1,720,992 research outputs found
Spiritualità di Anthony de Mello
Služeći se metodom analize, autor razlaže duhovnost Anthonuja de
Mella koja Je usko vezana za Čovjeka na putu (egzistencijalna duhovnost). No, ona nije ništa manje ni duhovnost koja govori o vječnim vrijednostima. Upravo to svakodnevno s čim se susreće čovjek i čiji Je dio i ono vječno za čim čovjek neprestano i na različite načine traga, u duhovnosti Anthonya de Mella našli su se zajedno.Seguendo metodo analitico, Tautore espone la spiritualita di
Anthony de Mello la quale e sttretamente legata ali' uomo in cammino (la spiritualita esistenziale). Ma, questa non e tanto meno la
spiritualita dei valori eter ni. Nella spiritualita di Anthony de Mello si
trova insieme quello che Tuomo incontra nella sua quotidianita e
quell'eterno che Fuomo continuamente a diversi modi sta cercando
Jalan Menuju Tuhan: Studi Pemikiran Dan Praktik Doa Anthony De Mello
Perjumpaan dengan Tuhan merupakan pengalaman pribadi seseorang, buah dari rahmat dan anugerah Tuhan yang menyapa dirinya.Serta diiringi dengan usaha-usaha yang tekun dan maksimal.Untuk memasuki kehadiran Tuhan harus menggunakan dengan mata hati yang tajam dan sudah terasahyang mampu menyobek tirai-tirai penghalang yang menuju Tuhan. Sebab itu, supaya mata hati menjadi jeli harus dilatih dan dibina dengan cara tertentu. Dengan demikian, Skripsi ini berhubungan dengan tema ?Pemikiran dan Praktik Doa Anthony de Mello.? Anthony de Mello adalah seorang pastor, pembimbing rohani, pemimpin retret Sadhana di India. Dia mempunyai latihan-latihan tertentu, hasil dari pengalaman-pengalamannya menyelami dunia spiritual. Berkat pengalamannya itu ia tidak beku atau diam saja, justru dia mengajarkan sebuah latihan kepada seseorang untuk mencapai apa yang pernah ia capai, yakni merasakan kehadiran
Tuhan dalam segala hal. Kajian yang dilakukan saya dalam skripsi ini berupayamenelusuri buah
hasil pemikiran Anthony de Mello dan latihan retreatnya selama ia mendalami spiritual agama-agama. Dia tetap teguh dalam agamanya Katolik, walaupun terdapat kritikan dan hujatan dari Kardinal Roma Katolik, Paus Benediktus XVI. Menurutnya, Anthony de Mello dianggap telah menyimpang dari agama Katolik, tidak lagi memurnikan ajaran Katolik ia terkontaminasi dari unsur agama lain. Ia telahmemadukan spiritual agama-agama dan kemudian ia kemas dengan sebuah latihan-latihan. Akhirnya ia dicap bahwa ajaran atau latihannya tidak sesuai dengan ajaran Katolik. Dengan notifikasi itu, Anthony de Mello tidak surut, ia tetap mengajarkan latihan retreatnya sehingga kiprahnyapun sangat luar biasa, banyak orang berduyun-duyun ingin mengikuti latihan dan seminarnya.Karena latihannya membawa perubahan baru dalam kehidupan seseorang yang akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Memang, latihannya menekankan pada kontemplasi atau meditasi di mulai dengan keheningan yang memicu pada diri
sendiri dan buang jauh-jauh sifat keegoan. Secara singkatnya,penelitian ini ditulis agar mengetahui sepak terjang Anthony de Mello dalam perkembangan spiritual Katolik. Konon dengan menghadiriseminarnya pikiran kita akan terbuka menjadi positif dalam segala hal. Lebih-lebih mengikuti latihannya akanterbawa pada sensasi puncak kebahagian batin. Hal tersebut yang saya sadari, bahwa penelitian ini terdapatkelemahan dan kekurangan. Karena dalam penelitian ini tidak menggunakan metode observasi hanya metode deskriptif. Dengan demikian, pemikiran dan praktik doa Anthony de Mello digarap dan ditelusuri melalui karya-karyanya dan bahan pendukung yang bersinggung dengan Anthony de mello
A Religious–Psychological Study of Anthony de Mello’s Sadhana Practice
This study aims to examine Anthony de Mello’s Sadhana practice from a religious–psychological perspective, applying Carl Gustav Jung’s analytical psychology and views on the Spiritual Exercises. The analysis reveals that Sadhana, which integrates psychotherapeutic methods such as Gestalt therapy and the methodology of Vipassana meditation, holds significant implications. First, based on Jung’s theory, Sadhana pursues wholeness through the union of opposites, such as extraversion and introversion. Jung posited that opposing elements coexist within the human psyche, and their harmonization is central to individuation. Thus, practices that integrate these opposites are meaningful attempts to foster inner growth and maturity. Second, by incorporating Gestalt therapy into the Spiritual Exercises, Sadhana enhances awareness and employs methods to address contact boundary disturbances, enabling self-reflection and restoration of one’s relationship with God. Anthony de Mello’s Sadhana practice is evaluated as a novel case that presents new possibilities for contemporary Christian spirituality
El enigma de Anthony de Mello: La fórmula del éxito
El P. Anthony de Mello, jesuita indio, orador fascinante y autor de diversos bestseller internacionales, ha ejercido y aun ahora ejerce un poderoso influjo en la renovación posconciliar de la vida interior de innumerables católicos y de otros muchos. En la época de su repentina muerte, ocurrida en Nueva York en 1987, cuando estaba a punto de comenzar otra serie de conferencias, circulaban ya unas tres docenas de traducciones de su libro clásico sobre la oración, Sadhana, junto con una media docena de colecciones de historias y reflexiones, con un final generalmente no cerrado, que dejaban al propio lector la tarea de sacar las conclusiones. Actualmente, las traducciones de Sadhana son más de cuarenta, con innumerables ediciones. Han aparecido muchos libros que reivindican su autoría, así como vídeos que lo muestran en acción. Todos ellos han sido recogidos escrupulosamente por devotos admiradores
Lepas bebas : Perjalanan rohani Anthony de Mello
"Jangan berubah! Perubahan adalah sesuatu yang tidak mungkin. Apabila hal itu mungkin, perubahan itu bahkan terjadi dengan sendirinya. Perubahan yang terjadi dengan sendirinya merupakan perubahan sejati. Tetaplah seperti apa adanya kamu sekarang ini. Cintailah dirimu sendiri sebagaimana adanya. Kita mengupayakan perubahan agar dapat diterima, dan memenuhi harapan-harapan, dan dengan demikian dapat merasakan betapa bahagianya hidup menurut gambaran ideal yang telah kita bangun sendiri. Kita tidak sabar dengan diri kita sendiri dan memaksa diri untuk berubah. Satu-satunya perubahan yang sungguh-sungguh membangun adalah perubahan yang berasal dari penerimaan diri. Perubahan tidak pernah dapat dipaksakan. Ia terjadi dengan sendirinya." Demikian Anthony de Mello. Dalam hal ini, pandangan Tony telah mengalami perkembangan. Carlos berusaha mempresentasikan kembali pemikiran-pemikiran "sang guru" yang amat kaya, yang didapatnya saat mengikuti kursus pembaruan Sadhana di Lonavla (India) yang dibimbing oleh Tony, satu setengah bulan sebelum meninggalnya.;Bagi para pembaca yang telah menikmati dan merasakan manfaat dari buku-buku "sang guru", biografi perjalanan rohani yang mendalam ini akan sangat membantu pembaca mengenal, memahami, mengenang, dan memelihara buah-buah rohani yang telah diperolehnya dari pribadi "sang guru". ;198 hlm.; illus. 15 x 21 c
Sebuah Tinjauan terhadap Teologi dan Praktik Doa Anthony De Mello
Frater Anthony de Mello, S. J. (1931-1987) adalah tokoh yang kontroversial. Di satu pihak ia adalah guru spiritual yang berpengaruh luas. Buku-buku spiritualitasnya yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti: Spanyol, Portugis, Italia, Jepang, Mandarin, Indonesia, Bengali, dan Thailand telah mempengaruhi banyak orang. Tak hanya itu, ia telah berkeliling dunia untuk memimpin seminar-seminar dan latihan-latihan doa bagi ribuan orang. Pada tahun 1972 Mello mendirikan Institute of Pastoral Counselling and Spirituality di de Nobili College, Poona, India yang diberi nama Sadhana. Di tempat inilah banyak orang dari berbagai negara, terutama para Jesuit, telah datang untuk mengikuti retreat-retreat doa yang dipimpin oleh de Mello.
Namun, sebelas tahun selepas kematian de Mello, tepatnya tanggal 24 Juni 1998, dewan kardinal Roma Katolik mengeluarkan notifikasi yang menyatakan tulisan-tulisannya tidak sesuai dengan ajaran Roma Katolik. Dewan tersebut menilai ajarannya: (1) berpandangan apophaticism, yaitu menyatakan bahwa Allah tidak dapat dimengerti dan dijelaskan dengan bahasa manusia. Padahal, menurut notifikasi tersebut, Alkitab berisi pernyataan yang benar dan sah tentang Allah, (2) merendahkan kedudukan Yesus dengan memandang-Nya sebagai guru seperti guru-guru yang lain. Hanya Yesus yang telah mengalami kesadaran dan kemerdekaan penuh, sedang guru-guru lain belum, (3) memandang kejahatan sebagai sebuah ketidaktahuan dan tidak ada hukum moral yang objektif. Notifikasi itu mendapat reaksi keras dari banyak orang terutama kolega de Mello, para Jesuit di India. Mereka amat menyesalkan keluarnya notifikasi tersebut. Menurut mereka dikeluarkannya notifikasi itu lebih didasarkan atas buku-buku posthumous-nya, sehingga tidak mewakili keseluruhan pemikirannya. Francis Stroud, Frater Jesuit yang telah bekerja sama dengannya mengelola pusat spiritualitas di Fordham University di New York, menanggapi notifikasi itu, “It’s extremely hard for me to believe that anyone would find anything de Mello says to be anything other than orthodox. He was a very devout churchman.” Perlu diketahui bahwa meski ia mengaku banyak dipengaruhi oleh tradisi dan agama-agama lain, namun ia tetap menyatakan kesetiaannya pada ajaran Roma Katolik. Penolakan atas notifikasi itu terlihat dengan tidak ditariknya buku-bukunya dari peredaran atau tidak dicantumkannya notifikasi tersebut pada buku-buku Mello kendati dewan kardinal waktu itu memerintahkan hal tersebut. Malahan buku-bukunya terus dicetak dan menjadi best seller. Mengingat besarnya pengaruh dari tulisan-tulisan de Mello dan adanya kontroversi atas tulisan-tulisan tersebut, maka artikel ini akan membahas tulisan-tulisannya tersebut. Namun artikel ini tidak membahas keseluruhan tulisannya, tetapi secara khusus akan memaparkan secara ringkas teologi dan praktik doanya. Kemudian penulis akan meninjau teologi dan praktik doa tersebut, dan diakhiri dengan aplikasi bagi umat Kristen
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
