1,721,021 research outputs found

    MADRASAH: BASIS EPISTEMOLOGI HUMANISTIK-RELIGIUS

    Full text link
    MADRASAH: THE BASIS OF HUMANISTIC-RELIGIOUS EPISTEMOLOGY. In anthropocentrism modernity, which is often called humanism, it is assumed that life is not centered on God or gods, but in humans. This western epistemology has been criticized by the westerners themselves.  Nietzshe and Capra stated that Western civilization has been destroyed due to overly laud the ratio. The purpose of the research is to find the solution of the modern human’s problem. The research method used is library method and analyzed by philoshophy approach. The result shows that madrasah is the way out of the humanity problems. It means that madrasah education system could be a solution to the crisis of modern human. The madrasah epitemology is humanistic-religious. From the design model, madrasah is better than public schools since the general knowledge given in madrasah is totally the same as in public schools, the advantage lies in the Islamic system. Madrasah graduates are expected to have the equal general knowledge with the public school graduates but should be better in a level of religiosity

    HUMANISME PROGRESIF DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

    Full text link
    This paper tries to simplify the schools of philosophy of education into three mainstreams only: constructivism, leberalism and anarchism, it is also to pave the way that enables philosophy of Islamic education play its role by finding out the interplay among those three mainstreams and then analysing them in the context of Islam. Those three share the same conceptions regarding religiosity/tawheed and humanism/ good deeds. When the two points are confronted with the issues of education and community, new challenges emerge: that is, the philosophy of Islamic education except religious and humanist must also be progressive in advancing civilization through the spirit of diversity that exists within a nation or between nations. Philosophically, the result of the synthesis is called progressive humanism philosophy of Islamic education. The approach and methods used in this paper is a content analysis of the philosophical and theological education. Philosophical education analyzed is O\u27neil thought about educational ideologies. Theological analysis used as tool of analysis is Abu Zaid‟s thought (2003) regarding the importance of reasoning power of the word of God which is then grounded by Setiawan (2012) as a Progressive Islam

    Mendamaikan Sains dan Agama: Mempertimbangkan Teori Harun Nasution

    No full text
    The development of science in the Islamic universities requires strong philosophical,ontological, epistemological, and axiological base. The formulation of epistemologycan not be negotiable. From the thought of Harun Nasution, it can be said that “thesource of religion is revelation and the source of knowledge is God’s natural law calledthe sunatullah”. Both come from one source, namely Allah. So between the revelationand sunatullah can not be put into contradiction. Ayat al-kawniyah in the Quran hasencouraged the classic Islamic scholars to study and observe the natural surroundings.The implication of this theory is that any special methodology is not needed to developthe current science. Furthermore Harun said, “because Islam is a religion and culture,and the culture is more than religion, a different research method may not necessary thanthe commonly used.

    Perbedaan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ski Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperativ Tipe Jigsaw Kelas VIII di MTS Swasta Tarbiyah Islamiyah Canduang

    Full text link
    Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas VIII MTs Swasta Tarbiyah Islamiyah Canduang menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam masih rendah, karena model pembelajaran yang digunakan guru masih monoton. Salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah ada perbedaan antara aktifitas dan hasil belajar siswa ketika menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan model konvensional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara aktivitas dan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan menggunakan model pembelajaran konvensional di kelas VIII MTs Swasta Tarbiyah Islamiyah Canduang pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen jenis The Static Group Comparison. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII  MTs Swasta Tarbiyah Islamiyah Candung yang berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan angket skala likert dan test dengan soal. Data dianalisis menggunakan uji t independen sampel test dengan bantuan program  Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada kelas eksperimen berkisar 83-87 yang terkategori sering bertanya dan memberikan jawaban dengan rata-rata 84,81. Sedangkan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif learning tipe jigsaw mendapatkan hasil berkisar antara interval 7-8 yang terkategori baik, dengan persentase 63%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran SKI yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terdapat perbedaan yang signifikan dengan penerapan model pembelajaran konvensional, dengan nilai perolehan dari hasil uji T independen sampel t-test Sig. (2 Tailed) 0,005 < 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan. Sedangkan pada data hasil belajar diperoleh nilai uji t, yaitu nilai Sig. (2 Tailed) 0,010 < 0,05. Maka kesimpulannya ketika nilai pengujian independen sampel t-test kecil dari 0,05, maka Ha di terima, dan Ho di tolak

    Urgensi Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an di Era 4.0

    Full text link
    Latar belakang dari penelitian ini adalah fenomena semangat mempelajari dan menghafal Al-Qur’an yang terus mengalir sangat kita rasakan pada saat sekarng ini. Dimana kita temui rumah-rumah Tahfidz serta lembaga yang menjadikan tahfidz sebagai program unggulan. Meski demikian, tidak bisa dibandingkan dengan kesukaan generasi muda yang memiliki hobi bermain android dan Internet. Zaman milenial yang kita kenal dengan era 4.0 merupakan sebuah perkembangan teknologi yang pesat. Membuat manusia terlena dan bisa lupa dengan keharusannya sebagai umat muslim. Pembuktian dengan terlenanya manusia dengan android dibuktikan dengan segala urusan selalu berhubungan dengan internet. Perkembangan zaman tidaklah salah bahkan, mempermudah pekerjaan manusia namun, jika tidak dibatasi maka tidak akan baik untuk lingkungan manusia. Dengan perkembangan zaman maka hendaknya lah kita menguatkan pondasi kehidupan kita. Khususnya dibidang keagamaan. Pembelajaran tahfidz al-Qur’an menjadi salah satu program yang bisa dijadikan acuan pada era 4.0 ini. Seorang penghafal al-Qur’an membuktikan bahwa bukan hanya dunia yang harus kita turuti namun jugadiselaraskan dengan kecintaan kita kepada akhirat. Pembelajaran Tahfidz al-Quran adalah pendidikan yang mengupas masalah al-Quran dalam makna  membaca (tilawah), memahami (tadabbur), menghafal (tahfidz) dan mengamalkan serta mengajarkan atau memeliharanya melalui berbagai unsur. Pembelajaran Tahfidz al-Quran bukan hanya tentang menghafal tapi diharapkan juga menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran yang akan terlihat dalam sikap dan aktivitas peserta didik di mana pun dia berada. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research)  yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, serta mengolah bahan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian penulis di ketahui bahwa, meskipun era yang terus berkembang pada zaman sekarang ini yaitu era 4.0 diharapkan pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an tetap mempertahankan eksistensinya dengan memperhatikan peserta didik yang modern, pendidik yang memperhatikan materi, metode dan strategi  pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an, lembaga modern, dan masyarakat modern.. Begitupun di era 4.0 ini. Tidak mengubah urgensi pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an itu sendiri. Pada era 4.0 teknologi yang berkembang menjadi sebuah perubahan yang positif agar memudahkan pendidik dalam memvariasikan pembelajaran Tahfidz untuk peserta didik

    Penerapan Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran PAI

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi dan informasi menjadikan kemajuan pada pendidikan pada saat sekarang ini, dengan berkembangnya teknologi guru dapat mudah dalam menyampaikan materi pembelajaran dikelas dan hal ini juga dapat membantu murid dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran berbasis multimedia interaktif dalam pembelajaran PAI yang menggunakan PPT sebagai multimedia interaktif yang diterapkan dikelas V dalam pembelajaran kisah Keteladanan nabi Daud a.s di SD 18 Tangah Koto. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang mendeskripsikan suatu objek fenomena atau sosial yang dituangkan dalam tulisan yang bersifat naratif yang dalam penulisanya berupa data dan fakta yang dihimpun kata atau gambar.Untuk mengumpulkan data dilapangan, data yang didapat dalam penelitian ini dari mengumpulkan informasi dari observasi, dokumentasi dan wawancara dengan guru PAI dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan multimedia interaktif dalam pembelajaran merupakan media pembelajaran yang berbasis teknologi yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran yang media tersebut terdapat elemen-elemen yang penting dalam penerapanya yakninya adanya media visual (media yang dapat dilihat), audio (media yang yang dapat didengar), audio visual (media yang dapat dilihat dan didengar), multimedia ini diterapkan oleh guru agar menciptakan susasana pembelajaran yang menarik dan inovatif agar siswa dapat meningkatkan minat dalam pembelajaran. Penerapan multimedia interaktif dalam pembelajaran tidak hanya berfokus pada pembelajaran menggunakan media tetapi juga adanya interaksi antara guru dan siswa dapat.  Menciptakan pembelajaran yang aktif dengan mengajak siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan multimedia interaktif dalam pembelajaran PAI di kelas V, hal ini dilakukan agar tercapai tujuan pembelajaran secara meksimal

    Paradigma Keilmuan PAI Menurut M. Amin Abdullah

    Full text link
    Pendidikan agama Islam memiliki kedudukan yang sangat vital dalam diskursus keilmuan dalam rangka mewujudkan generasi Islam yang kompatebel sesuai dengan tuntunan syariatnya dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Persoalan pendidikan agama Islam muncul kepermukaan ketika dihadapkan dengan berbagai paradigma. Permasalahan dikotomi keilmuan, metodologi, kurikulum dan muatan materi pendidikan agama Islam cenderung selfish, stagnation, linear dan normative. Jika pendidikan Agama Islam bertahan dan komitmen dengan pandangan yang demikian, maka pendidikan agama Islam belum menjadi resolution dalam menjawab berbabagai tantangan kontemporer. Pemikiran seperti ini memiliki keunikan pada intelektual muslim Indonesia M. Amin Abdullah. Sehingga sangat diperlukan penelitian dalam bentuk Tesis ini dengan rumusan sebagai berikut. Bagaimana paradigma keilmuan PAI menurut M. Amin Abdullah? Bagaimana implikasi pemikiran M. Amin Abdullah dalam pendidikan agama Islam? dengan tujuan untuk mengetahui Paradigma keilmuan PAI Menurut M. Amin Abdullah dan untuk mengetahui Implikasi pemikiran M. Amin Abdullah dalam pendidikan Agama Islam. Jenis penelitian ini library research karena itu penelitian ini bersifat diskriftif- analitik dengan pendekatan filosofis. Metode analisis data mendunakan interpretasi analisis dengan pola deduktif dan induktif. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini tentang paradigma keilmuan PAI menurut M. Amin Abdullah dapat disumpulan bahwa. Perlu upaya rekonstruksi kurikulum, metodologi dan materi dengan berbagai pendekatan keilmuan. Pendidikan agama Islam tidak seharunya hanya menekankan pada aspek doktinal-teologis, tetapi harus memperhatikan kondisi historis yang mengitarinya di era kontemporer. Secara kelembagaan implikasi pemikiran M. Amin Abdullah memilik pengaruh yang cukup signifikan terutama pada pendidikan Islam secara umum di berbagai perguruan tinggi Islam. oleh sebab itu pemikirannya banyak dijadikan rujukan oleh banyak kalangan, dosen, guru, peneliti, pemerhati pendidikan, dan akademiki perguruan tinggi Islam dan umum, negeri maupun swasta

    Perspektif Islam Dan Barat Dalam Paradigma Aksiologi Pendidikan Islam

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penanaman nilai (aksiologi) sebagai fondasi pembentukan karakter dalam pendidikan, serta adanya perbedaan mendasar antara paradigma Islam yang menekankan nilai-nilai transendental dan pembentukan insan kamil dengan paradigma Barat yang mengutamakan rasionalitas, kebebasan individu, dan relativitas nilai. Dengan menggunakan metode kualitatif studi literatur—meliputi telaah pustaka terhadap buku filsafat pendidikan Islam dan Barat, jurnal ilmiah, serta artikel akademik—data dianalisis secara deskriptif-kritis untuk membandingkan konsep, sumber, dan tujuan nilai dalam kedua perspektif. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan Islam mengintegrasikan nilai spiritual, moral, dan sosial dari wahyu dan tradisi ilmiah Islam untuk membentuk karakter berakhlak mulia, sedangkan paradigma Barat berorientasi pada pembentukan kemampuan berpikir kritis, adaptasi konteks sosial, dan inovasi metodologis melalui pendekatan humanisme, pragmatisme, eksistensialisme, dan liberalisme. Analisis komparatif mengungkap kelebihan dan kelemahan masing-masing pendekatan—kekuatan Islam dalam kohesi moral dan spiritual serta Barat dalam responsivitas terhadap dinamika modern—yang apabila diintegrasikan secara kontekstual dapat menghasilkan model pendidikan holistik dan relevan bagi tantangan global abad ke-21

    Perbedaan Motivasi Belajar Bahasa Arab Mahasiswa PAI

    Full text link
    Students' motivation is various and not sufficient, meanwhile Arabic is an obligation in the program of study PAI.This research determined the Arabic language learning motivation based school origins of the Islamic Education Study Program. The approach used is comparative quantitative. The population is 200 students. While data analysis used anova analaysis.The results found that the Arabic learning motivation of the students who graduated from Senior High Schools was categorized as moderate, S. The obtained percentage for this category was 70.62%. On the other hand, the students who graduated from Islamic Senior High School were categorized as high, T. The obtained percentage was 74.27%. The hypothesis test obtained a significant difference, indicated by the probability value of 0.017, lower than 0.05. The result asserted that guidance and counseling service was important to improve the Arabic learning motivation for the students of Islamic Study Program

    DEKONSTRUKSI HEGEMONI ‘NATIVE SPEAKER’: ANALISIS POSTMODERN TERHADAP TANTANGAN DAN HARAPAN PENGAJARAN BAHASA INGGRIS DI ERA GLOBALISASI

    No full text
    The global use of English as a lingua franca has fundamentally transformed the role of English in education. However, English Language Teaching (ELT) practices in Indonesia remain largely influenced by native speakerism, an ideology that positions native speakers as the ultimate linguistic and pedagogical authority. This study aims to critically examine the hegemony of native speakerism in ELT through a postmodern philosophical perspective, with particular attention to English as a Lingua Franca (ELF) and World Englishes. Using a conceptual–philosophical research design, this study analyzes recent international journal articles published within the last ten years as primary data sources. The analysis focuses on three dimensions: the manifestation of native speakerism in ELT practices, its epistemological and ontological implications for teacher and learner identities, and alternative paradigms offered by ELF and World Englishes. The findings reveal that native speakerism operates as a normalized ideological structure through linguistic standards, cultural representations, and institutional practices, leading to epistemic injustice and identity marginalization of non-native English users. Furthermore, ELF and World Englishes provide a more inclusive framework by emphasizing intelligibility, plural linguistic norms, and the legitimacy of local English varieties. This study concludes that deconstructing native speakerism is essential for developing a more equitable, context-sensitive, and pedagogically relevant English education in Indonesi
    corecore