1,052 research outputs found
Ulil Amri Menurut Al-Syauk>ni dalam tafsir Fath Qodi>r dengan Menggunakan Teori Kepemimpinan
ABSTRAK
Ulil Amri Menurut Al-Syauk>ni dalam
tafsir Fath Qodi>r dengan Menggunakan Teori Kepemimpinan, NIM: 1708304050 “Ulil Amri Menurut Al-Syauk>ni dalam
tafsir Fath Qodi>r dengan Menggunakan Teori Kepemimpinan”
Pembahasan mengenai u>lil amri diambil terkait beberapa permasalah.
Pertama yang menyebabkan adanya pro dan kontra terhadap keputusan
terciptanya RUU cipta kerja/ Omnibus law yang pemerintah tetapkan.
Kedua, pemaknaan thagut yang sering tejadi terhadap tindakan kepada
pemimpin yang tidak sepahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
ulil amri menurut al-Syauka>ni dalam tafsir Fath Qodir dengan menggunakan
teori kepemimpinan. Un disebutkan sebanyak dua
kali yaitu Qs. An-Nisa>: 59 dan Qs. An-Nisa>: 83. al-Syaukani menafsirkan
bahwa ulil amri dimaknai sebagai para imam (pemimpin), para sultan, para
hakim dan setiap orang yang mempunyai kekuasaan secara syar’i, bukan
yang mengikat thagut. Dan al-Syauka>ni memaknai ulil amri dalam Qs. An-
Nisa>: 83 sebagai para ahli ilmu dan cerdik-cendikia yang menjadi rujukan
mereka, atau para pemimpin mereka. Adapun hasil dari penelitian ini adalah
bahwa u>lil amri menurut al-Syauka>ni melaksanakan apa yang diperintahkan
dan menjauhi apa-apa yang dilarangnya. Setiap orang yang mempunyai
kekuasaan secara syar’i, bukan yang mengikat thagut. Maka makna thagut
dari sisi karakter pemimpin yaitu seorang pemimpin harus memiliki sifat
percaya diri, rasa tanggung jawab, dan memahami sifat bawahannya seperti
yang disebutkan dalam teori trait, sifat dan situasional, agar masyarakat
dengan mudah menerima perintah dan larangan yang pemimpin tetapkan.
Kata Kunci: Uni, Teori Kepemimpina
Ulil Amri dan Kekuatan Produk Hukumnya
This writing aims to explain the perspective of teungku dayah salafi about the concept of ulil amri and the attitude of Muslim society to any laws endorsed by the ulil amri. Data for this study isgathered through an in-depth interview with the tengkus of dayah salafi located in Aceh Besar. The result shows that the tengkus have different opinions about the concept of ulil amri. First, theulil amri is similar to the formal administrator along with other religious institutions. Second, ulil amri is the government institution that only performs religious duties. Third, ulil amri is the ulama who is appointed as the head of state. Furthermore, majority of the tengkus believe thatthe regulations endorsed by the ulil amri were not obligated to conform otherwise mentioned in the Qur'an. Meanwhile, some of them insist that the ulil amri must be obeyed as it is mentioned inthe Qur'an along with all regulations
KARAKTERISTIK ULIL AMRI PERSPEKTIF TAFSIR AL-QURTHUBI
ABSTRAK
Ulil Amri memiliki peranan penting dalam kehidupan di
masyarakat, bahkan sejak zaman Nabi Muhammad hingga saat ini.
Ulil Amri harus memiliki karakteristik yang ideal, semua tercantum
dalam kitab suci Al-Qur‘an. Penelitian ini berusaha untuk
memberikan informasi akan karakteristik Ulil Amri yang tercantum
dalam Al-Qur‘an perspektif tafsir al-Jami‟ Li Ahkam Al-Qur‟an
karya Imam Al-Qurthubi. Adapun rumusan dari permasalahan ini
adalah, pertama Bagaimana penafsiran Imam Al-Qurthubi
mengenai ayat-ayat karakteristik Ulil Amri? Kedua, bagaimana
sikap terhadap Ulil Amri yang tidak sesuai dengan al-Qur‘an?
Tujuan penelitian dari rumusan masalah diatas adalah untuk
mengetahui penafsirsn Imam Al-Qurthubi mengenai karakteristik
Ulil Amri dan untuk mengetahui bagaimana sikap terhadap Ulil
Amri yang bertentangan dengan al-Qur‘an. Penelitian ini
menggunakan metode tafsir maudhu‟i (tematik). Jenis penelitian ini
adalah penelitian kepustakaan atau Library Research dengan
menggunakan data primer Tafsir al-Jami‟ Li Ahkam al-Qur‟an
karangan Imam Al-Qurthubi. Dari proses penelitian, didapatkan
hasil bahwa Al-Qurthubi menjelaskan dalam kitab tafsirnya
memberikan beberapa karakteristik yang harus dimiliki oleh Ulil
Amri diantaranya ialah Ulil Amri harus memiliki karakteristik adil
dalam dirinya, harus bertauhid dan percaya seutuhnya kepada Allah
SWT, tidak boleh otoriter dan sewenang-wenang dalam memimpin,
harus memiliki sifat amal ma‟ruf nahi munkar, jauh dari hawa
nafsu yang membahayakan. Sedangkan sikap terhadap Ulil Amri
yang tidak sesuai dengan al-Qur‘an dijelaskan oleh Imam Al�Ghazali. Menurut Imam Al-Ghazali jika ada pemimpin yang tidak
sesuai dengan Al-Qur‘an maka umat Islam wajib untuk
mengingatkan tentunya dengan cara yang sesuai dengan syari‟at
Islam karena ini semua bagian dari menegakan amal ma‟ruf nahi
munkar kepada para penguasa.
Kata Kunci: Karakteristik Ulil Amri, Tafsir al-Jami‟ Li Ahkam al�Qur‟an, Imam Al-Qurthubi dan Imam Al-Ghazali. ABSTRACK
Ulil Amri has an important role in life in society, even from
the time of the Prophet Muhammad until now. Ulil Amri must have
ideal characteristics, all listed in the holy book Al-Qur'an. Ulil
Amri must have ideal characteristics, all listed in the holy book Al�Qur'an. This research seeks to provide information on the
characteristics of Ulil Amri as stated in the Al-Qur'an from the
perspective of the interpretation of al-Jami' Li Ahkam Al-Qur'an by
Imam Al-Qurthubi. The formulation of this problem is, first, what is
Imam Al-Qurthubi's interpretation of the characteristic verses of
Ulil Amri? Second, what is the attitude towards Ulil Amri that is
not in accordance with the Qur‟an?. The research objective of the
problem formulation above is to find out Imam Al-Qurthubi's
interpretation of the characteristics of Ulil Amri and to find out
how attitudes towards Ulil Amri are contrary to the Qur‟an. This
research uses the maudhu'i (thematic) interpretation method. This
type of research is library research using primary data from Tafsir
al-Jami' Li Ahkam al-Qur'an written by Imam Al-Qurthubi. From
the research process, the results obtained were that Al-Qurthubi
explained in his book of tafsir that he gave several characteristics
that Ulil Amri must have, including that Ulil Amri must have fair
characteristics within himself, must be monotheistic and have
complete trust in Allah SWT, must not be authoritarian and
arbitrary. In leading, you must have the character of good deeds
and evil, far from harmful desires. Meanwhile, Imam Al-Ghazali
explained that the attitude towards Ulil Amri was not in
accordance with the Qur‟an. According to Imam Al-Ghazali, if
there is a leader who does not comply with the Al-Qur'an, Muslims
are obliged to remind them of course in a way that is in accordance
with Islamic law because this is all part of enforcing good deeds
and evil towards the rulers.
Keywords: Characteristics of Ulil Amri, Tafsir al-Jami' Li Ahkam
al-Qur'an, Imam Al-Qurthubi and Imam Al-Ghazali
KONSEP ULIL AMRI DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-MISHBAH
ABSTRAK
KONSEP ULIL AMRI DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-MISHBAH
Oleh
Fitriani
Dalam skripsi ini berbicara tentang konsep ulil amri dalam perspektif Tafsir Al-Mishbah , yaitu membahas ayat-ayat yang berkaitan dengan ulil amri yang tertera dalam Qs. An-Nisa‟ ayat 59 dan ayat 83. Ulil amri terdiri dari dua kata yaitu u>li> dan al-amr dari segi bahasa u>li> jama‟ dari kata waliy> yang bermakna pemilik atau yang mengurus serta yang menguasai, sedangkan kata al-amr bermakna perintah atau urusan. Penelitian ini bertujuan menggali makna kata ulil amri dalam Qs. An-nisa ayat 59 dan 83. Untuk mempermudah penelitain ini maka peneliti memberikan pokok permasalahan yang dibahas yakni bagaimana konsep ulil amri menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah dan bagaimana relevansi konsep ulil amri dalam konteks di Indonesia. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), sedangkan sifatnya penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analisis, dalam penelitian ini menggunakan metode tahlili yakni mengumpulkan ayat-ayat yang membahas tentang ulil amri dan kemudian dijelaskan maksud yang terkandung didalamnya dalam menafsirkan sesuai dengan urutan al-Qur‟an. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder, sumber data primer berasal dari kitab tafsir al-Mishbah karya M.Quraish Shihab, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari buku atau karya ilmiah yang mempunyai hubungan dengan masalah yang diteliti. Sedangkan dalam pendekatan peneliti menggunakan pendekatan dokumentasi, kemudian analisis data peneliti menggunakan teknik deskriptif interpretatif sehingga dapat memperjelas gambaran tentang pendapat Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah tentang ulil amri. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan beberapa kesimpulan bahwa ulil amri dalam Qs. An-Nisa‟ ayat 59 dan 83 mempunyai makna yang luas seperti seseorang yang mempunyai wewenang, yang berkuasa, amir, ulama, umara‟, ahlul h{alli wal aqdi, panglima perang, para sahabat Nabi saw, hakim, dan seorang pemimpin yang menjadi tempat kembalinya manusia dalam kemaslahatn umum. Menurut Quraish Shihab diartikan sebagai seseorang yang mempunyai wewenang mengatur segala urusan kaum muslim. Ulil amri tidak mutlak dipahami sebagai suatu lembaga yang beranggotakan banyaknya orang, tetapi bisa terdiri dari orang-perorangan yang ia mempunyai hak dan wewenang sah dalam memerintahkan dalam setiap profesinya. Sedangkan relevansi ulil amri dalam konteks di Indonesia ini ulil amri lebih di sebut sebagai seseorang yang menjadi rujukan umat dalam kebutuhan sosial, contohnya seperti pemimpin Negara, ahlul h{alli wal aqdi> atau MPR, para Ulama, dan Orang yang menjadi rujukan atau tempat kembalinya manusia dalam kemaslahatan umum dari setiap profesinya seperti gubernur, wali kota, bupati, serta jabatan lainnya yang mempunyi hak dan wewenang dalam segala profesi yang ia pegang
Ulil Amri Dalam Al-Qur’an (Studi Komparatif Tafsir Al-Bagawi Dan Tafsir Al-Fakhru Ar-Razi)
Basically every human being is a leader and will be held accountable for his leadership. In addition, the Qur'an is a guide for human life which if you stick to it, you will not go astray. In the Qur'an, terms that describe leaders, including the term Ulil Amri. The word ulil amri itself is mentioned in the Qur'an twice, namely in QS An-Nisa' verse 59 and also QS An-Nisa' verse 83. In that verse it is not only mentioned the term ulil amri but also the term obedience to ulil amri the. In this study the author will focus on the study of QS An-Nisa' verse 59 and verse 83, through the interpretive approach of Imam Al-Bagawī and Imam Al-Fakhru Ar-Rāzī. Bagawī and Imam Al-Fakhru Ar-Rāzī against QS An-Nisa' verses 59 and 83 regarding ulil amri? What are the differences and similarities in the interpretation of Imam Al-Bagawī and Imam Al-Fakhru Ar-Rāzī of QS An-Nisa' verses 59 and 83 regarding ulil amri? supporting hadiths that lead to the meaning of ulil amri itself. This is different from the interpretation of Imam Al-Fakhru Ar-Rāzī who is more critical of the meaning of the word ulil amri. He provides a very scientific and logical understanding so that there will be no more objections to his statements
Ulil Amri dan Ketaatan Kepada-Nya
Secara derajat “ulil amri” merupakan derajat ketiga dalam penyebutan yaitu setelah Allah SWT dan Rosululloh Saw. Dengan demikian bukan sesuatu yang berlebihan apabila ulil amri diberi derajat yang tinggi karena memang telah disebut dalam derajat yang demikian.Ulil amri secara etimologi berarti pemimpin dalam suatu negara. Istilah ini terdapat dalam pembahasan tafsir dan fiqh siyasah (politik). Para ulama tafsir dan fiqh siyasi mengemukakan empat definisi ulil amri yaitu: (1) raja dan kepala pemerintahan yang patuh dan taat kepada Allah SWT dan rasululloh Saw; (2) raja dan ulama; (3) amir di zaman Rosululloh Saw setelah Rosululloh wafat, jabatan itu berpindah kepada kadi (hakim), komandan militer, an mereka yang meminta anggota masyarakat untuk taat atas dasar kebenaran, dan; (4) para mujtahid atau yang dikenal dengan sebutan ahl al-hall wa al-‘aqad (yang memiliki otoritas dalam menetapkan hukum). Secara umum dalam wacana Islam dikenal beberapa sebutan untuk kepala pemerintahan yaitu : Kholifah, Imam, Sultan dan amir. Indonesia secara konstitusional bukan negara Islam tetapi mayoritas penduduknya beragama Islam, dipimpin oleh seorang muslimat tetapi parlemen tidak dikuasai kekuatan politik Islam.Disarankan perlu adanya kesiapan kita untuk memulai membuka wacana yang lebih luas tentang pemaknaan ulil amri sehingga tidak terjebak dalam pengertian yang sempit yang menyebabkan kita hidup dalam alam cemerlang tetapi dalam kezumudan
Pengertian Ulil Amri dalam Al-Qur’an dan Implementasinya dalam Masyarakat Muslim
Ulil Amri adalah seseorang atau sekelompok orang yang mengurus kepentingan-kepentingan umat. Ketaatan kepada Ulil Amri (Pemimpin) merupakan suatu kewajiban umat, selama tidak bertentangan dengan nash yang zahir. Adapun masalah ibadah, maka semua persoalan haruslah didasarkan kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Ulil Amri atau Pemimpin sifatnya kondisional (tidak mutlak), karena betapa pun hebatnya Ulil Amri itu maka ia tetap manusia yang memiliki kekurangan dan tidak dapat dikultuskan. Jika produk dari Ulil Amri tersebut sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya maka wajib diikuti, sedangkan jika produk Ulil Amri itu bertentangan dengan kehendak Tuhan maka tidak wajib ditaati. Dengan demikian, model keataatan kepada Ulil Amri itu terlaksana, jika ia menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya jika tidak, maka ketaatan itu dengan serta merta tidak mesti adanya
Ulil Amri dalam Perspektif Al-Qur’an Serta Penafsirannya Menurut Ahmad Musṭafā Al-Marāgī dan Wahbah Zuḥailī
Artikel ini menganalisis makna Ulil Amri dan system kepemerintahan dalam Al-Qur’an dengan memfokuskan pembahasan pada penafsiran Ahmad Musṭafā Al-Marāgī dan Wahbah Zuḥailī. Tulisan ini merusaha menguraikan makna Ulil Amri secara kritis, komprehensif, dan seimbang dengan metode komparatif (perbandingan) antara penafsiran Ulil Amri menurut Ahmad Musṭafā Al-Marāgī dan Wahbah Zuḥailī. Penulis menyimpulkan bahwa Ahmad Musṭafā Al-Marāgī dan Wahbah Zuḥailī memiliki persamaan pendapat tentang makna Ulil Amri. Adapun perbedaan diantara keduanya hanyalah dari segi bahasa dan penyampaiannya, jika Al-Marāgī menafsirkan dengan begitu mujmal (global) sedangkan Wahbah Zuḥailī menafsirkannya dengan sangat rinci. Tetapi, penulis juga menambahkan beberapa pendapat tentang Ulil Amri dari ulama lain selain yang penulis fokuskan
Otoritas Ulil Amri dalam penetapan awal Bulan Hijriyah: analisis konstruksi fiqih tokoh agama Tulungagung
Penelitian ini berawal dari satu pertanyaan mayor, bagaimana konstruksi tokoh-tokoh agama Tulungagung tentang otoritas Ulil Amri dalam penetapan awal bulan Hijriah dalam perspektif Fiqih dan sosiologis. Untuk memahami konstruksi para tokoh agama Tulungagung, dalam penelitian ini diajukan tiga pertanyaan minor 1). Bagaimana konsep Ulil Amri dalam penetapan awal bulan Hijriah 2). Bagaimana sifat kepengikatan penetapan Ulil Amri. 3). Siapakah yang berwewenang dalam melakukan sosialisasi hasil penetapan Ulil Amri terkait awal bulan Hijriah. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk memahami Konstruksi Fiqih tokoh agama Tulungagung mengenai Ulil Amri dalam penetapan awal bulan Hijriah, sifat kepengikatan penetapan Ulil Amri, dan pihak yang berwewenang dalam melakukan sosialisasi hasil penetapan awal bulan Hijriah, serta dianalisis dan diverifikasi dengan sumber-sumber Fiqih otoritatif, baik al-Qur’an al-Sunnah, maupun Athar Sahabat, Tabi’in dan pendapat ulama. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab pertanyaan di atas adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan teori konstruksi sosial. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Untuk menggali konstruksi Fiqih para tokoh agama Tulungagung, data yang terkumpul dipaparkan secara deskriptif kemudian dilakukan kategorisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan Konstrusi para tokoh agama Tulungagung tentang konsep Ulil Amri dalam penetapan awal bulan Hijriah adalah bahwa Ulil Amri Otoritas Rasional Legal, yakni pemerintah (umara’), dan Otoritas Rasional Substantif, yakni ulama. Konstruksi para tokoh agama Tulungagung tentang Sifat kepengikatan putusan Ulil Amri dapat diklasifikasi menjadi dua. Pertama, konstruksi yang mengidealkan umat Islam terikat pada penetapan Ulil Amri tunggal, yakni pemerintah. Kedua, konstruksi yang mengidealkan adanya Ulil Amri yang majemuk untuk diikuti baik itu pemerintah ataupun ulama. Konstruksi para tokoh agama Tulungagung tentang pihak yang berwenang melakukan sosialisasi terbagi menjadi dua kategori, pertama, konstruksi yang mengidealkan sosialisasi hasil penetapan awal bulan Hijriah hanya merupakan wewenang pemerintah saja. Kedua, mengidealkan sosialisasi adalah wewenang pemerintah dan juga ulama. Berdasarkan paparan di atas dapat dijelaskan implikasi teoritik bahwa para tokoh agama Tulungagung yang menjadi Informan dalam hal penerimaan (acceptance) terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai Ulil Amri dalam penetapan awal bulan Hijriah terbagi menjadi dua kategori. Pertama, kelompok yang menerima hanya atau pemerintah atau Otoritas Rasional Legal sebagai satu-satunya Ulil Amri karena legalitasnya sebagai penguasa. Kedua, kelompok yang selain menerima pemerintah juga menerima ulama sebagai Ulil Amri karena berdasarkan kemampuannya (Competence)
Ulil amri sebagai pemangkin tamadun Islam: analisis ayat 59 surah al-Nisa
Ketaatan kepada ulil amri merupakan satu perintah dalam nas al-Quran. Kebaikan di sebalik ketaatan ini adalah agar sistem kehidupan manusia berlangsung dalam suasana harmoni. Keharmonian merupakan maqasid yang penting dalam menjaga agama, diri, harta dan sebagainya. Walau bagaimanapun, masyarakat hari ini tidak lagi mempedulikan perintah al-Quran agar ulil amri ditaati. Kritikan tidak beradab, kutukan dan pemberontakan berlaku bagi melawan ulil amri. Akhirnya suasana tidak harmoni mula tergugat. Maka kajian tentang kewajipan perintah ini dan siapakah ulil amri pada zaman kini merupakan kajian yang penting. Terdapat pelbagai tafsiran di kalangan ulama yang menjelaskan maksud ulil amri. Namun tafsiran manakah yang sesuai dan releven untuk dunia kini. Kajian ini berusaha menjelaskan bahawa ulil amri adalah setiap pihak yang diberi kuasa atau pihak yang mempunyai kuasa dalam undang-undang. Ulil amri wajib ditaati dengan syarat yang khusus bukannya mutlak. Pendapat ini dilihat berdasarkan perspektif maqasid syariah yang menekankan aspek keamanan dan keharmonian dalam kehidupan masyarakat. Dengan ini, ketaatan kepada ulil amri akan membawa kepada ketamadunan umat
- …
