387 research outputs found

    Strategi Kiai Sofiyan Hadi dalam Membentuk Kemandirian Santri Di Pondok Pesantren Al-Mawaddah Honggosoco Jekulo Kudus

    No full text
    Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian lapangan (field research) dimana dalam penelitian ini peneliti menggali informasi secara langsung di Pondok Pesantren Al-Mawaddah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subyek penelitian pengasuh pondok (Kiai Sofiyan Hadi), ustadz, santri, alumni sebagai data primernya, dan masyarakat serta literatur buku atau web-web pesantren maupun skripsi terdahulu sebagai data sekundernya. Dalam penyusunannya, penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode observasi partisipatif, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi. Uji keabsahan data untuk mengetahui strategi Kiai Sofiyan Hadi dalam membentuk kemandirian santri dengan melakukan triangulasi kemudian menginterpretasikan kedalam karya tulis. Sedangkan teknik analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Penelitian ini memperoleh berbagai hasil temuan diantaranya bahwa: Pondok Pesantren Al-Mawaddah telah memandirikan para santri dan memiliki keunikan diantaranya belajar ilmu agama dan kewirausahaan (entrepreneurship) yang tidak terlepas dari Kiai Sofiyan Hadi. Kiai Sofiyan Hadi menggunakan berbagai strategi khusus berupa strategi keteladanan Nabi Muhammad SAW yang terwujud kedalam prinsip 5M (meyakinkan, menggalang, menggerakkan, mengevaluasi, melindungi) dan Strategi Gusjigang (gus artinya bagus budi pekerti, sopan santun) Ji (motivasi atau ngaji) dan Gang (kewirausahaan) yang ditujukan kepada para santrinya. Sehingga muncul 3 prinsip diantaranya strategi percontohan, strategi praktik langsung, strategi pelatihan bertahap. Selain itu juga terdapat berbagai faktor pendukung (suri tauladan Nabi Muhammad SAW, budaya Gusjigang, adanya cita-cita atau dorongan pribadi, keinginan untuk sukses dan berbagai fasilitas dalam pesantren) maupun faktor penghambat (berasal dari masing-masing santri diantaranya sulit bagi waktu, rasa tidak nyaman dengan aturan, baru pertama kali berbisnis). Pesantren ini mencerminkan upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pengasuhnya, hal itu dapat dilihat dari berbagai aktifitas yang dilakukan oleh para santri dilingkungan pesantren

    Ghayat al-amani and the life and times of al-Hadi Yahya b. al-Husayn: an introduction, newly edited text and translation with detailed annotation

    No full text
    The thesis is anchored upon a text extracted from an important 11th / 17th century Yemeni historical work. This text deals primarily with al-Hādī ilā 'I-Haqq, the founder of the Zaydī Imamate in the Yemen that lasted well over a thousand years. AI-Hādīs imamate, of considerable significance in itself, also coincides with one of the most turbulent periods of early Yemeni mediaeval history. The- edited Arabic text, with its accompanying apparatus criticus. Is to be found at the opposite end of this volume. The Introduction considers various aspects of Imam al-Hadī’s life, religious ideas and aspirations and matters directly connected with the edited text and the work of which it forms a part. Among the most important subjects discussed are the MSS used in the production of the edited text, the problem concerning the authorship of Ghāyat al-amānī and the relationship of the latter work to Anbā' al-zaman. A short biography of al-Hādī is provided, together with a treatment of the historical background to ai-Hādīs imamate. The introduction also describes the editorial method followed with regard to the text, and certain key personal names and toponyms are dealt with there. The method employed by the author of the Ghāyat is to record the events of any one year by Itself. I have translated one year at a time and then followed it by the annotations appertaining to it. It is hoped that by means of these annotations. (some of which through necessity are quite detailed ), the text will be better understood. The numerous personages, tribal names and toponyms are considered, as well as problems concerning points of chronology and various matters of historical and religious significance. Specific comment is made upon certain interesting terms or any unusual or striking vocabulary. The thesis concludes with maps, genealogical tables and a comprehensive bibliography

    Kapasitas Tim Intensifikasi PBB-P2 Tingkat Desa dalam Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Desa Banjarsari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Tahun 2017

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan Kapasitas Tim Intensifikasi PBB-P2 Tingkat Desa dalam Pemenuhan Pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Desa Banjarsari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Tahun 2017. Kapasitas tim intensifikasi PBB-P2 di Desa Banjarsari menarik untuk dibahas mengingat selama tiga tahun dari 2015-2017 realisasi penerimaan PBB-P2 di desa tersebut terus mengalami peningkatan bahkan pada tahun 2017 realisasi penerimaan PBB-P2 mencapai 100%. Desa Banjarsari merupakan satu-satunya desa yang dapat melunasi target penerimaan PBB-P2 di Kecamatan Bangsalsari pada tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi non-partisipasi, wawancara semi terstuktur, dan dokumentasi. Desain penelitian menggunakan studi kasus instrumen tunggal. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman yang terbagi kedalam tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini juga menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan ketekunan pengamat dan triangulasi sumber. Konsep yang digunakan untuk mengkaji kapasitas tim intensifikasi PBB-P2 tingkat desa dalam pemenuhan pelunasan pajak bumi dan bangunan di Desa Banjarsari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember tahun 2017 yaitu dengan mengguanakan konsep menurut Haryanto (2014:17), sedangkan untuk mengukur aspek kapasitas petuagas pemungut pajak peneliti mengacu pada Perbub Jember Nomor 6 tahun 2014 Pasal 7 ayat 7 dan pendekatan kapasitas organisasi menurut Eade (1997:110) yaitu, struktur organisasi, prosedur kerja, dan sumberdaya manusia. Hasil yang dapat digambarkan dari penelitian ini bahwa terdapat 3 pendekatan untuk menganalisis kapasitas tim intensiffikasi PBB-P2 dalam pemenuhan pelunasan PBB-P2. Pada Pendekatan pertama, yaitu struktur organisasi, struktur tim intensifikasi PBB-P2 Desa Banjarsari tidak mewadahi fungsi dalam pembagian tugas organisasi. Pendekatan kedua yaitu prosedur kerja, terlalu rumit bagi petugas pemungut PBB-P2. Petugas pemungut PBB-P2 harus berulang kali mendatangi wajib pajak yang menuggak kewajiban membayar pajak. Akan tetapi prosedur tersebut mempermudah bagi wajib pajak dalam membayar PBB-P2. Pendekatan ketiga yaitu sumberdaya manusia, dalam hal ini peneliti mengukur sumberdaya manusia berdasarkan tiga indikator yaitu pengetahuan/ intelejensi, keterampilan dan kedisiplinan. Pada sisi pengetahuan, petugas belum memahami peraturan yang melandasi kegiatan pemungutan PBB-P2. Namun petugas pemungut PBB-P2 telah mampu mengatasi masalah yang ada di lapangan. Pada sisi keterampilan, petugas belum pernah mendapatkan pelatihan dalam pemungutan PBB-P2 sehingga kurang memahami dalam kegiatan pengadministrasian dalam pemungutan PBB-P2. Selain itu petugas pemungut tidak terampil dalam berkomunikasi dengan wajib pajak mengenai apa itu pajak dan pentingnya membayar pajak. Dari sisi kedisiplinan, petugas pemungut tidak memahami peraturan yang melandasi kegiatan pemungutan PBB-P2 sehingga kecurangan terjadi dengan menalangi kekurangan realisasi penerimaan PBB-P2. Disamping itu, petugas pemungut melimpahkan tugasnya dalam penyebaran SPPT dan penagihan pajak kepada RT dan RW. dari ketiga pendekatan kapasitas organisasi yang digunakan untuk menilai kapasitas tim intensifikasi menunjukkan rendahnya kapasitas tim intensifikasi PBB-P2 di Desa Banjarsari

    ANALISIS PENGGUNAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA (APBDes) DI DESA KLEKEAN KECAMATAN BOTOLINGGO KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN ANGGARAN 2011-2015

    No full text
    Anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) merupakan anggaran pemerintah desa yang diwujudkan dalam bentuk angka, pada hakikatnya APBDes adalah program tahunan. Anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) tersebut harus digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat Desa. Peneliti memilih Desa Klekean dikarenakan paling tinggi persentase keluarga miskinnya sehingga peneliti ingin melihat lebih jauh tren penggunaan APBDes yang dijalankan oleh desa Klekean di kecamatan Botolinggo tersebut dari tahun anggaran 2011-2015. Dalam penelitian ini, rumusan masalah yang digunakan adalah bagaimana tren penggunaan APBDes di Desa Klekean Kecamatan Botolinggo Kabupaten Bondowoso tahun anggaran 2011-2015 dan apakah penggunaan APBDes berpihak pada rakyat dalam hal Mengurangi angka kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tren penggunaan APBDes di Desa Klekean Kecamatan Botolinggo Kabupaten Bondowoso tahun anggaran 2011-2015 dan mengetahui penggunaan APBDes berpihak pada rakyat dalam hal Mengurangi angka kemiskinan. Jenis peneilitian ini adalah kuantitatif menggunakan metode deskriptif dengan obyek penelitian Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun anggaran 2011 sampai dengan 2015 Desa klekean Kecamatan Botolinggo Kabupaten Bondowoso. Lokasi penelitian adalah Desa Klekean Kecamatan Botolinggo Kabupaten Bondowoso dan waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2015. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, studi pustaka, dan triangulasi. Metode analisis data menggunakan analisis data sekunder (ADS). Berdasarkan hasil penelitian tentang Penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Desa Klekean Kecamatan Botolinggo Kabupaten Bondowoso Tahun Anggaran 2011-2015 masih mengandalkan bantuan dari pusat yaitu rata-rata 95,39% dan pengeluaran APBDes Klekean masih dominan pada belanja Pegawai yaitu rata-rata sebesar 56.56%. Desa Klekean Kecamatan Botolinggo Kabupaten Bondowoso masih memungut retribusi dari masyarakat sebagai salah satu sumber pendapatan desa rata-rata sebesar 2,69% dari total anggaran pendapatan desa tahun anggaran 2011-2015 akan tetapi anggaran pendapatan tersebut bukan dari masyarakat miskin saja melainkan masyarakat umum. Pada Anggaran belanja Desa Klekean Kecamatan Botolinggo Kabupaten Bondowoso tahun anggaran 2011-2015 yang berpihak pada masyarakat miskin jumlahnya relative kecil. Hal ini dapat dilihat dari jumlah anggaran untuk orang miskin yang jumlahnya rata-rata Rp Rp 94.053.869 atau sekitar 5,9% dari total belanja Desa Klekean. Dengan melihat persentase tersebut dapat disimpulkan bahwa APBDes Desa Klekean kurang berpihak pada orang miskin

    KONSEP SUNNAH DALAM PERSPEKTIF MUHAMMAD SYAHRUR Suatu Pembacaan Baru Dalam Kritik Hadis

    No full text
    Abstract: The Concept of Sunna in the Pespective of Muhammad Syahrur: A New Reading on Hadith Critism. The development of hadits critisism dircourses has been an interesting issue in Islamic studies. Since the early period of Islam, scholars was constructed and developed methodology that would become the standard for qualification of hadith applicable in the succeeding generation. However, in this contemporary period, studies on Hadith is very contrast to the early period like what Muhammad Syahrur, a prominent Syirians scholar has done. According to Syahrur, the Prophet’s saying and deeds are the product of history rather than revelation. He claimed that whatever hadiths that are contradictory to al-Qur’an must be rejected, although related to religious observance or moral conduct. In this article, the author attemps to explore the controversial thought of Muhammad Syahrur.Kata Kunci: kritik, hadi

    The exegesis of Tabatabaei and the Hermeneutics of Hirsch: a comparative study

    No full text
    This thesis is a comparative study between Hermeneutics on the one hand and exegesis of the Holy Qur'an on the other. Its objective is to discover whether there are salient points of convergence between the two disciples, and whether issues germane to the Hermeneutical tradition in the West have been referred to and/or employed in Muslim works of Qur'an commentary. To this end, the works of one of the most prominent Shi'ite philosophers and exegetes. Allama Mohammad Hossein Tabataei, have been analysed and compared with the perspective and methodology of E D. Hirsch, one of the most important hermeneuticians in the Western World. Hirsch has been chosen since, in the opinion of the author, there is a considerable number of commonalities between the Hirschian approach to hermeneutics and the exegetical methodology of Tabatabaei and other Shi'ite Muslim interpreters of the Qur'an.. Hirsch, as an objectivist, along with a number of other Hermeneutical scholars, are critical of those who subscribe to philosophical Hermeneutics, such as Heideger and Gadimer. The same approach is taken in Tabatabaei's works, thus providing a strong rationale for an academic comparison of these two scholars. For this reason, this thesis attempts to study the theories of Tabatabaei and Hirsch in order to highlight the similarities and differences in their works. The central hypothesis is that while small differences in approach exist, there is much common ground, and that it is possible to use certain facets of Hirschian hermeneutics in the interpretation of the Qur'an, thus modernising some of the existing exegetical approaches employed by Shi'ite scholars.Since the aim of this thesis is to compare the interpretive works of Tabatabaei with those of Hirsch's, an introductory chapter has been dedicated to the study of the evolution of Shi'ite exegesis from the beginning to date. Tabatabaei's Al-Mizan has been chosen as the foremost work of Shi'ite exegesis in the modem period. Furthermore, a complete chapter has also been dedicated to Tabatabai's exegetical modus operandi as reflected in Al-Mizan, in order to arrive at a better understanding of his perspectives. This research arrives at the conclusion that philosophical Hermeneutics and Epistemology have opened new horizons on which we will always be dependent. Whatever interpretive theories with regards to the understanding of the text are accepted, or whatever the tendency as far as literary criticism is concerned, or whatever ideas are accepted in the arena of philosophy of human and social sciences, the discussion of the nature of understanding in general cannot be avoided. This does not mean that Hermeneutics is limited to these new theories. Rather, the opportunity always exists to introduce new interpretive theories in connection with the understanding of the text. It is indeed possible to study these discussions in detail in a separate sphere independent of the other branches of Islamic sciences and arrive at a number of stable principles in the interpretation of the text in Islamic research

    Supervisi Akademik Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Madrasah (Studi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Anwar Kecamatan Pangkalan Banteng)

    No full text
    Salah satu komponen yang berperan penting dalam tercapainya tujuan pendidikan adalah supervisi pendidikan. Supervisi pendidikan adalah suatu pembinaan sumber daya manusia yang ada pada pelaksana pendidikan (guru) untuk ditata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sesuai kesepakatan bersama dan dijalankan oleh supervisor pendidikan (pengawas dan kepala sekolah). Dalam rangka untuk mencapai profesionalisme seorang guru dalam menjalankan tugasnya maka perlu mengoptimalkan supervisi/pengawasan. Karena supervisi sangat berpengaruh besar dalam mencapai mutu suatu lembaga pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan pelaksanaan dan evaluasi program supervisi akademik di MI Swasta Al-Anwar Pangkalan Banteng. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, analisis dokumen, dan catatan lapangan. Informan pada penelitian ini adalah Kepala, wakil kepala Madrasah bidang kurikulum dan guru di MI Swasta Al-Anwar Pangkalan Banteng. Hasil penelitian menemukan bahwa 1) Kepala melakukan supervisi setiap sebulan sekali dan pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Pertama mengadakan musyawarah, kedua memeriksa kelengkapan perangkat pembelajaran, ketiga kunjungan kelas, dan terakhir tindak lanjut atau evaluasi setelah supervisi dilakukan, 2) pelaksanaan supervisi menggunakan teknik kunjungan kelas, 3) evaluasi yang dilakukan Kepala Madrasah untuk meningkatkan kinerja guru adalah melalui diklah dan penilaian pembelajaran dengan pemantauan hasil ujian para siswa Kata Kunci: supervisi akademik, kinerja guru, madrasahÂ

    Identitas sosiopolitik, religius, motivasi dan reputasi dalam perilaku konsumen muslim terhadap perbankan syariah

    No full text
    Masalah fundamental yang dihadapi perbankan syariah di Indonesia adalah belum menjadi preferensi utama masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, ditandai yang dengan masih rendahnya pangsa pasar, kepemilikan rekening, dan jumlah nasabahnya. Identitas sosio politik, religiusitas, motivasi, dan reputasi diyakini menjadi faktor penting yang mempengaruhi perilaku tersebut sehingga perlu dilakukan validasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen muslim warga NU dan Muhammadiyah yang memiliki basis massa terbesar di Indonesia terhadap Perbankan Syariah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran (mixed method) dengan menggunakan data primer dan sekunder yang didapatkan melalui survei dan wawancara. Penelitian ini menggunakan analisis Structural Equatin Modeling (SEM) untuk data kuantitatif dan grounded theory untuk data kualitatif. Temuan penelitian adalah terdapat tiga jenis perilaku konsumen warga NU dan Muhammadiyah, yaitu perilaku pragmatis, realistis, dan idealis, dimana perilaku konsumen komunitas tersebut didominasi oleh perilaku pragmatis yang mengakuisisi, menggunakan, hingga mendisposisikan bank syariah dan bank konvensional sekaligus. Perilaku konsumen tersebut dibentuk oleh minat yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berupa sikap dan motivasi, dimana sikap dipengaruhi oleh religiusitas dan identitas sosial politik. Faktor eksternal berupa norma subjektif dan reputasi, dimana norma subjektif dipengaruhi oleh kepercayaan normatif. Sementara itu, sosio ekonomi tidak berpengaruh terhadap perilaku konsumen syariah dari warga NU dan Muhammadiyah. Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi sebagai referensi dalam pengembangan teori perilaku konsumen perspektif ekonomi syariah, yaitu konstruksi Sharia Consumer Behavior Theory (SCBT) yang menjelaskan perilaku konsumen muslim dengan multi pendekatan (multiple approaches). Penelitian ini juga memperkuat penelitian Fishbein dan Ajzen, Ergec, Kaytanci, dan Toprak, Bünyamin ER dan Yusuf GÜNEYSU, Abou-Youssef, Kortam, dan El-Bassiouny, Ibrahim, Fisol, dan Haji-Othman, serta Abdul Hadi dan Muwazir yang menyatakan bahwa keputusan konsumen dalam memilih produk dan jasa perbankan Syariah dipengaruhi oleh aspek non bisnis seperti religiusitas, identitas sosio politik, motivasi, sikap dan norma subjektif. Penelitian ini juga membantah Selvanathan, Nadarajan, Zamri, Suppramaniam, dan Muhammad, Marimuthu, Jing, Gie, Mun, Ping, Yunia, Khanifiana, dan Faizah, serta Rahman, Muhammad, Ahmed, dan Amin yang menyatakan bahwa religiusitas, motivasi, dan norma subjektif tidak berpengaruh terhadap perilaku konsumen. Secara praktis, temuan penelitian ini berkontribusi dalam penyusunan strategi dan inovasi pemasaran produk-produk perbankan syariah di Indonesia kepada seluruh elemen masyarakat, baik masyarakat idealis, realistis, maupun pragmatis

    Conflict of law and the methodology of Tarjīẖ : a study in Islamic legal theory

    No full text
    Islamic law never achieved unity but expressed itself in, at least, four surviving schools. More interestingly, contemporary Muslim communities are still divided among themselves on a number of issues related to their laws. This work describes how problem of legal conflicts have been tackled by Muslim jurists. It is an attempt to examine closely the phenomenon of conflict in Islamic law from the standpoint of usūl-al-fiqh or Islamic legal theory. In fact, much is heard nowadays of the contradiction in the body of Islamic law. Whilst in contrast, little is presented in terms of the methodology of removing this conflict. The present work therefore, attempts to redress this balance. The emphasis of the work will be concerned primarily with tarjīh methodology ; how to give preference to one piece of evidence or argument over the other when they conflict. Nevertheless, considerable concern is given to investigating the background to the conflict of law in the Shari'ah. This study of a neglected area in Islamic legal scholarship will be an important source of reference to students, both practising and theoretical jurists or to anyone who merely wishes to increase his knowledge of legal themes, particularly legal conflict. The very aim of the work is to argue that conflict is a natural and unavoidable consequence of legal study because legal conflict is only conflicting principles and arguments adduced by both the classical and modern jurists to reach what is actually intended by God in the target case. Therefore, conflicts are inevitable in most of the cases in fiqh owing to the variety of principles set out to deal with one piece of legal evidence, let alone with all the pieces of legal evidence in question. Tarjīh is therefore, an important and workable instrument in the re-examination of these conflicts and in arriving at the most accurate principle for establishing the law for as long as this is possible. It is hoped that the discovery of new facts and the increase of knowledge which results from the broadening and deepening of the research will positively contribute to the process of unification of Islamic law

    Astrology in literature: how the prohibited became permissible in the Arabic poetry of the mediaeval period

    No full text
    This thesis is concerned to position the art of astrology within the context of classical Arabic poetry, primarily by investigating and elucidating attitudes to the notion of qadar (fate) and the ideology in which it was embedded. These attitudes were revelatory of the broader world view of the Arabs of those periods, and their shifts from those held in the pre-Islamic and early Islamic eras tell us a good deal about the importance given to the nature and role of fate and about the various understandings of its influence. The pre-Islamic Arab's notion of qadar was in some ways similar to that of the early Muslims: both emphasised predetermination and the irresistible power of fate. But while the jahilf (Pre-Islamic) Arabs identified fate with the malign power of dahr (Time), the Muslims believed the power of fate lies in the hands of God the Omnipotent, who alone is responsible for the fate of the whole universe. Thus the astrology of the pre-Islamic era was one aspect of divination (kihana) and claimed to be able to reveal in advance an individual's destiny, which could be avoided by taking certain precautions. These precautions, however, were considered effective only in relatively trivial cases; they were useless in the areas of major impact: a person's happiness or misery (shaqiiwa aw sa ada), sustenance (rizq) and one's term (ajal), the three inevitable and irresistible manifestations of fate. In the Islamic period not only these major aspects of life are governed and controlled by the Omnipotent; the destiny of the universe, in even its most minute details, is determined and controlled by God alone. Astrology was considered to be of no value whatsoever, and its practitioners were subject to the death penalty. These two irreconcilable views are evident in early Islamic poetry, which reflected clearly the response of poets, and society, to astrology from the perspective of qadar. When the orthodox caliphate was replaced by dynastic rule the status of astrology was changed dramatically. The idea that the stars, as indicators, play a role in the life of human beings found popowerful supporters in some governors of the Islamic world, who allowed astrology to fulfil a public function regardless of the hostility of the official religion of that society. This social phenomenon generated rich material of a controversial character in the realm of literature. Investigating the factors, motivations and impact of mediaeval political, theological and philosophical attitudes to astrology, in relation to the notions of free will and predestination, is the concern of this study
    corecore