1,685 research outputs found
The Complete Muhammad Ali
Including material and photographs not included in most of the 100 other books about the champion, Ishmael Reed's The Complete Muhammad Ali is more than just a biography-it is a fascinating portrait of the 20th century and the beginning of the 21st. An honest, balanced portrayal of Ali, the book includes voices that have been omitted from other books. It charts Ali's evolution from Black Nationalism to a universalism, but does not discount the Nation of Islam and Black Nationalism's important influence on his intellectual development. Filipino American author Emil Guillermo speaks about how "The Thrilla' In Manila" brought the Philippines into the 20th century. Fans of Muhammad Ali, boxing fans, and those interested in modern African American history and the Nation of Islam will be fascinated by this biography by an accomplished American author.Intro -- DEDICATION -- INTRODUCTION -- The Curious History of an Icon -- CHAPTER 1 -- CHAPTER 2 -- CHAPTER 3 -- CHAPTER 4 -- CHAPTER 5 -- CHAPTER 6 -- CHAPTER 7 -- Did the Secret Government Fear a U.S. Muslim/Overseas Muslim Alliance? -- CHAPTER 8 -- CHAPTER 9 -- The Break Between the Prophet and his Disciple -- CHAPTER 10 -- CHAPTER 11 -- CHAPTER 12 -- The GOAT (Greatest Of All Time): Ali or Louis? -- CHAPTER 13 -- The Nation of Islam, the Mob, Showdowns in Canada and Sonny Liston -- CHAPTER 14 -- CHAPTER 15 -- The Taunts: Marketing or Racism? -- CHAPTER 16 -- CHAPTER 17 -- CHAPTER 18 -- CHAPTER 19 -- Boxing and the Brain -- CHAPTER 20 -- Ali's Feet -- CHAPTER 21 -- Mr. Dick -- CHAPTER 22 -- CHAPTER 23 -- The Opening Ceremonies, November 2005 -- CHAPTER 24 -- December 2005, Las Vegas -- CHAPTER 25 -- CHAPTER 26 -- June 16, 2004 -- CHAPTER 27 -- CHAPTER 28 -- CHAPTER 29 -- Aix-en-Provence -- CHAPTER 30 -- Ali as a Black Nationalist -- San Francisco, January 2004 Black Liberation Book Fair -- CHAPTER 31 -- January 31, 2004 -- CHAPTER 32 -- October 2005, Chicago -- CHAPTER 33 -- Why Ali remained with Elijah instead of following Malcolm -- CHAPTER 34 -- CHAPTER 35 -- February 4, 2006, Oakland, California -- CHAPTER 36 -- Like Zeus Descending from Mount Olympus -- CHAPTER 37 -- CHAPTER 38 -- Tuesday, February 28, 2006, New York -- CHAPTER 39 -- Bigger Than Boxing -- CHAPTER 40 -- Tribes Gallery, New York, April 2006 -- CHAPTER 41 -- June 2006, Louisville, Kentucky -- CHAPTER 42 -- CHAPTER 43 -- CHAPTER 45 -- Bad Company -- CHAPTER 46 -- Coxson, A Very Charming Rogue -- CHAPTER 47 -- Ali and the largest embezzlement scheme in Wells Fargo history -- CHAPTER 48 -- CHAPTER 49 -- "Lonnie is a stabilizing force."-Harry Belafonte -- October 29, 2006 -- CHAPTER 50 -- Abdul Rahman -- CHAPTER 51 -- CHAPTER 52 -- CHAPTER 53How Will Ali Be Remembered? New York, January 8, 2005 -- CHAPTER 54 -- CONCLUSION -- AFTERWORD -- Boxers' Rights? -- BIBLIOGRAPHY -- MUHAMMAD ALI -- ISLAM AND NATION OF ISLAM -- BOXING -- RELATED SUBJECTS -- ALSO AVAILABLE FROM BARAKA BOOKSIncluding material and photographs not included in most of the 100 other books about the champion, Ishmael Reed's The Complete Muhammad Ali is more than just a biography-it is a fascinating portrait of the 20th century and the beginning of the 21st. An honest, balanced portrayal of Ali, the book includes voices that have been omitted from other books. It charts Ali's evolution from Black Nationalism to a universalism, but does not discount the Nation of Islam and Black Nationalism's important influence on his intellectual development. Filipino American author Emil Guillermo speaks about how "The Thrilla' In Manila" brought the Philippines into the 20th century. Fans of Muhammad Ali, boxing fans, and those interested in modern African American history and the Nation of Islam will be fascinated by this biography by an accomplished American author.Description based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries
Muhammad Ali pasha dan al-azhar kajian tentang: pengaruh pembaharuan di Mesir terhadap modernisasi Pendidikan al- al-Azhar
Naiknya Muhammad Ali sebagai penguasa Mesir pada tahun 1805, seperti raja-raja Islam lainnya juga mementingkan soal yang bersangkutan dengan militer karena ia yakin bahwa kekuasaannya hanya dapat dipertahankan dan diperbesar dengan kekuatan militer. Tetapi berlainan dengan raja-raja lain, ia mengerti bahwa di belakang kekuatan militer itu mesti ada kekuatan ekonomi yang sanggup membelanjai pembaharuan dalam bidang militer dan bidang-bidang yang bersangkutan dengan urusan militer. Muhammad Ali melakukan Modernisasi Mesir dengan meniru kebijakan Utsmani, membangun angkatan darat dan laut yang modern dengan memanfaatkan keahlian perwira Prancis. Muhammad Ali juga membangun pabrik-pabrik senjata. untuk menunjang biaya itu, ia membangun infra-struktur untuk pertumbuhan ekonomi di Mesir khususnya system irigrasi, transportasi umum, pertanian dan industry. Modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dicapai Napoleon Bonaparte yang berkebangsaan Perancis ini, memberikan inspirasi yang kuat bagi para pembaharu Mesir untuk melakukan modernisasi pendidikan di Mesir yang dianggapnya stagnan. Dengan membawa sebuah ide pembaharuan, di mulailah pembaharuan di bidang pendidikan di Mesir oleh Muhammad Ali Pasya. Dalam rangka memperkuat kedudukannya dan sekaligus melaksanakan pembaharuan pendidikan di Mesir, Muhammad Ali, mengadakan pembaharuan dengan mendirikan berbagai macam sekolah yang meniru sistem pendidikan dan pengajaran di Barat. Selain itu Muhammad Ali juga mengirim siswa-siswa untuk belajar ke Perancis yang dikirim oleh Muhammad Ali ke Eropa. Hal ini dilakukan agar mereka yang diutus mampu menguasai ilmu pengetahuan Barat, untuk selanjutnya mampu dikembangkan dan direalisasikan di Mesir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah perkembangan Universitas di Al-Azhar Mesir dan mengetahui pengaruh pembaharuan Muhammad Ali di Mesir terhadap pembaharuan pendidikan di Al-Azhar. Penelitian ini menggunakan metode historis yang bersifat deskriftif analitis. Tahapan yang di tempuh dalam penelitian ini terdapat 4 tahapan, diantaranya: Heuristik (Pengumpulan data), Verifikasi (Kritik Sumber), Interpretasi (Analisis sejarah) dan Historiografi (Penulisan Sejarah)
Kontra Narasi Terorisme Dalam Syair Arab: Kajian Syair Karya Muhammad bin Rasyid Ali Maktum
Until now, terrorism is still a big problem in society. That is why it is very necessary to carry out movements to counter acts of terrorism. One way to overcome this is by carrying out a counter-narrative of terrorism, namely by compiling a narrative that is deliberately created and framed with the aim of countering or minimizing the influence of negative narratives that have an intolerant and extreme tone. Sheikh Muhammad bin Rasyid Ali Maktum is a high-ranking official in the UAE who took part in carrying out a counter-narrative of terrorism in poetry. This study focuses on examining the counter-narrative in his poetry entitled Fitnah al-Irhab using a descriptive qualitative method that uses heuristic and hermeneutic reading of the poetry. This study resulted in the finding that the poem entitled Fitnah al-Irhab has fulfilled four steps or four points as a form of counter-narrative of terorism. Namely, first: reframing the conflict, second: counter analogy, third: counter strategic goals, and fourth: use rhetorical language style.Keywords - Terrorism, Counter Narrative, Arabic Poem, Muhammad bin Rasyid Ali Maktum
Istihsan (juristic preference) : the forgotten principle of Islamic law
EThOS - Electronic Theses Online ServiceGBUnited Kingdo
Peranan Muhammad Ali Pasha dalam Perkembangan Islam di Mesir
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan peranan Muhammad Ali
Pasha. Masalah yang diteliti yaitu: 1) Bagaimana gerakan pejuangan Muhammad Ali
Pasha dalam mengembangkan Islam di Mesir? 2) Bagaimana hambatan yang
dihadapi Muhammad Ali Pasha dalam mengembangkan Islam di Mesir? 3)
Bagaimana pengaruh Muhammad Ali Pasha dalam pengembangan Islam di Mesir?
Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, heuristik, kritik, interpretasi
dan historiografi dengan jenis penelitian kualitatif. Untuk mengungkapkan fakta
sejarah tentang gerakan, hambatan yang dihadapi Muhammad Ali Pasha, dan
pengaruhnya tehadap perkembangan Islam di Mesir. Untuk menganalisis fakta
tersebut peneliti menggunakan pendekatan yang sering digunakan dalam penelitian
sejarah, yaitu pendekatan historis, sosiologi, dan, agama.
Penelitian ini menemukan bahwa: 1) Muhammad Ali Pasha adalah seorang
keturunan Turki dan seorang tokoh pembaharu di Mesir. Muhammad Ali buta huruf
karena ia tidak memperoleh kesempatan untuk menempuh ilmu pendidikan sehingga
ia tidak pandai menulis dan membaca. Sebelum memasuki dinas militer, ia menjadi
seorang pedagang rokok kemudian menjadi pemungut pajak. Pada tahun 1801 M,
Muhammad Ali berhasil mengusir tentara Prancis dari Mesir. Akhirnya tahun 1805
M, rakyat Mesir memilih dan mengangkat Muhammad Ali sebagai Gubernur Mesir.
2) Muhammad Ali melakukan usaha-usaha dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan
militer. Beliau mendirikan Lembaga Kementrian Pendidikan, memperbaiki irigasi
lama dan membuat irigasi baru, serta dalam bidang militer Muhammad Ali
mendirikan sebuah sekolah Militer di Kairo. 3) Kelahiran negara Mesir modern tidak
bisa dilepaskan dari Muhammad Ali Pasya. Ia dikenal sebagai pembawa obor
pencerahan karena melakukan modernisasi hampir di berbagai sektor kehidupan.
Selain itu, Muhammad Ali Pasya membawa pengaruh yang besar dalam menjadikan
Mesir sebagai negara modern dan memajukan pendidikan di Universitas al-Azhar.
Implikasi dari penelitian ini adalah penelitian ini dapat digunakan sebagai
bahan kajian dan diskusi akademik, dapat mengetahui peran dan pembaharuan
Muhammad Ali Pasha dalam perkembangan Islam di Mesir, serta dapat lebih jauh
mengenal sosok tokoh pembaharu Islam yakni Muhammad Ali Pasha sehingga dapat
mengambil suatu pelajaran
Nilai Dakwah yang Terkandung dalam Surah Ali-Imran Ayat 159; Studi Komparatif Tafsir al-Azhar Karya H.Abdul Malik Karim Amrullah dan Tafsir al-Mishbah Karya Muhammad Quraish Shihab
Tulisan ini membahas tentang nilai-nilai dakwah yang terkandung dalam surat Ali Imran ayat 159 menurut tafsir Tafsir al-Azhar Karya H.Abdul Malik Karim Amrullah dan Tafsir al-Mishbah Karya Muhammad Quraish Shihab. Metode kajian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan teknik analisis data analisis isi (content analyisis) dan komparasi. Hasil kajian ini adalah ada empat nilai dakwah yang terkandung dalam surat Ali Imran ayat 159, yaitu sikap lemah lembut, pemaaf, bermusyawarah dan bertawakal. Dalam kaitannya dengan tafsir ayat ini, ada persamaan dan perbedaan yang ditemukan antara Hamka dan Quraish Shihab, keduanya sama-sama menyatakan bahwa sikap lemah lembut itu merupakan anugerah dari Allah, tapi Quraish Shihab mengelaborasi lebih jauh bahwa sifat tersebut sudah terbentuk sejak dini pada diri Nabi sementara Hamka tidak menguraikannya. Demikian pula dalam memahami konsep musyawarah, penafsiran Quraish Shihab jauh lebih kontekstual ketimbang Hamka
THE PROPHETHOOD OF MARYAM IN TAFSIR AL-MISBAH AND TAFSIR AL-AZHAR (A COMPARATIVE STUDY OF QS. ALI IMRAN VERSE 42): KENABIAN MARYAM DALAM TAFSIR AL-MISBAH DAN TAFSIR AL-AZHAR (STUDI KOMPARATIF TERHADAP QS. ALI IMRAN AYAT 42)
Kenabian merupakan salah satu hal yang prinsipil dalam agama Islam, termasuk didalamnya adalah isu kenabian perempuan. Isu ini menggeliat dalam dunia tafsir, kemudian direspon oleh para ulama dan menghasilkan dua sikap, ada ulama yang mendukung isu tersebut dan ada yang menolaknya, masing-masing kedua kubu tersebut memiliki argumentasi. penelitian ini akan membahas masalah seputar eksistensi isu kenabian perempuan ini dalam tradisi intelektual ulama Islam, kemudian eksistensi isu kenabian Maryam dalam tafsir al-misbah dan tafsir al-azhar, dan alasan isu ini bisa sampai dan diakomodir oleh kedua mufassir indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah Pertama, terdapat dua kubu dalam merespon isu kenabian perempuan, ada yang menolak dan ada yang menerima. Adapun yang menolak adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Ja’far al-Ashili, Fakhruddin al-Razi, Ibn Katsir, serta al-Qusyairi. Sedangkan yang menerima adalah Abu Bakar Muhammad bin Mawhab al-Tujibi al-Qabri, Ibn Hazm al-Andalusi, Al-Qurthubi, serta Ibn Hajar al-‘Asqalani dengan argumentasi masing-masing. Kedua, isu kenabian Maryam terdapat dalam tafsir al-misbah dan tafsir al-azhar ketika membahas Qs. Ali-Imran: 42. Ketiga, terdapat dua alasan mengapa isu kenabian Maryam diakomodir dalam tafsir al-misbah dan tafsir al-azhar, pertama, kedua pengarang dari tafsir tersebut yaitu Quraish Shihab dan Hamka masing-masing mengusung spirit gender equality. Kedua, karena sifat dari tafsir itu sendiri yang genealogis sehingga sebuah wacana yang masuk dalam dunia tafsir sulit untuk dihapuskan dan dihilangkan
FARḌU IN THE BOOK OF ṢAFWAH AL-TAFĀSĪR BY MUHAMMAD ‘ALI AL-ṢĀBŪNĪ: Farḍu dalam Kitab Ṣafwah al-Tafāsīr karya Muhammad ‘Ali al-Ṣābūnī
This study presents the formulation of the problem, namely: First, What is the Nature of Farḍu in the Book of Ṣafwah al-Tafāsīr by Muhammad ‘Ali al-Ṣābūnī? Second, What is the Existence of farḍu in the Book of Ṣafwah al-Tafāsīr by Muhammad ‘Ali al-Ṣābūnī? This type of research is qualitative by using descriptive analysis method. The author specifically uses a tafsir approach that is directly related to the Book of Tafsir Ṣafwah al-Tafāsīr by Muhammad ‘Ali al-Ṣābūnī. Data were obtained through library research. The results of this study indicate that: first, the nature of farḍu in the Book of Ṣafwah al-Tafāsīr by Muhammad ‘Ali al-Ṣābūnī first of all the word فرض means “to establish”, “to determine”, “to oblige” or “to require something firmly”, and its derivations are found in QS al-Baqarah/2:197, al-Qaṣaṣ/28:85, al-Aḥzāb/33:38, al-Tahrīm/66:2, al-Nūr/24:1, al-Baqarah/2:236-237, al-Nisā’/4:11, al-Nisā’/4:24, al-Taubah/9:60, al-Nisā’/4:7, al-Nisa/4:118, and al-Baqarah/2:68. Second, the existence of farḍu in the Book of Ṣafwah al-Tafāsīr by Muhammad ‘Ali al-Ṣābūnī is first seen from the diversity of meanings, the context of other farḍu in terms of worship obligations and obligations in Muamalah or Social. The implication of this research can be narrated that the substance of Farḍu is the balance of religious obligations and their application in daily life
Pemikiran pembaharuan Mu?ammad `Abd All?h Dir?z terhadap universiti Al-Azhar
Artikel ini merupakan penelitian terhadap usaha yang telah dilakukan ke arah pembaharuan kegemilangan Universiti al-Azharsebuah institusi pendidikan Islam yang telah menjangkau usia seribu tahun. Bagi membincangkan hal tersebut, artikel ini berusaha mengetengahkan pemikiran pembaharuan yang telah dicetuskan oleh salah seorang cendekiawan al-Azhar iaitu Mu?ammad `Abd All?h Dir?z (1894-1958M.). Jika diteliti beberapa sumber berkaitan sejarah pembaharuan al-Azhar, seakan-akan Dir?z tidak mempunyai sebarang peranan dalam proses pembaharuan tersebut. Namun sebenarnya penelitian terhadap beberapa penulisan Dir?z menemukan kepada beberapa idea pembaharuan yang layak untuk dizahir dan diperkembangkan. Justeru, perbincangan mengenai hal tersebut dilakukan menerusi penelitian terhadap beberapa penulisan artikel serta surat-menyurat antara Dir?z dengan pihak pengurusan al-Azhar. Secara umumnya, hasil penelitian mendapati pemikiran pembaharuan Dir?z terhadap Universiti al-Azhar dapat diperjelaskan menerusi empat sudut iaitu asas pendidikan, kaedah pelaksanaan pendidikan, kaedah penilaian dan pemantauan serta pengantarabangsaan
Spatial variability of soil micronutrients (Cu, Fe, Zn & Mn) and population dynamic of mycoflora in potato fields of CKNP region Gilgit-Baltistan Pakistan
- …
