4 research outputs found

    PENGARUH BERBAGAI VARIASI KETEBALAN MEDIA PENYARING BATU DOLOMIT TERHADAP PENURUNAN Fe DAN BAU AIR SUMUR GALI DI DESA PALBAPANG KECAMATAN BANTUL

    No full text
    Latar Belakang : Masalah penyediaan air bersih yang layak masih belum terpenuhi. Berdasarkan hasil survey pendahuluan diperoleh hasil kadar Fe air sumur gali milik Ibu Siti di Dusun Bolon Palbapang Bantul sebesar 1,5 mg/L dan bau. Tingginya kadar Fe dan bau pada air sumur gali dapat disebabkan karena sifat-sifat air yang mampu melarutkan zat padat, cair dan mengabsorbsi gas. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui bahwa ada beda kadar Fe dan bau yang dihasilkan dari pengolahan menggunakan media filter dolomit variasi ketebalan 40 cm, 50 cm dan 60 cm, sehingga diketahui ketebalan filter dolomit yang efektif yang mampu menurunkan kadar Fe dan bau pada air sumur gali. Metode Penelitian : Pre-Post Test With Control Design. Lokasi penelitian di Dusun Bolon Palbapang Bantul. Pada awal eksperiment dilakukan pengambilan sampel Pre-eksperiment untuk diukur kadar Fe dan bau air sumur galinya kemudian diolah dengan menggunakan penyaringan sederhana dengan media filter dolomit variasi ketebalan 40 cm, 50 cm, 60 cm dan dibandingkan dengan kelompok kontrol, setelah itu diambil sampel untuk post-eksperiment dan diperiksa lagi kadar Fe dan baunya. Hasil : Pengolahan air sumur gali dengan menggunakan media filter dolomit variasi ketebalan 40 cm, 50 cm dan 60 cm mampu menurunkan kadar Fe terhadap kontrol masing-masing sebesar 46,11%, 61,10% dan 68,296% dan air menjadi tidak bau. Hasil uji One Way Anova untuk kadar Fe diperoleh nilai signifikan 0,000. Hasil uji Kruskal Wallis untuk bau diperoleh nilai signifikan sebesar 0,002. Kesimpulan : Pengolahan air sumur gali dengan menggunakan media filter dolomit variasi ketebalan 40 cm, 50 cm dan 60 cm yang dibandingkan dengan kontrol mampu menurunkan kadar Fe dan bau secara deskriptif masing-masing sebesar 46,11%, 61,10% dan 68,296% dan secara analitik untuk kadar Fe sebesar 0,000 sedangkan untuk bau sebesar 0,002. Diketahui ketebalan media filter dolomit 60 cm sebagai ketebalan yang efektif mampu menghasilkan air dengan kadar Fe dan persyaratan fisik tidak bau sesuai dengan Permenkes Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990. Kata Kunci : Media filter batu dolomit, Ketebalan 40 cm, 50 cm, 60 cm, Kadar Fe, Bau, Air Sumur Gal

    Uji Efikasi Nanoinsektisida Komposisi Perak Tembakau (Nicotiana tabacum) terhadap Aedes aegypti

    Get PDF
    Abstract Vector control that used insecticides need to be substituted, because it has a negative impact for the environment and have been resistance for some areas, so it was necessary to find alternative insecticides. One of the natural insecticides was tobacco (Nicotiana tabacum). The chemical content of tobacco leaves included alkaloids, saponins, and flavonoids. Nicotine was an alkaloid group compound in tobacco, thatwas a nerve poison that reacts quickly and can act as a contact poison in insects, to add the effectiveness it’s necessary change to nano particle with silver. Besides, this test used two solvents with different contains of mineral to compare the effectiveness. This study aimed to test effication of nanoinsecticide from formulation tobacco (Nicotiana tabacum) and silver particle for vector control of larvae Ae.aegypti. It was held at the Center for Research and Development of Disease Vector and Reservoir (B2P2VRP) with an experimental method. The results of the study showed 1,153 ppm LC50, 1,719 ppm LC90 and 1,925 ppm LC90 on solvent distilled water. LC50 of 1,641 ppm, LC90 of 10,741 ppm and LC90 of 18,295 ppm in solvent aquademineralization. Measurements of tobacco nanoinsecticides are known to be 89,2 – 112,0 run in aquadest and 89,2 -112,0 μm in aquademineralization solvents 79,0 – 143,7μm. Abstrak Pengendalian vektor menggunakan insektisida kimiawi perlu disubstisusi karena berdampak buruk pada lingkungan dan menyebabkan resistensi di beberapa daerah, sehingga perlu untuk mendapatkan insektisida alternatif yang ramah lingkungan. Salah satu tanaman insektisida alam, adalah tembakau (Nicotiana tabacum). Kandungan kimia tembakau meliputi alkaloid, saponin, dan flavanoid. Nikotin termasuk senyawa alkaloid dalam tembakau merupakan racun syaraf dengan reaksi cepat serta dapat berfungsi sebagai racun kontak serangga. Namun, untuk menambah daya bunuhnya sebagai larvasida maka ukuran partikel alkaloid perlu dipecah contohnya dengan penambahan perak. Pemilihan perak sebagai pembentuk molekul nano, sedangkan pelarut yang digunakan yaitu akuades dan akuademineralisasi. Kedua pelarut yang digunakan merupakan pelarut standar yang mempunyai daya kelarutan tinggi dengan perbedaan kandungan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk uji efikasi nanoinsektisida tembakau (Nicotiana tabacum) yang diformulasikan dengan perak sebagai sarana pengendalian Aedes aegypti stadium pradewasa. Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) dengan metode eksperimental murni. Hasil penelitian didapatkan LC50 1,153 ppm, LC90 1,719 ppm pada pelarut akuademineraliasi dan LC90 1,925 ppm pada pelarut akuades. LC50 1,641 ppm, LC90 10,741 ppm dan LC90 18,295 ppm pada pelarut akuademineralisasi. Pengukuran partikel nanoinsektisida daun tembakau diketahui berukuran 89,2 - 112,0 nm pada pelarut akuades dan 89,2 -112,0 nm pada pelarut akuademineralisasi 79,0 - 143,7nm

    Distribution and behavior of Anopheles maculatus and its potential as a Malaria vector in Indonesia

    Get PDF
    Background: Anopheles maculatus is one of the mosquito species that has been confirmed as a malaria vector in Indonesia. The potential of a mosquito as a vector is influenced by its behavior. Information on the distribution and behavior of An. maculatus needs to be carried out to determine the potential for malaria transmission transmitted by the species in an area. The study aimed to obtain information on the distribution, behavior, and potential of maculatus as a malaria vector in several provinces in Indonesia. Method: Mosquito collection was carried out using human-landing collection, animal-baited trap, cattle-bait, light-trap, and resting morning. A survey of mosquitoes was carried out in 29 provinces in Indonesia. Mosquitoes were identified for the species and detected the blood-sucking behavior with an Enzyme-linked immunosorbent assay and the presence of Plasmodium using a Polymerase Chain Reaction. Results: The results showed that An. maculatus was found in the Riau Islands, Lampung, Bangka Belitung, West Java, Central Java, East Java, and Central Sulawesi. Anopheles maculatus has known to suck the blood of humans and animals with a predominance of animals. Anopheles maculatus is also known to suck blood outdoors predominantly. In general, the activity of An. maculatus sucking blood begins around 18.00 in the evening. Central Java Province was the province with the highest density of An. maculatus mosquitoes, thereby increasing the potential for transmission of malaria cases. Conclusion: Anopheles maculatus was spread in Riau Islands, Lampung, Bangka Belitung, West Java, Central Java, East Java, and Central Sulawesi. This species was known to suck the blood of people and humans, and its blood-sucking activity starts around 18.00 in the evening

    KEPADATAN JENTIK VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE DI DAERAH ENDEMIS DI INDONESIA (SUMATERA SELATAN, JAWA TENGAH, SULAWESI TENGAH DAN PAPUA)

    No full text
    ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is transmitted through the bite of Aedes aegypti and Aede. albopictus. Until the end of 2013 DHF has spread in 438 regions (88%) of 497 districts/municipalities in Indonesia. Although the mortality rate is reported to decrease with Case Fatality Rate by 0.7% in 2013, the incidence rate is still quite high (41.25 per 100,000 population). The research was conducted in the provinces of South Sumatra, Central Java, Central Sulawesi and Papua. The purpose of this study was to find out the density of DHF vector mosquitoes by measuring the entomology indexes. The research design is cross sectional study with descriptive analysis. The entomology indexes were performed by larva surveys conducted in 100 homes and examined them according to WHO standards. Data on secondary DHF cases were collected from district health offices and provincial health offices. The results showed that the density of dengue  vectors in 2015 were still very high and the larvae free rates (ABJ) in all four provinces were less than 95%. These conditions would potentially lead to increase dengue cases. Increasing community participation in DHF vector control would be needed to overcome the problems. Keywords: DHF, vector density, entomology index, endemic area   ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus. Sampai dengan akhir tahun 2013, DBD telah menyebar di 438 wilayah (88%) dari 497 wilayah kabupaten/kota di Indonesia. Walaupun angka kematian dilaporkan semakin menurun dengan Case Fatality Rate sebesar 0,7% pada tahun 2013, akan tetapi angka insiden masih cukup tinggi (41,25 per 100.000 penduduk). Penelitian dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah dan Papua. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui situasi kepadatan nyamuk vektor DBD dengan mengukur indeks entomologi (HI, BI, CI dan ABJ). Desain penelitian adalah studi potong lintang dan analisis data menggunakan analisis deskriptif. Indeks entomologi dilakukan dengan cara survei jentik  yang dilakukan di 100 rumah yang diperiksa sesuai standard dari WHO. Data kasus DBD dikumpulkan berupa data sekunder dari dinas kesehatan kabupaten dan dinas kesehatan provinsi. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan vektor DBD wilayah riset khusus vektora 2015 masih sangat tinggi dan angka bebas jentik (ABJ) di keempat provinsi memiliki ABJ kurang dari 95%. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kasus DBD. Perlu meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengendalian vektor DBD. Kata kunci: DBD, kepadatan vektor, indeks entomologi, daerah endemi
    corecore