1,721,010 research outputs found

    Strategi Pengembangan Manajemen Teknologi Galangan Kapal Koperasi Pegawai Negeri Dinas Perikanan (KPNDP) DKI Jakarta di Muara Angke

    No full text
    Kapal adalah salah satu faktor penting dalam unit penangkapan ikan dan menentukan keberhasilan operasi penangkapan ikan. Galangan kapal merupakan unsur penunjang untuk memenuhi kebutuhan kelaikan kapal pada saat melaut. Kegiatan yang dilakukan di galangan kapal yaitu kegiatan perawatan kapal beserta mesinnya, yang bertujuan untuk menjaga agar kondisi kapal tetap baik. Galangan kapal di daerah Muara Angke sejumlah empat galangan namun harus mampu menangani kapal di sekitar wilayah Muara Angke. Keberadaan galangan kapal belum bisa mengakomodir kapal yang ada sehingga timbul antrian kapal dalam galangan. Galangan kapal Koperasi Pegawai Negeri Dinas Perikanan (KPNDP) DKI Jakarta di Muara Angke Jakarta adalah galangan kapal yang melayani perawatan untuk kapal ikan. Kajian Kurniawati (2011) menyebutkan galangan kapal ini sudah memiliki tingkat teknologi yang berada pada tingkat semi modern, namun antrian kapal yang masih cukup panjang belum bisa teratasi. Keberadaan persaingan global, galangan kapal KPNDP Muara Angke dihadapkan pada penentuan strategi dalam pengelolaan usahanya. Penentuan strategi akan dijadikan sebagai landasan perbaikan dan efisiensi dalam pengembangan teknologi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi struktur jaringan kerja, menentukan jalur kritis dan mengetahui efektifitas proses perbaikan kapal serta merumuskan strategi pengembangan manajemen teknologi galangan kapal KPNDP Muara Angke. Penelitian ini dilaksanakan bulan November hingga Desember 2014 di galangan KPNDP. Data yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk menganalisis jaringan kerja dengan metode jalur kritis dan untuk merumuskan strategi melalui metode balanced scorecard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan kapal ringan dapat diselesaikan selama 5 hari dan memiliki efektivitas 98% dibandingkan waktu yang dialokasikan oleh galangan. Perbaikan berat dapat diselesaikan selama 10 hari, lamanya perbaikan ini dipengaruhi dengan kerusakan mesin yang membutuhkan proses perbaikan yang lama. Penilaian kinerja dilihat berdasarkan 4 perspektif, yaitu perspektif finansial, pelanggan, bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan. Nilai tersebut digunakan untuk melihat sejauh mana kegiatan perbaikan kapal yang selama ini dilakukan pihak galangan dengan target yang diinginkan galangan. Analisis hasil penilaian kinerja didapatkan hasil sebesar 73 atau berada pada wilayah sedang. Perlu dilakukan perbaikan-perbaikan agar kinerja galangan kapal KPNDP menjadi lebih baik. Berdasarkan penilaian kinerja tersebut menghasilkan 10 rumusan strategi yang dapat dilaksanakan oleh pihak galangan guna meningkatkan pengembangan manajemen teknologi pada galangan kapal

    PROPORSI HASIL TANGKAPAN TRAMMEL NET PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN INDRAMAYU

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2017 di perairan Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar proporsi udang hasil tangkapan utama dan by-catch  dengan menggunakan alat tangkap trammel net di perairan Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan analisis deskriptif. Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi data sekunder dan data primer. Data sekunder berupa informasi yang diperoleh dari Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Indramayu. Pengambilan data primer dilaksanakan secara langsung melalui pengamatan di lapangan dengan mengamati hasil tangkapan yang diperoleh nelayan Desa Limbangan dan informasi tambahan dari nelayan setempat. Data primer diperoleh dengan mengikuti 15 kali trip (15 kali setting dan 15 kali hauling) pada kedalaman berbeda. Data yang diperoleh dicatat berdasarkan jenis hasil tangkapan, jumlah, ukuran dan bobot hasil tangkapan. Penelitian ini menggunakan kapal berukuran 5 GT dengan kekuatan mesin sebesar 16-23 PK. Hasil dari penelitian ini menyatakan dari total individu hasil tangkapan, alat tangkap trammel net masih selektif digunakan untuk menangkap udang pada kisaran kedalaman 5-16 m, karena jumlah individu hasil tangkapan lebih tinggi (57,15%) dibandingkan dengan by-catch (42,84%). Total bobot hasil tangkapan dari trammel net didominasi oleh by-catch yaitu berupa jenis ikan (82%), dibandingkan hasil tangkapan utama yaitu jenis udang (15%), dan discard (3%). Proporsi jenis individu udang pada kedalaman 5-10 m didominasi oleh udang peci, krosok, dogol dan udang kipas, sedangkan pada kedalaman 11-16 m didominasi oleh udang jerbung, udang windu dan udang ronggeng. Kata kunci:      hasil tangkapan, kedalaman, perairan Indramayu, trammel net, udangPenelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2017 di perairan Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar proporsi udang hasil tangkapan utama dan by-catch  dengan menggunakan alat tangkap trammel net di perairan Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan analisis deskriptif. Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi data sekunder dan data primer. Data sekunder berupa informasi yang diperoleh dari Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Indramayu. Pengambilan data primer dilaksanakan secara langsung melalui pengamatan di lapangan dengan mengamati hasil tangkapan yang diperoleh nelayan Desa Limbangan dan informasi tambahan dari nelayan setempat. Data primer diperoleh dengan mengikuti 15 kali trip (15 kali setting dan 15 kali hauling) pada kedalaman berbeda. Data yang diperoleh dicatat berdasarkan jenis hasil tangkapan, jumlah, ukuran dan bobot hasil tangkapan. Penelitian ini menggunakan kapal berukuran 5 GT dengan kekuatan mesin sebesar 16-23 PK. Hasil dari penelitian ini menyatakan dari total individu hasil tangkapan, alat tangkap trammel net masih selektif digunakan untuk menangkap udang pada kisaran kedalaman 5-16 m, karena jumlah individu hasil tangkapan lebih tinggi (57,15%) dibandingkan dengan by-catch (42,84%). Total bobot hasil tangkapan dari trammel net didominasi oleh by-catch yaitu berupa jenis ikan (82%), dibandingkan hasil tangkapan utama yaitu jenis udang (15%), dan discard (3%). Proporsi jenis individu udang pada kedalaman 5-10 m didominasi oleh udang peci, krosok, dogol dan udang kipas, sedangkan pada kedalaman 11-16 m didominasi oleh udang jerbung, udang windu dan udang ronggeng. Kata kunci:      hasil tangkapan, kedalaman, perairan Indramayu, trammel net, udan

    LAJU TANGKAP UNIT PUKAT PANTAI DI KABUPATEN PANGANDARAN

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji laju tangkap dan hasil tangkapan pada perikanan pukat pantai di Kabupaten Pangandaran. Pangandaran merupakan salah satu daerah yang masih mengoperasikan unit penangkapan pukat pantai. Data yang dikumpulkan meliputi hasil tangkapan, upaya penangkapan serta waktu penangkapan dari unit perikanan pukat pantai. Data dianalisis secara kuantitatif yang menggambarkan komposisi hasil tangkapan dan nilai laju tangkap. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari dan Maret 2017 di Kabupaten Pangandaran yang masih terdapat operasi penangkapan ikan dengan pukat pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam operasi penangkapan pukat pantai memiliki target tangkapan diantaranya, ikan teri (Stolephorus sp.), ikan layur (Trichiurus sp.) dan ikan pepetek (Leiognathus sp.) dalam 2 (dua) musim penangkapannya. Pengoperasian pukat pantai dengan hasil tangkapan ikan teri memiliki nilai laju tangkap sebesar 0,7 kg/jam. Nilai laju tangkap dari pengoperasian pukat pantai sebesar 24,25 kg/hari. Perikanan pukat pantai memiliki nilai catch rate hasil tangkapan sampingan yang lebih besar dibandingkan nilai catch rate target tangkapannya. Kata kunci: hasil tangkapan, laju tangkap, Pangandaran, pukat pantaiPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji laju tangkap dan hasil tangkapan pada perikanan pukat pantai di Kabupaten Pangandaran. Pangandaran merupakan salah satu daerah yang masih mengoperasikan unit penangkapan pukat pantai. Data yang dikumpulkan meliputi hasil tangkapan, upaya penangkapan serta waktu penangkapan dari unit perikanan pukat pantai. Data dianalisis secara kuantitatif yang menggambarkan komposisi hasil tangkapan dan nilai laju tangkap. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari dan Maret 2017 di Kabupaten Pangandaran yang masih terdapat operasi penangkapan ikan dengan pukat pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam operasi penangkapan pukat pantai memiliki target tangkapan diantaranya, ikan teri (Stolephorus sp.), ikan layur (Trichiurus sp.) dan ikan pepetek (Leiognathus sp.) dalam 2 (dua) musim penangkapannya. Pengoperasian pukat pantai dengan hasil tangkapan ikan teri memiliki nilai laju tangkap sebesar 0,7 kg/jam. Nilai laju tangkap dari pengoperasian pukat pantai sebesar 24,25 kg/hari. Perikanan pukat pantai memiliki nilai catch rate hasil tangkapan sampingan yang lebih besar dibandingkan nilai catch rate target tangkapannya. Kata kunci: hasil tangkapan, laju tangkap, Pangandaran, pukat panta

    PRODUKTIVITAS ALAT TANGKAP PADA OPERASI PENANGKAPAN UDANG DI KABUPATEN PANGANDARAN SELAMA TAHUN 2015-2019

    Get PDF
    Salah satu kabupaten penghasil udang terbesar di Jawa Barat adalah Kabupaten Pangandaran. Besarnya produksi udang di perairan Kabupaten Pangandaran tidak terlepas dari produktivitas alat tangkap yang dioperasikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui produktivitas alat tangkap penangkap udang di Kabupaten Pangandaran. Riset dilaksanakan bulan Agustus-Oktober 2019. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa produksi udang mengalami fluktuasi kenaikan, jumlah produksi udang terbesar terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 965.877,40 kg. Terdapat beberapa alat penangkapan ikan yang dioperasikan untuk menangkap udang di Kabupaten Pangandaran yaitu jaring bernong sebanyak 459 unit, trammel net sebanyak 315 unit, pukat pantai sebanyak 27 unit dan dogol sebanyak 25 unit. Jaring bernong yang dimaksud merupakan alat tangkap bottom gillnet karena menangkap ikan demersal. Nilai produktivitas alat tangkap paling tinggi yaitu alat tangkap dogol sebesar 4,4 kg/trip dan pukat pantai 4,4 kg/trip dan nilai produktivitas terendah yaitu pada alat tangkap trammel net sebesar 1,8 kg/trip dan jaring bernong sebesar 1,4 kg/trip. Kata kunci: alat tangkap, nelayan, Pangandaran, udan

    The Biological Aspects of the Main Targets of Troll Line at Palabuhanratu Fishing Port, Indonesia

    No full text
    The biological aspect is a piece of basic information that is commonly presented in assessing the level of environmental friendliness of fishing gear or fishing vessel. This study was conducted to analyze the biological aspects of the main catch of the troll line at the Palabuhanratu Fishing Port, Sukabumi, Indonesia. The biological aspects analyzed consisted of length frequency distribution, length-weight relationship, to the average feasibility status of the caught target fish. There were three main target commodities for fishing from the troll line that was identified during the research activity, namely yellowfin tuna (Thunnus albacares), skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), and frigate tuna (Auxis thazard). A total of 14 troll line fleets were obtained as a source of research data based on the accidental sampling method. The total number of 1404 fish consisting of 480 yellowfin tuna, 475 skipjack tuna, and 449 frigate tuna were obtained as research data objects. The stratified random sampling method was used in determining the observed sample fish data. Yellowfin tuna were distributed at size 29 – 148 cm, skipjack tuna at size 29 – 88 cm, and frigate tuna at size 23 – 82 cm. Analysis of the length-weight relationship showed a negative allometric growth pattern in the three main fishing target commodities. The analysis of the feasibility of the average fish caught based on compared of L50% to ½ L∞ shows that the average size of tuna and frigate tuna caught is undersize for catching, while the average skipjack caught has reached a legal size. The results of this study indicate that there is a need for a review of the use of fishing hooks in the fishing activity of the troll line fishing fleet. Increasing the hook size can be used to avoid catching fish that are at a size that is not suitable for catching

    DISTRIBUSI THERMAL FRONT DAN HASIL TANGKAPAN IKAN TENGGIRI (Scomberomorus commerson) DI PERAIRAN PANGANDARAN

    Get PDF
    Ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) merupakan komoditas ikan pelagis besar unggulan di Kabupaten Pangandaran karena memiliki jumlah dan nilai produksi yang paling tinggi, oleh karena itu perlu dimanfaatkan secara maksimal dengan memperhatikan kelestariannya. Tujuan dari riset ini adalah untuk mengetahui variabilitas thermal front secara spasial dan temporal serta pengaruhnya terhadap hasil tangkapan ikan tenggiri dalam pendugaan daerah penangkapan potensial ikan di peraira Pangandaran, Jawa Barat. Riset ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan Februari 2018 di Perairan Pangandaran, Jawa Barat. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah SPL yang berasal dari AquaMODIS dan arus geostrofik dari ECMWF. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan analisis secara spasial dan temporal. Thermal front dideteksi pada data citra raster suhu permukaan laut (SPL) menggunakan algoritma Cayulla Cornilon 1992 dengan kategori kuat dengan perbedaan SPL ≥ 0,5°C dan lemah dengan perbedaan SPL 0,3°C. Hasil riset menunjukan front yang terbentuk di perairan Pangandaran merupakan front sementara dengan kekuatan lemah dan kuat. Sebaran dan frekuensi thermal front paling banyak ditemukan pada bulan Desember (musim barat) dengan total 11 unit kemunculan dengan nilai rata-rata SPL 29,3°C dan sebaran paling sedikit dijumpai pada bulan April (musim peralihan 1) . Kisaran suhu tertinggi thermal front berkisar antara 30-33,8°C dan terendah berkisar antara 22,8-26,5°C. Kejadian thermal front umumnya terjadi di perairan lepas Samudera Hindia. Kata kunci: arus, ikan tenggiri, perairan Pangandaran, SPL, thermal frontIkan tenggiri (Scomberomorus commerson) merupakan komoditas ikan pelagis besar unggulan di Kabupaten Pangandaran karena memiliki jumlah dan nilai produksi yang paling tinggi, oleh karena itu perlu dimanfaatkan secara maksimal dengan memperhatikan kelestariannya. Tujuan dari riset ini adalah untuk mengetahui variabilitas thermal front secara spasial dan temporal serta pengaruhnya terhadap hasil tangkapan ikan tenggiri dalam pendugaan daerah penangkapan potensial ikan di peraira Pangandaran, Jawa Barat. Riset ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan Februari 2018 di Perairan Pangandaran, Jawa Barat. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah SPL yang berasal dari AquaMODIS dan arus geostrofik dari ECMWF. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan analisis secara spasial dan temporal. Thermal front dideteksi pada data citra raster suhu permukaan laut (SPL) menggunakan algoritma Cayulla Cornilon 1992 dengan kategori kuat dengan perbedaan SPL ≥ 0,5°C dan lemah dengan perbedaan SPL 0,3°C. Hasil riset menunjukan front yang terbentuk di perairan Pangandaran merupakan front sementara dengan kekuatan lemah dan kuat. Sebaran dan frekuensi thermal front paling banyak ditemukan pada bulan Desember (musim barat) dengan total 11 unit kemunculan dengan nilai rata-rata SPL 29,3°C dan sebaran paling sedikit dijumpai pada bulan April (musim peralihan 1) . Kisaran suhu tertinggi thermal front berkisar antara 30-33,8°C dan terendah berkisar antara 22,8-26,5°C. Kejadian thermal front umumnya terjadi di perairan lepas Samudera Hindia. Kata kunci: arus, ikan tenggiri, perairan Pangandaran, SPL, thermal fron

    The Effect of Addition of Nilem Fish Protein Concentrate Flour on the Preference Levels of Mochi Cake

    No full text
    Nilem fish (Osteochilus hasselti) is a type of freshwater fish that is widely farmed in West Java. Nilem fish can be made into fish protein concentrate (FPC) flour, so that it can have wide application. The addition of fish protein concentrate flour to the mochi cake might affect the organoleptic characteristics. This research aims to determine the proper concentration of nilem fish protein concentrate to get the mochi cake that was preferred by panelists. This research was conducted from August 2019 - January 2020 at the Laboratory of Fisheries Product Processing, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Padjadjaran University. The method used in this research was experimental with four treatments, which is the addition of 0%, 3.5%, 4.5% and 5.5% nilem fish protein concentrates from white glutinous rice flour was used. The parameters observed were the preference level of color, aroma, texture, and taste of Mochi cake. The results showed that mochi cake with the addition of 4.5% nilem fish protein concentrate flour produced a mochi cake that was preferred most by panelists, which has a characteristic ivory white color, a bit of fish smell, chewy but dense enough and sweet taste with a little typical flavor of nilem fish protein concentrate

    DAERAH PENANGKAPAN POTENSIAL IKAN TENGGIRI (Scomberomorus sp) BERDASARKAN PARAMETER SUHU PERMUKAAN LAUT DI KABUPATEN PANGANDARAN

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daerah penangkapan potensial ikan tenggiri (Scomberomorus sp) berdasarkan parameter suhu permukaan laut (SPL) di perairan Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah metode survei. Data penelitian meliputi SPL yang diperoleh dari citra satelit serta hasil tangkapan dan koordinat penangkapan yang didapat dari trip langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran temporal suhu permukaan laut tertinggi cenderung terjadi pada musim peralihan 1 (Maret-Mei). Sebaran suhu permukaan laut cenderung memiliki pola semakin dingin menuju perairan lepas pantai dan semakin hangat menuju perairan pesisir pantai. Daerah potensial penangkapan ikan tenggiri di perairan Pangandaran berada pada koordinat pada koordinat 108°21\u2718" BT, 7 °50\u2758" LS dan 108°44\u2730" BT, 7 °48\u2731" LS. Kata kunci: daerah potensial penangkapan, hasil tangkapan ikan tenggiri, perairan Pangandaran, suhu permukaan lautPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui daerah penangkapan potensial ikan tenggiri (Scomberomorus sp) berdasarkan parameter suhu permukaan laut (SPL) di perairan Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah metode survei. Data penelitian meliputi SPL yang diperoleh dari citra satelit serta hasil tangkapan dan koordinat penangkapan yang didapat dari trip langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran temporal suhu permukaan laut tertinggi cenderung terjadi pada musim peralihan 1 (Maret-Mei). Sebaran suhu permukaan laut cenderung memiliki pola semakin dingin menuju perairan lepas pantai dan semakin hangat menuju perairan pesisir pantai. Daerah potensial penangkapan ikan tenggiri di perairan Pangandaran berada pada koordinat pada koordinat 108°21\u2718" BT, 7 °50\u2758" LS dan 108°44\u2730" BT, 7 °48\u2731" LS. Kata kunci: daerah potensial penangkapan, hasil tangkapan ikan tenggiri, perairan Pangandaran, suhu permukaan lau

    PENILAIAN TINGKAT TEKNOLOGI GALANGAN KAPAL PT. PROSKUNEO KADARUSMAN MUARA BARU JAKARTA

    Get PDF
    Peningkatan jumlah kapal di PPS Nizam Zachman akan menjadi target potensial pasar bagi galangan yang ada di sekitar pelabuhan. Salah satu galangan kapal yang berperan dalam melayani kapal-kapal di sekitar PPS Nizam Zachman adalah PT. Proskuneo Kadarusman. Oleh karena itu, untuk dapat memenuhi permintaan pasar yang meningkat, PT. Proskuneo Kadarusman harus dapat mengimbangi dengan meningkatkan produktivitas dan daya saing. Upaya meningkatkan produktivitas galangan salah satunya dengan cara meningkatkan teknologi. Peningkatan teknologi perlu didahului dengan penilaian terhadap tingkat teknologi. Penilaian tingkat teknologi dilakukan dengan menghitung nilai TCC (technology contribution coefficient) dari komponen teknologi technoware, humanware, infoware dan orgaware (organisasi). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2011 dengan menggunakan metode studi kasus di PT. Proskuneo Kadarusman Muara Baru Jakarta. Analisis data yang digunakan adalah analisis TCC dengan menilai kontribusi komponen teknologi. Galangan PT. Proskuneo Kadarusman merupakan salah satu galangan yang aktif melayani reparasi dan produksi kapal dengan memiliki manajemen galangan yang baik yang meliputi struktur organisasi, sumberdaya manusia, pelayanan reparasi dan produksi serta sistem informasi internal dan eksternal. Nilai kontribusi komponen humanware memiliki nilai kontribusi tetinggi sedangkan komponen infoware memiliki kontribusi terendah. Nilai TCC dari galangan kapal PT. Proskuneo Kadarusman menunjukkan teknologi di galangan tersebut berada pada level semi-modern. Kata kunci: humanware, infoware, technoware, teknometrik, orgawar

    Pengaruh fortifikasi tepung tulang ikan patin (Pangasius sp.) terhadap peningkatan kalsium dan preferensi donat: The effect of shark catfish (Pangasius sp.) bone flour fortification on increasing calcium and donut preference

    No full text
    Tulang ikan patin dapat dimanfaatkan dalam bentuk tepung untuk memperkaya gizi produk. Donat dengan penambahan tepung tulang ikan patin merupakan langkah untuk memenuhi kebutuhan pasar akan camilan yang tidak hanya enak, tetapi juga bergizi. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan konsentrasi terbaik tepung tulang patin pada pembuatan donat berdasarkan karakteristik sensori, daya mekar, komposisi kimia, dan kandungan kalsium. Perlakuan fortifikasi tepung tulang patin, yaitu 0; 2,5; 5; dan 7,5% berdasarkan berat tepung terigu. Parameter yang dianalisis meliputi tingkat kesukaan, kadar kalsium, proksimat, dan kemekaran donat. Hasil menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan konsentrasi tepung tulang ikan patin tidak berpengaruh nyata (p>0,05) pada parameter ketampakan dan aroma, namun berpengaruh nyata (p<0,05) pada rasa dan tekstur. Perlakuan terbaik pada konsentrasi tepung tulang ikan patin 2,5% dengan nilai ketampakan (7,00), aroma (5,80), rasa (6,60), dan tekstur (6,28). Donat yang dihasilkan lebih disukai untuk parameter ketampakan, agak suka untuk rasa dan tekstur. Donat dengan perlakuan 2,5% memiliki daya kembang 15,77%; air 24,16%; abu 1,02%; protein 21,12%; lemak 6,94%; karbohidrat 44,35%; dan kalsium 255,30 mg/100 g. Fortikasi tepung tulang ikan patin dapat meningkatkan kadar abu, protein, dan kalsium donat.Patin fish bone can be utilized in the form of flour to enrich the nutrition of the product. Donuts with the addition of patin fish bone flour are a step to meet the market demand for snacks that are not only delicious but also nutritious. The goal of this study was to identify the optimal concentration of patin fish bone flour for donuts, taking into account factors such as sensory characteristics, degree of improvement, chemical composition, and calcium content. The fortification treatment of catfish bone flour, namely 0; 2.5; 5; and 7.5%, is based on the weight of wheat flour. The analyzed parameters included the level of preference, calcium content, proximity, and degree of donut improvement. The results showed that the difference in the concentration treatment of catfish bone flour had no significant effect (p>0.05) on the parameters of appearance and aroma but had a significant effect (p<0.05) on taste and texture. The best treatment is at a concentration of catfish bone flour of 2.5% with values of appearance (7.00), aroma (5.80), taste (6.60), and texture (6.28). The appearance parameters preferred the resulting donuts, while taste and texture received positive feedback. Donuts with 2.5% treatment have an improving degree of 15.77%; moisture 24.16%; ash 1.02%; protein 21.12%; fat 6.94%; carbohydrates 44.35%; and calcium 255.30 mg/100 g. Patin fish bone flour fortification can increase the ash, protein, and calcium content of donuts
    corecore