1,720,989 research outputs found

    PEMANFAATAN TELUR RAJUNGAN DALAM PEMBUATAN BAKSO SEBAGAI ALTERNATIF GIZI MASYARAKAT

    Get PDF
    At Present, utilisation of Swimming Crab (Portunus pelagicus) eggs is not high enough whereas its have a high nutrition also cheap on price. Eggs of Swimming Crab, if it has processed with simple skill and simple technology, it can became a nutricious food product and also economic on price. Eggs of swimming crabs can processing became a alternative product like Swimming Crab eggs meatballs. The aim of this research is utilising eggs of Swimming Crab, reduced from Swimming Crab industries, as raw material on eggs of Swimming Crab meatballs processing with different mixing raw material composition also to find out the quality of meatballs and konsumen preference. Penelitian dilakukan dengan metode diskriptif analitis dalam skala laboratorium. Metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Penulisan disajikan dengan membertican gambaran secara menyeluruh dan jelas tentang penelitian disertai dengan analisisa data yang mendukung dalam pond it Ian. The methode from this research is an analitis discriptive with laboratorium scale. A discriptive methode is a methode to searching human community status, object, condision, thinking system or a moment class at present. Writing methode described the whole and clearly about this research with data analytical on this research. The result of proksimat test are showed that AW from sample of fresh Swimming Crab eggs, sample one, sample two and sample tree continued 67.778%, 55.141%, 54.943% and 51.397%; Ash content are continued 2.252%, 1.596%, 1.517% and 1 124%; fat content are continued 5.802%, 4.724%, 3.391% and 3.803%; protein content are continued 20.063%, 9.093%, 6.305%, and 5.852% and carbohidrat content are continued 4.105%, 29.447%, 33.844%, and 37.824%. The result of hedonic scale from sample one is showed 6,396 < µ< 7.033, meatballs sample two is showed 6.346 < g < 6.682 and meatballs sample tree is showed 5.785 < g < 6.444. From this result of hedonic scale test are showed that eggs of Swimming Crab meatballs can consume but it has not too high value of konsumen preference. Selama ini telur rajungan belum banyak pemanfaatannya padahal telur rajungan ini mempunyai banyak kandungan gizi serta murah harganya. Telur rajungan ini jika diolah melalui ketrampilan dan teknologi sederhana dapat menjadi prodttk yang MIMI bermanfaat sebagai nilai I ambah dari segi gizi maupun segi ekonomi. Telur rajungan tersebut dapat diolahmenjadi produk altematif. Tujuan dari pelaksanaan penelitian adalah untuk memanfaatkan telur rajungan sebagai bahan baku dalam pembuatan bakso, mengetahui tingkat kesukaan masyarakat dan mengetahui kualitas dan kandungan bahan kimiawi yang terkandung dalam bakso yang berbahan baku telur rajungan untuk melihat kandungan gizinya (kadar protein, lemak, air, abu, karbohidrat). Pcnclitian dilakukan dengan metode diskriptif analitis dalam Skala laboratorium. Metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Penulisan disajikan dengan memberikan gambaran secara menyelitruh dan jelas tentang penelitian disertai dengan analisisa data yang mendukung dalam penelitian. Hasil uji proksimat menunjukkan bahwa kadar air pada sampel telur rajungan, bakso sampel situ, dua dan tiga berturut-turut adalah 67.778 %, 55.141%, 54.943% dan 51.397%, kadar abu berturut-turut adalah 2.252%, 1.596%, 1.517% dan 1.124%, kadar Iemak berturut-turut adalah 5.802%, 4.724%, 3.391% dan 3.803%, kadar protein berturut-turut 20.063%, 9.093%, 6.305%, dan 5.852% sedangkan kadar karbohidrat bertumt-tumt 4.105%, 29.447%, 33.844%, dan 37 824%. Hasi] uji hedonic scale bakso sampel 1 menunjukkan nilai sebesar 6.396 < p < 7.033, pada bakso sampel 2 menunjukkan nilai sebesar 6.346 < p. < 6.682 dan bakso sampel 3 menunjukkan nilai sebesar 5 785 < p < 6.444. Hasil uji hedonic scale terhadap bakso telur rajungan menunjukkan bahwa bakso tersebut bisa dikonsumsi tetapi mempunyai nilai kesukaan yang tidak terlalu besa

    APLIKASI KHTTOSAN SEBAGAI PENGAWET ALAMI TERRADAP KUALITAS IKAN ASIN MANYUNG (Arius sp) SECARA ORGANOLEPTIK DAN MICROBIOLOGI

    Get PDF
    Pada proses penelitian ini, bahan baku berupa Ikan Manyung (Arius sp) diperoleh di perairan Jepara. Sebelum dibawa ke Semarang ikan Manyung diberi es dengan perbandingan 1:1. Dad basil uji organoleptik ikan Manyung yang diperoleh mempunyai kualitas yang baik. Hal itu terlihat dad nilai rata-rata organoleptik ikan Manyung segar yang cukup tinggi yaitu 8.10 dengan selang kepercayaan 7.92 < p < 8.28 pada taraf uji 95%. Menurut SNI ikan Manyung segar tersebut masih layak dikonsumsi. Ikan Manyung tersebut kemudian difilet dengan ukuran kira-kira 5x7 cm. Dan 30 kg berat seluruh ikan diperoleh fillet dengan berat 9 kg. Kemudian digarami sebanyak 30% dad berat ikan selama 24 jam. Setelah proses penggaraman nampak daging ikan manyung Iebih kompak dan padat hal tersebut karena garam telah masuk di dalam daging ikan. Kemudian ikan dicuci bersih dan direndam dengan air bersih selama 2 jam kemudian ditiriskan. Selanjutnya ikan manyung diberi perlakuan berupa perendaaman dengan larutan khitosan. Perlakuan pertama ikan tidak diberi khitosan (KO), perlakua kedua ikan direndam larutan khitosan komersial yang telah diencerkan 50% (K1), perlakuan ketiga ikan direndam dengan larutan khitosan yang telah diencerkan 100% (K2), perlakuan keempat ikan direndam dengan larutan khitosan yang telah diencerkan 200% (1(3). Perendaman dengan larutan khitosan dilakukan selama 5 menit. Ikan yang direndam dengan khitosan nampak mengalami sedikit perubahan wama yaitu sedikit keabu-abuan. Ikan kemudian dikeringkan dengan sinar matahari. Ikan asin Manyung benar-bcnar kering pada had Ice-5 proses pengeringan. Kemudian dilakukan uji organoleptik dan angka lempeng total. Dad basil pengujian organoleptik ikan asin manyung tanpa khitosan (KO) menunjukkan nilai rata-rata yang baik yaitu 8.03 dengan selang kepercayaan 7.78 < p 8.28 sedangkan K1 (50%), K2 (100%) dan K3 (200%) masing masing mempunyai nilai rata-rata organoleptik 8.0, 8.13, 7.85 dengan selang kepercayaan masing-masing 7.77 < 8.23, 7.85 < µ < 8.41, 7.56 < µ < 8.14. Dad uji kesukaan (hedonic scale) menunjukkan ikan asin manyung baik tanpa khitosan maupun dengan khitosan disukai oleh panelis. Nilai rata-rata uji hedonic scale ikan asin tanpa khitosan (IC0) adalah 7.69 dengan selang kepercayaan 7.44 < µ < 7.94. Sedangkan nilai rata-rata uji hedonic scale dengan nengenceran 50% (K1) adalah 7.21 dengan selang kepercayaan 6.95 S. µ S 7.47. Pada pengenceran 100% (K2) nilai rata-rata uji hedonic scale adalah 7.08 dengan selang kepercayaan 6.77 < µ < 7.39 dan pada pengenceran 200% mempunyai nilai rata-rata 7.11 dengan selang kepercayaan 6.83 :5 g 5.. 7.39. Dad basil pengujian nilai TPC menunjukkan jumlah bakteri dari ke empat perlakuan masih layak dikonsumsi karena kurang dari lx 105 yaitu pada KO rata-rata jumlah bakteri 1.6x102, K1 dengan jumlah bakteri rata-rata 2.1x102. Rata-rata jumlah bakteri untuk perlakuan K2 adalah 2.06x102 dan perlakuan 1C3 adalah 2.6x102 Setelah penyimpanan selama 2 bulan ikan asin manyung diuji kembali secara organoleptik, hedonic scale dan jumlah total bakteri (TPC). Dari hasil pengujian organoleptik ikan asin manyung tanpa khitosan (KO) menunjukkan nilai rata-rata yang baik yaitu 7.73 dengan selang kepercayaan 7. 56 < it < 7.90 sedangkan K1 (50%), K2 (100%) dan K3 (200%) masing masing mempunyai nilai rata-rata organoleptik 7.88, 7.70, 7.92 dengan selang kepercayaan masing-masing 7.62 < µ < 8.06 , 7.49 < p < 8.01, 7.62 5 g < 8.22 . Dad hasi pengujian keragaman ternyata secara organoleptik ikan asin tanpa kitosan dan dengan penambahan kitosan baik Kl, K2 maupun K3 tidak berbeda nyata, karena Fhitung 0.935 lebih kecil dari F tabel 2.76 (5%). Dad uji kesukaan (hedonic scale) menunjukkan ikan asin manyung baik tanpa khitosan maupun dengan khitosan setelah penyimpanan 2 bulan masih disukai oleh panelis. Nilai rata-rata uji hedonic scale ikan asin tanpa khitosan (KO) adalah 6.61 dengan selang kepercayaan 6.26 < p. 5 6.96 Sedangkan nilai rata-rata uji hedonic scale dengan pengenceran 50% (K1) adalah 6.45 dengan selang kepercayaan 6.03 5_ Et < 6.87. Pada pengenceran 100% (K2) nilai rata-rata uji hedonic scale adalah 6.33 dengan selang kepercayaan 5.97 5 p 5 6.69 dan pada pengenceran 200% mempunyai nilai rata-rata 6.29 dengan selang kepercayaan 5.90 5 p. 6.68. Dad hasi pengujian keragaman setelah penyimpanan selama 2 bulan ternyata dari uji hedonic scale ikan asin tanpa kitosan dan dengan penambahan kitosan baik K t, K2 maupun K3 tidak berbeda, karena Fhitung 0.513 lebih keci dari F tabel 2.76 (5%). Dad hash pengujian nilai TPC setelah penyimpanan 2 bulan menunjukkan jumlah bakteri dari ke empat perlakuan masih layak dikonsumsi karena kurang dad lx 105 yaitu pada KO rata-rata jumlah bakteri 300, K1 dengan jumlah bakteri rata-rata 175. Rata-rata jumlah bakteri untuk perlakuan K2 adalah 275 dan perlakuan K3 adalah 250 Raw material of this research were Cat Fish (Arius .sp). They were come from Jepara. Before they were carried at Semarang, they were given ice with ratio 1:1. The organoleptic test value shew the good quality of these raw material. Average of organoleptic test value were 8.10 with range of believe 7.92 5_ p 5_ 8.28 at 95% test degree. Based on SNI, these raw material can be consumed. After raw material arrived at semarang, they filleted 5 cm x 7 cm. From 20 kg of whole material were become 9 kg of fillet. Then the fillet were salted 30% from fillet weight. After salted process, the raw material were more compact because salt were absorbed. Then fillet were washed and soaked in the water for two hours. The fillet were devided four treatment. The first treatment, the fillets were without chitosan (KO), second treatment, they were soaked in commercial chitosan that was diluted 50% (K1), third treatmem was soaked in 100% dilution of commercial chitosan (K2) and the last treatment soaked in 200% dilution of commercial chitosan (K3). The soaking was done for 5 minute. The cat fish fillets were become grayish. Then the cat fish fillet dried at sunrise. Salted cat fish dried after 5 days. Afterwards, they were tested. The test were organoleptic, hedonic scale and, TPC (Total Plate Count). The result of this research shew the salted cat fish had good quality of organoleptic. The average of organoleptic of KO was 8.01 with believe range 7.78 5_ p. 5_ 8.28. The average organoleptic value of K1, K2, K3 were 88.0, 8.13, 7.85 respectively with believe range 7.77 5 p 5_ 8.23, 7.85 5 ti..5 8.41, 7.56 5 El 5. 8.14 respevtively. From the hedonic scale test, the salted cat fish whit or without chitosan were enjoyed by consumer. The KO average value of hedonic scale was 7,69 with believing range 7.445 is 7.94. The K1 was 7.21, believing range 6.9% p 5 7.47. . The K2 was 7.08, believing range 6.775 p 5 7.39. The K3 was 7.11, believing range 6.835 p 5 7.39. The result of TPC test shew the total bacteri of all threatment could be consumed because less than 1x 105. The TPC average of KO, K1, K2, K3 were 1.6x 102, 2.1x 102, 2.06x 102, 2.6x 102 respectivel

    Proses Pembuatan Kecap Ikan dari Limbah Pengasapan Ikan Manyung (Arius sp.)

    Get PDF
    Produksi kecap ikan dapat dipercepat dengan memanfaatkan viscera (organ dalam) ikan Manyung (Arius sp.) dari limbah pengolahan ikan asap (sebagai bahan baku) dengan penambahan garam dapur 25 % dan penambahan enzim tripsin komersial 0,3% dari berat bahan baku dengan lama waktu fermentasi 3 bulan. Proses produksi kecap ikan dari limbah pengasapan ikan meliputi : pengecilan ukuran bahan baku, pencucian, penirisan, pencampuran bahan baku dengan garam dapur (NaCl) dan enzim tripsin komersial sesuai dengan formulasi dalam wadah bertutup rapat, proses fermentasi dalam ruangan bersuhu 28-30 C selama 3 bulan, proses sterilisasi, penyaringan, proses sentrifuse filtrat, pemisahan supernatan, penyaringan supernatan, filtrat supernatan tersebut merupakan produk kecap ikan. Mutu produk yang diperolah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : kenampakan jernih, bau khas, rasa khas, warna coklat kemerahan. Kandungan N total (1,58 g/100 ml), garam NaCl (34,72 %), pH (5,27) yang ketiga-tiganya memenuhi persyaratan produk kecap ikan menurut SNI, Codex dan Thai Internasional Standart Institute grade II. Nilai warna L, a, b, serta kadar TVBN berada pada kisaran nilai produk kecap ikan komersial dari Thailand. Rendemen rata-rata yang didaat 70%

    Buku Ajar Ikan Tuna dan Penanganannya

    Get PDF
    Ikan tuna merupakan ikan pelagis besar yang harganya relatif mahal. Untuk pasar nasional saja ikan tuna sudah mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, apalagi bila dipasarkan keluar negeri atau dieksport, tentunya nilai ekonomis ikan tuna ini akan bertambah. Tetapi tidak semua ikan tuna hasil tangkapan dari negara Indonesia dapat dieksport ke luar negeri, hanya ikan-ikan tuna yan bermutu baik saja yang mampu dan bisa untuk menembus pasaran eksport, sedangkan ikan-ikan tuna yang bermutu rendah hanya bisa dipasarkan di dalam negeri saja. Buku ini memberikan sedikit gambaran dan pedoman dalam rangka menangani ikan tuna dengan baik sehingga ikan tuna yang tertangkap dapat selalu terjaga kualitasnya. Diharapkan dengan mendalami materi yang ada dalam buku ini dapat mengetahui tentang potensi perikanan tuna, cara penangkapan, cara penanganan sampai pada pengolahan ikan tuna menjadi produk akhi

    Energi Aktivasi Perubahan Nilai Free Fatty Acid pada Abon Ikan Lele Dumbo (Clarias sp) Selama Penyimpanan

    No full text
    Salah satu penyebab timbulnya bau tidak enak pada abon ikan adalah terakumulasinya senyawa free fatty acid (ffa) akibat proses hidrolisis dari lemak pada abon tersebut. Perlakuan panas selama penyimpanan abon akan semakin memicu terbentuknya ffa sehingga baunya akan semakin tidak enak. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan fenomena perubahan kualitas abon lele dumbo dari parameter nilai ffa sebagai akibat perlakuan suhu dan waktu, dengan cara mencari nilai energi aktivasi perubahan nilai ffa tersebut. Materi yang dipelajari adalah abon ikan lele dumbo (Clarias sp). Peralatan yang digunakan adalah container penyimpan abon yang telah didesain pada suhu tertentu yaitu 10, 25, 35 dan 45oC. Waktu pengambilan sampel dilakukan pada hari ke-1, 8, 16, 24 dan 32. Metode penentuan energi aktivasi dengan pendekatan metode Arrhenius berdasarkan parameter perubahan nilai ffa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju peningkatan nilai ffa terjadi seiring dengan pertambahan waktu dan suhu penyimpanan. Hasil perhitungan energi aktivasi pada reaksi orde pertama diperoleh nilai 22,97 kj/mol dengan faktor frequensi (ko) sebesar 211,706 (1/hari). Model persamaan Arrhenius yang diperoleh adalah k= 211,706. e(-22,97/RT).</jats:p

    PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) TERHADAP KUALITAS DAN DAYA TERIMA FISH FLAKES

    Get PDF
    Flakes merupakan salah satu makanan sarapan (breakfast cereal) siap saji yang mudah disajikan, cepat, praktis dan bergizi untuk mengisi kebutuhan energi. Flakes dibuat melalui proses pencampuran bahan, pemanasan, pencetakan serta pemanggangan, dan pendinginan. Ikan nila sebagai bahan pangan memiliki kandungan gizi yang tinggi salah satunya kandungan protein. Tepung ikan nila dapat digunakan sebagai sumber protein di dalam produk fish flakes. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas dan daya terima fish flakes dengan penambahan tepung ikan nila, serta menentukan formulasi konsentrasi penambahan tepung ikan nila yang menghasilkan fish flakes terbaik. Penelitian dilakukan di laboratorium, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan penelitian adalah penambahan tepung ikan nila dengan konsentrasi berbeda yaitu 0%, 7,5%, 10% dan 12,5%. Data non parametrik hedonik dan parametrik, kadar air, protein, asam amino, tekstur dan analisa warna diolah dengan menggunakan SPSS 16. Analisis profil asam amino dilakukan pada fish flakes dengan perlakuan terbaik. Hasil terbaik didapatkan dengan konsentrasi penambahan tepung ikan 10% dengan nilai kadar air 4,49%, kadar protein 7,95% (BB) dan 8,32% (BK), analisis kerenyahan (crispiness) 605,87 gf, analisis warna 27,53 (L), 19,27 (a*) dan 20,33 (b*) dan rata-rata hasil uji hedonik 7,72 < µ < 7,94. Fish flakes dengan penambahan tepung ikan nila 10% mengandung asam amino baik asam amino esensial maupun asam amino non-esensial yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan penambahan tepung ikan 0% (kontrol). Hasil analisis menunjukkan asam amino yang tertinggi yaitu asam glutamat, asam aspartat, leusin, lisin, alanin dan treonin

    KARAKTERISTIK MINYAK IKAN MAS (Cyprinus carpio) DARI HASIL DRY RENDERING DENGAN SUHU DAN WAKTU YANG BERBEDA

    Get PDF
    Pemanfaatan ikan mas (Cyprinus carpio) selama ini hanya sekedar pada dagingnya saja sedangkan isi perut atau jeroan ikan mas belum dimanfaatkan dan biasanya hanya dibuang. Jeroan ikan mas memiliki kandungan minyak ikan yang dapat dimanfaatkan. Minyak ikan merupakan asupan minyak esensial yang mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Pemanfaatan minyak ikan dapat dilakukan memalui proses ekstraksi. Salah satu metode ekstraksi minyak ikan yang sering digunakan yaitu dry rendering. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap. Tahap I menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan suhu (40oC, 60oC, 80oC, dan 100oC) dan waktu (2 jam, 3 jam, dan 4 jam) yang berbeda. Hasil dari tahap I diketahui bahwa waktu dry rendering selama 2 jam memberikan hasil yang paling optimal. Parameter uji tahap I meliputi nilai rendemen (11,05%), citra warna (R:148, G:109, B:14), dan organoleptik (8,53<µ<8,86). Penelitian kemudian dilanjutkan pada tahap II dengan menerapkan waktu dry rendering optimal pada tahap I. Rancangan percobaan pada tahap II menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan suhu 40oC, 60oC, dan 80oC selama 2 jam. Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskal-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Berdasarkan tahap I dan tahap II dry rendering minyak ikan mas optimal pada suhu 80oC selama 2 jam dengan slip melting point (35,13oC), warna hunlab (L:60,86, a:-5,31, b:17,6), angka iod (6,76%), angka peroksida (8,63%), kadar air (0,86%), dan angka asam lemak bebas (1,44%)

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore