1,730,498 research outputs found
Merungkai 192 persoalan zakat agihan dan amil
Buku Merungkai 192 Persoalan Zakat dan Amil ini diterbitkan sebagai pedoman bagi masyarakat awam bertujuan memahami isu-isu zakat, agihan dan amil disamping memberi petunjuk praktis agar masyarakat mendapat gambaran jelas dalam merungkai permasalahan mengenai zakat, agihan dan amil. Sepertimana tajuk buku ini, 192 soalan telah dikumpulkan dan dibahagikan mengikut bab masing-masing bagi memudahkan lagi para pembaca memahami topik zakat ini. Semoga buku ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat awam khususnya dan bagi semua pihak yang memerlukan maklumat berharga berkaitan zakat, agihan dan amil
The Radical Writing Podcast Episode 3 - The Page as Landscape: Harriet Tarlo’s Ground Aslant with Dr Amil Mohanan and Associate Professor Kate Grandjouan
How do you write a landscape? Associate Professor of Art History Kate Grandjouan and cultural geographer and data scientist Dr Amil Mohanan join me to discuss place, poetry, and inconclusive endings. The Ground Aslant, an anthology of Radical Landscape Poetry is edited by Harriet Tarlo and was published by Shearsman in 2011. It features poetry by some of the U.K.’s most prominent landscape poets such as Peter Riley, Zoe Skoulding and Frances Presley, as well as Tarlo herself. This is the only text in the Radical Writing Podcast series to have ‘radical’ in the name, and Tarlo explains that the genre reaches for a broad but definite aim of radicality in terms of form, language and subject. Play, in both how the poem appears on the page and in what it explores, is key to approaching the work, and the genre is purposely difficult to pin down. The poetry moves beyond the rose-tinted pastoral, but recognises its enduring presence in the fields and lanes of Britain, and touches on the politics of ecopoetry, without being subsumed into it. As Tarlo writes, the territory of these poems lie ‘betwixt and between’, both in terms of their engagement with, and positioning between, the pastoral and ecopoetic genres, and in the innovative linguistic games they play with sound, sense, and form, and, ultimately, language’s slippery relationship with place
Performance comparison Amil Zakat Institutions on Ponorogo towards good Amil governance
This study is aimed at performance comparison amil zakat Institutions in Ponorogo area towards Good Amil Governance. The type of study used is a qualitative study with a case study approach, where the results of this study conclude that the performance comparison between amil zakat institutions on Ponorogo. Performance measurement is reinforced by several factors, among others: 1). The governance of Amil Zakat Institute is not yet fully professional in its management, 2). The lack of quantity and quality of human resources at each Institute Amil Zakat which the author of review, 3). Lack of public support, especially the existing Muslim community in the countryside (local wisdom). This study aims to find out how the level of performance measurement for Amil Zakat institutions in Ponorogo district will be assessed based on the performance indicator standards issued by Indonesia Magnificence of Zakat. This is important because the potential for managing zakat funds that are so large must be followed by professional management so that Good Governance can be achieved.Â
Performance comparison Amil Zakat Institutions on Ponorogo towards good Amil governance
This study is aimed at performance comparison amil zakat Institutions in Ponorogo area towards Good Amil Governance. The type of study used is a qualitative study with a case study approach, where the results of this study conclude that the performance comparison between amil zakat institutions on Ponorogo. Performance measurement is reinforced by several factors, among others: 1). The overnance of Amil Zakat Institute is not yet fully professional in its management, 2). The lack of quantity and quality of human resources at each Institute Amil Zakat which the author of review, 3). Lack of public support, especially the existing Muslim community in the countryside (local wisdom). This study aims to find out how the level of performance measurement for Amil Zakat institutions in Ponorogo district will be assessed based on the performance indicator standards issued by Indonesia Magnificence of Zakat. This is important because the potential for managing zakat funds that are so large must be followed by professional management so that Good Governance can be achieved
Siapakah Amil Zakat?
Zakat selain sebagai kewajiban ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, juga sebagai bentuk hadirnya orang kaya untuk membantu saudaranya yang kurang mampu secara finansial. Jika zakat bisa dimaksimalkan fungsinya, maka fakir-miskin sangat mungkin untuk bisa dientaskan dari keterpurukan ekonominya.
Pemerintah harusnya hadir secara penuh dan bertanggung jawab atas warganya yang kurang mampu. Jika pemerintah memaksimalkan pengelolaan zakat, sangat mungkin kemiskinan dapat dientaskan.
Pengelolaan zakat oleh pemerintah meliputi penarikan zakat dari wajib zakat (muzakki), mengumpulkan, mendata, mengorganisasi dan akhirnya menyalurkan ke pihak yang berhak. Tentu bukan presiden sendiri yang harus turun tangan. Pemerintah mengangkat orang-orang tertentu untuk mengemban tugas ini, yang dinamakan amil zakat.
Hanya saja, kadang peran pemerintah dalam hal zakat kurang terasa, maka beberapa masyarakat berinisiatif mendirikan yayasan amil atau yang sering disebut dengan Lembaga Amil Zakat. Maka bermunculan amil-amil swasta yang tak jarang saling antar mereka malah berebut muzakki.
Bahkan tak jarang, beberapa majelis taklim, masjid, mushalla juga ikut mengumpulkan zakat dari para jamaahnya. Khususnya ketika bulan Ramadhan.
Di satu sisi, amil bentukan pemerintah itu kurang
Amil Zakat | 7
muka | daftar isi
bisa diandalkan, muncul Lembaga Amil non pemerintah yang lebih dipercaya publik.
Hanya saja, tak jarang terjadi saingan antar amil non pemerintah, rebutan lahan muzakki, sampai peruntukan zakat yang kadang hanya sebagai iklan agar para muzakki mau membayarkan zakat melalui mereka. Maka tak ubahnya amil non pemerintah itu hanya seperti event organizer saja.
Belum lagi jika amil zakat non pemerintah itu dari satu golongan tertentu, pasti peruntukan zakatnya tak akan keluar hanya kecuali kepada anggota golongannya.
Lantas, siapakah sebenarnya amil menurut syariah? Apakah amil non pemerintah juga bisa disebut amil? Berapakah kompensasi amil dalam syariah?
B
Upaya Pemberdayaan Amil Zakat yang Profesional pada Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Makassar
Selanjutnya hasil penelitian tentang upaya pemberdayaan Amil Zakat secara
profesional pada Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Makassar menunjukkan sudah
optimal dimana para Amil diberikan suatu pelatihan diklat, sehingga Amil zakat
sangat berperan penting dalam meningkatkan kualitas Badan Amil Zakat.
Dengan adanya pemberdayaan Amil Zakat pada Badan Amil Zakat (BAZ)
Kota Makassar maka para Amil Zakat dalam mengelola zakat mempunyai prinsip
amanah, professional, transparan dan bertanggunjawab
UPAYA BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL (BAZNAS) PROVINSI RIAU DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS AMIL ZAKAT
Harta zakat dan Amil zakat adalah dua hal yang saling berkaitan, karena zakat
akan terkelola dengan efektif dan efisien jika dikelola oleh Amil yang profesional.
Untuk meningkatkan profesionalitas amil zakat, maka diterapkan Manajemen
Sumber Daya Manusia (MSDM). Penelitian ini dilakukan pada Badan Amil Zakat
Nasional (BAZNAS) Provinsi Riau. Dilatar belakangi oleh proses rekrutmen
calon amil zakat yang tidak profesional, amil zakat yang kurang berkompeten
dalam mengelola zakat, waktu kerja yang tidak full time dan rendahnya tingkat
kehadiran amil zakat, terjadinya rangkap jabatan, jumlah amil zakat yang tidak
memadai. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya Badan
Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Riau dalam meningkatkan
profesionalitas Amil zakat. Dengan tujuan agar mengetahui upaya pengembangan
SDM yang dilakukan BAZNAS Provinsi Riau terhadap Amil zakat. Subjek dalam
penelitian ini adalah BAZNAS Provinsi Riau dan yang menjadi objek adalah
pengembangan Amil Zakat. Penilitian ini disusun dengan kerangka pikir yang
sistematis menggunakan model Deduktif. Adapun kerang pikir dalam penelitian
ini pertama pengadaan sumber daya manusia (recruitmen), kedua persyaratan
menjadi amil zakat, ketiga pengembangan sumber daya manusia (development),
keempat kompensasi, kelima pengintegrasian, keenam pemutusan hubungan kerja.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif,
dengan Informan penelitian berjumlah 4 orang. Hasil data dikumpulkan dari
wawancara, observasi dan dokumentasi serta dianalisis menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa peningkatan
profesionalitas amil zakat dilakukan dengan cara, pertama penseleksian calon
amil zakat, kedua pengadaan pendidikan, pelatihan dan pembinaan skill, ketiga
pemberian upah/gaji berdasarkan UMR dan insentif, keempat pengintegrasian
amil zakat, kelima pemberian sanksi atau melakukan pemutusan hubungan kerja
bagi amil zakat berdasarkan ketetapan yang berlaku. Keenam kerangka pikir
tersebut menjadi acuan untuk meningkatkan profesionalitas amil zakat dengan
harapan meningkatnya efektivitas dan efisiensi BAZNAS dalam mengelola zakat.
Kata Kunci: Profesionalitas, Amil zaka
Etos kerja pengurus amil zakat di badan amil zakat nasional provinsi Kalimantan Tengah
Abstract
Penelitian ini mengkaji etos kerja amil zakat di BAZNAS Provinsi Kalimantan Tengah. Etos kerja yang tinggi akan mencerminkan SDM yang berkualitas. Dimana dalam pengelolaan zakat akan sangat diperlukan amil zakat yang memiliki etos kerja yang tinggi dan profesional agar pengelolaan zakat berjalan dengan baik. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui bagaimana etos kerja amil zakat di BAZNAS Provinsi Kalimantan Tengah, (2) Mengetahui profesionalisme amil zakat di BAZNAS Provinsi Kalimantan tengah dan (3) Mengetahui bagaimana relevansi etos kerja amil zakat di BAZNAS Provinsi Kalimantan tengah apakah sudah sesuai dengan amanah Al-Quran Surah At Taubah ayat 103.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan metode kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah amil zakat di BAZNAS Provinsi Kalimantan Tengah yaitu ketua, staf bidang keuangan dan staf bidang penghimpunan dan pendistribusian BAZNAS Provinsi Kalimantan Tengah, dan Mustahik. Teknik pengabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Adapun teknik pengambilan data yang digunakan peneliti adalah data collection, data reduction, data display, dan data conclusion.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa etos kerja amil zakat rendah dan kurangnya profesionalisme amil zakat disebabkan kurang disiplin waktu, belum memiliki sertifikasi amil, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah, edukasi yang minim, hanya memiliki 6 amil, prasarana yang belum memadai, kurangnya kemauan dan motivasi dari diri amil zakat, penghimpunan dan penyaluran zakat yang belum maksimal, serta kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan zakat. Dari hasil tersebut diketahui bahwa etos kerja amil zakat masih belum relevan dengan Al Quran Surah At Taubah 103 karena amil Zakat di BAZNAS Provinsi Kalimantan Tengah belum menghimpun zakat maksimal, penyaluran zakat belum merata serta belum adanya laporan keuangan yang teraudit dan audit syariah serta kurangnya jumlah amil zakat dimana BAZNAS hanya memiliki 1 amil lapangan.
ABSTRACT
This study examines the work ethic of amil zakat in BAZNAS, Central Kalimantan Province. A high work ethic will reflect quality human resources. Where in the management of zakat will be needed amil zakat who have a high and professional work ethic so that zakat management runs well. Based on this description, this study aims to: (1) determine the work ethic of amil zakat in BAZNAS, Central Kalimantan Province, (2) find out the professionalism of amil zakat in BAZNAS, Central Kalimantan Province and (3) find out the relevance of the work ethic of amil zakat in BAZNAS, Central Kalimantan Province. Is it in accordance with the mandate of the Qur'an Surah At Taubah verse 103.
This research is a field research using a qualitative descriptive method approach. The subjects in this study were amil zakat in BAZNAS Central Kalimantan Province, namely the chairman, staff in finance and staff in the collection and distribution of BAZNAS Central Kalimantan Province, and Mustahik. The data validation technique uses source triangulation. The data collection techniques used by researchers are data collection, data reduction, data presentation, and data conclusion drawing.
The results of this study indicate that the work ethic of amil zakat is low and the lack of professionalism of amil zakat is due to lack of time discipline, not yet having amil certification, low quality of human resources (HR), minimal education, having only 6 amil, inadequate infrastructure, lack of willingness and motivation of the amil zakat, collection and distribution of zakat that has not been maximized, as well as the lack of transparency and accountability in the management of zakat. From these results, it is known that the work ethic of the zakat amil is still not relevant to Surah At Taubah 103 because the zakat amil in BAZNAS Central Kalimantan Province has not collected the maximum zakat, the distribution of zakat is not evenly distributed and there are no audited financial reports and sharia audits and the lack of amil zakat. BAZNAS only has 1 field amil
Pengaruh kompetensi teknis amil, manajerial amil dan kepemimpinan amil terhadap kepercayaan muzakki dalam pengelolaan zakat berbasis syariah di Badan Amil Zakat Na-sional Kota Batam
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan kompetensi kepemimpinan amil terhadap kepercayaan muzakki di Kota Batam. Masih adanya kesen-jangan antara potensi dan realisasi penghimpunan zakat menun-jukkan rendahnya kepercayaan masyarakat, yang salah satunya disebabkan oleh rendahnya kompetensi sebagian amil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada 150 amil di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Batam. Metode analisis yang digunakan adalah Structural Equation Modeling dengan pendekatan Partial Least Squares (PLS-SEM). Hasil analisis menunjukkan bahwa kompetensi teknis, kom-petensi manajerial, dan kompetensi kepemimpinan amil ber-pengaruh signifikan terhadap kepercayaan muzakki, dengan nilai p-value < 0,05 dan t-statistik > 1,960. Temuan ini menegaskan pent-ingnya peningkatan kompetensi amil dalam aspek teknis, manajeri-al, dan kepemimpinan guna meningkatkan profesionalisme pengel-olaan zakat serta membangun kepercayaan muzakki. Peningkatan kepercayaan ini diharapkan dapat mendorong optimalisasi penghimpunan zakat, infak, dan sedekah di Kota Batam secara berkelanjutan
STRATEGI PENINGKATAN KOMPETENSI AMIL UNTUK MEWUJUDKAN AMIL YANG KOMPETEN DAN PROFESIONAL
Skripsi dengan judul “Strategi Peningkatan Kompetensi Amil Untuk
Mewujudkan Amil Yang Kompeten Dan Profesional” ini ditulis oleh Intan
Agustina, NIM 12404193065, pembimbing Dr. Ahmad Supriyadi, M.Pd.I.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kinerja amil dalam pengelolaan zakat
masil belum terealisasikan secara optimal. Rumusan masalah dalam penelitian ini
yaitu: 1) Bagaimana perencanaan startegi peningkatan kompetensi amil untuk
mewujudkan amil yang kompeten dan profesional di BAZNAS Kabupaten
Tulungagung? 2) Bagaimana pelaksanaan startegi peningkatan kompetensi amil
untuk mewujudkan amil yang kompeten dan profesional di BAZNAS Kabupaten
Tulungagung? 3) Bagaimana evaluasi startegi peningkatan kompetensi amil untuk
mewujudkan amil yang kompeten dan profesional di BAZNAS Kabupaten
Tulungagung?
Penelitian ini untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi strategi dalam peningkatan kompetensi amil yang dilakukan BAZNAS
Kabupaten Tulungagung untuk mewujudkan amil yang kompeten dan profesional.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi
kasus. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Data yang terkumpul akan dianalisis dengan tahap kondensasi data, penyajian data
dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) perencanaan strategi yang
dilakukan oleh BAZNAS Kabupaten Tulungagung sudah berjalan baik dengan
menerapkan fungsi manajemen strategi seperti perencanaan berupa penyusunan
RKAT. Perencanaan memegang peranan penting dalam ruang lingkup karena
menjadi penentu dan sekaligus memberi arah terhadap tujuan yang ingin dicapai.
Dengan perencanan yang matang dan disusun dengan baik akan memberikan
pengaruh pada tercapainya suatu tujuan. 2) implementasi strategi peningkatan
kompetensi amil sudah berjalan dengan baik di lembaga BAZNAS Kabupaten
Tulungagung dengan menerapkan fungsi manajemen strategi yang baik seperti
perencanaan berupa penyususan RKAT, membuat program-program khusus untuk
meningatkan kinerja amil dengan cara melakukan pelatihan, sertifikasi amil dan
beasiswa, serta menerapkan prosedur-prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan
program yang sudah dibentuk. 3) evaluasi strategi peningkatan kompetensi amil
yang diterapkan di BAZNAS Kabupaten Tulungagung yaitu dengan pengukuran
dan analisis kinerja amil dari strategi yang telah dibuat. Pengukuran kinerja
merupakan tahapan yang paling penting untuk melihat dan mengevaluasi kinerja
amil di BAZNAS Kabupaten Tulungagung dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Pelaporan dan pertanggungjawaban atas kinerjanya sebagai amil. Amil
harus mampu melaporkan kinerjanya agar dapat dievaluasi mengenai startegi yang
telah ditetapkan. Sebagai seorang amil harus mampu mempertanggungjawaban
kinerjanya sebagai amil kompeten dan profesional.
Kata kunci: Kompetensi Amil, Strategi, Profesiona
- …
