23,458 research outputs found
Recommended from our members
Descolonizar a computação
Professor da Escola de Computação e Comunicação da Open University, Syed Mustafa Ali tem se dedicado a compreender conexões entre computação, raça, religião, tecnologia, informação e poder. A partir de uma perspectiva de descolonização, Mustafa Ali propõe, por exemplo, a descolonização da computação e uma crítica do racismo algorítmico.
[Professor at the Open University School of Computing and Communication, Syed Mustafa Ali has been dedicated to understanding connections between computing, race, religion, technology, information and power. From a decolonization perspective, Mustafa Ali proposes, for example, the decolonization of computing and a critique of algorithmic racism.
Mustafa Ünal: Ali Bardakoğlu farklı
Zaman gazetesinde 14.11.2010 tarihinde yayımlanan Mustafa Ünal'ın Ali Bardakoğlu farklı adlı köşe yazısı yer almaktadır. -- 14.11.201
OTENTISITAS HADITS TERAWIH MENURUT ALI MUSTAFA YAQUB
Ali Mustafa Yaqub menilai semua hadits yang menyebutkan bilangan rakaat dalam salat tarawih adalah palsu atausekurang-kurangnya matruk, jadi tidak ada batasan dalam pelaksanaanya. Meskipun begitu Ali Mustafa Yaqub lebihmenyukai variasi 20 rakaat karena dinilai sebagai konsensus sahabat. Analisis dari pemikiran Ali Mustafa Yaqub ini menyokong pendapat-pendapat ulama’ klasik
Mustafa Reşid [Mehmed Emin Ali Paşa Mahdumu]
Ali Birinci'nin Mustafa Reşid'e dair tuttuğu notlar[Özet Yok
Reader-Narrator Relationships in Turkish in Short storytelling (Sabahattin Ali, Sait Faik and Mustafa Kutlu Examples)
Çalışmanın ağırlık noktası, Türk hikâyeciliğinin üç önemli ismi olan
Sabahattin Ali, Sait Faik ve Mustafa Kutlu’nun, hikâyelerini aktarmak üzere
seçtikleri anlatıcıları incelemek, ulaşmayı hedefledikleri okur tiplerini tespit
edebilmek ve her üç hikâyecinin bu bağlamda benzerliklerini ve farklılıklarını ortaya
koyabilmektir. Öncelikle konunun ihtiyacı olan kavramlar ele alındı: Yazar, anlatıcı,
okur. Tanımsal çalışmaların ardından Türk hikâyeciliğinin doğuşu ve gelişimi
incelenerek Sabahattin Ali, Sait Faik ve Mustafa Kutlu hikâyeciliği türün içinde
konuşlandırıldı.
Belirlenen üç yazarın bütün hikâyelerinin irdelenmesinden sonra özellikle
Sait Faik ve Mustafa Kutlu için mevcut anlatıcı ve okur tipolojisinin dışında birtakım
anlatıcı ve okur tipleri tasarladıkları görüldü. Çalışmada mevcut kavramlara yenileri
katılarak hikâyecilere has anlatıcı ve okur tipleri önerilmiş böylece hikâyeciliklerinin
ayırt edici vasıfları tespit edilerek ortaya koydukları yeniliklere başka özellikler
eklenmeye çalışılmıştır.The main focus of the study is to examine the narrators chosen by three
prominent Turkish short story writers: Sabahattin Ali, Sait Faik and Mustafa Kutlu
and to identify the types of readers they target in their stories, revealing the
similarities and differences between the three authors regarding the subject. Before
delving into the topic, the researcher examines the concepts that are essential to the
study: author, narrator and reader. Along with such descriptive work, the study
analyzes the birth and growth of Turkish short story writing and contextualizes the
writings of Sabahattin Ali, Sait Faik and Mustafa Kutlu within such a framework.
After the stories of all three writers have been examined, the study reveals
that, especially in the case of Sait Faik and Mustafa Kutlu, certain types of narrators
and target readerships have been conceived of by the authors which stand outside the
existing typology. The study tries to add new concepts to existing ones and propose
new types of narrator and reader special to these authors. Doing this, the study aims
to reveal the distinctive aspects of their storytelling and to add new features to the
novelties which they brought to the genre
Kritik Matan Menurut Ali Mustafa Yaqub
Hadis sebagai sumber kedua setelah al-Qur'an (the second text) telah
diapresiasikan oleh umat Islam secara massif dalam aturan hidup sehari-hari. Adanya penggunaan hadis sebagai pegangan hidup ini tidak boleh dilakukan dengan menafikan sisi kesahihan hadis itu sendiri, dalam hal ini dibutuhkan adanya penelitian terhadap kualitas suatu hadis. Tolok ukur kesahihan suatu hadis sangat terkait dengan adanya studi sanad dan matan yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Selama ini para ulama ataupun peneliti hadis banyak memfokuskan kajian pada sisi sanad saja, tanpa mencoba mengkaji lebih jauh suatu hadis dari sisi matannya. Sehingga muncul adanya asumsi di sebagian besar umat Islam bahwa ketika suatu hadis sahih secara sanad maka secara otomatis hadis tersebut dihukumi sahih. Pandangan ini ditolak oleh Ali Mustafa Yaqub dengan menyatakan bahwa sanad dan matan adalah dua hal yang kedua-duanya urgen dan harus dikaji secara integral. Berkaitan dengan kajian matan hadis, Ali Mustafa Yaqub berpendapat bahwa kesahihan matan suatu hadis tidaklah cukup hanya didekati dengan ada atau tidak adanya 'illah dan syaz, akan tetapi perlu adanya kontekstualisasi hadis dengan kondisi kekinian, khususnya untuk konteks masyarakat Indonesia, sehingga pada akhirnya hadis akan dapat dipahami secara komprehensif. Berkaitan dengan hal ini, penulis mencoba untuk mengungkapkan lebih jauh tentang metode kritik matan yang dilakukan oleh Ali Mustafa Yaqub beserta letak konsistensi dirinya terhadap metode kritik matan yang dia pegangi. Dikarenakan kajian ini adalah kajian pustaka, maka kajian ini lebih difokuskan kepada eksplorasi data-data tertulis dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Data-data yang ada diperoleh dari karya-karya yang ditulis oleh Ali Mustafa Yaqub berikut karya orang lain yang membahas pemikiran hadis
Ali Mustafa Yaqub. Disamping itu, penulis menggunakan juga pendekatan
historis untuk mengetahu seberapa jauh peta perkembangan pemikiran hadis Ali Mustafa Yaqub, terutama terkait dengan kajian kritik matan.
Berdasarkan kajian yang penulis lakukan, terungkaplah bahwa secara
umum metode kritik hadis yang dilakukan oleh Ali Mustafa Yaqub tidaklah jauh berbeda dengan gurunya sendiri Muhammad Mustafa al-A'zami. Akan tetapi khusus untuk kajian matan, Ali Mustafa Yaqub sedikit berbeda. Metode kritik matan yang dilakukan oleh Ali Mustafa Yuqub adalah metode yang didasarkan pada beberapa ketentuan kesahihan matan suatu hadis, yaitu hadis sahih tidak boleh bertentangan dengan al-Qur'an dan hadis mutawiitir, tidak boleh bertentangan dengan kaidah bahasa Arab, tidak boleh bertentangan dengan fakta historis dan tidak boleh bertentangan dengan rasio. Setiap kali meneliti suatu hadis Ali Mustafa Yaqub mencoba menerapkan metodenya secara konsisten, dimana sebelum dilakukan kajian matan, dia terlebih dahulu melakukan kajian secara sanad. Meskipun dalam kasus hadis tertentu, terkadang Ali Mustafa Yaqub menerapkan metode kritik matannya secara parsial
“ KRITIK HADITS MENURUT ALI MUSTAFA YAQUB ”
Hadits sebagai sumber kedua setelah al-Qur'an telah diapresiasikan oleh umat Islam
secara massif dalam aturan hidup sehari-hari. Adanya penggunaan hadits sebagai pegangan
hidup ini tidak boleh dilakukan dengan menafikan sisi ke-sahi}-an hadits itu sendiri, dalam hal
ini dibutuhkan adanya penelitian terhadap kualitas suatu hadits. Tolok ukur ke-sahih-an suatu
hadits sangat terkait dengan adanya studi sanad dan matan yang keduanya tidak dapat
dipisahkan. Selama ini para ulama ataupun peneliti hadits banyak memfokuskan kajian pada sisi
sanad saja, tanpa mencoba mengkaji lebih jauh suatu hadits dari sisi matannya. Sehingga muncul
adanya asumsi di sebagian besar umat Islam bahwa ketika suatu hadits sahih secara sanad maka
secara otomatis hadits tersebut dihukumi sahih. Pandangan ini ditolak oleh Ali Mustafa Yaqub
dengan menyatakan bahwa sanad dan matan adalah dua hal yang kedua-duanya urgen dan harus
dikaji secara integral.
Kajian ini adalah kajian pustaka, maka kajian ini lebih difokuskan kepada eksplorasi
data-data tertulis dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Data-data yang ada diperoleh
dari karya-karya yang ditulis oleh Ali Mustafa Yaqub berikut karya orang lain yang membahas
pemikiran hadits Ali Mustafa Yaqub. Disamping itu, penulis menggunakan juga pendekatan
sejarah untuk mengetahui seberapa jauh peta perkembangan pemikiran hadits Ali Mustafa
Yaqub, terutama terkait dengan kajian kritik matan.
Berdasarkan kajian yang penulis lakukan, terungkaplah bahwa secara umum metode
kritik hadits yang dilakukan oleh Ali Mustafa Yaqub tidaklah jauh berbeda dengan gurunya
sendiri Muhammad Mustafa al-A’zami. Akan tetapi khusus untuk kajian matan, Ali Mustafa
Yaqub sedikit berbeda. Metode kritik matan yang dilakukan oleh Ali Mustafa Yaqub adalah
metode yang didasarkan pada beberapa ketentuan ke-sahih-an matan suatu hadits, yaitu hadits
sahih tidak boleh bertentangan dengan al-Qur'an dan hadits mutawatir, tidak boleh bertentangan
dengan kaidah bahasa Arab, tidak boleh bertentangan dengan fakta historis dan tidak boleh
bertentangan dengan rasio. Setiap kali meneliti suatu hadits Ali Mustafa Yaqub mencoba
menerapkan metodenya secara konsisten, dimana sebelum dilakukan kajian matan, dia terlebih
dahulu melakukan kajian secara sanad. Meskipun dalam kasus hadits tertentu, terkadang Ali
Mustafa Yaqub menerapkan metode kritik matannya secara parsial.
Kata Kunci: Kritik Hadits, Ali Mustafa Yaqu
METODOLOGI KRITIK HADIS: Studi atas Pemikiran Ali Mustafa Yaqub
Penelitian ini berjudul Metodologi Kritik Hadis yang secara khusus membahas pemikiran Ali Mustafa Yaqub. Latar belakang pemilihan objek ini adalah usaha untuk menemukan ciri khas kajian hadis di Indonesia yang bercorak ke Indonesiaan, karena selama ini penelitian tentang kritik hadis selalu diarahkan pada pemikir hadis Timur Tengah. Sejumlah pertanyaan metodologis tentang kelayakan tokoh yang diangkat dalam penelitian dan pemikiran yang ditawarkan, merupakan dua pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban terhadap pertanyaan pertama, tokoh ini sudah layak diangkat dalam penelitian. Sedangkan pemikiran yang ditawarkan tidak ada pemikiran baru terutama dari sisi metodologi. Namun dari segi pemikiran- yang berasal dari kajian yang dilakukannya banyak memunculkan sejumlah problem untuk pemikiran ulang karena berhubungan dengan metodologi yang digunakan Ali Mustafa Yaqub. Rumusan masalahnya adalah bagaimana prinsip dasar kritik hadis Ali Mustafa Yaqub dan bagaimana pengaruh kesarjanaan Muhammad Mustafa al A'zami pada Ali Mustafa Yaqub serta imp. kasihnya terhadap metodologi kritik hadis. Berkaitan dengan metode penelitian terdapat dua metode yakni metode pengumpulan data dan metode analisa data. Data primer berupa pemikiran Ali Mustafa Yaqub diperoleh lewat berbagai tulisannya dalam sejumlah buku sebagai sumber primer. Sedang data skunder prioritas diperoleh dalam berbagai tulisan yang ditulis ilmuwan Indonesia atau bukan. Metode interpretasi data menggunakan metode induksi yakni memadukan data dari tulisan Ali Mustafa Yaqub dan tulisan lain agar data-data tersebut berinteraksi satu sama lain. Peran penulis adalah subjektit-partisipatif-aktif Penelitian ini menemukan bahwa kritik Ali Mustafa Yaqub pada sejumlah pengkaji hadis karena sebagai pembelaan terhadap hadis-hadis Sahil Bukhari dan Sugih Mnelim Rumusan metodolooi kritik hadis Ali Mustafa Yaqub tidak jauhberbeda dengan metodologi kritik hadis yang telah ada ditambah dengan pendekatan rasio dan sains yang telah disepakati para ahli. Unsur terpenting metodologi kritik hadis adalah validitas kesahihan hadis yang menurut Ali Mustafa Yaqub berarti kesesuaian antara proses dan prosedur sebagai perangkat praksis metode kesahihan hadis Nabi tanpa melupakan unsur kemanusiaan seperti salah dan lupa. Pendekatan dan metode tersebut, kedudukannya lebih tinggi dari pada metode kritik sejarah Sedangkan hubungan Ali Mustafa Yaqub dan Muhammad Mustafa al A'zami ditemukan bahwa Ali Mustafa Yaqub banyak mengadopsi pemikiran Muhammad Mustafa al-A'zami sehingga sulit untuk mengatakan Ali Mustafa Yaqub betul-betul independen dari Muhammad Mustafa al-A'zami, meskipun demikian terdapat pergeseran pemikiran yakni Ali Mustafa Yaqub menerima pendekatan rasio dan sains yang ditolak Muhammad Mustafa al-A'zami. Temuan lainnya adalah pemikiran hadis Ali Mustafa Yaqub lebih tepat bila diletakkan dalam paradigma ilmiah yang dialogis bukan paradigma kebenaran
- …
