162 research outputs found

    Perancangan Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Tunai Pada UMKM Dedi Tani

    Get PDF
    This final report is entitled "Design of Cash Sales Accounting Information System at UMKM Dedi Tani". UMKM Dedi Tani is a type of business that operates in the field of fertilizer and pesticide trading. This report aims to design and implement a computerized cash sales accounting information system based on Microsoft Access at UMKM Dedi Tani, in order to make it easier for UMKM to find out the amount of revenue based on the type of product and the amount of cash received from these cash sales. The author collects primary data obtained from interviews with employees regarding the sales accounting system that has been implemented at this time. The Dedi Tani UMKM cash accounting information system has several weaknesses such as manual recording which is no longer effective as many buyers, difficulty in making sales recaps, difficulty knowing exactly which types of goods have increased sales and provide high profits and which goods have decreased and provide low profits. Finally, the author concludes that the design of the Dedi Tani UMKM cash sales accounting information system application goes through the stages of analyzing the old system with designing a new computerized system, designing applications, and testing application results that have outputs in the form of a new system.Keywords: Accounting Information System, and Microsoft Acces

    WISRAN HADI, REPRESENTASI PADRI, & SUARA-SUARA MODERASI: TELAAH ATAS EMPAT NASKAH SANDIWARA

    No full text
    Artikel ini menelaah empat lakon sandiwara yang terkumpul dalam Empat Lakon Perang Paderi karya Wisran Hadi. Empat lakon ini berbicara tentang suatu periode penting (lagi krisis) dalam sejarah Islam di Minangkabau. Menggunakan pendekatan neo-historisisme, artikel ini melihat gagasan moderasi Islam yang diusung pengarangnya dalam citra-citra tentang tokoh-tokoh Padri yang ditampilkan pada keempat lakon. Menjawabnya sekaligus akan memperlihatkan wacana keislaman yang diketengahkan Wisran Hadi di dalamnya. Dari hasil pengkajian ditemukan bahwa keempat lakon ini merupakan representasi Wisran atas keempat tokoh Padri (tokoh-tokoh utama Padri: Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol, & Tuanku Sembahyang). Representasi Wisran atas mereka tampak punya garis yang sewarna: representasi Padri yang korektif dan evaluatif atas keradikalan gerakan yang dicetuskan dari dan oleh kalangan mereka sendiri. Di tengah bangkitnya radikalisme agama dan kekerasan atas nama Tuhan, Wisran tetap memenangkan akal-sehat, kewajaran, dan kepatutan sebagai puncak dari praktik menuju kebenaran. Yang dimenangkannya, dalam konteks ini, adalah suara-suara tokoh-tokohnya yang moderat yang menawarkan jalan-jalan akomodatif untuk mengubah masyarakat, sementara suara-suara yang menginginkan perubahan cepat dengan gerakan kekerasan sebagai pilihan dibuatnya acap tidak berdaya di hadapan suara-suara yang pertama. Tokoh-tokoh radikal mengakui kekeliruan dari kekerasan tindakan mereka dan ‘menyerah’ bersalah di hadapan suara-suara yang lebih moderat. Representasi itu terhubung dengan latar sosial dan politik (semangat zaman) ketika keempat lakon itu ditulis dan terhubung pula dengan latar belakang pengarangnya secara biografis

    KAUM KOMUNIS DAN ISLAM REFORMIS DALAM ROMAN-ROMAN ABDOELXARIM M.S.

    Get PDF
    In this article, the image of communists and the ideas of reformist Islam is discussed in the two novels of Abdoelxarim, namely Pandoe Anak Boeangan and Hadji Dadjal. Using a neohistorical approach, the author sees the image and views carried by the two novels related to communism and Islamic reformism in the context of its presence amid Indonesian social reality before the Pacific War. The result is the first novel represents an ambivalent image of the communist, i.e. they wants class equality but at the same time maintain ethnic discrimination and also fight for great socialism, but also explain the suffering of personal love life. Meanwhile, the second novel echoes the ideas of Islamic reformists in terms of ijtihad and the use of rational reasoning in religion which is opposing pilgrimage to the graves of saints and sacred scholars such as rejecting the sayyid, habib, and sheikh cults - the Arab cult as the most authoritative translating Islamic teachings. They also revile the practices of haul and festivity for death. The two novels relate to the historical reality of Indonesia before the Pacific War at a time when Islamic reform/ reform was rising in tandem with the emergence of communists in the movement arena. In addition, the novel also relate to Xarim himself who was one of Sumatra's main communist activists and familiar with the absorption of reformist ideas. Abstrak: Dalam artikel ini dibahas citra kaum komunis dan gagasan Islam reformis dalam  dua roman Abdoelxarim, yaitu Pandoe Anak Boeangan dan Hadji Dadjal. Dengan menggunakan pendekatan neohistorisisme, melalui artikel ini penulis melihat citra dan pandangan yang diusung kedua roman itu terkait dengan komunisme dan reformisme Islam dalam konteks kehadirannya di tengah realitas sosial Indonesia sebelum Perang Pasifik. Hasilnya adalah roman pertama merepresentasikan citra komunis yang ambivalen; menginginkan kesetaraan kelas, tetapi pada saat yang bersamaan memelihara diskrimatif etnis; serta memperjuangkan sosialisme yang agung, tetapi juga memaparkan derita percintaan personal. Sementara itu, roman kedua menggemakan ide-ide kaum reformis Islam bersoal ijtihad dan penggunaan akal yang rasional dalam beragama; menentang ziarah ke makam wali dan ulama keramat; menolak kultus sayyid, habib, dan syekh—kultus Arab sebagai yang paling otoritatif menerjemahkan ajaran-ajaran Islam; dan mencerca praktik haul dan kenduri untuk kematian. Kedua roman tersebut berkait dengan realitas historis Indonesia sebelum Perang Pasifik pada saat pembaruan/reformasi Islam sedang menanjak naik beriringan dengan kemunculan kaum komunis di gelanggang pergerakan. Selain itu, roman tersebut berkait juga dengan Xarim sendiri yang merupakan salah seorang aktivis komunis Sumatra yang utama, tetapi juga akrab dengan penyerapan ide-ide kaum reformis

    THE FALL OF SAWAHLUNTO (Studi tentang Pengaruh Gejolak Ekonomi-Politik Global terhadap Perkembangan sebuah Kota Lokal, 1930-1940an)

    Get PDF
    Sawahlunto is a mining town that enjoyed the glory due to coal exploitation by the Dutch colonial government which began in the 1880s. But in the early 1930s to the end of the 1940s, triggered by successive world economic crises (malaise) and various political upheavals during and some time after the Pacific War, this city has experienced a number of long downturns. This paper looks at the effect of economic decline and political turmoil on a city, in this case the City of Sawahlunto as a mining city. Using modern historical methods (historiography, interpretation, interpretation and writing), with an approach to the history of the city, this article reveals several things: First, in the 1930s, due to the world's crisis, coal production was dimming, this caused no new development of the city. Second, in 1942 the Pacific War took place, Japan ruled over the mining company, and Sawahlunto became worse off. Third, after Indonesia gained its independence until the end of the 1960s, Sawalunto did not receive significant improvements, except for a few rebuilt infrastructures. Thus, economic sluggishness and political riot at the global [and national] level have had a direct influence on a city at the local level

    Yang Tersingkap Dan Yang Tersungkup: Perang Padri Dan Implikasinya Terhadap Pakaian Keseharian Perempuan Minang-Muslim Pada Awal Abad XIX

    No full text
    Pakaian adalah kulit sosial, kehadirannya merepresentasikan masyarakat, dan perubahannya menggambarkan perubahan masyarakat. Artikel ini membahas perubahan corak dan cara berpakaian perempuan Minangkabau sejak masa pra-Padri hingga kemunculan modernitas lewat kehadiran kolonialisme Barat. Selama kurun itu, pakaian perempuan Minangkabau telah mengalami transformasi dalam aspek cara dan corak, perubahan itu mengikuti perubahan social: terbuka dan sangat sederhana pada periode sebelum Padri; cenderung penuh gaya ketika ekonomi menaik menjelang Padri; hingga sangat tertutup dan sederhana atas dorongan Padri; pasca-Padri adalah masa yang kompromistis yang terbuka untuk inovasi tetapi tetap mendasarkan pada prinsip syar’iyyah; sementara kehadiran Barat memberi anasir-anasir baru berupa rok dan kemeja, juga topi. Di atas kulit tubuh perempuan Minangkabau, terdapat berlapis-lapis anasir: kreasi lokal, Islam puritan & modernis sekaligus, juga Barat.    

    PENYEBARAN WABAH DAN TINDAKAN ANTISIPATIF PEMERINTAH KOLONIAL DI SUMATRA’S WESTKUST (1873-1939)

    Get PDF
    Disease outbreaks (epidemics) affects human life broadly, overhauling the order of a society, and change thehistory. This paper discusses how the spread of epidemics in West Sumatra (Sumatra's Westkust) and treatment(anticipatory action) of the colonial government in the period 1873-1939. Epidemics that plague the WestSumatra during this period was recorded variously: smallpox, cholera, dysentery, beriberi, tuberculose, andinsanity (kringzingen). Outbreaks are caused by an unhealthy environment, poor dreinase, and low publicimune system. This aspect is compounded by social, economic and political unstablity. Anticipatory action takenby the colonial government by sending medical staffs to spot infected, reproduce vaccine, evacuate and relocatepatients to a more sterile, complete equipments in the hospital, and build additional hospitals

    PENJARA DI PADANG (1824-1942)

    No full text
    Apalagi, sebagai penjara yang terletak di Sumatera Barat, di daerah yang menjadi basis etnik Minangkabau bermukim, Penjara Padang semakin penting artinya. Arti penting itu di antaranya bahwa mengkaji Penjara Padang dapat menjadi pintu masuk untuk melihat dinamika politik dan sosial kawasan ini pada masa kolonial. Dunia penjara diasumsikan akan merefleksikan pula kehidupan masyarakat di bawah tekanan rezim politik yang hegemonik. Apalagi, Sumatera Barat sebagai kawasan di mana berbagai bentuk perlawanan terhadap kekuasaan kolonial berlangsung hampir sepanjang periode, maka fungsionalisasi dan aktualisasi penjara tentu tidak dapat diabaikan. Apalagi dalam kenyataannya penjara merupakan model baru dalam konsepsi hukum masyarakat Minangkabau. Penjara dalam masyarakat Minangkabau pra-kolonial diasumsikan nyaris tidak ada. Masyarakat Minangkabau sesungguhnya bukan masyarakat yang mengenal sistem ini. Tan Malaka mengatakan, “Minangkabau adalah masyarakat tanpa penjara!”14 Otomatis periode kolonial Belanda bagi perjalanan sejarah Minangkabau adalah periode awal pengenalan penjara dan sistem pemenjaraan terhadap epistem mereka. Di tengah masyarakat yang sebelumnya tidak punya tradisi memenjarakan manusia, tentu saja penjara tidak serta-merta bisa diterima. Diasumsikan akan ada tahap-tahap penentangan dan kompromisasi. Munculnya reaksi dari orang Minangkabau atas kebijakan yang datang dari luar itu adalah niscaya. Orang Minangkabau akan merefleksikan konsepsi yang ‘ditimpakan’ kepada mereka oleh tangan penguasa asing itu dengan berbagai cara.15 Melihat pada hal yang di atas, maka tulisan ini melihat bagaimana dunia penjara di Minangkabau, terkhusus Penjara Padang pada masa kolonial Belanda. Untuk itu, penelitian ini diberi judul: “Penjara di Padang (1824-1942)

    Sudut Pandang Indonesia atas Periode Kamp, 1942-1945

    Get PDF
    Periode Jepang di Indonesia (1942-1945) bagi kebanyakan orang Eropa dan Indo-Eropa di Indonesia dikenang sebagai Periode Kamp, sebuah periode yang disebut-sebut sebagai periode yang “membingungkan sekaligus mengerikan”. Selama periode ini hampir seluruh orang Eropa dan Indo-Eropa yang ada di Indonesia dimasukkan ke dalam kamp-kamp tawanan/kerja paksa yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Periode ini tampak begitu membekas dalam ingatan mereka, terutama bagi yang pernah merasakan langsung diinternir. Tulisan ini menelaah bagaimana pandangan (sudut pandang) orang Indonesia tentang interniran Eropa dalam kamp Jepang, dengan menelaah dua karya dengan topik tersebut yang ditulis orang Indonesia: sebuah otobiografi dengan tajuk Sebastian Tanamas, Tak Menggantang Asap: Otobiografi Seorang Pejuang dan Pengusaha Industri Kerajinan, dan sebuah roman berjudul Dan Perang pun Usai. Penyusunan tulisan ini menggunakan metode penyusunan yang dikenal pada umumnya dalam metode penyusunan sejarah modern, yaitu meliputi empat tahapan: heuristik berupa pengumpulan bahan/sumber, kritik sumber berupa kritik intern-ekstern, interpretasi, dan penulisan dalam bentuk historiografi.Kata kunci: Sudut pandang, Periode Kamp, Jepang
    corecore