1,721,011 research outputs found
Karakteristik Bubur Rumput Laut Turbinaria conoides dan Eucheuma cottonii sebagai Bahan Baku Krim Tabir Surya
Radiasi sinar ultraviolet menyebabkan kulit menjadi kemerahan, penuaan
dan meningkatkan risiko kanker kulit. Kulit tidak dapat menahan sinar matahari
yang berlebih, oleh karena itu diperlukan pelindung tambahan menggunakan krim
tabir surya. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan kombinasi bubur rumput
laut T. conoides dan E. cottonii yang mempunyai aktivitas antioksidan dan nilai
SPF yang tinggi, mendapatkan formula krim tabir surya terbaik dilihat dari
aktivitas antioksidan, penentuan nilai SPF dan evaluasi fisik sediaan krim.
Bahan utama penelitian adalah T. conoides, E. cottonii dan bahan baku
sediaan krim. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Penelitian tahap pertama yaitu karakterisasi rumput. Penelitian tahap kedua yaitu
formulasi bubur rumput laut T. conoides dan E. cottonii. Penelitian tahap ketiga
yaitu pembuatan sediaan krim dengan formula terbaik. Sediaan krim yang
memiliki nilai terbaik diuji daya iritasi terhadap kulit.
Hasil penelitian menunjukkan T. conoides mengandung senyawa fenol
hidrokuinon, flavonoid, triterpenoid, steroid, dan saponin, sedangkan E. cottonii
hanya mengandung alkaloid. Rendemen ekstrak tertinggi terdapat pada ekstrak
metanol T. conoides (8.17%) dan E. cottonii (9.33%). Total fenol tertinggi
rumput laut T. conoides terdapat pada ekstrak etil asetat (211 ± 5.21 mg GAE/g),
sedangkan E. cottonii pada ekstrak metanol (141 ± 3.33 mg GAE/g). Total
flavonoid tertinggi terdapat pada ekstrak etil asetat T. conoides
(157.15 ± 8.71 mg QE/g) dan E. cottonii (35.17 ± 1.00 mg QE/g). Ekstrak
metanol T. conoides dan E. cottonii memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat
dengan nilai IC50 15.14 ± 9.76 μg/mL dan 23.15 ± 1.49 μg/mL. Aktivitas
antioksidan pada formula bubur rumput laut memiliki nilai IC50
73.38 ± 2.80 μg/mL (1:1), 115.38 ± 1.50 μg/mL (1:2), dan 95.79 ± 1.50 μg/mL
(2:1), sedangkan nilai SPF pada masing-masing formula yaitu 2.4 ± 0.04 (1:1),
1.5 ± 0.03 (1:2), dan 2 ± 0.01 (2:1). Formula (1:1) ditambahkan pada sediaan
krim dengan konsentrasi penambahan bubur rumput laut 0%, 10%, 20% dan 30%.
Hasil pengujian aktivitas antioksidan pada krim 0% (116.88 ± 2.40 μg/mL), krim
10% (54.26 ± 6.20 μg/mL), krim 20% (46.17 ± 3.90 μg/mL) dan krim 30%
(28.49 ± 5.10 μg/mL), dan nilai SPF pada krim 0% (2 ± 0.02), 10% (5.37 ± 0.03),
20% (7.42 ± 0.02), 30% (15.22 ± 0.04) dan krim komersial (5 ± 0.03). Krim
terbaik terdapat pada krim 30% yang memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat
dengan nilai IC50 28.49 ± 5.10 μg/mL dan nilai SPF 15.22 ± 0.04. Hasil evaluasi
sediaan krim menunjukkan krim homogen, memiliki konsistensi yang baik.
Penerimaan konsumen terhadap produk melalui uji organoleptik berkisar antara
normal sampai suka, krim memiliki umur simpan selama 1 tahun berdasarkan
pengujian mekanik dan telah memenuhi persyaratan uji iritasi kulit
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Krim dari Bubur Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dan Sargassum plagyophyllum
Pigmen melanin berperan dalam reaksi pencoklatan pada kulit manusia.
Proses pembentukan melanin dapat direduksi dengan mekanisme antioksidan dan
inhibitor enzim tirosinase khususnya penghambatan pada jalur monofenolase (Ltirosin)
dan difenolase (L-DOPA). Rumput laut K. alvarezii dan S. plagyophyllum
adalah komoditas laut yang ketersediaannya berlimpah di alam dan diketahui
memiliki aktivitas antioksidan dan inhibitor tirosinase. Sediaan bubur rumput laut
yang diduga mengandung senyawa bioaktif diformulasikan ke dalam sediaan krim
yang berfungsi sebagai pencerah kulit. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan
informasi tentang karakteristik dari bahan baku rumput laut, ekstrak kasar dan
bubur rumput laut serta mendapatkan formula terpilih berdasarkan kandungan
kimia, evaluasi fisik dan mikrobiologi pada sediaan krim.
Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu karakterisasi bahan baku yang
meliputi pengambilan, penepungan dan ekstraksi rumput laut. Tahap kedua adalah
pembuatan produk yang meliputi pembuatan sediaan bubur rumput laut dan sediaan
krim. Tahap ketiga adalah evaluasi produk (sediaan bubur dan krim).
Hasil identifikasi rumput laut cokelat oleh Pusat Penelitian Oseanografi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah S. plagyophyllum. Rumput laut
K. alvarezii dan S. plagyophyllum yang digunakan tidak mengandung logam berat
(timah, merkuri dan arsen); mengandung senyawa bioaktif (alkaloid, terpenoid,
steroid, flavonoid, saponin dan tanin), vitamin C, vitamin E dan aktivitas
antioksidan berturut-turut 595.08±0.995 μg/mL dan 598.86±1.494 μg/mL. Nilai
IC50 asam kojat (pembanding), ekstrak metanol dari K. alvarezii dan S.
plagyophyllum pada substrat tirosin berturut-turut 15.566 μg/mL; 2691.478 μg/mL
dan 2195.206 μg/mL. Nilai IC50 asam kojat (pembanding), ekstrak metanol dari K.
alvarezii dan S. plagyophyllum pada substrat L-DOPA berturut-turut 29.156
μg/mL; 2631.648 μg/mL dan 1769.336 μg/mL. Sediaan krim terpilih adalah krim
dengan formula penambahan bubur rumput laut S. plagyophyllum 15% yang
memiliki aktivitas antioksidan (IC50) 491.93 μg/mL dan persen penghambatan
terhadap enzim tirosinase 20% (pada susbtrat L-DOPA dan konsentrasi uji 6000
μg/mL) dengan sifat alir plastis tiksotropik, nilai pH berkisar 5.78-6.21, stabilitas
baik dan tidak ditemukan koloni mikroba
Karakterisasi Sediaan Krim Tabir Surya dari Bubur Rumput Laut Eucheuma cottonii dan Sargassum sp.
Penggunaan krim tabir surya diperlukan untuk melindungi kulit dari
radiasi sinar ultraviolet. Penggunaan bahan yang alami dan aman sangat penting
untuk mencegah efek samping dari penggunaan krim jangka panjang. E. cottonii
memiliki aktivitas antioksidan dan dapat dimanfaatkan sebagai pengemulsi,
pengental, penstabil, dan pembentuk gel dalam sediaan krim. Sargassum sp.
mengandung antioksidan, komponen fenolik, dan sebagai agen fotoproteksi.
Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan rasio penambahan bubur E. cottonii dan
Sargassum sp. terbaik pada krim tabir surya melalui uji total mikroba, aktivitas
antioksidan dan nilai SPF, menentukan kestabilan secara fisik, dan standar
keamanan melalui uji iritasi pada sediaan krim yang dihasilkan.
Bahan utama penelitian adalah E. cottonii, Sargassum sp. dan bahan baku
sediaan krim. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL),
terdiri dari empat perlakuan yaitu penambahan bubur E. cottonii dan
Sargassum sp. dengan taraf (1:1), (1:2), (2:1) dan control dengan dua kali ulangan.
Penelitian tahap pertama adalah pembuatan bubur E. cottonii dan Sargassum sp.
Tahap kedua adalah pembuatan sediaan krim tabir surya. Penelitian tahap ketiga
adalah uji iritasi pada sediaan krim terpilih dengan uji human 4 - hour patch test.
Parameter pengamatan antara lain uji total mikroba, aktivitas antioksidan, Sun
Protective Factor (SPF), evaluasi fisik sediaan krim (uji sensori, homogenitas,
konsistensi) dan uji stabilitas (uji pada suhu yang berbeda yaitu suhu rendah 4 ±
2oC, suhu ruang 28 ± 2oC, tinggi 40 ± 2oC, cycling test dan centrifugal test).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim tabir surya terbaik adalah krim
dengan ratio penambahan bubur E. cottonii dan Sargassum sp. (1:1) berdasarkan
uji Bayes. Mikroba tidak ditemukan pada sediaan bubur E. cottonii dan
Sargassum sp. serta sediaan krim tabir surya. Aktivitas antioksidan sediaan bubur
E. cottonii 127.23 ± 2.77 μg/mL, Sargassum sp. 119.66 ± 0.25 μg/mL dan pada
krim tabir surya 83.4± 0.03 μg/mL. Nilai SPF sediaan krim adalah 7.03 ± 0.01
sehingga dapat dikategorikan memiliki kemampuan ekstra (6-8). Penerimaan
konsumen terhadap produk melalui uji sensori berkisar antara normal sampai suka.
Hasil pengukuran konsistensi sediaan krim pada minggu ke-0 dan ke-12
menunjukkan bahwa sediaan krim merupakan semisolid. Krim tabir surya
memiliki kestabilan fisik yang baik, tidak mengalami perubahan warna, bau dan
pemisahan fase. Nilai pH sediaan krim pada penyimpanan 12 minggu dengan
suhu yang berbeda berkisar antara 6 - 7. Sediaan krim aman digunakan secara
topical dan aman tanpa menyebabkan iritasi kulit
PEMANFAATAN MALTODEKSTRIN DARI PATI SINGKONG SEBAGAI BAHAN PENYALUT LAPIS TIPIS TABLET
The Use of Maltodextrin from Tapioca Starch as a Film Coating Tablet Material. Maltodexrin is a modifi ed starch product which can be use as a material fi lm coating tablet. The aim of the research was to study the capability of maltodextrin as a material fi lm coating exipient. Maltodextrin DE 5-10 was made by hidrolysis of tapioca starch with α-amylase enzyme from NOVO (Termamyl L120®), at 80° C, for 65 minute. Maltodextrin was used as a fi lm coating material at concentration 10%,15%,20% dan 25%. As a comparative fi lm coating material was used HPMC. The evaluation of the coating tablet was done accordance to Farmacope Indonesia third and fourth edition. The result show that maltodextrin DE 5-10 from tapioca starch can be used as fi lm coating at concentration 10-25% with concentration 10% gave better result a HPM
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
FORMULATION AND EVALUATION OF COSMETIC FOUNDATION USING EPIGALLOCATECHIN GALLATE AS A SUN PROTECTION
Objective: The objective of the study was to obtain a lotion foundation using epigallocatechin gallate (EGCG) as an active ingredient designed with asun protection factor (SPF) value around 30 that can effectively protect facial skin from ultraviolet radiation (UVR) exposure and that is safe to use.Methods: In this study, we determine SPF value using UV–visible spectrophotometry at a wavelength between 290 and 320 nm. The preparationformula of the foundation was made with an EGCG concentration of 0.4%, a concentration which can yield the desired SPF value of about 30. Physicalstability was performed at low (4±2°C), ambient (25±2°C), and high (40±2°C) temperatures; cycling and centrifugation tests were also conducted.Safety was evaluated by eye irritation test using hen’s egg test on chorioallantois method and skin irritation test using the Draize and patch testsmethod.Results: The SPF values of 0.04% EGCG and lotion foundation containing 0.4% EGCG were 31.02±0.72 and 33.20±0.59, respectively. The results ofcycling and centrifugal tests indicated that lotion foundation showed an absence of crystals and lack of any phase separation between oil and waterphases. The physical stability test showed no significant changes for all parameters. Safety tests resulted in neither skin nor eye irritation.Conclusion: The EGCG foundation developed was physically stable with a good appearance and did not irritate the skin or eyes thus are safe to usealso can effectively protect skin against UVR exposure
- …
