecil dapat memiliki diameter zona bening besar karena memiliki kemungkinan terjadi aglomerasi. Hal ini menyebabkan nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang raja memiliki diameter zona bening lebih tinggi daripada kulit pisang candi dan hijau.   4. Simpulan Kulit pisang raja mengandung senyawa alkaloid, saponin, sedangkan kulit pisang candi mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan polifenol. pisang hijau mengandung senyawa alkaloid, saponin, dan pol
    corecore