1,721,043 research outputs found
APLIKASI CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT MENGGUNAKAN PENDEKATAN FRAMEWORK OF DYNAMIC (STUDI KASUS: PT BINTANG KHARISMA MOTOR BANDAR LAMPUNG)
PT Bintang Kharisma Motor is a Honda dealer engaged in motorbike service located on Jalan Raya Soekarno Hatta 5A Tanjung Seneng, Bandar Lampung. PT Bintang Kharisma Motor has equipment related to motorbike service, which does not have a system for ordering motorbike service orders and there is no system to measure the level of service found at PT Bintang Kharisma Motor. Apart from that, the recording of the purchase and sale of spare parts still uses manual recording so that distorting data on the purchase and sale of spare parts is still deemed inefficient and ineffective. Making reports that are long and deemed ineffective makes researchers want to develop a system at PT Bintang Kharisma Motor. In making the system at PT Bintang Kharisma Motor made with UML diagrams consisting of three diagrams, namely usecase diagrams, activity diagrams, and class diagrams as the initial system design to be made, then programming is made with the PHP programming language according to the existing user interface design. and MySql as database. The system that has been created can help distort sales / service data, purchase and create purchase and sales reports faster than before, and the system helps in processing complaint data, ordering services, and measuring the level of service provided at PT Bintang Kharisma Motor
Globalisasi dan pendidikan kewarganegaraan: Menyiapkan generasi cerdas dan toleran
Di tengah arus globalisasi yang terus berkembang, dunia semakin terhubung dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, budaya, politik, hingga teknologi. Meskipun membawa berbagai peluang, globalisasi juga menimbulkan tantangan besar, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Dalam konteks ini, pendidikan kewarganegaraan (PKn) memainkan peran yang sangat penting, tidak hanya sebagai sarana untuk menanamkan pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, tetapi juga untuk membentuk karakter dan sikap yang dibutuhkan untuk hidup harmonis dalam masyarakat yang semakin beragam. Buku ini hadir untuk menggali peran pendidikan kewarganegaraan dalam menyiapkan generasi cerdas dan toleran yang siap menghadapi tantangan global.
Buku ini terbagi menjadi empat bagian utama yang saling terhubung dan menawarkan wawasan mendalam tentang hubungan antara globalisasi dan pendidikan kewarganegaraan, serta bagaimana keduanya saling mempengaruhi dalam membentuk masa depan bangsa. Bagian pertama mengulas secara mendalam tentang tujuan, ruang lingkup, serta landasan pendidikan kewarganegaraan, yang meliputi sejarah dan perkembangan materi PKn di Indonesia. Penulis menjelaskan bagaimana pendidikan kewarganegaraan di Indonesia berkembang seiring dengan perubahan sosial, politik, dan budaya negara ini. Dari periode penjajahan hingga pasca kemerdekaan, pendidikan kewarganegaraan telah berperan dalam membentuk pemahaman warga negara tentang identitas nasional, nilai-nilai kebangsaan, dan semangat untuk menjaga persatuan. Bagian ini juga memberikan gambaran tentang peran penting pendidikan kewarganegaraan dalam menumbuhkan sikap patriotisme dan kesadaran berbangsa, dengan memperhatikan dinamika sosial yang terus berkembang.
Bagian kedua membahas pengaruh globalisasi terhadap Indonesia, dengan mengidentifikasi peristiwa-peristiwa besar yang mempercepat proses globalisasi dan bagaimana hal tersebut berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Buku ini menguraikan secara rinci bagaimana globalisasi membawa perubahan besar dalam berbagai sektor, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik. Dalam bidang pendidikan, globalisasi mengharuskan adanya pembaruan kurikulum dan metode pengajaran yang lebih terbuka, kritis, dan berbasis pada pemahaman global. Di bidang ekonomi, Indonesia dihadapkan pada persaingan internasional yang semakin ketat, yang memerlukan kesiapan generasi muda untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dinamika pasar global. Globalisasi juga membawa tantangan besar dalam bidang budaya, di mana nilai-nilai tradisional sering kali tergerus oleh pengaruh budaya asing yang lebih dominan. Penulis menggambarkan bagaimana dampak-dampak ini memengaruhi identitas dan keharmonisan sosial di Indonesia, serta bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat menjadi sarana untuk menjaga integritas dan keberagaman bangsa.
Bagian ketiga menjadi inti dari buku ini, yang mengajak pembaca untuk lebih memahami bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kecerdasan sosial dan global yang tinggi. Penulis menguraikan konsep kecerdasan sosial—kemampuan untuk memahami, berinteraksi, dan bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda—dan bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat mengembangkan sikap toleransi, empati, serta keterampilan berkomunikasi yang efektif dalam masyarakat global. Pendidikan kewarganegaraan diharapkan tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang memungkinkan siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan sosial, baik di tingkat lokal maupun global. Buku ini juga membahas pentingnya kurikulum yang mendukung pembentukan karakter yang inklusif, adil, dan penuh toleransi, yang dapat mengatasi polarisasi sosial dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah keberagaman yang ada.
Bagian terakhir menyajikan studi kasus tentang implementasi pendidikan kewarganegaraan di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Penulis memilih beberapa contoh negara untuk menunjukkan bagaimana pendidikan kewarganegaraan diterapkan dengan cara yang inovatif dan menanggapi tantangan sosial-politik yang berbeda. Dalam studi kasus ini, pembaca dapat melihat bagaimana negara-negara di Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika mengadaptasi pendidikan kewarganegaraan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi. Dari sini, pembaca diharapkan dapat mengambil pelajaran dan inspirasi untuk memperbaiki dan mengembangkan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. Penulis menyoroti tantangan-tantangan yang dihadapi oleh negara-negara tersebut dalam menerapkan pendidikan kewarganegaraan yang efektif, serta inovasi-inovasi yang telah mereka lakukan untuk menghadapi masalah-masalah sosial dan politik yang muncul.
Melalui buku ini, pembaca akan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat menjadi pilar yang kokoh dalam menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, rasa toleransi yang tinggi, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan dinamika global. Buku ini tidak hanya ditujukan untuk pendidik, pembuat kebijakan, dan akademisi, tetapi juga untuk siapa saja yang peduli dengan masa depan bangsa dan ingin melihat Indonesia menjadi negara yang semakin kuat dalam menghadapi tantangan global.
“Globalisasi dan Pendidikan Kewarganegaraan: Menyiapkan Generasi Cerdas dan Toleran” adalah buku yang sangat relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Dengan pendekatan yang holistik dan berbasis pada kajian-kajian terkini, buku ini memberikan pandangan mendalam mengenai peran pendidikan kewarganegaraan dalam membentuk karakter bangsa yang inklusif, adil, dan penuh toleransi. Pembaca akan diajak untuk merefleksikan kembali nilai-nilai dasar pendidikan kewarganegaraan, serta bagaimana kita dapat menghadapinya dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung
Pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Return On Asset (ROA) pada PT. Bank Syariah Mandiri
Return On Assets (ROA) is the company's ability to gain overall profits. The greater the level of Return on Assets (ROA) of a bank, the better the bank in terms of asset use. the purpose of this study is to determine whether the variable Financing to Deposit Ratio (FDR) and Non Performing Financing (NPF) partially and simultaneously affect the Return On Assets (ROA) at PT. Bank Syariah Mandiri. This research is included in quantitative research. The type of data used is secondary data obtained from the official website of Bank Syariah Mandiri. Data collection conducted at Bank Syaraih Mandiri includes quarterly financial report in 2010 until 2017, consisting of balance sheet, income statement and report in the form of ratio. In this study the method used in analyzing is multiple linear regression using SPSS 23 statistical software. Based on the result of the research, it can be concluded that partially variable Financing To Deposit Ratio (FDR) positively influence to Return On Asset (ROA), positive influence in the sense if FDR variable increase, similar with ROA variable. On the other hand Non Performing Financing variable negatively affect Return On Assets (ROA),. Negatively, if the NPF increases, it will create a play on return on asset (ROA). Simultaneously, the two variables which include Financing to Deposit (FDR) and Non Performing Financing (NPF) give significant influence to Return On Assets (ROA), both variables give significant effect that is equal to 89,10%
Potensi Pajak Parkir terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Makassar (Studi pada PD. Parkir Makassar Raya)
Hasil penelitian ini menemukan, 1. PD Parkir Makassar Raya pada tahun 2014 merealisasi penerimaan sebesar Rp. 728.771.550 dan berkontribusi mengisi porsi sebesar 5,99% pada struktur anggaran Pajak Parkir Kota Makassar, 0,13% pada struktur anggaran Pajak Daerah Kota Makassar, dan 0,10% pada struktur anggaran PAD Kota Makassar. 2. Potensi Kekuatan PD Parkir terletak pada program intensifikasi dan
ekstensifikasi dilakukan secara konsisten berkelanjutan. Kelemahan: terdapat adanya upaya penghindaran pendataan registrasi wajib pajak yang dilakukan pemilik usaha dan sifat ketidakpatuhan pelanggan yang berulang. Peluang: rencana menjalin mitra kerja dengan perusahaan lain dan maraknya pembukaan lahan baru yang dilakukan Pemkot memberi
peluang yang menguntungkan bagi pihak PD Parkir. Ancaman: adanya multi intrepretasi atas regulasi berlaku yang menyebabkan terjadinya clash antar instansi. 3. PD Parkir Makassar Raya berada pada posisi kuadran I, yang berarti memiliki kesempatan dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini ialah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth Oriented Strategy) dengan 4 set kombinasi strategi sebagai berikut: SO- menggencarkan program Ekstensifikasi yaitu mencari sumber-sumber penerimaan baru. WO- membuat aturan dan sanksi tegas perihal masa tenggat penunggakkan pembayaran PLB (Pajak Parkir). ST- melakukan pengawalan aktif atas Ranperda yang telah diserahkan ke Pemkot. WT-melakukan razia terhadap juru parkir illegal
Pengembangan Bisnis Menggunakan Business Model Canvas Pada Sentra Anyaman Bambu Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan
Desa sukolilo merupakan sentra anyaman bambu yang terletak di kecamatan sukodadi, Kabupaten Lamongan. Produk utama dari desa ini adalah caping dan kipas. Produktivitas perajin di desa ini mampu bersaing dengan sentra anyaman bambu lainnya. Dalam menghadapi tantangan kedepannya, diperlukan evaluasi dan perbaikan model bisnis agar dapat terus bersaing dan berkembang. Salah satu konsep (tools) sederhana dalam menganalisa suatu model bisnis adalah menggunakan Business Model Canvas (BMC). BMC dapat dijadikan sebagai alat untuk rancangan model bisnis yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan, mengevaluasi dan memperbaiki model bisnis di sentra anyaman bambu sukolilo. Penelitian ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam untuk mendapatkan informasi dan menganalisa model bisnis.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perajin di sentra anyaman bambu Desa Sukolilo belum memnpunyai segmentasi pelanggan khusus. Value proposition yang dimiliki perajin di sentra anyaman bambu desa sukolilo adalah dalam hal design, price dan cost reduction. Untuk channels, konsumen mengetahui informasi produk anyaman bambu hanya dari mulut ke mulut. Dalam hal customer relationships, perajin lebih menjaga kestabilan harga dan kualitas produk. Untuk revenue streams, sebagian besar perajin anyaman bambu tidak menjadikan kegiatan menganyam sebagai pekerjaan utama mereka. Penghasilan lain juga didapatkan melalui beberapa pekerjaan, diantaranya berdagang, bertani dan buruh. Key resources pada sentra anyaman bambu ini adalah perajin dan bambu sebagai utama dalam pembuatan anyaman. Key activities yang dilakukan adalah proses produksi anyaman bambu dan pemasaran produknya. Key partnerships para perajin anyaman bambu adalah para pengepul dan distributor sebagai mitra utama. Cost structure yang dikeluarkan adalah untuk membeli bambu sebagai bahan utama dalam pembuatan anyaman.
==================================================================================================================
Sukolilo village is a bamboo weaving center located in the sub-district of Sukodadi, Lamongan Regency. The main products of this village are head cover and hand fan. The craftsman productivity in this village is able to compete with other bamboo weaving centers. In facing future challenges, evaluation and improvement of business models are needed in order to continue to compete and develop. One simple concept (tools) in analyzing a business model is to use Business Model Canvas (BMC). BMC can be used as a tool for the design of new business models. This study aims to map, evaluate and improve business models in the Sukolilo bamboo weaving center. This study uses the Focus Group Discussion (FGD) method and in-depth interviews to obtain information and analyze business models.
The results of this study indicate that crafters in the bamboo weaving center of Sukolilo Village do not yet have a specific customer segmentation. The value proposition that is owned by the craftsmen in the bamboo weaving center of Sukolilo Village is in terms of design, price and cost reduction. For channels, consumers know information about woven bamboo products only by word of mouth. In terms of customer relationships, the crafters maintain the stability of the price and product quality. For revenue streams, most of the bamboo weavers do not make weaving activities their main occupation. Other income is also obtained through a number of jobs, including trading, farming and labor. The key resources in this bamboo weaving center are craftsmen and bamboo as the main in making weaving. The key activities carried out are the process of producing woven bamboo and marketing its products. Key partnerships of bamboo weavers are collectors and distributors as the main partners. The cost structure that is incurred is to buy bamboo as the main material in the manufacture of woven
Model transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dalam rangka alih generasi pada usaha kerajian tangan (handycraft) industri kreatif
Transfer pengetahuan (transfer of knowledge) memiliki arti yang sangat penting, bagi suatu organisasi usaha, apalagi bila dikaitkan dengan proses alih generasi. Hal itu bertambah penting bila terjadi dalam usaha kerajinan tangan (handycraft). Selain itu dalam usaha kerajinan tangan (handycraft) salah satu modal utama adalah pengetahuan, minat dan bakat dari para pelaku usaha. Penguasaaan dan pengelolaan pengetahuan karena itu harus dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya agar kelangsungan usaha tetap terjaga. Apalagi dalam usaha industri kreatif kerajinan tangan (handycraft) belum ada model transfer pengetahuan yang baku dan bisa dijadikan acuan bersama. Bila kesinambungan pengetahuan antar generasi tidak terjaga, dapat dipastikan kelangsungan hidup usaha kerajinan tangan (handycraft)juga tidak akan terjaga. Dalam skala yang lebih luas, ketiadaan model transfer pengetahuan usaha kerajinan tangan (handycraft) akan menagkibatkan kian menurunnya kemampuan sumberdaya manusia (SDM) yang memiliki keahlian pada industri kreatif kerajinan tangan (handycraft). Sebagaimana usaha kecil yang umumnya dikelola dalam manajemen keluarga, tidak banyak usaha kerajinan tangan (handycraft) yang mampu bertahan lebih dari tiga generasi. Ini menunjukkan bahwa transfer pengetahuan pada usaha kerajinan tangan (handycraft) terdapat permasalahan. Sejalan dengan itu usaha kerajinan tangan (handycraft) terancam oleh serbuan industri pabrikan mainan kerajinan buatan China, sehingga menjadi ancaman bagi penguasaan pengetahuan (de-skillisasi) sumberdaya manusia (SDM) dalam usaha kerajinan tangan (handycraft
Dasar-dasar manajemen pendidikan bermutu
Manajemen Pendidikan
Tergantung pada definisi yang diberikan oleh orang yang
mendefinisikan istilah tersebut, managemen dapat memiliki beragam
penafsiran. Istilah administrasi madrasah sering disinonimkan dengan
istilah administrasi madrasah.1
Cara pandangnya terhadap manajemen
terbagi menjadi tiga kelompok: 2
1. Pandangan yang lebih luas (manajemen adalah hakikatnya)
2. Pandangan yang lebih luas terhadap manajemen, dan
3. Penafsiran dimana manajemen berarti “manajemen” Berdasarkan
tugas pokoknya, konsep manajemen dan administrasi mempunyai
tugas yang sama. Oleh karena itu, membedakan kedua istilah ini
tidak konsisten dan tidak ada artinya.
Pencapaian tujuan pendidikan nasional memerlukan proses
kerjasama manajemen pendidikan yang sistematis, terorganisir dan
menyeluruh, sebagaimana disampaikan Mulyasa.Bidang manajemen
pelatihan mencakup semua aspek yang berkaitan dengan panduan proses pelatihan menuju tujuan yang spesifik, tujuan pendek, tujuan menengah,
dan tujuan panjang.3
Proses manajemen pendidikan, sebagaimana dijelaskan oleh Mulyasa,
melibatkan pengembangan kerja sama antar individu untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu, Manajemen melibatkan proses perencanaan,
pengorganisasian, dan penerapan untuk mengubah visi menjadi tindakan
(pengendalian
Globalisasi dan pendidikan kewarganegaraan: Menyiapkan generasi cerdas dan toleran
Di tengah arus globalisasi yang terus berkembang, dunia semakin terhubung dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, budaya, politik, hingga teknologi. Meskipun membawa berbagai peluang, globalisasi juga menimbulkan tantangan besar, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Dalam konteks ini, pendidikan kewarganegaraan (PKn) memainkan peran yang sangat penting, tidak hanya sebagai sarana untuk menanamkan pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, tetapi juga untuk membentuk karakter dan sikap yang dibutuhkan untuk hidup harmonis dalam masyarakat yang semakin beragam. Buku ini hadir untuk menggali peran pendidikan kewarganegaraan dalam menyiapkan generasi cerdas dan toleran yang siap menghadapi tantangan global.
Buku ini terbagi menjadi empat bagian utama yang saling terhubung dan menawarkan wawasan mendalam tentang hubungan antara globalisasi dan pendidikan kewarganegaraan, serta bagaimana keduanya saling mempengaruhi dalam membentuk masa depan bangsa. Bagian pertama mengulas secara mendalam tentang tujuan, ruang lingkup, serta landasan pendidikan kewarganegaraan, yang meliputi sejarah dan perkembangan materi PKn di Indonesia. Penulis menjelaskan bagaimana pendidikan kewarganegaraan di Indonesia berkembang seiring dengan perubahan sosial, politik, dan budaya negara ini. Dari periode penjajahan hingga pasca kemerdekaan, pendidikan kewarganegaraan telah berperan dalam membentuk pemahaman warga negara tentang identitas nasional, nilai-nilai kebangsaan, dan semangat untuk menjaga persatuan. Bagian ini juga memberikan gambaran tentang peran penting pendidikan kewarganegaraan dalam menumbuhkan sikap patriotisme dan kesadaran berbangsa, dengan memperhatikan dinamika sosial yang terus berkembang.
Bagian kedua membahas pengaruh globalisasi terhadap Indonesia, dengan mengidentifikasi peristiwa-peristiwa besar yang mempercepat proses globalisasi dan bagaimana hal tersebut berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Buku ini menguraikan secara rinci bagaimana globalisasi membawa perubahan besar dalam berbagai sektor, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik. Dalam bidang pendidikan, globalisasi mengharuskan adanya pembaruan kurikulum dan metode pengajaran yang lebih terbuka, kritis, dan berbasis pada pemahaman global. Di bidang ekonomi, Indonesia dihadapkan pada persaingan internasional yang semakin ketat, yang memerlukan kesiapan generasi muda untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dinamika pasar global. Globalisasi juga membawa tantangan besar dalam bidang budaya, di mana nilai-nilai tradisional sering kali tergerus oleh pengaruh budaya asing yang lebih dominan. Penulis menggambarkan bagaimana dampak-dampak ini memengaruhi identitas dan keharmonisan sosial di Indonesia, serta bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat menjadi sarana untuk menjaga integritas dan keberagaman bangsa.
Bagian ketiga menjadi inti dari buku ini, yang mengajak pembaca untuk lebih memahami bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kecerdasan sosial dan global yang tinggi. Penulis menguraikan konsep kecerdasan sosial—kemampuan untuk memahami, berinteraksi, dan bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda—dan bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat mengembangkan sikap toleransi, empati, serta keterampilan berkomunikasi yang efektif dalam masyarakat global. Pendidikan kewarganegaraan diharapkan tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang memungkinkan siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan sosial, baik di tingkat lokal maupun global. Buku ini juga membahas pentingnya kurikulum yang mendukung pembentukan karakter yang inklusif, adil, dan penuh toleransi, yang dapat mengatasi polarisasi sosial dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah keberagaman yang ada.
Bagian terakhir menyajikan studi kasus tentang implementasi pendidikan kewarganegaraan di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Penulis memilih beberapa contoh negara untuk menunjukkan bagaimana pendidikan kewarganegaraan diterapkan dengan cara yang inovatif dan menanggapi tantangan sosial-politik yang berbeda. Dalam studi kasus ini, pembaca dapat melihat bagaimana negara-negara di Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika mengadaptasi pendidikan kewarganegaraan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi. Dari sini, pembaca diharapkan dapat mengambil pelajaran dan inspirasi untuk memperbaiki dan mengembangkan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. Penulis menyoroti tantangan-tantangan yang dihadapi oleh negara-negara tersebut dalam menerapkan pendidikan kewarganegaraan yang efektif, serta inovasi-inovasi yang telah mereka lakukan untuk menghadapi masalah-masalah sosial dan politik yang muncul.
Melalui buku ini, pembaca akan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat menjadi pilar yang kokoh dalam menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, rasa toleransi yang tinggi, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan dinamika global. Buku ini tidak hanya ditujukan untuk pendidik, pembuat kebijakan, dan akademisi, tetapi juga untuk siapa saja yang peduli dengan masa depan bangsa dan ingin melihat Indonesia menjadi negara yang semakin kuat dalam menghadapi tantangan global.
“Globalisasi dan Pendidikan Kewarganegaraan: Menyiapkan Generasi Cerdas dan Toleran” adalah buku yang sangat relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Dengan pendekatan yang holistik dan berbasis pada kajian-kajian terkini, buku ini memberikan pandangan mendalam mengenai peran pendidikan kewarganegaraan dalam membentuk karakter bangsa yang inklusif, adil, dan penuh toleransi. Pembaca akan diajak untuk merefleksikan kembali nilai-nilai dasar pendidikan kewarganegaraan, serta bagaimana kita dapat menghadapinya dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung
Analisis pengaruh sikap dan kepuasan terhadap penerimaan teknologi pada industry perbankan syariah di Jawa Timur dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Syariah ASEAN (MESA)
- …
