716 research outputs found

    Pengembangan Laboratorium IPS berbasis augmented reality di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk laboratorium IPS berbasis Augmented Reality (AR), mengevaluasi kelayakannya, serta menganalisis pengaruhnya minat belajar mahasiswa di PTKIN. Penelitian ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun anggaran 2024. Tim peneliti terdiri dari empat anggota, yaitu Abdul Bashith sebagai ketua, serta Saiful Amin, Lusty Firmantika, dan Muchammad Akbar Kurniawan sebagai anggota. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengkaji potensi pemanfaatan laboratorium IPS berbasis Augmented Reality dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran di perguruan tinggi

    Pengembangan Laboratorium IPS berbasis augmented reality di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk laboratorium IPS berbasis Augmented Reality (AR), mengevaluasi kelayakannya, serta menganalisis pengaruhnya minat belajar mahasiswa di PTKIN. Penelitian ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun anggaran 2024. Tim peneliti terdiri dari empat anggota, yaitu Abdul Bashith sebagai ketua, serta Saiful Amin, Lusty Firmantika, dan Muchammad Akbar Kurniawan sebagai anggota. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengkaji potensi pemanfaatan laboratorium IPS berbasis Augmented Reality dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran di perguruan tinggi

    KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL MENURUT AMIN ABDULLAH

    Full text link
    ABSTRAK Menurut Amin Abdullah, cara yang paling tepat untuk mempertahan kan tradisi dan identitas keagamaan di atas adalah melalui jalur pendidikan. Hal ini disebabkan karena pendidikan adalah alat yang paling efektif untuk meneruskan,melanggengkan, mengawetkan, dan mengonservasi tradisi dari satu generasi kegenerasi selanjutnya, dari abad yang satu ke abad yang lain.Jenis penelitian yang digunakan Penelitian Kualitatif, sementara Penelitian ini bersifat deskriilif, jenis data dalam penelitian ini terdiri dari 2 jenis data primer dan data skunder, pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan studi kepustakaan, sedangkan pengolahan datanya dengan menggunakan editing. koding, tabulasi dan interprestasi data adapun analisis datanya nenggunakan analisis kualitatif. Berdasarkan Hasil penelitian di atas tentang Konsep pendidikan Islam Multikultural menurut Amin Abdullah adalah pendidikan agama yang bernafaskan perdamaian, merniliki kepekaan terhadap realitas sosial, lebih mengutamakan keselamatan sosial, serta dilandasi dengan nilai-nilai persatuan dan keadilan seperti yang terkanoung dalam al-Qur'an dan hadis sehingga peserta didik mampu menerirna, mengakui dan menghargai perbedaan orang lain. Pendidikan agama Islam multikultural rnenggunakan seperangkat metodolc;;: !:;:)ilmuan yang dapat membantu sescorang memahami pengetahuan secara komprehensif, yakni hermeneutika. Para pendidiknya harus mampu menyampaikan, rnemahamkan sampai mewariskan tradisi yang sudah diyakini sebagai suatu kebenaran yang mutlak dan mampu memberi pemahaman kepada peserta didik untuk mampu mengakui, menerima dan menghargai keberadaan kelompok lain. Tujuan pendidikan Agama Islam Multikultural adalah menciptakan masyarakat madani yang menjunjung tinggi konsep social contract, yaitu sebuah konsep yang setiap individu dan kelompok memiliki hak dan kewajiban sama, meskipun mereka berada di bawah latar belakang yang berbeda. Urgensi pendidikan multicultural dalam pendidikan Islam menurut Amin Abduliah adalah membangun pemahaman beragama yang inklusif dan menciptakan kerukunan antarumat beragama

    TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH SURAU HAQQUL AMIN DI KARANGPANDAN TAHUN 2004-2016

    Full text link
    Muhammad Alamsyah Al Fauzi. C0513031. 2017. Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Surau Haqqul Amin Karangpandan. Skripsi: Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini membahas tentang: (1) Latar belakang berdirinya Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Surau Haqqul Amin Karangpandan, (2) Apa saja kegiatan Jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Surau Haqqul Amin di Karangpandan, (3) Bagaimana perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Surau Haqqul Amin di Karangpandan tahun 2004-2016. Penelitian ini menggunakan metode historis yaitu heuristik, kritik sumber (kritik intern dan kritik ekstern), interpretasi dan historiografi. Sumber penelitian dikumpulkan melalui studi dokumen, arsip, dan wawancara. Arsip primer yang digunakan antara lain arsip jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Haqqul Amin dan wawancara dengan pengurus dan jamaah jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Haqqul Amin. Adapun sumber sekunder yang digunakan adalah buku-buku referensi yang berkaitan dengan Tarekat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan latar belakang berdirinya Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Surau Haqqul Amin Karangpandan adalah pada tahun 2002 Darmodjo Roespandji membuka tempat wirid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Kadirun Yahya di bawah naungan Yayasan Prof. Dr. Kadirun Yahya dengan nama IOP Saiful Amin Karangpandan di rumahnya yang beralamat di Saptomulyo desa Doplang kecamatan Karangpandan kabupaten Karanganyar. Setelah Prof Dr Kadirun Yahya berlindung terjadi perbedaan cara meneruskan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Darmodjo Roespandji memilih mengikuti pimpinan peramalan surau Qutubul Amin Arco. Kegiatan yang dilakukan jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Surau Haqqul Amin adalah sebagai berikut : Sholat berjamaah, dzikir berjamaah, pengajian, pemasukan tarekat, ziarah akbar dan suluk. Perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah Surau Haqqul Amin di Karangpandan mengalami tiga kali perubahan struktur organisasi dari Alkah Karangpandan di bawah perkumpulan Majelis Dzikir Al-Haq Sapto Mulyo (2004-2006) kemudian menjadi Surau Haqqul Amin masih di bawah perkumpulan Majelis Dzikir Al-Haq Sapto Mulyo (2006-2011) dan terakhir surau Haqqul Amin di bawah Yayasan Haqqul Amin (2011-sekarang) Kata Kunci: Naqsyabandiyah, Khalidiyah, Kadirun Yahya, Surau Haqqul Amin, Tareka

    ANALISIS BUKU TEKS GEOGRAFI SMA KELAS XII PADA MATERI POLA KERUANGAN DESA DAN KOTA DALAM BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK (BSE) TERBITAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

    No full text
    ABSTRAK   Amin, Saiful. 2011. Analisis Buku Teks Geografi SMA Kelas XII pada Materi Pola Keruangan Desa dan Kota dalam Buku Sekolah Elektronik (BSE) Terbitan Departemen Pendidikan Nasional. Skripsi, Jurusan Geografi, Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd. (II) Drs. Budi Handoyo, M.Si.   Kata Kunci: analisis teks, BSE,  Pola Keruangan Desa dan Kota.   Buku teks merupakan salah satu bahan ajar yang penting dalam kegiatan pembelajaran, terlebih lagi bagi guru yang tidak mampu atau tidak siap membuat bahan ajar sendiri. Buku teks yang baik harus memiliki isi materi sesuai dengan kurikulum yang berlaku, menyajikan materi pelajaran sesuai dengan konsep yang benar, menggunakan bahasa baku, dan penyajian gambar harus menarik serta sesuai dengan materi pembelajaran. Hasil survei pada buku teks Geografi SMA kelas XII terbitan Departemen Pendidikan Nasional, pada materi Pola Keruangan Desa dan Kota, masih terdapat banyak kesalahan. Kesalahan tersebut meliputi kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, dan fungsi gambar. Untuk itu, diperlukan suatu analisis yang mendalam untuk mengkaji kekurangan dan kelebihan dari BSE yang telah beredar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian isi dengan kurikulum, tingkat kebenaran konsep, tingkat kebenaran bahasa, dan fungsi media gambar yang terdapat dalam buku ajar BSE Geografi kelas XII. Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi dengan menggunakan dokumen sebagai objeknya. Rancangan penelitian menggunakan teknik analisis isi untuk mendeskripsikan secara objektif, sistematis, dan kumunikatif dengan menggunakan separangkat prosedur untuk menarik kesimpulan dari sebuah buku teks. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Buku Sekolah Elektronik Geografi kelas XII terbitan DIKNAS yang telah beredar. Penentuan sampel menggunakan Purposive Sampling, yakni BSE yang berjudul Geografi untuk Kelas XII SMA/MA, karangan Eny Anjayani dan Tri Haryanto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa isi materi yang tidak sesuai dengan indikator, kebenaran konsep (konsep terdefinisi dan konsep konkret) masih salah, kebenaran bahasa dalam buku ajar BSE Geografi masih salah, dan media gambar yang digunakan dalam buku ajar masih banyak yang tidak berfungsi. Untuk itu disarankan apabila menggunakan buku teks, guru hendaknya menelaah terlebih dahulu apakah isi buku teks tersebut sudah layak digunakan atau masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki, baik dari segi kurikuler maupun dari segi kebenaran konsepnya. Apabila ditemukan kekurangan atau kesalahan hendaknya diperbaiki terlebih dahulu sebelum disampaikan saat pembelajaran. Selain itu, hendaknya penulis merevisi buku teks BSE Geografi kelas XII terutama pada kesesuaian isi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, dan fungsi media gambar.

    SISTEM PEMBELAJARAN HAFALAN AL-QUR’AN DI RUMAH TAHFIDZ ASH-SHOLIHIN BINAAN KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA SUMATERA SELATAN

    Full text link
    Muhammad Saiful Amin, NIM. 1702012148. Sistem Pembelajaran Hafalan Al-Qur’an di Rumah Tahfidz Ash-Sholihin Binaan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Selatan. Pengaruh era globalisasi menjadikan semakin terpuruknya ahlak anak usia sekolah. Seiring berjalannya waktu, tumbuh kesadaran yang mendalam dari orang tua dan juga dari kalangan cendekiawan terutama para pengajar madrasah kepada 16 17 kerinduan mereka terhadap pendidikan Al-Qur’an. Berawal dari itu semua, Kepala Kementerian Agama Sumatera Selatan berinisiatif untuk mendirikan sebuah lembaga, yang mana lembaga tersebut khusus bergerak dibidang pendidikan AlQur’an dan cara menghafal Al-Qur’an dengan cepat dan mudah. Adalah rumah tahfidz Ash-Sholihin, sebuah lembaga yang dibina langsung oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Selatan, sebagai upaya mendidik siswa agar memiliki keahlian membaca dan menghafal Al-Qur’an serta ilmu pengetahuan keIslaman, sehingga terwujud generasi penghafal Al-Qur’an dan berahlak AlQur’an. Pembentukan rumah tahfizd ini juga menjadi salah satu upaya strategis untuk menangkal dampak negatif dari era globalisasi, yakni terjadinya dekadensi moral di kalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem pelaksanaan program pembelajaran tahfidzul qur’an dan faktor-faktor pendukung dari terlaksananya program tahfidzul qur’an di Lembaga Rumah Tahfidz Ash-Sholihin Binaan Kanwil Kemenag Sumsel. Peneitian ini termasuk penelitian lapangan yang mengacu pada penelitian kualitatif, dimana peneliti merupakan instrument kunci. Metode pengumpulan data dan analisisnya, penulis mengacu pada kaedah penelitian diskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus prospektif. Tehnik pengumpulan data antara lain: Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang dibutuhkan dalam penulisan ini adalah data kualitatif, sedangkan untuk memperoleh sumber data digunakan tehnik purpossive sampling. Untuk analisis data menggunakan reduksi, display, dan menyimpulkan data, sedangkan untuk memperoleh keabsahan data ditentukan oleh empat kriteria yaitu tingkat credibility, trasferability, dependability), dan confirmability. Temuan dari hasil penelitian yaitu : (1). Sistem pembelajaran tahfidzul Qur’an di Rumah Tahfidz Ash-Sholihin mentargetkan hafalan sempurna, hafalan yang bisa diuji langsung di depan umum. Dengan sistem evaluasi hafalan yang dilakukan dengan 2 cara, yaitu: evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi akhir pembelajaran, diharapkan lulusannya menjadi percontohan di madrasahnya sendiri dan madrasah-madrasah yang lain dari segi lancarnya hafalan, mental yang tinggi, dan kepribadian Qur’ani. (2). Faktor penunjang terlaksananya program pembelajaran tahfidzul Qur’an di Rumah Tahfidz Ash-Sholihin antara lain sebagai berikut: faktor tujuan, faktor guru, faktor murid, faktor situasi, dan faktor fasilitas

    Epistemologi integrasi Islam dan sains: Model integrasi dialektik-integralistik

    No full text
    Di antara kegelisahan epistemologis yang dirasakan para elit pemikir muslim akhir-akhir ini adalah masih diabaikannya produk produk pemikiran mereka secara teoretis di tengah perbincangan sains kontemporer. Berbagai hasil penggalian dan pengerahan ijtihad akademik mereka pada objek teks suci keagamaan hingga melahirkan beragam produk tafsir, sebatas ditempatkan sebagai bentuk refleksi keagamaan yang akrab disebut sebagai dakwah, fatwa, dan doktrin religius, yang belum mampu berdialektika secara akademik terhadap sains pada umumnya. Gagasan-gagasan cerdas yang lahir dari rahim tek tek suci keagamaan, baik melalui wahyu al-Qur’an maupun al-Sunnah tak ubahnya sebagai dogma yang identik dengan “al-‘aqlu al-diiny” (nalar keagamaan) dan tidak dianggap sebagai “al-‘aqlu al-‘ilmy” (nalar sains). Wacana ini telah melahirkan emage baru bahwa agama dan sain tidak pernah mampu bersinergi. Tidak akan pernah muncul seorang ilmuwan dari tokoh agama, sebaliknya agamawan dari tokoh sains. Dalam tataran inilah mata rantai keperihatinan epistemologis di kalangan para ilmuwan muslim semakin menguat

    Epistemologi integrasi Islam dan sains: Model integrasi dialektik-integralistik

    No full text
    Di antara kegelisahan epistemologis yang dirasakan para elit pemikir muslim akhir-akhir ini adalah masih diabaikannya produk produk pemikiran mereka secara teoretis di tengah perbincangan sains kontemporer. Berbagai hasil penggalian dan pengerahan ijtihad akademik mereka pada objek teks suci keagamaan hingga melahirkan beragam produk tafsir, sebatas ditempatkan sebagai bentuk refleksi keagamaan yang akrab disebut sebagai dakwah, fatwa, dan doktrin religius, yang belum mampu berdialektika secara akademik terhadap sains pada umumnya. Gagasan-gagasan cerdas yang lahir dari rahim tek tek suci keagamaan, baik melalui wahyu al-Qur’an maupun al-Sunnah tak ubahnya sebagai dogma yang identik dengan “al-‘aqlu al-diiny” (nalar keagamaan) dan tidak dianggap sebagai “al-‘aqlu al-‘ilmy” (nalar sains). Wacana ini telah melahirkan emage baru bahwa agama dan sain tidak pernah mampu bersinergi. Tidak akan pernah muncul seorang ilmuwan dari tokoh agama, sebaliknya agamawan dari tokoh sains. Dalam tataran inilah mata rantai keperihatinan epistemologis di kalangan para ilmuwan muslim semakin menguat
    corecore