1,731,202 research outputs found

    Thampy, Aruna, 1. Aruna Thampy discusses nursing practices in Newfoundland

    No full text
    Thampy, Aruna interviewed by Marilyn Beaton and Jeanette Walsh in St. John’s on September 5, 2007 on the topic of the experiences of nurses immigrating to Newfoundland and Labrador. She talks about training to be a nurse and coming to work as a nurse in Newfoundland, from Nairobi; she also talks about her role as a nurse administrator with the Grenfell Association and her part in recruiting nurses for that area

    Thampy, Aruna, 2. Aruna Thampy discusses nursing practices in Newfoundland

    No full text
    Thampy, Aruna interviewed by Marilyn Beaton and Jeanette Walsh in St. John’s on September 5, 2007 on the topic of the experiences of nurses immigrating to Newfoundland and Labrador. She talks about training to be a nurse and coming to work as a nurse in Newfoundland, from Nairobi; she also talks about her role as a nurse administrator with the Grenfell Association and her part in recruiting nurses for that area

    biigle/laravel-aruna-driver: v1.1

    No full text
    <p><strong>Full Changelog</strong>: <a href="https://github.com/biigle/laravel-aruna-driver/compare/v1.0...v1.1">https://github.com/biigle/laravel-aruna-driver/compare/v1.0...v1.1</a></p>This work was supported by the German Research Foundation (DFG) within the project "Establishment of the National Research Data Infrastructure (NFDI)" in the consortium NFDI4Biodiversity (project number 442032008

    Aruna

    No full text
    Buku ini merupakan buku yang di terbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Buku ini ditulis oleh Else Liliani. Else Liliani lahir di Yogyakrta pada 21 Agustus 1979. Beliau merupakan penulis asal Yogyakarta lulusan S3 Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada. Sejak tahun 2002 sampai sekarang, beliau menjadi dosen di Dosen sastra Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Else Liliani telah menulis buku sejak tahun 2011. Beberapa buku yang telah beliau tulis, diantaranya adalah Mimpi-Mimpi dari Girisubo yang ditulis pada tahun 2011. Kemudian Suluh Kartini, Lembayung di Lereng Sumbing, dan Sang Koki, Pelukis, dan Tukang Pidato yang ditulis pada tahun 2014. Saat ini beliau tinggal di Krapyak Bantul. Buku ini menceritakan tentang seorang anak berusia Seklah Dasar yang bernama Aruna. Aruna adalah seorang anak yang pandai menulis puisi dan selalu mendapat juara saat mengikuti lomba puisi. Namun ia mengalami cacat fisik, akibat peristiwa gempa bumi. Ceritanya sangat menginspirasi bukan? Buku ini dapat dijadikan literasi oleh anak-anak, bukan hanya ceritanya yang mudah dipahami tetapi juga karena kisah yang terkandung dalam buku ini sangat mengispirasi dan banyak nilai yang dapat diambil dari membaca buku ini. Pembaca yang dituju adalah anak-anak. Saat membaca buku ini mungkin anak-anak akan merasa bingung mengapa Aruna menjadi pincang, mudah marah dan kurang bersemangat untuk sekolah. Hal ini diceritakan di bab 2. Aruna mengalami kecacatan fisik saat terjadi gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006. Kakinya di amputasi karena mengalami infeksi akibat tertimpa tiang rumah. Kisah ini menjadi sangat mengharukan ketika dokter yang merawat Aruna menjelaskan bahwa mau tidak mau Aruna harus diamputasi. Siapa sih yang tidak merasa sedih mendengar berita ini? Seluruh orang terdekat kita pasti juga sedih mendengarnya. Kita pasti akan merasa tidak percaya diri, tidak bersemangat dalam menjalankan segala aktivitas, dan marah dengan keadaan yang di takdirkan Tuhan pada kita. Namun Aruna tidak seperti itu ia berusaha meyakinkan kedua orang tuanya. Bahwa ia mampu menjalankan kehidupan hanya dengan satu kaki saja. Ia juga berusaha untuk tetap tersenyum dan tidak membabani kedua orang tuanya. Tetapi tetap saja sulit bagi Aruna untuk menulis puisi lagi. Suatu hari, Pak Sis sedang membahas tentang gempa bumi di kelas Aruna. Pak Sis menjelaskan bahwa gempa bumi merupakan salah satu peristiwa alam yang tidak dapat diketahui kapan akan terjadi, yang dapat dilakukan ialah bagaimana menyelamatkan diri ketika gempa bumi terjadi. Pak Sis juga menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan saat terjadi gempa bumi yaitu bersembunyi di bawah meja, atau lari menuju lapangan luas. Kemudian Pak Sis meminta murid-muridnya untuk mempraktikkan cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi. Teman-teman Aruna merasa senang setelah mendapat banyak pengetahuan tentang gempa bumi dari Pak Sis. Namun hal tersebut tidak dirasakan oleh Aruna. Gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta setengah tahun yang lalu itu masih meninggalkan luka mendalam baginya. Saat bel pulang berbunyi, Gesang salah satu teman sekelas Aruna, mengajak Aruna pulang bersama. Saat perjalanan pulang, Gesang bertanya apakah saat terjadi gempa bumi, ia bersembunyi di bawah meja atau tidak. Lalu Aruna menjawab, ia sudah bersembunyi di bawah meja. Kemudian Gesang bertanya lagi, mengapa kakinya sampai seperti itu. Aruna tidak menjawab. Gesang meminta Aruna untuk datang di pertandingan sepak bolanya besok. Tapi Aruna tidak berjanji akan datang saat pertandingan sepak bolanya besok. Ia merasa sakit hati dengan pertanyaan yang diberikan oleh Gesang, maka saat di perjalanan keduanya sama sekali tidak berbicara. Saat dipertigaan jalan, mereka berpisah karena rumah mereka berbeda arah. Namun Gesang berbalik menemui Aruna lagi. Ia menawarkan diri untuk menemani Aruna pulang, namun Aruna tidak mau. Tiba-tiba Aruna terjatuh, kruknya mengijak batu yang lumayan besar. Akhirnya tubuh Aruna terjatuh di tanah yang terdapat kubangan air disampingnya. Hal itu membuat bajunya kotor dan basah. Kemudian datanglah Gesang untuk membantu Aruna. Namun Gesang malah memegang kaki Aruna yang pincang. Gesang menawarkan diri untuk mengantar Aruna pulang lagi. Tetapi Aruna malah membentaknya. Gesang kaget mengapa Aruna menjadi seperti itu padanya, Aruna juga merasa menyesal setelah membentak Gesang. Kemudian Aruna meminta maaf pada Gesang dan mereka pulang menuju rumahnya masing-masing. Saat Aruna sampai rumah, ibunya bertanya apa yang telah terjadi padanya sampai bajunya menjadi kotor. Ibunya menyuruhnya untuk segera mandi dan berganti pakaian. Saat selesai mandi Aruna menceritakan apa yang terjadi saat perjalan pulang tadi pada ibunya. Tiba-tiba adiknya yang bernama Sigra pulang kemudian bertanya bagian tubuh mana yang terasa sakit sambil memegang kaki pincang Aruna. Aruna merasa kesal akhirnya ia masuk ke kamarnya dengan membawa satu kruknya saja. Sigra bingung mengapa kakaknya menjadi seperti itu. Saat dialam kamar, Aruna melihat fotonya bersama Sigra yang terletak di meja belajarnya. Ia teringat acara tujuh belasan di kampungnya. Saat itu mereka sangat senang karena telah berhasil memenangkan lomba tujuh belasan. Aruna menyadari apa yang telah ia lakukan pada adiknya itu adalah hal yang salah, maka ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan berjalan keluar rumah. Saat ia berada di lapangan, ia melihat teman-temannya sedang bermain bola. Tiba-tiba bola yang ditendang salah satu teman Aruna mengenai kakinya. Lalu salah satu teman Aruna yang lain berteriak meminta Aruna untuk menendang bola ke arahnya. Namun Aruna tidak mau, ia merasa kesal. Akhirnya ia pulang. Saat dirumah ibunya bertanya, mengapa ia terlihat kesal. Ia tidak menjawab pertanyaan ibunya itu. Setelah itu ibunya pergi. Aruna merasa bersalah. Lalu ia mencari ibunya untuk meminta maaf. Kemudian ia menceritakan apa yang dialaminya. Ibunya memberi nasihat padanya, bahwa ia harus menjadi Aruna yang dulu. Aruna yang selalu ceria, tidak mudah marah dan selalu bersemangat. Berkat dukungan dari ibunya, akhirnya Aruna memutuskan untuk kembali menulis puisi seperti dulu. Ceritanya sangat menginspirasi bukan? Melalui alur cerita ini, Else Liliana mampu menggambarkan sosok Aruna. Anak yang mudah merasa bersalah, baik hati dan mudah tersinggung. Berkat nasihat yang diberikan ibunya, Aruna menjadi bersemangat dan berusaha menjadi Aruna yang dulu. Walaupun keadaan telah berubah, namun semangat dan keceriaan harus tetap terpancar seperti dulu. Supaya kita dapat membuktikan bahwa orang yang mengalami cacat fisik dapat meraih prestasi. Setiap orang memiliki kekurangan, namun hal tersebut tidak boleh menghambat semangat dan cita-cita kita. Kekurangan tersebut dapat kita tutup dengan kelebihan yang kita miliki. Jadi buku ini sangat menarikkan untuk di baca? Keunggulan dari buku ini adalah bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami ditambah dengan adanya ilustrasi gambar, sehingga dapat menarik perhatian anak-anak. Buku ini memiliki halaman yang sedikit, jadi anak-anak akan merasa tidak cepat bosan saat membaca buku ini. Buku ini juga memiliki kekurangan yaitu buku ini hanya memiliki sedikit gambar. Dalam buku ini setiap bab hanya terdapat satu gambar saja. Gambar yang terdapat dalam buku ini bukanlah ilustrasi kartun, namun ilustrasi seperti gambaran tangan manusia. Cerita buku ini memiliki alur maju-mundur, jadi perlu pemahaman dalam membaca buku ini. Maka perlu adanya pengawasan dari orang tua saat anak merasa kebingungan dalam membaca buku ini. Buku ini memiliki kisah yang sekilas mirip dengan Hafalan Shalat Delisa. Keduanya sama-sama bercerita tentang seorang anak yang kehilangan salah satu kakinya karena musibah bencana alam yang menimpa mereka. Perbedaannya adalah buku Aruna ini khusus dibaca untuk anak-anak, serta buku ini memiliki halaman yang sedikit. Sedangkan buku Hafalan Sholat Delisa merupakan sebuah novel yang dapat dibaca oleh remaja sampai orang dewasa. Buku berjudul Aruna ini sangat cocok dibaca oleh anak-anak berusia Sekolah Dasar hingga remaja. Buku in dapat dijadikan sebagai literasi belajar bagi siswa. Cerita dalam buku ini mengandung berbagai nilai kehidupan dan sangat inspiratif. Jadi tidak ada alasan untuk tidak membaca buku inikan

    Teman Baru Aruna

    No full text
    Buku ini adalah salah satu judul dari Seri Aku Suka Membaca yang dipersembahkan untuk anak-anak yang baru belajar membaca. Anak-anak menikmati petualangan Aruna dan teman-temannya yang suka membaca. Aruna mendapat teman baru secara tak terduga. Teman barunya itu juga punya hobi yang sama dengan Aruna. Apa hobinya? ayo kita cari tahu..32 hlm; 25 c

    TRANSFORMASI DARI NOVEL ARUNA DAN LIDAHNYA KARYA LAKSMI PAMUNTJAK KE FILM ARUNA DAN LIDAHNYA SUTRADARA EDWIN

    Get PDF
    Pungkas Yoga Mukti. 2021. “Transformasi dari Novel Aruna dan Lidahnya Karya Laksmi Pamuntjak ke Film Aruna dan Lidahnya Karya Edwin” SKRIPSI. Pembimbing I Dra. Zurmailis, M. A. dan Pembimbing II Drs. Fadlillah, M. Si. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis karena novel ini mengangkat soal kuliner yang ada di Indonesia, memberi sebuah arti positif mengenai kuliner lokal. Mengungkap fakta sosial budaya dan sejarah lokal dalam segi kuliner, dimana kesan seseorang tidak lepas dari makanan. Makanan menjadi sebuah paham dalam pemikiran manusia. Serta dibumbui isu-isu politik dalam penjelajahan kuliner tokoh Aruna. Permasalahan yang di bahas pada skripsi ini bagaimana transformasi ideologi dalam adaptasi novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak ke Film Aruna dan Lidahnya karya Edwin. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai bagaimana transformasi ideologi dalam adaptasi novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak ke Film Aruna dan Lidahnya karya Edwin. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori adaptasi dari Linda Hutcheon. Teori ini digunakan untuk menemukan dan menjelaskan dari adaptasi cerita dan trasformasi ideologi dari kedua media novel dan film. Penulis juga menambahkan teori Orientalisme dari Edward W. Said. Teori tersebut digunakan untuk menganalisis ideologi orientalisme Laksmi dan Edwin dalam menggambarkan kuliner Indonesia (Timur) dan internasional (Barat). Adapun metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data tertulis dari teks yang mengacu pada masalah sosial. Teknik yang digunakan adalah pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Setelah melakukan penelitian, dapat disimpulkan bahwa Transfromasi yang terjadi antara adaptasi dari novel Aruna dan Lidahnya ke Film Aruna dan Lidahnya adalah Penokohan, Latar dan Alur Cerita. Sedangkan transformasi ideologinya adalah paham orientalisme dalam penggambaran kuliner antara novel dan film. Di dalam novel, Laksmi melebihkan kulier luar (Barat) dan cenderung merendahkan kuliner Indonesia (Timur). Sedangkan di film, paham tersebut dibalikkan. Justru kuliner lokal mendapat porsi yang lebih banyak. Kata kunci: Adaptasi, Laksmi Pamuntjak, Edwin, novel, film, Aruna dan Lidahny

    Drawida aruna Julka 1981

    No full text
    2. Drawida aruna Julka, 1981 Drawida aruna Julka, 1981: 4. T. Seiom, district Subansiri, Arunachal Pradesh, India. D. Arunachal Pradesh: Taliha (Julka 1981), Siki (Julka 1981), Ayumuring (Julka 1981), Orak (Julka 1981), Doginalo (Julka 1981).Published as part of Tiwari, Nalini, Paliwal, R., Rashid, Azhar & Yadav, Shweta, 2020, Checklist of earthworm species (Oligochaeta) of the North Eastern Region of India, pp. 277-305 in Zootaxa 4772 (2) on page 279, DOI: 10.11646/zootaxa.4772.2.3, http://zenodo.org/record/397478

    Mai wa Aruna (Mother of Aruna)

    No full text
    A traditional song, sung after a party. No one knows who the mother of Aruna might have been. The song has been sung for over 30 years to my certain knowledge and is likely to be much older. Traditional song with "Mbira Huru"

    Representasi Kuliner Indonesia Dalam Film Aruna & Lidahnya

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji representasi kuliner Indonesia dalam film Aruna & Lidahnya. Film ini membahas mengenai kuliner khas dari beberapa daerah di Indonesia. Representasi kuliner indonesia ditunjukkan melalui petualangan kuliner yang dilakukan Aruna dan teman-temannya untuk memuaskan keinginan demi mendapatkan citarasa, resep dan gaya makan baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis semiotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuliner daerah ditampilkan sebagai kuliner yang mengagumkan dan tidak mudah dilupakan. Kuliner daerah dicitrakan sebagai kuliner pinggiran, kuliner kelas bawah. Representasi kuliner Indonesia dalam film Aruna & Lidahnya menunjukkan bahwa kuliner Jakarta memiliki kelas yang lebih tinggi dibandingkan kuliner khas beberapa daerah yang disebutkan dalam film

    Essential Cases: Land Law

    No full text
    Essential Cases: Land Law provides a bridge between course textbooks and key case judgments. Essential Cases provides you with succinct summaries of some of the landmark and most influential cases in land law. Each summary begins with a review of the main case facts and decisions. The summary is then concluded with expert commentary on the case from the author, Aruna Nair, including her assessment of the wider questions raised by the decision.</p
    corecore