58 research outputs found

    PENGARUH PENGGUNAAN WAKTU MENONTON TELEVISI DAN HANDPHONE TERHADAP DISIPLIN BELAJAR SISWA DI LOMBOK

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengungkapkan pengaruh penggunaan waktu menonton televisi, Internet, dan handphone terhadap disiplin belajar siswa di Desa Kopang, Lombok Tengah. Sumbangan efektif (SE) penggunaan waktu menonton televisi sebesar 43,1%, mengakses handphone sebesar 0,1% terhadap disiplin belajar siswa. Besarnya sumbangan efektif penggunaan waktu menonton televisi, mengakses handphone terhadap disiplin belajar siswa adalah 7%%, sedangkan sisanya 93% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Dengan demikian pengaruh penggunaan waktu menonton televisi memberikan sumbangan positif paling besar terhadap disiplin belajar siswa

    Pengaruh Penggunaan Waktu Menonton Televisi, Internet, dan Handphone terhadap Disiplin Belajar Peserta Didik di Desa Kopang, Lombok Tengah

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengungkapkan pengaruh penggunaan waktu menonton televisi, Internet, dan handphone terhadap disiplin belajar peserta didik di Desa Kopang, Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah 538 peserta didik SMA sederajat yang berada di Desa Kopang, Lombok Tengah. Sampel sejumlah 226 peserta didik ditetapkan dengan teknik Issac & Michael yang diambil dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. (1) Penggunaan waktu menonton televisi berpengaruh secara positif terhadap disiplin belajar peserta didik. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t sebesar 3,644 dengan taraf signifikansi 0.000. (2) Mengakses Internet berpengaruh positif terhadap disiplin belajar peserta didik. Hal ini ditunjukkan berdasarkan nilai t yaitu 2,511 pada taraf signifikansi 0,013. (3) Mengakses handphone berpengaruh negatif terhadap disiplin belajar peserta didik. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t sebesar 1,477, pada taraf signifikansi 0.141. (4) Penggunaan waktu menonton televisi, mengakses Internet dan handphone berpengaruh positif terhadap disiplin belajar peserta didik. Hal ini ditunjukkan oleh hasil uji simultan diperoleh F sebesar 4,685, pada taraf signifikansi 0.003. Sumbangan efektif (SE) penggunaan waktu menonton televisi sebesar 43,1%, mengakses Internet sebesar 13,8%,dan mengakses handphone sebesar 0,1% terhadap disiplin belajar peserta didik. Besarnya sumbangan efektif penggunaan waktu menonton televisi, mengakses Internet, mengakses handphone terhadap disiplin belajar peserta didik adalah 57%%, sedangkan sisanya 43% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini

    Kajian Penggunaan Waktu Menonton Tayangan Layar Kaca Terhadap Disiplin Belajar Siswa di Rumah

    No full text
    Abstrak: Tayangan layar kaca tidak bisa dipungkiri memberikan efek yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat, baik itu secara positif maupun negative. Salah satu efek negative yang ditimbulkan oeh yayangan layar kaca ini adalah dapat menyita waktu keseharian masyarakat khususnya siswa yaitu disiplin belajar mereka. Televisi dan video gem sebagai media layar kaca yang paling disukai, sebagai factor penyebab siswa menjadi malas dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Berdasarkan isi pokok masalah dapat dirumuskan bagaimana penggunaan waktu menonton tayangan layar kaca terhadap disiplin belajar siswa dirumah yan kemudian di spesifikan lagi untuk mencari jumlah waktu yang digunakan, waktu penggunaaan ,tempat penggunaan baru kemudian dicari hubungannya dengan disiplin belajar siswa tersebut Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa jumlah waktu yang digunakan oleh siswa dalam menonton layar kaca rata-rata selama 4-5 jam dalam sehari anak laki-laki dan anak SMA lebih banyak menonton dari pada anak SMP dan anak perempuan. Sedangkan waktu yang digunakan untuk menonton lebih sering pada malam hari dari pada siang atau sore harinya. Tempat untuk menonton televisi juga lebih banyak dirumah daripada diluar rumah, tetapi untuk bermain video game lebih sering diluar rumah. Berasarkan jumlah, waktu dan tempat tersebut ditemukan bahwa sebanyak 80% siswa lebih banyak menggunakan waktunya untuk menonton tanyangan layar kaca daripada belajar dirumah. Abstract: It is undeniable that glass screen shows have a considerable effect on people's lives, both positively and negatively. One of the negative effects caused by the glass screen foundation is that it can take up people's daily time, especially students, namely their learning discipline. Television and video gems are the most preferred screen media, as factors that cause students to be lazy in studying and doing school assignments. Based on the main content of the problem, it can be formulated how the use of screen time watching television shows on students' learning discipline at home which is then specified again to find the amount of time used, the time of use, the place of use and then look for the relationship with the student's learning discipline. The approach in this study uses research qualitative with descriptive research type. The results of this study found that the average amount of time spent by students watching television for 4-5 hours a day, boys and high school students watched more than junior high school students and girls. While the time spent watching more often at night than in the afternoon or evening. There are also more places to watch television at home than outside, but to play video games more often outside the home. Based on the number, time and place, it was found that 80% of students spent more time watching television than studying at home.

    Peningkatan Kemampuan Belajar pada Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran Melalui Metode Kooperatif

    No full text
    Learning and learning are compulsory courses taught to students with the aim of forming and changing the mindset of students. The method used in learning needs to be determined, this is the running of the learning process. In this study, the method used was the cooperative method. The success of the work is greatly influenced by the involvement of each member of the group. Cooperative learning in this study was carried out Plan, Do, See, namely lesson study. The research was conducted at the Pancasila and Citizenship Education Study Program in the 3rd semester of the University of Muhammadiyah Mataram. The research subjects were 16 students of the Pancasila and Citizenship Education Study Program. This research was conducted from 6 to 30 October 2017. This type of research is quantitative research with an action approach through lesson study activities. The results of the research "improving learning ability in learning and learning courses through cooperative methods in students of the Pancasila and Civic Education Study Program" show that (1) the learning and learning process using cooperative methods whose implementation there is discussion and role playing can be done by providing learning tools, namely RPS, RPM, methods, learning media, learning resources,  assessment, then create chapter design, lesson design. (2) the improvement of student learning abilities is influenced by the availability of maximum learning tools, learning media that can hone student mindsets such as observing, identifying, analyzing, discovering new things, communicating, and concluding learning and learning concepts, and learning methods. (3) the average score of students' ability to explain concepts of learning and learning problems is 57.3%, open lesson 2 is 71.1%, and open lesson 3 is 85.7%.

    Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan motifasi belajar peserta didik di SMPK Kesuma Mataram

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap peningkatan motivasi belajar peserta didik pada materi norma dan UUD Tahun 1945. Subjek pada penelitian ini adalah peserta didik kelas VII B SMPK Kesuma Mataram. Objek penelitian ini adalah model Problem Based Learning untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dengan materi Norma dan UUD Tahun 1945. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, angket dan tes. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan dan satu tes siklus, setiap siklus terdiri dari 4 kegiatan utama, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Dari hasil penelitian, diperoleh adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) pada materi Norma dan UUD Tahun 1945 di kelas VII B SMPK Kesuma Mataram

    Base Alus Sasak as a Reflection of Religious and Social Ethics: A Linguistic-Pragmatic Study of the Awig-Awig among the Indigenous People of Lombok

    No full text
    Abstract: Language plays a vital role in representing a community’s culture and collective identity. In indigenous societies, it functions not only as a communication tool but also as a medium for expressing social, ethical, and religious values. Base alus sasak, a linguistic variant, symbolizes politeness, respect, and harmonious social order. This study explores the role of basa alus within the normative structure of Lombok’s indigenous community through a linguistic-pragmatic analysis of awig-awig, a customary law system integrating social and religious principles. Using a Systematic Literature Review (SLR) approach, the study analyzes 25 scholarly articles to examine how base alus reflects and reinforces social and spiritual ethics. Findings indicate that base alus sasak is strategically employed in awig-awig through modality markers and the Tri Hita Karana concept, emphasizing harmony between humans, nature, and spirituality. Furthermore, the interplay of resistance and transformation amid globalization highlights how indigenous communities preserve their identity while adapting to modern changes. This research underscores the performative power of language in maintaining social cohesion and spiritual integrity, while advocating for the integration of local wisdom into educational practices to sustain cultural values.

    HandOn : a portable system for collaboration on virtual 3D objects

    No full text
    Thesis: M. Eng., Massachusetts Institute of Technology, Department of Electrical Engineering and Computer Science, 2015.This electronic version was submitted by the student author. The certified thesis is available in the Institute Archives and Special Collections.Title as it appears in the MIT Commencement Exercises program, June 5, 2015: HandsOn: a portable system AR-based remote collaboration Cataloged from student-submitted PDF version of thesis.Includes bibliographical references (pages 61-62).In this increasingly globalized and technological world, professionals often have to collaborate remotely on 3D content, especially in fields such as urban planning or architectural design. We propose HandOn, a portable system for collaboration on virtual 3D objects. HandsOn leverages the recent advances in optical head-mounted display and finger tracking technology, allowing users to view digital content as if it were merged with the physical reality, while being able to manipulate the objects using simple hand gestures. Supporting both co-located and remote collaboration, this proof-of-concept system is designed to be portable and easy-to-setup, in contrast with many previous systems that require elaborate setup. Our findings suggests that HandsOn greatly increases awareness of remote collaborators and their actions by displaying the remote user'-s hands while interacting with the virtual objects, and that gestural hand-based interactions felt natural to the users. We also found that the illusion of the physical and the virtual being merged improved the overall experience, even though this aspect could be further improved by using better hardware.by Kevin Winata Wong.M. Eng

    MITGASI BENCANA GEMPA BUMI MELALUI SOSIALISASI ZONASI GEMPA DAN PELATIHAN PERENCANAAN SERTA PENGENDALIAN MUTU STRUKTUR BAJA DENGAN MENGOPTIMALKAN POTENSI BAHAN LOKAL

    No full text
    Akibat Gempa yang terjadi selama sebulan penuh di tahun 2018 Pemerintah Kanupaten Lombok Barat mengklaim mengalami kerugian material dan immaterial yang sangat besar.  Berdasarkan data dari pemerintah Kabupaten Lombok Barat, lebih dari 57.000 rumah warga terdampak gempa, kondisinya sebagian besar rusak parah. Pembangunan rumah warga korban gempa di Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat ditargetkan selesai pada akhir 2019. Banyaknya bangunan rumah yang langsung roboh karena gempa itu disebabkan oleh tidak adanya konstruksi besi pada bangunan rumah warga.Pembangunan Rumah Tahan Gempa (RTG), mengajarkan kepada masyarakat untuk memperhatikan konstruksi bangunan yang dapat memberikan keamanan bagi penghuninya. RTG bukan rumah yang tidak dapat roboh saat terjadi gempa, namun mampu memberikan perlindungan sementara dan waktu yang cukup bagi penghuninya untuk menyelamatkan diri saat gempa terjadi.Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Lombok Barat terus berupaya untuk mempercepat pembangunan RTG. Namun, sehubungan dengan itu, Pemda masih menemui kendala diantaranya kurangnya tenaga pendamping dalam pembangunan RTG tersebut.Oleh karena itu, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat ini bekerjasama dengan Dinas Perumahan dan Permukiman Provinsi NTB sebagai Mitra, bersama-sama melaksanakan pelatihan tenaga pendamping pembangunan Rumah Tahan Gempa sebagai sarana transfer ilmu dari civitas Akademika kepada tenaga ahli pendamping, agar pelaksanaan pembangunan rumah tahan gempa benar-benar sesuai dengan tujuan dan harapan bersama. Abstract: As a result of the earthquake that occurred for a full month in 2018 the West Lombok Regency Government claimed huge material and immaterial losses. Based on data from the West Lombok Regency government, more than 57,000 residents' houses were affected by the earthquake, most of which were severely damaged. The construction of houses for earthquake victims in West Lombok, West Nusa Tenggara Province is targeted to be completed by the end of 2019. The large number of houses that collapsed immediately due to the earthquake was caused by the absence of iron construction on the houses of the residents. Earthquake Resistant Houses (RTG), teaches the community to pay attention to the construction of buildings that can provide security for its inhabitants. RTG is not a house that cannot collapse during an earthquake, but is able to provide temporary protection and sufficient time for its inhabitants to save themselves when an earthquake occurs. Therefore, the government of West Lombok Regency continues to strive to accelerate RTG development. However, in connection with that, the Regional Government is still facing obstacles including the lack of assistants in the construction of the RTG. Therefore, the Community Service Team is in collaboration with the Department of Housing and Settlements of the NTB Province as a Partner, jointly carrying out training of assistants in the construction of Earthquake Resistant Houses as a means of transferring knowledge from the Academic community to accompanying experts, so that the implementation of earthquake resistant housing construction is truly in accordance with the shared goals and expectation

    PELAKSANAAN PASAL 6 PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAN KETERTIBAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG TERKAIT PELARANGAN MERUSAK POHON,TANAMAN ATAU BUNGA-BUNGA YANG ADA DI TAMAN,LAPANGAN ATAU DISEPANJANG TEPI JALAN UMUM (Studi di Satuan P

    No full text
    Winata Japatara, Dr. Iwan Permadi, SH., MH. Agus Yulianto, SH., MH. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Email: [email protected]   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai pelaksanaan penerapan Pasal 6 Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2012 Kabupaten Tulungagung Tentang ketertiban umum terkait pelarangan merusak pohon,tanaman atau bunga-bunga yang ada di taman,lapangan atau disepanjang tepi jalan umum. Dalam Pasal 6 tersebut mengatur mengenai pelarangan merusak pohon,tanaman atau bunga-bunga yang ada di taman,lapangan atau disepanjang tepi jalan umum. Namun dalam pelaksanaan Pasal 6 bahwa Pelaksanaan ketertiban umum di tulungagung kurang memuaskan dikarenakan banyak terjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja satuan polisi pamong praja menjadi berkurang kendala yang dihadapi adalah kasus yang sering terjadi dan minimnya anggota satuan polisi pamong praja dan juga kendala Sumber daya manusia. Adapun jenis penelitian yang digunakan penulis adalah jenis penelitian empiris dengan metode penelitian yuridis sosiologis yang dilakukan dengan cara penelitian langsung untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan Pasal 6  Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2012 tentang ketertiban umum di Kota Tulungagung terkait pelarangan merusak pohon,tanaman atau bunga-bunga yang ada di taman,lapangan atau disepanjang tepi jalan umum. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara studi di lapangan dengan melakukan wawancara kepada kepala bidang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat Satuan polisi pamong Praja Kota Tulungagung. Analisis data yang digunakan oleh penulis menggunakan metode yuridis empiris, yaitu suatu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan nyata yang terjadi dalam penerapan praktek hukum. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat diketahui bahwa pelaksanaan penerapan Pasal 6 Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2012 Kabupaten Tulungagung Tentang ketertiban umum terkait pelarangan merusak pohon,tanaman atau bunga-bunga yang ada di taman,lapangan atau disepanjang tepi jalan umum bagi masyarakat belum berjalan dengan baik karena terhambat oleh beberapa faktor. Kata kunci: ketertiban umum, Peraturan desa, Taman kota   ABSTRACT This study aims to find out about the implementation of Article 6 Regional Regulation No. 7 of 2012 in Tulungagung Regency. Regarding public order related to the prohibition of damaging trees, plants or flowers in parks, fields or along the public roads. But in the implementation of Article 6 that the implementation of public order in tulungagung is unsatisfactory because there are many factors that affect the performance of the civil service police unit, the obstacles faced are frequent cases and the lack of members of the civil service police unit and also human resource constraints. The type of research used by the author is a type of empirical research with sociological juridical research methods conducted by direct research to obtain data on the implementation of Article 6 of Regional Regulation No. 7 of 2012 concerning public order in the City of Tulungagung related to the prohibition of damaging trees, plants or flowers which is in the park, field or along the edge of the public road. The method of data retrieval is done by way of study in the field by conducting interviews with the head of the public order and peace of mind unit of the Civil Service Police of the City of Tulungagung. Analysis of the data used by the author uses juridical empirical methods, namely a study conducted on the real conditions that occur in the application of legal practice. Based on the results of this study, it can be seen that the implementation of Article 6 Regional Regulation No. 7 of 2012 in Tulungagung Regency Regarding public order related to the prohibition of damaging trees, plants or flowers in the park, the field or along the public road has not gone well because it is hampered by several factors. Keywords: public order, Local regulation, City Par

    CERMINAN BUDAYA DALAM BAHASA DAERAH: SEBAGAI PENANDA IDENTITAS DIRI MASYARAKAT SASAK

    No full text
    Cerminan budaya dalam bahasa daerah merupakan pernyataan bahwa bahasa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, sehingga segala yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasanya, begitu juga sebaliknya. Hal ini memperlihatkan penggunaan bahasa daerah tersebut oleh masyarakat Sasak mencerminan kebudayaan masyarakat tersebut sekaligus memberikan kontribusi untuk mempertahankan identitas diri masyarakat Sasak dalam modernisasi kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, Permasalahan yang hendak diungkapkan dalam penelitian ini, yaitu: bagaimanakah budaya tercermin dalam bahasa daerah dan penggunaan bahasa daerah sebagai penanda identitas diri masyarakat Sasak? Adapun penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai budaya tercermin dalam bahasa daerah dan penggunaan bahasa daerah sebagai penanda identitas diri masyarakat Sasak. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah fenomena kehidupan bermasyarakat yang masih dilakukan dalam kegiatan tertentu oleh masyarakat Sasak. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan catat. Sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Artinya, teknik yang berusaha menguraikan dan menggambarkan data yang telah dikumpulkan atau ada, kemudian selanjutnya dianalisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan setiap budaya terungkap dalam bahasanya. Cerminan budaya dalam bahasa daerah itu terlihat pada penggunaan kosa kata, dimana penggunaan bahasa daerah tersebut menandakan identitas diri masyarakat Sasa
    corecore