16 research outputs found
PENGEMBANGAN PERMAINAN KONSTRUKTIF KATA SEBAGAI ALAT UKUR KEMAMPUAN BERBAHASA PADA SISWA KELAS III SDN KARANGBESUKI 1 DAN 2
ABSTRAK Mantara, Angga Yuni. 2014. Pengembangan Permainan Konstruktif Kata Sebagai Alat Ukur Kemampuan Berbahasa Pada Siswa Kelas III SDN Karangbesuki 1 dan 2. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi. (II) Gama Rahmita Ureka Hakim, S. Psi., M.Psi. Kata Kunci: alat ukur, kemampuan berbahasa, permainan konstruktif kata. Bahasa merupakan pembelajaran yang pertama kali diterima oleh anak. Hal ini berkaitan dengan bagaimana mereka menyampaikan keinginan dan memberikan penjelasan kepada orang lain. Kemampuan berbahasa pada anak usia tertentu seringkali dikaitkan dengan kecerdasan anak tersebut yang dilihat dari usia pertama kali bisa berbicara dengan lancar. Namun, ada kalanya kesulitan berbahasa pada anak menimbulkan gangguan belajar tersendiri yang menyebabkan prestasi mereka tidak sesuai dengan seharusnya. Maka diperlukan alat ukur untuk mengukur kemampuan berbahasa anak untuk memberikan pemahaman tentang kemampuan berbahasa itu sendiri kepada orang lain. Untuk melakukan pengukuran kemampuan berbahasa anak diperlukan metode yang mumpuni dan menyenangkan, salah satunya dengan metode permainan konstruktif kata. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat ukur kemampuan berbahasa pada siswa kelas tiga sekolah dasar dengan permainan konstruktif kata. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang bertujuan untuk mengembangkan suatu produk dan mengembangkan produk tersebut untuk menjadi instrumen yang siap pakai, dipercaya, dan mempunyai nilai keajegan yang tinggi. Prosedur yang dilakukan melalui 7 langkah yang meliputi analisa kebutuhan, perancangan desain, implementasi desain, validasi ahli, revisi permainan, uji kelayakan, dan perbaikan produk. Permainan diujikan kepada siswa kelas tiga sekolah dasar. Permainan konstruktif kata merupakan permainan berpasangan. Salah satunya bertindak sebagai pemain, dan yang lain sebagai interpretator. Tugas interpretator yakni memberikan petunjuk utama kepada pemain tentang kelompok kata yang dimaksud dan memberikan respon kepada pemain apabila pemain memberikan petunjuk yang berusaha merujuk pada kata yang dimaksud. Sedangkan tugas pemain ialah menebak petunjuk utama yang diberikan dengan memberikan serangkaian kata yang berusaha merujuk pada petunjuk dan menebak kata apa yang dimaksud dalam permainan. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa permainan konstruktif kata mampu dalam mengukur kemampuan berbahasa siswa. Hal ini dilihat dari tingkat validitas berkisar 0,50 – 0,69 dan koefisien reliabilitas terletak pada 0,73 yang tergolong tinggi. Permainan ini menggunakan kata atau frase terhadap beberapa hal yang berada disekitar anak sehingga mampu menggambarkan kemampuan anak dalam kondisi sehari-hari. Berdasarkan hasil pengembangan ini, disarankan (1) sebaiknya permainan ini mampu digunakan dalam metode pembelajaran, baik tentang materi bahasa ataupun materi lain yang mampu diaplikasikan dengan permainan ini. (2) bagi penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah variasi kosa kata yang diujikan, subjek uji permainan, ataupun menggunakan kosa kata dari tes yang telah terstandar. Apabila dimungkinkan, permainan ini mampu diterapkan pada rentang tingkat lain.
Effect of the Critic’s Group Status and Length of Stay on Intergroup Sensitivity Effect
This study aims to determine the effect of group membership (outgroup, Ex-outgroup) and length of stay (long, short) to intergroup sensitivity effect (ISE). Earlier ISE studies only focused on outgroup and ingroup critics, and showed that outgroup critics tend to be rejected and perceived more negative than ingroup critic. This quasi-experiment study further examined critics from outgroup and ex-outgroup (N = 185, Mage = 21,58). ISE is measured by the degree of likeability, constructiveness, negativity, and agreeableness to critic from outgroup and ex-outgroup. We predict that critic from outgroup will reveal a stronger ISE than ex-outgroup critic who had stayed longer in Indonesia. The results showed that there are significant effects of group membership status to agreeableness, and length of stay to constructiveness. Furthermore, the interaction between the critic and length of stay affects only occurred when the speaker’s length of stay is short
Pembentukan kelompok secara daring di Indonesia: Fenomena Sobat Ambyar
Sobat Ambyar is a very interesting phenomenon considering that fan groups are usually formed from the start when an artist is famous. In contrast to other fan groups, ambyar friends appear when there is a special moment when one of the concert becomes viral on social media. In addition, Sobat Ambyar is an identity that is attached to a person, whether he is a member of the community or not. So, to see the differences and how individuals identify themselves as Sobat Ambyar and attach that identity to themselves, this research was carried out, especially the term Sobat Ambyar is an identity that emerges from social media and become social identity that emerged from online forum. The study used a phenomenological qualitative approach by conducting interviews with the initiator of Sobat Ambyar, the chairman of Sobat Ambyar Jakarta (SAJ), and the Commander of Sobat Ambyar. The results of the study indicate that the group initiation, values, member recognition, and structure are different, as well as several other things that are slightly different where SAJ has a more structured and well administered than the Sobat Ambyar group in Solo as the center. This is because the background and dynamics of the organization are also more complex.Sobat Ambyar merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik mengingat kelompok fans biasanya terbentuk sejak awal seorang artis tersebut tenar. Berbeda dengan kelompok fans lain, Sobat Ambyar muncul ketika ada momen khusus yang meledak dengan salah satu konser dan menjadi viral dimedia sosial. Selain itu, Sobat Ambyar merupakan identitas yang melekat pada seseorang, terlepat dia tergabung dalam komunitas atau tidak. Maka, untuk melihat perbedaan dan bagaimana individu-individu mengidentifikasikan dirinya sebagai Sobat Ambyar dan melekatkan identitas tersebut pada diri mereka, maka penelitian ini dilaksanakan, terlebih istilah Sobat Ambyar merupakan identitas yang muncul dari media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan melakukan wawancara terhadap inisiator Sobat Ambyar, ketua Sobat Ambyar Jakarta (SAJ), dan Komandan Sobat Ambyar. Hasil penelitian mengindikasikan inisiasi kelompok, tata nilai, pengakuan anggota, dan struktur yang berbeda, serta beberapa hal lain sedikit berbeda dimana SAJ memiliki tata kelola yang lebih terstruktur dan sedikit lebih kompleks dibandingkan kelompok Sobat Ambyar yang ada di Solo sebagai pusat. Hal ini dikarenakan latar belakang dan dinamika organisasi yang juga lebih kompleks
Effect of the Critic’s Group Status and Length of Stay on Intergroup Sensitivity Effect
This study aims to determine the effect of group membership (outgroup, Ex-outgroup) and length of stay (long, short) to intergroup sensitivity effect (ISE). Earlier ISE studies only focused on outgroup and ingroup critics, and showed that outgroup critics tend to be rejected and perceived more negative than ingroup critic. This quasi-experiment study further examined critics from outgroup and ex-outgroup (N = 185, Mage = 21,58). ISE is measured by the degree of likeability, constructiveness, negativity, and agreeableness to critic from outgroup and ex-outgroup. We predict that critic from outgroup will reveal a stronger ISE than ex-outgroup critic who had stayed longer in Indonesia. The results showed that there are significant effects of group membership status to agreeableness, and length of stay to constructiveness. Furthermore, the interaction between the critic and length of stay affects only occurred when the speaker’s length of stay is short
Mediation of Social Support on The Effect of Self Disclosure on Psychological Well-being in Unmarried Early Adults in Malang City
This study aims to determine how big influence self-disclosure has on psychological well-being with social support mediation in unmarried early adults in Malang City. The study was conducted using quantitative methods with participants from Malang City residents who aged between 18-40 years old and were unmarried. The data were collected by using a questionnaire containing questions or statements regarding the variables to be measured which will be distributed through Google Form. The collected data were analyzed using normality test, linearity test, and regression test. The results indicated that social support affects psychological well-being than self-disclosure itself. In this study, face-to-face interaction was what created the interaction.
Keywords: self-disclosure, psychological well-being, social support, early adulthoo
PELATIHAN MINDFULNESS UNTUK MENGATASI BURN OUT KEPADA PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN DI KOTA MALANG
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) adalah pekerja sosial yang mendampingi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH dalam menerima bantuan. Dalam pelaksanaannya pendamping PKH memiliki banyak resiko terkena burnout karena beban pekerjaan yang berlebih, diantaranya tidak sesuainya tugas pokok yang harus dikerjakan, jarak tempuh antara tempat kerja dan tempat tinggal, serta banyaknya KPM yang harus didampingi. Burnout adalah kondisi stres kronis dimana pekerja merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional yang diakibatkan pekerjaannya. Mindfulness adalah sebuah teknik meditasi yang dapat mengurangi burnout. Pelatihan mindfulness ini dilakukan untuk mengurangi burn out pada pendamping PKH di Kota Malang. Pelatihan terdiri dari 8 sesi yang terdiri dari: 1) perkenalan & gambaran singkat mindfulness; 2) meditasi pernapasan; 3) menyadari sensasi tubuh; 4) penghargaan; 5) membuka kesadaran dan menerima perasaan; 6) membebaskan diri dari hasrat; 7) menerapkan mindfulness dan 8) penutup. Pre-test dan Post-test dilakukan untuk mengukur keberhasilan pelatihan menggunakan alat ukur Maslach Burnout Inventory-Human-Services Survey (MBI-HSS). Hasil pre-test menunjukkan skor rata-rata 56, yang menunjukkan bahwa burnout pada pendamping PKH berada pada kategori sedang. Hasil post-test dari pelatihan mindfulness ini menunjukkan adanya penurunan skor burnout rata-rata sebesar 8.5 sehingga dapat disimpulkan pelatihan mindfulness berhasil mengurangi burn out pada pendamping PKH Kota Malang. Mindfulness perlu diterapkan lebih lama untuk mendapatkan skor yang lebih baik lagi dalam mengurangi burnout. Diharapkan dengan berkurangnya burnout pada pendamping PKH maka akan dapat meningkatkan kinerja para pendamping PKH dalam mendampingi KPM PK
Student’s Evaluation on the Use of Learning Media During Pandemic
This research aims to find out student assessments of the learning media used during the Covid-19 pandemic. We tested several learning media used, first is the WhatsApp group, zoom, and Learning Management System (LMS) used by campus. Descriptive statistic from 616 people (24.28% were male), we found that the use of text-based synchronus learning media was more desirable than the use of existing video or LMS. Positive ratings are mainly on the frequent use, effectiveness, flexibility, speed, and cheap. However, in terms of interactive abilities, clarity of information, and fun media, google meet combination with zoom better than other media trough synchrous audio-video communcation. In other hand, Campus’s LMS were lowest on mostly dimentions that used in this research.
Keywords: LMS, effectiveness, pandemi
Bagaimana pola asuh authoritarian mempengaruhi impostor phenomenon pada mahasiswa baru? How does authoritarian parenting affect Impostor Phenomenon in Freshmen?
Impostor Phenomenon is a syndrome that occurs in many freshmen. This phenomenon is closely related to authoritarian parenting. This study aims to determine the effect of authoritarian parenting on impostor phenomenon in freshmen class of 2022, Faculty of Psychology, State University of Malang. This study uses a quantitative approach with a correlational design. The population of this study were freshmen class of 2022, Faculty of Psychology, State University of Malang. The sample used in this study was 91 participants using the quota sampling technique. Data collection used the Parenting Style and Dimensions Questionnaire (PSDQ) on Adolescent which has been adapted to Indonesian by Fahiroh, Tairas, and Retnowati (2019), and adapted the Clance Impostor Phenomenon Scale based on the concept of Dr Clance and Imes (1978). Regression test results showed that authoritarian parenting significantly predicted impostor phenomenon in freshmen (F=17.077; p < 0.05).Impostor Phenomenon merupakan sindrom yang banyak terjadi pada mahasiswa baru. Fenomena ini erat kaitannya dengan pola asuh authoritarian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh authoritarian terhadap impostor phenomenon pada Mahasiswa Baru Angkatan 2022 Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi dari penelitian ini adalah Mahasiswa Baru Angkatan 2022 Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 91 partisipan menggunakan teknik sampling quota. Pengumpulan data menggunakan Parenting Style and Dimensions Questionnaire (PSDQ) on Adolescent yang telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia oleh Fahiroh, Tairas, dan Retnowati (2019), serta mengadaptasi skala Clance Impostor Phenomenon Scale berdasarkan konsep Clance dan Imes (1978). Hasil uji regresi menunjukkan bahwa pola asuh authoritarian secara signifikan memprediksi impostor phenomenon pada mahasiswa baru (F=17,077)
Adaptation of the Online Disinhibition Effect Scale
The phenomenon of online disinhibition prompts individuals to relax their internal boundaries, as they can deviate from social norms, particularly in virtual environments. Individuals tend to engage in behaviors that may cause disruption to others and pose potential harm to themselves. We assume that internet usage is expected to remain significant in the coming years, so a tool is needed to assess this phenomenon. We use The Confirmatory Factor Analysis tool to test adapted version of The Online Disinhibition Effect scale from English to Bahasa Indonesia. The analysis findings indicated that the tool is suitable for characterizing the online disinhibition effect X2 (6, 252)=.48, p=.49. It means that this instrument is suitable for use in Indonesia.
Keywords: Instruments, ODE, onlin
Pendampingan Kegiatan Posyandu Lansia Guna Meningkatkan Persepsi Terhadap Pentingnya Senam Lansia
Seiring bertambahnya usia lansia menyebabkan fungsi organ tubuh menurun sehingga mereka lebih rentan terkena penyakit seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, dan lain-lain. Salah satu terapi non farmakologi yang dapat dilakukan adalam senam lansia. Manfaat yang diterapkan dari senam lansia dapat meningkatkan komponen kebugaran kardio-respirasi, yaitu peningkatan efisiensi jantung, paru, dan sistem dalam pembuluh darah dalam mengirimkan oksigen ke seluruh paru-paru. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan persepsi dan antusias lansia terhadap aktivitas fisik yaitu senam lansia. Sasaran dari kegiatan ini adalah kader lansia dan peserta posyandu lansia RW 04 Candirenggo. Metode yang dilakukan yaitu edukasi dan pendampingan pelaksanaan senam lansia selama tiga bulan serta wawancara persepsi lansia. Hasil yang didapat bahwa antusias dan persepsi lansia meningkat dengan adanya pendampingan senam lansia di Posyandu Lansia, sehingga harapan kedepannya dapat terus dilaksanakan minimal setiap sebulan sekali. Kata kunci— Lansia, Posyandu Lansia, Senam Lansia, Hipertensi Abstract As the elderly get older, the function of their organs decreases susceptibility to diseases such as heart disease, hypertension, diabetes mellitus, and others. Either the non-pharmacological therapies that can perform in gymnastics for the elderly. The benefits applied from elderly gymnastics can improve the components of cardio-respiratory fitness. The purpose of this community service is to increase the perception and enthusiasm of the elderly towards physical activity, namely elderly exercise. The targets of this activity are elderly cadres and participants in the elderly Posyandu RW 04 Candirenggo. The method used is education and assistance in the implementation of elderly gymnastics for three months and interviewing the perceptions of the elderly. The results obtained are that the enthusiasm and perceptions of the elderly have increased with the assistance of elderly gymnastics at the Elderly Posyandu so that future expectations can continue to be carried out at least once a month. Keywords— Elderly, Elderly Integrated Health Post, Elderly Gymnastics, HypertensionSeiring bertambahnya usia lansia menyebabkan fungsi organ tubuh menurun sehingga mereka lebih rentan terkena penyakit seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, dan lain-lain. Salah satu terapi non farmakologi yang dapat dilakukan adalam senam lansia. Manfaat yang diterapkan dari senam lansia dapat meningkatkan komponen kebugaran kardio-respirasi, yaitu peningkatan efisiensi jantung, paru, dan sistem dalam pembuluh darah dalam mengirimkan oksigen ke seluruh paru-paru (Handayani et al., 2020). Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan persepsi dan antusias lansia terhadap aktivitas fisik yaitu senam lansia. Sasaran dari kegiatan ini adalah kader lansia dan peserta posyandu lansia RW 04 Candirenggo. Metode yang dilakukan yaitu edukasi dan pendampingan pelaksanaan senam lansia selama 3 bulan serta wawancara persepsi lansia. Hasil yang didapat bahwa antusias dan persepsi lansia meningkat dengan adanya pendampingan senam lansia di Posyandu Lansia, sehingga harapan kedepannya dapat terus dilaksanakan minimal setiap sebulan sekali
