1,721,002 research outputs found
Community study of dragon’s blood palm (Daemonorops spp.) in Harapan Rainforest, Sumatra
TUMBUHAN OBAT SUMATERA UTARA Jilid I : MONOKOTILEDON
Pertama-tama kami ucapkan Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala berkat dan anugerah-Nya sehingga buku ini dapat diselesaikan. Pembuatan buku ini diinspirasi dari penelitian yang telah kami lakukan sejak tahun 2012 hingga 2017 tentang etnomedisin etnis Batak di Sumatera Utara. Etnomedisin merupakan kajian tentang pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat oleh berbagai etnis. Etnis Batak merupakan etnis asli di Sumatera Utara yang terdiri dari 5 sub etnis atau sering juga disebut dengan puak yaitu Karo, Phakpak, Simalungun, Toba dan Angkola-Mandailing. Ke lima subetnis tersebut memiliki daerah induk yang berbeda-beda yaitu Batak Karo di Kabupaten Karo dan Deli Serdang, Batak Phakpak di kabupaten Phakpak Baratn dan Dairi, Batak Simalungun di Kabupaten Simalungun, Batak Toba di
Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba, dan Toba Samosir, sedangkan Angkola-Mandailing di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal. Perbedaan daerah induk, topografi dan keanekaragaman hayati lingkungan sekitar mempengaruhi pemenfaatan tumbuhan
TUMBUHAN OBAT SUMATERA UTARA Jilid II : DIKOTILEDON
Pertama-tama kami ucapkan Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala berkat dan anugerah-Nya sehingga buku ini dapat diselesaikan. Buku Jilid ke-2 ini merupakan lanjutan dari buku jilid ke-1 yang berjudul Tumbuhan Obat Sumatera Utara Jilid 1: Monokotiledon. Jumlah jenis yang disajikan dalam buku ini lebih banyak dibandingkan dengan jilid pertama. Penulis menyadari bahwa buku dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas khususnya etnis Batak Sumatera Utara, akademisi, siswa, guru dan para pengguna tumbuhan obat. Untuk penyempurnaan buku ini dimasa yang akan datang, kami mengharapakan saran dan masukan sehingga penerbitan
selanjutnya dapat lebih baik
Pengaruh Hormon Giberelin (GA3) Terhadap Daya Kecambah dan Vigoritas Calopogonium caeruleum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hormon giberelin (GA3) terhadapdaya kecambah dan vigoritas Calopogonium caeruleum. Penelitian menggunakan RancanganAcak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama konsentrasi GA3 (G) terdiri dari 6 tarafG0 = 0 ppm, G1 = 100 ppm, G2 = 200 ppm, G3 = 300 ppm, G4 = 400 ppm, G5 = 500 ppm,sedangkan faktor ke dua adalah lama perendaman, terdiri dari 3 taraf yaitu T1 = 6 jam, T2 = 12jam dan T3 = 24 jam, sehingga didapat 18 kombinasi perlakuan dengan ulangan sebanyak 3kali. Parameter yang diamati meliputi persentase daya kecambah (%) dan vigoritas (%). Analisisdata menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat perbedaan nyatadilanjutkan dengan uji lanjut Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwainteraksi konsentrasi GA3 dan lama perendaman memperlihatkan pengaruh yang nyata(P<0,05) terhadap persentase perkecambahan dan vigoritas Calopogonium caeruleum.Perlakuan yang terbaik dalam menghasilkan persentase perkecambahan Calopogoniumcaeruleum tertinggi adalah G5T3 (GA3 500 ppm dengan lama perendaman 24 jam) yaitusebesar 57,33%
Makrozoobentos Sebagai Indikator Biologi Dari Kualitas Air Di Sungai Kumpeh Dan Danau Arang-Arang Kabupaten Muaro Jambi, Jambi
This research is used for know the water quality in Kumpeh River and Arang-arang Lakein Kumpeh district based on macrozoobenthic as the biological indicator. To know the communitystructures of macrozoobenthic so it used the analysis of Diversity Index, which uses the Shannon –Weaner Diversity Index. Based on the result of these identification, it was found the quality ofmacrozoobenthic index diversity for Kumpeh River and Arang-arang Lake were between 1.0 - 1.5 andboth of them has been classified as the moderately polluted group. The index of macroozobenthicdiversity of Kumpeh River are about 1.21 and Arang-arang Lake about 1.19 and 1.33. The existencesof Indicator species like Chironomous sp., Scatella sp. And Branchiura sowerbyi are also indicate thatboth of water was polluted
PENGARUH KONSENTRASI HOMOGENAT JAMUR Pythium aphanidermatum (Edson) Fitzp terhadap Kandungan Ajmalisin dalam Kultur Agregat Sel Catharanthus roseus (L.) G. Don
An experiment on the effect of elicitor concentrations derived from Pythium aphanidermatum (Edson) Fitzp on ajmalicine content of Catharanthus roseus (L.) G. Don Cell aggregates culture has been conducted. The following concentrations of elicitor tested were 0.05; 0.5; 1.0 and 5.0 mg DW/mL. The harvesting times were 0; 18; 36 and 72 hours after elicitation. The ajmalicine was analyzed qualitatively and quantitavely by using High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Ajmalicine content was influenced by the concentration of elicitor and harvesting time. The highest content of ajmalicine in the cell aggregates (13.089 ± 0.086 µg/gDW) was achieved by addition 1.0 mg DW/mL of elicitor after 18 hours whilts in the medium  (346.728 ± 2.843 µg/gDW) was achieved by addition 1.0 mg DW/mL of elicitor after 36 hours  Kata kunci: Catharanthus roseus (L.) G . Don, Phytium aphanidermatum, elisitor, ajmalisi
Vitex trifolia L. (Botani, Metabolit Sekunder, dan Bioaktivitasnya)
Legundi, or Vitex trifolia (Verbenaceae), is an indigenous Indonesian plant that has been long used as traditional medicine. This study aims to explain the botany, secondary metabolites, benefits, and bioactivity of V. trifolia. The method used in this research is a literature review obtained online in 1996–2022, especially from Google Scholar, using the keywords V. trifolia, uses of V. trifolia, and bioactivity of V. trifolia. Description V. trifolia is a shrub or small tree; leaves are spread out with 1–5 leaves; compound flowers have a purple crown. The bioactivities of V. trifolia include anticancer, antiinflammatory, antimicrobial, antioxidant, antidiabetes mellitus, and hepatoprotective. The V. trifolia bioactivity as an anticancer is more prominent than the others. Some bioactive compounds against V. trifolia cancer are vitexicarpin, casticin, vitepyrroloids, rotundifuran, persicogenin, artemetin, luteolin, penduletin, vitexicarpin, chrysosplenol, vitexilactone, vitetrifolin, viterotulin, and vitexilactone. The compounds artemetin, casticin, and vitexilactone are associated with anticancer and antiinflammatory activity. Further study of anticancer compounds needs to be carried out so that the development of V. trifolia into a standardized herbal medicine, especially anticancer, can be developed
BUDIDAYA ROTAN JERNANG UNTUK PETANI KARET DI PAUH
Rotan jernang (Daemonorops spp.) merupakan salah satu jenis rotan yang menghasilkan resin merah pada permukaan kulit buahnya. Resin merah jernang ini bernilai ekonomi tinggi dan dimanfaatkan untuk obat-obatan dan perwarna. Rotan jernang di hutan Kecamatan Pauh memiliki keanekragaman genetik yang tinggi, sehingga jernang di lokasi ini merupakan sumber plasma nutfah Jambi yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan. Menurut Balai Informasi Kehutanan Provinsi Jambi tahun 2009, keberadaan rotan jernang saat ini sudah langka. Oleh karena itu upaya budidaya harus dilakukan. Kendala yang dihadapi oleh masyarakat petani karet dalam budidaya rotan jernang adalah sulitnya memperoleh biji tua jernang sebagai sumber bibit. Dalam pelaksanaan kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat, metode pengabdian yang digunakan yaitu Participatory Rural Apraisal (PRA), yaitu metode pendidikan pada masyarakat. Metode PRA ini memiliki kelebihan, dimana keterlibatan masyarakat secara aktif (sebagai subyek) dan Perguruan Tinggi sebagai fasilitator. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan budidaya rotan jernang telah dilaksanakan di desa Karang Mendapo dan Batu Ampar Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun bersama kelompok tani Belato Makmur dan Makmur Utama. Sosialisasi dengan anggota kelompok tani berlangsung lancar, karena ketua IbM telah mengenal ketua kelompok tani, pada saat melakukan penelitian tentang jernang di daerah Kecamatan Pauh. Anggota kelompok tani sangat antusias dalam mengikuti kegiatan sosialisasi, karena mereka berharap dengan integrasi tanaman jernang di kebun karet mereka dapat meningkatkan perekonomian mereka. Berhubung sulitnya memperoleh biji tua untuk jenis jernang unggul (Daemonorps draco) yang memiliki nilai jual getah jernang paling tinggi, maka ketua peneliti berinisiatif untuk membeli anakan jernang dari pemilik kebun jernang dan para pencari jernang. Anakan jernang ini ada yang diperoleh dari jernang yang telah dikebunkan dan ada juga yang dari hutan alam. Anakan yang diperoleh selanjutnya ditanam di dalam polybag dengan media tanam tanah, pasir dan pupuk kandang. Hasil monitoring pertumbuhan menunjukkan bahwa persentase pertumbuhan anakan mencapai 60 %
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
