5 research outputs found
PENGGUNAAN MANIPULATIF VIRTUAL PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA ANAK DISKALKULIA
Manipulatif virtual sebagai salah satu teknologi bantu digital yang efektif untuk mendukung pemahaman konseptual anak diskalkulia tentang konsep matematika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan manipulatif virtual pada pembelajaran matematika anak diskalkulia. Metode literature review yang digunakan dalam penelitian dengan tahapan identifikasi masalah, menyusun judul dan topik penelitian, menentukan kata kunci dan kriteria literature, menentukan database, penyaringan data, menganalisis data, dan pelaporan hasil. Sumber pencarian artikel melalui database online : Researchgate, SAGE, Z-lib, dan Google Scholar. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan deskriptif kualitatif menunjukkan bahwa penggunaan manipulatif virtual berdampak pada pemahaman matematika anak diskalkulia diantaranya : kemampuan mengenali operasi bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda, luas dan keliling bangun geometri, dan persamaan aljabar. Anak diskalkulia lebih terminimalisir kemampuan berhitungnya melalui manipulatif virtual serta lebih mudah memahami langkah-langkah pembelajaran matematika
Optical character recognition feature implementation in cooking recipe mobile application using tesseract google project
Development of cooking recipe application is not a new topic in this time, many available cooking recipe mobile application that serve in the developer application store that available for user to use it as their cooking assistant. But as the author literature review result, the available cooking recipe application only serves the user the common features, like: show the list of recipes, search the recipe by the ingredient or by the title of the recipe. In this research the author intent to combine cooking mobile application technology with Optical Character Recognition technology by Implementing OCR feature in the cooking application as the additional feature that can be used in searching recipe(s) by using their camera to capture a new image or by simply choose the existing image. The development of the application is using tesseract Google project as the library for supporting the development of this application. and in the end of the research, the author will conclude whether text recognition feature that implemented in cooking recipes application could help the user in searching recipe or no
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA SEKOLAH DASAR
Berdasarkan hasil penelitian di SDN X di Kota Bandung pada siswa kelas IV SD dengan jumlah 24 siswa, peneliti menemukan permasalahan kurang munculnya keaktifan siswa pada proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari data awal penelitian rata-rata keaktifan siswa sebesar 26,67%. Peneliti menerapkan model Cooperative Learning tipe Make A Match sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan siswa. Tujuan pelaksanaan penelitian ini yaitu: 1) Mendeskripsikan pelaksanaan model Cooperative Learning tipe Make A Match untuk mningkatkan keaktifan siswa 2) Mendeskripsikan peningkatan keaktifan siswa melalui penerapan model Cooperative Learning tipe Make A Match. Penelitian tindakan kelas ini di adaptasi dari model Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pada penelitian ini, hasil rata-rata keaktifan siswa yang diperoleh pada siklus I mencapai 45,82%, siklus II mencapai 74,17% dan pada siklus III mencapai 95%. Simpulan penelitian ini yaitu peningkatan keaktifan siswa dapat terlihat dengan memperhatikan jumlah rata-rata persentase ketiga siklus. Hal ini dapat terjadi karena penulis menerapkan model Cooperative Learning tipe Make A Match. Oleh karena itu, penerapan model Cooperative Learning tipe Make A Match dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan keaktifan siswa sekolah dasar.
Kata Kunci: Cooperative Learning tipe Make A Match, Keaktifan siswa
Based on the results of research on the SDN X in Bandung in grade IV ELEMENTARY SCHOOL with a total of 24 students, researchers found the problem is less the emergence of the liveliness of the students in the learning process. It can be seen from early research data the average student of liveliness is 26,67%. Researchers apply a model of Cooperative Learning types Make A Match as an attempt to increase the liveliness of the students. As for the implementation of the goals of this research are: 1) Describes the implementation of Cooperative Learning model types Make A Match for increase student activity 2) Describes an increase the liveliness of students through the application of Cooperative Learning model type to Make A Match. This class action research on adaptation of Kemmis and model Mc. Taggart which consists of 4 phases: planning, implementation, observation and reflection. In this study, the average result liveliness students obtained in cycle I achieve 45,82%, cycle II reached 74.17% and cycle III reached 95%. Summary of the research is to increase the liveliness of students can be seen by considering the average percentage of third cycle. This can occur because the author applies a model Cooperative Learning types Make A Match. Therefore, the application of the Cooperative Learning model types Make A Match can be used as an alternative to increase the liveliness of elementary school student.
Keywords: Cooperative Learning types Make A Match, the activity of students
MANAJEMEN KONFLIK PADA KELUARGA POLIGAMI (STUDI KASUS TIGA KELUARGA POLIGAMI DI DESA PANTON PAWOH KECAMATAN LABUHANHAJI BARAT KABUPATEN ACEH SELATAN
ABSTRAKFenomena konflik dalam rumah tangga poligami menjadi sebuah sisi yang tidak bisa dihindari dan untuk menyelesaikannya dibutuhkan kemampuan untuk memanajemen konflik tersebut. Jika tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan berbagai permasalahan lainnya yang bersifat merusak atau menghancurkan. Seperti yang ditunjukkan dalam rekapitulasi urusan peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Syariah Aceh Selatan yang menggambarkan adanya peningkatan perceraian pada keluarga poligami selama periode tahun 2010-2015. Berdasarkan data tersebut tercatat perceraian pada keluarga poligami yang telah diputus sebanyak 633 perkara dengan variasi penyebab. Data ini menunjukkan bahwa manajemen konflik pada keluarga poligami masih rendah. Lain halnya dengan keluarga poligami di Desa Panton Pawoh Kecamatan Labuhanhaji Barat Kabupaten Aceh Selatan dimana untuk menghindari hal tersebut mereka cenderung mepertimbangkan segala hal ketika konflik terjadi. Oleh karena itu penulis menggunakan Teori Pertukaran Sosial George C. Homans untuk menganalisis secara keseluruhan permasalahan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dan dianalisis menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa bentuk manajemen konflik yang dilakukan oleh keluarga poligami di Desa Panton Pawoh dilakukan dengan mempertimbangkan cost dan reward. Hal ini ditunjukkan ketika anggota poligami lebih mengutamakan perannya dalam keluarga dan menekan perannya sebagai individu. Tindakan tersebut dilakukan karena mereka menganggap keluarga lebih berharga daripada perasaan atau faktor-faktor yang menyebabkan konflik. Adapun bentuk cost yang dikorbankan pada keluarga poligami antara lain adalah : uang, waktu dan perasaan dengan mengharapkan reward kebutuhan anak-anak dan keutuhan rumah tangga. Kata Kunci : Poligami, Manajemen Konflik, Cost, Reward. ?ABSTRACTThe phenomenon of conflict in a polygamous household becomes a side that is inevitable and to complete it requires the ability to manage the conflict. If not handled properly will cause other problems that are damaging or destructive. As shown in the recapitulation of Justice Affairs (Badilag) of South Aceh Sharia court which describes the increase in divorce in polygamy family over the period of 2010-2015. Based on the data recorded divorce in polygamy family has been dued by as much as 633 cases with a variation of the cause. This Data shows that conflict management in the polygamy family is still low. Another case with polygamy family in Panton Village Pawoh District, Labuhanhaji Barat, South Aceh Regency where to avoid this they tend to consider all things when conflict occurs. Therefore, the author uses George C. Homans Social Exchange theory to analyze the problem of research. Data collection is conducted with interviews, and analyzed using qualitative methods. The results found that the form of conflict management conducted by polygamy family in Panton Pawoh village is done by considering cost and reward. This is demonstrated when polygamy members prefer his role in the family and suppress his role as an individual. The action is done because they consider the family more valuable than the feelings or factors that cause the conflict. The cost of the polygamy family among others is: money, time and feeling by expecting a reward for children and household integrity. Keywords: polygamy, conflict management, Cost, Reward
PELATIHAN DASAR TAHSIN QUR’AN “MAKHARIJUL HURUF”
Membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar adalah suatu hal yang sangat penting bagi setiap muslim. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an dengan mengikuti pelatihan tahsin, khususnya makharijul huruf, dapat meningkatkan kualitas bacaan. Berdasarkan observasi di Desa Napo, banyak anak kesulitan membaca Al-Qur'an terutama melafalkan huruf hijaiyah. Hal tersebut karena kurangnya pemahaman makharijul huruf. Oleh karena itu, penting untuk diadakan pelatihan tahsin Qur'an dengan fokus pada makharijul huruf untuk anak-anak di Desa Napo. Metode yang digunakan yaitu Participatory Action Research (PAR) yang terdiri dari tiga tahapan: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, dilakukan analisis situasi dan penyusunan rencana kegiatan. Pada tahap pelaksanaan, dilakukan pemberian materi, dan praktik. Pada tahap evaluasi, dilakukan tes untuk mengetahui kemampuan peserta dalam melafalkan huruf hijaiyah sesuai dengan makharijulnya. Kegiatan pelatihan tahsin Qur'an diikuti oleh 34 anak-anak di Desa Napo. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa setelah mengikuti pelatihan, peserta dapat menyebutkan huruf hijaiyah dengan lebih baik dan benar sesuai dengan makharijulnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil tes yang menunjukkan peningkatan kemampuan peserta dalam melafalkan huruf hijaiyah. Pelatihan tahsin Qur'an dengan fokus pada makharijul huruf memperoleh respon positif dari peserta dan masyarakat dan mampu memberikan pengetahuan dan pemahaman terhadap makharijul huru
