39 research outputs found
GAMBARAN KARAKTERISTIK AIR KEBERADAAN BAKTERI LEPTOSPIRA PADA DAERAH KASUS DAN BEBAS LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN KLATEN
Kasus Leptospirosis di Kabupaten Klaten tersebar hampir di seluruh Kecamatan. Leptospirosis. pada tahun 2016 dilaporkan 39 penderita dengan 6 kematian (CFR=15,38%). Kasus leptospirosis didominasi oleh petani dan mempunyai riwayat luka di kaki. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh gambaran karakteristik air keberadaan bakteri leptospira, luka dan perawatannya, keberadaan tikus dan kontak dengan tikus pada daerah kasus dan bebas leptospirosis di Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survei dan wawancara menggunakan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 100 sampel air dari sumur, sungai dan sawah dan di daerah kasus dan bebas Leptospirosis. Data dianalisis dengan univariat. Hasil penelitian menunjukkan bakteri leptospira ditemukan pada badan air di daerah kasus. Bakteri leptospira ditemukan pada suhu optimal 6,7% dan tidak optimal 5,0%, pH optimal 6,7% dan pH tidak optimal 5,7%, DO 4-12ppm. Hasil wawancara keberadaan tikus di sawah dan di rumah pada daerah kasus dan bebas Leptospirosis cukup tinggi. Kontak dengan tikus terjadi pada responden di daerah kasus, sedangkan daerah bebas responden mengaku tidak kontak dengan tikus. Riwayat keberadaan luka pada daerah kasus sebesar (87,7%) dan daerah bebas kasus (25%). Kebiasaan merawat luka daerah kasus (37,5%) dan daerah bebas kasus tidak melakukan perawatan luka. Adanya bakteri Leptospira di air didukung lingkungan yang optimal dan perilaku tidak merawat luka terbuka memperbesar terjadinya penularan secara tidak langsung terjadinya Leptopsirosis. Disarankan untuk melakukan klorinasi guna mematikan bakteri leptospira pada badan air yang berisiko adanya bakteri leptospira serta melakukan upaya perawatan luka terbuka dan menggunakan alat pelindung diri pada waktu bekerja
Kata Kunci: bakteri Leptospira sp, Leptospirosi
PEMERIKSAAN ENDOPARASIT (CACING NEMATODA DAN CESTODA) YANG DITEMUKAN DALAM ORGAN TIKUS
Adapun kegiatan yang dilakukan selama pelatihan adalah melakukan pembedahan tikus hasil penangkapan di daerah sekitar LIPI, kemudian dari hasil pembedahan diambil organ dalam tikus berupa hati, ginjal, paru-paru dan organ pencernaan diambil kemudian ditempatkan pada cawan petri yang terpisah untuk diperiksa ada tidaknya cacing baik nematoda maupun cestoda. Untuk organ yang tidak langsung diperiksa, disimpan dalam larutan alkohol 70%
Toxoplasma gondii (Nicolle & Splendore 1908)
Toxoplasma sering menjadi momok bagi wanita karena merupakan salah satu penyebab ketidaksuburan seorang wanita, yang diakibatkan oleh parasit yang bernama Toxoplasma gondii. Padahal ternyata tidak hanya wanita saja, pria pun dapat terinfeksi parasit ini. Toxoplasma gondii merupakan hewan bersel satu yang disebut protozoa, protozoa ini merupakan parasit pada tubuh hewan dan manusia. Toxoplasma gondii ditemukan di seluruh dunia. Penyakit infeksi oleh parasit Toxoplasma gondii ini dikenal dengan nama Toksoplasmosis. Toksoplasmosis dikategorikan sebagai penyakit Zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia
SPOT SURVEI ENTOMOLOGI MALARIA DI DUSUN KELAPA SAWIT DESA SIGEBLOG KECAMATAN BANJARMANGU KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2008
SPOT SURVEI ENTOMOLOGI MALARIADI DUSUN KELAPA SAWIT DESA SIGEBLOG KECAMATAN BANJARMANGU KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 200
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN DISMENORE PADA MAHASISWA PUTRI
Dismenore adalah fenomena nyeri yang terjadi selama menstruasi, sering disertai kram dan biasanya terkonsentrasi di perut bagian bawah, menjalar ke punggung bawah dan paha. Tingkat keparahan nyeri dan tingkat gangguan bervariasi antar individu. Beberapa perempuan mampu tetap produktif—meskipun dengan rasa tidak nyaman—sementara yang lain tidak berdaya karena intensitas nyeri. Di Indonesia, prevalensi nyeri menstruasi pada remaja perempuan sekitar 55%, terdiri dari 54,89% dengan dismenore primer dan 9,36% dengan dismenore sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk menguji korelasi antara tingkat pengetahuan siswi tentang pencegahan nyeri menstruasi (dismenore) dan perilaku penanganannya, dengan menggunakan desain penelitian potong lintang. Temuan menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (74,28%) dan menunjukkan perilaku penanganan yang positif terhadap dismenore (62,86%). Analisis bivariat menghasilkan nilai p sebesar 0,003 (p ≤ 0,05), yang menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat pengetahuan dan tindakan pencegahan terkait dismenorea pada siswi. Hasil ini menggarisbawahi perlunya inisiatif pendidikan kesehatan yang terarah untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas remaja putri dalam mengelola dismenorea secara efekti
SURVEI TIKUS DENGAN BERBAGAI METODE DI KOMPLEK PERKANTORAN SELAMANIK BANJARNEGARA
Menindaklanjuti perubahan tupoksi Loka Litbang P2B2 untuk memfokuskan penelitian bidang Rodentologi, perlu didukung SDM yang berkualitas dan terampil dibidangnya. Demi mewujudkan hal itudiadakan pelatihan dengan mengundang peneliti dari B2P2VRP Salatiga yang banyak berkutat di bidang rodentologi yaitu Drs. Ristiyanto, M.Kes dan tim. Kegiatan pelatihan diakhiri dengan praktek survei rodensia (tikus) di komplek perkantoran selamanik Banjarnegara mewakili empat metode yaitu metode pit fall trap (perangkap hid up berupa lubang jebakan), single live trap, Linnier Trap Barrier System (LTBS), snap trap atau breakback trap (perangkap mati)
Karakteristik Individu dan Kondisi Lingkungan Pemukiman di Daerah Endemis Leptospirosis di Kota Semarang
Leptospirosis adalah penyakit demam akut yang dapat menginfeksi manusia dan hewan (zoonosis) dandisebabkan oleh bakteri leptospira. Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosisdengan insiden pada tahun 2009 sebanyak 13,27/100.000 penduduk dan kematian 3,5%. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui karakteristik individu penderita leptospirosis dan hubungannya denganlingkungan pemukiman. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional.Populasi adalah semua pengunjung Puskesmas, sedangkan sampel adalah pengunjung Puskesmasdengan gejala klinis leptospirosis (terutama: demam dengan suhu tubuh > 37oC) atau demam disertaisakit kepala, nyeri otot, konjungtivitis dan ruam). Data lingkungan pemukiman diperoleh denganmelakukan pengamatan sedangkan karakteristik individu kasus leptospirosis dengan wawancara, datadianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan karakteristikresponden sebagian besar kelompok usia 10-19 tahun (38,1%), jenis kelamin laki-laki (56,2%), dantingkat pendidikan tidak tamat SD (30,5%). Kasus leptospirosis lebih banyak terjadi pada laki-laki,kelompok usia 0-19 tahun dengan (CFR=3,6). Kondisi lingkungan yang berhubungan dengan kejadianleptospirosis meliputi dinding dapur tidak permanen, tidak ada langit-langit, tempat sampah terbukadan kondisi rumah yang kotor. Upaya pencegahan penularan leptospirosis dapat dilakukan melaluikebersihan lingkungan, penanganan sampah yang baik sehingga tidak menjadi tempat bersarang tikus
