1,720,967 research outputs found
KAJIAN STRUKTUR, KONTEKS PERTUNJUKAN, PROSES PENCIPTAAN, DAN FUNGSI KABA URANG TANJUANG KARANG DALAM PERTUNJUKAN DENDANG PAUAH DI KOTA PADANG SERTA PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA SUMATERA BARAT
Tesis ini berjudul “Kajian Struktur, Konteks Pertunjukan, Proses Penciptaan, dan Fungsi Kaba Urang Tanjuang Karang dalam Dendang Pauah di Kota Padang serta Pemanfaatannya dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra di SMA Sumatera Barat”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai: struktur kaba dalam Dendang Pauah; konteks pertunjukan Dendang Pauah; proses penciptaan kaba dalam Dendang Pauah; fungsi Dendang Pauah dan pemanfaatan Kaba Urang Tanjuang Karang dalam Pertunjukan Dendang Pauah di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang dalam pembelajaran apresiasi sastra di SMA Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu wawancara, perekaman, observasi secara langsung, serta catatan lapangan. Partisipan dalam penelitian ini adalah tukang dendang (Tasar), tukang saluang (Ance), ahli Dendang Pauah atau tokoh masyarakat Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Partisipan tambahan adalah para penonton, dan masyarakat Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Penelitian dilakukan di Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Hasi analisis data menunjukkan; struktur kaba, yaitu struktur teksnya dari segi bentuk, sintaksis, bunyi, dan majas, memberi efek estetis, serta struktur faktual cerita yang terdiri atas alur, tokoh, latar, dan tema memberikan gambaran kehidupan masyarakat Minangkabau yang penuh dengan ajaran luhur; pertunjukan Dendang Pauah memiliki konteks budaya dan konteks situasi; proses penciptaan Kaba dalam Dendang Pauah mengikuti formula tertentu, dan baris sampiran memiliki peranan penting serta pewarisannya secara vertikal yaitu mempelajarinya dari seorang tukang dendang senior; fungsi Dendang Pauah selain sebagai hiburan yang merupakan fungsi utama juga sebagai sistem proyeksi, alat pendidikan, dan pengesah kebudayaan
KONTEKS PERTUNJUKAN DENDANG PAUAH: SITUASI DAN BUDAYA
AbstrakSebuah pertunjukan pada dasarnya mempunyai esensi yang sama dengan sebuah percakapan. Kata-kata dalam sebuah percakapan hanya dapat dipahami kalau dikaitkan dengan konteks. Pemahaman konteks situasi saja belum cukup untuk memahami kata-kata yang digunakan dalam pertunjukan harus diiringi dengan pemahaman konteks budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks pertunjukan sastra lisan Dendang Pauh meliputi konteks situasi dan budaya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif-analisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu wawancara, perekaman, observasi secara langsung, serta catatan lapangan. Partisipan dalam penelitian ini adalah tukang dendang (Tasar), tukang saluang (Pono), ahli Dendang Pauah atau tokoh masyarakat Kelurahan Koto Lalang, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pertunjukan Dendang Pauah memiliki dua konteks pertunjukan, yaitu konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi berkenaan dengan keadaan pada saat pertunjukan Dendang Pauah diadakan. Tukang dendang dan tukang saluang dalam pertunjukan ini adalah laki-laki. Jumlah penampil pada pertunjukan yang peneliti rekam adalah satu orang tukang dendang dan satu orang tukang saluang. Pendengar yang hadir pada pertunjukan itu terdiri atas tamu undangan pesta pernikahan, tetangga, dan keluarga besar tuan rumah yang menyelenggarakan acara tersebut. Mulai dari anak-anak sampai nenek dan kakek. Musik pengiring dalam pertunjukan Dendang Pauah secara konvensional adalah saluang. Konteks budaya Pertunjukan Dendang Pauah juga dipengaruhi oleh tujuh unsur-unsur kebudayaan universal yang berlaku di masyarakat tempat penyelenggaraan pertunjukan tersebut. Dendang Pauah dilaksanakan dalam rangka acara pernikahan. Pernikahan adalah peristiwa yang melatari pertunjukan. Pertunjukan itu adalah hiburan yang disediakan bagi para tamu undangan yang datang. Dendang Pauah tidak pernah dipertunjukkan di tempat-tempat keagamaan atau kegiatan yang berkaitan dengan agama.
JURNALISTIK ONLINE: PENYEIMBANGAN LITERASI BACA TULIS DAN DIGITAL SISWA
Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi mengakibatkan adanya tuntutan perubahan bentuk berita dari pers cetak dan broadcast menjadi bentuk berita online. Secara tidak sadar para pembaca modern surat kabar cetak mengalihkan kebiasaan quick browsing internet ke dalam cara membaca surat kabar. Terkait hal tersebut, hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018 tentang penetrasi pengguna internet berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan angka yang cukup besar untuk kategori sedang sekolah SMP yaitu 80,4%. Ini berarti sebagian besar siswa SMP adalah pengguna aktif internet.Hal tersebutlah yang mendorong kegiatan pelatihan jurnalistik online di SMPN 1 dan SMPN 6 Sawahlunto. Pelatihan dilakukan secara komprehensif yaitu meliputi teori dan praktik untuk menerbitkan surat kabar sekolah secara online. Kegiatan ini bertujuan untuk menyeimbangkan literasi baca tulis dan digital siswa yang diikuti oleh guru bahasaIndonesia, guru teknologi informasi dan komunikasi, serta anggota OSIS dari dua sekolah tersebut. Para peserta memanfaatkan web litbatu.com untuk mempublikasikan tulisannya di media online. Rubrik tulisan yang terdapat di web tersebut adalah cerpen, puisi, berita,dan resensi. Siswa dan guru sangat antusias dalam mencoba media baru sebagai alat untuk mempublikasikan karya mereka. Kata Kunci: jurnalistik, literasi baca-tulis, digital
PROSES PENCIPTAAN PANTUN DAN TALIBUN DALAM KABAURANG PIAMAN DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA
This study aims to describe the process of creating pantun and talibun in kaba Urang Piaman at the Dendang Pauah performance and its implications for learning literary appreciation in high schools.This research is a qualitative research with descriptive analysis method. Data collection techniques used in this study were interviews, recordings, direct observation, and field notes. Participants in this study were dendangers (Tasar), saluang artisans (Pono), and people in Koto Lalang Village, Lubuk Kilangan District, Padang City. The results of the data analysis show that the creation of the pantun and talibun in the Urang Piaman kaba at the Dendang Pauah performance is carried out by remembering techniques. The memory technique allows the drummer to improvise during the performance. The structure of the kaba text is in the form of narrative poetry and lyrical prose which uses poetry elements in the form of rhymes and talibun following a certain formula. The formula is applied to each line of text throughout the show. The formulas are at the couplet level, line pairs, single line, and more on the line (phrases, clauses, and words)
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
